Anda di halaman 1dari 12

PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI

KALANGAN REMAJA
PENYALAHGUNAAN NARKOBA
DI KALANGAN REMAJA
Oleh : Bayu Pramutoko,SE,MM
Maraknya narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental dan sekaligus
pendidikan bagi para pelajar saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya
pada upaya pembebasan kaum muda dari bahaya narkoba. Narkoba telah menyentuh lingkaran yang
semakin dekat dengan kita semua. Teman dan saudara kita mulai terjerat oleh narkoba yang sering
kali dapat mematikan. Sebagai makhluk Tuhan yang kian dewasa, seharusnya kita senantiasa berfikir
jernih untuk menghadapi globalisasi teknologi dan globalisasi yang berdampak langsung pada
keluarga dan remaja penerus bangsa khususnya. Kita harus memerangi kesia-siaan yang di
akibatkan oleh narkoba.
I Penyebab Penyalahgunaan Narkoba
1.
a. Kegagalan yang di alami dalam kehidupan
Tidak memiliki rasa percaya diri ataupun kurang mendapat kasih sayang orang tua dapat
menyebabkan timbulkan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Misalnya saja, orang tua yang
terbilang sukses dalam berkarir tetepi kurang memberi perhatian kepada keluarga, adanya
perselisihan di keluarga hingga mengalami kehancuran (Broken Home).
b. Pergaulan yang bebas dan lingkungan yang kurang tepat.
Menurut teori Waddington, mengenai develope mental land scape, jika seorang anak di tempatkan
pada suatu lingkungan tertentu, maka sulitlah bagi kalangan tersebut untuk mengubah pengaruhnya,
terlebih lagi jika lingkungan itu sangat kuat mempengaruhi anak tersebut. Dengan demikian untuk
mencegah penggunaan narkoba, maka land scape (lingkungan) yang baik saat ini adalah lingkungan
Islam. Sebagai orang tua seharusnya dapat memperingatkan anaknya agar tidak bergaul dengan
teman yang berakhlak tidak baik.
1.
c. Kurangnya siraman agama
Untuk memerangi narkoba, upaya yang perlu di lakukan adalah
membangkitkan kesadaran
beragama dan menginformasikan hal-hal yang positif dan bermanfaat kepada para remaja. Karena,
pada zaman sekarang ini sangt sedikit para remaja yang sadar akan pentingnya siraman agama.
1.
d. Keinginan untuk sekadar mencoba
Keyakinan bahwa bila mencoba sekali takkan ketagihan adalah salah satu penyebab penggunaan
narkoba, karena sekali memakai narkoba maka mengalami ketagihan dan sulit untuk di hentikan.
Maka dari itu, bila seseorang ingin terhindar dari narkoba, harus dapat menjauhkan dirinya dari halhal yang memungkinkan untuk mencoba dan bersentuhan dengan narkoba.
II. Narkoba Yang Banyak Beredar Di Masyarakat.
Ada banyak jenis narkoba yang beredar di masyarakat yang banyak di salahgunakan oleh remaja,
antara lain:

Ganja, di sebut juga dengan mariyuana, grass/rumput, pot, cannabis, joint, hashish, cimeng.

Heroin, di sebut juga dengan putaw, putih, PT, bedak, etep.


Morfin, yaitu narkoba yang di olah dari candu/opium yang mentah.
Kokain, di sebut juga dengan crack, coke, girl, lady.
Ekstasi, di sebut juga dengan ineks, kancing.
Shabu-shabu, di sebut juga dengan es, ss, ubas, kristal, mecin.
Amphetamin, di sebut juga dengan speed.

