Anda di halaman 1dari 16

1. Ebook: https://books.google.co.id/books?

id=OPyf0ArEccMC&pg=PT55&dq=pembimbing+klinik+keperawatan+adalah&hl=
en&sa=X&ei=gyQIVcvC4ezuATC3IK4Cg&redir_esc=y#v=onepage&q=pembimbing%20klinik
%20keperawatan%20adalah&f=false
2. Ebook https://books.google.co.id/books?
id=UxuyL5MNqyYC&pg=PA14&dq=pembimbing+klinik+keperawatan&hl=en&sa=
X&ei=viQIVZqcLYajugT5zIHwCA&redir_esc=y#v=onepage&q=pembimbing
%20klinik%20keperawatan&f=false
3. Ebook inggris: https://books.google.co.id/books?id=LwLnIz68WEC&printsec=frontcover&dq=clinical+nursing+
+instructor&hl=en&sa=X&ei=8ygIVa6tDtOIuASCnoCADg&redir_esc=y#v=onepa
ge&q=clinical%20nursing%20%20instructor&f=false
4. Sumber: https://nersferdinanskeperawatan.wordpress.com/2010/02/02/kriteriapembimbing-klinik-keperawatankebidanan/
KRITERIA PEMBIMBING KLINIK KEPERAWATAN/KEBIDANAN

1 Votes

Jakarta, Selasa 2 Februari 2010 (sekitar pukul 05.10)


Saat ini saya sedang mengikuti suatu pelatihan Pembimbing Klinik Keperawatan di Jakarta. Agak malas
juga sebetulnya karena harus meninggalkan keluarga tercinta di Bandung. Pelatihan sendiri akan
berlangsung selama 5 hari (hingga hari Jumat yad.) dan pagi ini akan menjadi hari ke-2.
Pelatihan sendiri -sejauh ini tentu yang hari ke-1- cukup menarik. Ibu Th. Mudji Astuti, SKp yang menjadi
narasumber dapat menyajikan materi-materi pelatihan yang sesungguhnya biasa-biasa saja menjadi
sesuatu yang bernyawa. Pengalaman beliau yang panjang sebagai perawat serta temuan-temuan beliau
ketika berkesempatan mengunjungi berbagai nursing care di berbagai daerah di Indonesia menjadi daya
tarik tersendiri untuk mengikuti materi pelatihan dari pagi hingga sore hari (kemarin pelatihan berakhir pkl.
17.00, meskipun menurut jadwal semestinya pkl. 16.30).
Pada pelatihan hari ke-1 kemarin, sempat dipaparkan tentang kriteria-kriteria seorang pembimbing klinik
keperawatan, yakni:

Dewasa (matur)

Seorang dengan kualifikasi pendidikan tinggi

Keahlian di bidangnya (keahlian praktek klinik)

Memahami asuhan dan konsepnya

Mampu mengembangkan keilmuannya

Mampu mendesiminasikan ilmu yang dimiliki

Mampu mengadakan perubahan

Mampu menjadi role model

Mampu menjadi mentor

Dapat menjadi nara sumber

Berminat dalam pendidikan keperawatan

Nah, yang seringkali menjadi masalah adalah kriteria yang terakhir ini. Meskipun semua perawat adalah
juga teacher namun tidak semua senang menjadi Pembimbing Klinik Keperawatan (atau bila di tempat saya
bekerja di sebut PBB yang adalah singkatan dari Pembimbing Praktek di Bagian). Yang seringkali terjadi
adalah seorang perawat akhirnya menjadi Pembimbing Klinik Keperawatan adalah bukan karena dia
berminat tetapi karena kekuatan dari suatu SK (Surat Keputusan) yang dikeluarkan oleh Pimpinan RS
atau Nursing Center. Dapatlah dimaklumi bila kinerja seorang Pembimbing Klinik Keperawatan kemudian
menjadi tidak optimal karena seseorang itu tidak ditanya apakah berminat atau tidak

5. Sumber: https://nersferdinanskeperawatan.wordpress.com/2010/02/03/aspeklegal-dalam-proses-pembelajaran-klinik-keperawatan/

ASPEK LEGAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN KLINIK KEPERAWATAN

6 Votes

(Pelatihan hari ke-3)


