Anda di halaman 1dari 37

BLOK PANCA INDERA

SKENARIO 1
MATA MERAH

Ketua
Sekretaris
Anggota

:
:
:

KELOMPOK A4
Dian Suciaty Annisa
Deza Harati Zulfikar
Intan Nurul Hikmah
Frastio Saputra
Adek Prima Rahmi P
Hendri Prasetyo
Azando Rizki Putra
Helena Azhar A
Dita Evita Hersafitri
Harya Hermawan

(1102012064)
(1102012060)
(1102011128)
(1102012094)
(1102012004)
(1102012113)
(1102012038)
(1102012111)
(1102012069)
(1102012109)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2014/2015

SKENARIO
MATA MERAH
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun datang ke poliklinik diantar ibunya dengan
keluhan kedua mata merah sejak 2 hari yang lalu setelah bermain sepak bola. Keluhan
disertai dengan keluar air mata dan gatal. Pengilhatan tidak mengalami gangguan.
Pasien pernah menderita penyakit seperti ini 6 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan oftalmologis :
VOD: 6/6, VOS: 6/6
Segmen anterior ODS: palpebra edema (-), lakrimasi (+), konjungtiva tarsalis
superior: giant papil (+) (cobble stone appearance), konjungtiva bulbi: injeksi
konjungtiva (+), limbus kornea: infiltrate (+).
Lain-lain tidak ada kelainan
Pasien sudah mencoba mengobati dengan obat warung tapi tidak ada perubahan.
Setelah mendapatkan terapi pasien diminta untuk kontrol rutin dan menjaga serta
memelihara kesehatan mata sesuai tuntunan ajaran islam.

KATA-KATA SULIT
1. Pemeriksaan oftalmologis
dan fungsi mata.
2. Giant papil
3. Lakrimasi
4. Infeksi konjungtiva
5. VOD
kanan)
6. VOS
7. ODS

: pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai anatomi


: papil dengan diameter >10mm
: proses keluarnya air mata
:melebarnya pembuluh darah arteri konjugtiva posterior
:visus occuli dextra ( ketajaman penglihatan mata
: visus occuli sinistra ( ketajaman penglihatan mata kiri)
: occuli dextra sinistra

PERTANYAAN
1. Mengapa bisa terjadi banyak air mata yang keluar dan mata terasa gatal?
2. Mengapa bisa terjadi giant papil?
3. Mengapa bisa terjadi mata merah?
4. Apa yang menyebabkan penyakit ini?
5. Apakah ada hubungan penyakit ini dengan riwayat penyakit 6 bulan lalu?
6. Mengapa penglihatan tidak terdapat gangguan?
7. Bagaimana cara merawat mata dalam ajaran agama islam?
8. Apa saja faktor penyebab dari penyakit ini?
9. Mengapa tidak ada perubahan setelah diberi obat warung?
10. Apakah diagnosis penyakit ini?
JAWABAN
1. Air mata keluar karena terjadi reaksi hipersensitivitas tipe 1 dan mata terasa gatal
disebabkan oleh respom iritasi yang menghasilkan histamin
2. Giant papil dapat terjadi disebabkan oleh penumpukan jaringan ikat
3. Mata merah terjadi karena adanya aliran sel media inflamasi yang mengalir ke
pembuluh darah, kemudian menjadi dilatasi dan menjadi injeksi konjungtiva
4. Dapat di sebabkan oleh bakteri, virus, alergen, dan jamur serta bahan kimia
5. Ada hubungannya, karena terdapat riwayat alergi
6. Penglihatan normal karena bagian yang terkena hanya konjungtiva, media refraksi
dari kornea hingga korpus vitreous tidak mengalami gangguan
7. Dapat dilakukan dengan menjaga pandangan, serta mengambil wudhu
8. Penyebabnya adalah riwayat alergi, faktor lingkungan, dll
9. Diagnosis penyakit ini adalah konjungtivitis
10. Obat warung yang digunakan tidak sesuai dengan etiologi penyakit tersebut

HIPOTESIS
Pasien dengan mata merah disebabkan oleh iritasi yang dapat membuat mata
gatal, lakrimasi, dan perih. Kemudian dilakukan pemerikasaan oftamologis. Pasien
didiagnosis konjungtivitis alergi, karena adanya riwayat penyakit yang sama 6 bulan
lalu.

SASARAN BELAJAR
LI 1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mata
LO 1.1 Makroskopik
LO 1.2 Mikroskopik
LI 2 Memahami dan Menjelaskan tentang Fisiologi Penglihatan
LI 3 Memahami dan Menjelaskan tentang Konjungtivitis
LO 3.1 Definisi
LO 3.2 Etiologi
LO 3.3 Epidemiologi
LO 3.4 Klasifikasi
LO 3.5 Patofisiologi dan Patogenesis
LO 3.6. Manifestasi Klinis
LO 3.7 Diagnosis & Diagnosis Banding
LO 3.8 Tatalaksana
LO 3.9 Komplikasi
LO 3.10 Prognosis
LO 3.11 Pencegahan
LI 4 Memahami dan Menjelaskan tentang Memelihara Mata Menurut Ajaran
Islam

LI 1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mata


LO 1.1 Makroskopik

Bola mata (bubus oculi), atau organ penglihatan, berada pada kavitas orbita,
dimana organ ini dilindungi dari cedera dan pergerkan oleh otot-otot okular serta
tulang (os sphenoidale, zygomaticum, frontale, ethmoidale, lacrimale, dan maxilla).
Selain itu, ada pula struktur aksesorius yang berhubungan dengan mata, seperti otototot, fascia, alis, kelopak mata, konjungtiva, dan badan lakrimal.
Ukuran bola mata lebih panjang pada diameter transversal dan anteroposterior daripada diameter vertikal. Pada wanita, ketiga diameter tersebut lebih kecil
daripada laki-laki. Diameter antero-posterior pada bayi baru lahir berkisar 17.5 mm,
dan saat pubertas berkisar 20-21 mm. Bola mata terbenam dalam lemak di orbita,
tetapi dipisahkan dari jaringan tersebut oleh kantung membranosa tipis, fascia bulbi.
Lapisan Mata
Lapisan mata dari luar ke dalam adalah:
(1) tunika fibrosa, terdiri dari sklera di bagian belakang dan kornea di bagian depan;
(2) tunika vascular berpigmen, di bagian belakang terdapat koroid, dan di bagian
depan terdapat badan siliaris dan iris
(3) tunika nervosa, retina.

