Anda di halaman 1dari 5

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

DEFINISI
HIperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai
mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi
dehidrasi.
ETIOLOGI
Sebab pastinya belum diketahui, frekuensi kejadian adalah 2:1000 kehamilan. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik; juga tidak ditemukan kelainan biokimia.
Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh
kekurangan vitamin serta zat-zat lain.
Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan
kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda
menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan penting karena pada keadaan
tersebut hormon chorionic gonadotropin dibentuk berlebihan.
Masuknya villi khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta
resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
Alergi, sebagai salah satu dari respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah
satu faktor organik.
faktor psikologis : keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan
dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai seorang ibu, dapat menyebabkan konflik
mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Hubungan psikologis dengan
hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, namun tidak jarang dengan memberikan
suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.
faktor endokrin lainnya :hiperthyroid, diabetes, dan lain-lain.
kelainan organik: gastroesofageal refluks, hernia diafragmatika, hernia hiatal, achalasia, dll.
PATOLOGI
Pada saat otopsi pasien hiperemesis gravidarum didapatkan kelainan-kelainan pada berbagai alat
dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.
Hati, pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa
nekrosis, degenerasi tersebut terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak
menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat
ditambahkan bahwa separuh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum
menunjukkan gambaran mikroskopis hati yang normal.

jantung menjadi lebih kecil daripada biasa dan beratnya atrofi ini sejalan dengan lamanya
penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.
otak, terdapat bercak-bercak perdarahan dan kelainan seperti encefalopathy Wernicke (dilatasi
kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah korpora mamilaria ventrikel 3 dan 4).
ginjal, nampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti.
PATOFISIOLOGI
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen.
Oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester I. Pengaruh fisiologik hormon ini tidak jelas,
mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya penggosongan lambung.
Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat
berlangsung berbulan-bulan (bahkan sampai 4 bulan). Bila keadaan ini terjadi secara terusmenerus dapat menyebabkan dehidrasi dan terjadi ketidakseimbangan elektrolit dengan akibat
timbulnya alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini terjadi pada sebagian
kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, disamping faktor hormonal. Yang
jelas pada wanita yang sebelum hamil sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka
makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. Hiperemesis gravidarum
ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi.
Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam
aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum
dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan
plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih
berkurang. Dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan akan
terganggu. Hal ini menyebabkan jumlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai
akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntahmuntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit
dipatahkan. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi
robekan selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma Mallory Weiss), dengan akibat
perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti
sendiri, jarang sampai memerlukan transfusi darah atau tindakan operatif.
GEJALA DAN TINGKAT
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum
tidak ada (ada yang mengatakan batasnya lebih dari 10 kali muntah); tetapi bila keadaan umum
penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis
gravidarum, menurut berat ringannya dibagi menjadi 3 tingkatan.
Tingkat I = ringan
Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan turun
dan rasa nyeri di epigastrium; nadi sekitar 100x/menit, tekanan darah turun, turgor kulit kurang,
lidah kering, dan mata cekung.

Tingkat II = sedang
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah, lemah, apatis,
turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor; nadi kecil dan cepat, suhu badan naik (dehidrasi),
ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oligouria dan
konstipasi. Dapat pula terjadi asetonuria, dan dari nafas keluar bau aseton.
Tingkat III = berat
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat menurun, somnolen sampai koma, nadi kecil, halus, dan
cepat; dehidrasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikterus. Komplikasi yang dapat
berakibat fatal terjadi pada susunan saraf pusat (encefalopati Wernicke) dengan adanya:
nistagmus, diplopia, perubahan mental.
DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis hiperemesis gravidarum umumnya tidak sulit, pertama harus
ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi
keadaan umumnya. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit
penyerta seperti pielonefritis, ulkus ventrikuli, hepatitis dan tumor serebri yang dapat juga
memberikan gejala muntah. Hiperemesis yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan
makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera
diberikan.
PENGELOLAAN
Prinsip pengobatan pada pasien hyperemesis gravidarum adalah keseimbangan cairan, koreksi
elektrolit, dan koreksi asam-basa.
-

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan


memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan
gejala fisiologik pada kehamilan muda dan hilang setelah kehamilan 4 bulan,
menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan mekanan dengan jumlah kecil, tetapi
lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan

untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan
berbau lemak harus dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam
keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin,
menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya
dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula. Bila terjadi muntah yang
berkepanjangan, harus dipertimbangkan untuk diberikan tambahan gizi, sebaiknya
diberikan secara enteral bila memungkinkan. Hsu and colleagues (1996) menggunakan
Dobhhof nasogastric tube pada saat terjadi mual dan muntah akut. Bila tidak bisa, dapat
dipertimbangkan parenteral.
-

Terapi obat, menggunakan sedativ (luminal, stesolid), vitamin (B1 dan B6); anti muntah
(mediamer B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan); antasida dan spasmolitik. Pada
keadaan lebih berat dapat diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrokhloride atau
chlopromazin (CPZ). Nagoette (1996) menggunakan droperidol diphenhydramine. Untuk
yang lebih berat digunakan metoclopramide intravena. Penanganan hiperemesis
gravidarum yang lebih berat diperlukan untuk rawat inap.

Isolasi, pasien disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara
yang baik. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita,
sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Kadang-kadang dengan isolasi saja
gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

Terapi psikologik, perlunya meyakinkan pada pasien bahwa kelainannya dapat


disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaaan sertaa
menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit
ini.

Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.

Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur di rumah sakit saja dan telah
banyak mengurangi muntahnya.

Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu
ditambah kalium, dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila
ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena. Dibuat
kontrol cairan yang masuk dengan yang keluar, air kencing perlu diperiksa sehari-hari

terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam
dan tekanan darah 3x sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan
seterusnya menurut kebutuhan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan
keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat
laun minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair.

Penghentian kehamilan, hanya pada sebagian kecil kasus, dimana keadaan tidak
menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan
psikiatrik bila keadaan memburuk.

KOMPLIKASI
Safari and co-workers (1998) bila didapatkan muntah yang persisten, kemungkinan ada
penyakit yang melatarbelakangi seperti gastroenteritis, chlocystitis, pancreatitis, hepatitis,
ulkus peptikum, pyelonefritis, hyperthyroid, hypercalcemi, dan fatty liver pada
kehamilan.
Dapat timbul prerenal azotemia yang berat dengan kadar creatinine serum 5 mg/dl.
Komplikasi yang berat dapat timbul, seperti Mallory-Weis tears dan oesophageal rupture.
Robinson dan koleganya (1998) memperlihatkan epistaksis berat yang disebabkan oleh
defisiensi vit. K koagulopati pada wanita dengan hyperemesis yang menetap setelah 15
minggu kehamilan. Komplikasi lain yang ditakuti adalah munculnya encephalopathy
Wernicke yang dimana terjadi defisiensi thiamine yang akan timbul gejala kebutaan
(blindness), kejang (convulsions), dan koma (Hillbom, 1999; Rees, 1997; Tesfaye, 1998,
and their associates).
PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik maka prognosisnya sangat memuaskan. Namun pada
beberap kasus yang berat dapat mengancam nyawa ibu dan janin.