Ternyata tidak gampang juga lho menjadi seorang pembimbing praktek klinik, karena ada implikasi hukum
atau legalnya.
Seorang pembimbing praktek klinik hendaknya memahami dengan baik tentang:
1. Tanggung jawab hukum dan etik (antara lain pasal 1365, 1366, 1367 KUH Perdata). Bila terjadi
kesalahan/kelalaian yang dilakukan peserta didik; secara PIDANA: peserta didik sudah dewasa sehingga
harus bertanggung jawab sendiri atas kesalahan atau kelalaiannya, secara perdata, tanggung jawab bisa
ada pada pembimbing klinik atau rumah sakit. (Pembimbing Klinik duit dari mana ya? :))
2. Memahami manajemen risiko serta manajemen mutu asuhan di rumah sakit. Penting untuk
melaksanakan manajemen risiko yang proaktif dari pada yang bersifat reaktif sesudah kejadian atau
accident.
3. Mengerti kebijakan, protap, protokol, dan ketentuan yang berlaku di lahan praktek.
4. Memahami perjanjian kerjasama antara pendidikan dan pelayanan keperawatan.
(Kata-kata keperawatan dapat dibaca kebidanan. Thanks)

6. Sumber: http://nersgoeng.blogspot.com/2011/09/bimbingan-klinikkeperawatan-dan.html

BIMBINGAN KLINIK KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN


Kriteria-kriteria seorang pembimbing klinik keperawatan, yakni:

Dewasa (matur)
Seorang dengan kualifikasi pendidikan tinggi
Keahlian di bidangnya (keahlian praktek klinik)
Memahami asuhan dan konsepnya
Mampu mengembangkan keilmuannya
Mampu mendesiminasikan ilmu yang dimiliki
Mampu mengadakan perubahan
Mampu menjadi role model
Mampu menjadi mentor
Dapat menjadi nara sumber
Berminat dalam pendidikan keperawatan
Nah, yang seringkali menjadi masalah adalah kriteria yang terakhir ini. Meskipun semua perawat adalah
juga teacher namun tidak semua senang menjadi Pembimbing Klinik Keperawatan (atau bila di tempat
saya bekerja di sebut PBB yang adalah singkatan dari Pembimbing Praktek di Bagian). Yang seringkali
terjadi adalah seorang perawat akhirnya menjadi Pembimbing Klinik Keperawatan adalah bukan karena
dia berminat tetapi karena kekuatan dari suatu SK (Surat Keputusan) yang dikeluarkan oleh Pimpinan RS

atau Nursing Center. Dapatlah dimaklumi bila kinerja seorang Pembimbing Klinik Keperawatan kemudian
menjadi tidak optimal karena seseorang itu tidak ditanya apakah berminat atau tidak

7. Sumber: http://basicnursingart.blogspot.com/2011/11/tugas-dan-fungsipembimbing-klinik-di.html

TUGAS DAN FUNGSI PEMBIMBING KLINIK DI RUMAH SAKIT


Tugas Pembimbing Klinik di Rumah Sakit diuraikan sebagai berikut:
1.

Mengorientasikan mahasiswa meliputi ruang, lokasi dan fungsi peralatan, kasus/ pasien dan lain-lain
yang dipandang perlu.

2.

Menetapkan dan membagi pasien kelolaan bagi masing-masing mahasiswa untuk dilakukan asuhan
keperawatan.

3.

Mengkoordinasikan shift jaga / jadual praktek mahasiswa dalam 3 (tiga) shift pagi, sore dan malam.

4.

Melakukan pre conference :

a.

Mengkaji kesiapan mahasiswa melakukan praktek :

Menandatangani presensi mahasiswa di buku pedoman.

Mengecek dan menandatangani laporan pendahuluan kebutuhan dasar ( LP ) menandatanganinya, dan


kontrak belajar.

Mendiskusikan laporan pendahuluan asuhan keperawatan. Sesuai kontrak belajar

Mendiskusikan laporan pendahuluan target ketrampilan. Sesuai kontrak belajar.

b.

Mendiskusikan rencana praktek yang akan dilakukan sesuai LP/Kontrak belajar mahasiswa :

Mengidentifikasi masalah klien.

Merencanakan asuhan keperawatan.

5.

Melakukan intra conference : membimbing pelaksanaan praktek mahasiswa secara umum dan pasien
kelolaan secara khusus.

6.

Melakukan post conference :

a.

Membahas pelaksanaan praktek.

b.

Membahas masalah yang dijumpai pada saat praktek.

c.

Mengevaluasi dan menandatangani kompetensi mahasiswa di buku target ketrampilan.

7.

Membimbing pembuatan dan dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang menjadi tanggung jawab
mahasiswa.

8.

Mengesahkan laporan asuhan keperawatan mahasiswa ( pada lembar pegesahan) sebelum diberikan
ke pembimbing akademik.

9.

Memantau perkembangan kesiapan, sikap, kedisiplinan, keaktifan dan ketrampilan mahasiswa.

10. Menilai penampilan praktek klinik keperawatan mahasiswa dengan format instrumen penilaian
penampilan praktek klinik keperawatan berdasarkan kebutuhan mahasiswa.
11. Melaksanakan evaluasi sumatif baik bersama pembimbing akademik atau sesuai dengan permintaan
mahasiswa.
12. Berhak menegur mahasiswa apabila dijumpai ada mahasiswa yang bertindak di luar ketentuan yang
berlaku dan mencatat di kolom catatan pembimbing (buku mahasiswa).
13. Berhak mendapatkan reward sesuai dengan waktu pembimbingan berdasarkan jurnal keperawatan.

