Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkecambahan dimulai saat air masuk ke dalam biji (imbibisi) dan

berakhir dengan diawali elongasi/perpanjangan sumbu embrionik, biasanya

radikula. Perkecambahan diikuti oleh banyak peristiwa yaitu hidrasi protein,

perubahan struktur subseluler, respirasi, makromolekul sintesis, dan

pemanjangan/elongasi sel. Pada perkecambahan, tumbuhan meneruskan

pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi saat embrio tidak aktif. Beberapa

biji akan segera berkecambah pada lingkungan yang sesuai (Bewley et al., 1994).

Ciri-ciri benih bervigor adalah tahan bila disimpan, dapat berkecambah

dengan cepat dan seragam, bebas dari penyakit benih, tahan terhadap gangguan

mikroorganisme, bibit tumbuh kuat baik pada tanah basah maupun kering, bibit

mampu memanfaatkan bahan makanan yang ada di dalam benih dengan

maksimal, sehingga tumbbuh jaringan baru, laju pertumbuhan bibit tinggi, dan

mampu berproduksi tinggi dalam waktu tertentu (Heydecker, 1972).

Pengujian vigor tidak hanya mengukur persentase benih yang layak dalam

sampel, selain itu juga mencerminkan kemampuan benih untuk menghasilkan

bibit normal dalam waktu kurang dari kondisi pertumbuhan optimum atau

merugikan. Benih layak digunakan jika benih tumbuh normal karena kondisi

lingkungan seperti suhu yang optimum, kelembaban dan kondisi cahaya sesuai.

Benih memiliki kemungkinan untuk melanjutkan pertumbuhan dan

menyelesaikan siklus hidup di berbagai kondisi lingkungan. Pada awalnya, benih

mengalami perlambatan dalam berkecambah kemudian kehilangan kemampuan


2

untuk berkecambah. Pengujian vigor merupakan praktik penting dalam pengujian

kualitas benih.Pengujian vigor digunakan untuk indicator potensi penyimpanan

benih (Humandini, 2010).

Pengujian daya tumbuh benih merupakan proses yang penting. Hal

tersebut dilakukan untuk memberi jaminan kepada petani dan masyarakat untuk

mendapatkan benih sesuai dengan Standar Nasional Indonesia(SNI). Benih yang

memiliki daya tumbuh yang baik memiliki indeks vigor yang besar. Selain itu,

benih yang diuji bertujuan agar mendapatkan benih yang berkualitas tinggi. Benih

yang baik akan menguntungkan bagi petani (Lesilolo dkk., 2013).

Kualitas benih yang baik memiliki daya tumbuh dan indeks vigor yang

tinggi. Indeks vigor merupakan keserampakan benih dalam berkecambah. Indeks

vigor yang tinggi dapat diperoleh dengan cara menjaga kondisi lingkungan saat

penyimpanan. Perkecambahan dan pertumbuhan embrio merupakan proses

penting pada tanaman untuk pertanian dan ekosistem alami (Morla et al., 2011).

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui keadaan kecambah yang vigor kuat, lemah, abnormal dan mati

dengan berdasarkan metode UKDdP.

2. Dapat menentukan daya kecambah benih dan vigor yang meliputi

keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh, berat kering normal, dengan

berdasarkan metode UKDdP.


3

3. Mengetahui bagaimana kekuatan tumbuh / vigor berdasarkan metode

cekaman kekeringan dalam bak pasir.


TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan benih merupakan salah satu kriteria yang berkaitan

dengan kualitas benih. Perkecambahan benih juga merupakan salah satu tanda

dari benih yang telah mengalami proses penuaan. Pengertian dari berkecambah itu

sendiri adalah jika dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula di

embrio. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan

kecambah yang normal jika faktor lingkungan mendukung (Kuswanto, 1997).

Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik

adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda sedang vigor fisiologi

adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama. Vigor fisiologi

dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya,

ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya

terhadap Tetrazolium Test (Kartasapoetra, 1986).

