Anda di halaman 1dari 129

KARYA TULIS ILMIAH

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

MARDILAH
10.0183

AKADEMI KEBIDANAN PERSADA


PALEMBANG
2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Ahli Madya (AM. Keb) Pada Akademi Kebidanan Persada Palembang

MARDILAH
10.0183

AKADEMI KEBIDANAN PERSADA


PALEMBANG
2013

HALAMAN PENGESAHAN

TELAH DIUJI DAN LULUS PADA


HARI/ TANGGAL

: SABTU, 02 MARET 2013

JUDUL PROPOSAL : FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN
PLASENTA
PREVIA
DI
RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2012
PENYUSUN

: MARDILAH

NIM

: 10.0183

1. Pembimbing I

: Arlina Ismaryani, SST

( ......)

2. Pembimbing II

: Intan Kumalasari, SST

( ..)

3. Penguji

: Dra. Hj. Radiostuti, MM

(..................)

Mengetahui,
Direktur
Akademi kebidanan Persada Palembang

Elvina Indah Syafriani, SST


NIDN. 02.1811.8701

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas
Nama Lengkap

: Mardilah

NIM

:100183

Tempat / tanggal lahir

: Tanjung bulan, 28 mei 1992

Agama

: Islam

Alamat

: Desa Tanjung Bulan Kabupaten OI

Telepon / Hp

Status

: Belum Menikah

Nama ayah

: H. Dumyati. D

Nama Ibu

: Hj. Siti Zubaidah. Z

B. Riwayat Pendidikan
a. SDN Tanjung Bulan

: Lulusan Tahun 2004

b. PON- PES AL - ITTIFAQIAH : Lulusan Tahun 2007


c. MAN SAKATIGA

: Lulusan Tahun 2010

Akbid Persada Palembang.

: Sedang Mengikuti Ujian Akhir Program

Moto dan Persembahan


Motto
1. Diam bukan berarti takut, tapi diam lebih mulia dari
pada membicarakan keburukan orang lain.
2. Jadilah seperti karang di lautan yang kuat dihantam
ombak dan kerjakan hal yang bermanfaat untuk diri
sendiri dan orang lain, karena hidup hanyalah sekali.
Ingat hanya Allah apapun dan dimanapun kita berada
kepada dia-lah tempat meminta dan memohon.
Kupersembahkan Untuk
Allah SWT
yang telah memberikan rahmat
dan
karunia-Nya serta Nabi Besar Nabi Muhammad SAW
sebagi suri tauladan kita,sehingga saya dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan keadaan
sehat walafiat.
Kedua orang tua saya (H. Dumyati dan Hj. Siti
zubaidah) yang telah banyak memberikan doa setiap
langkahku dengan tulus dan ikhlas, semangat,
dukungan, baik secara moril dan materil, saudarasaudaraku (Arsyadi, Sadimah, Rohimin, Solihin dan
wahyudi) yang telah memberikan support dan
dukungan serta kebahagiaan. Seluruh keluarga besar
orang tuaku, yang telah memberikan doa, semangat,
saran, dukungan yang tiada henti-hentinya kepada
saya.
Ibu arlina Ismaryarni, SST selaku Pembimbing I dan Ibu
Intan Kumala Sari, SST selaku pembimbing II yang
telah membimbing selama pembuatan karya tulis
ilmiah ini.

Sahabatku (Australia Room = Yuliana, Lus Anggraini,


Dwi maritha Pratiwi, Lili karlina, Deby ariska, Lolla
Laurenciah, Emmy Arsy, Robiatul Awalia, Gita Merisa
Rinanti, Eli Herawati, Eva Jadidah dan Apriza dwi
Wahyuni.
Sameone yang telah membantu dan telah memberikan
support dari sebelum dan setelah selesai pembuatan
karya tulis ilmiah ini.
Teman- teman yang telah banyak membantu saat
pembuatan KTI ini, teman satu bimbingan (Yuliana,
Emmy Arsy, Lolla Laurenciah, Gita Merisa Rinanti

dan Reni Fatkhul) dan adik (Dewi, yuni, dan


eka) yang telah membantu.

Dan seluruh adik tingkat yang ada di Akademi


Kebidanan Persada Palembang tetaplah
menjaga
nama baik almamater dimanapun kalian berada .

ABSTRAK

Mardilah, 2013,

Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Plasenta


Previa di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013, KTI, Jurusan
Kebidanan Persada Palembang
Pembimbing
: (1) Arlina Ismaryani, SST (2) Intan Kumalasari, SST
Kata kunci
: Kejadian Plasenta Previa, Umur Ibu, Riwayat Abortus, Jarak
Kehamilan
Berdasarkan data yang didapat dari medicak Record tentang kejadian
plasenta previa di Instalasi rawat Inap Kebidanan RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang tahun 2010, sebanyak 79 orang dari 2980 (2,6%), tahun 2011 sebanyak
187 orang dari 2942 (6,3%) dan tahun 2012 sebanyak 84 orang dari 1320 (2,7%)
Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
Metode yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatn cross
sectional, sampel penelitian ini diambil dengan teknik total sampling yang berjumlah
196 orang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang megalami
perdarahan antepartum di Instalasi Rawat Inap Kebidanan Palembang tahun 2012.
Berdasarkan hasil analitik univariat dari 196 responden didapat 84 orang
(42,9%) yang mengalami plasenta previa, responden dengan umur resiko tinggi
sebanyak 117 (59,7%), responden dengan riwayat abortus sebanyak 141 (71,9%),
dan responden dengan jarak kehamilan sebanyak 125 (63,8%), sedangkan hasil dari
analisa bivariat antara umur resiko tinggi dengan kejadian plasenta previa sebanyak
60 orang (51,3%), didapat p value 0,006 0,05, responden yang mengalami
riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa sebanyak 53 orang (37,6%),
didapat p value 0,026 0,05, dan responden yang mengalami jarak kehamilan
dengan kejadian plasenta previa sebanyak 45 orang (36,0%), didapatkan p value
0,015 0,05. Hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara umur
ibu,riwayat abortus, dan jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa.
Diharapkan kepada pihak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang,
khususnya petugas poli dan ruangan perawatan kebidanan diharapkan dapat

meningkatkan penyuluhan kepada remaja, PUS (pasangan usia subur) dan ibu hamil
terutama resiko plasenta previa, dengan mengembang program KIE (Komunikasi,
Informasi, Edukasi)dan Konseling mengenai penangan secara dini komplikasi yang
mungkin terjadi sehingga angka kesakitan dan kematian akibat plasenta previa lebih
menurun.

ABSTRACT

Mardilah, 2013,

Supervisor
Keywords

Factors Factors Associated With Placenta Previa in Genesis


General Hospital Center (Dr) Dr. Mohammad Hoesin
Palembang in 2012, KTI, Department of Obstetrics Persada
Palembang.
: (1) Arlina Ismaryani, SST (2) Intan Kumalasari, SST
: Placenta Previa Genesis, Age Mom, Abortion History, Distance
Pregnancy

Based on the data obtained from the medical records of the events medicak
placenta previa in Inpatient Obstetric care Installations RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang in 2010, as many as 79 out of 2980 (2.6%), in 2011 as many as 187
people out of 2942 (6.3%) and in 2012 as many as 84 people out of 1320 (2.7%).
The purpose of research to determine the factors associated with the incidence
of placenta previa in the department of Dr. Mohammad Hoesin Palembang in 2012.
The method used is an analytical survey by pendekatn cross sectional sample
was taken with a sampling technique, amounting to a total of 196 people. The
population in this study were all mothers megalami antepartum bleeding in Inpatient
Obstetric Installation Palembang in 2012.
Based on the analytical results of the univariate obtained from 196 respondents
84 people (42.9%) who had placenta previa, respondents with a high risk age were
117 (59.7%), respondents with a history of abortion as much as 141 (71.9%), and
respondents a distance of 125 pregnancies (63.8%), while the results of the bivariate
analysis between age at high risk of placenta previa with the incident of 60 people
(51.3%), obtained p value 0.006 0.05, respondents who experienced miscarriage
the incidence of placenta previa by 53 people (37.6%), obtained p value 0.026
0.05, and respondents who experienced pregnancy spacing incidence of placenta
previa with as many as 45 people (36.0%), obtained p value 0.015 0.05. This
shows there is a significant relationship between maternal age, history of abortion,
and pregnancy spacing incidence of placenta previa.
Expected to any department of Dr. Mohammad Hoesin Palembang, especially
poly and room attendant obstetric care is expected to increase outreach to youth, EFA

(couples of childbearing age) and pregnant women are particularly risk of placenta
previa, the program expands KIE (Communication, Information, Education) and
counseling regarding the handling of early complications that may occur so that the
morbidity and mortality due to placenta previa much reduced.
Bibliography : 14 (2005 2013)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, dengan diberikan kekuatan
dan keyakinan sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul
Hubungan Umur dan Paritas Dengan Kejadian Retensio Plasenta Pada Ibu
Bersalin Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2012 sebagai syarat untuk untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan
di Akademi kebidanan persada palembang.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan
bantuan, bimbingan dan saran dari pembimbing, sehingga tidaklah berlebihan dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Vera Agustina,
SST selaku pembimbing I, dan Ibu Sari Wahyuni, SST selaku pembimbing II, yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam
penelitian ini.
Selanjutnya penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Fanda F. Binu, ST, MBA, selaku ketua Yayasan Persada Palembang.

2. Elvina Indah Syafriani, SST, selaku Direktur Akademi Kebidanan Persada


Palembang.
3. Dr. H. Yanuar Hamid, Sp.PD. MARS, selaku pimpinan Rumah Sakit Umum Pusat
Dr. Mohammad Hoesin Palembang beserta staf yang telah membantu dalam
pengambilan data untuk penelitian.
4. Seluruh dosen staf Akademi Kebidanan Persada Palembang, terima kasih atas
ilmu yang telah diberikan.
5. Orang tuaku tercinta yang telah banyak membantu dengan doa yang tulus dan
telah memberikan dukungan baik moril maupun materil.
6. Teman-teman seperjuangan, seluruh adek tingkat dan semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini, sejak pemilihan judul hingga
selesainya karya tulis ilmiah ini, penulis masih merasa banyak kekurangan, sehingga
dibutuhkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, dengan harapan di
kemudian hari penulis dapat lebih menyempurnakan karya tulis ilmiah lainnya.
Akhirnya mudah-mudahan karya tulis ilmiah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Palembang,

Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...........................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................
RIWAYAT HIDUP ..............................................................................
MOTTO DAN PERSEMBAHAN......................................................
ABSTRAK...........................................................................................
ABSTRACT..........................................................................................
KATA PENGANTAR..........................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................
DAFTAR GAMBAR...........................................................................
DAFTAR BAGAN...............................................................................
DAFTAR TABEL................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................

ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
x
xii
xiii
xiv
xv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ................................................................
1.2 Rumusan masalah............................................................
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................
1.3.1 Tujuan Umum.......................................................
1.3.2 Tujuan khusus.......................................................
1.4 Manfaat Penelitian..........................................................
1.4.1Manfaat Teoritis.....................................................
1.4.2 Manfaat Praktis....................................................
1.5 Kerangka Konsep.............................................................
1.6 Hipotesis..........................................................................
1.7 Lokasi dan waktu penelitian............................................

1
3
3
3
4
4
4
5
5
6
7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Dasar Persalinan..................................................
2.1.1 Definisi Persalinan..................................................
2.1.2 tahapan Persalinan..................................................
2.1.3 Tanda-tanda persalinan .........................................

8
8
9
9

2.1.4 Bentuk Persalinan ..................................................


2.1.5 Tujuan Asuhan Persalinan.......................................
2.2 Konsep Dasar Plasenta Previa........................................
2.2.1 Definisi Plasenta Previa.........................................
2.2.2 Etologi Plasenta Previa..........................................
2.2.3 Tanda & Gejala Plasenta Previa.............................
2.2.4 Klasifikasi Plasenta Previa.....................................
2.2.5 Patofisiologi............................................................
2.2.6 Diagnosis Plasenta Previa......................................
2.2.7 komplikasi Plasenta Previa....................................
2.2.8 Penatalaksanaan Plasenta Previa............................
2.3 Faktor-faktor yang berhubungan dengan Plasenta Previa
2.3.1 Umur.......................................................................
2.3.2 Riwayat Abortus......................................................
2.3.3 Jarak kehamilan......................................................
2.3.4 Paritas Ibu...............................................................
2.3.5 Riwayat seksio Sesarea...........................................

10
11
12
12
12
13
16
18
19
21
23
30
30
31
31
33
33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Rancangan penelitian......................................................
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian......................................
3.3 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data......................
3.4 Teknik Pengelolahan dan analisa Data............................
3.5 Definisi operasional........................................................

35
35
36
36
39

BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian...............................................................
4.1.1 Sejarah perkembangan............................................
4.1.2 Identitas Rumah sakit.............................................
4.1.3 Visi, Misi, Motto dan tujuan Perusahaan................
4.1.4 Sarana dan Prasarana.............................................
4.1.5 Struktur Organisasi dan Tata Kerja.........................
4.1.6 Analisa Data............................................................
4.2 Pembahasan.....................................................................
4.2.1 Analisa Univariat....................................................
4.2.2 Analisa Bivariat......................................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan.....................................................................
5.2 Saran................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

41
41
42
43
44
45
47
54
55
59
65
66

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.1 Kerangka Konsep .......................................................................