8. Sumber: https://books.google.co.id/books?
id=OPyf0ArEccMC&pg=PT55&lpg=PT55&dq=kriteria+pembimbing+klinik&so
urce=bl&ots=2Igm7Oh20r&sig=9zA082CHiIpRGVKDsPeLoBKzIIs&hl=en&sa=
X&ei=iBsIVeu5HY3muQTm0oDQDg&redir_esc=y#v=onepage&q=kriteria
%20pembimbing%20klinik&f=false
9. Sumber: https://lukman54.wordpress.com/2008/06/16/peranan-ci-clinicalinstructor-dalam-pembelajaran-klinik/

PERANAN CI (CLINICAL INSTRUCTOR) DALAM


PEMBELAJARAN KLINIK
Pendahuluan
Perubahan kurikulum pendidikan Sarjana Keperawatan/Ners yang lebih berorientasi
pada kompetesi (KBK) tentu memberikan implikasi pada berbagai perubahan termasuk dalam
kesiapan tenaga pembimbing klinik dalam memeberikan bimbingan agar mencapai kompetensi
yang diinginkan. Pada kondisi ini maka peranan seorang Clinical Instructor (CI) sangat penting

dalam setiap tahapan praktikum mahasiswa sejak di tatanan laboratorium sampai pada tatanan
klinik/lapangan nyata.
Peranan adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu
jabatan atau pola tingkah laku yang diharapkan pantas dari seseorang. Oleh karena itu
seharusnya seorang CI diberi wewenang dan tanggungjawab yang jelas sesuai dengan perannya
dalam merancang, mengelola dan mengevaluasi pemebelajaran klinik terhadap peserta didik di
tatanan klinik. Namun seringkali kita melihat dan merasakan keadaan yang berbeda dimana
seorang CI sulit sekali menunjukkan kemampuannya dalam membimbing peserta didik karena
berbagai sebab antara lain adalah kurangnya kepercayaan diri dan ketidakjelasan peranan yang di
berikan institusi pendidikan pada para CI tersebut. Hal inilah yang mendorong pentingnya
pembahasan peran CI ini dalam pelatihan Clinical Instructor saat ini, semoga memberi kejelasan
akan peran fungsi dan tanggungjawabnya dalam membimbing para peresta didik di tatanan
klinik.
Tujuan.
Setelah dilakukan pembahasan materi perarnan CI dalam pembelajaran klinik, maka peserta
pelatihan mampu :
1.

Memahami konsep dasar peran CI di tatanan Klinik

2.

Memahami peranan dalam setiap tahapan proses pemebelajaran klinik

3.

Menerapkan setiap peranan dalam melakukan bimbingan kepada peserta didik.

Konsep Dasar Peran Clinical Instructor


Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam kaitannya dg
statusnya dalam masyarakat. Secara umum Peran dan fungsi Pembimbing klinik:
1. Sebagai guru/pendidik
2. Sebagai Perawat Profesional
3. Sebagai Role Model

sebagian besar pengajar klinik akan setuju bahwa mereka memainkan banyak peran
selama fase pengajaran klinik di lab, briefing (pengarahan singkat), tanya jawab di seting klinik/
komunitas. mereka juga akan setuju bahwa mereka sering mengambil peran ganda dalam suatu
tahap pengajaran klinik sendiri/ tunggal. peran pengajaran dapat mengembangkan termasuk,
sebagai contoh seperti peran sebagai konselor, pemecah masalah, manajer, penilai, advokat,

