Anda di halaman 1dari 55

1

I.

PENDAHULUAN

Meteorologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang cuaca.


Cuaca adalah kadaan fisis suatu udara pada suatu saat dan tempat tertentu.
Sebab-sebab terjadinya cuaca adalah merupakan resultante dari 2 gejala:
1.

Makrofisis, yaitu suatu proses pada udara yang menyebabkan udara itu mengadakan
gerakan atau perpindahan.

2.

Mikrofisis, yaitu suatu proses dimana udara yang bergerak atau berpindah tersebut bisa jadi
cuaca atau tidak.

Meteorologi pada umumnya digunakan di bidang operasional, yaitu pelaksanaan pekerjaan yang
terus menerus.
Contoh:Penerbangan,pelayaran; yaitu
-Memerlukan data-data cuaca pada saat itu.
- Memerlukan prakiraan cuaca yang akan datang.
Di dalam dunia penerbangan, meteorologi dipelajari. Untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai
sebab-sebab, perubahan-perubahan dan akibat-akibat yang disebabkannya serta pengaruhnya bagi
dunia penerbangan.
Parameter-parameter cuaca yang dibutuhkan dalam penerbangan diantaranya:
- Temperatur udara
- Angin
- Tekanan
- Visibility
- Kerapatan udara
- Kelembaban udara
- hujan
- Awan

Untuk mempelajari parameter-parameter cuaca, maka kita akan mempelajari atmosfera.

2
II. ATMOSFERA
Atmosfera berasal dari kata-kata Greek, yaitu Atmos yang berarti uap air, dan Spaira yang berarti
bola.
Jadi atmosfera adalah bola-bola gas atau campuran berbagai macam gas yang menyelubungi bumi
atau planit-planit lain.
2.1.KOMPOSISI DARI ATMOSFERA
Atmosfera adalah campuran berbagai macam gas. Didalam keadaan bercampuran,masing masing
gas berdiri sendiri sendiri. Akan tetapi, sebagai akibat dari pada proses proses campuran dan
difusi yang terus menerus, maka gas gas tersebut didapati dalam keadaan perbandingan yang
sama sampai ketinggian + 80 km, kecuali OZONE, CO2 dan uap air.
Adanya uap air di dalam Atmosfera tidak hanya berupa uap air tetapi juga dalam keadaan padat dan
cair. Komposisi udara kering yang didasarkan atas perhitungan pada permukaan laut dan
dinyatakan dalam prosentasi volumenya,dapat diberikan sebagai berikut:
A. KOMPOSISI UDARA KERING
GAS

PERSENTASE VOLUME

NITROGEN
OXYGEN
ARGON
CARBON DIOXIDA
NEON
HELIUM
XRYPTON,HYDROGEN,
XENON,OZONE,RADON

.....
.....
.....
.....
.....
.....
.....

78,084
20,946
0,934
0,033
0,00182
0,00052
0,00066

B. KOMPOSISI UDARA BASAH


Uap air , awan ( padat / cair )
Debu , asap , garam kimia ,
Micro organisme

dalam perbandingan yang berubah ubah.

3
2.2 Susunan Atmosphere
Berdasarkan perubahan suhu terhadap ketinggian yang didapati di dalam Atmosphere, maka
Atmosphere dapat dibedakan menjadi 4 daerah tegak
( lapisan ) yaitu :
1. Ttroposphere
3. Stratosphere
4. Mesosphere
5. Thermosphere : - Ionosphere
- Exosphere
Pada gambar 2.2 dapat dilihat perubahan perubahan suhu dan tekanan udara terhadap ketinggian.

Gambar: 2.2

4
STANDARD ATMOSPHERE
- MEAN SEA LEVEL
- MEAN SEA LEVEL TEMPERATURE
- LAPSERATE (LR)
- TROPOPAUSE

: 1013,25 MB
: 15OC (59OC)
: 1,98OC (3,5O)
: 36089,24 FT

150

54.000

- 60

200

40.000

- 51

250

35.000

- 40

300

30.000

- 32

500

20.000

- 8

600

15.000

700

10.000

850

6.000

17

1.000

2.000

24

1.013,25
Pressure (mb)

26
Height ( feet)

Temperature (oC)

Diagram di atas menunjukkan Atmosphere Standard pada lintang menengah dan merupakan
nilai rata-rata.

5
III. TEMPERATURE ( SUHU = PANAS )
Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut untuk
memindahkan (menstrnsfer) panas ke benda-benda lain atau menerima panas dari benda-benda
lain tersebut.
3.1. Perpindahan Panas
Perpindahan / pertukaran panas / energi umumnya dilakukan dengan 4 cara:
a. Konduksi (Conduction): Panas merambat dari tempat / benda yang lebih panas ke benda yang
lebih dingin. Umumnya banyak terjadi pada benda padat dan akan lebih baik pada benda metal.
b. Konveksi (Convection): Panas merambat , dimana benda perantara dengan panasnya berpindah
dari tempat yang lebih panas ke tempat yang lebih dingin. Umumnya banyak terjadi pada zat
cair dan gas, pada peristiwa ini arus panas merambat secara vertikal.
c. Adveksi (Advection): Sama halnya dengan konveksi, pada peristiwa ini arus panas yang
merambat secara horizontal.

Awan

d. Radiasi (Radiation): Pemindahan panas / energi dalam bentuk gelombang


tanpan perantara.
Sun

Cloud

elektromagnetic

Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa:


- Pada siang hari yang ber awan akan lebih dingin dari pada siang hari yang cerah.
- Pada malam hari yang cerah lebih dingin dari pada malam hari yang ber awan.

3.1.1. Kesetimbangan Panas Dalam Atmosphere

Su
n

41-49%
Bumi

7
3.2. Pengukuran Temperature
Suhu Udara biasanya diukur dengan Thermometer Air Raksa.
Beberapa type dari Thermometer, yaitu:
-

Thermometer Celcius

Thermometer Reamur

Thermometer Fahrenheit

Thermometer Kelvin / Absolut.

Alat yang dapat merekam suhu secara terus menerus disebut: Thermograph.
Skala Thermometer
Dalam keperluan sehari-hari Thermometer Celcius dan Thermometer Fahrenheut banyak
dipergunakan. Kedua thermometer ini mempunyai perbandingan skala sebagai berikut:

Titik Didih ------------ 100OC

Titik Beku - - -

0OC

- -- -

---

212OF

32OF

o
5/9( (oFoF3232) )
CC==5/9
o
o
o F = 9/5o C + 32
F = 9/5 C + 32
o

8
3.3. Variasi Harian Suhu Permukaan
Variasi suhu harian antara siang dan malam di daratan mencapai 200C, sedangkan di
permukaan laut 1o C .
Dalam meteorologi, yang dimaksud dengan suhu udara permukaan adalah suhu udara bebas pada
ketinggian antara 1,25 m 2 m dari permukaan tanah, yang umumnya sesuai dengan suhu udara
yang dialami oleh mahluk hidup di permukaan bumi.
Pada suatu saat tempat-tempat tertentu mempunyai suhu yang sama, garis-garis yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai suhu sama disebut: Isotherm.
3.4. Variasi Suhu Vertikal
Di dalam Troposphere umumnya suhu udara menurun dengan tinggi, penurunan suhu
terhadap tinggi ini biasa disebut: Angka Penurunan Suhu (Temperature Lapse Rate).
Rata-rata angka penurunan suhu dalam Troposphere 1,98oC / 1000 feet atau 3,5 oF / 1000 feet.
3.4.1. Lapse Rate
Dalam Troposphere umumnya suhu udara turun terhadap ketinggian yang disebut Lapse
Rate. Dari hasil observasi, rata-rata lapse rate pada suatu tempat berbeda-beda . Umumnya batas
normal lapse rate adalah:
a. Adiabatic Lapse Rate : Untuk udara bergerak.
- Lapse Rate Adiabatic Kering = 5,5 oF (3,5 oC)
- Lapse Rate Adiabatic Basah

= 3 o F (1,5 oC)

b. Normal Lapse Rate: Untuk udara tidak bergerak.


