Anda di halaman 1dari 50

Akuisisi, Procesing dan Interpretasi

Data Gaya Berat, Magnetik dan Tide Digital Seismograph


Lapangan Panas Bumi Way Ratai Pesawaran
(Laporan Akhir Workshop Geofisika)

Oleh

Rosita Renovita
1115051031

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Ucapan rasa syukur alhamdulillah yang tak terhingga kami panjatkan kehadirat
Allah SWT, atas segala rahmat, hidayah dan semua kenikmatan yeng telah
diberikan; kasih sayang, ilmu pengetahuan, keluarga, ujian serta cobaan yang
dilalui sehinga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Mata Kuliah
Workshop Geofisika 2014. Tidak lupa kami juga menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan proses
pembuatan laporan ini.

Workshop Geofisika merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil bagi
mahasiswa Teknik Geofisika. Untuk memberikan pembelajaran baik teori maupun
praktek di lapangan dengan menggunakan alat-alat pada eksplorasi geofisika.

Semoga dengan terus terselenggaranya mata kuliah Workshop Geofisika dapat


menjadikan mahasiswa Teknik Geofisika Universitas Lampung berkompeten
dalam bidangnya. Dan semoga Sumber Daya Manusia di Lampung akan semakin
baik kualitasnya.

Bandar Lampung,
Penyusun

Rosita Renovita
1115051031

Juli 2014

DAFTAR ISI

halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... iv
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan Penyelidikan .............................................................................. 2
C. Batasan Masalah .................................................................................... 2
II. TEORI DASAR
A. Geologi Lapangan Panas Bumi Way Ratai .......................................... 3
B. Ekplorasi Panas Bumi dengan metode Geofisika ................................ 3
C. Metode Gaya Berat ............................................................................... 4
D. Metode Magnetik ................................................................................. 11
E. Metode Geolistrik ................................................................................. 15
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Akuisisi dan Processing Data Gaya Berat ............................................ 17
B. Akuisisi dan Processing Data Magnetik............................................... 26
C. Akuisisi dan Processing Data Geolistrik .............................................. 29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penampang 2D Gaya Berat ................................................................... 31
B. Penampang 2D Magnetik ...................................................................... 35
C. Penampang 1D Tide Digital Seismograf ............................................... 37

V. INTERPRETASI TERPADU
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ........................................................................................... 43
B. Saran ...................................................................................................... 43

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Peta Geologi Way Ratai, Pesawaran ....................................... 3
Gambar 2.2 Persamaan Longmann untuk Interaksi Vertikal ...................... 6
Gambar 2.3 Interaksi Bumi dan Bulan di titik P ......................................... 7
Gambar 2.4 Free Air Correction ................................................................. 8
Gambar 2.5 Hammer Chart ......................................................................... 9
Gambar 2.6 Bouguer Correction ................................................................. 10
Gambar 3.1 Gravimeter Scintrex CG - 5 .................................................... 18
Gambar 3.2 Nilai Koreksi Tide ................................................................... 19
Gambar 3.3 Mencari Koreksi Lintang ........................................................ 20
Gambar 3.4 Mencari Koreksi Udara Bebas ................................................ 21
Gambar 3.5 Mencari Koreksi Bouguer ....................................................... 21
Gambar 3.6 Grid Data Gaya Berat .............................................................. 22
Gambar 3.7 Proses Filtering dengan Moving Average ............................... 23
Gambar 3.8 Hasil Konturing Anomali Regional dengan Metode Filtering 23
Gambar 3.9 Prosecing Amonali Residual ................................................... 24
Gambar 3.10 Hasil Peta Anomali Residual................................................. 24
Gambar 3.11 Respon pada Grav2DC untuk Slice 1.................................... 26
Gambar 3.12 Respon pada Grav2DC untuk Slice 2.................................... 26
Gambar 3.13 Data Hasil Pengukuran Magnetik ......................................... 27
Gambar 3.14 Data Hasil Pengukuran TDS ................................................. 28
Gambar 4.1 Penampang Kontur Topografi ................................................. 31
Gambar 4.2 Penampang Anomali SBA ...................................................... 31
Gambar 4.3 Anomali Regional ................................................................... 32
Gambar 4.4 Penampang Kontur Anomali Residual .................................... 32

Gambar 4.5 Penampang Bawah Permukaan Slice 1 dengan Grav2DC ...... 33


Gambar 4.6 Penampang Bawah Permukaan Slice 2 dengan Grav2DC ...... 33
Gambar 4.7 Peta Anomali Magnetik Total ................................................. 35
Gambar 4.8 Peta Reduce to Pole yang di Slice ........................................... 35
Gambar 4.9 Penampang Bawah Permukaan dengan Mag2DC ................... 36
Gambar 4.10 Peta Kontur Frekuensi dan Kontur Kedalaman..................... 37
Gambar 4.11 Peta Kontur Kedalaman dan Kontur Amplifikasi ................. 38
Gambar 5.1 Overlay Peta Geologi dengan Kontur Nilai SBA.................... 39
Gambar 5.2 Overlay Peta Geologi dengan Kontur Nilai Residual ............. 39
Gambar 5.3 Overlay Peta Geologi dengan Kontur Nilai Suseptibilitas ...... 40
Gambar 5.4 Overlay Peta Geologi dengan Kontur Nilai TDS .................... 41

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan pembangunan di Indonesia menyebabkan kebutuhan akan
sumberdaya energi semakin meningkat. Hingga saat ini, bakan bakar fosil
tetap menjadi sumber energi utama yang dimiliki bangsa. Namun ketersediaan
cadangan minyak yang kian menyusut, menjadi suatu pekerjaan rumah yang
harus diselesaikan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk dapat mencari
jalan alternatif jika dalam beberapa tahun mendatang tidak ditemukan
cadangan minyak baru.
Wilayah Indonesia yang terletak dalam zona ring of fire menjadi modal yang
amat berharga dalam mengembangkan energi alternatif yang selama ini
menjadi sorotan tajam yakni energi Panas Bumi. Jalur gunung api berada di
sepanjang Pulau Sumatera menerus ke daerah selatan Pulau Jawa, memanjang
hingga ke Pulau Bali dan Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke arah utara ke
Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Kepulauan Filipina.
Secara umum, keterdapatan sumber panas bumi Indonesia berasosiasi dengan
kegiatan gunung api sebagai asal sumber panas yang berhubungan dengan
pergerakan lempeng tektonik tersebut. Sepanjang jalur gunung api (aktif
maupun yang non aktif) menyimpan cadangan energi panas bumi yang sangat
besar di bawah permukaan.
Lapangan Panas bumi Way Ratai yang terletak di kecamatan Padang Cermin
Kabupaten Pesawaran merupakan daerah yang memiliki potensi untuk
mengembangkan sistem panas bumi.