# Zat Hirup
Berbagai jenis bahan perekat yang di pasarkan sebagai bahan bangunan juga sering kali di salah
gunakan untuk di hirup, antara lain: lem kayu (sejanis aica aibon), cat, thinner.
# Obat Penenang, di sebut juga pil koplo
berbagai obat penenang dan obat tidur (anti-insomnia) juga sring di pakai oleh pecandu narkoba.
Obat-obatan in masuk daftar G dan psikotropika, tetapi di perjualbelikan secara bebas di kios-kios
kaki lima.
1.
a. Akibat Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Kesehatan.
Secara keseluruhan obat-obatan ini dapat menimbulkan gangguan-gangguan pada sistem saraf
manusia, juga pada organ-organ tubuh manusia. Narkoba juga akan mengakibatkan
kcanduan/ketagihan kepada pemakainya dan apabila pemakaian di hentikan, dapat mengakibatkan
kematian. Ciri-ciri kecanduan antara lain: kejang, sakit perut, badan gemetar, muntah-muntah, mata
dan hidung berair, hilangnya nafsu makan dan hilangnya/berkurangnya berat badan.
1.
b. Akibat Penggunaan Narkoba Terhadap Lingkungan Di Masyarakat
Penggunaan narkoba dapat menghilangkan kesadaran pemakainya, menyebabkan paranoia
(linglung), juga dapat membuat pemakainya menjadi ganas dan liar sehingga dapat mengganggu
ketentraman di masyarakat.
Untuk mendapatkan barang-barang haram itu, di perlukan tidak sedikit biaya, sehingga dapat
menimbulkan perbuatan-perbuatan kriminal seperti pencurian, perampasan ataupun pertengkaran
dan tidak sedikit pula yang menimbulkan pembunuhan.
III Pencegahan Dan Penanggulangan Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
Ada banyak hal untuk mencegah penggunaan narkoba antara lain adalah:

membangkitkan kesadaran beragama, menginformasikan hal-hal positif dan bermanfaat.


Selektif dalam memilih teman.
Selektif dalam memilih makanan dan minuman.
Menghindarkan diri dari lingkungan yang tidak tepat.
Membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling mengingatkan.
Bila berhadapan dengan orang/teman yang mulai bersentuhan dengan narkoba, gunakan
kasih sayang untuk menariknya ke jalan hidup yang lebih sehat.
Mengetahui fakta-fakta tentang narkoba termasuk akibat-akibat yang di timbulkan oleh
barang-barang haram tersebut.

Permasalahan Narkoba di Indonesia


June 16, 2008 by ynsuryani | 2 Comments

PERMASALAHAN NARKOBA DI INDONESIA

Oleh : Suryani SKp MHSc

A. Pendahuluan
Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba merupakan permasalahan
yang masih dihadapi oleh negara negara di dunia, termasuk Indonesia. Akhir akhir ini
permasalahan tersebut semakin marak dan komplek terbukti dengan meningkatnya jumlah
penyalahguna, pengedar yang tertangkap dan pabrik narkoba yang di bangun di Indonesia.

Berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah, swasta


dan masyarakat untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut.
Namun, upaya upaya tersebut belum bisa dikatakan berhasil.
Kenapa upaya upaya yang telah banyak dilakukan masih belum
mencapai hasil yang memuaskan? Apa saja kelemahan dan kendala
dalam mencegah dan mengatasi permasalahan penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkoba selama ini ? Apa yang perlu diperbaiki untuk
mengatasinya ? Uraian berikut dapat menjelaskan hal hal tersebut.
B. Permasalahan Narkoba di Indonesia
Saat ini menurut hasil penelitian jumlah penyalahguna narkoba
adalah 1,5% dari penduduk Indonesia atau sekitas 3,3 juta orang. Dari 80
juta jumlah pemuda Indonesia, 3 % sudah mengalami ketergantungan
narkoba, serta sekitar 15. 000 orang telah meninggal dunia (BNN,2006).
Bahkan menurut Kalakhar BNN, Drs I Made Mangku Pastika, setiap hari, 40
orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini
bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka
sebenarnya mungkin jauh lebih besar. Menurut Hawari (2002), fenomena
penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang
sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang
ditemukan.
Meningkatnya jumlah penyalahguna narkoba dari tahun ke tahun
tentunya tidak bisa dianggap masalah yang ringan, tetapi perlu dianggap
serius agar penanggulangannya juga bisa dilakukan secara serius.
Secara umum diakui bahwa permasalahan penyalahgunaan narkoba di
Indonesia sangatlah kompleks, baik dilihat dari penyebabnya maupun
penanganannya. Bila dilihat dari penyebab terjadinya, penyalahgunaan
narkoba disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi satu
sama lain. Faktor faktor tersebut antara lain faktor letak geograf
Indonesia, faktor ekonomi, faktor kemudahan memperoleh obat, faktor