- Normal Lapse Rate
c. Dew Point Lapse Rate

= 3,5 oF ( 1,98 oC)


= 1 oF

LR negatif

Isothermal
LR positif
Stationary Air (Normal Air)

Wet Adiabatic LR

Condensation
======================
Base Cloud
Dry Air

Dry ad LR

Moving Air (Adiabatic LR)

9
Contoh Soal Lapse Rate
1. Jika suhu permukaan suatu tempat 25 oF. Berapakah suhu pada lapisan 10.000 feet, dengan
anggapan proses yang dialami adalah adiabatic dan udara menjadi jenuh pada lapisan 7.000
feet.
Jawab:

10.000

- - -- - - - - - - - - --

3o F

x3.000 ft 22,5o F
- 13,5 oF
1.000 ft

7.000

-------------

5,5o F

x 7.000 ft 13,5o F
25 oF -
1
.
000
ft

25 o F

2. Jika suhu permukaan 80oF, Dew Point 65oF. Berapakah tinggi dasar
awan konvektif yang mungkin terbentuk jika udara labil.
Penyelesaian:
Diket

: T = 80oF
Td = 65oF
d = 5,5oF/1.000ft
w = 1oF/1.000ft

Ditanya : Tinggi dasar awan konvektif (H)


Jawab

:
Rumus : T - d H = Td - w H
80oF 5,5oF/1.000ft. H = 65oF 1oF/1.000ft
4,5oF/1.000ft. H = 15oF
H = 15.000/4,5 . ft
= 3333,3 ft

cloud
T = Td

Td
w

T
w

10
Keterangan :
T - d H = Td - w H

H = (T Td)/( d - w)
T = Suhu Permukaan
Td = Suhu Titik Embun (Dew Point)
d = lapse rate Adiabatic Kering
w = Dew Point Lapse Rate
H = Tinggi Dasar Awan
Catatan:
Proses Adiabatic adalah gerakan vertikal dari udara di mana tekanan, suhu dan volume dari
udara tersebut dapat berubah-ubah, tetapi tidak ada penambahan panas kepada, maupun
pengurangan panas dari udara tersebut.

11

IV. TEKANAN UDARA


4.1.

PENGERTIAN TEKANAN UDARA


Tekanan Udara didefinisikan sebagai gaya persatuan luas dari berat sekolom udara di
atasnya.

4.2. PENGUKURAN TEKANAN UDARA


Alat untuk mengukur tekanan udara disebut Barometer.
Barometer ada 2 macam, yaitu:
1. Barometer Air Raksa
2. Barometer Aneroid
4.2.1. Barometer Air Raksa
Percobaan Torriceli
30 29 28 h = 76 cm Hg (29,92 inch)
P

Hg

12
4.2.2. Barometer Aneroid

H
P<
L
P>

4.2.3. Tekanan Atmosphere Standard


P=gh
P

= Tekanan Standard Atmosphere

Hg = 13,596 gr/cm3
g45o = 980,6 cm/dtk2
hHg = 76 cm
Catatan:
1 Bar = 103mb = 106 dyne/cm2
1 mb = 103dyne/cm2, sehingga:
P=gh
= (13,596 x 980,6 x 76) gr/cm3 x cm/dtk2 x cm
= 1.013.250 dyne/cm2
= 1.013.250/ 1.000 mb
= 1.013,25 mb

13

4.3. VARIASI VERTIKAL DARI TEKANAN UDARA


Rata-rata penurunan tekanan udara terhadap ketinggian tidak tetap. Hal ini tergantung
dari:
1. Altitude / Height / Elevasi
2. Gaya Gravitasi
3. Jumlah Udara Di atasnya
Penurunan Tekanan Udara Terhadap Ketinggian Tersebut Adalah:
Lapisan Permukaan 5.000 ft

= 1mb/28ft

Lapisan 5.000 ft

= 1 mb/30ft

20.000 ft

Lapisan 20.000 ft ke atas

= 1 mb/50ft

Note: 1 feet = 0,3048 m

pA < pB < pC

A
p
B

p
C

4.4.REDUKSI DARI PEMBACAAN BAROMETER KE TEKANAN


AERODROME

PERMUKAAN

Untuk mereduksi pembacaan Barometer ke dalam tekanan permukaan aerodrome harus


dilakukan koreksi, yaitu:
1. Koreksi Suhu
2. Koreksi Indek
3. Koreksi Gravitasi
Hasil reduksi pembacaan Barometer tersebut digunakan dalam dunia penerbangan untuk
keperluan take off dan landing ataupun pada saat terbang, yang dikenal dengan istilah-istilah:
QFE = Tekanan udara hasil bacaan Barometer yang dijabarkan ke tekanan permukaan stasiun
(Aerodrome)
QFF = Tekanan udara permukaan aerodrome yang dijabarkan ke tekanan permukaan laut
berdasarkan konvensi WMO (World Meteorological Organization)
QNH = Tekanan udara permukaan aerodrome yang dijabarkan ke tekanan permukaan laut
berdasarkan standard atmosphere ICAO
QNE = Ketinggian tekanan (Pressure Height) terhadap tekanan aerodrome (QFE)

14

Contoh Reduksi dari pembacaan Barometer ke tekanan permukaan aerodrome


Lintang Aerodrome 06oS pada suhu 30oC, pembacaan barometer
1010,5 mb, koreksi indek + 0,03 mb, koreksi suhu 0,86 mb dan koreksi gravitasi
0,04 mb. Berapa tekanan permukaan aerodrome ?
Penyelesaian:
Pembacaan Barometer
= 1010,5 mb
Koreksi Indek
= + 0,03 mb
1010,53 mb
Koreksi Suhu
= - 0,86 mb
1009,67 mb
Koreksi Gravitasi
= - 0,04 mb
1009,63 mb
Berarti tekanan aerodrome adalah 1009,63 mb

15
DEFINISI-DEFINISI KETINGGIAN
1) HEIGHT (TINGGI): Adalah jarak vertikal suatu level, titik atau benda (dianggap titik) di
ukur dari suatu datum tertentu.
2) ELEVASI: Adalah jarak vertikal suatu level, titik atau benda pada permukaan bumi, di ukur
dari Mean Sea Level (MSL).
3) ALTITUDE: Adalah jarak vertikal suatu level, titik atau benda di angkasa di ukur dari Mean
Sea Level (MSL).
4) FLIGHT LEVEL: Adalah jarak vertikal suatu level, titik atau benda di angkasa di ukur dari
tekanan standard atmosphere
(1013,25 mb).
5). PRESSURE HEIGHT: Adalah jarak vertikal suatu level, titik atau benda pada permukaan
bumi di ukur dari tekanan standard atmospher
(1013,25 mb).
H
AL
FL

EL
PH

MSL

1013,25 mb

16
4.5. HUBUNGAN TEKANAN UDARA DENGAN KETINGGIAN
Hubungan yang ada antara
Tekanan Udara dengan Ketinggian (Altitude) tidaklah selalu sama, tetapi tergantung dari pada
tekanan udara permukaan sampai dengan ketinggian yang dimaksud. Dengan anggapan bahwa
atmosphere ini kering, maka hubungan antara Tekanan Udara dan Altitude dapat dirumuskan
sebagai berikut:

H = 221,15 Tm log

H
Po
P
Tm

Po
P

= Altitude dalam feet


= Tekanan Udara Permukaan
= Tekanan Udara pada ketinggian H
= Suhu Udara Rata-rata dari permukaan sampai ketinggian H (oK)

Rumus ini hanya dapat digunakan dalam kalibrasi Altitude.

17
4.6. KETINGGIAN TEKANAN (PRESSURE HEIGHT)
Pressure Height adalah: Ketinggian yang sesuai dengan suatu tekanan udara dalam
Atmosphere Standard ICAO.

Aerodrome

Aerodrome
QFE

QFE

h!

MSL

QNH
h!- h

1013,25

h!

1013,25

QNE
h!- h

QNE MSL

Gb. A

QNH

Gb. B
PENENTUAN QNH

Keterangan:
Gb. A : Tekanan permukaan laut < 1013,25 mb, h!-h adalah positif.
Gb. B : Tekanan permukaan laut > 1013,25 mb, h!-h adalah negatif.
h
: Elevasi Aerodrome (Stasiun).
!
h
: Pressure Height.
Contoh:
Jika diketehui suatu Bandara
Elevasi
= 3.000 ft
QFE
= 930 mb
Tentukan Pressure Height dan QNH Bandara tersebut !
Penyelesaian:
PH = QNE QFE = (1013,25 -930) mb = 83,25 mb, karena 1 mb 28 ft, maka:
PH = 83,25 x 28 ft = 2331 ft
h!- h = ( 2331- 3000) ft = - 669 ft
= -669/28 x 1 mb = - 23,892 mb
Tanda negatif (-) artinya QNH > 1013,25 mb, sehingga
QNH = 1013,25 + 23,892 mb = 1037,142 mb ( Gb. B)
Atau
PH = QNE QFE
= (1013,25 930) mb = 83,25 mb
El
= (3.000/28) mb = 107,14 mb
QNH = QNE (PH EL)
= 1013,25 (83,25 107,14)
= 1037,14 mb

18
4.7. KETINGGIAN KERAPATAN UDARA (DENSITY HEIGHT)
Density Height adalah: Ketinggian dalam Atmosphere Standard ICAO dimana density
udara sesuai dengan density udara pada suatu tempat tertentu. Density Height ini sangat
berguna dalam penentuan karakteristik daya kerja pesawat terbang dan mesin-mesinnya serta
panjang take off yang diperlukan.
Contoh:
Suatu Aerodrome elevasinya

= 3.500 ft

Tekanan Aerodrome (QFE)