2.2 Pembagian Plasenta Previa menurut tingkatnya.........................

17

DAFTAR BAGAN

Bagan
2.1 Penatalaksanaan Plasenta Previa................................................

Halaman
29

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

4.1 Susunan Pengawas RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang


tahun 2012....................................................................................

45

4.2 Susunan Direksi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang


tahun 2012....................................................................................

46

4.3 Sumber Daya Manusia RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang


Tahun 2012....................................................................................

46

4.4 Distribusi Frekuensi pada Kejadian Plasenta Previa di RSUP Dr.


Mohammad Hoesin Palembnag tahun 2012.................................

47

4.5 Distribusi Frekuensi Umur Ibu pada Kejadian Plasenta Previa


di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012...........

47

4.6 Distribusi Frekuensi Riwayat Aborrtus pada Kejadian Plasenta


Previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

48

4.7 Distribusi Frekuensi Jarak Kehamilan pada Kejadian Plasenta


Previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang taun 2012. .

49

4.8 Hubungan antara Umur ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa


di RSUP Dr. Mohammad hoesin Palembang tahun 2012.............

51

4.9 Hubungan antara Riwayat Abortus Dengan Kejadian Plasenta Previa


di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012............
52
4.10 Hubungan antara Jarak Kehamilan Dengan Kejadian Plasenta Previa
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012............
53

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Lembar Check List
2. Lembar Tabulasi
3. Hasil Uji Statistik Analisa Univariat
4. Hasil Uji Statistik Analisa Bivariat
5. Lembar Pengajuan Judul KTI pembimbing I
6. Lembar Pengajuan Judul KTI pembimbing II
7. Lembar Konsultasi Pembimbing I
8. Lembar Konsultasi Pembimbing II
9. Surat Izin Pengambilan Data Akademi Kebidanan Persada Palembang
10. Surat Izin Penelitian di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
11. Surat Selesai Penelitian di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO) bahwa Angka Kematian Ibu

(AKI) di dunia adalah 500.000 persalinan hidup, sedangkan jumlah kematian


perinatal sekitar 10.000.000 orang. Seandainya seorang ibu hanya mempunyai 3
orang anak saja maka Angka Kematian Ibu (AKI) dapat diturunkan menjadi
300.000 orang, sedangkan Angka Kematian Perinatal (AKP) menjadi 5.600.000
orang dalam persalinan hidup (Manuaba, 2010).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010, angka kematian ibu
masih berada pada angka 226/100.000 kelahiran hidup, jika dibandingkan dengan
angka kematian ibu tahun 2007 sebesar 248/100.000 kelahiran hidup, angka
kematian ibu tersebut sudah mengalami penurunan tetapi masih belum mencapai
target nasional. Dimana target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu
Angka Kematian Ibu (AKI) pada Tahun 2015 sebesar 102/100.000 kelahiran hidup
(Sherly, 2010).
Berdasarkan Data Dari Dinas Kesehatan kota Palembang tahun 2010 Angka
Kematian Ibu (AKI) Kota Palembang sebesar 54 per 100.000 kelahiran hidup,

15 kematian ibu dari 29.486 kelahiran hidup, dari 15 kematian ibu disebabkan oleh
perdarahan antepartum berjumlah 2 orang (13%), seksio sesarea 1 orang (7%),
preeklampsia dan eklampsia sebanyak 5 orang (32%), akibat perdarahan post
partum1 orang (1%), hipertensi 1 orang (7%), dan penyebab lain sebanyak 4 orang
(27%) (Profil Dinkes Kota Palembang, 2007).
Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu, dimana perdarahan terbagi dua
yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum
merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua
persalinan. Perdarahan antepartum yang berbahaya bersumber pada kelainan
plasenta yaitu plasenta previa dan solusio plasenta, sedangkan perdarahan yang
tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya
tidak seberapa berbahaya. Oleh karena itu, klasifikasi klinis perdarahan
antepartum dibagi sebagai berikut: (1) plasenta previa, (2) solusio plasenta, dan
(3) perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya (Prawirohardjo, 2009).
Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar segmen bawah rahim,
sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Adapun faktorfaktor yang meningkatkan Plasenta Previa adalah umur, paritas, riwayat seksio
sesarea, riwayat abortus, jarak kehamilan yang terlalu pendek (<2 tahun)
(Manuaba, 2010).
Menurut laporan rumah sakit Pemerintah insidensi plasenta previa berkisar 1,7%
sampai dengan 2,9%. Di negara maju insidennya lebih rendah yaitu 1% mungkin
disebabkan berkurangnya perempuan hamil dengan paritas tinggi. Dengan

meluasnya penggunaan ultrasonografi dalam obstetri yang memungkinkan deteksi


dini, insiden plasenta previa bisa lebih tinggi (Prawirohardjo, 2008).
Berdasarkan data dari medical record tentang kejadian plasenta previa di
Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, pada
tahun 2010 sebanyak 79 orang dari 2980 ibu bersalin (2,6%), tahun 2011 sebanyak
187 orang dari 2942 ibu bersalin (6,3%), dan tahun 2012 sebanyak 84 orang dari
3120 ibu bersalin (2,7%). Meskipun, pada tahun terakhir kejadian plasenta previa
cenderung mengalami penurunan, namun demikian,

pendarahan antepartum

dengan kejadian plasenta previa adalah salah-satu penyebab kematian ibu bersalin,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Faktor-Faktor
yang Berhubungan pada Ibu Bersalin dengan Kejadian Plasenta Previa di
RSUP

1.2

Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.

Rumusan Masalah
Faktor-Faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian Plasenta Previa

di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012?

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui faktor-faktor yang Berhubungan dengan
plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.

kejadian

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian plasenta previa di RSUP Dr.


Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi umur dengan kejadian plasenta previa
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi riwayat Abortus dengan kejadian
plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
4. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jarak kehamilan dengan kejadian
plasenta Previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
5. Untuk mengetahui hubungan antara umur dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
6. Untuk mengetahui hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta
previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
7. Untuk mengetahui hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian
plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1

Manfaat Teoritis

1. Dari segi pengembangan ilmu, hasil ini diharapkan dapat dijadikan bahan
masukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan untuk kemajuan profesi
kebidanan dalam bidang pengetahuan dan teknologi.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu kebidanan tentang


faktor-faktor yang berhubungan pada ibu bersalin dengan kejadian plasenta
previa.
1.4.2

Manfaat Praktis

1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan


pertimbangan bagi instalasi dalam upaya meningkatkan keberhasilan program
pelaksanaan dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang disebabkan
oleh kejadian plasenta previa.
2. Dapat digunakan sebagai data dasar, acuan atau informasi untuk penelitian
selanjutnya.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada rekan
sejawat tentang faktor-faktor yang berhubungan pada Ibu bersalin dengan
kejadian plasenta previa

1.5

Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep


yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan
(Notoatmodjo, 2005).
Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar segmen bawah rahim,
sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Adapun faktorfaktor yang meningkatkan Plasennta Previa adalah umur, paritas, riwayat seksio
sesarea, riwayat abortus, jarak kehamilan yang terlalu pendek (<2 tahun)
(Manuaba, 2010). Namun, karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya dalam

penelitian ini maka peneliti hanya meneliti variabel umur, riwayat abortus, dan
jarak kehamilan. Maka Gambar kerangka konsep tersebut dapat dilihat di gambar
1.1 sebagai berikut:
Variabel Independen

Variabel Dependen

Umur Ibu Bersalin


Riwayat Abortus
pada Ibu Bersalin
Kejadian
Plasenta Previa

Jarak Kehamilan
pada Ibu Bersalin
Paritas
pada Ibu Bersalin
Riwayat Seksio Sesarea pada
Ibu Bersalin

Gambar 1.1
Kerangka Konsep

Keterangan:

: Variabel yang di teliti


: Variabel yang tidak di teliti
1.6
Hipotesis
1. Ada hubungan antara umur dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
2. Ada hubungan antara riwayat Abortus dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
3. Ada hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.

1.7

Lokasi dan Waktu Penelitian

1.7.1 Lokasi Penelitian


Tempat penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Kebidanan di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
1.7.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012-Januari 2013.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Persalinan

2.1.1 Definisi Persalinan


Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun janin (Prawirohardjo, 2007).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau kekuatan sendiri (Ari Sulistyawati, dkk,
2010).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) (JNPK-KR DepKes
RI, 2008).
Jadi, persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) dari uterus ibu pada kehamilan yang cukup bulan, sejak uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis).

2.1.2 Tahapan Persalinan


8
Menurut Ari Sulistyawati, dkk (2010), Manuaba (2010), dan Prawirohardjo
(2007) ada empat kala dalam persalinan:
1. Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung sejak adanya kontraksi dan
dilatasi serviks sampai pembukaan 10 cm (pembukaan lengkap).
2. Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai
bayi lahir.
3. Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta dan selaput
ketuban, setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
4. Kala IV adalah dimulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam, pada kala IV
dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan, paling sering
terjadi pada 2 jam pertama.
2.1.3 Tanda-tanda Persalinan
Tanda-tanda persalinan yaitu:
Menurut Ari Sulistyawati, dkk (2010), dan Manuaba (2010), tanda-tanda
persalian sebagai berikut:
1. His persalinan

Karakter dari his persalinan.


a.

Pinggang terasa sakit menjalar ke depan.

b.

Sifat his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar.

c.

Terjadi perubahan pada serviks.


d. Jika pasien menambah aktifitasnya, misalnya dengan berjalan, maka
kekuatannya bertambah

2. Pengeluaran Lendir dan Darah


Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada

serviks yang

menimbulkan:
a. Pendataran dan Pembukaan
b. Pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis
servikalis terlepas
c. Terjadi perdarahan Karena kapiler pembuluh darah pecah.
3. Pengeluaran cairan
Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya selaput
ketuban. Jika ketuban sudah pecah, maka ditargetkan persalinan dapat
berlangsung dalam 24 jam. Namun jika ternyata tidak tercapai, maka
persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan tertentu, misalnya ekstraksi
vakum atau sectio caesaria.
2.1.4 Bentuk Persalinan
Bentuk persalian menurut para ahli:
1.

Menurut Manuaba (2009) adalah:

a. Persalinan spontan. Bila persalinan berlangsung dengan tenaga sendiri.


b. Persalinan buatan. Bila persalinan dengan rangsangan sehingga terdapat
kekuatan untuk persalinan.
c. Persalinan anjuran. Yang paling ideal sudah tentu persalinan spontan
karena tidak memerlukan bantuan apapun yang mempunyai trauma
persalinan yang paling ringan sehingga kualitas sumber daya manusia
dapat terjamin.
2.

Menurut Rohani, Reni Saswita, Marisah (2011)

a. Persalinan spontan adalah bila seluruh persalinan berlangsung dengan


kekuatan ibu sendiri.
b. Persalian buatan adalah bila persalian berlangsung dengan bantuan tenaga
dari luar.
c. Persalinan anjuran adalah bila kekuatan yang diperlukan untuk persalian
ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang.
2.1.5 Tujuan Asuhan Persalinan
Menurut Rohani, Reni Saswita, Marisah (2011) Tujuan Asuhan Persalinan
yaitu :
Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai
selama persalinan, dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan
aman dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. Tujuan asuhan
persalinan normal menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan
yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap

tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan
kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

2.2

Konsep Dasar Plasenta Previa

2.2.1

Definisi Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar segmen bawah rahim,
sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Manuaba, 2010).
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah
rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Ratna
Dewi Pudiastuti, 2011).
Plasenta previa adalah plasenta di depan jalan lahir (prae : didepan, vias :
jalan), jadi yang dimaksud adalah plasenta yang implantasinya tidak normal letak
rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian Ostium Uteri Internum,
implantasi plasenta yang normal atau pada dinding depan atau dinding belakang
rahim di daerah fundus uteri (Rukiyah, 2010).
Jadi, plasenta previa adalah plasenta yang letaknya tidak normal biasanya
menutupi seluruh atau sebagian segmen bawah rahim (Ostium Uteri Internum)
sehingga menutupi jalan lahir.
2.2.2 Etiologi Plasenta Previa
Etiologi plasenta previa menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Etiologi menurut Dito Anugroho (2011), yaitu:
a. Pada saat kehamilan, usia ibu hamil lebih dari 35 tahun.
b. Melahirkan anak lebiih dari sekali.

c. Pengobatan infertilitas (mandul).


d.