Tunika fibrosa ( tunica fibrosa oculi )


Sklera dan kornea membentuk tunika fibrosa bola mata; sklera berada di lima
perenam bagian posterior dan opak; kornea membentuk seperenam bagian anterior
dan transparan.
Sklera memiliki densitas yang tinggi dan sangat keras, merupakan membran
solid yang berfungsi mempertahankan bentuk bola mata. Sklera lebih tebal di bagian
belakang daripada di depan; ketebalan di bagian belakang 1 mm. Permukaan eksternal
sklera berwarna putiih, dan menempel pada permukaan dalam fascia bulbi; bagian
anterior sklera dilapisi membran konjungtiva bulbi. Di bagian depan, sklera
berhubungan langsung dengan kornea, garis persatuannya dinamakan sclero-corneal
junction atau limbus. Pada bagian dalam sklera dekat dengan junction terdapat kanal
sirkular, sinus venosus sclera (canal of Schlemm). Pada potongan meridional dari
bagian ini, sinus tampak seperti cekungan (cleft), dinding luarnya terdiri dari jaringan
solid sklera dan dinding dalamnya dibentuk oleh massa triangular jaringan trabekular.
Aqueous humor direasorbsi menuju sinus skleral oleh jalur pectinate villi yang
analog dengan struktur dan fungsi arachnoid villi pada meninges serebral menuju
pleksus vena sklera. Kornea merupakan bagian proyeksi transparan dari tunika
eksternal, dan membentuk seperenam permukaan anterior bola mata. Kornea
berbentuk konveks di bagian anterior dan seperti kubah di depan sklera. Derajat
kelengkungannya berbeda pada setiap individu.
Tunika vaskular ( tunica vasculosa oculi )
Tunika vaskular mata terdiri dari koroid di bagian belakang, badan siliaris
serta iris di
bagian depan.
Koroid berada di lima perenam bagian posterior bola mata, dan memanjang
sepanjang ora serrata. Badan siliaris menghubungkan koroid dengan lingkaran iris.
Iris adalah diafrgama sirkular di belakang kornea, dan tampak di sekeliling pusat,
apertura bundar, pupil.
Koroid merupakan membran tipis, vaskular, warna coklat tua atau muda. Di
bagian belakang ditembus oleh nervus optikus. Lapisan ini lebih tebal di bagian
belakang daripada di bagian depan.
Salah satu fungsi koroid adalah memberikan nutrisi untuk retina serta
menyalurkan pembuluh darah dan saraf menuju badan siliaris dan iris.
Badan siliaris (corpus ciliare) merupakan terusan koroid ke anterior yang
terdapat processus ciliaris serta musculus ciliaris.
Iris dinamakan berdasarkan warnanya yang beragam pada individu berbeda.
Iris adalah lempeng (disk) kontraktil, tipis, sirkular, berada di aqueous humor antara
kornea dan lensa, dan berlubang di tengah yang disebut pupil. Di bagian perifernya,
iris menempel dengan badan siliaris, dan juga terkait dengan; permukaannya rata,
bagian anterior menghadap ke kornea, bagian posterior menghadap prosesus siliaris
dan lensa. Iris membagi ruangan antara lensa dan kornea sebagai ruang anterior dan
posterior. Ruang anterior mata dibentuk di bagian depan oleh permukaan posterior
kornea; di bagian belakang oleh permukaan anterior iris dan bagian tengah lensa.
Ruang posterior adalah celah sempit di belakang bagian perifer iris, dan di depan
ligament suspensori lensa dan prosesus siliaris.

Tunika nervosa ( Tunica interna )


Retina adalah membran nervosa penting, dimana gambaran objek eksternal
ditangkap.
Permukaan luarnya berkontak dengan koroid; permukaan dalamnya dengan membran
hialoid
badan vitreous. Di belakang, retina berlanjut sebagai nervus optikus; retina semakin
tipis di bagian depan, dan memanjang hingga badan siliaris, dimana ujungnya berupa
cekungan, ora serrata. Disini jaringan saraf retina berakhir, tetapi pemanjangan tipis
membran masih memanjang hingga di belakang prosesus siliaris dan iris, membentuk
pars ciliaris retina dan pars iridica retina. Tepat di bagian tengah di bagian posterior
retina, pada titik dimana gambaran visual paling bagus ditangkap, berupa area oval
kekuningan, makula lutea; pada makula terdapat depresi sentral, fovea sentralis.
Fovea sentralis retina sangat tipis, dan warna gelap koroid dapat terlihat. Sekitar 3
mm ke arah nasal dari makula lutea terdapat pintu masuk nervus optikus (optic disk),
arteri sentralis retina menembus bagian tengah discus. Bagian ini satu-satunya
permukaan retina yang insensitive terhadap cahaya, dan dinamakan blind spot.
Media Refraksi
Media refraksi: kornea, aqueous humor, crystalline lens, vitreous body.
Aqueous humor ( humor aqueus )
Aqueous humor mengisi ruang anterior dan posterior bola mata. Kuantitas
aqueous humor sedikit, memiliki reaksi alkalin, dan sebagian besar terdiri dari air,
kurang dari seperlimanya berupa zat padat, utamanya klorida sodium.
Vitreous body ( corpus vitreum )
Vitreous body membentuk sekitar empat perlima bola mata. Zat seperti agaragar ini mengisi ruangan yang dibentuk oleh retina. Transparan, konsistensinya seperti
jeli tipis, dan tersusun atas cairan albuminus terselubungi oleh membrane transparan
tipis, membran hyaloid. Membran hyaloid membungkus badan vitreous. Porsi di
bagian depan ora serrata tebal karena adanya serat radial dan dinamakn zonula siliaris
(zonule of Zinn). Disini tampak beberapa jaringan yang tersusun radial, yaitu prosesus
siliaris, sebagai tempat menempelnya. Zonula siliaris terbagi atas dua lapisan, salah
satunya tipis dan membatasi fossa hyaloid; lainnya dinamakan ligamen suspensori
lensa, lebih tebal, dan terdapat pada badan siliaris untuk menempel pada kapsul lensa.
Ligamen ini mempertahankan lensa pada posisinya, dan akan relaksasi jika ada
kontraksi serat sirkular otot siliaris, maka lensa akan menjadi lebih konveks. Tidak
ada pembuluh darah pada badan vitreous, maka nutrisi harus dibawa oleh pembuluh
darah retina dan prosesus siliaris.
Crystalline lens ( lens crystallina )
Lensa terletak tepat di belakang iris, di depan badan vitreous, dan dilingkari
oleh prosesus siliaris yang mana overlap pada bagian tepinya. Kapsul lensa (capsula
lentis) merupakan membran transparan yang melingkupi lensa, dan lebih tebal pada
bagian depan daripada di belakang. Lensa merupakan struktur yang rapuh namun
sangat elastis. Di bagian belakang berhadapan dengan fossa hyaloid, bagian depan
badan vitreous; dan di bagian depan berhadapan dengan iris. Lensa merupakan
struktur transparan bikonveks. Kecembungannya di bagian anterior lebih kecil
daripada bagian posteriornya.
10

Organ Aksesorius Mata (Organa Oculi Accessoria)


Organ aksesorius mata termasuk otot okular, fascia, alis, kelopak mata,
konjungtiva, dan
aparatus lakrimal.
Lacrimal apparatus ( apparatus lacrimalis )
Apparatus lakrimal terdiri dari (a) kelenjar lakrimal, yang mensekresikan air
mata, dan duktus ekskretorinya, yang menyalurkan cairan ke permukaan mata; (b)
duktus lakrimal, kantung (sac) lakrimal, dan duktus nasolakrimal, yang menyalurkan
cairan ke celah hidung.
Lacrimal gland (glandula lacrimalis) terdapat pada fossa lakrimal, sisi medial
prosesus zigomatikum os frontal. Berbentuk oval, kurang lebih bentuk dan besarnya
menyerupai almond, dan terdiri dari dua bagian, disebut kelenjar lakrimal superior
(pars orbitalis) dan inferior (pars palpebralis). Duktus kelenjar ini, berkisar 6-12,
berjalan pendek menyamping di bawah konjungtiva.
Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada orifisium yang sangat kecil,
bernama puncta lacrimalia, pada puncak papilla lacrimales, terlihat pada tepi
ekstremitas lateral lacrimalis. Duktus superior, yang lebih kecil dan lebih pendek,
awalnya berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan sudut yang tajam, dan berjalan
ke arah medial dan ke bawah menuju lacrimal sac. Duktus inferior awalnya berjalan
turun, dan kemudian hamper horizontal menuju lacrimal sac. Pada sudutnya, duktus
mengalami dilatasi dan disebut ampulla. Pada setiap lacrimal papilla serat otot
tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter.
Lacrimal sac (saccus lacrimalis) adalah ujung bagian atas yang dilatasi dari
duktus nasolakrimal, dan terletak dalam cekungan (groove) dalam yang dibentuk oleh
tulang lakrimal dan prosesus frontalis maksila. Bentuk lacrimal sac oval dan ukuran
panjangnya sekitar 12-15 mm; bagian ujung atasnya membulat; bagian bawahnya
berlanjut menjadi duktus nasolakrimal.
Nasolacrimal
duct
(ductus
nasolacrimalis; nasal duct) adalah kanal membranosa, panjangnya sekitar 18 mm,
yang memanjang dari bagian bawah lacrimal sac menuju meatus inferior hidung,
dimana saluran ini berakhir dengan suatu orifisium, dengan katup yang tidak
sempurna, plica lacrimalis (Hasneri), dibentuk oleh lipatan membran mukosa. Duktus
nasolakrimal terdapat pada kanal osseous, yang terbentuk dari maksila, tulang
lakrimal, dan konka nasal inferior.
Otot-otot ekstraokular
1. Rectus medialis.
2. Rectus superior.
3. Rectus lateralis.
4. Rectus inferior.
5. Obliquus superior.
6. Obliquus inferior.
LO 1.2 Mikroskopik
MEDIA REFRAKSI
Merupakan media kesemua bangunan transparan yang harus dilalui berkas
cahaya untuk mencapai retina. Media refraksi terdiri dari:
Kornea
11