Hal ini menjadi sangat menarik untuk dilakukan penelitian dan pengambilan
data Geofisika karena manifestasi panas buminya (air panas/spring) yang
terdapat di permukaan mempunyai suhu yang relatif tinggi, sehingga
pendugaan suhu yang terdapat di reservoarnya sangat tinggi.
Pada workshop kali ini kami mencoba untuk melakukan penelitian di
Lapangan Panas Bumi Way Ratai. Setelah melakukan study Geologi dan
Geokimia pada manifestasi-manifestasi yang ditemukan, kami melakukan
pangambilan data Geofisika. Data yang kami ambil meliputi data Gaya Berat
(Gravity), Data Magnetik serta Data TDS (Tide Digital Seismograph) sebagai
survey pendahuluan untuk mengetahui daerah prospek dan sebaran fenomena
geologi seperti patahan dan alterasi batuan.
B. Tujuan Penyelidikan
Adapun tujuan dari workshop ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mempelajari survey pendahuluan pada eksplorasi panas bumi
2. Mahasiswa memahami cara menggunakan alat-alat pengukuran seperti
gravimeter Scintrex CG - 5, magnetometer, dan tide digital seismograph
3. Mahasiswa mampu melakukan akuisisi data lapangan dengan baik dan benar
4. Mahasiswa mampu mengolah data akuisisi geofisika dalam bentuk numerikal
/grafik dan membuat model penampang secara 1D maupun 2D.
C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan data di lapangan hanya dibatasi dalam waktu 3 hari sehingga
tidak menampilkan model bawah permukaan yang terlalu dalam.
2. Pengolahan data TDS hanya untuk mengetahui nilai kerentanan tanah disekitar
manisfestasi, bukan untuk menentukan event.
3. Interpretasi terpadu dilakukan setelah melakukan akuisisi dan processing

BAB II
TEORI DASAR

A. Geologi Lapangan Panas Bumi Way Ratai


Way Ratai adalah sebuah desa di Kecamatan Piabung, Kabupaten Pesawaran,
Lampung. Way Ratai merupakan salah satu daerah potensi panasbumi di
Lampung yang WKPnya belum diproduksi secara konvensional. Geologi
daerah panasbumi Way Ratai adalah lava, breksi dan tuff yang berasal dari
endapan gunung api muda dan terdapat juga batuan jenis Aluvial dimana
terdapat batuan kerakal, kerikil, pasir, lempung, dan gambut.

Gambar 2.1 Peta Geologi Way Ratai, Pesawaran


B. Ekplorasi Panas Bumi dengan metode Geofisika
Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas,
uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik
semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk

pemanfaatannya diperlukan proses penambangan lebih lanjut (Pasal 1 UU


No.27 tahun 2003)
Adapun komponen komponen penting dalam sistem hidrotermal adalah
Sumber Panas (Gunung Api), Reservoir dengan fluida termal, mempunyai
Daerah Resapan (Recharge) dan mempunyai Daerah Discharge dengan
Manisfestasi Permukaan.
Sebagian besar reservoir panasbumi terdapat pada batuan vulkanik dengan
aliran utama melalui rekahan. Sifat batuan reservoir panasbumi adalah
porositas, permeabilitas dan densitas batuan. Beberapa parameter lain yang
penting untuk menerangkan sifat batuan reservoir panasbumi adalah panas
spesifik dan konduktivitas panas.
Pada ekplorasi Geofisika kali ini metode yang dipakai pada survey
pendahuluan adalah metode gaya berat yang digunakan untuk mendeteksi
zona-zona struktur bawah permukaan seperti patahan dan juga basement,
metode magnetik digunakan sebagai parameter panas dan suseptibilitas sebuah
batuan, dan terakhir metode TDS yang digunakan untuk mengetahui nilai
kerentanan tanah disekitar manisfestasi yang ditemukan.

C. Metode Gaya Berat


Salah satu survei pendahuluan yang dapat digunakan untuk mengetahui potensi
panas bumi yaitu dengan melakukan survei geofisika. Survei geofisika
dilakukan untuk melihat struktur bawah permukaan terutama untuk
menentukan jenis batuan. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam
survei pendahuluan yaitu metode gaya berat.
Teori gayaberat Newton merupakan hukum untuk gaya antara dua partikel.
Dianggap bahwa gaya gravitasi yang dilakukan pada atau oleh suatu bola
homogen sama seperti seandainya seluruh massa bola tersebut terkonsentrasi
pada satu titik di pusatnya, jadi bumi merupakan bola homogen, gaya yang

dilakukan olehnya terhadap suatu benda kecil bermassa m2 dengan jarak.


Hukum Newton dinyatakan dalam persamaan :
12 =

1 2
2

Dimana :
F = Gaya tarik menarik antara kedua benda (N)
m1= Massa benda 1 (Bumi) (kg)
m2= Massa benda 2 (kg)
R = Jarak antara kedua pusat benda (m)
G = ketetapan medan gravitasi (6,67 x 10-11 N.m2 / kg2)
Dan berikut bilai percepatan gravitasi (g) adalah :

g = = -G
2

1
2

dengan satuan g adalah (m/s2)


Dalam pemrosesan data metoda gayaberat terdapat beberapa tahapan dengan
koreksi-koreksi diantaranya adalah :

1. Koreksi Apungan (Drift Correction)


Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh perubahan kondisi alat
(gravitimeter) terhadap nilai pembacaan . Nilai pengukuran gayaberat pada
suatu titik dan diulang kembali pengukurannya maka secara teoritis nilainya
akan tetap atau konstan. Namun dalam kenyataannya nilainya akan berubah.
Goncangan pada saat transportasi dapat mempengaruhi mekanisme alat, ini
disebut dengan apungan (drift) . Koreksi apungan dirumuskan dengan
persamaan :

2 1
( 1 )
1 2

Dimana :

= besarnya drift (mGal)