Kelainan perkembangan janin, kondisi janin terganggu karena


ketidaksesuaian faktor Rh darah.

e. Riwayat operasi atau pembedahan rahim sebelumnya yang menyebabkan


luka kembali.
f. Riwayat abortus.
2. Menurut Prawirohardjo (2007) yaitu:
Etiologi terjadinya plasenta previa adalah vaskularisasi yang berkurang, atau
perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau, paritas tinggi,
usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan dan sebagainya
berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang
semuanya dapat di pandang sebagai faktor resiko terjadinya plasenta previa.
3. Menurut Manuaba (2010) yaitu:
Penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah umur lebih dari 35
tahun, dan kurang 2 tahun, paritas, endometrium yang kurang baik, bekas
persalinan berulang dengan jarak pendek, bekas operasi, riwayat abortus.
2.2.3

Tanda dan Gejala Plasenta Previa

Tanda dan gejala plasenta previa menurut para ahli:


1. Menurut Sastrawinata (2005) gejala-gejala plasenta previa:
a.

Gejala yang terpenting ialah pendarahan tanpa rasa nyeri, Pasien mungkin
berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun, baru waktu ia
bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya pendarahan karena

plasenta previa baru timbul setelah bulan ke tujuh. Hal ini disebabkan
oleh:
1) Perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak
berbeda dari abortus.
2) Perdarahan pada plasenta previa pergerakan antar plasenta dan dinding rahim.
Keterangannya sebagai berikut:
Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi
rahim lebih cepat tumbuuhnya dari rahim sendiri, akibatnya istmus uteri
tertarik menjadi bagian dinding korpus uteri yang di sebut segmen bawah
rahim.
Pada plasenta previa, tidak mungkin terjadi tanpa pergeseran antara
plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan bergantung pada kekuatan
insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada istmus uteri. jadi, dalam
kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan, tetapi
sudah jelas dalam persalinan his pembukaan menyebabkan perdarahan
karena bagian plasenta diatas atau dekat ostium akan terlepas dari
dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena terlepasnya
plasenta dari dasarnya.
Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang-ulang karena
setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Oleh karena
itu, regangan dinding rahim dan tarikan pada servik berkurang, tetapi
dengan majunya kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan
perdarahan baru.

Darah terutama berasal dari ibu ialah dari ruangan intervilosa tetapi
dapat juga berasal dari anak jika jonjot terputus atau pembuluh darah
plasenta lebih besar terbuka.
b. Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub
bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas
panggul.
c. Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada
plasenta previa lebih sering disertai kelainan letak jika perdarahan
disebabkan oleh plasenta previa lateral dan marginal serta robekannya
marginal, sedangkan plasenta letak rendah, robekannya beberapa
centimeter dari tepi plasenta.
Juga harus dikemukakan bahwa pada plasenta previa mungkin sekali
terjadi perdarahan pasca persalinan karena :
1) Kadang-kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim (plasenta
akreta).
2) Daerah perlekatan luas.
3) Kontraksi segmen bawah rahim kurang sehingga mekanisme penutupan
pembuluh darah pada insersi plasenta tidak baik. Kemungkinan infeksi
nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada ostium, dan merupakan
porte dentree yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien biasanya anemis
karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah.

2. Menurut Eviesetya (2012) tanda dan gejala plasenta previa diantaranya


adalah:
a. Pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya dan berulang
b. Darah biasanya berwarna merah segar.
c. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
d. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak
janin.
e. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal,
kecuali bila dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan
berikutnya (reccurent bleeding) biasanya lebih banyak.
2.2.4

Klasifikasi Plasenta Previa

Klasifikasi plasenta previa menurut para ahli:


1. Menurut

Prawihardjo (2009), dan Ratna Dewi Pudiastuti (2012) ada 4

klasifikasi plasenta previa yaitu:


a. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi
seluruh ostium uteri internum.
b. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium
uteri internum.
c. Plasenta previa marginalis adalah plaenta yang tepinya berada pada
pinggir ostium uteri internum.
d. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen
bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak
lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.

3. Menurut Sastrawinata (2005) ada 3 klasifikasi plasenta previa yaitu:


a. Plasenta previa totalis adalah seluruh ostium internum tertutup oleh
plasenta.
b. Plasenta previa lateralis adalah hanya sebagian dari ostium tertutup oleh
plasenta.
c. Plasenta previa marginalis adalah hanya pada pinggir ostium terdapat
jaringan plasenta.
Untuk lebih jelas klasifikasi plasenta previa bisa dilihat pada gambar 2.2
sebagai berikut:

Gambar 2.2
Pembagian plasenta previa menurut tingkatnya (Prawirohardjo, 2007).

2.2.5 Patofisiologi
Patofisiologi menurut para ahli:
1. Menurut Prawirohardjo (2009) menyatakan Patofisiologi sebagai berikut:

Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan mungkin
juga lebih awal, oleh karena mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak
plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta
terbentuk dari jaringan maternal yaitu sebagian desidua basalis yang
bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya istmus uteri menjadi
segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi di situ sedikit banyak
akan mengalalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak
plasenta. Demikian pula pada waktu serviks mendatar (effacement) dan
membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat
laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu
dari ruangan intervillus dari plasenta. olehkarena fenomena pembentukan
segmen bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa betapa pun pasti
akan menjadi (unaivoidable bleeding).
2. Menurut Ratna Dewi Pudiastuti (2011) Patofisiologi plasenta previa sebagai
berikut:
Pendarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu
saat segmen bawah uteri telah berbentuk dan mulai melebar dan menipis.
Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan
pembukaan serviks menyebabkan sinus robek karena lepasnya plasenta dari
dinding uterus atau karna robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan
tak dapat dihindarkan karna ketidak mampuan serabut otot segmen bawah
uterus untuk berkontraks seperti plasenta letak normal.

3. Menurut Manuaba (2010) patofisiologi plasenta previa sebagai berikut:


plasenta previa adalah implantasi di segmen bawah rahim sehingga menutupi
kanalis servikalis dan mengganggu proses persalinan dengan terjadinya
pendarahan. Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan
oleh endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi,
endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu
memberikan nutrisi janin, vili korealis pada korion leave yang persisten.
2.2.6 Diagnosis Plasenta Previa
Diagnosis menurut beberapa ahli yaitu
1. Menurut Sastrawinata (2005) diagnosis plasenta previa yaitu sebagai berikut:
a. Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan berulang. Klinis kelainan
letak dari perabaan fornises teraba bantalan lunak pada presentasi kepala.
b. Diagnosis plasenta previa (dengan perdarahan sedikit) yang diterapi
ekspektif ditegakkan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dengan
batuan USG, diagnosis plasenta previa seringkali sudah dapat ditegakkan
sejak

dini

sebelum

kehamilan

trimester

ketiga,

namun

dalam

perkembangan dapat terjadi migrasi plasenta. Sebenarnya bukan plasenta


yang berpindah, tetapi dengan dengan semakin berkembangnya segmen
bawah rahim, plasenta yang berimplantasi disitu akan ikut naik menjauhi
ostium uteri internum
2. Menurut Fadlun Achmad Feryanto (2011) diagnosis plasenta previa:

Semua kasus dugaan plasenta previa harus dirawat di Rumah Sakit rujukan.
Pemeriksaan melalui vaginal atau rektal harus dihindari untuk mencegah
perdarahan lebih lanjut.
3. Menurut Prawirohardjo (2007) diagnosis plasenta previa yaitu:
1)Anamnesis
Pendarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa
nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida.
2) Pemeriksaan luar
Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila
presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung di atas pintu atas
panggul atau mengolak ke samping, dan sukar didorong kedalam pintu atas
panggul.
3) Pemeriksaan in Spekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah pendarahan ini berasal
dari ostium uteri eksternum, apabila perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum harus di curigai adanya plasenta previa
4) Penentuan letak plasenta tidak langsung
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
radiografi, radioisotofi, dan ultrasonografi.
2.2.7

Kompliksi Plasenta previa


Komplikasi menurut para ahli sebagai berikut:

1. Menurut Sastrawinata (2005) komplikasi plasenta previa, yaitu:


a. Bahaya untuk ibu pada plasenta previa, yaitu:

1) Syok hipolemik adalah kondisi kehilangan cairan dengan cepat yang


berakhir pada kegagalan beberapa organ
2) Infeksi-sepsis adalah infeksi kuman akibat beredarnya kuman penyakit
dalam arah yang biasanya disebabkan oleh bakteri.
3) Emboli udara adalah emboli yang terjadi pada gelembung udara.
4) Kelainan Koagulapati syok adalah gangguan pembekuan darah kibat
perdarahan yang banyak.
5) Kematian adalah apabila pada ibu mengalami kematian prinatal.
b.

Bahaya untuk bayi, yaitu:


1) Hipoksia adalah kondisi disaat tubuh bayi mengalami kekurangan
oksigen.
2) Anemia adalah kekurangan zat besi sehingga daya tahan tubuh bayi
mengalami penurunan secara keseluruhan.
3) Kematian adalah pada ibu mengalami kematian prinatal.

2. Fadlun Achmad Feryanto (2011) komplikasi plasenta previa yaitu:


a.

Maternal
Beberapa komplikasi dari plasenta previa pada maternal adalah
perdarahan, syok, dan kematian.

b.

Fetal
Salah-satu komplikasi pada fetal diantaranya adalah prematuritas (60%
kematian pada masa perinatal). Hal ini terjadi karena asfiksia intrauterine,
sedangkan perdarahan janin terjadi akibat manipulasi obstetri.

3. Menurut Dito Anugroho, Ari Wulandari (2011) beberapa komplikasi dapat


menyertai plasenta previa yaitu:
a. Perdarahan, yang terjadi akibat lemahnya kemampuan kontraksi pada
segmen

bawah

rahim.

Perencanaan

persalinan

dan

pengendalian

pendarahan sangat penting pada plasenta previa.


b. Kehamilan rawan atau belum saatnya, sebelum 37 minggu.
c. Cacat bawaan.
d. Letak janin tidak normal
e. Lepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menempel normal
pada kehamilan di atas 22 minggu dan sebelum anak lahir atau ari-ari
terlepas dari tempat menempelnya di dalam rahim sebelum bayi dilahirkan.
f. Terdapat pembuluh darah tidak lazim yang mendahului kepala janin saat
persalinan.
g. Robekan rahim atau vagina.
h. Robekan dinding samping vagina
i. Aborsi atau keguguran.

2.2.8 Penatalaksanaan Plasenta previa


Penatalaksanaan Plasenta Previa menurut para ahli sebagai berikut:
1. Menurut Sastrawinata (2005) penatalaksanaan plasenta previa dapat di bagi
dua yaitu:

a. Terminasi adalah kehamilan segera di akhiri sebelum terjadi perdarahan


yang membawa maut, misalnya perdarahan cukup bulan, perdarahan
banyak parturine, dan anak mati (tidak selalu).
1) Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada
plasenta, yang demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang
terbuka
2)Dengan seksio sesarea, dimaksudkan untuk mengosongkan rahim
sehingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan seksio
sesarea juga mencegah terjadinya robekan servik yang agak sering
terjadi pada persalinan pervaginam.
b. Ekspektif adalah dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemampuan
hidup didunia luar baginya kecil sekali. Sikap ekspektif tentu hanya dapat
dibenarkan jika keadaan ibu baik dan perdarahan sudah berhenti atau
sedikit sekali.
Dahulu ada anggapan bahwa kehamilan dengan plasenta previa harus
segera di akhiri untuk menghindarkan perdarahan yang fatal. Namun
sekarang ternyata terapi menunggu dapat dibenarkan dengan alasan sebagai
berikut:
1) Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang fatal.
2) Untuk menurunkan kematian bayi karena prematuritas.
Syarat bagi terapi ekspektif adalah bahwa keadaan ibu dan anak masih baik.
Pada terapi ekspektif, pasien dirawat di Rumah Sakit sampai berat badan
anak 2500 gr atau kehamilan suda mencapai 37 minggu. Selama terapi

ekspektif

diusahakan

untuk

menetukan

lokalisasi

plasenta

dengan

pemeriksaan USG dan memperbaiki keadaan umum ibu. Jika kehamilan 37


minggu telah tercapai, kehamilan diakhiri menurut salah satu cara yang telah
diuraikan. Penderita plasenta juga harus diberikan antibiotik mengingat
kemungkinan terjadinya infeksi yang besar disebabkan oleh perdarahan dan
tindakan-tindakan intrauterine.
2. Menurut Prawirohardjo (2010) penatalaksaan plasenta previa yaitu:
setiap perempuan hamil yang mengalami perdarahan dalam trimester kedua atau
ketiga harus dirawat di rumah sakit. Pasien diminta istirahat baring dan jika
kemudian ternyata perdarahan tidak banyak dan berhenti serta janin dalam
keadaan sehat dan masih prematur dibolehkan pulang dilanjutkan dengan
rawat jalan dengan syarat telah mendapat konsultasi yang cukup dengan pihak
keluarga agar dengan segera kembali kerumah sakit bila terjadi perdarahan
ulang walaupun kelihatannya tidak mencemaskan.
a.

Terapi Ekspektatif
1) Tujuan terapi ekspektif adalah supaya janin terlahir prematur, penderita
dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis serviks.
Upaya diagnosis dilakukan secara non-invasif. Pemantauan klinis
dilaksanakan secara ketat dan baik.
Syarat-syarat terapi ekspektif
a) Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian
berhenti

b)

Belum ada tanda-tanda in-partu

c) Keadaan umum ibu cukup baik(kadar hemoglobin dalam batas


normal).
d)
e)

Janin masih hidup


Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.
f) Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta,
usia kehamilan, profil biofisik, letak dan fresentasi janin.
g)Berikan tokolitik bila ada kontraksi:
1. MgSO4 4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam.

