Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KROMATOGRAFI

ISOLASI SENYAWA PADA DAUN LEILEM


(CLERODENDRUM MINAHASSAE)

VERONICA PESIK
11 304 063
FARMASI

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2013

ISOLASI SENYAWA PADA DAUN LEILEM


I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Mengidentifikasi senyawa dalam sampel daun leilem melalui teknik maserasi, evaporasi,
kromatografi kolom dan KLT (kromatografi lapis tipis).
II.

DASAR TEORI

Daun Leilem (Clerodendrum minahassae) merupakan jenis tanaman tropis yang banyak
tumbuh di Sulawesi Utara. Ketinggian tanaman mencapai 2-4 meter. Bentuk daunnya bulat
telur, berwarna hijau tua mengkilap, rasanya agak sepat dan sedikit pahit. Kelopak berwarna
putih, berjumlah 5, benang sari berwarna kemerahan, umumnya tumbuh di semak dan hutan
sekunder di pulau Sulawesi-Indonesia. Daun Leilem termasuk pada familia Verbenaceae,
yang dimanfaatkan oleh masyarakat Minahasa sebagai sumber makanan. Daun Leilem
banyak mengandung senyawa fenol, sedikit natrium, dan alkaloid. Senyawa fenol yang ada
pada Daun Leilem merupakan jenis polifenol dengan aktivitas antioksidan yang potensial
sebagai terminator radikal bebas.
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) adalah
sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam
menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer,
selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan.
Evaporasi artinya menghilangkan air dari larutan dengan mendidihkan larutan di dalam
tabung evaporator. Evaporasi bertujuan untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat
terlarut yang tidak mudah menguap dengan pelarut yang mudah menguap atau bisa dikatakan
bahwa evaporasi adalah proses penguapan. Evaporator berfungsi untuk mengubah sebagian
atau keseluruhan pelarut dari suatu larutan dari betuk cair menjadi uap.
Kromatografi Kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk
memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Prinsip kerjanya adalah didasarkan
pada perbedaan afinitas absorbsi komponen-komponen campuran terhadap permukaan fasa
diam. Sampel yang memiliki afinitas besar terhadap absorben akan secara selektif tertahan
dan yang afinitasnya paling kecil akan mengikuti aliran pelarut.
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi
senyawa murninya. Kromatografi lapis tipis merupakan analisis yang cepat sederhana karena
tidak memerlukan banyak bahan baik sampel maupun eluennya. Prinsip kerja dari KLT sama
dengan kromatografi lainnya hanya saja KLT menggunakan sebuah lapis tipis silika atau
alumunium yang seragam pada suatu lempeng gelas, logam, atau platik yang keras (fase
diam). Fase geraknya merupakan pelarut atau campuran pelarutyang disesuaikan dengan sifat
kelarutan senyawa yang diperoleh.

III.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:
-Bejana perendam(maserator)
-Gelas erlenmeyer
-Gunting
-Kolom kromatografi
-Pipa kapiler
-Etanol
-Metanol

IV.

-Evaporator
-Gelas ukur
-Blender
-Plat KLT
-Aluminium foil
-Akuades
-Silika Gel

-Gelas beker
-Pipet tetes
-Mistar
-Chamber
-Tisu
-Etil asetat
-Daun leilem

PROSEDUR KERJA
1. Teknik Maserasi
Sampel daun leilem
Dipotong kecil-kecil
Ditimbang 2 kg
Dihaluskan dengan blender
menggunakan etanol
Dimasukan dalam maserator
Dimaserasi dengan etanol 5,2 L
selama 24 jam
Disaring
Campuran Sampel dan etanol

Residu

Keterangan: Residu pada Percobaan diatas diulangi selama 3 x 24 jam

Filtrat

2. Teknik Evaporasi
Filtrat
Disiapkan
evaporator
Mengambilalat
sampel
produk beberapa kali dengan selang waktu
tertentu.
Dievaporasi
terus
menerus
sampai
filtrat
menjadi
kental48 0C
Dipasang
dan
mengalirkan
airdengan
pendingin
Dimasukan
kedalam
untuk
diumpankan
Diatur
set selang
onfiltrat
alatpendingin
yang
akanevaporator
digunakan
sampai
Destilat kental

3. Teknik kromatografi Kolom


Destilat kental
Ditambah beberapa tetes etanol
Disiapkan kolom gelas yang berisi penyumbat kapas pada ujungnya