keluarga dan masyarakat, faktor kepribadian serta faktor fsik dari individu
yang menyalahgunakannya.
Dilihat dari letak geograf, Indonesia memang sangat beresiko
menjadi sasaran empuk pengedar narkoba karena posisi Indonesia yang
terletak diantara dua benua dan dua samudra. Disamping itu juga karena
negara Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak pelabuhan
yang memudahkan jaringan gelap dalam mengedarkan narkoba.
Dari faktor ekonomi, keuntungan yang berlipat dari bisnis narkoba
menyebabkan semakin maraknya bisnis ini di negeri kita. Dalam satu hari
seorang pengedar bisa mendapatkan uang yang sangat banyak karena
harga narkoba itu mahal. Satu pil ekstasi saja harganya 40.000 rupiah.
Disamping faktor keuntungan, faktor sulitnya mendapatkan pekerjaan dan
gaya hidup yang serba konsumtif juga merupakan faktor penyebab yang
mendorong seseorang menjadi pengedar narkoba.
Untuk faktor kemudahan memperoleh obat, saat ini di Indonesia
narkoba bisa dengan mudah diperoleh baik ditempat umum seperti
warung maupun di tempat tempat tertentu seperti diskotik. Banyak yang
menawarkan dan menipu si korban agar mau mencoba. Awalnya diberikan
gratis dengan dalih pertemanan atau ingin menolong mengatasi masalah
yang sedang dihadapi. Bahkan narkoba bisa ditemukan di kamar kos
mahasiswa. Hasil penelitian Amin (2002) mengungkap bahwa mahasiswa
yang kos di jatinangor, Sumedang memperoleh narkoba dari temannya
yang sama sama kos. Mereka menggunakan narkoba dan melakukan sex
bebas sebagai sarana rekreasi.
Faktor
keluarga
juga
turut
berperan
dalam
maraknya
penyalahgunaan narkoba. Zaman sekarang, akibat tuntutan kebutuhan
hidup, kedua orang tua harus membanting tulang untuk memenuhi segala
kebutuhan keluarga. Karena kesibukannya, orang tua terkadang tidak
punya waktu untuk berkomunikasi dengan anak anaknya. Dampaknya
anak merasa tidak diperhatikan sehingga mereka mencari orang lain
diluar rumah yang mau memperhatikan mereka, dan membentuk nilai
nilai sendiri dengan mengkaitkan dirinya dengan cara menggunakan
narkoba (Kusumanto dan Saifun,1975 dalam Yongky, 2003). Hal tersebut
juga didukung oleh Hawari (2002) yang menyatakan bahwa alasan remaja
menyalahgunakan narkoba adalah karena kehidupan keluarga yang tidak
harmonis, orang tua yang terlalu sibuk dan untuk lari dari masalah yang
sedang dihadapi.
Kurangnya contoh teladan dari orang tua dan kurangnya
penanaman disiplin di rumah membuat anak anak cenderung bebas
melakukan apa saja. Dengan kondisinya yang serba ingin tahu membuat
remaja akhirnya juga terjerumus kepada penyalahgunaan narkoba.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab banyaknya penyalahguna


narkoba adalah masyarakat. Akibat trend kehidupan yang cenderung
individualistis, saat ini kepedulian diantara anggota masyarakat terhadap
anggota masyarakat lainnya menjadi sangat berkurang. Dulu, bila ada
anak tetangga yang bersikap kurang sopan atau berbuat salah, tetangga
berusaha menegur. Tapi sekarang hal itu sudah tidak terjadi lagi karena
pertama merasa bahwa itu bukan anak saya, kedua karena takut orang
tua si anak malah marah kalau anaknya ditegur. Budaya yang dianut oleh
sekelompok masyarakat juga sangat besar pengaruhnya. Budaya ini
terbentuk karena adanya publik fgur yang memberikan contoh. Misalnya,
saat ini di kalangan remaja tertentu menyalahgunakan narkoba menjadi
kebanggaan karena artis idola mereka juga menggunakan narkoba.
Faktor kepribadian seseorang juga berpengaruh terhadap
penyalahgunaan narkoba. Menurut YATIM (1991), penyalahguna narkoba
mempunyai ciri kepribadian lemah, mudah kecewa, kurang kuat
menghadapi kegagalan, bersifat memberontak dan kurang mandiri.
Sedangkan hasil penelitian Erwin Wijono, dkk (1982) dalam Yongky (2003)
di RSKO Jakarta menyimpulkan bahwa ketergantungan obat terlarang
mudah terjadi pada mereka dengan ciri ciri kepribadian : mudah kecewa,
cepat emosi, pembosan, lebih mengutamakan kenikmatan sesaat tanpa
memikirkan akibatnya di kemudian hari atau pemuasan segera.
Faktor kepribadian ini sangat erat kaitannya dengan faktor keluarga, dimana
kepribadian seseorang sebenarnya banyak dibentuk dalam keluarga. Bagaimana seorang
anak diasuh oleh orang tuanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya
kepribadiannya. Seseorang yang diasuh dengan pola asuh yang kurang tepat seperti
terlalu dimanjakan atau sebaliknya terlalu dikekang akan membentuk kepribadian yang
lemah dan tidak mandiri.

C. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Peredaran Narkoba


Karena penyebab yang sangat kompleks dari penyalahgunaan
narkoba, penanggulangannyapun tidaklah sederhana. Berbagai upaya
telah banyak dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memerangi
narkoba. Untuk mengkoordinasikan penanganan masalah tersebut
pemerintah sejak tahun 2002 telah membuat suatu Badan yang
mengurusnya yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan UU no
22 th 1997 pasal 54 serta Kepres no 17 th 2002. Tugas pokok BNN adalah
mengkoordinasikan instansi terkait dalam menyusun kebijakan dan
pelaksanaannya di Bidang penyediaan, pencegahan, pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Disamping itu juga
melaksanakan pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkoba.
BNN dalam operasionalnya ditingkat provinsi dilaksanakan oleh
Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan pada tingkat kabupaten Kota oleh
Badan narkotika Kabupaten/Kota (BNK). Sampai saat ini telah terbentuk
31 BNP dari 33 provinsi dan baru terbentuk 270 BNK dari 460 Kabupaten

Kota di seluruh Indonesia. Sayangnya, baru sebagian kecil dari BNP dan
BNK tersebut yang mempunyasi kantor sendiri dan mendapat anggaran
dari APBD (SADAR, Maret, 2007). Akibatnya, fungsi BNP dan BNK sendiri
belum banyak terlihat.
Strategi Nasional .P4GN diarahkan pada terwujudnya Indonesia
bebas NARKOBA th 2015 melalui Pengurangan permintaan (demand
reduction), pengurangan sediaan (suplai reduction) dan pengurangan
dampak buruk (harm reduction) yang ditunjang dengan program
penelitian dan pengembangan, pemantapan koordinasi antar lembaga,
pelibatan masyarakat dalam kegiatan P4GN dan kerjasama international
(SADAR, Maret, 2007).
Dalam upaya pengurangan permintaan melalui upaya preventif,
pemerintah melalui BNN telah melakukan berbagai upaya seperti
pelatihan bagi
para
fasilitator
Penyuluh
P4GN
sebagai
upaya
meningkatkan keterampilan mereka. Disamping itu juga telah
bekerjasama
dengan
sekolah

sekolah
untuk
melakukan
penyuluhan. Melakukan kampanye anti narkoba dengan slogan anti
narkoba seperti Say no to drug, Narkoba, kado istimewa dari neraka,
dan sebagainya. Melakukan peringatan hari anti narkoba setiap tahun.
Mengadakan buku buku, leaflet, pamlet, poster, VCD dan sebagainya
yang dapat digunakan masyarakat untuk memahami tentang narkoba.
Disamping itu juga telah diterbitkan tabloid SADAR oleh BNN yang
berisikan berita seputar narkoba. Pada bulan mei 2007 Pemerintah juga
telah bekerjasama dengan Metro TV untuk kampanye perang melawan
narkoba.
Dalam upaya pemberantasan peredaran gelap narkoba pemerintah melalui aparat keamanan
dan penegak hukum telah banyak melakukan penangkapan , penggerebekan serta pemberian
hukuman. Seperti misalnya penutupan pabrik narkoba di Cikande, Serang, Banten, tahun 2005,
penggeledahan di Lembaga Pemasyarakatan dan pemberian hukuman mati oleh Mahkamah Agung
pada 9 orang pengelola pabrik ekstasi Cikande baru baru ini (Pikiran Rakyat, mei 2007).

Dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, pemerintah telah berupaya


mengadakan pusat pusat rehabilitasi bagi korban narkoba seperti
misalnya RSKO di Jakarta dan pusat rehabilitasi narkoba di berbagai
Rumah sakit Jiwa di Indonesia dan panti rehabilitasi. Penanganan korban
di pusat rehabilitasi beragam, ada yang menggunakan substitusi dengan
obat dan ada pula tanpa obat, ada yang menggunakan pendekatan
terapeutic community, pendekatan spiritual dan lain lain.
Bukan hanya pemerintah yang telah berupaya melakukan upaya
pencegahan
dan
pemberantasan
penyalahgunaan
narkoba.
Masyarakatpun sebenarnya sudah banyak yang berperan. Banyak LSM,
yayasan maupun unsur masyarakat seperti Karang taruna dan tokoh

masyarakat yang dengan swadaya melakukan upaya upaya preventif,


promotif dan rehabilitatif.
Apakah upaya tersebut telah mampu mengatasi permasalahan
narkoba ? Secara jujur tentu belum karena angka penyalah gunaan
narkoba terus meningkat dari tahun ke tahun.
D. Analisa Terhadap Berbagai Upaya Pencegahan dan
Penanggulangan Peredaran Narkoba
Dari Uraian diatas dapat dikatakan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan
pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi
masalah penyalahgunaan narkoba. Akan tetapi masih banyak kelemahan dan
kendala yang dihadapi.
Kelemahan pertama yaitu program BNN sampai tahun 2006 masih banyak terfokus
pada suplai reduction (SADAR, Desember, 2006). Pemantapan seaport dan airport
Interdiction menjadi salah satu upaya BNN bersama instansi terkait untuk mencegah
masuknya narkoba ke wilayah Indonesia. Hasilnya cukup memuaskan, namun
karena di Indonesia banyak pelabuhan laut terbuka yang tidak punya alat pendeteksi
canggih seperti X-Ray di bandara, maka peredaran gelap narkoba masih saja terjadi
(KOMPAS, 2005). Kasus 966 kilogram shabu di teluk Naga yang terungkap pada
bulan Agustus 2005 cukup sebagai bukti sulitnya mengontrol kejadian ini. Bahkan
akhir akhir ini Indonesia bukan lagi hanya sebagai kawasan peredaran saja tapi
juga sebagai produsen. Beberapa pabrik narkoba telah berdiri seperti misalnya
pabrik ekstasi di Serang, Banten.
Kedua, BNN terlalu banyak mengerjakan program sendiri, kurang
melibatkan instansi terkait dan LSM. Seperti yang diungkapkan oleh
Veronica, direktur YCAB Jakarta. BNN harusnya seperti Bandar program,
memberdayakan LSM untuk melakukan sesuatu sesuai dengan
keahliannya kemudian memberikan akses dan fasilitas kepada mereka
untuk mempermudah pekerjaan (SADAR, Desember, 2006). BNN
sebaiknya lebih memerankan fungsinya sebagai fasilitator dan koordinator
kegiatan kegiatan pemberantasan penyalahgunaan narkoba dengan
mendorong berbagai unsur yang ada di masyarakat untuk lebih banyak
terlibat dalam upaya memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkoba.
Ketiga, BNP serta BNK sebagai perpanjangan tangan BNN selama ini
belum berfungsi dengan baik. Beberapa BNP dan BNK hanya melakukan
kegiatan yang sifatnya seremonial seperti misalnya peringatan hari anti
NARKOBA tanpa menjalankan fungsi utamanya sebagai fasilitator dan
koordinator program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan
narkoba. Akibatnya timbul ketidakpuasan dari masyarakat terhadap