2. Nifedipin 3 x 20 mg/ hari.


3. Betamethasone 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru
janin.
h)Uji pematangan paru janin dengan tes kocok (bubble test) dari hasil
amniosentesis.
i) Bila usia kehamilan di atas 34 minggu, plasenta masih berada di
sekitar ostium uteri internum, maka dengan plasenta previa menjadi
jelas, sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk
menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu
masih lama, pasien dapat di pulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila
rumah pasien diluar kota dan jarak untuk mencapai rumah sakit lebih dari
2 jam) dengan pesan untuk segera kembali ke Rumah Sakit apabila terjadi
perdarahan ulang.
b. Terapi Aktif

1. Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang


aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa
memandang maturitas janin.
2. Untuk diagnosis plasenta dan menentukan cara menyelesaikan
persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakikan PDMO jika :
a) Infus/ transfusi telah terpasang, kamar dan tim opersi telah siap
b) Kehamilan 37 minggu (berat badan 2500 gram) dan in partu,
atau
c) Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor
(misal: anensefali)
d) Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati
pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).

3. Manuaba (2010) cara menyelesaikan persalinan sebagai berikut:


a.

Seksio sesarea
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan
ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk
hidup, tindakan ini tetap dilaksakan
Tujuan seksio sesarea:
1) Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera
berkontraksi dan menghentikan pendarahan.

2) Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri,


nika janin dilahirkan pervaginam.
Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi
sehingga serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan
mudah robek, selain itu, bekas tempat implantasi plasenta sering
menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi
dan susunan serabut otot dengan korpus uteri. Siapkan darah pengganti
untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu. Dan lakukan perawatan
lanjut pasca bedah termasuk pemantaun perdarahan, infeksi dan
keseimbangan cairan masuk-keluar.
b. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

1) Amniotomi dan akselerasi


Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan
pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecahkan ketuban,
plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala
janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi
dengan infus oksitosin
2)

Versi Braxton Hicks

Tujuan melakukan versi braxton hicks ialah mengadakan tamponade


plasenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada janin yang masih hidup.
Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban
secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif
untuk menekan plasenta dan seringkali menyebabkan perdarahan pada
PLASENTA PREVIA
kulit kepala. tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah
Perdarahan tanpa sakit dan tanpa sebab
Perdarahanmeninggal
menimbulkan
penyulit yang
ibu dan
dan perdarahan
tidakjanin
aktif.
Pemeriksaan khusus (belum masuk PAP, kelainan letak, teraba plasenta)

Totalis

Aterm

Parsialis

Prematur
Konservatif
Rawat inap

Aterm

2.2.9 Bagan Penatalaksanaan Plasenta Previa

Prematur
Konnservatif
Rawat inap
1
pendarahan
11
1.

Pendarahan gawat janin

Pecahnya ketuban

Pendarahan uterus
Gawat janin
prolapsus tali pusat
Debris
Seksio Sesarea
Langsung seksio sesarea ketika:
Pendarahan banyak
Gawat janin
Pada primigravida
Terdapat kelainan letak

Induksi Persalinan
(oksitosi drip)

His mulai

Persalinan pervaginam

Indikasi kebidanan

Bagan 2.1
Penatalaksanaan Plasenta Previa
Menurut Manuaba (2010)

2.3

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Plasenta Previa


2.3.1

Umur
Umur adalah usia, masa perjalanan hidup manusia. Salah-satu faktor yang

meningkatkan kejadian plasenta previa adalah usia ibu bersalin < 20 tahun karena
endometrium masih kurang sempurna, dan usia ibu bersalin yang > 35 tahun
karena tumbuh endometrium yang kurang subur (Manuaba, 2010).
Prevalensi plasenta previa meningkat 3 kali pada umur ibu > 35 tahun.
Plasenta previa dapat terjadi pada umur diatas 35 tahun karena endometrium yang
kurang subur dapat meningkatkan kejadian plasenta previa (Manuaba, 2008).

Menurut penelitian Susilawati (2007) di RSUP Palembang BARI


menyatakan bahwa kejadian plasenta previa pada ibu hamil dengan usia < 20 atau
> 35 tahun sebanyak 24 orang (6,76%) dari 355 responden, sedangkan usia 20
35 tahun yaitu sebanyak 40 orang (11,27%) dari 355 responden. Dari hasil chisquare didapatkan p value 0,011 0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna
antara umur dengan kejadian plasenta previa pada ibu hamil di RSUP Palembang
BARI.
Menurut penelitian Gendis Ayu Ardies (2010) di RSUD Prof. Dr. Margono
Soekardjo Purwokerto, menyatakan bahwa kejadian plasenta previa pada usia 25
-29 didapatkan p = 0,22 < 0.05 dan odds ratio 3,364 (1,188 < CI < 15,249
memiliki resiko 3,36 kali lebih besar untuk mengalami plasenta previa
dibandingkan usia < 25 tahun. Pada usia 30 -34 didapatkan hasil p = 0,003 < 0,05
dan odds ratio 5,140 (1,732 < CI < 15,249).
Menurut penelitian Zakia

(2009) di RS Dr. Sobirin Kabipaten Musi

Rawas, yang menyatakn bahwa dari hasi Uji Chi Square untuk variabel umur
responden di dapatkan p value (1.000) > (0.05) artinya tidak ada hubungan
antara umur ibu dengan kejadian plasenta previa.
2.3.2

Riwayat Abortus
Manuaba (2010), mengatakan 50% plasenta previa terjadi pada wanita

yang pernah mengalami kuretasi, diduga disrupsi endometrium atau luka


endometrium merupakan predisposisi terjadinya kelainan implantasi plasenta.
Hasil penelitian Gendis Ayu Ardies (2010), di RSUD Prof, dr. Margono
Soekarjo Purwokerto, menyatakan kejadian plasenta previa pada variabel riwayat

abortus didapatkan hasil p = 0,041 < 0,05 dan odds ratio 2,515 (1,036 < CI <
6,103). Hal ini menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat abortus memiliki
resiko 2,52 kali lebih besar untuk mengalami plasenta previa dibandingkan dengan
wanita tanpa riwayat abortus.
Hasil penelitian Wardhana (2009) didapatkan riwayat abortus merupakan
faktor risiko plasenta previa dengan odd rasio 3,497 (95% IK 1.183; 10.339);
wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko plasenta previa 4 kali lebih
besar dibanding wanita dengan tanpa riwayat abortus, dan terdapat hubungan
bermakna faktor risiko abortus dengan terjadinya plasenta previa (p = 0.024).
2.3.3

Jarak Kehamilan
Jarak kehamilan adalah jarak antara waktu kelahiran dengan kehamilan
yang sedang berlangsung. Seorang ibu yang hamil atau melahirkan dengan jarak
kelahiran yang < 2 tahun mempunyai kemungkinan 2 kali berisiko tinggi
dibandingkan wanita dengan jarak kelahiran > 2 tahun (Manuaba, 2009).
Dengan demikian semakin dekat jarak kelahiran dengan kehamilan
berikutnya maka semakin besar peluang kematian perinatal. Jarak kehamilan yang
terlalu dekat yaitu di bawah 24 bulan terjadi gangguan kesuburan di mana terjadi
perluasan implantasi plasenta yang dapat menyebabkan pendarahan antepartum.
Seorang wanita memerlukan 2-3 tahun antara kelahiran agar pulih alat
reproduksinya. Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta
harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum (Utami,
2007).

Menurut penelitian Rahayu di RSUP Dr. Sardjito dan RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta (2007), Data dianalisis dengan analisis bivariabel dan
multi variabel dan uji hipotesisnya adalah uji chi-square dengan p = <0.05 dan CI
95%. Analisis multivariabel menggunakan regresi logistik menyimpulkan bahwa
jarak kelahiran mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian plasenta
previa (OR=2,95%CI=1,03-3,85). Artinya semakin dekat jarak kehamilan atau
kelahiran ibu, maka kemungkinan kejadian plasenta previa lebih besar.
Menurut penelitian dr. Budi Santoso (2008), di RS Dr. Hasan Sadikin
Bandung, yang menyatakan bahwa dari hasil Uji Chi-Square untuk variabel jarak
kehamilan merupakan faktor resiko plasenta previa dengan OR (95% CI) 1,52
(0,82-2,83) wanita dengan jarak kehamilan mempunyai resiko 2 kali lebih besar
terkena plasenta previa dan terdapat hubungan bermakna faktor jarak kehamilan
dengan terjadinya plasenta previa (p = 0,007).
Demikian pula pendapat yang tertulis oleh Bibilung pada tahun 2007 sesuai
hasil penelitian yang dipublikasikan The British Medical jumlah yang menyatakan
bahwa wanita dengan interval yang pendek antara 2 kehamilan mempunyai resiko
tinggi mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan. Hal ini disebabkan karena
jarak kehamilan yang terlalu dekat di bawah 2 tahun terjadi gangguan kesuburan
endometrium di mana terjadi perluasan implantasi plasenta yang menyebabkan
kelainan implantasi plasenta yaitu plasenta previa
2.3.4

Paritas Ibu

Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dari pada usia
diatas 35 tahun, juga lebih sering pada kehamilan ganda dan uterus cacat
mempertinggi angka kejadiannya (Prawirohardjo, 2008).
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian ibu,
paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai AKI lebih tinggi pada ibu dengan kejadian
plasenta previa makin besar karena endometrium belum sempat sembuh
(wiknjosastro, 2007).
Penelitian Zakia (2009), di RS Dr. Sobirin kabupaten Musi Rawas tahun 2009,
menyatakan bahwa ibu yang mengalami plasenta previa dengan paritas tinggi (3
orang) sebanyak 53 orang (43,4%) dari 122 responden. Dari hasil chi-square
didapat nilai p value = 0,474 lebih besar dari = 0,05 artinya tidak ada hubungan
yang bermakna antara paritas dengan kejadian plasenta previa.
2.3.5

Riwayat Seksio Sesarea


Suatu penelitian buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada
dinding rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram
(Prawirohardjo, 2007).
Seksio Sesarea ismika atau profundal (lowservical dengan insisi pada
segmen bawah rahim) merupakan suatu pembedahan dengan melakukan insisi
pada segmen bawah rahim, hampir 99% dari seluruh seksio sesarea memilih
tehnik ini kerena memilki beberepa keunggulan seperti kesembuhan lebih baik dan
tidak banyak menimbulkan perlekatan (prawirohardjo, 2008).
Hasil penelitian Irawan (2008), di RSUD Surakarta, menyatakan bahwa kejadian
plasenta previa pada ibu dengan riwayat seksio sesarea 27 orang (16,8%),

sedangakan pada ibu yang tidak mengalami riwayat seksio sesarea sebanyak 16
orang (6,1%), dari hasil uji chi-square didapatkan p value = 0,012 < (0,05)
sehingga Ho di tolak yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara riwayat seksio sesarea dengan kejadian plasenta previa. Hal ini sesuai
pendapat Prawirohardjo (2009) yang menyatakan bahwa salah satu penyebab
plasenta previa yaitu cacat bekas bedah sesarea berperan menaikkan insiden 2 - 3
kali, menyebabkan perkembangan pembuluh darah baru (vaskularisasi) desidua
yang tidak memadai.

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian
Menurut Notoadmodjo (2010), penelitian adalah upaya untuk memperoleh
atau menemukam fakta atau kebenaran empiris. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah survey analitik

dengan pendekatan cross sectional, dimana

variabel independen (umur ibu, riwanyat abortus dan jarak kehamilan) dan
variabel dependen adalah (kejadian plasenta previa), dikumpulkan dengan waktu
yang bersamaan.

3.2

Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1

Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang di teliti tersebut (Notoatmodjo,


2005)
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mengalami pendarahan
antepartum di Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang pada bulan Januari-November tahun 2012.
3.2.2

Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhann objek yang di
teliti dan di anggap mewakili keseluruhan populasi (Notoatmodjo, 2005).
Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi, yaitu semua ibu yang
mengalami pendarahan antepartum di Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang35
tahun 2012 sebanyak 196 orang.

3.3

Teknik pengumpulan Data dan Instrumen Pengumpulan Data

3.3.1

Teknik Pengumpulan Data


Data sekunder adalah data yang dihimpun melalui tangan kedua

(Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh


dari medical record di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
3.3.2

Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan

data (notoatmodjo, 2010).Instrumen yang digunakan penelitian ini adalah check


list yaitu daftar pengecek, berisi nama subjek, dan beberapa gejala dan beberapa

gejala/ identitas lainnya dari sasaran pengamatan dan langsung diolah dengan
menggunakan komputerisasi.

3.4

Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

3.4.1 Teknik Pengolahan Data


Menurut

notoatmodjo (2010), teknik Pengolahan Data yaitu sebagai

berikut:
1. Editing
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan
penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah
merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau
kuesioner.
2. Coding
Setelah semua kuesioner di edit atau di sunting, selanjutnya dilakukan
pengkodean atau coding yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf
menjadi data angka atau bilangan.
3. Prosesing (memasukkan data)
Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam
bentuk kode (anka atau huruf) dimasukan kedalam program atau softwer
komputer.
4. Cleaning (pembersihan data)
Apabila data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu
di cek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode,

ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau


koreksi.
3.4.2

Tehnik Analisis Data


Menurut Notoatmodjo (2010).analisa data meliputi :

1. Analisis Univariat
Analisis Univariat yaitu dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian, pada
umumnya dalam analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari
tiap variabel (Notoatmodjo, 2008). Analisa ini dilakukan pada tiap variabel
dari hasil penelitianyaitu variabel independen (umur ibu, riwayat abortus, dan
jarak kehamilan) serta variabel dependen (kejadian plasenta previa) di analisis
untuk mengetahui distribusi frekuensi.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan terhadap yang berhubungan atau berkolerasi,antara
variabel independen (umur ibu, riwayat abortus, dan jarak kehamilan), dengan
variabel dependen (kejadian plasenta previa) dengan menggunakan uji
statistik chi-square (X2) derajat kemaknaan = 0,05 dan diolah melalui
komputerisasi yaitudengan menggunakan Statistik Product Service Solution
(SPSS) versi 16.00.
Kesimpulan dari uji statistik ini adalah sebagai berikut:
a. Jika p value (0.05) maka berarti ada hubungan yang bermakna antara
variabel independen (umur ibu, riwayat abortus, dan jarak kehamilan) dan
variabel Dependen (kejadian Plasenta Previa).

b. Jika p value > (0,05) maka berarti tidak ada hubungan yang bermakna
antara variabel independen (umur ibu, riwayat abortus, dan jarak
kehamilan) dan variabel dependen (kejadian plasenta previa).