Kornea jernih dan tembus cahaya dengan permukaan yang licin tetapi tidak
melengkung secara uniform/seragam. Bagian tengah (zona optikal) mempunyai radius
kelengkungan yang lebih kecil dibandingkan bagian tepi, dan permukaan posterior
lebih melengkung daripada anterior, karenanya kornea lebih tipis di bagian tengah
daripada tepinya.
Daya refraksi kornea, yang merupakan hasil indeks refraksi radius lengkung
kornea lebih besar daripada daya refraksi lensa. Secara anatomis kornea mempunyai
dua bagian:
Kornea asli
Secara histologi, terdiri dari lima lapisan
1. Epitel
Pada permukaan luar terdapat epitel, yaitu suatu epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk, dengan 5 hingga 6 lapisan sel. Lapisan basal silindris rendah,
kemudian 3 atau 4 lapisan sel polihedral dan 1 atau 2 lapisan sel permukaan yang
gepeng. Epitel ini sangat sensitif dengan banyak akhir saraf bebas, dan
mempunyai daya regenerasi istimewa/sangat baik, mitosis hanya terjadi dalam
lapisan basal.
2. Membran Bowman
Dibawah epitel, tak berbentuk dan tak mengandung sel, dibentuk oleh
perpadatan antar sel dengan serabut kolagen halus yang tersebar tak beraturan.
Membran ini berakhir dengan tegas/ mendadak pada limbus.
3. Substansia propria
Membentuk massa kornea (90% ketebalannya), bersifat tembus cahaya, dan
terdiri dari lamel kolagen dengan sel. Lamel merupakan serat lebar, seperti pita,
serabut dalam setiap lamel sejajar, dengan lamel pada sudut-sudut yang berbeda.
Lamel saling melekat karena adanya pertukaran serabut antara lamel yang
berdampingan. Diameter serabut seragam menunjukkan periodisitas yang khas,
dan terbenam dalam substansia antarsel yang kaya akan polisakarida bersulfat.
Fibroblas berbentuk bintang, gepeng dengan cabang yang ramping, terletak antar
lamel.
4. Membran descement
Tampak homogen, terletak sebelah dalam substansia propria. Merupakan
membrana basalis dari endotel. Secara kimiawi materinya adalah kolagen.
5. Endotel
Merupakan satu lapis sel kuboid yang melapisi permukaan dalam kornea. Sel
menunjukkan kompleks tautan, permukaan antar sel yang tak teratur, dan
sejumlah besar vesikula pinositotik. Vesikula ini mentransportasikan cairan dan
larutan.
Kornea bersifat avaskular, mendapatkan nutrisi dari difusi pembuluh perifer
dalam limbus dan dari humor akueus di bagian tengah.

12

Limbus kornea
Merupakan zona peralihan atau zona pertemuan antara kornea dengan sklera.
Disini epitel kornea menebal smapai 10 lapisan dan melanjutkan diri dengan
konjungtiva, membrana bowman berhenti dengan tiba-tiba, membran descement
menipis dan memecah dan melanjutkan diri menjadi trabekula ligamneti pektinata,
dan stroma kornea menjadi kurang teratur dan secara bertahap susunannya berubah
dari susunan lamelar yang khas menjadi kurang teratur seperti yang ditemukan pada
sklera. Limbus memiliki vaskularisasi yang baik.
Camera occuli anterior dan camera occuli posterior
Camera occuli anterior (COA)
Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh:
Anterior oleh permukaan posterior kornea
Posterior oleh lensa, iris, dan permukaan anterior badan siliaris
Lateral oleh sudut iris atau limbus yang ditempati oleh jaringanjaringan trabekular yang merupakan tempat penyaliran humor akueus
schlemm.
Camera occuli posterior (COP)
Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh:
Anterior oleh iris
Posterior oleh permukaan anterior lensa dan zonula
Perifer oleh prosesus silia.
Kedua ruangan mengandung humor akueus, suatu cairan encer yang disekresi
sebagian oleh epitel siliar dan oleh difusi dari kapiler dalam prosesus siliaris. Humor
akueus mengandung materi yang dapat berdifusi dari plasma darah, tetapi
mengandung kadar protein yang rendah dibandingkan serum. Cairan ini disekresi
secara kontinyu ke dalam COP, mengalir keruang anterior melalui pupil, dan
disalurkan melalui jaringan trabekular ke dalam kanal schlemm.

13

Lensa
Lensa kristalina bentuknya bikonveks, permukaan posterior lebih melengkung
daripada anterior. Di bagian tengah pada kedua permukaannya terdapat kutup anterior
dan kutup posterior. Garis yang menghubungkan keduanya adalah aksis dan batas
kelilingnya adalah ekuator.
Secara struktural, terdapat 3 komponen:
1. Kapsul lensa
Kapsul lensa meliputi lensa. Kapsul ini homogen, agaknya merupakan
membran yang tak berbentuk, bersifat elastik, dan mengandung glikoprotein dan
kolagen tipe IV. Padanya melekat serat zonula, yang berjalan ke badan siliar
sebagai ligamentum suspensorium/penyokong.
2. Endotel subkapsularis
Hanya pada permukaan anterior, di bawah kapsula, terdapat epitel
subkapsular, merupakan satu lapisan sel kuboid. Bagian dasar sel ini terletak di
luar dalam hubungan dengan kapsula. Apeksnya terletak di dalam dan
membentuk kompleks jungsional dengan serat lensa. Ke arah ekuator sel ini
bertambah tinggi dan beralih menjadi serat lensa.
3. Substansia lensa
Terdiri dari serat lensa, yang masing-masing berbentuk prisma heksagonal.
Sebagian besar serat tersusun secara konsentris dan sejajar permukaan lensa. Di
permukaan, pada korteks serat yang lebih muda mengandung inti dan beberapa
organel. Di bagian tengah, dalma ini lensa, serat yang lebih tua telah kehilangan
inti dan tampak homogen.