= Waktu pembacaan (menit)
2 1 = Pembacaan gaya berat diawal dan diakhir pada titik ikat A
(mGal)
1 2 =waktu pembacaan di awal dan diakhir pada titik ikat A (menit)
2. Koreksi Pasang Surut (Tidal Correction)
Koreksi pasang surut dilakukan untuk menghilangkan efek penarikan bumi
akibat benda-benda langit. Koreksi nilai pasang surut ini nilainya berubah
ubah karena dipengaruhi oleh lintang dan waktu.
Untuk menghilangkan pengaruh dari efek pasang surut tersebut maka data gaya
berat yang diperoleh perlu dilakukan koreksi terlebih dahulu. Ada beberapa
metode yang digunakan untuk melakukan koreksi ini, diantaranya adalah
dengan

menggunakan

diterbitkan

tabel

khusus

yang

telah

tersedia

dan

setiap tahun. Dalam tabel tersebut tertera nilai pasang surut

untuk setiap waktu, dengan interval tertentu sesuai kebutuhan. Selain itu, bisa
juga dilakukan dengan metode numerik yang sudah diintegrasikan dalam suatu
program komputer untuk setiap waktu dan tempat tertentu.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung percepatan pasang-surut
yang dihasilkan akibat bulan dan matahari, sebagaimana mereka berinteraksi
pada setiap titik di bumi sebagai fungsi waktu, sudah diperkenalkan oleh
Longman (1959). Formula longman diprogram pada digital komputer.
Longman memperoleh persamaan untuk menentukan atraksi vertikal yang
dihasilkan oleh bulan dan matahari yaitu:

Gambar 2.2 Persamaan longmann untuk interaksi vertikal


Besarnya perubahan ini bervariasi terhadap lintang, waktu bulanan, waktu
tahunan. Titik survey diuraikan dalam posisi geografik yang meliputi latitude
dan longitude serta radius bumi, dan elevasi. Dalam persamaan di atas
(gr)m merupakan amplitudo perubahan data gaya berat akibat interaksi

bulan dan bumi, sedangkan (gr)s akibat interaksi matahari, G adalah


konstanta gravitasi, m massa bulan, r menyatakan elevasi, ym dan ys masingmasing menyatakan sudut zenith bulan dan sudut zenith matahari. Untuk
menmahami makna sudut zenith ini, maka digunakan gambar di bawah ini:

Gambar 2.3 Interaksi antara bulan dan bumi di titik P


Pada gambar 2.3 menunjukkan interaksi antara bulan dan bumi pada titik P.
Yang dimaksud dengan sudut m dalam gambar di atas adalah sudut
yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan antara pusat bulan dan
bumi dengan garis yang menhubungkan titik P pada permukaapuan bumi dan
pusat bumi.
3. Koreksi Lintang (Latitude Correction)
Koreksi lintang dilakukan karena bentuk bumi yang berdasarkan pengukuran
geodetik mendekati bentuk speriodal yaitu menggelembung di ekuator dan
memipih di kutub. Koreksi ini didapatkaan dengan persamaan Geodetic
Reference System 1967 (GRS67)
= ( + , , )
Dimana
= gaya berat pada lintang (mGal)
= gayaberat di equator (978031,85)
= lintang pada titik pengamatan (radian)

4. Koreksi Udara Bebas (free-air correction)


Pengukuran gaya berat di permukaan datum dan ketinggian tertentu pasti
memiliki hasil yang berbeda. Titik pengamatan tidak selamanya berada pada
permukaan datum sehingga perlu dilakukan koreksi. Koreksi ini disebut
koreksi udara bebas (free-air correction) yang dirumuskan pada persamaan
berikut :
FAC = 0.3086 x h
dimana h adalah beda ketinggian antara titik amat gayaberat dari sferoid
referensi (dalam meter). Setelah dilakukan koreksi tersebut maka akan
didapatkan anomali udara bebas di topografi yang dapat dinyatakan dengan
rumus :
FAA = Gobs - G(f) + FAC mGal
dimana :
FAA : anomali medan gayaberat udara bebas di topografi (mGal)
Gobs : medan gayaberat observasi di topografi (mGal)
G(f) : medan gayaberat teoritis pada posisi titik amat (mGal)
FAC : koreksi udara bebas (mGal)

Gambar 2.4 Free Air Correction

5. Koreksi Medan (Terrain Correction)


Kondisi topografi di sekitar titik pengukuran tidak selamnya beraturan, hal ini
juga dapat mempengaruhi nilai data data pengamatan gayaberat. Misalkan
terdapat bukit disekitar titik pengukuran, maka bukit tersebut memiliki medan
yang dapat menekan gaya gravymeter untuk menaikkan percepatan gayaberat.
Dan sebaliknya, adanya lembah akan memberikan efek penurunan hasil
pengukuran gayaberat. Koreksi medan dapat dihitung menggunakan template

transparan, yang disebut hammer chart, yang ditempatkan di atas peta


topografi.
Hammer Charts

Gambar 2.5 Hammer Chart


a) Bagan ini berpusat di stasiun gravitasi dan topografi membacakan setiap
segmen di pusat.
b) Kontribusi untuk koreksi medan diperoleh dari nilai-nilai ditabulasi untuk
segement masing-masing dan kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan
koreksi total.
c)

Tarik gravitasi dari segmen silinder berdasarkan formula.

d) Dianggap sebagai bagian tambahan koreksi Bouguer, yaitu menghasilkan


anomali Bouguer.

6. Koreksi Bouguer
Koreksi ini dilakukan untuk memghilamgkam efek tarikan suatu massa yang
berada di antara titik pengamatan dan titik acuan dengn asumsi bahwa lapisan
batuan tersebut berupa slap tak terhingga. Koreksi bouger berfungsi untuk
mereduksi pengaruh efek tarikan dari suatu massa yang diberikan oleh
persamaan:
= = ,

Dimana
BC = Bouguer Correction (mGal)
= rapat masa rata-rata kerak bumi (2,67 g/cm3)
h

= ketinggian (m)

G = konstanra medan gravitasi

7. Anomali Bouguer
Setelah dilakukan koreksi-koreksi, kemudian ditentukan nilai anomali
gayaberat secara keseluruhan. Anomali ini sering disebut dengan anomali
Bouguer. Nilai anomali Bouguer dirumuskan pada persamaan berikut :
= + +
AB

= Anomali bouguer (mGal)

Gobs

= Medan gravitasi observasi yang sudah dikoreksi pasang surut

gFA

= Koreksi udara bebas (mGal)

BC

= Koreksi Bouguer (mGal)

TC

= Koreksi medan (mGal)

gL

= Koreksi lintang (mGal)

Gambar 2.6 Bouguer Correction

Dengan memasukan harga-harga numerik yang sudah diketahui,


gBL = gobs g() + 0.094h (0.01277h T)

D. Metode Magnetik
Perubahan struktur dibawah permukaan bumi terjadi akibat adanya perubahan
beban massa tanah dan batuan baik dipermukaan bumi maupun di dalam bumi.
Untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan akibat perubahan tersebut,
dapat menggunakan beberapa metode geofisika, antara lain metode magnetik.
Metode magnetik telah banyak digunakan dalam eksplorasi mineral dan
batuan. Metode magnetik dapat digunakan untuk menentukan struktur geologi
bawah permukaan seperti sesar, lipatan, intrusi batuan beku atau kubah garam
dan reservoir geothermal. Metode magnetik dapat digunakan untuk mengetahui
kedalaman dan struktur permukaan, pengukuran dapat diperoleh dengan mudah
untuk studi lokal dan regional. Metode magnetik bekerja didasarkan pada
pengukuran variasi kecil intensitas medan magnetik permukaan bumi. Variasi
ini disebabkan oleh kontas sifat kemagnetan antar batuan di dalam kerak bumi,
sehingga menimbulkan medan magnet bumi yang tidak homogen, biasa disebut
juga sebagai suatu anomali magnetik.