3.5

Definisi Operasional

3.5.1

Variabel Dependen
Kejadian Plasenta Previa
Pengertian: Semua ibu yang terkena plasenta previa berdasarkan diagnosa
oleh dokter
Cara ukur : Mencatat data dari rekam medik
Alat ukur : Check list
Hasil ukur : 1. Ya
2. Tidak

: Bila ibu terdiagnosa plasenta previa.


: Bila ibu tidak terdiagnosa plasenta previa.

(Rukiyah, 2010)
Skala ukur : Nominal
3.5.2

Variabel independen
1. Umur Ibu
Pengertian

: Usia ibu pada saat melahirkan

Cara ukur

: Mencatat data dari rekam medik

Alat ukur

: Check list

Hasil ukur

: 1. Resiko Tinggi : Bila umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun
2. Resiko Rendah

: Bila umur ibu 20-35 tahun

(Manuaba, 2010)
Skala ukur

: Ordinal

2. Riwayat abortus
Pengertian

: Ibu hamil yang pernah mengalami keguguran

Cara ukur

: Mencatat data dari rekam medik

Alat ukur

: Check list

Hasil ukur

: 1. Ya

: Bila ibu pernah mengalami keguguran

2. Tidak : Bila ibu tidak pernah mengalami keguguran


(Rukiyah, 2011)
Skala ukur

: Nominal

3. Jarak kehamilan
Pengertian

: Jarak antara waktu kelahiran yang lalu dengan kehamilan


yang sedang berlangsung.

Cara ukur

: Mencatat data dari rekam medik

Alat ukur

: Check list

Hasil ukur

: 1. Resiko Tinggi
2. Resiko Rendah

: Bila jarak kehamilan < 2 tahun


: Bila jarak kehamilan > 2 tahun

(Manuaba, 2010)
Skala ukur

: Ordinal

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Penelitian

4.1.1

Sejarah Perkembangan
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang didirikan pada th 1953 atas

prakarsa Menteri Kesehatan RI Dr.Mohammad Ali (Dr.Lee Kiat Teng) dengan


biaya Pemerintah Pusat. Pada tgl 03 Januari 1957 rumah sakit ini mulai
operasional, yang dapat melayani masyarakat se Sum. bag. sel dimana saat itu
meliputi Propinsi Sumatera Selatan, Lampung Jambi, Bengkulu, dan Bangka
Belitung. RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang baru memiliki Pelayanan Rawat
Jalan dan Rawat Inap (fasilitas 78 TT), beberapa waktu kemudian memiliki
pelayanan Laboratorium, Apotik, Radiologi, Emergency dan peralatan Penunjang
Medik Lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, rumah sakit ini semakin
berkembang,

baik fasilitas, sarana dan prasarana. Sumber daya manusianya

tersedia para spesialis lengkap dan beberapa sub spesialis sehingga mengubah

tipenya dari kelas B menjadi Rumah Sakit Umum Pusat tipe A dan menjadi rumah
sakit terbesar dan sebagai pusat rujukan layanan kesehatan se Sumatera Selatan,
Jambi, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung.
Tahun 1993 1994 RSUP Palembang mengubah status dari RS Vertikal (RS
Penerima Negara Bukan Pajak) menjadi RS Swadana. Sesuai SK Menkes RI
no.1279/Menkes/SK/XI/1997;

RSUP

Palembang

resmi

bernama

RSUP

Dr.Moh.Hoesin Palembang. Dengan UU no 20/1997, menjadi Rumah Sakit


Instansi Pengguna PNBP, dimana rumah sakit dapat memanfaatkan dana dari hasil
pendapatan sesuai dengan anggaran yang diproyeksikan rumah sakit dan
diselaraskan dengan pendapatan melalui prosedur KPKN disamping itu subsidi
pemerintah tetap seperti sediakala.Tahun 2000 dengan PP No 122/2000, RSUP
Dr.Moh.Hoesin Palembang ditetapkan menjadi salah satu dari 13 Rumah Sakit
Pemerintah menjadi Rumah Sakit Perusahaan Jawatan Di Indonesia dan
operasionalnya dimulai tanggal 01 Januari 2002. Sebagai RS Perjan secara
operasional RSMH Palembang masih tetap melaksanakan fungsi pelayanan
sosialnya bagi masyarakat ekonomi kurang mampu melalui program JPSBK
(Gakin), sejak tahun 2005 dikelolah oleh PT. ASKES Indonesia menjadi program
ASKESKIN. Kemudian tahun 2005 berdasarkan PP 23 / 2005 tgl 13 Juni 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dengan SK Menkes RI no:
1243/Menkes/SK/VIII/2005, tanggal 11 Agustus 2005 tentang Penetapan 13 eks
Rumah Sakit Perjan statusnya menjadi Unit Pelaksana Tekhnis Depkes RI dengan
menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Implementasinya

RSUP Dr.Moh.Hoesin Palembang sebagai Badan Layanan Umum dilaksanakan


pada Januari 2006.
4.1.2 Identitas Rumah sakit
Nama Rumah Sakit

: RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang

Kode Rumah Sakit

: 167.1013

Direktur Utama

: dr.H.Yanuar Hamid,Sp.PD,MARS

Alamat

: Jl.Jend Sudirman Km 3,5 Palembang

Kecamatan / Kota

: Ilir Timur 1 / Palembang

Kode / Telepon / Faximile

: 0711.354088 (Hunting)

Faximile

: 0711.351318

E-mail

: rsmh@plasa.com, rsmh@telkom.net.id

Kelas Rumah Sakit

: Kelas A Pendidikan / SK Menkes. No.634 /


12 September 2009

Luas Tanah

: 218.455 m

Tahun pembangunan

: 1953

Tahun operasional

: 1957

4.1.3 Visi , Misi dan Motto RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
1. Visi RSUP Dr.Mohammad Hoesin

Menjadi Rumah Sakit Pusat Pelayanan Kesehatan, Pendidikan dan


Penelitian terbaik dan bermutu se Sumatera,
2.

Misi RSUP Dr.Mohammad Hoesin


a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan
berkualitas tinggi.

b. Menyelenggarakan jasa pendidikan dan penelitian dalam bidang


kedokteran dan kesehatan.
c.
3.

Menyelenggarakan promosi kesehatan.


Motto RSUP Dr.Mohammad Hoesin
Kesembuhan dan Kepuasan Anda merupakan Kebahagiaan Kami

. Tujuan RSUP Dr. Mohammad Hoesin


a. Meningkatkan derajat kesehatan dan senantiasa berorientasi kepada
kepentingan masyarakat.
b. Meningkatkan citra pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang
kesehatan.
c. Menghasilkan tenaga Dokter Umum, Spesialis dan Sub Spesialis serta
Keperawatan yang berkualitas dan bermoral tinggi.

4.1.4

Sarana dan Prasarana

RSUP Dr.Moh.Hoesin Palembang terletak di Jl.Jend.Sudirman Km 3,5 Palembang


(Pusat kota arah timur) di Ibukota Propinsi Sumatera Selatan, yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan menyelenggarakan berbagai jenis pelayanan spesialis dan
sub spesialis; dan menjadi pusat pelayanan rujukan di wilayah Sumatera bagian
Selatan.Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang telah membangun beberapa gedung antara lain COT dan
gedung Brain & Heart Center, dimana COT sendiri merupakan salah satu
pelayanan dengan standar internasional, sedangkan pelayanan Brain & Heart

Center merupakan pelayanan pertama di indonesia yang menggabungkan antara


pelayanan Jantung dan Stroke ( Penyakit otak dan syaraf ). sedangkan luas lahan
selebihnya digunakan untuk bangunan gedung Instansi kesehatan lainnya serta
lahan yang masih kosong. Pada tanggal 4 November 2011 telah diresmikan
Instalasi Gawat Darurat oleh Menteri Kesehatan RI DR.dr Endang Rahayu
Sedyaningsih, PH, dimana IGD yang baru menerapkan pelayanan yang berstandar
Internasional, dimana pasien dilayani secara terpadu dengan memprioritaskan
kegawatdaruratan dan kerjasama tim.
4.1.5

Struktur organisasi dan Tata Kerja

Struktur Organisasi RSUP Dr.Moh.Hoesin Palembang saat ini terdiri dari seorang
Direktur Utama dibantu oleh 3 (tiga) orang Direktur yaitu Direktur Keuangan,
Direktur Umum, SDM & Pendidikan serta Direktur Medik & Keperawatan,
ditambah dengan Komite Medik, Komite Keperawatan, Komite Etik & Hukum
dan Komite MUTU, serta Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan beberapa Kepala
Instalasi sesuai dengan kebutuhan, sedangkan Kepala Bidang dan Kepala Bagian
kebawah berdasarkan SK Menkes R.I No. 347/Menkes/SK/II/2011.
Adapun susunan Dewan Pengawas dan Direksi adalah sbb :
Tabel 4.1
Susunan Dewan Pengawasan Rumah Sakit Umum
Dr. Mohammmad Hoesin Palembang
No
1
2
3
4
5
6

Nama
dr. Bambang Giatno Raharjo, MPH
Prof. Dr. Ir. H. Zainal Ridho Djakfar MSc
Prof.dr.Drg Farouk Hoesin , MDS, Sp.Ort (K)
Prof.Dr . Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D
Dr. Djoko Hidayanto, SE, M
Mayuri Hasani, SH, MM

Sumber:Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang 2012

Jabatan
Ketua
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Sekretaris

Tabel 4.2
Susunan Direksi Rumah Sakit Umum
Dr. Mohammmad Hoesin Palembang
No

Nama

Jabatan

dr.H.Yanuar Hamid,Sp.PD,MARS

Direktur Utama

dr.H.Welly Refnealdi,M.Kes

Direktur Keuangan

Dr.H.K.M.Yamin Alsoph,Sp.B(K)Onk

Direktur Medik &


Keperawatan

Dr.dr.H.M.Alsen Arlan,Sp.B-KBD

Dire Direktur Umum, SDM


& Pendidikan

Sumber:Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang 2012

4.1.6

Ketenagaan
Tabel 4.2
Sumber Daya Manusia Rumah Sakit Umum
Dr. Mohammmad Hoesin Palembang

NO

Data

Jumlah

Dokter Spesialis

Dokter Spesialis Gigi

Dokter PPDS

475 orang

Dokter Umum

36 orang

Dokter Brigade Siaga Bencana

7 orang

Dokter Gigi

6 orang

Apoteker

Perawat / Bidan

819 orang

Paramedis Non Perawatan

223 orang

10

Tenaga Non Kesehatan

632 orang

JUMLAH

158 orang
1 orang

11 orang

1.368 orang

Sumber:Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang 2012

4.1.7 Analisa Data


1. Analisa Univariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan
presentase dari variabel independen (Umur Ibu, riwayat abortus, dan jarak
kehamilan) dan Varaibel dependen (kejadian plasenta previa). Adapun jumlah
sampel 124 orang.
a. Kejadian Plasenta Previa
Dalam penelitian ini kejadian Plasenta previa dibagi menjadi dua kategori
yaitu ya (bila ibu terdiagnosa plasenta previa dan tidak (bila ibu tidak
terdiagnosa plasenta previa), untuk data selengkapnya dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi
padaHoesin
Kejadian
Plasentatahun
Previa2012
di RSUP Dr.
Mohammad
Palembang
No

Kejadian Plasenta Previa

Persen (%)

Ya

Frekuensi
(Responden)
84

1
2

Tidak

112

57,1

196

100

Jumlah

42,9

Sumber : hasil penelitian lapangan diolah tahun 2013

Berdasarkan dari tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa sebagian kecil responden
terdiagnosa plasenta previa sebanyak 84 responden (42,9%), dari 196
responden.

b. Umur Ibu
Dalam penelitian umur ibu yang dibagi menjadi dua kategori yaitu resiko
tinggi (bila umur ibu < 20 tahun > 35 tahun) dan resiko rendah (bila umur
ibu 20-35 tahun), untuk data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah
ini:
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi
Umur IbuHoesin
pada Kejadian
Plasenta
Previa di RSUP
Dr. Mohammad
Palembang
tahun 2012
No

Umur

Persen (%)

Resiko tinggi

Frekuensi
(Responden)
117

1
2

Resiko rendah

79

40,3

Jumlah

196

100

59,7

Sumber : hasil penelitian lapangan diolah tahun 2013

Berdasarkan dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar
responden memiliki umur resiko tinggi pada kejadian plasenta previa
sebanyak 117 responden (59,7%), dari 196 responden.
c. Riwayat Abortus

Dalam penelitian ini riwayat abortus dibagi menjadi dua kategori yaitu ya
(bila ibu pernah mengalami riwayat abortus) dan tidak (bila ibu tidak
pernah mengalami riwayat abortus), untuk data selengkapnya dapat dilihat
dari tabel di bawah ini:

Tabel 4.6
Distribusi
Frekuensi
Riwayat
Kejadian
Plasenta
di RSUP Dr. Mohammadabortus
Hoesin pada
Palembang
tahun
2012 Previa
No

Riwayat Abortus

Persen (%)

Ya

Frekuensi
(Responden)
141

1
2

Tidak

55

28,1

196

100

Jumlah

71,9

Sumber : hasil penelitian lapangan diolah tahun 2013

Berdasarkan dari tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar
responden memiliki riwayat abortus pada kejadian plasenta previa
sebanyak 141 responden (71,9%), dari 196 responden.
d. Jarak kehamilan
Dalam penelitian ini Jarak kehamilan dibagi menjadi dua kategori yaitu resiko
tinggi (bila jarak kehamilan < 2 tahun) dan resiko rendah (bila jarak
kehamilan > 2 tahun), untuk data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di
bawah ini:
Tabel 4.7
Distribusi
Frekuensi Jarak kehamilan pada Kejadian Plasenta
Previa
2012 di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun
No

Jarak kehamilan

Resiko tinggi

Frekuensi
(Responden)
125

Resiko rendah

55

36,2

196

100

Jumlah

Persen (%)
63,8

Sumber : hasil penelitian lapangan diolah tahun 2013

Berdasarkan dari tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar
responden memiliki jarak kehamilan resiko tinggi pada kejadian plasenta
previa sebanyak 125 responden (63,8%), dari 196 responden.

