Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum KI2221

Percobaan 07
Elektrogravimetri : Penentuan Kadar Tembaga
Nama
NIM
Kelompok
Tanggal Percobaan
Asisten

: Novira Chandisa
: 10513054
: 06
: 24 Februari 2015
: Fraulein Intan S.

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

Elektrogravimetri : Penentuan Kadar Tembaga


I. Tujuan Percobaan
- Menentukan kadar tembaga dalam sampel dengan metode elektrolisis dan titrasi
kompleksometri.
II. Prinsip Percobaan
Elektrogravimetri adalah suatu metode yang menggunakan arus listrik (secara
elektrolisis) untuk mengendapkan analit pada sebuah elektroda. Proses elektrolisis yang
dilakukan menggunakan dua buah elektroda (anoda dan katoda). Salah satu dari elektroda
tersebut berfungsi sebagai elektroda kerja yang fungsinya bergantung pada reaksi
pengendapan yang terjadi. Jika reaksi pengendapan yang terjadi adalah reaksi reduksi maka
elektroda kerja berfungsi sebagai katoda. Sedangkan jika reaksi yang terjadi adalah reaksi
oksidasi maka elektroda berfungsi sebagai anoda.
Pada percobaan ini yang dianalisis adalah ion Cu2+ yang diendapkan pada
elektroda menurut reaksi : Cu2+ + 2e- Cu. Elektron yang terlibat pada reaksi tersebut
berasal dari arus listrik. Arus listrik diberikan sampai seluruh ion Cu 2+ yang terdapat dalam
larutan mengendap secara kuantitatif sebagai logam tembaga pada elektroda kerja. Selisih
berat elektroda kerja yang konstan sebelum dan setelah proses elektrolisis adalah berat
tembaga yang terdapat dalam sampel. Potensial elektroda kerja selama proses elektrolisis
harus dijaga pada nilai tertentu untuk mencegah senyawa elektroaktif lain dalam larutan ikut
mengendap pada elektroda kerja.
Ketelitian hasil analisis secara elektrogrvimetri perlu diuji dengan
membandingkan hasilnya terhadap hasil analisis dengan titrasi pengkompleksan
menggunakan EDTA. Titrasi ini dilakukan dalam suasana basa (pH > 9) dan titik akhir titrasi
diamati dengan menggunakan indikator murexide.
III.Cara Kerja
A. Penyiapan Larutan Sampel
1,5 gram sampel tembaga ditimbang dalam gelas piala 100 mL. Dilarutkan
dengan asam sulfat encer 10 tetes. Larutan dipindahkan secara kuantitatif ke dalam
labu takar 100mL. Encerkan hingga tanda batas.
B. Elektrolisis
Penyiapan Elektroda Kerja
Elektroda kasa tembaga dicuci dengan asam nitrat 1:1. Dibilas segera dengan
aqua DM. Elektroda dibilas dengan alkohol lalu dengan aseton. Elektroda
ditempatkan diatas kaca arloji. Dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC. Setelah
sekitar 15 menit, elektroda dikeluarkan. Elektroda didinginkan dalam desikator. Berat
elektroda dihitung dengan neraca. Diulangi proses pengeringan sampai berat elektroda
konstan.
Elektrolisis