Medan Magnet Bumi


Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga
elemen medan magnet bumi (gambar 10), yang dapat diukur yaitu meliputi
arah dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
- Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen
horizontal yang dihitung dari utara menuju timur
- Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang
horizontal yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke
bawah.
- Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada
bidang horizontal.

- Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.

Gambar 2.7 Tiga Elemen medan magnet bumi


Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk menyeragamkan
nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang disebut
International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5
tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata
pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun.
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :
1.

Medan magnet utama (main field)


Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil
pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah
dengan luas lebih dari 106 km2.

2.

Medan magnet luar (external field)


Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan
dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer,
maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat.

3.

Medan Magnet Anomali


Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh

batuan yang mengandung

mineral bermagnet seperti magnetite ( Fe 7 S 8 ), titanomagnetite ( Fe 2Ti O4 )


dan lain-lain yang berada di kerak bumi.
Metode Pengukuran Data Geomagnetik
Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang
digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat
medan magnetik di lokasi survei. Peralatan lain yang bersifat pendukung di
dalam survei magnetik adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini
digunaka untuk mengukur posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang,
ketinggian, dan waktu.
Pengaksesan Data IGRF
IGRF singkatan dati The International Geomagnetic Reference Field.
Merupakan medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai IGRF
merupakan nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk
nilai yang ikut terukur pada saat kita melakukan pengukuran medan magnetik
di permukaan bumi, yang merupakan komponen paling besar dalam survei
geomagnetik, sehingga perlu dilakukan koreksi untuk menghilangkannya.
Koreksi nilai IGRF terhadap data medan magnetik hasil pengukuran dilakukan
karena nilai yang menjadi terget survei magnetik adalah anomali medan
magnetik (Hr0).
Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada
setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian,
IGRF dan topografi

1. Koreksi IGRF dan Variasi Harian


Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh yang berasal dari
medan magnet utama dan medan magnet luar. Tujuan dari survei medan
magnet ini untuk mendapatkan anomali medan magnet lokal, sedangkan
data yang diperoleh dari pengukuran merupakan medan magnet total hasil
sumbangan dari tiga komponen dasar medan magnet, yaitu medan utama
(main field), medan luar (external field), dan medan observasi lokal. Untuk
itu perlu dihilangkan pengaruh-pengaruh yang berasal selain dari anomali
medan magnet lokal.
2. Reduksi ke Bidang Datar
Pengukuran magnetik yang dilakukan pada ketinggian yang berbeda, akan
dihasilkan medan magnet yang berbeda pula. Untuk itu, perlu adanya
koreksi data yang terukur pada ketinggian yang berbeda tersebut, menjadi
seolah-olah data magnetik yang terukur dengan ketinggian yang sama.
Koreksi ini, biasa disebut dengan koreksi bidang datar. Koreksi bidang
datar, diestimasi dengan deret Euler. Estimasi secara iteratif dilakukan
sampai mencapai batas-batas iterasi. Yaitu, banyaknya iterasi dan
konvergensi dari deret Euler. Beberapa teknik untuk mentransformasi data
anomali medan magnetik ke bidang datar, antara lain : teknik sumber
ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer) dan
pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap teknik
mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1996).
3. Kontinuitas ke atas
Medan magnet memenuhi hukum Laplace. Jika harga medan magnet pada
suatu permukaan diketahui, maka dapat ditentukan medan magnet pada
sembarang permukaan yang lain apabila tidak ada massa diantara
permukaan tersebut. Proses ini disebut, kontinuasi ke atas. Kontinuasi
keatas merupakan proses medan potensial magnetik suatu data yang terukur
diatas permukaan yang lebih tinggi. Kontinusi ini digunakan untuk
memisahkan anomali lokal terhadap anomali regional. Anomali regional
berasosiasi dengan kondisi

geologi umum yang dominan di daerah

pengukuran, di cirikan dengan anomali frekuensi rendah. Sedangkan

anomali lokal, atau sering juga disebut sebagai anomali sisa, mengandung
kondisi geologi setempat yang telah terdeviasi dari kondisi regionalnya yang
biasanya terdapat pada kedalaman yang dangkal.

E. TDS (Tide Digital Seismograph)

Mikrotremor merupakan getaran tanah selain gempa bumi, bisa berupa getaran
akibat aktivitas manusia maupun aktivitas alam. Mikrotremor bisa terjadi
karena getaran akibat orang yang sedang berjalan, getaran mobil, getaran mesin
mesin pabrik, getaran angin, gelombang laut atau getaran alamiah dari tanah.

Mikrotremor mempunyai frekuensi lebih tinggi dari frekuensi gempabumi,


periodenya kurang dari 0,1 detik yang secara umum antara 0.05 2 detik dan
untuk mikrotremor periode panjang bisa 5 detik, sedang amplitudenya berkisar
0,1 2,0 mikron. Kaitannya dengan mikroseismik, mikrotremor merupakan
getaran tanah yang menjalar dalam bentuk gelombang yang disebut gelombang
mikroseismik. Belakangan ini aplikasi mikrotremor digunakan untuk
mengidentifikasi resonansi frekuensi natural bangunan dan tanah.

Dilakukan studi peningkatan kerusakan dan resonansi struktur tanah gempa


bumi menggunakan mikrotremor dgempa bumi Molise. Salah satu metode
yang digunakan untuk mengetahui karakteristik bangunan tanpa merusak
bangunan tersebut adalah analisis mikrotremor yang direkam pada setiap lantai
bangunan dengan menggunakan gangguan alami berupa

ambient noise.

Sehingga bisa dikatakan bahwa mikrotremor didasarkan pada perekaman


ambient noise untuk menentukan parameter karakteristik dinamis suatu
bangunan (damping rasio, frekuensi natural) dan fungsi perpindahan
(amplifikasi dan frekuensi) bangunan.

