Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Filsafat Pendidikan tentang Filsafat Pendidikan Materialisme. Adapun
makalah Filsafat Pendidikan Materialisme ini telah kami usahakan semaksimal
mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah filsafat pendidikan materialisme ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah filsafat pendidikan
materialisme ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inspirasi terhadap pembaca.
Banjarmasin, Februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3 Tujuan Makalah....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
2.1 Konsep Dasar Filsafat Materialisme..............................................................3
2.2 Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Materialisme.......................................................4
2.3 Sejarah Lahirnya Aliran Filsafat Materialisme..................................................5
2.4 Pandangan Materialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan.........................7
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Filsafat Materialisme untuk Pendidikan.......................9
BAB III PENUTUP........................................................................................ 12
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 12
3.2 Saran................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kata Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia, terdiri dari kata
philos yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan, kearifan atau
pengetahuan. Jadi, philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada
pengetahuan. Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan
akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia
tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai aliran-aliran,
seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain.

Salah satu aliran filsafat pendidikan adalah aliran materialisme. Aliran filsafat
materialisme memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi. Materialisme
berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, bukan spiritual,
atau super natural. Dalam pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah
benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan
bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu. Akan tetapi, materialisme
mengatakan bahwa dasarnya, manusia hanyalah sesuatu yang material, dengan kata
lain materi, betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih tunggal
ketimbang benda-benda tersebut, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan
mereka.

Dengan demikian, manusia sebagai makhluk alamiah harus dibedakan dengan


benda-benda seperti bintang, pohon atau batu. Sebab manusia adalah makhluk yang
bermasyarakat, makhluk yang dilibatkan kedalam proses produksi, dilibatkan
kedalam hubungan kerja dan hubungan milik.

1.2 Rumusan Masalah


Untuk mengetahui tentang filsafat pendidikan materialisme dan halhal yang
berhubungan dengan filsafat pendidikan materialisme, dalam makalah ini penulis
akan membahas tentang :

1. Konsep dasar filsafat materialisme

2. Tokoh-tokoh aliran filsafat materialisme

3. Sejarah lahirnya aliran filsafat materialisme

4. Pandangan materialisme dan penerapannya di bidang pendidikan

5. Kelebihan dan kekurangan filsafat materialisme untuk pendidikan

1.3 Tujuan Makalah


Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :

1. Mengetahui konsep dasar filsafat materialisme

2. Mengetahui tokoh-tokoh aliran filsafat materialisme

3. Mengetahui sejarah lahirnya aliran filsafat materialisme

4. Mengetahui pandangan materialisme dan penerapannya di bidang pendidikan

5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan filsafat materialisme untuk pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Filsafat Materialisme


Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang
dapat dikatakan benar-benar ada merupakan materi. Pada dasarnya semua hal terdiri
atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satusatunya substansi. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,

materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme tidak mengakui entitasentitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat.
Tidak ada Allah atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi dan
segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya
bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada
kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Dalam arti sempit, materialisme adalah teori
yang mengatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang
mengatur materi dan gerak.

Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan


rohani, bukan spiritual, atau supranatural. Filsafat materialisme memandang bahwa
materi lebih dahulu ada sedangkan ide atau pikiran timbul setelah melihat materi.
Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi menentukan ide, bukan ide
menentukan materi. Contoh: karena meja atau kursi secara objektif ada, maka orang
berpikir tentang meja dan kursi. Bisakah seseorang memikirkan meja atau kursi
sebelum benda yang berbentuk meja dan kursi belum atau tidak ada.

