Anda di halaman 1dari 16

UJIAN KOMPETENSI DASAR 3

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

IMPLEMENTASI KONSEPSI GEOPOLITIK


DALAM MENGUATKAN KEHIDUPAN
PERTANIAN

Oleh :

CECILIA RETNO AYU MUNINGGAR


H0912028
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah geopolitik untuk bangsa Indonesia dipopulerkan pertama kali
oleh Ir. Soekarno. Pada pidatonya di hadapan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni
1945. Dalam pidato tersebut, berdasarkan geopolitik, wilayah Indonesia adalah
satu kesatuan wilayah dari Sabang sampai Merauke, yang terletak antara dua
samudera dan dua benua. Kesatuan antara bangsa Indonesia dengan wilayah tanah
air itulah yang membentuk semangat dan wawasan kebangsaan, yaitu sebagai
bangsa yang bersatu. Rasa kebangsaan Indonesia dibentuk oleh adanya kesatuan
nasib, jiwa untuk bersatu dan kehendak untuk bersatu serta adanya kesatuan
wilayah yang sebelumnya, bernama Nusantara.
Prinsip geopolitik Indonesia sebagaimana tersebut di atas menandakan
bahwa dalam hal wilayah, bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk mempeluas
wilayah sebagai ruang hidup. Secara historis, kesepakatan para pendiri negara
Republik Indonesia adalah wilayah Indonesia merdeka hanyalah wilayah bekas
jajahan Belanda atau eks Hindia Belanda.
Geopolitik bertumpu pada geografi sosial, mengenai situasi, kondisi, atau
konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan karakteristik
geografi suatu negara.
Sebagai negara kepulauan, dengan masyarakat yang berbhinneka, negara
Indonesia memiliki unsur-unsur kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatannya
terletak pada posisi dan keadaan geografi yang strategis dan kaya sumber daya
alam.

Sementara

kelemahannya

terletak

pada

wujud

kepulauan

dan

keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa dan satu
tanah air, sebagaimana telah diperjuangkan oleh para pendiri negara ini.
Dorongan kuat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia tercermin
pada momentum sumpah pemuda tahun 1928 dan kemudian dilanjutkan dengan

perjuangan kemerdekaan yang puncaknya terjadi pada saat proklamasi


kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 (Bustanul, 2010).
Sebagai negara kepulauan dengan masyarakatnya yang beraneka ragam,
negara Indonesia memiliki unsur-unsur kekuatan dan sekaligus kelemahan.
Kekuatannya terletak pada posisi dan keadaan geografi yang strategi dan kaya
akan sumber daya alam. Sementara kelemahannya terletak pada wujud kepulauan
dan keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa dan
satu tanah air, sebagaimana telah diperjuangkan oleh para pendiri negara.
Dalam pelaksanannya bangsa Indonesia tidak bebas dari pengaruh
interaksi dan interelasi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan regional
maupun internasional. Dalam hal ini bangsa Indonesia perlu memiliki prinsipprinsip

dasar

sebagai

pedoman

agar

tidak

terombang-ambing

dalam

memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai cita-cita dan tujuan


nasionalnya. Salah satu pedoman bangsa Indonesia adalah wawasan nasional
yang berpijak pada wujud wilayah nusantara.
Indonesia dikaruniai kurang lebih 18.110 buah pulau. Adalah kenikmatan
yang sangat besar untuk disyukuri oleh masyarakat Indonesia, seperti yang
tersurat dalam naskah pembukaan UUD 1945 alinea ketiga, Atas berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan
dengan ini kemerdekaannya.
Penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sistem
kehidupan nasional bersumber dari dan bermuara pada landasan ideal pandangan
hidup dan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaannya bangsa
Indonesia tidak bebas dari pengaruh interaksi dan interelasi dengan lingkungan
sekitarnya, baik lingkungan regional maupun internasional. Dalam hal ini bangsa
Indonesia perlu memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai pedoman agar tidak

terombang-ambing dalam memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai


cita-cita dan tujuan nasionalnya.
Indonesia adalah negara agraris yang sebagaian besar rakyatnya bermata
pencaharian sebagai petani. Pendapatan devisa negara bergantung pada aspek
pertanian, sehingga sumber utama pendapatan negara dilakukan melalui
pendekatan

ekspor. Ir. Soekarno sebagai presiden pertama repulik Indonesia

pernah mengatakan bahwa pangan adalah harga mati. Yang dimaksud disini
adalah kebutuhan mendasar bagi ketahanan kehidupan masyarakat indonessia
ditentukan oleh peran pertanian itu sendiri. Permasalahan umum yang perlu dicari
jalan keluar adalah bagaimana keberkaitan pertanian dengan keberlangsungan
hidup Negara dari sudut pandang geopolitik.
Kepentingan nasional yang mendasar bagi bangsa Indonesia itulah yang
menjadi upaya menjamin persatuan dan kesatuan wilayah, bangsa, dan segenap
aspek kehidupan nasionalnya. Karena hanya dengan upaya inilah bangsa dan
negara Indonesia dapat tetap eksis dan dapat melanjutkan perjuangan menuju
masyarakat yang dicita-citakan (Suryana, 2003).
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan geopolitik ?
2. Apa yang menjadi ruang lingkup geopolitik di Indonesia ?
3. Bagaimana konsepsi, implementasi dan unsur dasar geopolitik di Indonesia ?
4. Bagaimana implementasi konsepsi geopolitik dalam menguatkan kehidupan
pertanian Indonesia ?
C. Tujuan
1. Mengetahui arti geopolitik dan geopolitik di Indonesia.
2. Mengetahui ruang lingkup geopolitik di Indonesia.
3. Mengetahui implementasi konsepsi geopolitik di Indonesia.
4. Mengetahui implementasi konsepsi geopolitik dalam menguatkan kehidupan
pertanian Indonesia.

BAB II
ISI
A. Pembahasan
a. Pengertian Geopolitik
Geopolitik berasal dari kata geo dan politik. Geo berarti bumi dan
politik berasal dari bahasa Yunani politeia. Poli artinya kesatuan masyarakat
yang berdiri sendiri dan teia artinya urusan. Geopolitik merupakan ilmu
penyelenggaraan negara yang setiap kebijakannya dikaitkan dengan masalahmasalah geografi wilayah atau tempat tinggal suatu bangsa. Geopolitik biasa
juga di sebut dengan wawasan nusantara. Geopolitik diartikan sebagai sistem
politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi
nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang
titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau territorial
dalam arti luas) suatu negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan
berdampak langsung kepada sistem politik suatu negara. Sebaliknya, politik
negara itu secara langsung akan berdampak pada geografi negara yang
bersangkutan. Geopolitik bertumpu pada geografi sosial, mengenai situasi,
kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan
dengan karakteristik geografi suatu negara. Maka kebijakan penyelenggaraan
bernegara didasarkan atas keadaanatau tempat tinggal negara itu. Geopolitik
juga bisa disebut wawasan nusantara.
b. Ruang Lingkup Geopolitik di Indonesia
Wilayah didefinisikan sebagai ruang yang merupakan kesatuan
geografis beserta segenap unsur terkait padanya, yang batas dan sistemnya
ditentukan berdasarkan pada aspek administratif dan atau aspek fungsional
(Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta
untuk Penataan Ruang Wilayah Presiden Republik Indonesia). Sedangkan
definisi lain mengatakan bahwa wilayah adalah sebuah daerah yang dikuasai
atau menjadi teritorial dari sebuah kedaulatan. Pada masa lampau, seringkali
sebuah wilayah dikelilingi oleh batas-batas kondisi fisik alam, misalnya