= 950 mb

Suhu Udara Permukaan

= 12oC

Lapse Rate Standard ICAO

= 1,98oC/1.000ft

Suhu Udara Permukaan Standard ICAO = 15oC


Tentukan Density Height Aerodrome tersebut !
Penyelesaian:
PH = QNE QFE = (1013,25 950) mb = 63,25 mb,
karena 1 mb 28 ft , maka:
PH = (63,25 x 28) ft = 1.771 ft
* Suhu Standard ICAO pada 1.771 ft = 15oC (1.771ft x 1,98oC/1.000ft)
= 15oC 3,5oC = 11,5oC
* Selisih Suhu Sesungguhnya denganm Standard ICAO pada 1.771 ft
= 12oC 11,5oC = 0,5oC
* DH = PH + (120ft tiap 1oC)
= 1.771ft + (120ft/oC x 0,5oC) = 1.831 ft

19
V. MOISTURE (UDARA BASAH)
Meskipun air terdapat dalam Atmosphere pada beberapa keadaan, tetapi pada umumnya
dalam bentuk uap, yang dari waktu ke waktu mengalami kondensasi membentuk awan, kemudian
menimbulkan adanya macam cuaca yang kita alami. Air masuk ke dalam Atmosphere melalui
proses penguapan dan transpirasi, kemudian kembali ke bumi sebagai hujan.
Jika kita meneliti tentang proses ini, kemudian ingin menerangkan keadaan cuaca
mendatang, maka perlu diingat adanya variasi-variasi kelembaban di dalam atmosphere, juga
perlu adanya metode yang dipergunakan untuk mengukur kelembaban udara.
5.1. Udara Basah
Disamping unsur-unsur udara kering, seperti Nitrogen, Oxygen, Argon, Ozon,
Carbodioksida dan yang lainnya, di dalam atmosphere terdapat pula uap air dalam jumlah yang
berubah-ubah. Campuran udara kering dan uap air ini disebut Udara Basah.
Sebelum mempelajari karakteristik dari udara basah, maka perlu diketahui terlebih dulu
proses perubahan sifat yang dialami oleh air dari suatu keadaan ke keadaan lain.
A.Tiga Keadaan Dari Pada Air
Air dapat ber ujud dalam 3 keadaan, sebagai berikut:
1. Keadaan Padat (Es)
2. Keadaan Cair (Air)
3. Keadaan Gas (Uap Air)
Air mungkin berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lain secara langsung maupun tidak
langsung.
Proses-proses dimana air berubah dari satu keadaan ke keadaan lain sebagai berikut:

= Panas dilepaskan
= Panas diperlukan

20

5.2. Tekanan Uap Air Udara Basah


Atmosphere adalah campuran dari berbagai gas, tiap-tiap gas mengusahakan tekanan
masing-masing yang disebut Tekanan Parsiel.
Tekanan Parsiel yang ditimbulkan oleh gas-gas tersebut sebanding dengan jumlah molekul gas-gas
yang ada pada suatu volume dari campuran gas-gas itu. Tekanan Atmosphere pada suatu titik =
Jumlah Tekanan-tekanan Parsiel yang ditimbulkan oleh masing-masing gas yang terdapat di dalam
Atmosphere (termasuk uap air).
Pada saat air menguap ke dalam udara kering, maka uap air segera mulai menimbulakan
tekanan parsielnya sendiri, yang disebut Tekanan Uap Air. Dengan demikian tekanan atmosphere
menjadi naik, karena ditambah oleh tekanan uap air.
5.3.

Tekanan Uap Air Jenuh Udara Basah


Seandainya permukaan air dianggap rata, pada suatu suhu tertentu molekul-molekul air

yang bergerak lebih cepat akan melepaskan diri dari permukaan air ke udara (ruangan) di atasnya
melalui proses penguapan, sebagian dari molekul-molekul tersebut kembali

ke dalam air,

sedangkan yang lain bergerak di udara di atas permukaan air tersbut. Proses ini berlangsung terusmenerus hingga pada suatu saat jumlah molekul air yang kembali ke dalam air tiap detik sama
banyaknya dengan jumlah molekul yang melepaskan diri dari permukaan air. Pada saat itu pula,
maka udara di atas permukaan air tersebut dikatakan jenuh pada suhu udara di atas permukaan air
tersebut.
Tekanan parsiel uap air yang ditimbulkan oleh uap air di dalam udara tersebut kemudian
disebut Tekanan Uap Air Jenuh.
Tekanan Uap Air Jenuh naik terhadap kenaikkan suhu.
* Tekanan Uap Air Jenuh Di atas Permukaan Air Yang Datar
Suhu (oC)
0
10
20
30
40

Tekanan Uap Air Jenuh (mb)


6,11
12,27
23,37
42,43
73,77

* Tekanan Uap Air Jenuh Di atas Dataran Permukaan Air Dan Es

Tekanan Uap Air Jenuh (mb)


Suhu (oC)
Di Atas Es
Di Atas Air

- 40
0,128
0,189

- 30
0,380
0,509

- 20
1,032
1,254

- 10
2,597
2,862

0
6,106
6,107

21

B. Beberapa Cara Untuk Menyatakan Jumlah Uap air


Untuk menyatakan Jumlah Uap Air / Kelembaban Udara dipakailah macam-macam ukuran,
diantaranya; Lembab Nisbi (Lembab Relative)
Kelembaban Nisbi (Kelembaban Relative / Relative Humidity): Adalah Perbandingan antara
jumlah uap air yang sebenarnya ada dan jumlah uap air yang dapat ditampung secara maksimum,
dan dinyatakan dalam prosen.
* Rumus Lembab Nisbi/Relative Humidity (RH):
e

RH = e x100%
max
RH = Lembab Nisbi/Relative Humidity (dalam %)
e = Tekanan Uap Air Aktual (dalam mb)
emax = Tekanan Uap Air Jenuh (dalam mb)
dimana :
e

= 6,11 x 107,5TW/(237,3 + TW) -0,7947 x 10-3 x P (TT-TW)

emax = 6,11 x 107,5TT/(237,3 + TT)


Dan:
TW = Wet Bulb Temperature / Suhu Bola Basah (dalam oC)
TT = Dry Bulb Temperature / Suhu Bola Kering (dalam oC)
P = Tekanan Udara Stasiun (QFE) dalam mb
C. Suhu Titik Embun (Dew Point Temperature)
Suhu Titik Embun adalah: Suhu dimana udara menjadi jenuh bila didinginkan pada tekanan
dan mixing ratio tetap.
Mixing Ratio adalah: Perbandingan antara berat dari sejumlah uap air yang ada dalam satuan
volume udara dengan jumlah udara kering, biasanya dinyatakan dalam gr/kg.
* Rumus Suhu Titik Embun (Td):

Td =

2302,7
( 2302,7 / TT ) log RH

Td = Suhu Titik Embun/Dew Point Temperature (dalam oK)


TT = Suhu Bola Kering / Suhu Permukaan (dalam oK)
RH = Lembab Nisbi (dalam desimal)
D. Alat Pengukur Kelembaban Udara
Untuk mengukur kelembaban udara pada dasarnya dipakai dua macam alat ukur, yaitu:
Psychrometer dan Hygrometer.
* Psychrometer terdiri atas dua buah thermometer, yaitu:
- Thermometer Bola Kering
- Thermometer Bola Basah
* Hygrometer, yaitu alat untuk mengukur kelembaban, sedangkan alat
perekam/pencatat suhu dan kelembaban disebut Thermohygrograph.

22
BENTUK LAPORAN HASIL PENGAMATAN METEOROLOGI PERMUKAAN DARAT
(SYNOPTIC)
SANDI SYNOP

MiMiMjMj YYGGiw IIiii iRiXhVV Nddff 1SnTTT 2SnTdTdTd 3PoPoPoPo


4PPPP (5appp) (6RRRtR) 7wwW1W2 8NhCLCMCH 333 (1SnTXTXTX)
(2SnTnTnTn) (5EEEiE) (55SSS) 56DLDMDH (57CDaee) (58P24 P24 P24) or (59P24
P24 P24) (6RRRtR) 8NsChshs (80Chshs)
Keterangan:

MiMiMjMj = Pengenal laporan cuaca, untuk meteorologi permukaan darat ditulis dengan sandi
AAXX.