Vigor benih dicerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, masing –

masing “kekuatan tumbuh” dan daya simpan” benih. Tanaman dengan tingkat

vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari performansi fenotipis kecambah atau

bibitnya, yang selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai landasan pokok untuk

ketahannya terhadap berbagai unsur musibah yang menimpa (Sadjad, 1977 dalam

Sutopo 2011 : 107).

Vigor benih untuk kekuatan tumbuh dalam suasana kering dapat

merupakan landasan bagi kemampuannya tanaman tersebut untuk tumbuh

bersaing dengan tumbuhan pengganggu ataupun tanaman lainnya dalam pola

tanam multipa. Vigor benih secara spontan merupakan landasan bagi kemampuan

tanaman mengabsorpsi sarana produksi secara maksimal sebelum panen. Juga


5

dalam memanfaatkan unsur sinar matahari khususnya selama periode pengisian

dan pemasakan buah/biji (Lesilolo dkk., 2013).

Dalam Sutopo (2010 : 108), secara umum vigor diartikan sebagai

kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang

suboptimal. Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologis. Vigor

genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda – beda, sedangkan

vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama.

Vigor dapat dibedakan atas :

1. Vigor benih

2. Vigor kecambah

3. Vigor bibit

4. Vigor tanaman

Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi,

artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang

tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain oleh (Sadjad, 1977) :

1. Tahan disimpan lama

2. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit

3. Cepat dan tumbuh merata

4. Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik

dalam keadaan lingkungan tumbuh yang suboptimal.

Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal

(Heydecker, 1972 dalam Sutopo 2010 : 109) yaitu :

1. Genetis,
6

2. Fisiologis,

3. Morfologis,

4. Sitologis,

5. Mekanis, dan

6. Mikroba.

Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena

terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh

karena itu digunakanlah kaidah korelasi. Misal : dengan mengukur kecepatan

berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara

kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman (Situmorang,

2010).

Benih padi yang dikatakan memiliki daya pertumbuhan baik adalah benih

dengan viabilitas mencapai 80% ke atas. Benih dengan viabilitas tinggi tentunya

memiliki daya vigor benih yang kuat, karena didukung oleh komponen cadangan

makanan dalam biji yang cukup untuk menopang pertumbuhan awal dari biji

sebelum memperoleh makanan dari dalam tanah. Untuk dapat mengetahui hal –

hal tentang viabilitas dan daya vigor benih tentunya harus dilakukan dengan

sebuah penelitian. Uji viabilitas dan vigor benih diprioritaskan untuk benih –

benih yang akan dipasarkan untuk dibudidayakan oleh petani, sebab benih yang

akan diedarkan kepada konsumen (petani) harus benih yang baik (mutu genetik,

fisik, dan fisiologis). Sehingga uji viabilitas dan vigor benih ini dilakukan sebagai

tolak ukur mutu benih itu tinggi atau rendah (IPB, 2010).
7

Benih kacang tunggak merupakan salah satu benih yang tidak memerlukan

masa dorman dalam perkecambahan. Karakter perkecambahan kacang tunggak

bertipe epigeal. Pada perkecembahan tipe ini, selama perkecambahan kotiledon

berada di atas tanah dimana kotiledon tetap menyokong nutrisi ke titik tumbuh.

Kecepatan berkecambah merupakan aspek penting yang mewakili vigor benih dan

nilai indeks vigor yang tinggi menunjukkan vigor yang baik dari benih tersebut.

Vigor sebagai indikator kemampuan benih untuk tumbuh menjadi pemberi

informasi mengenai kualitas fisiologi biji (Chaturverdi, 1980).


BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Padi (Oryza sativa)

2. Kacang nagara (Vigna unguiculata)

3. Kertas buram

4. Plastik gula

Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

1. APB. Berfungsi sebagai bak perkecambahan.

2. Gelas Aqua. Berfungsi sebagai tempat yang akan diisi pasir (media

perkecambahan).