pemandu dan fasilitator. Infante (1975) pada edisi pertamanya peran pengajar klinik
berhubungan dengan aktivitas mahasiswa di seting klinik yang pada tahap ini:
perhatian di lab klinik tidak seharusnya pada bagaimana merawat tapi bagaimana
mengapilkasikan ilmu untuk merawat klien. caring bukan sama dengan belajar (p.23)
kesimpulan Infante menyebabkan bahwa peran pengajar seharusnya dinyatakan secara
jelas untuk merefleksikan penggunaan lab klinik,
ketika mahasiswa membutuhkan melihat dan mengatasi situasi kehidupan nyata dan
mempelajari mengaplikasikan ilmu ke dalam praktek sesuai permintaan memberikan
asuhan (p. 24)
pada edisi teksnya tahun 1985, Infante dengan tegas tentang apakah mahasiswa sebagai
pelajar yang melakukan di seting klinik ketika peran pengajar sebagai salah satu pengatur yang
relevan dengan kegiatan mahasiswa.
pengajar tidak mengajar di lab klinik. pengajar telah melakukannya sebelum penggunaan
labortorium klinik yaitu di kelas dan lab kampus. kegiatan yang relevan diatur oleh
pengajar untuk mahasiswa yang mengalami kebiasaan mahasiswa. lab klinik adalah
puncak kegiatan yang membuka kesempatan mahasiswa untuk mempraktekan
kemampuan intelektual dan keterampilan yang telah didapatkan tidak mendapatkan
prinsip-prinsip teori ketinggalan kemampuan.
peran pengajar klinik sebagai pemandu, fasilitator dan pendukung selama sesi
pembelajaran klinik adalah model yang diusulkan buku ini. kemampuan yang dibutuhkan pada
peran adalah pengembangan yang akan datang pada bab yang lalu dan tergantung pada
kesuksesan implementasi lab kampus dan sesi pra klinik atau pengarahan singkat, masingmasing membutuhkan kemampuan tambahan dan berbeda. tanya jawab atau sesi post konferens
melengkapi siklus pembelajaran klinik yang juga tergantung pada kemampuan mengajar klinik
yang spesifik.
Stevans (1979) memfokuskan mengajar klinik dalam sebuah kerangka pendidikan untuk
kegiatan praktek (p.161). peran pengajr klinik adalah merancang tudas belajar dalam
kompleksitas seting klinik. jika mhasiswa belajar untuk berpikir kemudian pengajar klinik
membutuhkan untuk menentukan apa pola pemikiran dibuthkan oleh registered nurse. startegi
belajar yang memungkinkan mahasiswa mempraktekan pola pemikiran sebagai pelajar akan
menyediakan persiapan untuk praktek profesional sebagai lulusan. ketika berbagai seting klinik
dipertimbangkan, perancangan strtegi belajar untuk merefleksikan pola pemikiran yang spesifik
untuk praktek yang membutuhkan pertimbangan pengalaman pada bagian dari pengajar klinik.

Stevans (1979) mengingatkan kita sebagai pengajar klinik, mengajar suatu peran fungsional
(jelas dalam konteks mengajar) termasuk pengajar seharusmya menjadi mengetahui dengan
baik. untuk penekunan lebih lanjut, Stevans menjelaskan pada peran pendidikan, tidak melulu
menambahkan dana pengetahuan mahasiswa tapi juga memengaruhi dirinya. peran yang satu
mengisi hidupnya menjadi bagian dari dirinya. kemudian pendidik pada area fungsionil hanya
menginformasikan pada mahasiswa tapi tidak membentuk mereka dan itu adalah tanggung
jawabyang besar (p.173)
ada beberapa peran lain untuk pengajar klinik yang mungkin lebih relevan pada seting
khusus dari pada seting umum ketika kebanyakan mahasiswa yang belum lulus diajar. Benner
(1989) menggambarkan suatu peran untuk pengajar klinik tampak mempunyai pengetahuan
yang lebih pada perawatan intensif (p.3). pada tulisan terakhirnya, Benner menyatakan jika kita
tidak melakukan pekerjaan mengajar yang baik dari sisi manusia dan dari segi praktek asuhan,
lalu mahasiswa kita tidak akan berada pada posisi yang baik untuk diselamatkan dan pelajar dan
praktisi klinik manusia. kita bertaruh tidak menahan keahlian dan pengertian praktek asuhan kita
(p. 16).
Peran ganda pengajar dan pembawa menimbulkan banyak perdebatan. Di mana
tanggungjawab pengajar dan pembawa saling melengkapi, di mana seharusnya mereka harus
dipisahkan? Seperti perdebatan biasanya bergantung pada jawaban pertanyaan seperti: apakah
tanggungjawab utama pengajar klinik selama sesi pengajaran klinik? Kepada siapa pengajar
klinik bertanggung jawab?
Konflik peran ganda timbul dikenal pada pekerjaan komite karir Federasi Perawat Royal
Australia. Struktur tradisional yang tidak ada peran jelas untuk perawat klinik dan konsultan
perawat klinik pada pengajaran dan peran perawat edukator/ pendidik yang diperankan di kelas,
telah digantikan oleh struktur baru yang memberikan perawat klinik suatu jalan karir yang jelas
dan perawat pendidik suatu peran pengajar pada kedua seting kelas dan klinik. Silver (1989)
mendefenisikan perawat pendidk:
Perawat pendidikbertanggungjawab meliputi mengajar dan aktivitas pengajaran
klinik untuk suatu kelompok mahasiswa yang spesifik, staf dan unit klinik. Dia
membolehkan koordinasi suatu mata pelajaran atau program dalam sekolah perawat (p.
232)
Jelas, tanggungjawab adalah untuk mahasiswa, bukan pada pasien. Pada sisi lain,
konsultan perawat klinik didefeniskan sebagai
Seorang ahli praktisi klinik yang memberikan kepemimpinan dan koordinasi satu unit/
pelayanan tim pengiriman klinik di atas pemegang jabatan yang mempunyai wewenang
total. Peran yang sedang memegang jabatan memberikan perawatan pasien secara
langsung untuk sebuah jumlah kecil pasien/ klien dengan kebutuhan perawatan yang

