Anda di halaman 1dari 9

UMPATAN KELAS IV DENGAN RESIN KOMPOSIT

Studi Kasus
Pasien laki-laki datang ke praktek saya dengan mengeluhkan giginya berlubang besar
di gigi depannya, setelah dilakukan pemeriksaan klinis ternyata gigi 11 kavitasnya terbuka
dari proksimal sampai ke sudut insisal. Saya harus segera melakukan restorasi kelas IV
dengan resin komposit pada gigi tersebut.
Pengertian
Klasifikasi kavitas menurut G.V Black untuk kelas IV pengertiannya adalah kavitas
yang terdapat pada permukaan proksimal gigi anterior tetapi sudah melibatkan sudut insisal
(1). Restorasi untuk kelas IV dengan menggunakan resin komposit. Resin komposit dapat
didefinisikan sebagai gabungan 2 atau lebih bahan berbeda dengan sifat-sifat unggul atau
lebih baik daripada bahan itu sendiri (2).
Persiapan Alat
Alat-alat yang dibutuhkan untuk restorasi kelas IV adalah sebagai berikut :

Alat Diagnosa ( Kaca mulut, sonde, ekskavator, pinset)

Plastic filling instrument, ball aplikator

LED ( Light Emitting Diode)

Contra angel high speed

Bur diomond (round bur, fissure bur)


Crown form (matriks)
Polishing alpine
Rubber silicon cups

Masker dan Handscoon, cotton pellet, rubber dam


Persiapan Bahan
Bahan yang digunakan dalam restorasi kelas IV adalah :

Resin Komposit

Resin komposit merupakan sebuah bahan tumpatan warna, yang dikenal dengan
tambalan putih. Resin komposit diperkenalkan pertama kali pada tahun 1957, dimana resin
komposit dibatasi hanya digunakan pada gigi depan karena resin komposit tidak kuat untuk
menerima tekanan dari gigi posterior. Sejak saat itu, resin komposit dikembangkan secara
signifikan dan sukses digunakan pada gigi posterior. Resin komposit tidak hanya digunakan
untuk menutup karies, tetapi juga digunakan sebagai bahan kosmetik untuk memperbaiki
senyum dengan mengubah warna gigi atau membentuk anatomi gigi (3).
Keuntungan

menggunakan

resin

komposit

antara

lain

estetis,

mempertahankan struktur gigi, berikatan pada struktur gigi dengan bahan bonding, menutup
margin restorasi dan memperkuat sisa struktur gigi sehat. Kerugian menggunakan resin
komposit antara lain : pengerutan saaat polimerisasi, terjadinya lesi karies sekunder,
mengabsosi air.
Resin komposit merupakan restorasi yang paling sering digunakan di klinik dokter
gigi. Secara umum, komposisi resin komposit terdiri dari tiga bagian besar, yaitu :
a.

Matriks resin, terdiri dari :


Monomer (Bis-GMA / bisphenol A-Glycidil methacrylate).
Urethane Dimethacrylate (UDMA)
Bis-GMA dan UDMA merupakan cairan yang memiliki kekentalan tinggi karena
memiliki berat molekul yang tinggi. Penambahan filler dalam jumlah kecil saja menghasilkan
komposit dengan kekakuan yang dapat digunakan secara klinis. Untuk mengatasi masalah
tersebut, monomer yang memiliki kekentalan rendah yang dikenal sebagai pengontrol
kekentalan ditambahkan seperti metil metkrilat (MMA), etilen glikol dimetakrilat (EDMA),
dan trietilen glikol dimetakrilat (TEGDMA) adalah yang paling sering digunakan (3).

b. Partikel pengisi

Penambahan partikel bahan pengisi kedalam resin matriks secara signifikan


meningkatkan sifatnya. Seperti berkurangnya pengerutan karena jumlah resin sedikit,
berkurangnya penyerapan air dan ekspansi koefisien panas, dan meningkatkan sifat mekanis
seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan, dan ketahanan abrasi. Faktor-faktor penting lainnya
yang menentukan sifat dan aplikasi klinis komposit adalah jumlah bahan pengisi yang
ditambahkan, ukuran partikel dan distribusinya, radiopak, dan kekerasan. Partikel pengisi
c.

terdiri dari : Kaca, quartz, Koloid silika (3).