sungai, gunung, atau laut. Sedangkan setelah masa kolonialisme, batas-batas


tersebut dibuat oleh negara yang menduduki daerah tersebut, dan berikutnya
dengan adanya negara bangsa, istilah yang lebih umum digunakan adalah
batas nasional.
Adapun ruang mengandung pengertian sebagai wadah yang meliputi
ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta
memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang itu terbatas dan jumlahnya relatif
tetap. Sedangkan aktivitas manusia dan pesatnya perkembangan penduduk
memerlukan ketersediaan ruang untuk beraktivitas senantiasa berkembang
setiap hari. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan ruang semakin tinggi.
Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan dikelola
secara terkoordinasi, terpadu, dan berkelanjutan.
Konsep penguasaan wilayah geografis harus menyatu dengan sistem
politik yang dianut oleh Indonesia, sehingga penjagaan terhadap sejengkal
wilayah NKRI juga sama bobotnya dengan kedaulatan negara ini. Konsep
Geopolitik digunakan untuk memperkaya wawasan dan kesadaran akan arti
penting wilayah NKRI sebagai ruang hidup seluruh rakyat Indonesia.
c. Konsepsi Geopolitik di Indonesia
Geopolitik adalah suatu sistem perpolitikan yang mengatur hubungan
antar negara-negara yang letaknya berdekatan di atas permukaan planet bumi
ini, yang mutlak dimiliki dan diterapkan oleh setiap negara dalam melakukan
interaksi dengan sesama negara di sekitarnya. Tak terkecuali Indonesia.
Indonesia pun harus memiliki sistem geopolitik yang cocok diterapkan

dengan kondisi kepulauannya yang unik dan letak geografis negara Indonesia
di atas permukaan planet bumi ini.
Geopolitik adalah politik yang tidak lepas dari pengaruh letak dan
kondisi geografis bumi yang menjadi wilayah hidup. Politik dalam
ketatanegaraan berdasarkan tiga hal, yaitu bagaimana menyatukan bangsa dan
nusanya, bagaimana cara berpemerintahan dengan bangsa yang majemuk, dan
bagaimana menyejahterakan bangsa dan rakyatnya. Tiga hal ini atas dasar tiga
hal pokok pikiran dalam Pembukan UUD 1945, sebagai fundamen politik
negara.
Politik ketatanegaraan yang mendasarkan pengaruh geografis bumi
maka yang penting adalah manusia yang hidup di atas bumi itulah berperan
sebagai penentu terhadap bumi tempatnya berada, sehingga geopolitik adalah
ilmu tentang pengaruh faktor-faktor geografis terhadap ketatanegaraan.
Keadaan geografi dan demografi Indonesia sebagai negara terbesar di
Asia Tenggara merupakan negara kepulauan (negara maritim), dimana 65%
terdiri atas lautan, sedang 35% terdiri atas daratan. Daratan terdiri atas
17.508 pulau maupun gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang seluruhnya
2.028.087 km. Pulau-pulau yang besar antara lain Sumatera, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, dan Irian Jaya (Papua), dan sekitar 6.044 di antaranya
memakai nama. Wilayah Indonesia seluruhnya adalah 5.193.250 km.
Kepulauan Indonesia bertebaran sebelah menyebelah khatulistiwa, dengan
ketentuan :
Panjang wilayah mencakup khatulistiwa.
Jarak terjauh utara-selatan 1.888 km.
Jarak terjauh barat-timur 5.110 km.
Terletak diantara 06 LU11 LS, dan di antara 94141BT.

Jumlah luas keseluruhan daratan pulau-pulau adalah 1.849.731 km.


Luas lautan dari seluruh wilayah.
Persebaran penduduk tidak merata.
Kepulauan Indonesia yang terletak di wilayah bagian barat adalah
daratan lebih menonjol, sedangkan di bagian timur lautan yang lebih
dominan. Di samping itu pada umumnya wilayah Indonesia adalah subur,
kecuali Kalimantan yang sebagian subur dan sebagian kurang, sedangakan
Irian Jaya pada umumnya kurang subur, kecuali daerah dataran tinggi
(Bustanul, 2005).
d. Unsur Dasar Geopolitik di Indonesia
Geopolitik Indonesia sebagai fenomena atau gejala sosial harus dilihat
sebagai gejala dinamis, yang selalu mengusahakan persatuan dan kesatuan.
Persatuan merupakan suatu proses, yaitu usaha ke arah berastu untuk
menjadikan keseluruhan kea rah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, atau
dengan istilah lain sifat-sifat dan keadaan yang sesuai dengan hakikat satu,
yaitu mutlak tidak dapat terbagi dan terpisahkan dari yang lain. Dan sebagai
gejala sosial yang dinamis, geopolitik harus selalu berkembang terus yang
konsisten dan relevan, dengan berlandaskan konsepsi dasar dan konsepsi
pelaksana geopolitik Indonesia.
e.