kompleks pada suatu basis regular pada perintah untuk mendemonstrasikan keahliannya.
Tindakan pejabat sebagai suatu proses dan keahlian konsultan untuk staf bagian/ unit dan
sebagai seorang konsultan keahlian untuk beberapa area permintaan, hubungan untuk
area keahliannya (p. 232).
Pada keadaan ini, peran pengajar klinik adalah jelas bahwa itu ditetapkan pada hubungan
mahasiswa khusus, unit staf dan klinik. Sepertinya tidak mungkin bahwa pengajar klinik akan
menjadi ahli pada semua seting atau lapangan klinik, penggambaran unit klinik khusus
memungkinkan pengajar klinik untuk mengikuti perkembangan lapangan kekhususan kliniknya
dan meyakinkan bahwa mereka melanjutkan melakukan dengan mahirnya, sebagai seorang
pengajar pada area klinik tersebut.
Manusia menunjukkan untuk kedua peran ini pada pengajar mereka (Windsor, 1987).
Kecerdasan pengajar klinik adalah penting, karena pengetahuan dan pengalaman digunakan
untuk membantu mahasiwa mensintesiskan konsep teori dengan realita praktek dan memberikan
kesempatan untuk mahasiswa mempelajari bagaimana praktisi klinik berpikir dalam praktek.
Peran pengajar sebagai instruktor lebih baik dari pada praktiksi klinik, bagaimanapun juga
penting dan satu dari banyak pengajar merasa kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan
secara jelas.
Komponen kemampuan peran instruktor telah didefenisikan dalam hubungan supervisor
pada pengajar pendidikan (turney, dkk., 1982, p. 85). Keterampilan didefenisikan sebagai
Mempresentasikan (presenting), pertanyaan (questioning), pemecahan masalah (problem
solving) dan konferensi (conferencing) dan setiap keterampilan mempunyai bnayak komponen:
1.

Presenting, mempunyai komponen mengusulkan, modelling dan penjelasan

2.

questioning, mempunyai komponen tambahan: peningkatan level, istirahat, penyelidikan,


menjawab pertanyaan berbeda

3.

pemecahan masalah, mempunyai komponen menggambarkan masalah, mengidentifikais


faktor dan menemukan informasi, mencari solusi, mengaplikasikan dan menilai solusi.

4.

conferencing, mempunyai komponen perencanaan untuk konferensi, petunjuk diskusi dan


mengakhiri diskusi.
Ada beberapa persamaan yang nyata antara keterampilan mensupervisi ini pada
pendidikan pengajar dan peran instruktor pada pendidikan perawat. Ketika masa pengajaran
klinik lebih disukai pada konsep supervisi pada pendidikan perawat, keterampilan yang sama
dilatih pada pada labotarium dan pada sesi pre dan post konferensi.
Kermode (1985) memeriksa konsep supervisi klinik pada pendidikan pengajar dan
termasuk ada kesamaan antara keterampilan yang dibutuhkan untuk supervisi seorang pengajar-

pembelajar di kelas dan di dalam sebuah seting klinik. Sebuah perbedaan kritis, bagaimanapun
supervisor hanya seorang pengamat mahasiswa-pengajar dan seorang partner aktif dalam
pelajaran. Secara kontras pengajar klinik pada pendidikan mempunyai banyak pilihan untuk
berpartisipasi. Pengajar boleh mengambil peran seorang supervisor semata-mata ketika itu tepat
untuk tingkatan belajar mahasiswa, kondisi pasien/ klien atau konteks, alternatifnya, pengajar
klinik boleh bertindak sebagai observer, mencatat aspek penampilan untuk diskusi yang akan
datang, tapi lebih biasa pengajar klinik dilibatkan dalam praktek, dengan peran modeling,
menginstruksi, membantu dalam asuhan untuk peningkatan atau menyesuaikan peralatan atau
pembicaraan dengan pasien atau klien. Pada saat umpan balik segera dapat dibutuhkan dan
pengajar boleh mengintervensi untuk melindungi pasien/ klien dan mahasiswa dari potensial
bahaya atau prosedur yang tak diingini.
Itu membantu untuk berpikir sebuah pengajaran klinik tiga serangkai mahasiswa, pasien/
klien dan pengajar yang membutuhkan keterampilan melebihi ini yang terdiri dari peran
mensupervisi pada pendidikan pengajar.
Menurut Little dan Ryan (1988) peran instruktor pada pendidikan perawat telah menjadi
hampir tidak ada keterampilan mengajar instruktor tradisional atau mempresentasikan informasi
dan penempatan peran fasilitator mahasiswa belajar secara langsung telah diadopsi. Peran
fasilitator tergantung pada kemampuan membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan
pada berfikir kritis dan pemecahan masalah/ alasan, belajar secara langsung dan evaluasi diri (p.
2). Pengajar melatih kemampuan ini menggunakan strategi yang menantang secara konstan
asumsi mahasiswa, pengertian, pengetahuan dasar dan keterampilan belajar secara
langsung. Agaklah penting,