Lensa sama sekali tanpa pembuluh darah, karenanya mendapat nutrisi dari
humor akueus dan badan vitreus. Lensa bersifat tembus cahaya, dan membran plasma
serat lensanya sangat tidak permeabel.
Lensa dipertahankan pada tempatnya oleh ligamen suspensorium, disebut
zonula yang terdiri dari lembaran terdiri dari materi fibrilar yang berjalan dari badan
siliar ke ekuator lensa, sehingga meliputi lensa.

14

Badan vitreus
Merupakan suatu agar-agar yang jernih dan tembus cahaya yang memenuhi
ruang antara retina dan lensa. Oleh karenanya bentuknya sferoid/bundar dengan
lekukan pada bagian anterior untuk menyesuaikan dengan lensa. Badan vitreus juga
memlihara bentuk dan kekenyalan bola mata.

RETINA
Merupakan lapisan paling dalam bola mata dan terdiri dari bagian anterior yang
tak peka dan bagian posterior yaitu bagian yang fungsional, yang merupakan organ
fotoreseptor atau alat penerima cahaya.
Retina berkembang sebagai penonjolan ke luar otak depan yang disebut vesikel
optik. Vesikel optik mempertahankan hubungannya dengan otak mellaui tangkai
optik. Vesikel optik akan berubah menjadi cangkir optik yang berlapis dua. Lapisan
15

luar membentuk epitel pigmen, dan lapisan dalam menjadi retina saraf atau retina
yang sebenarnya.
Suatu ruang potensial menetap antara kedua lapisan tersebut dan hanya dilalui
oleh penonjolan sel pigmen. Lapisan luar, lapisan pigmen melekat erat pada koroid,
tetapi lapisan dalam mudah terlepas pada proses pembuatan sajian histologi juga
dalam kehidupan sesudah terjadi trauma.
Retina optikal atau neural melapisis koroid mulai dari papila saraf optik di
bagian posterior hingga ora serrata di anterior, dan menunjukkan suatu cekungan yang
dangkal yang disebut fovea sentralis. Sekeliling fovea terdapat suatu daerah yang
dikenal sebagai bintik kuning, atau makula lutea. Fovea merupakan daerah untuk
penglihatan terjelas. Tak terdapat fotoreseptor di atas papila optik, sehingga daerah ini
disebut juga bintik buta.
Lapisan retina terdiri dari:
1. Epitel pigmen
2. Lapisan batang dan kerucut
3. Membran limitans eksterna
4. Lapisan inti luar
5. Lapisan pleksiform luar
6. Lapisan inti dalam
7. Lapisan pleksiform dalam
8. Lapisan sel ganglion
9. Lapisan serat saraf
10. Membran limitans interna

16

1.

2.

3.
4.

Terdapat empat kelompok sel:


Fotoreseptor (batang dan kerucut)
Baik batang maupun kerucut merupakan bentuk modifikasi neuron. Sel
ini menunjukkan segmen dalam dan luar yang terletak di luar membran
limitans eksterna.
Batang merupakan sel khusus yang ramping dengan segmen luar
berbentuk silindris mengandung fotopigmen rhodopsin (ungu visual) dan
suatu segmen dalma yang sedikit lebih panjang.
Kerucut menunjukkan segmen luar yang mengecil dan membesar ke
arah segmen dalam, sehingga berbentuk seperti botol.
Neuron konduksi langsung (sel bipolar dan sel ganglion)
Sel bipolar badan sel bipolar sebagian besar terletak pada bagian
sentral aerah inti dalam. Terbagi dalam suatu kelompok utama:
Bipolar difusa berhubungan dengan beberapa fotoreseptor
Bipolar monosinaptik/kerdil yang berhubungan dengan satu sel.
Sel ganglion terletak dalam retina dalam dengan dendritnya dalam
lapisan pleksiform dalma dan aksonnya membentuk serat saraf optik.
Aksonnta tak pernah bercabang.
Neuron asosiasi dan lainnya (sel horisontal, makrin, dan sel bipolar
sentrifugal)
Unsur penyokong (serat Muller dan neuroglia).
(Roland, buku ajar histologi)

LI 2 Memahami dan Menjelaskan tentang Fisiologi Penglihatan


Mekanisme penglihatan
Cahaya masuk ke bagian mata yg bernama pupil. Ukuran pupil disesuakan
dengan kontraksi dari iris yaitu m.konstriktor pupilae yg menyebabkan pupil
mengecil dan dipengaruhi oleh saraf parasimpatis dan m.dilator pupilae yg
menyebabkan pupil membesar dan dipersarafi oleh simpatis.
Lalu cahaya dibiaskan melalu media refraksi yang terdiri dari kornea dan
lensa, bentuk kornea itu sendiri berbentuk konveks (cembung) berfungsi agar cahaya
dapat di belokkan pada titik focus, setelah melewati kornea cahaya lalu diteruskan
oleh lensa. Yg juga berbentuk konveks sehingga cahaya dapat jatuh pada titik focus
di retina. Lensa sendiri diatur oleh m.ciliaris yg disambungkan oleh zonula zinii. Bila
m.ciliaris berkontraksi maka pupil maka zonula zinii melemas sehingga membuat
lensa semakin cembung dan berfungsi untuk melihat dari jarak dekat (akomodasi).
17

Sebaliknya bila m.ciliaris melemas maka zonula zinii akan menarik lensa sehingga
lensa menjadi semakin pipih dan berfungsi untuk melihat jarak jauh. Semua otot
tersebut masing masing dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis.
Setelah cahaya di refraksikan maka cahaya akan mencapai retina yg terdapat
sel sel fotoreseptor yaitu sel batang dan sel kerucut.
Sifat dari sel sel ini ialah bila sel batang maka sel ini peka terhadap gelap,
kepekaan tinggi dan ketajaman rendah. Bila sel kerucut peka terhadap sinar dan warna
, ketajaman penglihatan tinggi, digunakan pada saat siang hari.
Terjadi beberapa proses pada saat otak mengekspresikan gelap atau terang
yaitu
gelap
konsentrasi GMP-siklik tinggi

Jaras

kosentrasi Na tinggi
depolarisasi membrane
pengeluaran zat inhibitor
neuron bipolar dihambat
tidak adanya eksitasi ke korteks penglihatan di otak
tidak ada ekspresi melihat

penglihatan
Berkas-berkas cahaya dari separuh kiri lapangan pandang jatuh di separuh
kanan retina kedua mata. Demikian sebaliknya, berkas-berkas cahaya dari separuh
kanan lapangan pandang jatuh di separuh kiri retina kedua mata. Tiap-tiap saraf
cahaya/terang
optikus keluar dari retina membawa
informasi dari kedua belahan retina yang
dipersarafi. Informasi ini dipisahkan sewaktu kedua saraf optikus tersebut bertemu di
kiasma optikus. Di dalam kiasma optikus, serat-serat dari separuh medial kedua
fotopigmen
terjadi
disosiasi dari
retinen
dan opsin
retina bersilangan
ke sisi yang
berlawanan,
tetapi
serat-serat
yang dari separuh lateral
tetap di sisi yang sama. Berkas-berkas serat yang telah direorganisasi dan
meninggalkan kiasma optikus dikenal sebagai traktus optikus. Tiap-tiap traktus
kosentrasi Na tinggi
optikus membawa informasi dari separuh lateral salah satu retina dan separuh medial
retina yang lain. Dengan demikian, persilangan parsial ini menyatukan serat-serat dari
kedua mata yang yang membawa
informasi
dari separuh lapangan pandang yang
penurunan
GMP-siklik
sama. Tiap-tiap traktus optikus menyampaikan ke belahan otak di sisi yang sama
informasi mengenai separuh lapangan pandang dari sisi yang berlawanan. Perhentian
pertama di otak untuk informasi
dalam jalur
penglihatan
adalah nukleus genikulatus
penutupan
canal
Na
lateralis di thalamus. Di korpus atau nucleus genikulatum, serat-serat dari bagian
nasal retina dan temporal retina yang lain bersinaps di sel-sel yang axonnya
menutupnya canal Ca

18

pengeluaran zat inhibitorik dihambat

terjadi eksitasi neuron bipolar


perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan di otak
membentuk traktus genikulokalkarina.
adanya ekspresiTraktus
melihatini menuju ke lobus oksipitalis
korteks serebrum (area Brodmann 17).