YYGGiw
YY
GG
iw

= Tanggal observasi
= Jam observasi dalam UTC
= Alat pengukur kecepatan angin yang dipakai

IIiii
II
= Nomor Blok/Kode Wilayah
iii
= Nomor Stasiun
iRiXhVV
iR
= Pengenal dilaporkan atau tidaknya curah hujan
iX
= Pengenal dilaporkan atau tidaknya cuaca bermakna
h
= Tinggi dasar awan terendah
VV
= Horizontal Visibility
Nddff
N
= Jumlah awan yang menutupi langit dalam oktas (perdelapan)
dd
= Arah angin dalam derajad
ff
= Kecepatan angin dalam knot
1SnTTT
1 = Indikator untuk suhu permukaan
Sn
= Pengenal suhu permukaan (positif/negatif)
TTT
= Suhu permukaan dalam persepuluhan oC
2SnTdTdTd
2
= Indikator untuk suhu titik embun
Sn
= Pengenal suhu titik embun (positif/negatif)
TdTdTd = Suhu titik embun dalam persepuluhan oC
3PoPoPoPo
3
= Indikator untuk tekanan permukaan stasiun
PoPoPoPo = Tekanan Permukaan Stasiun (QFE)
4PPPP
4

= Indikator untuk tekanan permukaan stasiun terhadap MSL

23

PPPP

= Tekanan permukaan stasiun terhadap MSL (QFF)

5appp
5
a
ppp

= Indikator Perubahan tekanan permukaan stasiun terhadap


= Perubahan tekanan (naik, turun/tetap)
= Perubahan tekanan 3 jam, 12 jam atau 24 jam yang lalu

6RRRtR
6
RRR
tR

= Indikator untuk curah hujan


= Curah hujan periode 6 jam atau 24 jam yang lalu dalam mm penuh
= Pengenal periode pengamatan curah hujan

7wwW1W2
7
= Indikator cuaca bermakna
ww
= Present Weather
W1W2
= Past Weather
8NhCLCMCH
8
= Indikator jumlah dan jenis awan
Nh
= Jumlah awan yang menutupi langit dalam oktas
CLCMCH
= jenis awan rendah,menengah dan tinggi
333

= Remark

1SnTXTXTX
TXTXTX
= Suhu udara permukaan maksimum dalam persepuluhan oC
2SnTnTnTn
TnTnTn = Suhu udara permukaan minimum dalam persepuluhan oC

5EEEiE
5
EEE
iE

= Indikator penguapan
= Penguapan dalam persepuluhan mm
= Pengenal alat penguapan yang digunakan

55SSS
55
SSS

= Indikator pengamatan lamanya penyinaran matahari


= Lamanya penyinaran matahari dalam persepuluhan jam

56DLDMDH
56
= Indikator gerakan awan
DLDMDH
= Gerakan awan rendah, menengah dan tinggi
57CDaee
57
C
Da

= Indikator awan konvektif


= Jenis awan konvektif ( Cumulus atau Cumulonimbus)
= Gerakan awan konvektif

ee

= Sudut elevasi puncak awan konvektif


58P24 P24 P24 or 59P24 P24 P24
5 = Indikator Perubahan tekanan permukaan stasiun terhadap
8

MSL 12jam atau 24 jam yang lalu


= Perubahan tekanan permukaan stasiun terhadap
MSL 12jam atau 24 jam yang lalu positif

MSL

24

= Perubahan tekanan permukaan stasiun terhadap

P24 P24 P24

MSL 12jam atau 24 jam yang lalu negatif


= Perubahan tekanan permukaan stasiun terhadap
MSL 12jam atau 24 jam yang lalu

6RRRtR
6
RRR
tR
8NsChshs
8
Ns
Hshs
80Chshs
80
C

= Indikator curah hujan 3 jam yang lalu


= Jumlah curah hujan periode 3 jam yanglalu dalam mm penuh
= Pengenal periode pengamatan curah hujan
= Indikator Jumlah, jenis dan tinggi dasar awan terendah
= Jumlah jenis awan terendah dalam oktas
= Tinggi dasar awan terendah dalam meter
= Indikator jenis dan tinggi dasar awan konvektif
= Jenis awan konvektif (C = 8, untuk awan Cumulus dan
C = 9, untuk awan Cumulonimbus)

hshs

= Tinggi puncak awan konvektif dalam meter

25

Contoh:
AAXX 01004 96739 01556 80000 10244 20232 30031
40080 52016 60154 76162 8552/ 333 20242 50480
55055 56009 59002 69937 85620
* AAXX
* 01004
01
00
4
* 96739
96
739
* 01556
1

*
*
*
*
*
*
*
*

*
*
*

*
*

1
5
56
80000
8
00
00
10240
10
240
20232
20
232
30031
40080
52016
60154
015
4
76162
61
62
8552/
8
5
5
2
/
333
20242
50480
5
048
0
55055
55
055
56009
56
0
0

: Pengenal Laporan Cuaca Permukaan Darat/Synoptic


: Tanggal, Jam UTC, Alat pengukur arah dan kecepatan angin
: Tanggal 01
: Jam 00 UTC
: Alat pengukur arah dan kecepatan angin; Anemometer
: Kode Wilayah dan Nomor Stasiun Pengamat
: Kode Wilayah/ Nomor Blok
: Nomor Stasiun Pengamat; Stasiun Meteorologi Curug
: Laporan curah Hujan, Tinggi dasar awan dan Visibility
: Ada curah hujan 3 jam dan 6 jam yang lalu, dilaporkan pada
pengamatan jam 00, 06 atau 12 UTC
: Ada cuaca bermakna, sehingga group 7 (7wwW1W2) dilaporkan
: Tinggi dasar awan terendah 600-1000m
: Visibility 6 km
: Jumlah awan, arah angin dan kecepatan angin
; Jumlah awan yang menutupi langit= 8 oktas (overcast)
: Arah angin calm
: Kecepatan angin calm
: Suhu udara permukaan
: Suhu udara + (positif)
: Suhu udara permukaan 24,0oC
: Suhu Titik Embun
: Suhu Titik Embun + (positif)
: Suhu Titik Embun 23,2oC
: Tekanan Stasiun (QFE) = 1003,1 mbs
: Tekanan Stasiun terhadap MSL (QFF) = 1008,0 mbs
: Perubahan Tekanan 3 jam yang lalu = + 01,6 mbs
: Curah Hujan 24 jam yang lalu
: Curah hujan 24 jam yang lalu = 15 mm
: Pengukuran curah hujan dilkukan pada jam 00 UTC
: Present Weather dan Past Weather
: Hujan pada saat pengamatan
: 6 = ada hujan 6 jam yang lalu, 2 = Cloudy periode 6 jam yang lalu
: Jumlah, Jenis Awan Rendah, Menengah dan tinggi
: Indikator pengenal jumlah dan jenis awan
: Jumlah awan terendah 5 oktas
: Jenis awan rendah Stratocumulus (Sc)
: jenis awan menengah Altostratus (As)
: Jenis awan tinggi, tidak kelihatan
: Pengenal untuk seksi 3
: Suhu udara minimum + 24,2 oC
: Jumlah penguapan dalam sehari
: Indikator pengenal penguapan
: Jumlah penguapan 4,8 mm
: Alat penguapan Pan evaporimeter (panci penguapan)
: Lamanya penyinaran matahari selama 24 jam yang lalu
: Indikator pengenal penyinaran matahari
: Lamanya penyinaran matahari 5,5 jam
: Gerakan awan
: Indikator pengenal gerakan awan
: Gerakan awan rendah stationer (tetap)
: Gerakan awan menengah stationer (tetap)

26

*
*

9
59002
59
002
69937
6
993
7
85620
8
5
6
20

: Gerakan awan tinggi tak tampak


: Perubahan tekanan 24 jam yang lalu
: Perubahan tekanan negatif
: Perubahan tekanan 0,2 mb
: Curah hujan 3 jam yang lalu
: Indikator pengenal curah hujan
: Curah hujan 0,3 mm
: Pengenal curah hujan untuk jamjam penting
: Jumlah, Jenis dan tinggi dasar awan terendah
: Indikator pengenal jumlah, jenis dan tinggi dasar awan
: Jumlah awan rendah 5 oktas
: Jenis awan rendah Stratocumulus (Sc)
: Tinggi dasar awan Stratocumulus 600 m

JENIS AWAN PADA SANDI SYNOP NSChshs


Angka Sandi
C
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jenis Awan
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Cirrus
Cirrocumulus
Cirrostratus
Altocumulus
Altostratus
Nimbostratus
Stratocumulus
Stratus
Cumulus
Cumulonimbus

( Ci )
( Cc )
( Cs )
( Ac )
( As )
( Ns )
( Sc )
( St )
( Cu )
( Cb )

27
Singkatan istilah Present Weather(WW) yang harus diisikan dalam kolomKeadaan cuaca pada
waktu pengamatan pada buku (Me.48)
SANDI
ww
00
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

Dalam kolom keadaan cuaca waktu


Pengamatan pada Me.48 diisi
Cld dev unk
Cld decr
Cld unch
Cld incr
smoke
haze
Dust 06
Dust 07 atau Sand 07
DW atau SW
Ds atau SS 09
Mist
Shallow fog 11
Shallow fog 12
Lightning
Prec. In sight 14
Prec. In sight 15
Prec. In sight 16
Ts no prec
Squall
Funnel Cld
Re DZ (not FR) atau SN.GR
Re RA ( not FR)
Re SN
Re RA + SN atau ice pellets
Re FR DZ atau Re Fr.RA
Re SH of RA
Re SH of SN atau Re SH of RA + SN
Re SH of HA atau Re SH of RA + HA
Re Fog atau Re ice fog
Re Ts
Sl/Mod DS atau SS decr
Sl/Mod DS atau SS unch
Sl/Mod DS atau SS incr
Sev DS atau SS decr
Sev DS atau SS unch
Sev DS atau SS incr
Sl/Mod drifting SN low

KETERANGAN
Cld
Dev
Unk
Incr

= Cloud
= developing
= unknown
= increasing

DW
SW

= Dust Whirl
= Sand Whirl

Prec

= Precipitation.