Peran pengajar klinik di laboratorium


1.

Kolega/ teman sejawat


Melibatkan, menarik, memberikan feedback yang jujur, tapi tidak menjadi over protektif,
menerima setiap mahasiswa dan memberikan dorongan untuk mengetahui bahwa
keputusan hasil akan datang bukan dari satu penampilan yang jelek tapi dari seluruh
tingkat kemampuan, sikap dan pelaksanaan sebagi suatu keutuhan

1.

fasilitator
mempertimbangkan ketika mahasiswa menginginkan menggunakan akal/ otak sebelah
kiri tapi tidak perlu sendiri, menjadi available (tersedia) tapi tidak mengganggu, menjadi
sensitif ketika mahasiswa membutuhkan dorongan dan ketika mengkoreksi kesalahan
yang spesifik dibutuhkan untuk mencegah menggunakan otak sebelah kanan,

membolehkan mahasiswa mempelajari kesalahan sendiri dan di atas itu semua akan
membangun kepercayaan diri mahasiswa.
1.

ahli klinik
kredibel, dengan wewenang yang datang dengan mengetahui bagaimana dan mengapa
dan dengan keterampilan mencakup mahasiswa pada demonstrasi yang kompleks sama
baiknya dengan simulasi klinis yang sederhana atau yang biasa.

1.

manajer dan coordinator


merancang latihan yang menarik, mempunyai sumber yang available, yakinkan bahwa
waktu tidak terbuang dan sesi praktek(praktikum) diatur waktu sedekat/selekat mungkin
sebelum sesi praktek klinik

1.

penantang
memperkenalkan situasi yang baru untuk menguji kemampuan individual,
memperpanjang individual mahasiswa dengan beralasan dan pada kenyataannya,
mengharapkan standa yang tinggi

1.

pembantu
mengurangi tekanan kepada mahasiswa untuk benar setiap waktu, memberikan
kelonggaran yang realistic untuk individual yang kelelahan, kecemasan dan kehilangan
(lupa) pada pengetahuan dan pelaksanaan
Peran tambahan:

1.

penaksir/ penilai
melakukan observasi pelaksanaan secara langsung di laboratorium dan membuat
keputusan menurut ekspektasi (dugaan) ekspilisit, standar an ktiteria, mengenal dengan
baik pada kemajuan pengkajian dan penerapan dengan sama pada setiap mahasiswa,
menimbulkan kepercayaan, dan keadilan reabilitas

1.

peneliti
mempersiapkan mahasiswa menerapkan teori ke dalam praktek dan menemukan cara
memperoleh teori dari praktek, membangun hubungan yang kooperatif dan kolaboratif
dengan mahasiswa, merangsang untuk melakukan penyelidikan/ penelitian, mendukung
penemuan.

Peran pengajar klinik pada sesi briefing (pengarahan singkat):


Aktifitas

Walaupun beberapa peran akan sama dengan di lab. Perbedaan tujuan briefing dan kelompok
mahasiswa lebih kecil akan memengaruhi cara anda memerankan peran anda. Jika anda
menginginkan sesi briefing untuk merefleksikan isu utama ditinggikan pada bab ini, peran anda
akan menjadi apa?
Feedback
Jika mahasiswa anda adalah belajar bagaimana mempelajari pada klinikal peran anda
sebagai supporter akan mencakup:
1.

membantu mahasiswa mengidentifikasi perhatian mahasiswa

2.

menyediakan cara mengurangi stress

3.

mendorong mahasiswa mengidentifikasi kebutuhan belajar

4.

mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri


jika mahasiswa anda dalam penugasan
sebagai Perencana akan mencakup:

klini

akan

menjadi

efektif

1.

mengunjungi klien untuk mencari keterlibatan mereka

2.

melakukan negoisiasi dengan staf klinik

3.

mencocokkan sumber klinik dengan individual mahasiswa

4.

mengantisipasi masalah

5.

membiarkan untuk kemungkinan2

6.

menilai kecepatan individual mahasiswa

7.