Implementasi Geopolitik Indonesia


Pengaruh letak bumi pada posisi silang terhadap ketatanegaraan bagi
bagsa Indonesia mula pertama terasa penting dan mendesak dengan
menyatukan nusa dan bangsanya dalam rangka usaha mengembangkan
konsepsi ketahanan nasional atau geostrategic Indonesia, mengingat bangsa
Indonesia yang terdiri atas beberapa suku bangsa dan beraneka budaya serta

bermacam-macam agama, maka konsep geopolitik di Indonesia perlu


dilaksanakan untuk mencapai tujuan bangsa dan negara.
Batasan tersebut merupakan suatu ajaran tentang geopolitik Indonesia,
maka perlu pelaksanaan dan penerapannya. Adapun pelaksanaan geopolitik
Indonesia sejak wawasan nusantara diresmikan oleh MPR dengan TAP MPR
nomor IV tahun 1973, yaitu meliputi empat aspek, perwujudan kepulauan
nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi, perwujudan kepulauan nusantara
sebagai satu kesatuan sosial budaya, perwujudan kepulauan nusantara sebagai
satu kesatuan pertahanan dan keamanan. Di samping bangsa Indonesia
melaksanakan empat aspek juga menerapkan wawasan nusantara sebagai
geopolitik Indonesia.
f. Implementasi Konsepsi Geopolitik Dalam Menguatkan Kehidupan
Pertanian Indonesia
Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2002 tentang Pertahanan Negara, strategi pertahanan negara berhubungan
dengan pandangan geopolitik yang diarahkan kepada upaya menjaga
kedaulatan politik Indonesia dengan memanfaatkan sebesar-besarnya kondisi
geografis Indonesia, sehingga pandangan geopolitik Indonesia akan berbeda
dengan rumusan di atas. Geopolitik Indonesia adalah kebijakan dalam rangka
mencapai tujuan nasional dengan memanfaatkan keuntungan letak geografis
negara berdasar pengetahuan ilmiah tentang kondisi geografis tersebut. Pada
sisi lain, geopolitik Indonesia sebagai elemen penting dari bargaining
position terhadap dunia internasional demi mencapai kesejahteraan bangsa
(Hambali, 2012).
Seperti telah disebutkan di atas, pencapaian tujuan nasional dapat
dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam Indonesia. Potensi terbesar
Indonesia berada pada sektor pertanian, karena memiliki 5 dari beberapa

pulau terbesar dunia, dengan tingkat kesuburan tanah yang mendukung untuk
mengembangkan sektor pertanian. Hal ini dibuktikan dengan tingkat
biodiversitas Indonesia yang menempati tempat kedua tertinggi di dunia
setelah Brazil. Seharusnya, dengan sumberdaya pertanian yang melimpah,
sudah sejak lama Indonesia bisa memiliki peran penting dalam percaturan
politik internasional. Tetapi, hal itu belum kunjung terjadi dan Indonesia
masih bisa didikte saat membuat kebijakan nasional oleh negara-negara lain.
Hal ini bisa terjawab dengan realita yang ada. Pengelolaan sumber
daya yang buruk, munculnya berbagai macam kepentingan pribadi dan
golongan membuat posisi normatif Indonesia di kancah internasional tertunda,
atau dapat dibilang oknum-oknum tadi menunda takdir Indonesia sebagai
pemimpin dunia.
Permasalahan semakin mengerucut ketika dalam situs resmi
Sekretariat Negara Republik Indonesia (Setneg), Kepala Badan Pusat Statistik
(BPS), Rusman Heriawan memperingatkan adanya penyusutan luas panen
lahan padi nasional. Tahun 2010 terjadi penyusutan seluas 12,63 ribu hektar
atau 0,1% total luas lahan. Secara keseluruhan, lahan pertanian di Indonesia
berkurang 27 ribu hektar pertahun. Sehingga, penurunan luas panen tidak
hanya terjadi pada padi, tetapi juga pada komoditas lainnya, seperti kedelai.
Penyusutan ini terjadi akibat alih fungsi lahan pertanian, sebagaimana data
yang dipaparkan oleh Badan Ketahanan Pangan Nasional, yaitu sepanjang
tahun 2009 telah terjadi alih fungsi lahan pertanian hingga mencapai 110 ribu
hektar. Angka ini tentu sangatlah besar mengingat kemampuan Pemerintah
untuk mencetak lahan pertanian baru per tahunnya hanya kurang dari
separuhnya, yakni 50 ribu ha, sebagaimana disampaikan Kementerian
Pertanian (Kementan) sebelumnya di dalam situs resminya (Bambang, 2010).
Dalam UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, disebutkan bahwa dalam hal untuk kepentingan umum,