LI 3 Memahami dan Menjelaskan tentang Konjungtivitis


LO 3.1 Definisi
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan
lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri,
jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia
Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada
konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian
berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis
terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu
cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat
hilang dengan sendiri, tetapi ada juga yang memerlukan pengobatan. (Effendi, 2008).
19

Konjungtivitis biasanya tidak ganas dan bisa sembuh sendiri. Dapat juga menjadi
kronik dan hal ini mengindikasikan perubahan degeneratif atau kerusakan akibat
serangan akut yang berulang. Klien sering datang dengan keluhan mata merah. Pada
konjungtivitis didapatkan hiperemia dan injeksi konjungtiva, sedangkan pada iritasi
konjungtiva hanya injeksi konjungtiva dan biasanya terjadi karena mata lelah, kurang
tidur,asap, debu dan lain-lain.
LO 3.2 Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti
a. infeksi oleh virus atau bakteri
b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.
c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet
dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.
d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa
menyebabkan konjungtivitis.
Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahuntahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:
a. entropion atau ektropion.
b. kelainan saluran air mata.
c. kepekaan terhadap bahan kimia.
d. pemaparan oleh iritan
e. infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia) (Medicastore, 2009).
Frekuensi kemunculannya pada anak meningkat bila si kecil mengalami gejala
alergi lainnya seperti demam. Pencetus alergi konjungtivitis meliputi rumput,
serbuk bunga, hewan dan debu (Effendi, 2008).
Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya
konjungtivitis yaitu bahan kimia (seperti klorin dan sabun) dan polutan udara
(seperti asap dan cairan fumigasi) (Effendi, 2008).
LO 3.3 Epidemiologi
Konjungtivitis adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia dan dapat diderita
oleh seluruh masyarakat tanpa dipengaruhi usia. Walaupun tidak ada dokumen yang
secara rinci menjelaskan tentang prevalensi konjungtivitis, tetapi keadaan ini sudah
ditetapkan sebagai penyakit yang sering terjadi pada masyarakat (Chiang YP, dkk,
1995 dalam Rapuano et al, 2005).
Pada anak, sering terjadi keratokonjungtivitis vernal, sedangkan
keratokonjungtivitis atopik dan alergika sering terjadi pada dewasa muda. Sekitar 13% pengguna kontak lensa terkena konjungtivitis papiler raksasa dan 10% neonatus
mengalami konjungtivitis dengan berbagai penyebab. Konjungtivitis infeksius
mengenai perempuan dan laki-laki dengan insidens yang sama. Namun, konjungtivitis
sicca lebih sering terjadi pada perempuan. Sebaliknya, keratokonjungtivitis vernal dan
konjungtivitis akibat kimia dan mekanik lebih sering terjadi pada pria.
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering
dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang tidak Hygiene.
20

LO 3.4 Klasifikasi
a. Konjungtivitis akut bakterial :
Adalah bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphylococ,
pneumococ, gonococ, haemifillus aegypti, pseudomonas, dan basil morax axenfeld.
1. Konjungtivitis blenore
Merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Dengan
penyebabnya gonococ atau suatu chlamydia. Dengan masa inkubasi 3-6
hari.
2. Konjungtivitis gonore
Penyakit ini pada orang dewasa disebabkan oleh auto infeksi pada
penderita uretriris atau servisitis gonore. Pada orang dewasa terdapat 3
stadium :
1) Infiltratif
2) Purulen
3) Penyembuhan
3. Konjungtivitis difteri
Radang konjungtiva ini disebabkan bakteri difteri yang memberikan
gambaran yang khas berupa terbentuknya membran pada konjungtiva
tarsal. Pengobatan konjungtivitis difteri adalah dengan memberi penisillin
disertai dengan antitoksin difteri.
4. Konjungtivitis folikular
Kelainan ini merupakan konjungtivitis yang disertai dengan
pembentukan folikel pada konjungtiva. Konjungtivitis folikular
merupakan konjungtivitis yang sering ditemukan pada anak-anak, tetapi
tidak ditemukan pada bayi.
Konjungtivitis folikular dapat terjadi akibat infeksi bakteri, virus, dan
rangsangan bahan kimia. Penyakit ini dapat berjalan akut maupun kronis.
5. Konjungtivitis kataral
Merupakan penyakit dengan gejala utama berupa banyaknya secret
berlendir pada mukosa konjungtiva. Pengobatannya adalah dengan
memberikan antibiotik dan membersihkan secret mata.
b. Konjungtivitis akut viral
Konjungtivitis akibat virus sering ditemukan dan biasanya disebabkan
adrenovirus atau suatu infeksi herpes simplek.
1. Keratokonjungtivitis epidemik
Merupakan radang yang berjalan akut disebabkan oleh adrenovirus.
Penularan biasanya terjadi melalui kolam renang selain akibat wabah.
Masa inkubasi 5-10hari. Pengobatan yang biasanya diberikan adalah obat
sulfa topikal dan dapat diberikan bersama dengan steroid.
2. Demam faringokonjungtiva
Konjungtivitis disertai dengan demam dan sakit pada tenggorokan.
Penularan biasanya terjadi di kolam renang. Gejala yang ditemukan
berupa rasa sakit di mata seperti adanya benda asing, terdapatnya folikel
pada konjungtiva disertai keratitis sub epitel yang ringan.
3. Keratokonjungtivitis herpetik
Kelainan ini biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang
disebabkan oleh herpes simplek tipe 1.
4. Konjungtivitis new castle

21

c.
d.

e.
f.

Merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas


disebabkan oleh virus new castle. Masa inkubasi 1-2hari mulai dengan
perasaan benda asing, silau, dan berair pada mata. Kelopak mata
membengkak, konjungtiva tarsal hiperemik dan terdapat folikel, kadangkadang disertai perdarahan kecil.
5. Konjungtivitis hemoragik akut
Kelainan ini merupakan konjungtivitis folikular akut dengan gejala
khusus karena terjadinya perdarahan yang disebabkan oleh enterovirus
70. Masa inkubasi 1-2 hari. Penyakit ini sangat menular dan penularan
melalui secret ke orang lain.
Konjungtivitis jamur
Infeksi jamur pada konjungtiva jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur
yang terjadi tidak memperlihatkan gejala.
Konjungtivitis alergik :
Reaksi alergi dan hipersensitif pada konjungtiva akan memberikan keluhan
pada pasien berupa mata gatal, panas dan mata merah.
1. Konjungtivitis vernal
Merupakan konjungtivitis kronik, rekulerateral, bilateral, atopi yang
memberikan secret mucus dapat mengandung eosinofil dan merupakan
reaksi hipersnsitifitas tipe 1. Biasanya diderita pada pasien usia dewasa
muda, yang lebih sering mengenai laki-laki terutama di musim panas.
2. Konjungtivitis flikten
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi.
Pengobatan yang diberikan kortikosteroid lokal dan mengatasi sumber
infeksi.
Konjungtivitis kronis
Trakoma merupakan konjungtivitis folikuler kronis yang disebabkan oleh
clamydia trachomatis. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak walaupun dapat
mengenai semua umur. Cara penularan trakoma adalah melalui kontak langsung
dengan secret penderita atau melalui handuk, saputangan, atau alat-alat
kebutuhan sehari-hari. Masa inkubasi kuman 5-14 hari.
LO 3.5 Patofisiologi dan Patogenesis

Patofisiologi
Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium :
1. Stadium Infiltratif.
Berlangsung 3 4 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang,
blefarospasme, disertai rasa sakit. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva
yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah. Kelenjar
preauikuler membesar, mungkin disertai demam. Pada orang dewasa selaput
konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar
yang besar. Gambaran ini adalah gambaran spesifik gonore dewasa. Pada umumnya
kelainan ini menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya kelainan ini pada lakilaki didahului pada mata kanannya.