1. Ciri-ciri filsafat materialisme

a. Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi.

b. Tidak meyakini adanya alam ghaib.

c. Menjadikan panca-indera sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.

d. Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan


hukum. (wikipedia)

2. Variasi aliran filsafat materialisme

Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan


materialisme metafisik.

a. Filsafat Materialisme Dialektika

Materialisme dialektika adalah materialisme yang memandang segala


sesuatu selalu berkembang sesuai dengan hukum-hukum dialektika.
Dialektika adalah ilmu pengetahuan tentang hukum yang paling umum
yang mengatur perkembangan alam, masyarakat, dan pemikiran.
Pikiran-pikiran materialisme dialektika inipun dapat kita jumpai dalam
kehidupan misalnya, bumi berputar terus, ada siang ada malam,
habis gelap timbullah terang, patah tumbuh hilang berganti, dan
lain-lain. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan
kita senantiasa berkembang.

b. Filsafat Materialisme Metafisik

Materialisme metafisik, yang memandang dunia secara sepotongsepotong atau dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis. Pikiranpikiran materialisme metafisik ini misalnya: sekali maling tetap
maling, yaitu memandang orang sudah ditakdirkan, tidak bisa
berubah. (sinaga, 2013)

2.2 Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Materialisme


Terdapat beberapa tokoh-tokoh yang terdapat pada aliran materialisme:

1. Demokritos (460-360 SM)

Demokritos merupakan pelopor pandangan materialisme klasik, yang disebut


juga atomisme.

2. Julien de Lamettrie (1709-1751)

Mengemukakan pemikirannya bahwa binatang dan manusia tidak ada


bedanya, karena semuanya dianggap sebagai mesin. Buktinya, bahan (badan)
tanpa jiwa mungkin hidup (bergerak), sedangkan jiwa tanpa bahan (badan)
tidak mungkin ada. Contohnya jantung katak yang dikeluarkan dari tubuh
katak masih berdenyut (hidup) walau beberapa saat saja.

3. Ludwig Feuerbach (1804-1972)

Ludwig Feuerbach mencanangkan suatu metafisika, suatu etika yang


humanistis, dan suatu epistemologi yang menjunjung tinggi pengenalan
inderawi. Oleh karena itu, ia ingin mengganti idealisme Hegel (guru
Feuerbach) dengan materialisme.

4. Karl Marx (1818-1883)

Nama lengkap Karl Heinrich Marx, dilahirkan di Trier, Prusia, Jerman.


Sewaktu menjadi mahasiswa ia terpengaruh oleh ajaran Hegel dan dapat
mencapai gelar dokter dalam bidang filsafat.

2.3 Sejarah Lahirnya Aliran Filsafat Materialisme


Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan materialisme
klasik, yang disebut juga atomisme. Demokritos beserta para pengikutnya
beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat
dibagi-bagi lagi (yang disebut atom). Atom-atom merupakan bagian dari yang begitu
kecil sehingga mata kita tidak dapat melihatnya. Atom-atom itu bergerak, sehingga
dengan demikian membentuk realitas pada pancaindera kita.

Ludwig Feuerbach (1804-1872) mencanangkan suatu metafisika materialistis,


suatu etika yang humanistis, dan suatu epistemologi yang menjunjung tinggi
pengenalan inderawi. Oleh karena itu, ia ingin mengganti idealisme Hegel (guru
Feuerbach) dengan materialisme. Jadi menurut Feuerbach, yang ada hanyalah materi,
tidak mengenal alam spiritual. Kepercayaan terhadap Tuhan hanyalah merupakan
suatu proyeksi dari kegagalan atau ketidakpuasan manusia mencapai cita-cita
kebahagiaan dalam hidupnya. Dengan kegagalan tersebut manusia memikirkan suatu
wujud di luar dirinya yang dikhayalkan memiliki kesempurnaan, yang merupakan
sumber kebahagiaan manusia, suatu wujud yang bahagia secara absolut. Oleh karena
itu, Tuhan hanyalah merupakan hasil khayalan manusia. Tuhan diciptakan oleh
manusia itu sendiri, secara maya padahal wujudnya tidak ada.

Cabang materialisme yang banyak diperhatikan orang dewasa ini, dijadikan


sebagai landasan berpikir adalah Positivisme. Menurut positivisme, kalau sesuatu
itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlahnya. Jumlah itu dapat diukur. Oleh

karena itu, segala yang ada dapat diamati dan diukur. Sebaliknya segala yang tidak
dapat diamati atau diukur secara ilmiah berarti tidak dapat dijadikan secara positif.