mengenal kekuatan dan menasehatkan untuk kemajuan

peran

anda

jika mahasiswa anda adalah untuk mendapatkan/ menambah dari pengalaman peran anda
sebagai pelatih mereka akan mencakup:
1.

mendemonstrasikan sebuah hubungan kerja yang terbuka dan percaya


sehingga anda dan mahasiswa adalah partner

2.

belajar dari dan dengan


kolaborasi dan kooperasi

setiap

orang,

mempersiapkan

untuk

jika anda adalah untuk mendorong kemandirian melalui pembelajaran self-directed pada klinik,
peran anda sebagaisumber pengetahuan akan mencakup:

1.

membuka tujuan dan ekspektasi mahasiswa anda

2.

mendorong inisiatif mahasiswa

3.

memberi penghargaan pelaksanaan

4.

membantu usaha

5.

mensimulasi kreativitas
jika anda adalah membantu perjanjian sebagai sebuah strategi untuk mengembangkan rasa
tanggungjawab
mahasiswa
anda, role
model
professional anda
akan
mecakup
mendemonstrasikan analisis anda sendiri dan respon terhadap tantangan menjadi seorang yang
professional.
Jika mahasiswa anda adalah mengembangkan pengetahuan berbasis praktek, peran anda
sebagai fasilitator akan mencakup:

1.

mempersiapkan mahasiswa untuk menguji secara


mereka, pengetahuan dasar dan sikap pada seting klinik

kritis

asumsi

2.

mempersiapkan tantangan untuk mehasiswa mengetahui apakah


mereka akan melihat , melakukan dan mengalami di klinik
jika mahasiswa anda adalah untuk mempersiapkan untuk sesi Tanya jawab untuk mengikuti
klini, peran anda sebagai penyelidik akan mencakup:

1.

membiarkan mahasiswa mengenal keraguan pengalaman klinik meeka


setiap hari untuk analisis secara kritis

2.

mendorong mahasiswa untuk mencatat apakah ekspektasi meeka


berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi

3.

merencanakan untuk co-investigasi keraguan yang teridentifikasi oleh


mahasiswa

4.

menawarkan ketersediaan untuk berdiskusi sama berarti baik dengan


praktek konkret

5.

mendemonstrasikan sebuah pendekatan penyelidikan untuk memiliki


peran

peran pengajar klinik dengan mahasiswa di seting klinik/ komunitas


Aktifitas

Ini saatnya kembali pada tahap sebelumnya siklus pembelajaran klinik, di lab dan sesi briefing,
untuk mengingatkan peran pengajar klinik pada sesi ini. Peran mana yang anda pertimbangkan
tepat juga untuk anda di seting klinik/ komunitas? Yang mana yang anda hilangkan?yang mana
peran tambahan yang anda sarankan?
Feedback
Setelah membaca sekilas peran, kita telah mengidentifikasi cukup jauh, anda boleh
mempertimbangkan peran yang paling tepat untuk pengajaran pada seting sebenarnya sebaik
simulasi di lab atau riefing. Peran pembelajaran pasti seperti sebagai fasilitator, pelatih,
supporter, penantang, pembantu, sumber pengetahuan dan kolega. Peran berhubungan dengan
organisasi, perencana, manager dan coordinator juga berlaku sebagai melakukan peran
professional sepert peneliti, penyelidik, role model professional dan peran ahli klinik.
Ketika benar bahwa pengajar klinik mempunyai sebuah peran sebagai penilai penampilan
klinik mahasiswa, kita belum mencakup aspek mengajar/ belajar pada bab ini. Walaupun, peran
feedback telah diambil pada tempatnya sebagai sebuah strategi mengajar/ belajar yang spesifik
dengan tekanan pada petunjuk informasi kea rah kemajuan.
Kita mengakui masalah konflik peran ketika mahasiswa merasa sebuah kontradiksi antara
pengajar sebagai fasilitator dan supporter dan pada saat yang bersamaan sebagai penilai
bertanggungjawab untuk berkontribusi pada keputusan yang dapat memengaruhi kemajuan
mahasiswa pada bagian yang sama baiknya mengancam harga diri mahasiswa. Membuat suatu
lingkungan belajar yang kondusif untuk pengajar klinik sebagai penilai berfokus pada
perkembangan kepercayaan dan rasa hormat bersama.
Persoalan khusus pengkajian dan evaluasi penampilan klinik adalah melebihi jangakuan
teks ini. Gambaran pada tujuan pembelajaran klinik mengubah melebihi waktu dan sebagai idea
dan ekspektasi adalah lebih tajam, semuanya jelas bahwa metoda pengkajian tradisional terbatas
pada kapasitas mereka yang merefleksikan kompleksifitas penampilan dan pembelajaran klinik
yang efektif. Evaluasi penampilan klinik tinggal sebuah area tantangan yang menunggu solusi
yang dapat diatur.
Peran tambahan apa yang ada untuk pengajar klinik?Peran sebagai observer/
pengamat mendapatkan yang semestinya pada seting klinik/ komunitas dan membutuhkan
tambahan sebagai sebuah peran yang penting, terus-menerus dan utuh pada pengakajian yang
berdampak pada lingkungan pembelajaran dan mempunyai kemampuan untuk memberikan
feedback yang spesifik kepada mahasiswa dan membantu mereka mengintepretasikan apa yang
mereka lihat disekeliling mereka.
Peran pelajar pengajar klinik terjadi secara implicit sepanjang siklus pembelajaran
klinik melalui banyak kesempatan mengobervasi bagaiman mahasiswa belajar, dan melalui
penyelidikan berkelanjutan dan mencari pengetahuan. Pada seting klinik/ komunitas, focus
pengajar klinik meliputi belajar dengan mahasiswa bagaimana mengembangkan pengetahuan