22

2. Stadium Supurativa/Purulenta.
Berlangsung 2 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra masih
bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang dan masih terdapat blefarospasme.
Sekret yang kental campur darah keluar terus-menerus. Pada bayi biasanya mengenai
kedua mata dengan sekret kuning kental, terdapat pseudomembran yang merupakan
kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva. Kalau palpebra dibuka, yang khas
adalah sekret akan keluar dengan mendadak (memancar muncrat), oleh karenanya
harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai mata
pemeriksa.
3. Stadium Konvalesen (penyembuhan). hipertrofi papil
Berlangsung 2 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra sedikit
bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Pada konjungtiva bulbi
injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang. Pada neonatus
infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sehingga pada bayi
penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada orang
dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri. Pada
neonatus, penyakit ini menimbulkan sekret purulen padat dengan masa inkubasi
antara 12 jam hingga 5 hari, disertai perdarahan sub konjungtiva dan konjungtiva
kemotik.
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan
ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya
secret mukopurulent. Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat
kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air
mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada
konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan
meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air
mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan
menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan
kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata
sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing

Patogenesis
Mekanisme pasti atau mekanisme bagaimana terbentuknya flikten masih belum
jelas. Secara histologis fliktenulosa mengandung limfosit, histiosit, dan sel plasma.
Leukosit PMN ditemukan pada lesi nekrotik. Bentuk tersebut kelihatannya adalah
hasil dari reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap protein tuberkulin,
Staphylococcuc aureus, Coccidioides immitis, Chlamydia, acne rosacea, beberapa
jenis parasit interstisial dan fungus Candida albicans. Jarang kasusnya idiopatik
(Alamsyah, 2007).
Keratitis flikten dapat berkembang secara primer dari kornea meskipun
seringkali biasanya menyebar ke kornea dari konjungtiva. Epitel yang ditempati oleh
flikten rusak, membentuk ulkus dangkal yang mungkin hilang tanpa pembentukan
jaringan parut (Alamsyah, 2007).
23

Flikten khas biasanya unilateral pada atau di dekat limbus, pada konjungtiva
bulbar atau kornea, dapat satu atau lebih, bulat, meninggi, abu-abu atau kuning,
hiperemis, terdapat nodul inflamasi dengan dikelilingi zona hiperemik pembuluh
darah. Flikten konjungtiva tidak menimbulkan jaringan parut. Jaringan parut
fibrovaskuler kornea bilateral limbus cenderung membesar ke bawah daripada ke atas
mungkin mengindikasikan flikten sebelumnya. Flikten yang melibatkan kornea sering
rekuren, dan migrasi sentripetal lesi inflamasi mungkin berkembang. Kadangkala,
beberapa inflamasi menimbulkan penipisan kornea dan jarang menimbulkan perforasi
(Alamsyah, 2007).
LO 3.6. Manifestasi Klinis
Gejala Konjungtivitis
1. Rasa adanya benda asing
Rasa ini disertai dengan rasa pedih dan panas karena pembengkakan dan
hipertrofi papil. Jika rasa sakitnya berat, maka harus dicurigai kemungkinan
terjadinya kerusakan pada kornea.
2. Rasa sakit yang temporer
Informasi ini dapat membentu kita menegakkan diagnosis karena rasa sakit
yang datang pada saat-saat tertentu merupakan symptom bagi infeksi bakteri
tertentu, misalnya;
Sakitnya lebih parah saat bangun pagi dan berkurang siang hari, rasa sakitnya
(tingkat keparahan) meningkat setiap harinya, dapat menandakan infeksi
stafilokokus.
Sakit parah sepanjang hari, berkurang saat bangun tidur, menandakan
keratokonjungtiva sisca (mata kering).
3. Gatal
Biasanya menunjukkan adanya konjungtivitis alergi.
4. Fotofobia
Tanda Konjungtivitis
1. Hiperemi
Hiperemi pada konjungtivitis berasal dari rasa superficial, tanda ini
merupakan tanda konjungtivitis yang paling mancolok. Hiperemi yang tampak
merah cerah biasanya menandakan konjungtivitis bakterial sedangkan hiperemi
yang tampak seperti kabut biasanya menandakan konjungtivitis karena alergi.
Kemerahan paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan
dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior.

24

Terdapat perbedaan antara injeksi konjungtiva dan siliaris yaitu;


Injeksi Konjungtiva

Injeksi Siliaris

Kausa

Iritasi, Konjungtivitis

Keratitis, Iridosiklitis, Glaukoma Akut

Lokasi

Forniks ke limbus makin


kecil
Limbus ke forniks makin kecil

Warna

Merah terang

Pembuluh darah

Bergerak dengan dengan


konjungtiva
Tidak bergerak

Adrenalin

Menghilang

Menetap

Sekret

Sekret (+)

Lakrimasi (+)

Intensitas Nyeri

Sedikit

Nyeri

Merah padam

Hiperemis konjungtiva bulbi (Injeksi konjungtiva). Kemerahan paling nyata


didaerah forniks dan berkurang ke arah limbus, disebabkan dilatasi arteri
konjungtiva posterior akibat adanya peradangan. Warna merah terang
mengesankan konjungtivitis bakterial, dan warna keputihan mirip susu
mengesankan konjungtivitis alergi.
Lakrimasi
Diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau gatal.
Kurangnya sekresi airmata yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis
sicca.
2. Eksudasi
Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis
dan amorf pada konjungtivitis bakterial dan dapat pula berserabut seperti pada
konjungtivitis alergika, yang biasanya menyebabkan tahi mata dan saling
melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari, dan jika eksudat berlebihan
agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.
Serous-mukous, kemungkinan disebabkan infeksi virus akut
Mukous (bening, kental), kemungkinan disebabkan alergi
Purulent/ Mukopurulen, kemungkinan disebabkan infeksi bakteri
3. Pseudoptosis
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke
muskulus muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis
berat. Misalnya Trachoma dan keratokonjungtivitis epidemika.4
4. Khemosis (Edema Konjungtiva)
25

Ini terjadi akibat terkumpulnya eksudat di jaringan yang longgar. Khemosis


merupakan tanda yang khas pada hay fever konjungtivitis, akut gonococcal atau
meningococcal konjungtivitis, serta kerato konjungtivitis.
5. Hipertrofi Papil
Hipetropi papil merupakan reaksi non spesifik, terjadi karena konjungtiva
terikat pada tarsus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus. Ketika
berkas pembuluh yang membentuk substansi papila sampai di membran basal
epitel, pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila mirip jeruji payung.4
6. Pembentukan Folikel
Folikel adalah bangunan akibat hipertrofi lomfoid lokal di dalam lapisan
adenoid konjungtiva dan biasanya mengandung sentrum germinotivum.
Kebanyakan terjadi pada viral conjungtivitis, chlamidial conjungtivitis, serta toxic
conjungtivitis karena topical medication. Pada pemeriksaan, vasa fecil bisa terlihat
membatasi foliker dan melingkarinya.
7. Pseudomembran dan Membran
Pseudomembran adalah koagulum yang melapisi permukaan epitel
konjungtiva yang bila lepas, epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran
adalah koagulum yang meluas mengenai epitel sehingga kalau dilepas akan
berdarah.

