Anda di halaman 1dari 13

TEORI-TEORI DALAM PSIKOLOGI

KEPRIBADIAN
Posted on April 6, 2014 - 2,189 views 1.

Pengertian psikologi kepribadian

Kata personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani


kuno prosopon atau persona, yang artinya topeng yang biasa dipakai artis dalam theater.
Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah
topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality (pada
masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial- kesan
mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial.[1]
Ada beberapa kata atau istilah yang oleh masyarakat diperlakukan sebagai sinonim kata
personality, namun ketika istilah-istilah itu dipakai di dalam teori kepribadian diberi makna
berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain :
1. Personality (kepribadian); penggambaran perilaku secara deskriptif tanpa memberi nilai
(devaluative)
2. Character (karakter); penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah,
baik-buruk) baik secara ekspilit maupun implisit.
3. Disposition (watak); karakter yang telah dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
4. Temperament (temperament); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan
biologic atau fisiologik, disposisi hereditas.
5. Traits (sifat); respons yang senada (sama) terhadap kelompok stimuli yang mirip,
berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
6. Type-Attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimulasi yang lebih
terbatas.
7. Habit (kebiasaan): respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama
pula.
Sampai sekarang, masih belum ada batasan formal personality yang mendapat pengakuan
atau kesepakatan luas dilingkungan ahli kepribadian. Masing-masing pakar kepribadian
membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus
analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut adalah beberapa contoh definisi
kepribadian:

1. Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara
mengesankan (Hilgard & Marquis)
2. Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha
mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh
pengalaman (Stern)
3. Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seorang yang
menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport)
4. Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford)
5. Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang
mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin)
6. Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang
menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa, dan
gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara
sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologic saat itu (Mandy atau Burt)
7. Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai
mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray)
8. Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan
orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares)
Jelas, masing-masing definisi mencoba menonjolkan aspek yang berbeda-beda, dan
disusun untuk menjawab tantangan permasalahan yang berbeda. Lebih menguntungkan
memahami beberapa teori dan memilih teori yang tepat untuk diterapkan pada masalah
yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori yang lain sebagai pembanding sehingga
keputusan profesional yang diambil seorang psikologi dapat lebih dipertanggung jawabkan.
Namun sesungguhnya dari berbagai definisi itu, ada lima persamaan yang menjadi ciri
bahwa definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut :[2]
1. Kepribadian bersifat umum; Kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang-fikiran,
kegiatan, dan perasaan- yang berpengaruh terhadap keseluruhan tingkah lakunya.

2. Kepribadian bersifat khas: Kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang
membedakan dia dengan orang lain, semacam tanda tangan atau sidik jari psikologik,
bagaimana individu berbeda dengan yang lain.
3. Kepribadian berjangka lama: Kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu
yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalaku terjadi perubahan biasanya
bersifat bertahap atau akibat merespon suatu kejadian yang luar biasa.
4. Kepribadian bersifat kesatuan: Kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit
tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang membentuk suatu kesatuan.
5. Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk: Kepribadian adalah cara bagaimana orang
berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan
kuat? Atau tampil sebagai burung yang lumpuh? Yang berarti kepribadiannya menyimpang
atau lemah? Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa
orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi
sekedarnya.
2.

Beberapa teori dalam psikologi kepribadian

1) Psikoanalisis Klasik (SIGMUD FREUD 1856-1939)


Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran,
yakni sadar (Conscious), pra sadar (Preconscious), dan tidak sadar (Unconscious). Alam
sadar adalah apa yang anda sadari pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan,
persepsi, pemikiran, fantasy, perasaan yang anda miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini
adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra sadar, yaitu apa yang kita sebut
dengan saat ini dengan kenangan yang sudah tersedia (available memory), yaitu segala
sesuatu yang dengan mudah dapat di panggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang
walakupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat mudah dengan mudah dipanggil lagi.
Adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar (Unconscious mind). Bagian ini
mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam bawah sadar, seperti nafsu dan
insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke situ karena kita tidak mampu
menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkaitdengan trauma.[3]
Id (Is [Latin], atau es [Jerman]) Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari Id ini
akan muncul ego dan super-ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang
diturunkan, seperti insting, impuls dan drive. Id berada dan beroperasi dalam
daerah unconscious, mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id

berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan
untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu : berusaha
memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan
yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau
peningkatan energi yang mendambakan kepuasan.pleasure principle diproses dengan du
acara, tindak refleks (refllex actions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks
adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejabkan mata-dipakai untuk
menangani kepuasan rangsang sederhana dan biasanya dapat segera dilakukan. Proses
primer adalah reaksi membayangkan/ mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau
menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang
lapar membayangkan makanan atau punting ibunya.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu
dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu membedakan
yang benar dan yang salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh
khayalan itu secara nyata, yang memberikan kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan
baru khususnya masalah moral. Alasan ini lah yang kemudian membuat Id memunculkan
ego.
The Ego (Das Ich [Jerman]), ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani
realitas; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha
memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau
menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan
kebutuhan.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama;
pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan
dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana
kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.
Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id
sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan perkembangan-mencapaikesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu
ego yang tidak memiliki enerji sendiri untuk akan memperoleh enerji dari Id.
The Superego (Das Ueber Ich[Jerman]), adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian,
yang beroperasi memakai prinsip idealistic (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip
kepuasan Id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego
dia tidak mempunyai enerji sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah

kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar
(sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang dijangkaunya tidak realistik (Id
tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip idealistic mempunyai dua subprinsip, yakni consciencedan ego-ideal. Superego
pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi
orang tua menangani standart sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai
larangan dan perintah. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum
oleh orang tua, akan diterima menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang
tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima
menjadi standar kesempurnaan atau ego idea, yang berisi apa saja yang seharusnya
dilakukan. Proses pengembangan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar
salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah menjadi introyeksi, kontrol
pribadi akan mengganti kontrol orang tua.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan
kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Paling tidak ada 3
fungsi dari superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan
tujuan-tujuan moralistic, (2) memerintah impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif
yang bertentangan dengan standart nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.[4]
Perkembangan Kepribadian
Freud adalah teoritis pertama yang memusatkan perhatiannya kepada kepribadian, dan
menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-awal dalam pembetukan karakter
seseorang. Freud yakin dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan
perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan
elaborasi dari struktur dasar tadi. Tehnik psikoanalisis mengeksplorasi jiwa pasien antara
lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanak.
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantile (0-5
tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantile yang paling
menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi dalam tiga fase, yakni fase oral, fase
anal, fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan seks,
yang terkait dengan perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual
infantile. Perkembangan insting seks berarti perubahan katektis seks, dan perkembangan
biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual.
Pemberian nama fase-fase perkembangan infantile sesuai dengan bagian tubuh-daerah

arogan-yang menjadi kateksis seksual pada fase itu. Tahap perkembangan psikoseksual itu
adalah :[5]
Fase Oral berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut,
dimana aktifitas yang paling utama adalah menghisap dan menggigit.
Tahap Anal yang berlangsung dari usia 18 bulan sampai 3-4 tahun. Titik kenikmatan di
tahap ini adalah anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktifitas yang paling
dinikmati.
Tahap Phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di
tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi.
Tahap Laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 sampai usia pubertas ( sekitar 12 tahun ).
Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian
rupa demi proses belajar
Tahap Genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas
terlihat pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual.
Mastrubasi, seks, oral, homo seksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual yang kita
anggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal.
2) Psikologi Individual (ALFRED ADLER 1870-1937)
Struktur Kepribadian
Manusia adalah mahluk sosial. Bahwa manusia merupakan suatu keseluruhan yang tidak
dapat terbagi-bagi, tampaknya sudah jelas bagi kita. Hal ini merupakan arti pertama dari
ucapan manusia adalah mahluk individual . Mahluk individual berarti mahluk yang tidak
dapat dibagi-bagi (in-dividere).
Aristoteles seakan-akan berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari
beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti
kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak; kemampuan sensitif: bergerak
mengamati-amati, bernafsu, dan berperasaan; berkemampuanintelektif: berkemampuan
dan berkecerdasan.[6]
Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki
merupakan mahluk sosial. Sejak ia dilahirkan, ia membutuhkan pergaulan dengan orangorang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, yaitu makan, minuman, dan
lain-lain.
Manusia, selain mahluk individual yang sebenarnya tidak perlu lagi dibuktikan
kebenarannya, sekaligus juga merupakan mahluk sosial. Hal ini pun sebenarnya tidak perlu
dibuktikan. Disamping itu manusia merupakan mahluk yang bertuhanan. Hal terakhir juga