Ts

= Thunderstorm

Puting beliung
Re
= Recent (periode satu jam yang lalu)
FR
= Freezing
SN
= Snow
SH

= Showers

HA

= Hail

Sl
Mod

= Slight
= Moderate

Sev

= Severe

28

SANDI
ww
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

Dalam kolom keadaan cuaca waktu


Pengamatan pada Me.48 diisi
Heavy drifyting SN low
Sl/Mod blowing SN low
Heavy blowing SN high
Fog at a dist
Fog in patches
Fog SV thinner
Fog S in thinner
Fog SV unch
Fog S inv unch
Fog SV thicker
Fog S inv thicker
Fog dep rime SV
Fog dep rime S inv
Inter Sl DZ
Cns Sl DZ
Inter Mod DZ
Cns Mod DZ
Inter heavy (dense) DZ
Cns heavy (dense) DZ
Sl DZ FR
Mod/heavy (dense) DZ FR
Sl/ DZ and RA
Mod/heavy DZ and RA
Inter Sl RA
Cns Sl RA
Inter Mod RA
Cns Mod RA
Inter heavy RA
Cns heavy RA
Sl RA FR
Mod/heavy RA FR
Sl RA and SN atau Sl DZ and SN
Mod/heavy RA and SN atau Mod/heavy
DZ and SN
Inter Sl of SNF
Cns Sl of SNF
Inter mod of SNF
Cns mod of SNF
Inter heavy of SNF
Cns heavy of SNF
Diamond dust fog atau diamond dust no
fog

KETERANGAN

dist
SV
S inv

= distance
= Sky visible
= Sky invisible

dep

= depositing

DZ
Inter
Cns

= Drizzle
= Intermitten
= Continous

FR
SN

= Freezing
= Snow

SH

= Showers

SNF

= Snowflakes

29

SANDI
ww
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99

Dalam kolom keadaan cuaca waktu


Pengamatan pada Me.48 diisi
SN grains fog atau SN grains no fog
SN crystal fog atau SN crystal no fof
Ice pellets
SL RA SH
Mod/heavy RA SH
Violent RA SH
SL RA + SN SH
Mod/heavy RA + SN SH
Sl SN SH 85
Mod/heavy SN SH 86
SL SN SH 87
Mod/heavy SN SH 88
Sl hail SH
Mod/heavy hail SH
Sl RA re TS
Mod/heavy RA re TS
Sl SN atau RA + SN atau HA re TS
Mod/heavy SN atau RA + SN atau HA re
TS
Sl/mod TS no HA + RA atau RA + SN atau
SN
Sl/mod TS + HA
Heavy TS no HA + RA atau RA + SN atau
SN
TS + DS/SS
Heavy TS + HA

KETERANGAN
FR
SN

= Freezing
= Snow

SH

= Showers

HA

= Hail

30

LAPORAN PENGAMATAN METEOROLOGI


PERMUKAAN UNTUK KEPENTINGAN
TAKE OFF AND LANDING
(QAM)
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
METEOROLOGICAL REPORT FOR TAKE OFF AND LANDING

METEOROLOGICAL AT
DATE

(UTC)
TIME

APR, 19TH 2009 02.00

AERODROME INDENTIFICATION

WICB

SURFACE WIND: DIRECTION, SPEED


AND SIGNIFICANT VARIATION

250O / 15 KTS

HORIZONTAL VISIBILITY

8 KM

RUN WAY VISUAL RANGE

---

PRESENT WEATHER

RAIN

AMOUNT AND HEIGHT OF BASE OF


LOW CLOUD
AIR TEMPERATURE, AND DEW POINT
TEMPERATURE

3/8 CB 1800

QNH
QFE
SUPPLEMANTARY INFORMATION
Time of issue
* = on request

UTC

T 28 / DP 25
1012
Mbs
29.89
Inch *
--mmHg *
1007
Mbs
29.74
Inch *
--mmHg *
RE TS
WS TKOFF RWY24
Observer

31

METAR DAN SPECI


METAR adalah nama sandi untuk laporan hasil pengamatan cuaca rutin untuk penerbangan dengan
interval setengah atau satu jam sekali.
SPECI adalah nama sandi untuk laporan hasil pengamatan cuaca khusus untuk penerbanagan yang
dibuat setiap saat apabila ada perubahan cuaca yang memenuhi kriteria tertentu.
BENTUK SANDI METAR DAN SPECI
R DRDR / VRVRVRVR
METAR

CCCC YYGGggZ dddff Gfmfm VVVV


W1W1

SPECI

NS NS NS hS hS hS TT / TdTd QPHPHPHPH

Keterangan:
METAR
SPECI
CCCC

= Nama sandi laporan hasil pengamataan cuaca rutin untuk penerbangan


= Nama sandi laporan hasil pengamataan cuaca khusus untuk
penerbangan
= Location indicator

YYGGggZ
YY
GG
gg
Z

= Tanggal
= Jam penuh
= Menit jam
= Jam dalam UTC

dddff Gfmfm
ddd
ff
G
fmfm

= Arah angin dalam derajad


= Kecepatan angin dalam knot atau km/jam
= Gusty
= kecepatan gusty

VVVV

= Horizontal Visibility

R DRDR / VRVRVRVR
R
= Run way
DRDR
= Arah Run Way
VRVRVRVR = Visibility pada arah DRDR
W1W1
= Present Weather
NS NS NS hS hS hS
NS NS NS
hS hS hS

= Jumlah awan
= Tinggi dasar awan dalam feet

TT / TdTd = Suhu Udara / Suhu Titik Embun dalam oC


QPHPHPHPH= Tekanan Udara (QNH / QFF) dalam mbs

32
Contoh:
METAR WIII 170800Z 12010KT 9999 NSW SCT020 30/20 Q1001 NOSIG
* Indentification group
- Nama sandi laporan
- ICAO Location Indicator
- Tanggal
- Jam

: METAR WIII 170800Z


: METAR
: WIII
: 17
: 0800Z

* Surface Wind
- Arah angin
- Kecepatan angin

: 12010KT
: 120 derajad
: 10 Knots

* Horizontal Visibility

: 9999 (> 10 km)

* Run Way Visual Range

: Nil

* Present Weather

: NSW (No Significant Weather)

* Cloud
- Tinggi Dasar Awan
- Jumlah (Amount)

: Sct 020
: 2000 feet
: Sct (Scattered) = 3/8 4/8

* Temperature & Dew Point


- Suhu Udara
- Suhu Titik Embun

: 30/20
: 30oC
: 20oC

* QNH

: 1001 mbs

* Supplemantary Information

: Nil

* Trend Forecast

: NOSIG (No Significant Change)

33

SPECI LUDO 211025Z 31015G27KT 280V350 1400 SW 6000 N


R24/P1500 +SHRA FEW010CB SCT018 BKN025
10/03 Q0995 RETS WSTKOFF RWY24 BCMG
FM1100 6000 NSW SKC
* Indentification group
- Nama sandi laporan
- ICAO Location Indicator
- Tanggal Laporan
- Jam Laporan

: SPECI LUDO 211025Z


: SPECI
: LUDO
: 21
: 1025Z

* Surface Wind
- Arah Angin Rata-rata
- Variasi Arah Angin
- Kecepatan Angin Rata-rata
- Kecepatan Angin Maximum

: 31015G27KT 280V350
: 310 derajad
: 280 derajad veering 350 derajad
: 15 Knots
: 27 Knots

* Horizontal Visibility
- Visibility Arah Barat Daya
- Visibility Arah Utara

: 1400 SW 6000 N
: 1400 m
; 6000 m

* Run Way Visual Range (RVR)


- RVR RunWay 240

: R24/P1500
: > 1500m

* Present Weather
* Cloud
- Jumlah (Amount)

: +SHRA (Heavy Rain Showers)


: FEW010CB SCT018 BKN025
: FEW( 1/8-2/8), SCT (3/8 4/8),
BKN (5/8-7/8)
- Tinggi Dasar Awan
: 005 (5000 ft), 010 ( 1000ft), 018 (1800 ft) dan
025 (2500ft)
- Type Awan
: CB ( Cumulonimbus)
* Temperature & Dew Point
: 10/03
- Suhu Udara
: 10oC
- Suhu Titik Embun
: 3oC
* QNH

: Q0995 (995 mbs)

* Supplemantary Information
- RETS
- WS TKOFF RWY24

: RETS WS TKOFF RWY24


: Resent Thunderstorm
: Wind shear di Run Way 240

* Trend Forecast
- Indicator Change
- Horizontal Visibility
- Weather Forecast
- Cloud

: BCMG FM1100 6000 NSW SKC


: BCMG (Becoming), FM (From) 11.00 Z
: 6000 m
: NSW (No Significant Weather)
: SKC ( Sky Clear)