2. Analisa Bivariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel
independen (umur ibu, riwayat abotus, dan jarak kehamilan) dengan variabel
dependen (kejadian plasenta previa). Uji statistik yang digunakan adalah uji
Chi- Square dengan menggunakan batas kemaknaan pada = 0,05 (CI 95%)
bila p value < (0.05), yang berarti ada hubungan antara umur ibu, riwayat
abortus dan jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012. Jika p value > (0.05), yang
berarti tidak ada hubungan antara umur ibu, riwayat abortus dan jarak
kehamilan dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang tahun 2012.
a. Hubungan antara Umur Ibu dengan kejadian plasenta previa
Penelitian ini dilakukan pada 196 responden, dimana umur ibu
dibagi menjadi dua kategori yaitu resiko tinggi (bila umur ibu < 20 - > 35
tahun) dan resiko rendah (bila umur ibu 20 35 tahun), sedangkan kejadian
plasenta previa di bagi menjadi dua kategori yaitu ya (bila ibu terdiagnosa
plasenta previa), dan tidak (bila ibu tidak terdiagnosa plasenta previa),
untuk data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 4.8
Hubungan antara
umur ibu dengan
plasenta
Dr. Mohammad
Hoesin kejadian
Palembang
tahun previa
2012 di RSUP
Kejadian Plasenta

Jumlah

No

Umur ibu

Previa
Ya

Kemaknaan
Value p
Tidak

Resiko tinggi

60

51,3

57

48,7

117

100

Resiko rendah 24

30,4

55

69,6

79

100

Jumlah

84

112

0,006

196
(Bermakna)

Sumber : hasil penelitian lapangan, di olah tahun 2013

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa proporsi


responden memiliki umur resiko tinggi terdiagnosa

plasenta previa

sebanyak 60 responden (51,3%), lebih besar dibandingkan responden


memiliki umur resiko rendah terdiagnosa plasenta previa sebanyak 24
responden (30,4%).
Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value 0,006
0,05 yang berarti ada hubungan bermakna antara umur ibu dengan kejadian
plasenta previa, sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara
umur ibu dengan kejadian plasenta previa

di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang tahun 2012 terbukti secara statistik.


b. Hubungan Riwayat Abortus dengan kejadian Plasenta Previa
Penelitian ini dilakukan pada 196 responden, dimana riwayat
abortus di bagi menjadi dua kategori yaitu ya (bila ibu pernah mengalami
riwayat abortus) dan tidak (bila ibu tidak pernah mengalami abortus),
sedangkan kejadian plasenta previa di bagi menjadi dua kategori yaitu ya
(bila ibu terdiagnosa plasenta previa), dan tidak (bila ibu terdiagnosa

plasenta previa). Untuk data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah
ini:
Tabel 4.9
Hubungan
antara
Riwayat Abortus
dengan
kejadian
plasenta
di RSUP
Dr. Mohammad
Hoesin
Palembang
tahun
2012 previa
Kejadian Plasenta
No

Previa

Riwayat
Abortus

Ya
n

Ya

Tidak

53

Jumlah

Jumlah

31
84

Kemaknaan p
Value

Tidak
%

37,6

88

62,4

141

100

56,4

24

43,6

55

100

112

0,026

196
(Bermakna)

Sumber : hasil penelitian lapangan, di olah tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa proporsi


responden dengan riwayat abortus yang terdiagnosa

plasenta previa

sebanyak 53 orang (37,6%), lebih besar dibandingkan responden tidak


dengan riwayat abortus yang terdiagnosa plasenta previa sebanyak 31
orang (56,4%).
Dari hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,026
0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara riwayat abortus
dengan kejadian plasenta previa sehingga hipotesis yang menyatakan ada
hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 terbukti secara
statistik.

c. Hubungan antara Jarak Kehamilan dengan kejadian Plasenta Previa


Penelitian ini dilakukan pada 196 responden, dimana jarak
kehamilan dibagi menjadi dua kategori yaitu resiko tinggi (bila jarak
kehamilan 2tahun) dan resiko rendah (bila jarak kehamilan > 2 tahun),
sedangkan kejadian plasenta previa di bagi menjadi dua kategori yaitu ya
(bila ibu terdiagnosa plasenta previa), dan tidak (bila ibu tidak
terdiagnosa plasenta previa). Untuk data selengkapnya dapat dilihat dari
tabel di bawah ini:
Tabel 4.10
Hubungan antara Jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

Kejadian Plasenta
No

Jumlah

Previa

Jarak
kehamilan

Ya

Kemaknaan p
Value

Tidak

Resiko tinggi

45

36,0

80

45,1

125

100

Resiko rendah

39

54,9

32

64,0

71

100

Jumlah

84

112

0.015

196
(Bermakna)

Sumber : hasil penelitian lapangan, di olah tahun 2013

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa proporsi


responden memiliki jarak kehamilan resiko tinggi terdiagnosa plasenta
previa sebanyak 45 orang (36,0%), lebih besar dibandingkan responden

memiliki jarak kehamilan

resiko rendah terdiagnosa plasenta previa

sebanyak 39 orang (54,9%).


Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value 0,015
0,05 yang berarti ada hubungan bermakna antara umur ibu dengan
kejadian plasenta previa, sehingga hipotesis yang menyatakan ada
hubungan antara umur ibu dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 terbukti secara statistik.

4.2

Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr, Mohammad Hoesin Palembang tahun

2013 yang terletak di jalan Sudirman Km. 3,5 Palembang pada Bulan Februari
2013. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 196 orang. Dimana sampel
penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mengalami perdarahan antepartum
yang dirawat di instalasi Rawat Inap Kebidanan pada bulan Januari-Desember
2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total populasi dengan jumlah
sampel penelitian ini adalah 196 orang.
Kemudian data dikumpulkan dengan mencatat data medical Record untuk
mengetahui Variabel umur ibu, riwayat abortus, dan jarak kehamilan dengan
kejadian plasenta previa. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan di olah dan
dilakukan analisis data yang terdiri dari analisis univariat dengan anlisis bivariat.
Analisis univariat dilakukan dengan sistem komputerisasi sehingga didapatkan
daftar distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Sedangkan dari analisis
bivariat dilakukan uji kedua hubungan antara variabel menggunakan uji statistik

chi-Square dengan p Value (0,05) dimana analisis data tersebut langsung di olah
dengan Statistical Product and Sevice Solution (SPSS) versi 16.0 sehingga
didapatkan nilai untuk melihat kemaknaanya.
4.2.1 Analisis Univariat
1. Kejadian Plasenta Previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Pada penelitian ini diketahui bahwa sebagian kecil responden yang
terdiagnosa plasenta previa sebanyak 84 responden (42,9%), dari 196
responden.
Berdasarkan dari data Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2010 sebanyak 79 orang (2,6%),
tahun 2011 sebanyak 187 orang

(6,3%), dan tahun 2012 sebanyak 84

(42,9%).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Halistiana (2009), di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang menyatakan bahwa yang
terkena plasenta previa sebanyak 36 orang (10,1%), lebih kecil dibanding ibu
yang tidak terkena plasenta previa sebanyak 320 orang (89,9%).
Pada penelitian ini ternyata angka kejadian plasenta previa di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang cenderung mengalami penurunan, namun
demikian, pendarahan antepartum dengan kejadian plasenta previa adalah
salah-satu penyebab kematian ibu bersalin, kejadian plasenta cenderung
mengalami penurunan hal ini dikarenakan ibu hamil sudah banyak
mengetahui bahaya kehamilan resiko tinggi, dan ibu hamil rajin
memeriksakan kandungannya selama kehamilannya pada tenaga kesehatan

untuk mengetahui deteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi, selain itu
didukung oleh alat teknologi seperti Ultra sonografi (USG), yang
mempermudah mendeteksi jika ada kelainan dan komplikasi.
2. Umur Ibu
Pada penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar responden
memiliki umur resiko tinggi pada kejadian plasenta previa sebanyak 117
responden (59,7%), dari 196 responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
Gendis Ayu Ardies (2010) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto,
menyatakan bahwa responden dengan umur resiko tinggi sebanyak 60 orang
(65,9%), lebih besar di banding dengan ibu resiko rendah sebanyak 31orang
(34,4%).
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
Susilawati (2007) di RSUP Palembang BARI menyatakan bahwa responden
dengan resiko tinggi sebanyak 24 orang (6,76%),

lebih kecil dibanding

dengan ibu resiko rendah sebanyak 40 orang (11,27%).


Pada penelitin ini ternyata bahwa responden memiliki umur resiko
tinggi (< 20 tahun atau > 35 tahun) lebih besar dibandingkan responden yang
tidak memiliki umur resiko rendah (20-35 tahun), hal ini dikarenakan
responden memiliki resiko tinggi kurang peduli akan keadaan kehamilannya
dan mereka juga kurang mengetahui bahaya hamil pada umur resiko tinggi,
bisa dikarenakan menikah pada di usia yang dewasa memikirkan mengejar

prestasi/karir terlebih dahulu, ibu yang pernah menjalani pengobatan infetil


(mandul), sehingga kehamilan pada umur resiko tinggi meningkat.
3.

Riwayat Abortus
Pada penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar responden yang
memiliki riwayat abortus pada kejadian plasenta previa sebanyak 141
responden (71,9%), dari 196 responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
Gendis Ayu Ardies (2010) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo
Purwokerto, menyatakan bahwa responden dengan riwayat abortus sebanyak
51 orang (56,0%), lebih besar di banding dengan ibu resiko rendah sebanyak
40 orang (43,9%).
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Wardhana (2009) menyatakan bahwa responden dengan resiko
tinggi sebanyak 27 (34,1%), lebih kecil dibanding dengan ibu resiko rendah
sebanyak 55 orang (69,6%).
Pada penelitian ini ternyata bahwa responden yang memiliki riwayat
abortus sebanyak 141 (71,9), lebih besar dibandingkan responden yang tidak
memiliki riwayat abortus, hal ini bisa disebabkan karena sekarang ini
banyaknya kejadian hamil yang tidak diinginkan (hamil di luar nikah) yang
membuat seseorang yang sedang hamil tersebut melakukan aborsi karena
malu atas perbuatannya dan tidak mengetahui bahaya aborsi/keguguran untuk
kehamilan selanjutnya, juga bisa disebabkan karena hamil yang tidak
diinginkan ibu yang mengalami kegagalan dalam kontrasepsi sehingga ibu

tersebut ingin mengakhiri kehamilannya dengan cara minum obat tradisional


dan memakan buah-buahan yang asam untuk mengugurkan kandungannya,
sehingga ketika seseorang itu benar-benar menginginkan anak lagi, kehamilan
ibu tersebut mempunyai resiko tinggi.
4. Jarak kehamilan
Pada penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar responden
memiliki jarak kehamilan resiko tinggi pada kejadian plasenta previa
sebanyak 125 responden (63,8%), dari 196 responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
Jusvika Di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone (2010) menyatakan bahwa
responden dengan jarak kehamilan resiko tinggi sebanyak 26 orang (10,4%),
lebih besar di banding dengan jarak kehamilan resiko rendah sebanyak 14
orang (5,6%).
Penelitian ini tidak sejalan dengan Penelitian Rahayu di RSUP Dr. Sardjito
dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta menyatakan bahwa responden yang
mengalami jarak kehamilan sebanyak 62 orang (36,2%), lebih kecil
dibandingkan dengan responden yang tidak pernah

mengalami riwayat

abortus 109 orang (63,7%).