maka lahan pertanian dapat dialihfungsikan. Namun perlu dikaji lebih lanjut
mengenai bentuk kepentingan umum yang dimaksud dalam pasal tersebut dan
jangan sampai dimanfaatkan atau disalah-artikan oleh pihak-pihak tertentu
yang menjadikan kepentingan umum sebagai dalih untuk melakukan alih
fungsi lahan pertanian. Selain ancaman terhadap penurunan jumlah produksi
pertanian, alih fungsi lahan pertanian juga berdampak pada hilangnya
investasi yang telah dilakukan untuk membangun irigasi dan prasarana
lainnya. Kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya akibat alih fungsi
sebagian lahan, antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung
kelebihan air limpahan yang bisa membantu mengurangi banjir. Kerugian itu
masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi
petani penggarap, buruh tani, dan sektor-sektor pedesaan lainnya.
Sebagaimana diketahui bahwa sektor pertanian, terutama padi, merupakan
sektor yang paling banyak menyediakan lapangan kerja.
Sehubungan dengan program ketahanan pangan nasional, Presiden RI
menegaskan dalam sambutannya pada acara pembukaan konferensi ketahanan
pangan 2010 pada tanggal 24 Mei 2010 di Jakarta Convention Center, tentang
sejumlah isu mengenai ketahanan pangan yang menurut Presiden perlu
dicarikan solusinya secara bersama-sama adalah :
1.

Sinergi dan integrasi sistem.

2.

Peningkatan sejumlah komoditas pertanian menuju swasembada.

3.

Sistem cadangan dan distribusi.

4.

Rantai suplai dan logistik nasional yang efisien.

5.

Kerentanan dan kerawanan pangan.

6.

Stabilitas harga, termasuk keterjangkauan harga sembako.

7.

Penganekaragaman konsumsi pangan.

8.

Monitoring sistem yang efektif dan kredibel.

9.

Keseimbangan penawaran dengan permintaan.

Untuk menindaklanjuti pernyataan presiden, pemerintah melalui


Menko Perekonomian, Hatta Radjasa memaparkan, untuk mendorong Visi
pembangunan Ekonomi Indonesia 2025, pemerintah telah menetapkan
delapan program utama dan 18 aktivitas ekonomi, dan sektor pertanian
termasuk dalam prioritas tertinggi. Dapat terlihat jelas di dalam pernyataan
Presiden bahwa kunci peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia terletak
pada manajemen sumberdaya pertanian yang kurang baik (Hilman, 2006).
Fakta yang terjadi di dunia internasional sekarang ini, kemiskinan
yang meningkat, kelaparan, dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.
Menurut FAO, organisasi pangan dan pertanian PBB yang mengeluarkan
Indeks Harga Pangan (Food Price Index) untuk memonitor perubahan harga
rata-rata dalam satu bulan pada beberapa jenis makanan pokok, melonjak ke
236 poin pada Februari 2011, dibandingkan pada Januari 2011 yang sebesar
231. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak FAO memulai
perhitungan Indeks Harga Pangan tersebut di tahun 1990.
Krisis pangan khususnya di beberapa negara telah menimbulkan
gejolak politik yang mampu menggulingkan rezim penguasa seperti di Haiti,
Tunisia, dan Mesir. Salah satu pendorong gejolak politik dan demonstrasi
menentang pemerintah adalah kenaikan harga pangan kebutuhan pokok
masyarakat.