34
ROUTE FORECAST (ROFOR)
ROFOR adalah merupakan prakiraan mengenai kondisi meteorologi untuk suatu route pesawat
tertentu dengan waktu tertentu.
Isi route forecast adalah:
- Upper wind dan temperature
- Significant en-route weather phenomena
- Clouds
Bentuk sandi ROFOR:

ROFOR YYGGggZ YYG1G1G2G2 CCCC CCCC VVVV


W1W1W1 NsCChXh XhX 7hthththfhfhf 4hXhXhXThTh
dhdhfhfhfh
ROFOR
: Route forecast
YYGGggZ
: Tanggal dan jam dalam UTC dibuatnya ROFOR
YY : Tanggal dibuatnya ROFOR
GG : Jam penuh dalam UTC dibuatnya ROFOR
gg
: Jam menit
Z
: UTC (Universal Time Chronometer)
YYG1G1G2G2 : Tanggal dan jam berlakunya ROFOR
YY : Tanggal berlakunya ROFOR
G1G1 : Jam berlakunya ROFOR
G2G2 : Jam berakhirnya ROFOR
CCCC CCCC : Bandara Keberangkatan Bandara Kedatangan
VVVV
: Horizontal Visibility
W1W1W1
: Weather
NsCChXh XhX : Jumlah, jenis dan tinggi dasar awan tersendiri
Ns : Jumlah awan tersendiri (CC)
CC : Jenis awan tersendiri
hXh XhX : Tinggi dasar awan CC
7hthththfhfhf : Tinggi puncak awan CC dan tinggi lapisan isotherm (0oC)
hXhXhXThTh : Tinggi dan Suhu pada Flight Level
hXhXhX : Tinggi Flight Level dalam feet
ThTh : Suhu pada Flight Level dalam oC
dhdhfhfhfh
: Arah dan kecepatan angin pada flight level
dhdh : Arah angin pada flight level
fhfhfh : Kecepatan angin pada flight level
contoh:
ROFOR 202310Z 210012 WIII-WAAA 5000 TS OCNL CB020 7360170 SCTCU025
7120XXX 410006 10015 4150MS04 11020 4240MS26 12025
*ROFOR 202310Z 210012 WIII-WAAA
Route Forecast dibuat pada tanggal 20 jam 23.10 UTC berlaku pada tanggal 21 jam
s/d 12.00 UTC untuk route Bandara Soekarno Hatta Jakarta-Bandara
Hasanudin Ujungpandang.
*5000
Horizontal Visibility
: 5.000 m
*TS
Weather Forecast
: Thunderstorm
*OCNL CB020 7360170

35
Jumlah Awan
Type Awan
Tinggi Dasar Awan
Tinggi Puncak Awan
Freezing Level
*SCTCU025 7120XXX
Jumlah Awan
Type Awan
Tinggi Dasar Awan
Tinggi Puncak Awan
*410006 10015
Flight Level
Suhu Udara
Arah Angin
Kecepatan Angin
*4150MS04 11020
Flight Level
Suhu Udara
Arah Angin
Kecepatan Angin
*4240MS26 12025
Flight Level
Suhu Udara
Arah Angin
Kecepatan Angin

: Occasional (awan terpisah-pisah dengan banyak celah)


: Cumulonimbus
: 2.000 feet
: 36.000 feet
: 17.000 feet
: Scattered (3/8 4/8)
: Cumulus
: 2.500 feet
: 12.000 feet
: 10.000 feet
: 6oC
: 100 derajad
: 15 knots
: 15.000 feet
: minus 4oC
: 110 derajad
: 20 knots
: 24.000 feet
: minus 26oC
: 120 derajad
: 25 knots

36
AERODROME FORECAST (TAF)
Aerodrome Forecast, merupakan prakiraan mengenai unsur-unsur meteorologi, di atas
suatu Bandara yang berlaku pada periode waktu tertentu.
Bentuk Sandi TAFOR
TAF CCCC YYGGggZ YYG1G1G2G2 dddffGfmfm VVVV WW NSNSNShshshs
TAF
CCCC
YYGGggZ
YYG1G1G2G2
dddffGfmfm
VVVV
WW
NSNSNShshshs

: Aerodrome Forecast
: Location Indicator
: Tanggal, Jam dibuatnya TAFOR
: Tanggal, Jam berlaku dan berakhirnya TAFOR
: Arah Angin, Kecepatan Angin Rata-rata atau danKecepatan
maksimum
: Horizontal Visibility
: Weather
: Jumlah dan tinggi dasar awan

Contoh:
TAF LUDO 130530Z 130716 31015KT 8000 SHRA FEW005 FEW010CB BKN025
TEMPO 1116 4000 +SHRA PROB38 TEMPO 1416 TSRA SCT005
BKN010CB
*TAF LUDO 130530Z 130716 : Aerodrome Forecast Bandara Internasional LUDO,
dibuat pada tanggal 13 jam 05.30 UTC, dan berlaku
pada tanggal 13, jam 07.00 s/d 16.00 UTC.
*31015KT
Arah Angin
Kecepatan Angin
*8000
Horizontal Visibility
*SHRA
Weather
*FEW005
*FEW010CB
*BKN025
*TEMPO 1116
*4000
Horizontal Visibility
*+SHRA
Weather
*PROB38 TEMPO 1416
*TSRA
Weather
*SCT005
*BKN010CB

: 310 derajad
: 15 knots
: 8.000 m
: Rain Showers
: Awan (1/8 2/8) dengan tinggi dasar 500 ft
: Awan Cumulonimbus (1/8 2/8) dengan tinggi
dasar 1.000 ft
: Awan (5/8 7/8) dengan tinggi dasar 2.500 ft
: Perubahan cuaca antara jam 11.00 dan 16.00 UTC
: 4.000 m
: Moderate Rain Showers
: Kemungkinan 38% terjadi perubahan cuaca antara
Jam 14.00 dan 16.00 UTC
: Thunderstorm disertai Rain
: Awan dengan tinggi dasar 500 ft (3/8 4/80)
: Awan Cumulonimbus (5/8 7/8) dengan tinggi
dasar 1.000 ft

ISTILAH JUMLAH AWAN YANG SERING DIJUMPAI DALAM QAM, ROFOR, DAN
TAFOR.
1. SKC ( Sky Clear )

= < 1/8

2. FEW

= 1/8 2/8

3. SCT (Scattered )

= 3/8 - 4/8

4. BKN ( Broken )

= 5/8 7/8

5. OVC ( Overcast )

= 8/8

37
ISTILAH-ISTILAH LAIN UNTUK AWAN CUMULONIMBUS
1. ISOL CB ( Isolated Cumulonimbus ), menunjukkan awan Cb / Thunderstorm tunggal.
2. OCNL CB ( Occasional Cumulonimbus ), menunjukkan sejumlah awan Cb / Thunderstorm
dimana satu sama lain terpisah dengan jelas.
3. FRQ CB ( Frequent Cumulonimbus ), menunjukkan sejumlah awan Cb / Thunderstorm
bergerombol dimana satu sama lain tidak/sedikit terpisahkan.
4. EMBD CB ( Embeded Cumulonimbus ), menunjukkan awan Cb / Thunderstorm tertutupi oleh
awan , sehingga tidak dikenal.
5

SQL CB ( Squall Line Cumulonimbus ), menunjukkan sejumlah awan Cb / Thunderstorm


berderet membentuk garis dimana diantara awan Cb tidak atau sedikit terpisahkan.

OBSC CB ( Obscured Cumulonimbus ), menunjukkan sejumlah awan Cb / Thunderstorm


tertutupi oleh Haze atau Asap sehingga tidak tampak atau tidak terlihat.

MOD TURB ( Modererate Turbulence ), ditunjukkan dengan adanya Vertical Wind Shear : 4
6 knots / 1000 feets.

SEV TURB ( Servere Turbulence ), ditunjukkan dengan adanya Vertical Wind Shear : > 6
knots / 1000 Feets.

38

CURAH HUJAN DAN PERIODE ULANGNYA


Hal yang penting dalam pembuatan rancangan dan rencana adalah distribusi curah hujan.
Distribusi curah hujan berbeda-beda sesuai dengan jangka waktu yang ditinjau, yakni curah hujan
tahunan (jumlah curah hujan dalam setahun), curah hujan bulanan (jumlah curah hujan dalam sebulan),
curah hujan harian (jumlah curah hujan 24 jam) atau curah hujan perjam. Harga-harga yang diperoleh
ini dapat digunakan untuk menentukan prospek dikemudian hari dan akhirnya untuk perancangan
sesuai dengan tujuan yang dimaksud.
Berikut ini akan dikemukakan perhitungan kemungkinan curah hujan dan periode ulangnya
dengan menggunakan data curah hujan harian maksimum jangka waktu yang panjang (periode 20
tahunan atau lebih).
Kemudian dari hasil perhitungan perkiraan curah hujan yang mungkin, maka kita akan dapat
menentukan debit banjir pada suatu daerah pengamatan curah hujan tersebut guna penentuan volume
debit konstruksi-konstruksi gorong-gorong, selokan-selokan samping (Side Ditches), rencana peluap
suatu bendungan dan lain-lain.