8. Adenopati Preaurikuler
Beberapa jenis konjungtivitis akan disertai adenopoti preaurikular. Dengan
demikian setiap ada radang konjungtiva harus diperiksa adalah pembebasan dan
rasa sakit tekan kelenjar limfe preaurikuler.
LO 3.7 Diagnosis & Diagnosis Banding
1. Sign & Simptom
Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau
panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Sensasi benda asing dan
tergores atau terbakar sering berhubungan dengan edema dan hipertrofi papiler yang
biasanya menyertai hiperemi konjungtiva. Sakit pada iris atau corpus siliaris
mengesankan terkenanya kornea.
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi,
pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel
(hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan
adenopati pre-aurikuler

Gejala Subjektif
26

Konjungtivitis biasanya hanya menyebabkan iritasi dengan rasa sakit dengan mata
merah dan lakrimasi. Khasnya pada konjungtivitis flikten apabila kornea ikut terlibat
akan terdapat fotofobia dan gangguan penglihatan. Keluhan lain dapat berupa rasa
berpasir. Konjungtivitis flikten biasanya dicetuskan oleh blefaritis akut dan
konjungtivitis bekterial akut.
b. Gejala Objektif
Dengan Slit Lamp tampak sebagai tonjolan bulat ukuran 1-3 mm, berwarna kuning
atau kelabu, jumlahnya satu atau lebih yang di sekelilingnya terdapat pelebaran
pembuluh darah konjungtiva (hyperemia). Bisa unilateral atau mengenai kedua mata.
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan eksternal
dan slit-lamp biomikroskopi.Pemeriksaan eksternal harus mencakup elemen berikut
ini:
Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna,
malposisi, kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis, perubahan
sikatrikal, simblepharon, massa, sekret
Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati terhadap:
Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, nodul atau
vesikel, sisa kulit berwarna darah, keratinisasi
Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu dan kutu
Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, sekret
Konjungtiva tarsal dan forniks
1.
Adanya papila, folikel dan ukurannya
2.
Perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon
3.
Membran dan psudomembran
4.
Ulserasi
5.
Perdarahan
6.
Benda asing
7.
Massa
8.
Kelemahan palpebra
Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan,
papila, ulserasi, luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi
Kornea
1.
Defek epitelial
2.
Keratopati punctata dan keratitis dendritik
3.
Filamen
4.
Ulserasi
5.
Infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten
27

6.
Vaskularisasi
7.
Keratik presipitat
Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea

3. Pemeriksaan Penunjang
Kebanyakan kasus konjungtivitis dapat didiagnosa berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus penambahan tes diagnostik
membantu.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut
dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel
radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan
dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan klinik didapat
adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
1. Kultur
Kultur konjungtiva diindikasikan pada semua kasus yang dicurigai merupakan
konjungtivitis infeksi neonatal. Kultur bakteri juga dapat membantu untuk
konjungtivitis purulen berat atau berulang pada semua grup usia dan pada kasus
dimana konjungtivitis tidak berespon terhadap pengobatan.
2. Kultur virus
Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes
imunodiagnostik yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen
sudah tersedia untuk konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas
88% sampai 89% dan spesifikasi 91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik mungkin
tersedia untuk virus lain, tapi tidak diakui untuk spesimen dari okuler. PCR dapat
digunakan untuk mendeteksi DNA virus. Ketersediannya akan beragam
tergantung dari kebijakan laboratorium.
3. Tes diagnostik klamidial
Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat
dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan
imunologikal telah tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan
enzyme-linked imunosorbent assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR
untuk spesimen genital, dan, karena itu, ketersediaannya untuk spesimen
konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk mengetes sampel okuler
beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan performa yang
memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.
4. Smear/sitologi
Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (mis.,gram, giemsa)
direkomendasikan pada kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus,
konjungtivitis kronik atau berulang, dan pada kasus dicurigai konjungtivitis
gonoccocal pada semua grup usia.
5. Biopsi
Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak
berespon pada terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung
keganasan, biopsi langsung dapat menyelamatkan penglihatan dan juga
28

menyelamatkan hidup. Biopsi konjungtival dan tes diagnostik pewarnaan


imunofloresens dapat membantu menetapkan diagnosis dari penyakit seperti
OMMP dan paraneoplastik sindrom. Biopsi dari konjungtiva bulbar harus
dilakukan dan sampel harus diambil dari area yang tidak terkena yang berdekatan
dengan limbus dari mata dengan peradangan aktif saat dicurigai sebagai OMMP.
Pada kasus dicurigai karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh
ketebalan diindikasikan. Saat merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan
ahli patologi dianjurkan untuk meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen
yang tepat.

6. Tes darah
Tes fungsi tiroid diindikasikan untuk pasien dengan SLK yang tidak mengetahui
menderita penyakit tiroid.
Konjungtivitis non-infeksius biasanya dapat didiagnosa berdasarkan riwayat
pasien. Paparan bahan kimiawi langsung terhadapa mata dapat mengindikasikan
konjungtivitis toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan bahan
kimia, pH okuler harus dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai
7. Konjungtivitis juga dapat disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi
mekanikal dari kelopak mata.3
4. Diagnosis Banding

Gatal
Mata merah
Hemoragi
Sekret

Kemosis
Lakrimasi
Folikel
Papil
Pseudomembra
n
Pembesaran
kelenjar limfe
Panus
Bersamaan
dengan keratiti
s
Demam

Virus
+
+
Serous
mucous

Alergi
++
+
Viscus

Toksik
+
-

++
+

Bakteri
++
+
Purulen,
kuning,
krusta
++
+
+

++
+
+
+
-

++

29

Sitologi

Granulosit

Limposit,
monosit

Eosinofil

Sel epitel,
granulosit

Keratitis

Uveitis Anterior Glaukoma Kongestif Akut

Visus

Normal

Menurun
Tergantung letak perlahan,
Menurun
infiltrat
tergantung letak mendadak
radang

Hiperemi

konjungtiva

perikornea

siliar

Mix injeksi

Epifora,
fotofobia

Sekret

Banyak

Palpebra

Normal

Normal

normal

Edema

Konjungtivitis

Kornea

Jernih

COA

Cukup

H. Aquous

Normal

Edema,
Gumpalan sel suram (tidak
Bercak infiltrat
radang
bening), halo
(+)
cukup

Sel radang (+)

dangkal

normal

Sel radang (+),


flare (+), tyndal
efek (+)

Kental

Kripta
Kadang edema
menghilang
(bombans)
karena edema

Iris

Normal

normal

Pupil

Normal

normal

miosis

Lensa

Normal

normal

Sel radang
menempel

Mid midriasis
(d:5mm)

Keruh
30

LO 3.8 Tatalaksana
A. Non Farmakologi
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana
cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat
memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan
kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang
mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang
terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh
personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.
B. Farmakologi
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologinya.
Untuk menghilangkan sekret dapat dibilas dengan garam fisiologis.
1. Penatalaksanaan Konjungtivitis Bakteri
Pengobatan kadang-kadang diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik
dengan antibiotic tunggal seperti