Bahan Coupling, seperti organo silanes yang berperan dalam pembentukan ikatan kimia
antara partikel pengisi dan matriks resin. Bahan ini berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik
dan mekanik resin dan mempertahankan stabilitas hidrolitik resin dengan cara mencegah air
masuk ke dalam ruang yang terdapat antara partikel pengisi dan resin (3).
Sejumlah sistem klasifikasi telah digunakan untuk komposit berbasis resin. Klasifikasi
didasarkan pada rata-rata partikel bahan pengisi utama. Resin komposit berdasarkan ukuran

partikel bahan pengisi utama di antaranya :


a. Komposit Tradisional
Komposit tradisional adalah komposit yang di kembangkan selama tahun 1970-an dan sudah
mengalami sedikit modifikasi. Komposit ini disebut juga komposit kovensional atau
komposit berbahan pengisi makro, disebut demikian karena ukuran partikel pengisi relatif
besar. Bahan pengisi yang sering digunakan untuk bahan komposit ini adalah quartz giling.
Dilihat dari foto micrograph bahan pengisi quartz giling mengalami penyebaran yang luas
dari ukuran partikel. Ukuran rata-rata komposit tradisional adalah 8-12 m, partikel sebesar
50m mungkin ada. Komposit ini lebih tahan terhadap abrasi dibandingkan akrilik tanpa
bahan pengisi. Namun, bahan ini memiliki permukaan yang kasar sebagai akibat dari abrasi
selektif pada matrik resin yang lebih lunak, yang mengelilingi partikel pengisi yang lebih
keras. Komposit yang menggunakan quartz sebagai bahan pengisi umumnya bersifat
radioulusen (3).
b. Komposit bebrbahan pengisi mikro

Dalam mengatasi masalah kasarnya permukaan pada komposit tradisional, dikembangkan


suatu bahan yang menggunkan partikel silika koloidal sebagai bahan pengisi anorganik.
Partikelnya berukuran 0,04 m; jadi partikel tersebut lebih kecil 200-300 kali di bandingkan
rata-rata partikel quartz pada komposit tradisional. Komposit ini memiliki permukaan yang
halus serupa dengan tambalan resin akrilik tanpa bahan pengisi. Dari segi estetis resin
komposit mikro filler lebih unggul, tetapi sangat mudah aus karena partikel silika koloidal
cenderung menggumpal dengan ukuran 0,04 sampai 0,4 m. Selama pengadukan sebagian
gumpalan pecah, manyebabkan bahan pengisi terdorong. Menunjukan buruknya ikatan antara
partikel pengisi dengan matriks sekitarnya. Kekuatan konfresif dan kekuatan tensil
menunjukkan nilai sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan resin komposit konvensionl.
Kelemahan dari bahan ini adalah ikatan antara partikel komposit dan matriks yang dapat
mengeras adalah lemah mempermudah pecahnya suatu restorasi (3).
c. Resin komposit berbahan pengisi partikel kecil
Komposit ini dikembangkan dalam usaha memperoleh kehalusan dari permukaan komposit
berbahan pengisi mikro dengan tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan sifat
mekanis dan fisik komposit tradisional. Untuk mencapai tujuan ini, bahan pengisi anorganik
ditumbuk menjadi ukuran lebih kecil dibandingkan dengan yang biasa digunakan dalam
komposit tradisional. Rata-rata ukuran bahan pengisi untuk komposit berkisar 1-5 m tetapi
penyebaran ukuran amat besar. Distribusi ukuran partikel yang luas ini memungkinkan
tingginya muatan bahan pengisi, dan komposit berbahan pengisi partikel kecil umumnya
mengandung bahan pengisi anorganik yang lebih banyak (80 % berat dan 60-65 % volume).
Beberapa bahan pengisi partikel kecil menggunakan quartz sebagai bahan pengisi, tetapi
kebanyakan memakai kaca yang mengandung logam berat (3).
d. Komposit Hibrid
Kategori bahan komposit ini dikembangkan dalam rangka memperoleh kehalusan permukaan
yang lebih baik dari pada partikel yang lebih kecil, sementara mempertahankan sifat partikel
kecil tersebut. Ukuran partikel kacanya kira-kira 0,6- 1,0 mm, berat bahan pengisi antara 75-

80% berat. Sesuai namanya ada 2 macam partikel bahan pengisi pada komposit hybrid.
Sebagian besar hibrid yang paling baru pasinya mengandung silica koloidal dan partikel kaca
yang mengandung logam berat. Silica koloidal jumlahnya 10-20% dari seluruh kandungan
pasinya. Sifat fisik dan mekanis dari sitem ini terletak diantara komposit konvensional dan
komposit partikel kecil, bahan ini lebih baik dibandingkan bahan pengisi pasi-mikro. Karena
permukaannya halus dan kekuatannya baik, komposit ini banyak digunakan untuk tambalan
gigi depan, termasuk kelas IV. Walaupun sifat mekanis umumnya lebih rendah dari komposit
partikel kecil, komposit hibrid ini juga sering digunakan untuk tambalan gigi belakang (3).