Pada penelitian ini ternyata bahwa responden memiliki jarak
kehamilan resiko tinggi sebanyak 125 orang (63,8%), lebih besar
dibandingkan, responden memiliki jarak kehamilan resiko rendah, hal ini
disebabkan responden

memiliki jarak kehamilan resiko tinggi tidak

mengikuti program keluarga berencana sehingga jarak kelahiran dengan jarak

kehamilan tidak bisa dikontrol, serta kurangnya pengetahuan terhadap resiko


jarak kehamilan yang dekat, karena mereka selalu menganggap banyak anak
itu banyak rezeki tanpa menghiraukan jarak kehamilan dan tidak mengetahui
resiko yang akan terjadi.
4.2.2
1.

Analisa Bivariat
Hubungan umur ibu dengan kejadian plasenta previa
Berdasarkan tabel analisis dapat diketahui bahwa proporsi responden
memiliki umur resiko tinggi terdiagnosa

plasenta previa sebanyak 60

responden (51,3%), lebih besar dibandingkan responden memiliki umur resiko


rendah terdiagnosa plasenta previa sebanyak 24 responden (30,4%).
Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value 0,006 0,05
yang berarti ada hubungan bermakna antara umur ibu dengan kejadian
plasenta previa, sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara
umur ibu dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang tahun 2012 terbukti secara statistik.
Hasil penelitian ini sejalalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Susilawati (2007) di RSUD Palembang BARI, dari hasil Uji Statistik
Chi-Square untuk variabel umur ibu didapatkan p Value (0,011) (0,05),
yang berarti ada hubungan antar umur dengan kejadian plasenta previa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Gendis Ayu Ardies (2010) di RSUD Dr. Margono Soekardjo Purwokerto,
dimana secara uji statistik diperoleh OR=3,364, yang berarti berhubungan,
umur resiko tinggi untuk mengalami kejadian plasenta previa 3,364 kali

beresiko, di dapatkan hasil p value 0,003 yang artinya da hubungan antara


umur ibu dengan kejaian plasenta previa.
Pada penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Zakia (2009)
di RS Dr. Sobirin Kabipaten Musi Rawas, yang menyatakn bahwa dari hasi
Uji Chi Square untuk variabel umur responden di dapatkan p value (1.000) >
(0.05) artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian plasenta
previa.
Pada penelitian ini ternyata bahwa responden memiliki umur resiko
tinggi terdiagnosa plasenta previa lebih besar, hal ini dikarenakan semakin
tua umur seseorang, maka semakin meningkat resiko terjadinya plasenta
previa, yang disebabkan oleh penurunan kinerja organ reproduksi seorang
wanita akibat pengendoran otot rahim sehingga plasenta

tidak melekat

dengan sempurna dan posisi plasenta menjadi abnormal begitu juga sistem
kekebalan tubuh menurun, dan itu relatif muda mengalami komplikasi
persalinan, pada usia < 20 tahun (usia muda) juga resiko terkena plasenta
previa karena endometrium belum siap menerima hasil konsepsi dan belum
matang untuk dibuahi. Oleh karena itu sebaiknya hamil saat berumur 20 35
tahun yang merupakan umur yang aman untuk hamil dan persalinan atau usia
refroduksi.
2. Hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa
Berdasarkan tabel analisis dapat diketahui bahwa proporsi responden
dengan riwayat abortus yang terdiagnosa plasenta previa sebanyak 53 orang

(37,6%), lebih besar dibandingkan responden tidak dengan riwayat abortus


yang terdiagnosa plasenta previa sebanyak 31 orang (56,4%).
Dari hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,026 0,05
yang berarti ada hubungan yang bermakna antara riwayat abortus dengan
kejadian plasenta previa sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan
antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 terbukti secara statistik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Gendis Ayu Ardies
(2010), di RSUD Prof, dr. Margono Soekarjo Purwokerto, menyatakan
kejadian plasenta previa pada variabel riwayat abortus didapatkan hasil p =
0,041 < 0,05 dan odds ratio 2,515 (1,036 < CI < 6,103). Hal ini menunjukkan
bahwa wanita dengan riwayat abortus memiliki resiko 2,52 kali lebih besar
untuk mengalami plasenta previa dibandingkan dengan wanita tanpa riwayat
abortus.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wardhana (2009) di
RSUD Majelangka didapatkan riwayat abortus merupakan faktor risiko
plasenta previa dengan odd rasio 3,497 (95% IK 1.183; 10.339); wanita
dengan riwayat abortus mempunyai risiko plasenta previa 4 kali lebih besar
dibanding wanita dengan tanpa riwayat abortus, dan terdapat hubungan
bermakna faktor risiko abortus dengan terjadinya plasenta previa (p = 0.024).
Pada penelitian ini ternyata responden memiliki riwayat abortus
terdiagnosa plasenta previa lebih besar dibandingkan responden yang tidak
memiliki riwayat abortus terdiagnosa plasenta previa, hal ini berkaitan

dengan jaringan parut yang ditimbulkan pada saat kuretase, dimana ketika
terjadi kehamilan berikutnya dapat mengakibatkan plasenta terbentuk tidak
pada bagian superior uterus melainkan pada bagian bawah uterus yang
disebut dengan plasenta previa. Dan riwayat abortus juga berkaitan dengan
robekan pada uterus yang mengakibatkan plasenta berubah posisi menjadi
abnormal, biasanya menutupi jalan lahir. Penyebab pasti plasenta previa
belum diketahui. Namun resiko terjadinya kondisi ini meningkat jika ibu
pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya, menjalani
operasi caesar pada persalinan sebelumnya, menjalani kehamilan kedua dan
seterusnya hamil dengan usia di atas 35 tahun,dan ibu pernah mengalami
operasi pada rahim misalnya kuret akibat keguguran atau operasi untuk
menghilangkan miom.

3. Hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa


Berdasarkan tabel analisis dapat diketahui bahwa proporsi responden
memiliki jarak kehamilan resiko tinggi terdiagnosa plasenta previa sebanyak
45 orang (36,0%), lebih besar dibandingkan responden memiliki jarak
kehamilan
(54,9%).

resiko rendah terdiagnosa plasenta previa sebanyak 39 orang

Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value 0,015 0,05
yang berarti ada hubungan bermakna antara umur ibu dengan kejadian
plasenta previa, sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara
umur ibu dengan kejadian plasenta previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang tahun 2012 terbukti secara statistik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahayu (2007) di RSUP
Dr. Sardjito dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, menyatakan bahwa
dari hasil Uji Chi square untu variabel jarak kehamilan merupakan faktor
resiko plasenta previa dengan OR =(2,95%CI)=(1,03-3,85). Dan terdapat
hubungan bermakna faktor jarak kehamilan dengan terjadinya plasenta previa
(p = 0,012).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dr. Budi Santoso (2008),
di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang menyatakan bahwa dari hasil Uji
Chi-Square untuk variabel jarak kehamilan merupakan faktor resiko plasenta
previa dengan OR (95% CI) 1,52 (0,82-2,83) wanita dengan jarak kehamilan
mempunyai resiko 2 kali lebih besar terkena plasenta previa dan terdapat
hubungan bermakna faktor jarak kehamilan dengan terjadinya plasenta previa
(p = 0,007).
Pada penelitian ini ternyata responden

memiliki jarak kehamilan

resiko tinggi (jarak kehamilan 2 tahun), yang terdiagnosa plasenta previa


lebih kecil dibandingkan responden memiliki jarak kehamilan resiko rendah.
Hal ini berkaitan dengan kehamilan yang sering dengan jarak yang singkat
akan membuat rahim terus menerus bekerja keras menahan beban, tidak

adanya kesempatan untuk istirahat dan memulihkan kondisi membuatnya


rentan sehingga membuat plasenta berimplantasi abnormal yang di sebut
plasenta previa. Jarak kehamilan yang terlalu dekat yaitu di bawah 24 bulan
terjadi gangguan kesuburan di mana terjadi perluasan implantasi plasenta
yang dapat menyebabkan pendarahan

antepartum. Seorang wanita

memerlukan 2-3 tahun antara kelahiran agar pulih alat reproduksinya.


Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum semakin
dekat jarak kelahiran dengan kehamilan berikutnya maka semakin besar
peluang kematian perinatal.

BAB V
PENUTUP
5.1

kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
pada bulan januari februari 2013 di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil distribusi frekuensi kejadian plasenta previa di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang diketahui bahwa sebagian kecil ibu bersalin
yang disertai plasenta previa sebanyak 84 orang (42,9%) dari 196 responden
2. Dari hasil distribusi frekuensi umur ibu dengan kejadian plasenta previa di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang diketahui bahwa sebagian besar ibu
dengan umur resiko tinggi sebanyak 117 orang (59,7%) dari 196 responden.
3. Dari hasil distribusi frekuensi riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang diketahui bahwa sebagian besar
ibu bersalin dengan riwayat abortus sebanyak 141 orang (71,9%) dari 196
responden.
4. Dari hasil distribusi frekuensi jarak kehamilan dengan kejadian plasenta
previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang diketahui bahwa sebagian
besar ibu bersalin dengan jarak kehamilan sebanyak 125 orang (63,8%) dari
196 responden.
5. Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value (0.006) (0,05)
sehingga hipotesis terbukti secara statistik

yang menyatakan bahwa ada

hubungan bermakna antara umur ibu dengan kejadian plasenta previa, di


RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
6. Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value (0,026) (0,05)
sehingga hipotesis terbukti secara statistik

yang menyatakan bahwa ada

hubungan bermakna antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa,


previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.
7. Dari hasil uji statistik uji chi square di peroleh p Value (0,015) (0,05)
sehingga hipotesis terbukti secara statistik

yang menyatakan bahwa ada

hubungan bermakna antara jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa,


previa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012.

5.2
1.

Saran
Diharapkan dapat meningkatkan sumber-sumber bacaan baik buku-buku,
majalah-majalah kesehatan terkini tentang penelitian terdahulu yang dapat
digunakan untuk melengkapi referensi kepustakaan yang akan menunjang
penelitian selajutnya.
2. Diharapkan agar dapaat meneliti variabel lain yang lebih bervariasi dan
mencakup penelitian yang lebih luas dengan metode penelitian yang berbeda
terutama yang berhubungan dengan kejadian plasenta previa. sehingga
penelitian tentang plasenta previa dapat terus berkembang. Dan juga kepada
pihak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, khususnya petugas poli dan
ruangan perawatan kebidanan diharapkan dapat meningkatkan penyuluhan
kepada remaja, PUS (pasangan usia subur) dan ibu hamil terutama resiko

plasenta previa, dengan mengembangkan program KIE (Komunikasi,


Informasi, Edukasi) dan konseling mengenai penanganan secara dini
komplikasi yang mungkin terjadi sehingga angka kesakitan atau kematian
akibat kejadian plasenta previa lebih menurun.

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012
Plasenta Previa

No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

No
Medr
ec

57697
9
57711
6
57290
4
58113
0
58251
9
58333
4
58043
1
58390
5
58216
8
58411
6

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
2035
>35
tah
tah
un)
un)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

Jarak kehamila

(
k
>2

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

58618
8
58872
3
58869
4
58983
3
58950
2
59076
8
59395
7
59641
1
59615
3
59520
5
59754
1
59739
9
59692
0
59957
2
60220
8

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG TAHUN 2012
Plasenta Previa

No

26
27
28
29

No
Medr
ec

60581
5
60220
8
60404
9
60254
2

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting
Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
20-35
tah
>35
un)
tah
un)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamila

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

k
>2

30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

60575
2
60615
1
60615
4
60608
8
60676
9
60386
9
60852
3
61022
4
61192
2
61178
6
61264
4
61200
8
61377
7
60671
1
59934
7
61840
9
61745
0
61956
0
62622
9
62159
7
62124
8

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG TAHUN 2012
Plasenta Previa

No

51

No
Medr
ec

60214
0

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
2035
>35
tah
tah
un)
un)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamila

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

(
k
>2

52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75

62161
8
62207
0
62448
2
62446
9
62662
5
62255
1
62716
8
62520
2
62695
9
63024
6
62930
5
62925
7
63090
7
63099
5
63090
4
62605
1
63440
1
63315
7
63311
4
63528
6
63511
0
63666
0
63591
4
63762
6

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG TAHUN 2012
No

No
Med
rec

Plasenta Previa
Ya (bila
ter
diagno

Tidak (bila
tidak
terdiag

Umur Ibu
Resiko Resiko
ting
ren
gi
dah
(bil
(bila

Riwayat Abortus
Ya (bila
pernah
mengala

Tidak (bila
tidak
pernah

Jarak kehamil
Resiko tinggi
R
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

sa
plasent
a
previa)

76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95

63850
8
63866
6
63859
2
68686
1
64334
5
64735
4
64177
7
64856
8
64975
5
64935
9
65022
9
64978
0
65151
2
65156
1
65567
2
65433
1
65468
8
65806
8
66016
3
65947
9

nosa
Plasent
a
previa)

a
um
ur
ibu
<20
>35
tah
un)

um
ur
ibu
2035
tah
un)

mi
kegugur
an)

mengala
mi
kegugur
an)

>2

65561
2
66172
97
4
66132
98
6
66226
99
5
10 63852
0
9
96

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN

PALEMBANG
Plasenta Previa

No

10
1
10
2
10
3
10
4
10
5
10
6
10
7
10
8
10
9
11
0
11
1
11
2
11
3
11
4
11
5
11
6
11
7