Analisis Mikrotremor
Analisis ambient noise ini menggunakan teknik HVSR (Horizontal to Vertical
Fourier Amplitude Spectral Ratio) pada tanah, sedangkan analisis spektrum
RDM (Random Decreament Method) dan FSR (Floor Spectral Ratio) pada
bangunan untuk mendapat frekuensi natural dan rasio redaman. Kemampuan
teknik HVSR bisa memberikan informasi yang bisa diandalkan dan
diasosiasikan dengan efek lokal yang ditunjukkan secara cepat yang
dikorelasikan dengan parameter HVSR yang dicirikan oleh frekuensi natural
rendah (periode tinggi) dan amplifikasi tinggi. Sehingga untuk Estimasi
frekuensi, redaman dan indeks kerentanan pada getaran bangunan dari eksitasi
amplitudo kecil dinilai akurat dan stabil (Farsi, 2002).
Proses analisis ini menggunakan RDM untuk mengekstrak frekuensi natural
dan rasio redaman bangunan, dengan menggunakan FSR di setiap komponen
horisontal untuk memperkirakan indeks kerentanan bangunan. Frekuensi
natural dan rasio redaman dapat dihitung secara simultan menggunakan daya
spectral random decreament method atau analisis non parametrik, sementara
perhitungan indeks kerentanan bangunan untuk menghitung amplitudo fungsi
transfer dari struktur floor spectral ratio dan kekuatan struktur bangunan.
Rasio redaman adalah parameter yang menyatakan penyerapan energi atau
redaman dari suatu sistem yang berosilasi dari redaman material maupun
radiasi. Secara umum rasio redaman digunakan untuk menggambarkan tingkat
redaman

struktur

bangunan.

Kemampuan

struktur

bangunan

untuk

menghilangkan energi getaran dapat dihitung dari rasio redaman. Meskipun


getaran gempa sangat kuat, suatu bangunan memiliki amplitudo yang tinggi,
tetapi respon frekuensi natural bangunan tergantung pada massa struktur dan
kekakuan bangunan. Dengan demikian tingkat redaman adalah desain yang
sangat penting dalam pengurangan getaran dan bangunan tahan gempa.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

1. Akuisisi dan Processing data Gaya Berat


1.1 Akuisisi Data Gaya Berat
Akuisisi data gayaberat pada Workshop Geofisika 2014 dilaksanakan di
lapangan panas bumi Way Ratai, pesawaran pada tanggal 13 15 Juni
2014, yang sebelumnya telah dilakukan pengikatan terhadap base
bertempat di Gedung FMIPA Universitas Lampung sehingga kalibrasi
terhadap alat telah dilakukan.

Hari pertama pengukuran dilakukan dengan mengukur base yang ada di


Lapangan panas bumi way ratai terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan
perjalanan ke arah bukit , alat yang kami gunakan dalam pengukuran gaya
berat kali ini adalah Scintrex CG-5.

Prinsip kerja Scintrex CG-5 sama dengan alat Gravity meter yang lain
yang membedakannya adalah menggunakan umpan balik (feedback) pada
sirkuitnya untuk mengontrol arus pada lempeng dan sebagai pengembalian
massa ke angka nol (kalibrasi). Scintrex CG-5 membuat hasil produksi
lebih maksimal, data yang didapat sangat tinggi meski di keadaan
lapangan yang tidak rata. Alat ini telah dilengkapi dengn GPS internal dan
sangat presisi mengunci posisi koordinat X dan Y dan dilengkapi beberapa
koreksi bumi seperti : koreksi udara bebas, dan koreksi Bouguer, R/F on
off, koreksi langsung daerah sekitar di lapangan (pengaruh tinggi rendah
atau daerah yang tidak rata). Pada akuisisi data gravity yang dilakukan
selama 3 hari, kami mendapatkan data sejumlah 69 titik pengukuran.

Gambar 3.1 Gravimeter Scintrex CG 5

1.2 Tahap Processing Data Gaya Berat


Input Nilai Gravimeter
-

Data yang kita dapatkan di lapangan harus di input terlebih dahulu ke


dalam Ms. Excel.

Melakukan Koreksi Tide dengan menggunakan Software Tide Longman :


o Buka program Tidelongman
o Masukan nilai-nilai yang diperlukan oleh program
o Pada program ini hanya dipakai tanda titik saja (.) & pemisahan
dengan koma (,)

Maka kita akan dapatkan data pada folder kita dengan format data file,
membuka data menggunakan notepad dan akan dihasilkan data seperti
dibawah ini :

Gambar 3.2 Nilai Koreksi Tide

Pindahkan data Tide Correction ke dalam excel dari data pengukuran

Kemudian Jika sudah ketemu tide kita cari :


Bacaan Tide = Bacaan Alat Tide Obs

Menghitung Nilai Drift (Koreksi Apungan)


Jika sudah maka selanjutnya mencari Koreksi Drift dengan cara :
Drift = (Time Awal Time Awal F4) / (Time akhir F4 - Time awal F4) *
(Gr+t Akhir F4 Gr+t Awal F4)
Selanjutnya adalah mencari :
Grav. Drif = Bacaan Tide - Drif

Mencari Grav. Loc dengan cara :


G local = Grav. Drif G awal (F4)
Selanjutnya adalah mencari G. Observasi. Pada prinsipnya, nilai G. Base dari
stasiun menjadi patokan nilai base awal dari G. Observasi. Kali ini G.
Observasi yang tercatat pada base awal adalah : G. Observasi = 978154,816.
Untuk mencari G.obs selanjutnya digunakan rumus :
G Obs selanjutnya = G obs base + G Loc
Koreksi-Koreksi dalam pembacaan alat Gravimeter
Koreksi Lintang
Langkah selanjutnya yakni mencari koreksi lintang dengan menggunakan
rumus :
Lintang Correction = 978032.7 * (1+0.0053024 * (Sin (radian (Lintang))) 2 0.0000058 * (Sin (radian (2 * Latitude ))) 2 )

Gambar 3.3 Mencari Koreksi Lintang

Koreksi Free Air (Udara Bebas)


Mencari koreksi udara bebas dengan cara :
FAC = 0.308765 * Elevasi

Gambar 3.4 Mencari Koreksi Udara Bebas


Koreksi Bouguer
Untuk mencari nilai bouguer dengan cara :
Bouguer Correction = 0.04193 * 1.494 * Elevasi

Gambar 3.5 Mencari Koreksi Bouguer


Koreksi Simpe Bouguer Anomaly (SBA)
Untuk mencari nilai SBA menggunakan rumus :
SBA = G obs Average (Koreksi Lintang FAC + Bouguer)

Koreksi Terrain
Untuk mencari koreksi terrain dengan menggunakan Hammer Chart :
-

Siapkan Lingkaran Hammer Chart dan Peta ketinggian dari daerah


pengukuran

Letakkan titik tengah hammer chart ke titik tengah titik pengukuran

Menghitung

sektor

outer

core

(dengan

computer)

karena

jika

menggunakan inner core itu bisa kita perkirakan di saat kita berada di
lapangan. Biasanya outer core berada di sektor D, E, atau F pada hammer
chart.
-

Jika sudah maka kita akan mencari tinggian rata-rata dari kontur di dalam
setiap sektor.