August Comte sebagai pelopor positivisme berpandangan bahwa, The


highest form of knowledge is simple description presumably of sensory phenomena
(Runes, 1963:234). Comte membatasi pengetahuan pada bidang gejala-gejala
(fenomena). Menurut Comte, terdapat tiga perkembangan berpikir yang dialami
manusia, yaitu:

1.

Tingkatan teologis (pola berpikir manusia dikuasai oleh tahayul dan


prasangka)

2.

Tingkatan metafisik (pola berpikir abstrak)

3.

Tingkatan positif (pola berpikir yang mendasarkan pada sains)

Zaman positif (Harun Hadiwijono, 1980) adalah zaman dimana orang


tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengetahuan yang
mutlak, baik pengenalan teologi maupun metafisik. Ia tidak lagi melacak
awal dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta tapi berusaha menemukan
hukum-hukum kesamaan dan aturan yang terdapat pada fakta-fakta yang
telah dikenal atau disajikan kepadanya. Jadi, dikatakan positivisme, karena
mereka beranggapan bahwa yang dapat kita pelajari hanyalah berdasarkan
fakta-fakta, berdasarkan data-data yang nyata, yaitu yang mereka namakan
positif.

Selanjutnya, dapat kita simak pandangan Thomas Hobbes, sebagai


pengikut empirisme materialistis. Ia berpendapat bahwa pengalaman
8

merupakan awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang


asas-asas yang diperoleh dan dikukuhkan oleh pengalaman. Hanya
pengalamanlah yang memberikan kepastian. (Drs. Uyoh Sadulloh, 2012)

2.4 Pandangan Materialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan


1.

Pandangan Materialisme Mengenai Belajar Positivisme

Materialisme maupun positivisme, pada dasarnya tidak menyusun


konsep pendidikan secara eksplisit. Bahkan menurut Henderson (1956).
Materialisme belum pernah menjadi penting dalam menentukan sumber teori
pendidikan. Menurut Waini Rasyidin (1992), filsafat positivisme sebagai
cabang dari materialisme lebih cenderung menganalisis hubungan faktorfaktor yang mempengaruhi upaya dan hasil pendidikan secara faktual.
Dikatakan positivisme karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita
pelajari hanyalah yang mendasarkan fakta-fakta, berdasarkan data-data yang
nyata.

2. Pandangan Materialisme Mengenai Belajar Behaviorisme

Menurut behaviorisme, apa yang disebut dengan kegiatan mental


kenyataannya tergantung pada kegiatan fisik, yang merupakan berbagai
kombinasi dan materi dalam gerak. Gerakan fisik yang terjadi dalam otak kita,
kita sebut berpikir, dihasilkan oleh peristiwa lain dalam dunia materi, baik
material yang berada dalam tubuh manusia maupun materi yang berada diluar
tubuh manusia. Behaviorisme yang berakar pada positivisme dan materialisme
telah popular dalam menyusun teori pendidikan, terutama dalam teori belajar,

yaitu apa yang disebut dengan conditioning theory, yang dikembangkan


oleh E.L.Thorndike dan B.F.Skinner.

Pendidikan dalam hal ini proses belajar, merupakan proses kondisionisasi


lingkungan. Misalnya, dengan mengadakan percobaan terhadap anak yang
tidak pernah takut pada kucing, akhirnya ia menjadi takut pada kucing.
Percobaan bisa dilakukan dengan membunyikan suara keras (misalnya bunyi
gong, bunyi-bunyian yang keras mengagetkan anak, atau dengan jalan
menakut-nakutinya) setiap kali anak memegang atau mendekati kucing
kesayangannya. Dengan percobaan ini behaviorisme ingin menunjukan bahwa
manusia dapat dibentuk (men are built, not born).