Kloramfenikol

Gentamisin

Tobramisin

Eritromisin

Sulfa

Bila pengobatan tidak memberikan hasil setelah 3 5 hari maka pengobatan


dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Pada konjungtivitis bakteri
sebaiknya dimintakan pemeriksaan sediaan langsung (pewarnaan Gram atau Giemsa)
untuk mengetahui penyebabnya. Bila ditemukan kumannya maka pengobatan
disesuaikan. Apabila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan
antibiotic spectrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4-5x/hari.
Apabila memakai tetes mata, sebaiknya sebelum tidur diberi salep mata (sulfasetamid
10-15 %). Apabila tidak sembuh dalam 1 minggu, bila mungkin dilakukan
pemeriksaan resistensi, kemungkinan difisiensi air mata atau kemungkinan obstruksi
duktus nasolakrimal.
2. Penatalaksanaan Konjungtivitis Virus

31

Pengobatan umumnya hanya bersifat simtomatik dan antibiotik diberikan


untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu akan sembuh dengan
sendirinya. Hindari pemakaian steroid topikal kecuali bila radang sangat hebat dan
kemungkinan infeksi virus Herpes simpleks telah dieliminasi.
Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus dan dapat sedmbuh
sendiri sehingga pengobatan hanya bersifat suportif, berupa kompres, astrigen, dan
lubrikasi. Pada kasus yang berat diberikan antibodi untuk mencegah infeksi sekunder
serta steroid topikal. Konjungtivitis herpetik diobati dengan obat antivirus, asiklovir
400 mg/hari selama 5 hari. Steroid tetes deksametason 0,1 % diberikan bila terdapat
episkleritis, skleritis, dan iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat mengakibatkan
penyebaran sistemik. Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa sakit.
Pada permukaan dapat diberikan salep tetrasiklin. Jika terjadi ulkus kornea perlu
dilakukan debridemen dengan cara mengoles salep pada ulkus dengan swab kapas
kering, tetesi obat antivirus, dan ditutup selama 24jam.

3. Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi


Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan seperti
ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan menjadi tingkat
sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya mempunyai konjungtiva yang
bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang ringan dengan sedikit sekret mukoid.
Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila pada konjungtiva palpebranya, folikel
limbal, dan perisai (steril) ulkus kornea.

Alergi ringan
Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata merah yang
timbul musiman dan berespon terhadap tindakan suportif, termasuk air mata
artifisial dan kompres dingin. Air mata artifisial membantu melarutkan beragam
alergen dan mediator peradangan yang mungkin ada pada permukaan okuler.

Alergi sedang
Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata merah
yang timbul musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal dan/atau mast
cell stabilizer. Penggunaan antihistamin oral jangka pendek mungkin juga
dibutuhkan.
Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling sering
dipakai termasuk sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin topikal
mempunyai masa kerja cepat yang meredakan rasa gatal dan kemerahan dan
mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam bentuk kombinasi dengan mast
cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai masa kerja lebih lama, dapat
digunakan bersama, atau lebih baik dari, antihistamin topikal. Vasokonstriktor
tersedia dalam kombinasi dengan topikal antihistamin, yang menyediakan
tambahan pelega jangka pendek terhadap injeksi pembuluh darah, tapi dapat
menyebabkan rebound injeksi dan inflamasi konjungtiva. Topikal NSAID juga
digunakan pada konjungtivitis sedang-berat jika diperlukan tambahan efek antiperadangan.

Alergi berat
32

Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun dan


dihubungkan dengan peradangan yang lebih hebat dari penyakit sedang.
Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang agresif yang tampak
sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis harus dipertimbangkan pada kasus
berat atau penyakit alergi yang resisten, dimana memerlukan tambahan terapi
dengan kortikosteroid topikal, yang dapat digunakan bersama dengan antihistamin
topikal atau oral dan mast cell stabilizer. Topikal NSAID dapat ditambahkan jika
memerlukan efek anti-inflamasi yang lebih lanjut. Kortikosteroid punya beberapa
resiko jangka panjang terhadap mata termasuk penyembuhan luka yang terlambat,
infeksi sekunder, peningkatan tekanan intraokuler, dan pembentukan katarak.
Kortikosteroid yang lebih baru seperti loteprednol mempunyai efek samping lebih
sedikit dari prednisolon. Siklosporin topikal dapat melegakan dengan efek
tambahan steroid dan dapat dipertimbangkan sebagai lini kedua dari kortikosteroid.
Dapat terutama sekali berguna sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi berat atau
konjungtivitis vernal.

LO 3.9 Komplikasi
Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan
kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa
komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya:
1.
glaukoma
2.
katarak
3.
ablasi retina
4.
komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari
blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
5.
komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea
6.
komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah
bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat
mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi buta
7.
komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu penglihatan
LO 3.10 Prognosis
Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer
sedang yang lain bersifat sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain,
kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal dan dapat dikontrol
sehingga penglihatan dapat dipertahankan.
Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika
bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan

33

pada mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak


maupun ablasi retina.

LO 3.11 Pencegahan
a. Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan
atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.
b. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata
yang sakit
c. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama dengan penghuni rumah lain
d. Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik
pembuatnya.
e. Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari.
f. Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain.
g. Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan
tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.
h. Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue atau
sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.
Makanan yang disarankan untuk penderita konjungtivitis adalah makanan tinggi
protein dan tinggi kalori, berguna untuk mempercepat proses penyembuhan dan
dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A yang berguna
untuk memperbaiki sensori penglihatan dan juga vitamin C untuk memperbaiki sistem
pertahanan tubuh.
Kompres mata dengan air hangat jika disebabkan oleh bakteri atau virus, jika
disebabkan oleh alergi, kompres dengan air dingin.
LI 4 Memahami dan Menjelaskan tentang Memelihara Mata Menurut Ajaran
Islam

34

Fungsi mata: melihat dan penyempurnaan indera pendengaran


Tujuan : petunujk dalam kegelapan, melihat ayat-ayat Allah
Hukum Taklifi :
a. Wajib:melihat mushaf al quran,buku-buku yang bermanfaat, membedakan
yang halal dan yang haram.
b. Haram
:memandang wanita dengan syahwat
c. Sunnah
:melihat muka dan telapak tangan calon istri yang diduga kuat
lamarnya akan diterima, membaca buku-buku yang bermanfaat, melihat
ulama dan orang tua untuk menghormati.
d. Makruh
:melihat secara berlebihan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
e. Mubah
:mendadak tanpa sengaja melihat lawan jenis, pasangan suamiistri melihat tubuh pasanganya, melihat sesama jenis (aurat)
Terapi :penyadaran diri bahwa Allah senantiasa melihat, berdoa dan meminta
pertolongan Allah, berwudhu, memperbaharui taubat.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Grays Anatomy for Students. Philadelphia:
Elsevier Churchill Livingstone; 2005
2. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008
3. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC;
2007
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009
5. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology a Systematic Approach. 7 th
edition. Philadelphia: Elsevier; 2011
6. Univrab. Menjaga Pandangan. [Internet]. [diunduh 2014 Feb 15]. Tersedia pada :
http://www.univrab.ac.id/berita-198-menjaga-pandangan.html
7. USU. Chapter II. [Internet]. [diunduh 2014 Feb 15]. Tersedia pada :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31458/4/Chapter%20II.pdf
36

8. USU. Chapter II. [Internet]. [diunduh 2014 Feb 15]. Tersedia pada :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32585/4/Chapter%20II.pdf
9. Vaughan and Asburys. General Ophthalmology. 17th edition. New York: McGrawHills; 2007

37