Etsa Asam
Sebelum memasukan resin, email pada permukaan struktur gigi yang akan ditambal
diolesi etsa asam. Asam tersebut akan menyebabkan hydroxiapatit larut dan hal tersebut
berpengaruh terhadap hilangnya prisma email dibagian tepi, inti prisma dan menghasilkan
bentuk yang tidak spesifik dari struktur prisma. Kondisi tersebut menghasilkan pori-pori kecil
pada permukaan email, tempat kemana resin akan mengalir bila ditempatkan kedalam
kavitas.
Bahan etsa yang diaplikasikan pada email menghasilkan perbaikan ikatan antara
permukaan email-resin dengan meningkatkan energi permukaan email. Kekuatan ikatan
terhadap email teretsa sebesar 15-25 MPa. Salah satu alasannya adalah bahwa asam
meninggalkan permukaan email yang bersih, yang memungkinkan resin membasahi
permukaan dengan lebih baik. Proses pengasaman pada permukaan email akan meninggalkan
permukaan yang secara mikroskopis tidak teratur atau kasar. Jadi bahan etsa membentuk
lembah dan puncak pada email, yang memungkinkan resin terkunci secara mekanis pada
permukaan yang tidak teratur tersebut. Resin tag kemudian menghasilkan suatu perbaikan
ikatan resin pada gigi. Panjang tag yang efektif sebagai suatu hasil etsa pada gigi anterior
adalah 7-25 m. Asam fosfor adalah bahan etsa yang digunakan. Konsentrasi 35 %-50 %

adalah tepat, konsentrasi lebih dari 50 % menyebabkan pembentukan monokalsium fosfat


monohidrat pada permukaan teretsa yang menghambat kelarutan lebih lanjut. Asam ini
dipasok dalam bentuk cair dan gel dan umumnya dalam bentuk gel agar lebih mudah
dikendalikan. Asam diaplikasikan dan dibiarkan tanpa diganggu kontaknya dengan email
minimal selama 15-20 detik.
Begitu dietsa, asam harus dibilas dengan air selama 20 detik dan dikeringkan dengan
baik. Bila email sudah kering, harus terlihat permukaan berwarna putih seperti bersalju
menunjukan bahwa etsa berhasil. Permukaan ini harus terjaga tetap bersih dan kering sampai
resin diletakan untuk membuat ikatan yang baik. Karena email yang dietsa meningkatkan
energi permukaan email. Teknik etsa asam menghasilkan penggunaan resin yang sederhana
(3).

Bahan Bonding
Adhesive dentin harus bersifat hidrofilik untuk menggeser cairan dentin dan juga
membasahi permukaan, memungkinkan berpenetrasinya menembus pori di dalam dentin dan
akhirnya bereaksi dengan komponen organik atau anorganik. Karena matriks resin bersifat
hidrofobik, bahan bonding harus mengandung hidrofilik maupun hidrofobik. Bagian
hidrofilik harus bersifat dapat berinteraksi pada permukaan yang lembab, sedangkan bagian
hidrofobik harus berikatan dengan restorasi resin (3).
Perkembangan bonding (4) :

1.

Generasi 1 : Teknik etsa email, kekuatan bonding rendah, contoh : polyurrethanes,

2.

cyanoacrylate, NPG-GMA.
Generasi 2 : phosphate ester berdasarkan interaksi kutub negatif (fospat pada bahan
bonding ) dan kutub positif ( ion kalsium smear layer ) sehingga kekuatan bonding lebih baik
daripada generasi 1. Menggunakan smear layer sebagai substrat bonding.

3.

Generasi 3 : menggunakan etsa asam untuk menghilangkan smear layer. Generasi III ini
dapat meningkatkan ikatan terhadap dentin 12MPa15MPa dan dapat menurunkan
kemungkinan terjadinya kegagalan batas tepi bahan adhesif dan dentin (marginal failure).
Tetapi seiring waktu tetap terjadi juga kegagalan tersebut.