Selanjutnya kita menjumlahkan nilai-nilai dalam sebuah sektor


TC = TC1 + TC2 + TC3

Koreksi Complete Bouguer Anomaly (CBA)


CBA = SBA Koreksi Terrain

Pembuatan Peta Kontur, G. Obs dan SBA 1D (Surfer 10)


Pembuatan peta kontur, G. Obs, dan SBA pada Surfer 10, dengan cara Grid
Data data olah Gravity GWES 2014, mengganti X = UTM X, Y = UTM Y,
dan Z = Elevasi, atau Z = G Obs Avg, dan Z = SBA

Gambar 3.6 Grid data Gaya berat

Mencari Nilai Gaya berat Regional


-

Pilih menu Grid-Filter

Ambil data grid yang menampilkan SBA

Kemudian pada jendela Digital Filtering pilih Used-Defined Filters


Low-Pass Filters (Filter utama bumi) Moving Average (Metode
pemfilteran)

Output data kita beri nama Regional(Filter Size 25x25)

Jika sudah Ok

Gambar 3.7 Proses Filtering dengan Moving Average


-

Akan muncul daerah kontur yang sudah kita filter dengan bumi
menghasilkan nilai anomali regional nya.

Gambar 3.8 Hasil Konturing Anomali Regional dengan metode filtering

Mencari Nilai Gaya Berat Residual


-

Untuk mencari nilai residual atau anomali sisa dari filter bumi maka kita
lakukan pada Menu Grid-Math

Input Data SBA dan Input data Regional (25x25)

Jika Sudah SBA Regional (A-B)

Save data residual

Gambar 3.9 Procesing mencari anomali residual


-

Akan muncul peta anomali residual

Gambar 3.10 Hasil Peta Anomali Residual

Pembuatan data inputan Grav2DC


-

Kita memiliki data peta kontur residual diatas, kemudian kita slice data
residual sesuai dari penampang diatas.

Kemudian Digitasi data dari garis slice diatas dengan Map-Digitized

Kemudian Slice data tersebut dengan cara Pilih Menu Grid-Slice


Kemudian Pilih data SBA dan data digitasi yang telah dibuat Simpan
dengan format Slice.dat dan .bln

Buka program Ms.Excel kemudian open-All Files data slice.dat

Pilih Delimited-Next, kemudian checklist Spasi, Next dan Finish

Maka akan keluar 5 kolom dalam excel

Dari data diatas, Pindah data kolom D ke F sehingga B = UTM X, C =


UTM Y, E = Nilai Spacial nya, F = Nilai Residualnya.

Hapus Nilai pertama dari baris pertama

Jika sudah maka kita akan mencek nilai spacial nya pada kolom D dengan
cara A2-A1.

Jika ada yang berbeda line spacing nya maka hapus data tersebut.

Jika sudah, anda akan memiliki data residual yang akan diolah ke
Grav2DC

Kemudian data anomaly residual ini kita kopikan ke dalam .txt untuk
diolah menjadi model 2D inversi.

Copy Data kolom E dan F

Selanjutnya ubah format .txt ke dalam .dta, save dalam folder program
Grav2DC

Pemodelan 2D Anomali Gaya Berat dari Residual dengan Grav2DC


-

Buka Grav2DC dan pada menu System Option-Begin a New Model

Checklist Read in Observed Data kemudian OK

Pilih data .dta maka akan keluar nilai / grafik putus-putus yang
menggambarkan nilai anomali residual nya

Sekarang anda buat Model penampang dari garis putus-putus tersebut

Gambar 3.11 Respon pada Grav2DC untuk Slice 1

Gambar 3.12 Respon pada Grav2DC untuk Slice 2

2. Akuisisi dan Processing Metode Magnetik


2.1 Tahap Akuisisi
Pada eksplorasi magnetik, tahap akuisisi dilakukan dengan mengkalibrasi
automatic magnetometer yang akan mencacat sendiri nilai magnetik. Saat
proses akuisisi magnetik usahakan alat magnetometer jauh dari benda-benda
magnet, karena akan mempengaruhi data yang dihasilkan. Selanjutnya :

1. Melakukan

kalibrasi

magnetometer

yang

akan

digunakan

untuk

pengukuran bergerak ke titik-titik pengukuran.


2. Jika sudah, maka kita dapat melakukan pengukuran magnetik sepanjang
lintasan yang telah ditentukan.
3. Mencatat data-data yang diperlukan dari magnetometer yang kita bawa,
kemudian catat pula UTM X, UTM Y, dan Elevasi dari setiap titik
4. Ketika kembali ke Base, ambil kembali automatic magnetometer yang kita
pasang, catat nilai-nilai base untuk digunakan dalam koreksi harian.

2.2. Tahap Processing


Jika kita telah mendapatkan nilai magnetik base dan magnetik pada
pengukuran, maka selanjutnya kita melakukan processing data untuk
mendapatkan perbedaan kontras magnetik dalam bentuk dipole, adapun
tahapan processing nya :
1. Input data magnetik berupa UTM X, UTM Y, Nama Statiun, Elevasi,
Waktu pengukuran, dan Bacaan Alat Magnetometer ke dalam program
Ms. Excel.

Gambar 3.13 Data Hasil Pengukuran Magnetik

2. Mencari nilai IGRF dengan menggunakan koneksi internet sebagai medan


utama bumi.
3. Menghitung Variasi Harian terhadap nilai Base
4. Menghitung nilai Magnetik Total (B. Total)
5. Membuat kontur medan magnet total lintasan dengan menggunakan
software Surfer 10. Akan terlihat pola dipole pada kontur tersebut.
6. Buat slice dari data kontur yang akan kita gunakan pada pemodelan
Mag2DC

3. Akuisisi dan Processing Data TDS


3.1. Tahap Akuisisi
Pada tahap ini, Alat yang digunakan yaitu TDS (Time Digital Seismograph),
jumlah data yang diperoleh adalah 7 titik pengukuran. Pada setiap pengolahan
dilakukan variasi parameter yaitu variasi frekuensi filter (band pass filter), orde
filter, time window, frekuensi sampling, dan number of samples. Berikut ini
adalah hasil-hasil pengukuran di lapangan :

Gambar 3.14 Data Hasil Pengukuran TDS

Pengambilan data hari jumat minggu, 13-15 Juni 2014 pada lapangan Panas
bumi Way Ratai. Pengukuran dimulai pada pukul 08.30 WIB hingga 16.00
WIB setempat.