Cara Menentukan Curah Hujan


Untuk menentukan curah hujan yang mungkin (Probable Rainfall) dihitung dengan cara atau
metode Iwai dan menggunakan rumus :
Xo +

Keterangan :
x = curah hujan yang mungkin
b = konstanta/tetapan
Xo = harga perkiraan curah hujan sementara
c = konstanta/tetapan
= variabel normal yang sesuai pada w(x) utama, dan

w(x) =

1
(T = periode ulang)
T

39
Perhitungan ini harus dilakukan menurut urutan sebagai berikut:
1.

Harga perkiraan pertama dari xo :


log x0

2.

1 n
log xt
n t 1

Harga perkiraan b :
b

1 n
n
bt ; m

10
m t 1

bt

xs xt x0
2 x0 ( xs xt )

3.

Perkiraan harga xo :
x0 log( x0 b)
x0

4.

Perkiraan harga Xo :
X0

5.

1 n
2
log( xt b)
n t 1

Perkiraan harga c :
1

6.

1 n
log( xt b)
n t 1

= c log

x b
2 n
log t

n 1 t 1
x o b

2
2n
X X o2
n 1

xb
xo b

Dengan :
xt : Harga pengamatan dengan nomor urutan m dari yang terbesar.
xs : Harga pengamatan dengan nomor urutan m dari yang terkecil.
n : Banyaknya data.
m

n
: Angka bulat (dibulatkan ke angka terdekat).
10

40

Tabel : Variabel normal yang sesuai pada W (x) utama


T
500
400
300
250
200
150
100
80
60
50

W (x) =

1
T

0,00200
0,00250
0,00333
0,00400
0,00500
0,00667
0,01000
0,01250
0,01667
0,02000

2,0352
1,9840
1,9227
1,8753
1,8214
1,7499
1,6450
1,5851
1,5049
1,4522

40
30
25
20
15
10
8
5
4
3
2

W (x) =

1
T

0,02500
0,03333
0,04000
0,05000
0,06667
0,10000
0,12500
0,20000
0,25000
0,33333
0,50000

1,3859
1,2971
1,2379
1,1631
1,0614
0,9062
0,8134
0,5951
0,4769
0,3045

41
Contoh Perhitungan :

Tabel : Data curah hujan harian maksimum tahunan di suatu kota tertentu di Jepang
Derajad
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Harga

Tanggal

Pengamatan
288,2
282,0
269,1
245,6
210,9
171,2
166,7
164,1
155,3
154,4
153,1
146,6
141,5
140,7
139,2
137,5
131,7

Terjadi
13-8-1359
26-9-1971
7-10-1944
10-9-1961
14-7-1952
14-7-1941
22-9-1949
1-7-1947
6-6-1954
28-8-1948
25-8-1962
27-8-1942
25-8-1958
12-8-1967
12-10-1946
11-8-1972
12-9-1966

Derajad
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

Harga

Tanggal

Pengamatan
130,5
129,8
123,0
121,3
118,0
115,6
109,0
108,6
103,9
99,8
96,6
92,0
88,7
85,7
73,5
62,3
60,5

Terjadi
12-7-1950
29-6-1965
23-8-1969
16-9-1953
2-7-1973
4-7-1960
19-6-1968
1-9-1954
30-8-1964
3-8-1940
30-10-1956
31-8-1970
1-6-1943
27-7-1963
27-8-1957
29-8-1951
7-7-1955

42

Tabel Perhitungan
Der
ajad
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
Jumlah

log(x t

b)

xt

log xt

xt+b

log (xt+b)

288,2
282,0
269,1
245,6
210,9
171,2
166,7
164,1
155,3
154,4
153,1
146,6
141,5
140,7
139,2
137,5
131,7
130,5
129,8
123,0
121,3
118,0
115,6
109,0
108,6
103,9
99,8
96,6
92,0
88,7
85,7
73,5
62,3
60,5

2,4597
2,4503
2,4301
2,3902
2,3241
2,2335
2,2219
2,2151
2,1912
2,1886
2,1850
2,1661
2,1508
2,1483
2,1436
2,1383
2,1196
2,1156
2,1133
2,0899
2,0839
2,0719
2,0630
2,0374
2,0358
2,0166
1,9991
1,9850
1,9638
1,9479
1,9330
1,8663
1,7945
1,7818

276,37
270,17
257,37
233,77
199,07
159,37
154,87
152,27
143,47
142,57
141,27
134,77
129,67
128,87
127,37
125,67
119,87
118,67
117,97
111,17
109,47
106,17
103,77
97,17
96,77
92,07
87,97
84,77
80,17
76,87
73,87
69,67
50,47
48,67

2,4415
2,4316
2,4016
2,3688
2,2990
2,2024
2,1900
2,1826
2,1568
2,1540
2,1501
2,1296
2,1128
2,1102
2,1051
2,0992
2,0787
2,0743
2,0718
2,0460
2,0393
2,0260
2,0161
1,9875
1,9857
1,9641
1,9443
1,9282
1,9040
1,8858
1,8685
1,7901
1,7030
1,6873

5,9609
5,9128
5,8108
5,6112
5,2854
4,8506
4,7959
4,7638
4,6516
4,6398
4,6227
4,5352
4,4641
4,4527
4,4313
4,4068
4,3210
4,3029
4,2922
4,1860
4,1587
4,1047
4,0645
3,9503
3,9432
3,8572
3,7804
3,7181
3,6253
3,5561
3,4912
3,2044
2,9003
2,8468

70,5450

147,4995

72,0552

log xo =

2,1192
xo = 131,60

X0 = 2,0749

= 4,3382

43

Menghitung b
Untuk menghitung b terlebih dahulu kita cari :
m=

n
34

3,4 3
10 10
2

x s xt x o
bt =
2 x o ( x s xt )
No.
xt
1
288,2
2
282,0
3
269,2
Jumlah

x s xt

xs
60,5
62,3
73,5

xs+ xt
348,7
344,3
342,7

17436,10
17568,60
19786,20

x s xt x o
117,54
250,04
2467,64

2 xo ( x s xt )

-85,5
-81,1
-79,5

35,49
11,83
3

Jadi, b

Menghitung Curah Harian Hujan Yang Mungkin ( x )


1
T

1
10

1c

Xo+ 1 c

x+b

a)

b)

Xo+ b)

c)

c) - b

0,9062

0,2363

2,3112

204,7

216,5

Keterangan tabel :
a) Didapat dari tabel variabel normal untuk periode ulang 10 tahun.
1
1
, dimana :
=
c
c

b)

2
2n
2
X Xo
n 1

2 34
4,3382 (2,0749) 2
34 1

2,0606

1
c) x + b = Inv log X o

= Inv log 2,3112


= 204,7

0,0330 0,2608

bt
-1,37
-3,08
-31,04
-35,49

44
I.

ANALISA BANJIR

Untuk merencanakan saluran suatu konstruksi gorong-gorong, peluap suatu bendungan dan
lain-lain, maka perlu diperhitungkan volume debit banjir suatu daerah yang didapat dari hasil
pengamatan curah hujan dengan memperhatikan faktor-faktor keadaan tanah disekitarnya.
Untuk menentukan debit banjir dipergunakan rumus empiris sebagai berikut :
Q=a b.q.f
Dimana :
Q = debit banjir (dalam m3/detik)
a = koefisien kondisi kawasan / koefisien limpasan
b = koefisien reduksi
q = debit pengaliran
f = luas areal (dalam km2)
Untuk :

1
t 3,7
1 2
.10 0.4 ( f : 12)
b
t 15

t = 0,1 . l0,8. i-0,3


t.x

/ 3,6 t
q =
t 1

Dimana :
l = panjang saluran (km)
i = kemiringan saluran dasar
x = curah hujan yang mungkin (mm/hari)
Tabel Koefisien Limpasan / Pengaliran ( )
(oleh Dr. Mononode)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Kondisi Daerah Pegaliran dan Sungai


Daerah pegunungan yang curam
Daerah pegunungan tersier
Tanah bergelombang dan hutan
Tanah dataran yang ditanami
Persawahan yang diairi
Sungai di daerah pegunungan
Sungai kecil di dataran
Sungai besar yang lebih dari setengah daerah pengalirannya
terdiri dari dataran

Contoh :
NB: telah dicatat dalam penjelasan!

Harga Dari
0,75 0,90
0,70 0,80
0,50 0,75
0,45 0,60
0,70 0,80
0,75 0,85
0,45 0,75
0,50 0,75

45

II.