3. Oven. Berfungsi sebagai alat pengering kadar air benih.

4. Pinset

5. Kamera

Prosedur Kerja

A. Metode Uji Pada Kertas (PK)

1. Membasahi kertas atau tissue seukuran cawan petri secukupnya.

2. Menanamkan benih secara teratur pada substrat, kemudian menutup cawan

petri dengan pasangannya.


9

3. Memasukan ke dalam bak perkecambahan

4. Menjaga kelembaban substrat hingga pengujian selesai.

B. Metode Uji Antar Kertas (AK)

1. Gunakan 5 lembar kertas buram yang telah dibasahi.

2. Letakkan benih pada setengah bagian kertas.

3. Lipat setengah bagian yang kosong ke bagian yang berisi benih dan pada

bagian pinggir sebaiknya dilipat agar benih tidak keluar.

4. Menjaga kelembaban substrat hingga pengujian selesai.

C. Kecepatan tumbuh

Setelah dilakukan pengamatan selama 6 hari, maka dihitung kecepatan

tumbuh benih dengan menggunakan rumus :


𝑛
Benih yang tumbuh
∑ ( )
𝑛=1 Hari ke−
KCT =
jumlah hari pengamatan

𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝐵𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ


+ +⋯+
ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒−1 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒−2 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒−6
=( )
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛

D. Keserempakan tumbuh

Setelah dilakukan pengamatan selama 6 hari, maka dihitung

keserempakan tumbuh benih dengan menggunakan rumus :

𝐾𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙


KST = x 100 %
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ
10

E. Berat kering normal

kecambah yang sudah dioven ditimbang berat keringnya kemudian

dihitung kadar air yang terkandung di dalam benih tersebut dengan

menggunakan rumus:

𝐵𝐵 − 𝐵𝐾
KA = x 100 %
𝐵𝐵
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan menggunakan metode

yang berbeda yakni metode uji pada kertas dan metode uji antar kertas diperoleh

data yang berbeda pula. Jumlah benih dalam perlakuan media adalah 100 benih

padi dan 50 benih kacang nagara yang terbagi ke dalam dua perlakuan. Dengan

pembagiannya untuk benih padi adalah 50 benih di media cawan petri dan 50 di

media kertas koran (untuk 1 varietas) begitu juga untuk kacang nagara, 25 benih

di media cawan petri dan 25 benih di media kertas koran (untuk 1 varietas).

Berikut tabel hasil pengamatan uji vigor benih padi dan kacang nagara

dalam dua media tumbuh (cawan petri dan kertas koran).

Tabel 1. Hasil perkecambahan benih padi pada media cawan petri dan media
kertas koran

No Kultivar Berat awal (g) Uji KCT KST (%)


1. Padi PK - 96 %
0,195 g
2. Padi AK - 98 %
3. Kacang nagara PK - 88%
1,270 g
4. Kacang nagara AK - 100%

Pembahasan

Indeks vigor merupakan indikator untuk mengetahui kecepatan dan

keseragaman perkecambahan vigor lebih memberatkan pada kekuatan benih,

kemampuan benih untuk menghasilkan perakaran dan pucuk yang kuat pada

kondisi yang tidak menguntungkan (sub optimum) serta bebas dari serangan

mikroorganisme benih. Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan

komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara


12

normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah

yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula (Sudjadi, 2006).

Pada padi, indeks vigornya lebih baik pada metode dengan menggunakan

kertas daripada metode pada media cawan petri. Hal tersebut dapat disebabkan

karena pada metode cawan petri air lebih mudah hilang sehingga proses

perkecambahan menjadi lambat. Air yang kurang tersebut membuat kerja enzim

menjadi lambat. Selain itu, dormansi benih yang berbeda pada setiap benih

membuat kecepatan berkecambahnya juga berbeda. Pada faktor lain, indeks vigor

benih juga dapat dipengaruhi oleh ukuran benih. Semakin seragam ukuran benih

maka proses perkecambahan menjadi serempak.