3.2. Tahap Processing


Teknik HVSR pertama kali diperkenalkan oleh Noghosi dan Igarashi dan
disebarluaskan oleh Nakamura, dibuat untuk mengestimasi rasio antara
spektrum amplitude fourier dari ambientnoise untuk komponen horizontal dan
vertikal yang direkam pada satu stasiun. Tool dalam Geopsy ini digunakan
untuk mendapatkan rasio spektrum horizontal terhadapvertikal (H/V) dari
semua

jenis

sinyal

getaran

(ambient

noise,

gempabumi

dll).Untuk

memprosesan H/V, data yang kita gunakan harus memiliki :

3 komponen sinyal : North-South, East-West and Vertical;

Nama tertentu

Sampel yang cukup (dalam waktu) untuk bisa diolah.Data bisa kita
proses melalui:1.Graphic viewer, untuk melihat dan mengetahui
windowing serta memunculkan hasil.2.

Proses pengolahan dalam GEOPSY:

Download file sinyal. Pastikan kita telah memiliki data dengan 3


komponen. Datayang akan kita olah direkomendasikan menggunakan
format .SAF. walaupun banyak tipe data bisa digunakan seperti : SAC,
GSE2, SU,Guralp GCF dll.

Untuk Tipe .saf. data ASCII standar bisa kita gunakan dengan format
ASCII 3 kolomdengan menambahkan header saf. Contohnya adalah
sbb;SESAME ASCII data format (saf) v. 1

Dari hasil pengolahan diatas didapatkan peta persebaran nilai frekuensi


dominan yang didapatkan dari analisis spectrum, frekuensi natural dari analisis
HVSR, dan nilai PGA dengan menggunakan parameter frekuensi dominan
yang didapat pada analisis spectrum diatas yang kemudian digunakan untuk
mencari nilai periode dominan sebagai parameter pada perhitungan nilai PGA.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Penampang 2D Gaya Berat


Adapun data penamatan yang diperoleh pada eksplorasi gaya berat :

Gambar 4.1 Penampang Kontur Topografi


Gambar Anomaly SBA

Gambar 4.2 Penampang Anomali SBA

Gambar 4.3 Anomaly Regional

Gambar 4.4 Penampang Kontur Anomay Residual

Gambar 4.5 Penampang bawah permukaan slice 1 dengan Grav2DC


berdasarkan data geologi permukaan dan slicing data residual.

Gambar 4.6 Penampang bawah permukaan slice 2 dengan Grav2DC


berdasarkan data geologi permukaan dan slicing data residual

Dari data hasil pengukuran dengan menggunakan metode gaya berat, setelah
dilakukan perhitungan dengan melakukan koreksi-koreksi. Didapatkan data
kontur elevasi yang dimulai dari base hingga titik ke - 69. Jika dilihat
berdasarkan kontur ketinggian dari elevation yang di dapat dari pembacaan
altimeter, dapat dilihat bahwa lintasan ini dimulai dari ketinggian 27 m (pinggir
Pantai) sampai pada ketinggian 708 m diatas permukaan laut.
Untuk melihat zona prospek didasarkan pada kontur SBA yang diperoleh dari
perhitungan koreksi-koreksi. Dari peta kontur SBA dapat kita lihat adanya
daerah potensi yang memiliki nilai SBA yang rendah yang mengindikasikan
keberadaan prospek panas bumi yang ditandai warna hijau.
Untuk dapat memperoleh kontras prospek panas bumi dengan metode gaya
berat, dari kontur SBA kemudian kita lakukan filtering untuk memisahkan
antara frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Pada umumnya filter bumi
memiliki frekuensi yang rendah (lowpass filtering) sehingga dapat dengan
mudah memisahkannya dengan frekuensi tinggi. Dengan menggunakan metode
filtering Moving Average kita akan memfilter dengan lebar windows yang
diperoleh dari analisa spektrum. Pada proses kali ini, dilakukan filter moving
average pada windows 25x25. Untuk mendapatkan anomali residual yakni
dengan cara mengurangi data SBA dengan data regional nya sehingga
diperoleh nilai frekuensi tinggi pada anomali residual nya yang akan kita
proses untuk mewakilkan penampang 2D bawah permukaan dengan Grav2DC.
Dengan bantuan kondisi geologi dan peta geologi permukaan, kita dapat
memperkirakan model awal dari penampang residual yang telah di slicing. Dari
penampang tersebut, maka saya gambarkan sebagai sebuah penampang bawah
permukaan dengan lapisan penudung (caprock). Lapisan paling atas dianggap
menjadi shale (caprock) dengan densitas 2.88 gr/cc pada kedalaman 0-225
meter yang ditandai dengan warna hijau, setelah itu lapisan yang diduga
merupakan reservoar dengan densitar 2.68 gr/cc. Sedangkan lapisan paling
bawah di interpretasikan sebagai basement dengan densitas 3,3 gr/cc berupa
Lava (andesit-basalt) dan ditandai dengan warna merah.

B. Penampang 2D Eksplorasi Magnetik

Gambar 4.7 Peta Anomali Magnetik Total

Gambar 4.8 Peta Reduce To Pole yang di Slice

Gambar 4.9 Penampang bawah permukaan dengan Mag2DC


berdasarkan data geologi permukaan dan slicing peta RTP
Pengolahan data metode magnetik haruslah dilakukan koreksi harian dan
koreksi IGRF. Setelah melakukan koreksi tersebut maka dapat ditemukan
keberadaan dipole. Metode magnetik ini sangat sensitif terhadap perubahan
vertical, umumnya digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar,
urat hydro-thermal yang kaya akan mineral ferromagnetic dan struktur geologi.
Metode ini digunakan pada studi geothermal karena mineral-mineral
ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila dipanasi mendekati
temperatur Curie.
Peta kontur dari anomali medan magnet total yang di slicing yang bertujuan
untuk dibuat model anomali medan magnetnya dengan menggunakan software
Mag2DC. Yang menjadi parameter inputnya adalah inklinasi, Deklinasi dan
IGRF. Pada daerah penelitian ini nilai inklinasinya adalah -29o dan nilai
deklinasinya adalah 0o , sedangkan harga IGRF daerah penelitian adalah
44,315.9 nT. Pada hasil pemodelan Mag2DC yang telah dikorelasikan terhadap
peta geologi maka diperoleh lapisan atas sebelah kiri dengan nilai suseptibilitas
0,4 nT, berupa sandstones dan shale. Lapisan bawah dengan nilai suseptibilitas
1,4 nT, berupa batuan basalt. Lapisan atas sebelah kanan dengan nilai
suseptibilitas 0,02 nT berupa shale. Lapisan bawah dengan nilai suseptibilitas
1,5 nT, berupa batuan basalt.