Dimasukan silika ke dalam kolom sampai setengahnya


Dimasukan campuran etanol dan destilat kental
Dibiarkan menetes
Ditampung fraksi-fraksi tetesan yang keluar dari kolom gelas
Mengganti vial setiap 2 mL
Fraksi

4. Teknik kromatografi lapis tipis (KLT)


Fraksi
Diambil satu persatu fraksi dengan pipa kapiler
Dimasukan
dalampada
chamber
yang berisi 25 mL campuran
Ditotolkan fraksi
plat KLT
Ditentukan
harga
Rf
dari
noda-noda
metanol
dan
etil
asetat
Diambil
plat dan
dikeringkan
diudarayang diperoleh
Diamati
Diidentifikasi
noda
yang
senyawa
dihasilkan
tersebut

Senyawa

V.

DATA HASIL PENGAMATAN


1. Maserasi
NO

WAKTU PERCOBAAN

HASIL

29 Mei 2013

2,2 L

30 Mei 2013

6,18 L

31 Mei 2013

3,6 L

NO

PERCOBAAN

HASIL

Filtrat daun leilem

30,14 gram

KETERANGAN

2. Evaporasi
KETERANGAN

3. Kromatografi kolom
NO

VIAL

VOLUME

1 sampai 65

Masing-masing 2 mL

4. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

KETERANGAN

VI.

PERCOBAAN

JARAK YANG
DITEMPUH ZAT
TERLARUT

JARAK YANG
DITEMPUH
PELARUT

FRAKSI 1 sampai 20

7,5 cm

8,5 cm

FRAKSI 21 sampai 30

7,5 cm

8,5 cm

FRAKSI 31 sampai 35

FRAKSI 36 sampai 40

N
O

KET

PEMBAHASAN

Pada percobaan isolasi senyawa pada daun leilem adapun teknik-teknik isolasi yang
digunakan yaitu teknik maserasi, teknik evaporasi, kromatografi kolom dan KLT. Cara kerja
untuk percobaan dengan teknik maserasi; pertama sampel dipotong-potong kecil, lalu
ditimbang sebanyak 2 kg dan sampel dihaluskan (diblender), kemudian sampel ditempatkan
dalam tabung maserasi (maserator) dan ditambahkan etanol sebanyak 5,2 L serta direndam
selama 1 x 24 jam. Setelah itu sampel disaring sambil sesekali diaduk dan didapat filtratnya
sebanyak 2,2 L sedangkan residunya dimaserasi kembali dengan menambahkan etanol
sebanyak 6,2 L dan didapat filtratnya sebanyak 6,18 L, kemudian residu dari penyaringan
yang kedua dimaserasi kembali dengan menambahkan etanol sebanyak 3 L dan didapat
filtratnya 2,1 L. Pengadukan pada proses maserasi dapat menjamin keseimbangan konsentrasi
bahan yang diekstraksi lebih cepat didalam cairan penyari. Hasil penyaringan dengan cara
maserasi perlu dibiarkan selama waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengendapkan zatzat yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari.
Pada percobaan dengan teknik evaporasi larutan yang digunakan adalah filtrat yang
didapat dari proses maserasi. Disamping itu untuk mengetahui apakah climbing film
evaporator yang dipakai bekerja dengan efektif atau tidak dapat dilihat dari distilat yang
dihasilkan. Apabila distilat jernih terjadi evaporasi tetapi jika distilat berwarna maka proses
evaporasi tidak terjadi dimana sampel ikut teruapkan tidak hanya solvennya tetapi solutnya
pun ikut teruapkan.
Larutan sampel dimasukkan kedalam separator (pemisah) untuk memisahkan zat cair
yang terbawa ikut dari uap. Zat cair dan uap mengalir ke atas di dalam tabung sebagai akibat
dari peristiwa didih, zat cair yang terpisah kembali ke dasar tabung dengan gravitasi. Umpan
encer biasanya pada suhu sekitar suhu kamar, masuk ke dalam suatu sistem dan bercampur
dengan zat cair yang kembali dari separator. Sampel itu mengalir ke atas di dalam tabung
sebagai zat cair dalam jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari uap.
Hasil dari kondensasi berupa distilat yang berwarna jernih dan di tampung di tangki
penampungan destilat. Suhu air pendingin yang keluar dari kondensor lebih tinggi dari pada
suhu masuk karena air itu menyerap panas dari kondensor. Teknik evaporasi ini dilakukan
sampai sampel (hasil dari metode maserasi) menjadi kental.