klinik, mengenal masalah yang dapat diteliti dan mengangkat isu untuk perkembangan teori.
Penting, belajar tentang penampilan sendiri dan memperoleh wawasan untuk pengetahuan
sendiri yang menjadi pusat seorang mahasiswa/ pelajar pada praktek klinik/ komunitas.
Hubungan yang dekat dengan peran pelajar adalah peran sebagai co-experiencer,
memusat secara signifikan pada pengalaman mahasiswa dan pasien. Peran membutuhkan
pengetahuan klinik, kebiasaan dengan kemajuan belajar mahasiswa dan respon pasien terhadap
kesehatan, penyakit dan prognosis. Kamu akan memungkinkan mengenal hubungan yang dekat
peran pelatih karena kamu mempertimbangkan tahap demi tahap keterlibatan sebagai experincer
pada peristiwa kehidupan mahasiswa dan pasien.
Akhirnya, peran carer/ pemerhati pondasi kegiatan pengajar klinik pada praktik klinik.
Mengasuh mahasiswa, memulai di lab dan melanjutkan sesi briefing dan memperpanjang sampai
peran dengan full care sebagai seorang pendidik, kepada mahasiswa dan pasien. Itu adalah peran
mempedulikan yang terbaik yaitu rendah hati, hampir tidak kelihatan, tapi jelas pada seleksi
pengalaman belajar yang teliti pada perhatian mahasiswa dan pasien, dengan kehadiran yang
hangat dan perhatian berdasarkan intuisi untuk keselamatan dan pertumbuhan mahasiswa, pasien
dan diri sendiri.

Peran pembimbing klinik dalam post conference


Aktifitas
Review tujuan post konferew
Jelaskan tugas pembimbing klinik dalam post konferen untuk membahas pengalaman dan
masalah yang dihadapi dalam praktek
Feedback
Tanggung jawab professional anda sebagai pembimbing klinik untuk menyiapkan untuk
melakukan praktek klinik, caring, perilaku professional merupakan peran anda sebagai pemberi
feed back dan apabila di laboratorium peran ini tercakup peran anda sebagai assessor . Pada
situasi klinik penekanan pada peningkatan kemampuan peserta didik melalui pemberian
bimbingan dengan cara pembimbing klinik mengobservasi penampilan siswa dalam prkatek
klinik. Dalam praktek klinik peran peserta didik meliputi belajar mengevaluasi kemampuan
kliniknya sendiri, sehingga dalam post conference peserta didik dan pembimbing klinik saling
memberikan feedback

Peran sebagai partisipan reflektif merupakan salah satu prioritas yang tinggi bagi instruktur
klinik. Peran tersebut meliputi peran sebagai kolega, pelatih, dan fasilitator tetapi ditambahkan
dimensi-dimensi lain. Dalam melatih siswa untuk mengubah pikiran mereka tentang kegiatankegiatan dalam praktik, instruktur klinik merefleksikan siswa dengan titik buta (blind spot)nya,
membantu mereka untuk melihat diri mereka sendiri pada saat bekerja sebagai perawat dan
menginterpretasikan perilaku melalui sudut pandang siswa itu sendiri dan memaknainya.karena
Peran ini hampir sama dengan peran sebagai pelajar karena kedua peran tersebut memperbesar
konfrontasi dan pengetahuan tentang diri sendiri. Akhirnya, terdapat hubungan yang kuat dengan
model peran professional. Karena proses belajar mengajar, interpretasi, dan maknanya
berhubungan dengan rasa saling percaya maka standar etika perilaku personal, kerahasiaan dan
kehati-hatian harus dilakukan secara timbal balik antara instruktur klinik dan siswa

Peran :
1.

sebagai pemberi feed back

2.

kolega/teman

3.

sebagai assessor/ penilai

4.

peran reflektif

5.

sbg coach

6.

fasilitator

7.

role model profesional