Pada benih kacang nagara, metode dalam cawan petri memiliki kecepatan

berkecambah yang lebih baik daripada benih padi. Hal tersebut dapat disebabkan

oleh faktor yang berada pada benih seperti kandungan cadangan makanan yang

banyak pada benih yang ada pada metode dalam cawan petri. Selain itu, proses

pemasakan di dalam benih pada metode dalam cawan petri lebih cepat daripada

metode dalam kertas. Pada faktor lain, ukuran benih pada metode dalam cawan

petri lebih seragam sehingga proses perkecambahan cenderung terjadi bersamaan.

Indeks vigor yang rendah akan menghasilkan benih yang tidak mempunyai

kualitas baik. Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi,

artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang

tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan

terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu

menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan
13

lingkungan tumbuh yang sub optimal. Benih yang mempunyai indeks vigor

rendah menghasilkan tanaman yang kurang tahan terhadap gangguan lingkungan

yang dapat mengancam hasil produksi tanaman tersebut.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Padi memiliki kecepatan perkecambahan yang lebih baik daripada kacang

nagara. Padi dan kacang nagara memiliki respon kecepatan dalam

berkecambah yang berbeda pada metode dalam kertas dan dalam cawan petri.

2. Indeks vigor dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah benih yang

berkecambah pada hari per waktu yang berkorespodensi dengan jumlah benih.

3. Padi dan kacang nagara memiliki keseragaman bibit yang berbeda sehingga

memiliki indeks vigor yang juga berbeda. Metode dalam kertas dan dalam

cawan petri dapat menghasilkan pertumbuhan keseragaman benih yang

berbeda.

Saran

Dalam praktikum yang dilakukan adanya kejelasan yang pasti tentang tata

cara pelaksanaannya dan waktu pengamatannya, karena selalu adanya perselisihan

antara asisten dan praktikan saat ingin melakukan pengamatan sehingga membuat

praktikannya tidak jadi mengamati.


DAFTAR PUSTAKA

Bewley, J. Derek and Michael Black. 1994. Seed Physicology of Development and
Germination. Plenum Press. New York.

Chaturverdi, G.S., P.K. Aggarwal, and S.K.Sinha. 1980. Growth and yield of
determinate and indeterminate cowpeas in dryland agriculture. J. Agric.
Sci., Camb.94: 137-144.

Heydecker, W. 1972. In Viability of Seeds. E. H. Roberts ed.Syracuse University


Press. USA.

Humandini, A. I. 2010. Pengujian Mutu Benih. UPTD BPSBP: Dinas Pertanian


Provinsi DIY. Diakses pada tanggal 5 Desember 2014.

IPB. 2010. Tinjauan Pustaka Fisiologi Benih Padi dan Viabilitas Benih. Hak
Cipta Milik Institut Pertanian Bogor : Bogor.

Kartasapoetra, dkk., 1992. Teknologi Benih, Pengolahan Benih dan Tuntunan


Praktikum. Rineka Cipta. Jakarta.

Kuswanto, H., 1997. Analisis Benih. ANDI. Yogyakarta.

Lesilolo, M. K., J. Riry, dan E. A. Matatula. 2013. Pengujian Viabilitas dan Vigor
Benih Beberapa Jenis Tanaman di Pasaran Kota Ambon. Agrologia 2:
1-9.

Morla, S., C. S.V. Ramachandra Rao, R. Chakrapani. 2011. Factors affecting seed
germination and seedling growth of tomato plants cultured in vitro
conditions. Journal of Chemical, Biological and Physical Sciences 1:
328-334.

Sadjad, S., Endang M., dan Satriyas I. 1989. Parameter Pengujian Vigor Benih.
Grasindo : Jakarta.

Situmorang, T. S. SSi. 2010. Penujian Mutu Benih Laboraturium.


http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpmed/index.php. Diakses pada
tanggal 5 Desember 2014.

Sudjadi. 2006. Fisiologi Proses Perkecambahan Biji.


http://www.pusatbiologi.com/2013/10. Diakses tanggal 28 November
2014.

Sutopo, L. 2010. Teknologi Benih (Edisi Revisi Fakultas Pertanian UNIBRAW).


PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.