tidak perlu dibuktikan lagi, sebab bagi manusia terutama Indonesia yang sudah dewasa dan
sadar akan dirinya sudah jelas sulit menolak adanya kepercayaan terhadap Tuhan, sebagai
segi hakiki dalam perikehidupan manusia dan segi khas bagi manusia pada umumnya.
Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan
perasaan interior, perasaan yang menggerakkan orang untuk bergerak atau berjuang
menjadi superioritas atau menjadi sukses. Individu yang secara psikologis kurang sehat
berjuang untuk menjadi pribadi superior, dan individu yang sehat termotivasi untuk
mensukseskan umat manusia.
Pokok-Pokok Teori Adler
1. Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas,
kebetulan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu
kongfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan
oleh seseorang membawakan corak yang khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
2. Pandangan Teleologis: Finalisme Semu
Vaihinger mengemukakan, bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita
atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya
yang realitas.
3. Dua Dorongan Pokok
Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta
melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu :
a) Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada
masyarakat; dan
b) Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku
sendiri.
4. Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan;
melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia.
Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak

normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi
dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau
kesempurnaan (superior).
5. Dorongan Kemasyarakatan
Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir; pada dasarnya
manusia adalh mahluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan,
kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan
harus dibimbing atau dilatih.
Gambaran tentang manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan
gambaran manusia kuat, agresif dan menguasai serta memeras masyarakat.
Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan terpenting dalam perkembangan
kepribadian ( Adler, 1946, p. 145.)
6. Gaya Hidup
Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku
seseorang; inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang.
Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan
selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup
yang khas itu.
7. Diri yang Kreatif
Diri yang kreatifitas adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua
tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini ialah karena orang tidak dapat menyaksikan
secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya.[7]
Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas:
Dorongan Maju.[8]
Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh atau dorongan utama-dorongan untuk
mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya
oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Didorong oleh perasaan
inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba untuk hidup
sesempurna mungkin.

Inferiorta bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas
yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang
umum, walakupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan
orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip dengan
trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow.
Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi
berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi
semakin dekat dengan tujuan final.
Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk
kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi
tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan.
Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain.
Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang
berlebihan. Pembunuh, pencuri, pemain porno adalah contoh ekstrim yang berjuang hanya
untuk mencapai keuntungan pribadi. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan
menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan
mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu
meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi
oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini
membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai
saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial.
Kesatuan (Unity) Kepribadian
Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan
keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecah-pecahkan. Psikologi
individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan
semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan.
Gaya Hidup
Adler juga dipengaruhi oleh Jan Smuts, filosofi dan negarawan Afrika Selatan. Menurut
Smuts, kalaku ingin memahami orang lain, kita harus memahami dia dalam kesatuan yang
utuh, bukan dalam bentuk yang terpisah-pisah, dan yang lebih penting lagi, kita harus
memahaminya sesuai dengan konteks keadaan yang melatari orang tersebut, baik fisik
maupun sosial.[9]
Kepentingan Sosial