No
Medr
ec

66504
4
66666
7
66679
3
67164
1
67114
2
67111
7
67032
3
67200
66941
3
63426
3
67648
0
67548
5
66679
7
67550
5
67990
4
67924
3
67078
2

Ya (bila di
terdi
agnosa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

TAHUN 2012

Umur Ibu
Resiko
ting Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
2035
>35
tah
tah
un)
un)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamil

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

(
k
>2

11
8
11
9
12
0
12
1
12
2
12
3
12
4

68158
9
68176
8
68194
7
68393
1
68362
6
68709
8
68871
8

12

481451
5

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012
Plasenta Previa

No

No
Medr
ec

126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141

481571
432135
437329
482140
482148
481484
482513
482507
482323
482576
550216
550242
549733
523249
523857
526161

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
2035
>35
tah
tah
un)
un)

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamil

Riwayat Abortus

(
k
>2

142
143
144
145
146
147
148
149
150

526130
526699
527470
528427
529393
529484
529425
481451
481571

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

Plasenta Previa

No

15

No
Medr
ec

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamil

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

432135
1

15

437329
2

15

482140
3

15

482148
4

15

481484
5

15

482513
6

15

482507
7

15

482323
8

15

482576
9

16

550216
0

16

550242
1

16

549733
2

16

523249
3

16

523857
4

16

526161
5

16

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
ibu
<20
2035
>35
tah
tah
un)
un)

526130

(
k
>

6
16

526699
7

16

527470
8

16

528427
9

17

529484
529425

529393
0

17

1
17
2
17

66504
4
17
66666
4
7
17
66679
5
3

LEMBAR CHECK LIST

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
TAHUN 2012
Plasenta Previa

No

176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188

No
Medr
ec

66504
4
66666
7
66679
3
67164
1
67114
2
67111
7
67032
3
67200
66941
3
63426
3
67648
0
67548
5
66679
7

Ya (bila
ter
diagno
sa
plasent
a
previa)

Tidak
(bila
tidak
ter
diagno
sa
Plasen
ta
previa)

Umur Ibu
Resiko
ting
Resiko
gi
ren
(bil
dah
a
(bila
um
um
ur
ur
ibu
20<20
35
tah
>35
un)
tah
un)

Riwayat Abortus

Ya (bila
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Resiko tinggi
(bila jarak
kehamilan
<2 tahun)

Tidak (bila
tidak
pernah
mengala
mi
kegugur
an)

Jarak kehamil

(
k
>2

189
190
191
192
193
194
195
196

67550
5
67990
4
67924
3
67078
2
68158
9
68176
8
68194
7
68393
1

Jumlah

79

141

84

112

117

55

125

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

No
Medrec
576979
577116
572904
581130
582519
583334
580431
583905
582168
584116
586188
588723
588694
589833
589502
590768
593957

Plasenta
Previa

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

2
2
1
2
1
1
1
1
1
2
1
1
2
2
2
2
2

1
1
1
1
2
1
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1

1
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2
2
1
2
1
2
1

Jarak
Kehamila
n

1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

596411
596153
595205
597541
597399
596920
599572
602208
605815
602208
604049
602542
605752

2
2
2
2
2
1
2
1
1
2
2
1
2

1
1
1
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2

1
1
1
1
1
2
1
2
2
1
1
2
1

1
1
1
1
1
2
2
2
2
1
1
2
1

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46

No
Medrec
606151
606154
606088
606769
603869
608523
610224
611922
611786
612644
612008
613777
606711
599347
618409
617450

Plasenta
Previa
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

2
2
1
2
1
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
2

2
1
2
1
1
1
2
2
2
2
1
1
1
1
1
2

Jarak
Kehamila
n

1
1
2
1
2
1
1
1
2
2
2
2
1
1
1
2

47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60

619560
626229
621597
621248
602140
621618
622070
624482
624469
626625
622551
627168
625202
626959

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2

1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

No
Medrec
630246
629305
629257
630907
630995
630904
626051
634401
633157
633114
635286
635110
636660
635914
637626
638508

Plasenta
Previa
1
2
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2

1
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
2
1
2
2
2

Jarak
Kehamila
n

1
1
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
2
2
2
1

77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91

638666
638592
686861
643345
647354
641777
648568
649755
649359
650229
649780
651512
651561
655672
654331

1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

2
2
2
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
2
2

2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
2
2

1
2
1
2
2
2
1
2
1
1
2
2
1
1
1

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108

No
Medrec
654688
658068
660163
659479
655612
661724
661326
662265
638529
665044
666667
666793
671641
671142
671117
670323
67200

Plasenta
Previa
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

1
1
1
1
2
2
2
2
2
1
2
1
1
1
2
1
2

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Jarak
Kehamila
n

1
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2

109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122

669413
634263
676480
675485
666797
675505
679904
679243
670782
681589
681768
681947
683931
683626

2
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1

1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1

1
2
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138

No
Medrec
576979
577116
572904
581130
582519
583334
580431
583905
582168
584116
586188
588723
588694
589833
589502
590768

Plasenta
Previa
1
1
2
1
1
2
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

1
2
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1

1
1
1
2
2
1
1
1
1
2
2
1
1
2
2
2

Jarak
Kehamila
n

1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
2
1
2
2
1
1

139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152

593957
596411
596153
595205
597541
597399
596920
599572
602208
605815
602208
604049
602542
605752

1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
1
1

1
2
1
1
1
2
2
2
2
1
2
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
2

1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168

No
Medrec

432135
437329
482140
482148
481484
482513
482507
482323
482576
550216
550242
549733
523249
523857
526161
526130

Plasenta
Previa
1
1
1
1
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
2
1

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1

1
1
1
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2

Jarak
Ke2hamil
an

1
2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
1
2
2
1
2

169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183

526699
527470
528427
529393
529484
529425
665044
665044
666667
666793
671641
671142
671117
670323
67200

2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
2
2

1
1
2
1
2
1
2
1
1
1
1
2
1
1
2

1
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
1
1

1
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
1

LEMBAR TABULASI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGANDENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

No
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196

No
Medrec
665044
666667
666793
671641
671142
671117
670323
67200
669413
634263
676480
675485
666797

Plasenta
Previa
2
2
2
2
1
2
1
2
1
1
1
2
2

Umur Ibu

Riwayat
Abortus

2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
2
2
2

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Jarak
Kehamila
n

2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1

Keterangan
Plasenta Previa

Umur Ibu

Riwayat Abortus

Jarak kehamilan

1. Ya

1. Resiko Tinggi

1. Ya

1. Resiko tinggi

2. Tidak

2. Resiko rendah

2. Tidak

2. Resiko Rendah

HASIL UJI ANALISA UNIVARIAT (CHI SQUARE)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGANDENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012
1. Plasenta previa
Frequensi Table
Kejadian Plasenta Previa

Valid

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

ya

84

42.9

42.9

42.9

tidak

112

57.1

57.1

100.0

Total

196

100.0

100.0

2. Umur Ibu
Frequensi Table
umur ibu

Valid

3.

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

resiko tinggi

117

59.7

59.7

59.7

resiko rendah

79

40.3

40.3

100.0

Total

196

100.0

100.0

Riwayat Abortus
Frequensi Table
riwayat abortus

Valid

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Ya

141

71.9

71.9

71.9

tidak

55

28.1

28.1

100.0

Total

196

100.0

100.0

4. Jarak Kehamilan
Frequensi Table
jarak kehamilan
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

resiko tinggi

125

63.8

63.8

63.8

resiko rendah

71

36.2

36.2

100.0

196

100.0

100.0

Total

HASIL UJI ANALISA BIVARIAT (CHI SQUARE)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGANDENGAN


KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUP
DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
TAHUN 2012

1. Umur ibu dengan kejadian Plasenta Previa


Case Processing Summary
Cases
Valid

umur ibu * kejadian plasenta


previa

Missing

Total

Percent

Percent

Percent

196

100.0%

.0%

196

100.0%

Crosstab

kejadian plasenta previa

umur ibu

resiko tinggi

Count
% within umur ibu

Count

% within umur ibu


Pearson Chi-Square
% of Total
Continuity
Correctionb
Total

tidak

Total

60

57

117

51.3%
48.7%
100.0%
Chi-Square Tests
30.6%
29.1%
59.7%
Value
df
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
24
55
79
(2-sided)
(2-sided)
(1-sided)
30.4% a
69.6%
100.0%
8.413
1
.004
12.2%
28.1%
40.3%
7.581
1
.006

% of Total
resiko rendah

ya

Count Ratio
Likelihood

848.561

1121

196
.003

% within
Fisher's
Exact umur
Test ibu

42.9%

57.1%

100.0%

Linear-by-Linear
% of Total Association

8.370
42.9%

1
57.1%

.004
100.0%

N of Valid Casesb

.005

196

Risk expected
Estimate count less than 5. The minimum expected count is 33,86.
a. 0 cells (,0%) have
b. Computed only for a 2x2 table Value

95% Confidence Interval


Lower

Upper

Directional
Measures 2.412
Odds Ratio for umur ibu (resiko tinggi
/ resiko rendah)

1.322

4.400

For cohort kejadian plasenta previa = ya

1.688

1.157

Value
2.463

Nominal
bykejadian
Interval plasenta
Etaprevia = tidak
umur ibu Dependent .700
For cohort

.553

.207
.886

196 Dependent
kejadian plasenta previa
Symmetric Measures

.207

N of Valid Cases

2.
R

Appro
Asymp. Std. Approx.
Value

Error

x.
Sig.

Interval by Interval

Pearson's R

.207

.069

2.950

.004c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

.207

.069

2.950

.004c

Measure of Agreement

Kappa

.196

.066

2.901

.004

N of Valid Cases

196

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

iwayat Abortus dengan kejadian Plasenta Previa

.003

Case Processing Summary


Cases
Valid

riwayat abortus * kejadian


plasenta previa

Missing

Total

Percent

Percent

Percent

196

100.0%

.0%

196

100.0%

Crosstab
kejadian plasenta previa

riwayat abortus ya

ya

tidak

Total

53

88

141

% within riwayat abortus

37.6%

62.4%

100.0%

% of Total

27.0%

44.9%

71.9%

31

24

55

% within riwayat abortus

56.4%

43.6%

100.0%

% of Total

15.8%

12.2%

28.1%

84

112

196

% within riwayat abortus

42.9%

57.1%

100.0%

% of Total

42.9%

57.1%

100.0%

Count

tidak Count

Total

Count

Chi-Square Tests
Exact Sig.
Asymp. Sig.

Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Value

df

(2-sided)

5.695a

.017

4.954

.026

5.659

.017

Exact Sig.
(2-sided)

Fisher's Exact Test

.024

Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

5.666

(1sided)

.013

.017

196

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23,57.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value

Lower

Upper

Odds Ratio for riwayat abortus (ya / tidak)

.466

.248

.878

For cohort kejadian plasenta previa = ya

.667

.487

.914

For cohort kejadian plasenta previa = tidak

1.430

1.032

1.983

N of Valid Cases

196
Directional Measures
Value

Nominal by Interval Eta

riwayat abortus Dependent

.170

kejadian plasenta previa Dependent

.170

Symmetric Measures
Asymp. Std. Approx.

Interval by Interval

Pearson's R

Ordinal by Ordinal

Spearman
Correlation

Measure of Agreement

Kappa

N of Valid Cases

Approx.

Value

Error

Sig.

-.170

.071

-2.409

.017c

-.170

.071

-2.409

.017c

-.143

.061

-2.386

.017

196

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

3. Jarak Kehamilan dengan kejadian Plasenta Previa


Case Processing Summary
Cases
Valid

jarak kehamilan * kejadian


plasenta previa

Missing

Total

Percent

Percent

Percent

196

100.0%

.0%

196

100.0%

Crosstab
kejadian plasenta previa

jarak kehamilan resiko

ya

tidak

Total

45

80

125

36.0%

64.0%

100.0%

23.0%

40.8%

63.8%

39

32

71

54.9%

45.1%

100.0%

19.9%

16.3%

36.2%

84

112

196

% within jarak kehamilan

42.9%

57.1%

100.0%

% of Total

42.9%

57.1%

100.0%

Count

tinggi % within jarak kehamilan


% of Total
resiko

Count

renda % within jarak kehamilan


h
% of Total
Total

Count

Chi-Square Tests
Exact Sig.
Asymp. Sig.
Value

Df

(2-sided)

Pearson Chi-Square

6.625a

.010

Continuity Correctionb

5.875

.015

Likelihood Ratio

6.610

.010

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Casesb

6.592

(2-

Exact Sig.

sided)

(1-sided)

.011

.008

.010

196

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 30,43.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence
Interval
Value

Lower

Upper

.462

.255

.835

For cohort kejadian plasenta previa = ya

.655

.478

.898

For cohort kejadian plasenta previa = tidak

1.420

1.064

1.895

Odds Ratio for jarak kehamilan (resiko tinggi / resiko


rendah)

N of Valid Cases

196
Directional Measures
Value

Nominal by Interval

Eta

jarak kehamilan Dependent

.184

kejadian plasenta previa Dependent

.184

Symmetric Measures
Asymp. Std. Approx.
Value
Interval by Interval

Pearson's R

Ordinal by Ordinal

Spearman
Correlation

Measure of Agreement

Kappa

N of Valid Cases

Error

Approx.
Sig.

.184

.071

-2.605

.010c

.184

.071

-2.605

.010c

.168

.066

-2.574

.010

196

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.