Menurut behaviorisme, perilaku manusia adalah hasil pembentukan


melalui kondisi lingkungan (seperti contoh anak dan kucing diatas). Yang
dimaksud dengan perilaku adalah hal-hal yang berubah, dapat diamati, dan
dapat diukur (materialisme dan positivisme). Hal ini mengandung implikasi
bahwa

proses

pendidikan

(proses

belajar)

menekankan

pentingnya

keterampilan dan pengetahuan akademis yang empiris sebagai hasil kajian


sains, serta perilaku sosial sebagai hasil belajar.

Sebagai

aliran

yang

dilandasi

positivisme

dan

materialisme,

behaviorisme mengabaikan faktor intrapsikis. Hal ini berarti dalam proses


belajar tidak berorientasi pada apa yang terdapat dalam diri siswa (misalnya
harapan siswa, potensialitas siswa, kemauan siswa, dan sebagainya). Tujuan
pendidikan bersifat eksternal, dalam arti ditentukan dan dirumuskan oleh
lingkungan, tanpa memperhitungkan faktor internal siswa yang belajar.

10

Keberatan lain terhadap behaviorisme yang dilandasi materialisme adalah


karena behaviorisme menerangkan segala sesuatu secara mekanistik. Manusia
merupakan mesin reaksi, sehingga pendidikan hanyalah soal mempengaruhi
refleks dan perbuatan saja, yaitu perilaku yang hanya dapat diamati dan
diukur. Behaviorisme sama sekali tidak memberikan perhatian terhadap
penghayatan seseorang tentang nilai-nilai, melainkan bagaimana perbuatan
dan keterampilan dapat menampilkan nilai tersebut. Jadi dalam hal ini
behaviorisme sama sekali tidak berhubungan dengan keyakinan atau
keimanan seseorang.

Menurut Power (1982), implikasi aliran filsafat pendidikan materialisme, sebagai


berikut:

1. Tema

Manusia yang baik dan efisien dihasilkan dengan proses pendidikan yang
terkontrol secara ilmiah dan seksama.

2. Tujuan pendidikan

Perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya,


untuk tanggungjawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks.

3. Kurikulum

Isi pendidikan yang mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya


(handal), dan diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.

11

4. Metode

Semua pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi (SR conditioning),


operant

conditioning,

reinforcement,

pelajaran

berprogram

dan

kompetensi.

5. Kedudukan siswa

Tidak ada kebebasan, perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar,


pelajaran sudah dirancang, siswa dipersiapkan untuk hidup, mereka
dituntut untuk belajar.

6. Peranan Guru

Guru memiliki kekuasaan untuk merancang dan mengontrol proses


pendidikan. Guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar
siswa.

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Filsafat Materialisme untuk Pendidikan


Jika dibandingkan dengan aliran filsafat yang lain aliran filsafat materialisme
adalah aliran yang mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, terutama dalam
anggapannya yang hanya meyakini bahwa tidak ada sesuatu selain materi yang
sedang bergerak. Mereka menganggap bahwa materi berada di atas segala-galanya.
Materialisme adalah aliran yang memandang bahwa segala sesuatu adalah realitas,
dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Kenyataan bersifat material dipandang
bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakannya adalah berasal dari materi dan
berakhir dengan materi atau berasal dari gejala yang bersangkutan dengan materi.

12

Untuk pendidikan, materialisme memandang bahwa proses belajar merupakan


proses kondisionisasi lingkungan serta menekankan pentingnya keterampilan dan
pengetahuan akademis empiris sebagai hasil kajian sains atau alam, sedangkan
perilaku sosial sebagai hasil belajar. Namun meskipun aliran filsafat materialisme
mendapat kritikan dari berbagai pihak tapi di dalam pendidikan masih sering juga kita
temui penerapannya dalam pembelajaran seperti menyodorkan setumpuk buku ke
peserta didik. Aliran filsafat materialisme memang memiliki banyak kritikan namun
juga memiliki kelebihan. Dan adapun kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh
aliran filsafat materialisme dalam pendidikan, yaitu:

1. Kelebihan filsafat pendidikan materialisme

a. Teori-teorinya jelas berdasarkan teori-teori pengetahuan yang sudah


umum.

b. Isi pendidikan mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal),


dan diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.

c. Semua

pelajaran

dihasilkan

dengan

kondisionisasi,

pelajaran

berprogram dan kompetensi.