Larutan sampel tembaga dipipet 25mL ke gelas piala 100mL. Larutan pekat
asam sulfat ditambahkan 2mL dan 1mL asam nitrat. Air bebas mineral ditambahkan
sampai elektroda terendam secukupnya. Elektrolisis dijalankan dengan potensi antara
3-4 V arus 2-4 Ampere hingga warna larutan menjadi bening. Katoda dari dalam
larutan dikeluarkan. Katoda dibilas dengan aqua DM lalu dicuci dengan alkohol dan
aseton. Katoda dikeringkan dan ditimbang sampai berat konstan. Selisih antara berat
elektroda setelah dan sebelum hidrolisis menunjukkan berat tembaga yang terdapat
dalam sampel. Persen berat tembaga dalam sampel dihitung.
C. Titrasi Kompleksometri
Pembakuan Larutan EDTA
Larutan induk EDTA 0,05 M diencerkan lima kali dalam gelas kimia 250mL
untuk menghasilkan larutan baku 0,01M. 0,24 gram magnesium sulfat heptahidrat
ditimbang. Dilarutkan dengan air secukupnya dalam gelas piala 100mL. Larutan
dipindahkan secara kuantitatif dalam labu takar 100mL. Diencerkan sampai tanda
batas. Larutan EDTA 0,01 M dibakukan dengan larutan baku magnesium sulfat
dengan indikator EBT/NaCl dan buffer pH 10. Lakukan titrasi duplo.
Penentuan Kadar Tembaga dalam Larutan Sampel
Larutan sampel tembaga dipipet 10mL kedalam labu takar 100mL. Diencerkan
sampai tanda batas. Larutan encer dipipet 25mL ke dalam labu erlenmeyer 250mL.
Ditambahkan basa ammonia 10mL, 25mL aqua DM, indikator murexid. Larutan ini
dititrasi dengan larutan baku EDTA 0,01 M sampai warna biru ungu. Dilakukan
duplo. Persen berat tembaga yang terdapat didalam sampel dihitung. Dibandingkan
dengan hasil yang anda peroleh secara elektrolisis.
IV. Data Pengamatan
A.Elektrolisis
Berat elektroda sebelum elektrolisis = 12,63069 gram
Berat elektroda setelah elektrolisis

= gram

B. Titrasi pengkompleksan
Pembakuan EDTA
Massa MgSO4.7H2O = 0,2291 gram
Titrasi EDTA - MgSO4.7H2O
Titrasi keTitrasi I
Titrasi II
Volume rata-rata

Volume EDTA (ml)


24,70
24,70
24,70

Penentuan kadar tembaga


Massa sampel tembaga = 1,5 gram
Titrasi Cu EDTA
Titrasi keTitrasi I

Volume EDTA (ml)


16,90

Titrasi II
Volume rata-rata

16,70
16,80

V. Pengolahan Data
A.Elektrolisis
Massa Cu(25mL) = Massa Elektroda Cu setelah elektrolisis- Massa Elektroda Cu sebelum
elektrolisis
= 12,70035 g 12,63069 g
= 0,06966 g
Massa Cu(100mL) = Massa Cu(25mL) . 100mL/25mL
= 0,06966 g. 4
= 0,27864 g

Kadar tembaga =

berat tembaga dalam sampel


berat sampel awal

Kadar tembaga =

0,27864 gram
1,50 gram

100
25

x 100%

x 4 x 100%

= 18,576 %
B. Titrasi pengkompleksan

Pembakuan EDTA
mol EDTA = mol MgSO4.7H2O
(M.V)EDTA =

MEDTA =

massa MgS O4 .7 H 2 O
Mr MgS O4 .7 H 2 O

massa MgS O4 .7 H 2 O
Mr MgS O4 .7 H 2 O
0,2291 gram
g
246
mol

= 0,009426 M

25
100

25

x 100
25
100

x V EDTA

1
24,7 x 103 L

Penentuan kadar tembaga


mol Cu = mol EDTA
25
10
mol Cu x 100 x 100 = (M x V)EDTA
mol Cu = (M x V)EDTA x

100
25

100
10

mol Cu = 0,009426 M x 16,8 x 10-3 L x

100
25

100
10

mol Cu = 6,33 x 10-3 mol


massa Cu = mol Cu x Ar Cu
= 6,33 x 10-3 mol x 63,5 g/mol
= 0,4023 gram
Kadar tembaga =

massatembaga dalam sampel


massa sampel awal

Kadar tembaga =

0,4023 gram
1,50 gram

Kadar tembaga = 26,82%

x 100%

x 100%

VII. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan maka didapat kadar dari tembaga sebagai berikut :
- Metode Elektrolisis : 18,576%
- Metode titrasi kompleksometri : 26,82%
VIII.Daftar Pustaka
1. Skoog, A.;West, D.M; Holler, F.J. Analytical Chemistry: An Introduction. 6Ed.
Saunders College Publishing, Philadelphia.1994. p.328-356.
2. Kennedy,J.H. Analytical Chemistry: Principles.2Ed. Saunders College Publishing,
New York.1990.
3. Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. The McGraw-Hill Companies :
USA. Halaman 465-485

VI. Pembahasan