Pada percobaan dengan metode kromatografi kolom menggunakan sistem pelarut


SGP (Step Gradieny Polarity). Langkah ini diambil karena belum diketahui jenis eluen yang
cocok dengan pemisahan ini.
Sistem pelarut SGP dilakukan dengan cara menggantikan / mengubah kepolaran dari
eluen yang digunakan secara bertahap. Eluen tersebut merupakan campuran dua jenis pelarut
dengan kepolaran berbeda. Dengan mengubah perbandingan campurannya kita dapat
menggeser tingkat kepolaran dari eluen ini. Pada pengerjaannya di awali dengan satu jenis
pelarut yaitu berupa metanol saja, kemudian digeser tingkat kepolarannya dengan
mencampurkannya dengan pelarut etil asetat. Pencampuran dilakukan dengan perbandingan
yang divariasikan secara bertahap, hingga diakhiri dengan menggunakan campuran metanol
dan etil asetat dengan perbandingan 3:2 sebagai eluen. Dengan ini diharapkan dapat
memberikan pemisahan yang lebih baik.
Eluen dialirkan untuk pemisahan komponen dengan kecepatan alir 1 tetes per

10

detik. Aliran eluen diatur agar tidak terlalu cepat agar komponen dapat terpisah dengan baik.
Eluen mengalir mengelusi sampel menyusuri fase diam di sepanjang kolom dengan
memanfaatkan gaya gravitasi.
Dengan adanya perubahan tingkat kepolaran secara bertahap, keterikatan komponen
terhadap pelarut dan keterikatan masing-masing komponen terhadap fase diam akan berubahubah, sesuai dengan sifat-sifat masing-masing komponen. Komponen ini dibawa oleh pelarut
dan tertampung pada vial penampung. Hasil pemisahan dapat diakumulasikan dan masih
dalam keadaan terlarut dalam pelarut. Jumlah fraksi yang tertampung adalah 62 vial.
Untuk lebih memastikan tingkat kemurnian dari hasil pemisahan dapat kita uji dengan
metode Kromatografi Lapisan Tipis. Hasil yang ada pada masing-masing vial tersebut kita uji
dengan KLT sehingga bisa kita lihat apakah pada masing-masing benar-benar hanya
mengandung satu komponen.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, fraksi-fraksi yang diperoleh dari proses
kromatografi kolom, ditotolkan pada plat lapis tipis, kemudian dimasukkan kedalam chamber
eluen yang berisi campuran metanol dan etil asetat. Noda mulai bergerak sedikit demi sedikit
keatas. Dari hasil pengamatan yang diperoleh, komponen yang menempuh jarak lebih jauh
bersifat nonpolar dibanding dengan senyawa polar. Adapun Rfnya adalah:
Rf =

jarak tempu h komponen


7,5
= 8,5
jarak tempu h eluen

= 0,8.

Berdasarkan referensi, diketahui bahwa senyawa tersebut merupakan metanol (Rf


0,81).
VII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan diketahui bagaimana cara memisahkan
kandunagn senyawa yang ada dalam sampel daun leilem dengan cara maserasi, evaporasi,

kromatografi kolom dan KLT. Nilai Rf yang didapat dari perhitungan adalah 0,8 yang
merupakan Rf dari senyawa metanol.
VIII. SUMBER
Eva sulistiani, http://evasulistiani.blogspot.com/2013/04/kromatografi.html
December 18, 2012 by Atina Rizkiya Choirunnisa.
http://blogs.itb.ac.id/tinachoirunnisa/2012/12/18/kromatografi-kolom-dan-kromatografi-lapistipis-isolasi-kurkumin-dari-kunyit-cucurma-longa-l/
http://mayapusmpuspuspita.wordpress.com/2011/11/12/ekstraksi-dengan-metode-maserasi/
Selasa, 23 April 2013 by Eva Sulistiani.
http://evasulistiani.blogspot.com/2013/04/kromatografi.html
Minggu, 29 Januari 2012 by Yolani Syaputri.
http://yolanisyaputri.blogspot.com/2012/01/kromatografi-lapis-tipis-i.html.

LAMPIRAN DOKUMENTASI