RENCANA SALURAN

Untuk merencanakan saluran atau gorong-gorong untuk pencegah banjir sering digunakan
saluran terbuka alam dengan bentuk penampang segi empat, penampang trapesium, atau penampang
lingkaran.
Jika debit banjir (Q) diketahui, maka rencana saluran yang akan dibuat dapat ditentukan dengan
rumus :
Dimana :
Q = debit banjir (m3/detik)
A = luas penampang air (dalam m2)
Q=A V
V = kecepatan aliran (m/detik)
dan :
Dimana : M = konstanta Mannings
M=
atau :

m = jari-jari hidrolika
m = , P = Keliling basah.
c = angka Chezys
i = kemiringan saluran dasar

dan :
1

C=

1
, N = konstanta Kutters.
N

1 6
m
N

Tabel Angka Kutters (N)


No.
Tipe Permukaan Saluran Sebelah Dalam
1
Plesteran halus yang licin sekali / kayu yang diketam
2
Beton / kayu yang tidak rata / tidak diketam
3
Tembokan yang diplester licin
4
Tembokan / pasangan batu / beton kurang licin
5
Serongan batu kosong yang agak kasar
6
Tanah biasa asli halus
7
Tanah yang serongannya ada tanamannya
8
Tanah yang tidak rata
9
Tanah yang sama sekali tidak rata (banyak batu-batu, dsb)
III.

N
0,010
0,012
0,013
0,017
0,020
0,025
0,030
0,035
0,040

DEBIT MAKSIMUM
Keadaan debit maksimum pada penampang-penampang dibagi atas beberapa bagian :
1. Penampang segi empat
2. Penampang trapezium
3. Penampang lingkaran

III. 1. Debit Maksimum Melalui Penampang Segi Empat


Bila :

b = lebar saluran dasar


H = dalamnya saluran

H
b
luas penampang yang di aliri (A)
A=b H
Q=A V =
Q =A. C

Ac mi

A
i
P

46

Karena A, C dan i adalah bilangan-bilangan tetap, maka Q akan mencapai maksimum bila

A
P

maksimum. atau harga P mencapai minimum.


Syarat maximum jika
P=b+2H=

dP
dH

=0

A
+2H
H

dP
=
dH

=0
A = 2 H2
b.H = 2 H2
b=2H

A
P
b.H
2 H .H
1
2H 2
=
=
=
=
H
b 2H
2H 2H
2
4H

m=

Jadi, debit maximum atau kecepatan maximum diperoleh 2 keadaan :dc


B=2H

dan

m=

H
2

Contoh:
Suatu saluran dengan penampang segi empat mempunyai luas penampang 50 m 2. Hitunglah
debit yang melalui penampang paling ekonomis. Bila kemiringan saluran adalah 1:1000 ambil c =
52,5.
Penyelesaian:
Dik : A = 50 m2
i=

1
= 0,001
1000

c = 52,5
Dit : Debit Paling ekonomis melalui penampang segi empat.
Jawab:
A = b. H b = 2 H
50 = 2 H.H 2 H2 = 50
H2 =25
H = 25 = 5
Q =A. V
= A . C m.i
= 50 . 52,5 2,5(0,001)
= 131,25 m3/dtk

47
III.2. Debit Maksimum Melalui Saluran Dengan Penampang Trapesium

Apabila :
b: Lebar Saluran
H: Kedalaman Saluran

H
D
b

H
= Kemiringan dinding (H: Vertikal; D: Horizontal)
D
1
H
1
Kemiringan dinding =
=
n
D
n

n = harga perbandingan kemiringan


dinding

D = nH

Luas Penampang yang Dialiri (A)


A
b nH
H
A
b
nH (1)
H

A = H (b + n H)

Debit banjir (Q)


Q=A V
= Ac
= A. c

mi

A
i
P

Karena A, c, dan i adalah konstanta-konstanta, maka Q akan maksimum apabila

A
maksimum atau P
P

minimum.
Syarat maximum jika

dP
0
dH

P = b + 2 n 2 H 2 H 2 b 2 H n 2 1 (2)
Substitusikan b pada persamaan (1) ke persamaan (2), maka didapat :
P

A
nH 2 H n 2 1
H

dP
A
A
2
2 n 2 n2 1
atau 2 n 2 n 1 0
dH
H
H
H
(
b

nH
)
A
n 2 n2 1
n 2 n2 1

2
2
H
H
b 2nH
2 n2 1
H

b 2nH
H n2 1
2

atau

b 2nH 2 H n 2 1

Dari persamaan (3) dapat dilihat, bahwa panjang dinding saluran =


m

A
H (b nH )
H (b nH )
H (b nH ) H

2
P b 2 H n 1 b (b 2nH ) 2(b nH )
2

.............(3)

1
lebar saluran bagian atas.
2

48
Jadi, untuk mencapai keadaan debit maksimum atau kecepatan maksimum ditentukan oleh dua
keadaan, yaitu :
b 2nH
H n 2 1 ; dan
2
H
2. m
2

1.

Contoh :

H
D
b

Suatu saluran dengan penampang trapezium


mempunyai kemiringan dinding 2:3 seperti pada
gambar. Apabila debit air rata-rata 20m3/detik, dan
kemiringan dasar 1:2000. Rencanakan saluran untuk
bentuk yang paling baik / ekonomis.
(dipakai Manning formula, N= 0,01)

Penyelesaian :
Diketahui : Q = 20m3 / detik
1
0,0005
2000
3
n = 1,5
2

i=

N = 0,01
Ditanya : rencana saluran paling ekonomis.
Jawab : (1)

b 2nH
H n2 1
2
b 2(1,5) H
H (1,5) 2 1
2

b 3H 2 H 1,8
b 3,6 H 3H 0,6 H

(2) A = H (b + n H)

= H (0,6H + 1,5H)
= 2,1 H2
(3) m

H
2

(4) Q A

1 2 3 12
m i
N

20 = 2,1H

1 H

0,01 2

0,0005 12

20 = 2,958 H 3
8
20
H 3
6,76
2,958
H = 2,05 meter
Jadi, b = 0,6 (2,05) = 1,23 meter.

49

III.3 Debit Maksimum Melalui Saluran Dengan Penampang Lingkaran

Apabila

R = Jari-jari saluran
H = Dalamnya air di saluran
2 = Sudut total (dalam radial) yang dibuat antara pusat
lingkaraan dengan permukaan air.
P = Keliling basah = 2R ....(1)

Luas penampang yang dialiri air ( A ) = Luas juring OAB Luas AOB
A = R2 -

Sin 2
R 2 Sin 2
= R2( ) .....( 2 )
2
2

Q = A.C

m.i

Q=C

= A.C

A
.i
P

A3
.i
P

Karena C dan i adalah konstanta-konstanta, maka:


A3
(
)
A3
Q makimum apabila
maksimum atau
P = 0, maka:
P

P (3 A2

A
P
) A3

= 0, jika dikalikan dengan P2 dan kemudian


P2

Dibagi dengan A2, maka diperoleh hasil :


A

3 P - A = 0 3 P = A ......( 3 )
Substitusikan harga P dan A dari pers... ( 1 ) dan ( 2 ) pada pers...( 3 ), maka
Akan didapaat :

50
3 x 2 R x R2 ( 1 - Cos 2 ) = R2 ( 3 x 2 R3 ( 1 Cos 2 ) = 2 R3 ( -

Sin 2
) x 2R
2
Sin 2
)
2

Sin 2
2
Sin 2
3 - 3 Cos 2 = 2
Sin 2
2 - 3 Cos 2 +
=0
2

3 ( 1 Cos 2 ) = -

Penyelesaian persamaan ini dengan Trial and Error, diperoleh:


= 154o, sehingga

H = R R Cos = R ( 1 Cos )
= R ( 1- Cos 154o )
= R ( 1 Cos 26o )
= 1,898 R atau H = 0,95 Diameter
Jadi Debit maksimum terjadi apabila kedalaaman air daalam saluran adalah
0,95 x Diameter dari penampang saluran.

51

Soal latihan :
1. Tentukan kemungkinan curah hujan dengan periode ulang 10 tahunan dari data curah hujan harian
maksimum Stasiun Meteorologi Curug-Tangerang.

TAHUN
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1968
1969
1970
1971
1972
1973
1974
1975
1976

CURAH
HUJAN (mm)
97
83
86
101
82
84
97
74
76
155
117
72
116
102
97
101
91

TAHUN
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993

CURAH
HUJAN (mm)
106
81
88
67
88
93
94
95
132
112
107
139
78
197
93
82
75

TAHUN
1994
1995
1996
1997
1998

CURAH
HUJAN (mm)
109
87
89
71
102

52

2. Rencanakaanlah ukuran ekonomis saluran terbuka penampang bentuk trapesium


jika diketahui:
-

Curah hujan yang mungkin ( x ) = 126,45 mm/hari

Luas areal (f ) = 2,4 km2

Panjang saluran ( l ) = 1.600 m

Kemiringan dinding ( 1/n ) = 1 : 2

Type permukaan saluran sebelah dalam memenuhi kriteria angka Kutters


( N) = 0,01

Koefisien kondisi kawasan ( a ) diambil = 0,50

Kemiringan saluran dasar ( i ) = 0,0005

53

54

55