2. Kelemahannya filsafat pendidikan materialisme

a. Dalam dunia pendidikan aliran materialisme hanya berpusat pada guru


dan tidak memberikan kebebasan kepada siswanya, guru memiliki
kekuasan untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan. Guru
dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar siswa. Sedangkan
siswa tidak ada kebebasan, perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar,
13

pelajaran sudah dirancang, siswa dipersiapkan untuk hidup, mereka


dituntut untuk belajar.

b. Di kelas, anak didik hanya disodori setumpuk pengetahuan material,


baik dalam buku-buku teks maupun proses belajar mengajar. Yang
terjadi adalah proses pengayaan pengetahuan kognitif tanpa upaya
internalisasi nilai. Akibatnya, terjadi kesenjangan yang jauh antara apa
yang diajarkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
anak didik. Pendidikan agama menjadi tumpul, tidak mampu
mengubah sikap-perilaku mereka. (sinaga, 2013)

14

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah filsafat pendidikan materialisme ini, yaitu :

Filsafat materialisme memandang bahwa materi lebih dahulu ada sedangkan ide
atau pikiran timbul setelah melihat materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas
materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satusatunya substansi.

Filsafat pendidikan materialisme memiliki kelebihan di dalam bidang


pendidikan, yaitu :

a. Teori-teorinya jelas berdasarkan teori-teori pengetahuan yang sudah


umum.

b. Isi pendidikan mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan


diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.

c. Semua pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi, pelajaran berprogram


dan kompetensi.

Sedangkan kelemahan filsafat pendidikan materialisme, yaitu :

15

a. Dalam dunia pendidikan aliran materialisme hanya berpusat pada guru dan
tidak memberikan kebebasan kepada siswanya, guru memiliki kekuasan
untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan. Guru dapat
mengukur kualitas dan karakter hasil belajar siswa. Sedangkan siswa tidak
ada kebebasan, perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran
sudah dirancang, siswa dipersiapkan untuk hidup, mereka dituntut untuk
belajar.

b. Di kelas, anak didik hanya disodori setumpuk pengetahuan material, baik


dalam buku-buku teks maupun proses belajar mengajar. Yang terjadi
adalah proses pengayaan pengetahuan kognitif tanpa upaya internalisasi
nilai. Akibatnya, terjadi kesenjangan yang jauh antara apa yang diajarkan
dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari anak didik.
Pendidikan agama menjadi tumpul, tidak mampu mengubah sikapperilaku mereka.

3.2 Saran
Saran dalam pembuatan makalah ini, yaitu :

1. Masih perlu kajian yang mendalam tentang pandangan filsafat materialisme, sikap
kritis dalam berpikir perlu dikembangkan dan perlu kajian pembanding terhadap
pendapat-pendapat yang bertentangan dengan teori filsafat materialisme.

2. Filsafat sebaiknya diiringi oleh agama, yang merupakan kebenaran tertinggi.

16

3. Melalui makalah ini penulis menghimbau kepada para teman-teman agar menggali
berbagai ilmu pengetahuan yang dapat meningkatkan iman dan taqwa kepada
Tuhan YME sesuai tujuan pendidikan nasional.

4. Dalam menyusun makalah ini mungkin terdapat kesalahan atau kekurangan. Untuk
itu penulis sangat mengharapkan kritik maupun saran-saran dari pembaca
khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Uyoh Sadulloh, M. (2012). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.


Sinaga, j. (2013, 12). Dikutip 02 16, 2015, dari
http://jejesinaga.blogspot.com/2013/12/makalah-filsafat-pendidikanmaterialisme.html
Wikipedia. Dikutip 02 20, 2015, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme#Ciriciri_paham_materialisme

17