4. Generasi 4 : merupakan three-step etch & rinse adhessive yaitu aplikasi conditioner, primer
dan adhesive resin sehingga kekuatan bonding baik.
5. Generasi 5 : menyederhanakan penggunaan bahan bonding generasi 4 teknik etch rinse:
aplikasi conditioner/etsa, aplikasi primer dan adhessive yang terdapat dalam satu botol (one
bottle system) dan kekuatan bonding sama baik dengan generasi 4. Contoh : optibond solo,
excite.
6. Generasi 6 :
Self-etch adhesive : self-etching primer (dalam sate paket) dan adhesive resin (paket lain).
Mengkombinasikan conditioner, primer dan adhesive resin tetapi memerlukan pencampuran.
Hampir sama dengan bonding generasi 2 yang menggunakan smear layer pada permukaan
email dan dentin sebagai substrat bonding. Perbedaannya terdapat pada keasaman bahan
primer.
Generasi 6 mengandung acidic monomer (4-MET & 1MDP), lebih hidrofilik.
Contoh : Prompt L-pop. Xeno III
7. Generasi 7 : single componen:ine step self-etch adhesive.
Mengkombinasikan conditioner, primer dan resin adhesif dalam satu botol dan tidak
-

memerlukan pencampuran (truly one bottle system).


Campuran komponen hidrofilik dan hidrofobik.
Lapisan adhesif sebagai membran permiabel.
Contoh : G Bond, Bond Force

Preparasi Kavitas
-

Pemasangan isolator karet/rubber dam.


Pembuatan bevel pada seluruh tepi email selebar 2-3 mm dari tepi kapitas dengan diamond

fissure bur dengan sudaut 45 derajat di gigi 11


- Menghilangkan semua jaringan karies yang tersisa dan email yg tidak didukung dentin
dihilangkan juga pada pasien (5)

Etsa asam
-

Ulaskan bahan etsa ( Asam Phosphat 30 % - 50 % ) dalam bentuk gel/cairan dengan pinset

dan cotton pelet pada permukaan email yang telah dipreparasi, jangan mengenai gusi.
Biarkan selama 15-20 detik tanpa diganggu kontaknya dengan email
Bilas dengan air, air ditampung dengan gulungan kapas besar.
Gigi dikeringkan dengan semprotan udara selama 15 detik.
Bila email sudah kering, harus terlihat permukaan berwarna putih seperti bersalju
menunjukan bahwa etsa berhasil (3).
Aplikasi Bonding

Aplikasikan bonding pada seluruh permukaan yang telah diperparasi dengan menggunakan
ball aplikator. Lakukan penyinaran dengan LED selama 10 detik.
Insersi Resin Komposit ke Dalam Kavitas

Resin komposit diambil dengan plastis filling instrument dimasukkan kedalam matriks
sedikit demi sedikit. Kemudian insersikan ke dalam kavitas dengan cara meletakkan matriks
pada posisi yang tepat samapai diperoleh bentuk anatomi yang baik. Kelebihan massa
komposit diusahakan keluar melalui lubang pada sudut insisal. Polimerisasi selama 20 detik,

selama polimerisasi matriks dipegang dengan mantap dan stabil.


Pegangan jari pada matriks dikendorkan ketika polimerisasi selesai. Matriks dilepas pada
gigi 11 dengan menggunakan ujung sonde yang dimasuukkan diantara tepi matriks dan
permukaan gigi. Apabila pembentukan matriks dan teknik insersinya memadai, maka setelah
matriks dilepas akan diperoleh hasil yang bagus, bentuk anatomi dan persyaratan yang
berhubungan dengan faal gigi terpenuhi (5).
Finishing dan polishing

Finishing dilakukan dengan membuang kelebihan massa komposit di tepi-tepi matriks atau

margin kavitas, jangan smapai merusak kontur restorasi yang telah terbentuk.
Pengontrolan oklusi dengan meninstrusikan pasien meneguk air liur terus mengatupkan

giginya. Tidak boleh terjadi troumatik oklusi.


Pengambilan kelebihan bahan dilakukan dengan polishing alpihine.

Diakhiri denan penggunaan rubber silicon cups supaya diperoleh permukaan yang licin dan
halus (5).
Tunjukan hasil pengerjaanmu kepada pasien dengan memberikan cermin kepada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kidd EAM, Smith BGN, dan Pickard HM. Manual Konservasi Restoratif Menurut Pickard
edisi ke 6, Alih Bahasa Oleh Sumawinara N. Jakarta; Widya Medika, 2012
2. Anusavice KJ, Phillips. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi edisi 10. Jakarta, Indonesia.
EGC, 2004
3. Soraya SS. Resin Komposit sebagai Bahan Tambalan. Skripsi. Medan , Indonesia : USU,
2010
4. Bakar Abu. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta, Indonesia : Quantum sinergis Media, 2012
5. Baum L, Philips RW, Lund MR. Textbook Of Operative Dentistry, 3 ed. WB Saunders
Company, Phildelpian 1995.