C. Penampang 1D Tide Digital Seismograf


TDS (Tide Digital Seismograf), merupakan sinyal gempa bumi yang dilengkapi
dengan software yang mampu menganalisa secara otomatis parameter yang
bersifat lokal. TDS digunakan untuk meredam sinyal dalam kecepatan 3
komponen.

(a)

(b)

Gambar 4.10 (a) Peta Kontur Frekuensi dan (b) Kontur Kedalaman

Dari hasil pengolahan data berdasarkan nilai frekuensi yang dikorelasikan


dengan tabel oleh kanai maka di daerah penelitian rata rata merupakan batuan
tersier terdiri dari batuan hard sandy, gravel dan batuan aluvial dengan
ketebalan 5 m yang terdiri dari sandy-gravel, dan sandy hard clay.

(c)

(d)

Gambar 4.11 (c) Peta Kontur Kedalaman dan (d) Kontur Amplifikasi

Berdasarkan dari tabel Kanai maka nilai periode dominan di dareah penelitian
diinterpretasikan sebagai batuan tersier atau lebih tua yang terdiri dari batuan
Hard sandy, gravel dan batuan alluvial, dengan ketebalan 5 meter terdiri dari
dari sandygravel, sandy hard clay, loam, dll.

BAB V
INTERPRETASI TERPADU

Gambar 5.1 Overlay Peta Geologi dengan Kontur Nilai SBA

Gambar 5.2 Overlay Peta Geologi dengan kontur nilai residual

Interpretasi terpadu dari model 2D Gaya Berat pada lapangan panasbumi Way
Ratai menggambarkan bahwa pada respon Gaya berat memiliki nilai densitas
yang rendah untuk menyatakan kontras reservoar yang terbentuk di bawah
permukaan bumi. Dengan adanya anomali ini, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa daerah Way Ratai, Pesawaran adalah benar darah yang memiliki
potensi panasbumi untuk ekploitasi. Namun, study kami hanya sampai pata
ketinggian 708 m diatas permukaan laut. Pada titik tertinggi pengukuran, kami
belum

mendapatkan

tanda-tanda

manisfestasi

berupa

fumarol

yang

mengindikasikan manisfestasi tersebut dekat dengan reservoar (Zona Upflow).


Dibutuhkan study geofisika lebih lanjut untuk lapangan panas bumi Way
Ratai. Bisa dibanyakan betapa besarnya potensi panasbumi di daerah ini,
mengingat pada ketinggian yang cukup tinggi belum ditemukannya fomarol.

Gambar 5.3 Overlay Peta Geologi dengan Nilai Suscepbilitas Batuan yang
didapat dari Nilai Anomali Magnet Total
Dari penampang magnetik juga membenarkan pada daerah dipole merupakan
daerah yang memliki potensi panas bumi jika dilihat dari batuan penyusunnya.
Manifestasi air panas diduga terletak di bagian barat, utara dan timur yaitu
pada anomali rendah.

Gambar 5.4 Overlay Peta Geologi terhadap Peta


Kontur Frekuensi, Periode, Kedalaman dan Amplifikasi

Derah pengambilan data TDS berbeda rutenya dibandingkan pengembilan data


Gravity dan Magnetik. Kami mengambil data TDS disekitas manifestasi di
wilayah perkebunan milik LANAL. Dari peta overlay di atas menunjukn
bahwa di daerah penelitian terdapat patahan / sesar dimana kerentanan
tanahnya cukup besar sehingga rentan akan terjadinya gempabumi. Banyak
sekali lubang lubang kecil yang bermunculan di sekitar manifestasi, yang
juga mengeluarkan air panas dan bau belerang. Tanah disekitar pengukuran
TDS benar-benar rentan akan terjadinya amblesan tanah. Kewaspadaan
haruslah ditingkatnya saat melakukan survey di daerah ini.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada pembahasan workshop lapangan geofisika adalah :
1. Pada Eksplorasi Gaya berat, terlihat adanya potensi panasbumi disekitar
daerah pengukuran terbukti dengan adanya anomali rendah pada sebaran
peta anomaly SBA. Hal ini juga didukung dengan ditemukannya sejumlah
manifestasi berupa mata air panas yang memiliki suhu sekitar 80 90 C.
Proses pemodelan menggunakan Grav2DC juga menunjukan hasil yang
tidak jauh berbeda. Hasil slacing pada peta anomali SBA, terdapat 3
lapisan yang diduga merupakan Caprock, Reservoar dan Basemant.
2. Pada Eksplorasi Magnetik, berdasarkan nilai anomali medan magnet total
terdapat 3 kelompok anomali yaitu anomali medan magnet rendah, sedang
dan tinggi dan manifestasi air panas diduga terdapat pada anomali rendah.
3. Pada Eksplorasi TDS, di daerah penelitian terdapat patahan / sesar dimana
kerentanan tanahnya cukup besar sehingga rentan akan terjadinya
gempabumi.

B. SARAN
Adapun saran-saran untuk workshop lapangan geofisika adalah :
1. Kesensitifan alat menjadi faktor penting saat melakukan pengukuran di
lapangan. Jauhkanlah benda-benda yang dapat menjadi noise saat alat
sedang membaca pengukuran.

2. Ketelitian dalam pembacaan alat dan penentuan titik serta penentuan arah
sensor magnetik sangat diperlukan serta dalam penginputan data harus
teliti.
3. Pemberian materi indoor seharusnya menjadi bekal untuk turun ke
lapangan, yang seharusnya diisi dengan teori dasar, akuisisi, dan cara
menggunakan alat yang benar di lapangan dan mengatasi kejanggalankejanggalan pada pengukuran.
4. Bimbingan para dosen juga sangat diperlukan saat berada dilapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Blakery, R. J. , 1996. Potential Teory in Gravity and Magnetic Application.


Cambrigde. Cambrigde Universty Press.
Karyanto. 2003. Pencitraan Bawah Permukaan Daerah Panasbumi Way Ratai
Lampung dengan Metode Tahanan Jenis 2 Dimensi. Jurusan Fisika
FMIPA Universitas Lampung.
Karyanto dan Nandi. 2013. Interpretasi Kualitatif Suhu Permukaan di Potensi
Panasbumi Way Ratai, Pesawaran. Jurusan Geofisika FT Universitas
Lampung.
Longman, I. M. , 1959. Formula in Computing the Tidal Acceleration due to the
Moon dan the Sun. Jurnal of Geophysics Research.
Tika Yulia, dkk. Pendugaan Jenis Batuan di daerah panasbumi Tiris Kabupaten
Probolinggo Jawa Timur berdasarkan anomaly gayaberat. Jurusan Fisika
FMIPA Universitas Brawijaya.
Pasal 1 UU No.27 tahun 2003