Adler menganggap kepekaan sosial ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula
diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya. Kepekaan sosial
didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan.
Di lain pihak, bagi Adler, tidak ada kesadaran sosial adalah sakit jiwa yang sesungguhnya.
Segala bentuk sakit jiwa-neurotik, psikotik, tindak kriminal, narkoba, kenakalan remaja,
bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan lain-lain sebagainya- adalah penyakit-penyakit yang
lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Tujuan orang-orang yang mengidap penyakit ini
adalah superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk mereka
sendiri.[10]
3) Psikologi Behaviorisme (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)
Struktur kepribadian
Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa
kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian
(personality) atau diri(self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari
kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol
perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang
tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut
(Wulansari & Sujatno, 1997).[11]
1. Pengekangan Fisik ( physical restraints )
2. Bantuan Fisik ( physical aids)
3. Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions)
4. Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions)
5. Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses)
6. Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement).
7. Menghukum Diri Sendiri ( self punishment).
Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas :[12]
1. Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebutrespondent behavior. Yaitu
perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.
2. Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang
tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri.

Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam
situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan
munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang
konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep
itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok
kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi.
Dinamika Kepribadian
Kepribadian dan Belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku
baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat
dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus
menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dawn
mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi
kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya
(berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat
sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol.
Tingkah laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh
variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang
mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam
self, tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah
laku.[13]
Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan
atau bahkan menyakitkan.
Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya
perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.[14]
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan
hukuman.
Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari
dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.

Kondisioning Operan (Operant Conditioning)


Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan
dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner
menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).
Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning
klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya.
Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang
melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga
berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah
laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat
kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme
paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik
lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner.
1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur
lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk
bertingkah laku dengan bebas dan spontan.
2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan
teori banyak menimbulkan masalah metodologis.
3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati
symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.
4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia
yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang :UUM Press, 2007
Walgito Bimo. Dr. Prof. Pengantar Psikologi Umum. Jogjakarta : ANDI, 2003
Sobur Alex, M. Si. Drs. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia, 2003
Gerungan W.A. Psych. Dipl. Dr. Psikologi Sosial. Bandung : PT Refika Aditama, 2004

Boeree George. C. Dr. Personality Theories. Jogjakarta : PRISMASOPHIE, 2004


Suryabrata Sumadi. Ph.D., Ed.S., M.A., B.A., Drs. Psikologi Kepribadian. PT Raja
Grafindo Persada : Jakarta : 1982

[1] ALWISOL, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang :2007, hal 08


[2] ALWISOL, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang :2007, hal 09
[3] Dr. C. George Boeree, Personality Theories, PRISMASOPHIE, Jogjakarta: 2004, hal 36
[4] ALWISOL, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang :2007, hal 19
[5] Dr. C. George Boeree, Personality Theories, PRISMASOPHIE, Jogjakarta: 2004, hal 56
[6] DR. W.A. GERUNGAN, Dipl. Psych. Psikologi Sosial, PT Refika Aditama, Bandung,:
2004, hal 25
[7] Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A,,Ed.S., Ph.D., Psikologi Kepribadian, PT Raja
Grafindo, Jakarta :1982, hal 185-191
[8] ALWISOL, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang :2007, hal 80-84
[9] Dr. C. George Boeree, Personality Theories, PRISMASOPHIE, Jogjakarta: 2004, hal 153
[10] Dr. C. George Boeree, Personality Theories, PRISMASOPHIE, Jogjakarta: 2004, hal
156-158
[11] Drs. Alex Sobur, M. Si., Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung ; 2003, hal 309-311
[12] Prof. Dr. Bimo Walgito, Psikologi Umum, ANDI, Jogjakarta:2003, hal 71
[13] ALWISOL, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang :2007, hal 395
[14] Dr. C. George Boeree, Personality Theories, PRISMASOPHIE, Jogjakarta: 2004, hal
257
Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di:

http://www.psychoshare.com/file-142/psikologi-kepribadian/teori-teori-dalampsikologi-kepribadian.html, Rabu, tanggal 4Maret 2015 pukul 13.10 WIB