Krisis

pangan

juga

merupakan

topik

yang

hangat

diperbincangkan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2011. Namun solusi


alternatif yang disepakati adalah menyerahkan peningkatan produksi pangan
sebesar 20 persen perusahaan multinasional. Satu solusi yang sarat dengan ide
neoliberalisme kapitalis.
Apakah Indonesia akan tinggal diam melihat nasib dunia berada di
tangan pihak yang mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya?
Dengan kapasitas Indonesia sebagai bangsa majemuk yang memiliki potensi
pertanian luar biasa, seharusnya Indonesia dapat mengambil alih peran

sebagai pemasok pangan masyarakat dunia. Reformasi birokrasi dan


restrukturisasi manajerial sumber daya pertanian mutlak dilakukan untuk
menyelamatkan bangsa Indonesia dan dunia dari monopoli pangan segelintir
pihak, dan hal itu akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Geopolitik diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam
wujud kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional
geografik (kepentingan yang titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi,
wilayah atau territorial dalam arti luas) suatu negara, yang apabila dilaksanakan
dan berhasil akan berdampak langsung kepada system politik suatu negara.
Sebaliknya, politik negara itu secara langsung akan berdampak pada geografi
negara yang bersangkutan. Geopolitik bertumpu pada geografi sosial (hukum
geografis), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu
yang dianggap relevan dengan karakteristik geografi suatu negara.
Konsep geopolitik Indonesia mengingat uraian mengenai perkembangan
wilayah Indonesia dan unsur dasar geopolitik Indonesia, dapat diberi batasan
yang sedikit berbeda dengan semula, namun intinya sama, sebagai berikut :
Pengetahuan tentang segala sesuatu dengan memanfaatkan letak geografis negara
kepulauan

untuk

kepentingan-kepentingan

penyelenggaraan

pemerintahan

nasional yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan


wilayah yang menghormati ke-bhineka-an kehidupan nasional untuk mencapai
tujuan negara.
Indonesia adalah negara agraris yang sebagaian besar rakyatnya bermata
pencaharian sebagai petani. Pendapatan devisa negara bergantung pada aspek
pertanian, sehingga sumber utama pendapatan negara dilakukan melalui
pendekatan

ekspor. Ir. Soekarno sebagai presiden pertama repulik Indonesia

pernah mengatakan bahwa pangan adalah harga mati. Yang dimaksud disini
adalah kebutuhan mendasar bagi ketahanan kehidupan masyarakat indonessia
ditentukan oleh peran pertanian

B. Saran
Dengan kapasitas Indonesia sebagai bangsa majemuk yang memiliki
potensi pertanian luar biasa, seharusnya Indonesia dapat mengambil alih peran
sebagai

pemasok

pangan

masyarakat

dunia.

Reformasi

birokrasi

dan

restrukturisasi manajerial sumber daya pertanian mutlak dilakukan untuk


menyelamatkan bangsa Indonesia dan dunia dari monopoli pangan segelintir
pihak, dan hal itu akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Kaelan, dan Ahmad Zubaidi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan
Tinggi. Yogyakarta : Paradigma.
Dosen Mata Kuliah Kewarganegaraan, Tim. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan.
Makassar : UPT MKU Universitas Hasanuddin.
Suryana, Achmad. 2003. Kapita Selekta Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan
Pangan. Yogyakarta: UGM.
Bambang, Hendro Sunarminto. 2010. Pertanian Terpadu Untuk Mendukung
Kedaulatan Pangan Nasional. Yogyakarta: BPFE.
Bustanul, Arifin. 2005. Pembangunan Pertanian, Paradigma Kebijakan dan Strategi
Revitalisasi. Jakarta : Gramedia.
Hilman, Manan. 2006. Tantangan Terbesar Revitalisasi Pertanian. Makasar:
Universitas Hasanuddin.
Hambali, Muhammad. Revitalisasi Lahan Pertanian Menuju Ketahanan Pangan
Nasional. Diunduh Rabu, 12 Desember 2012.