kinerja BNP dan BNK. Banyak dari LSM yang ada di daerah merasa tidak
puas terhadap kinerja BNP dan BNK. Konsekuensi lain adalah kegiatankegiatan yang dilakukan oleh institusi terkait dan kelompok masyarakat
tidak terkoordinir dengan baik sehingga tidak mencapai sasaran.
Untuk itu diperlukan upaya evaluasi dan monitoring terhadap
kinerja BNN, dan lebih penting lagi evaluasi dan monitoring terhadap
kinerja BNP dan BNK. Disamping itu Pemerintah perlu membuat alat ukur
untuk mengukur keberhasilan BNP dan BNK dalam upaya pencegahan dan
pemberantasan peredaran gelap narkoba. Jangan sampai program
program yang ada hanyalah diatas kertas atau lebih parah lagi hanyalah
fktif belaka.
Keempat adalah kurangnya kesadaran masyarakat awam tentang
peran mereka dalam upaya pencegahan dan pemberantasan
penyalahgunaan narkoba. Hal ini mungkin terkait dengan kurangnya
sosialisasi keberadaan BNN, BNP dan BNK serta program programnya ke
masyarakat sehingga masyarakat banyak yang tidak mengenal adanya
BNN, BNP dan BNK. Masyarakat hanya tahu bahwa permasalahan narkoba
adalah tanggung jawab pihak kepolisian saja. Karena kurangnya
pengetahuan dan ketakutan yang berlebuhan, mereka cenderung tidak
melaporkan kasus kasus yang mereka temukan. Salah seorang Kanit
narkoba di Cimahi menceritakan pengalamannya tentang sulitnya
mendapatkan informasi dari masyarakat. Dia pernah mengiklankan siapa
yang mau memberi informasi tentang adanya kasus narkoba di daerah
mereka, akan dibayar tinggi. Tapi tetap tidak ada yang melapor.
Untuk lebih meningkatkan peran serta masyarakat, maka dalam
setiap kampanye atau penyuluhan di masyarakat perlu disampaikan
tentang konsep bela negara dimana seluruh rakyat Indonesia wajib
membela negara. Jadi semua warga negara diwajibkan untuk perang
melawan penyalahgunaan dan perdagangan gelap narkoba. Disamping itu
kepada BNN, BNP dan BNK agar lebih meningkatkan sosialisasinya ke
masyarakat, terlebih lagi masyarakat di pedesaan.
Kelima adalah masih kurangnya melibatkan unsur unsur
masyarakat yang sebenarnya sangat strategis, efektif dan efsien untuk
upaya preventif seperti tokoh agama, kelompok ibu ibu PKK, dan para
kader di tingkat RT dan RW. Permasalahan penyalahgunaan narkoba
sangat terkait dengan masalah moral dan kepribadian. Karena itu
sangatlah tepat untuk melibatkan para tokoh agama atau ulama atau
ustad dan ustadzah dalam program pencegahan. Jika perlu mereka
didukung dengan dana yang memadai untuk menjalankan tugas mereka.
Bukan hanya untuk sektor terapi dan rehabilitasi seperti yang telah
dilakukan BNN dengan membuat kesepakatan bersama antara BNN,
Colombo plan dan Nahdatul ulama pada bulan Februari 2006

Para ibu ibu PKK dan Ibu ibu kader juga sangat penting untuk
dilibatkan dalam program pencegahan. Sebagaimana yang telah diketahui
bahwa sekitar 80 % dari pengguna adalah remaja. Remaja ini masih
dalam tanggung jawab orang tua. Kaum Ibu merupakan orang pertama
yang bertugas mendidik putra putrinya. Ketidaktahuan kaum ibu tentang
tumbuh kembang anak dan remaja, pola asuh yang tepat bagi anak dan
remaja serta narkoba bisa menjadi penyebab remaja terjerumus
menyalahgunakan narkoba.
Keenam adalah penyuluhan yang dilakukan selama ini pada
masyarakat terutama remaja kurang memperhatikan kondisi sasaran.
Penyampaian materi cenderung monoton, kurang variatif. Hasil penelitian
Suryani (2006), baru baru ini tentang persepsi remaja terhadap
pelaksanaan penyuluhan narkoba di Jatinongor menunjukkan 54,4 %
responden menyatakan negatif terhadap metode dan pemberi materi
pada penyuluhan yang pernah mereka ikuti. Mereka menyarankan agar
metode yang digunakan disesuaikan dengan kondisi remaja.
Ketujuh adalah bahwa program pencegahan dan rehabilitasi
narkoba belum menjangkau daerah pedesaan. Banyak orang orang di
pedesaan yang tidak paham tentang narkoba sehingga mereka dengan
mudah terjerumus. Sebagai contoh banyak diantara para korban yang ada
di Panti rehabilitasi Pamardi Putra Lembang, Bandung berasal dari daerah
pedesaan seperti Cililin, pedesaan garut dan kuningan, Jawa Barat. Di
daerah pedesaan di Sumatra ketika saya kunjungan kesana,
masyarakatnya banyak yang tidak mengerti tentang permasalahan
narkoba dan mereka belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang
narkoba. Banyak remaja yang terlibat penyalahgunaan narkoba.
Masalah lain adalah banyak dari slogan slogan yang dibuat kurang
simpati, terkesan seram, dan misleading information : sebagai contoh NARKOBA
kado istimewa dari neraka. Apa betul narkoba itu membawa orang ke
neraka, atau menyebabkan orang masuk neraka? Bukankah narkoba itu
bermanfaat untuk pengobatan? Yang ke neraka adalah orang yang
menyalahgunakan, mengedarkan atau yang melindungi pengedarnya
bukan narkobanya. NARKOBA adalah barang haram. Betulkah narkoba
itu barang haram? Kalau begitu tidak boleh digunakan sekalipun untuk
tujuan pengobatan.
Kalimat Perangi NARKOBA juga kurang tepat. Kalau perang artinya
narkoba itu musuh, padahal kalau dilihat defenisinya menurut WHO,
narkoba adalah semua zat, kecuali makanan, minuman atau oksigen yang
jika dimasukkan kedalam tubuh dapat mengubah fungsi tubuh secara fsik
dan atau psikologis. narkoba itu terdiri dari narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya. Narkotika menurut UU no 22 th1997 adalah suatu zat atau
obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis

maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau


peribahan kesadaran, hilangnya rasa dan dapat menimbulkan
ketergantungan. Sedangkan defenisi psikotropika menurut UU no 5
tahun1997 adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktiftas
normal dan perilaku. Narkoba itu sebetulnya sudah ada sejak zaman
dahulu dan sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kenapa
diperangi ? Siapa dan apa sebenarnya yang harus diperangi ?
Ungkapan say no to drug, menurut Veronica Colondam, Chief
Excecutife Officer YCAB, untuk sebagian orang memang ampuh tapi untuk
sebagian orang malah jadi penasaran. Kenapa say no ? Tanpa
pengetahuan yang memadai malah membuat mereka menjadi penasaran
(SADAR, Desember, 2006). Hasil penelitian LSM KEREN terhadap siswa
SMA swasta di Cimahi menunjukkan bahwa 59 % responden menunjukkan
sikap yang favorable terhadap penyalahgunaan narkoba. Pernyataan yang
menyatakan menggunakan NARKOBA sama dengan penyalahgunaan
narkoba, bahwa penggunaan rokok dan ganja merupakan pintu gerbang
ke zat yang lebih keras agaknya kurang tepat karena ada perbedaan
antara mencicipi, menggunakan, menyalahgunakan dan kecanduan. Dan
penggunaan satu jenis narkoba tidak selalu pasti mengarah kepada
penggunaan narkoba lainnya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka slogan slogan yang
berkaitan dengan narkoba yang telah beredar di masyarakat, perlu
dievaluasi sejauh mana keefektifannya, bagaimana persepsi masyarakat
terutama
target
sasaran
terhadap
slogan
tersebut
dan
bagaimana dampaknya. Sekaranglah waktunya untuk merobah cara
cara lama yang memberikan informasi yang cenderung menakut nakuti
dan berlebihan menjadi pemberian informasi yang jujur, proporsional dan
cara pandang yang positif. Sebagai contoh slogan yang baik
misalnya Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua berjuang
memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Masalah yang paling serius adalah adanya unsur korupsi dan kolusi
dalam penanganan kasus NARKOBA. Hasil penelitian kualitatif yang
dilakukan oleh salah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar
negeri mengungkap tentang bagaimana mafa peradilan dalam
penanganan kasus narkoba. Disamping itu juga, rendahnya moral para
penegak hukum, membuat mereka sendiri terjerumus kedalam
penyalahgunaan narkoba, bahkan menjadi pelindung para pengedar
narkoba. Kasus seorang Kapolsek di Bogor baru baru ini yang tertangkap
basah sedang menggunakan shabu merupakan salah satu dari banyak
kasus yang sangat memalukan dan membahayakan.

Berkaitan dengan permasahan ini, agaknya memang cukup sulit


untuk diatasi. Karena korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita ini.
Orang akan merasa malu kalau ketahuan maling, tapi orang tidak merasa
malu kalau ketahuan korupsi. Padahal maling dan korupsi itu kan secara
hakekatnya sama.
Mungkin perlu adanya sebuah terobosan dalam menghapus budaya
ini. Perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa korupsi itu adalah
maling. Atau hilangkan saja kata korupsi, sebut saja maling untuk semua
perbuatan yang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jadi sekalipun
dia pejabat atau penegak hukum, seandainya dia mengambil sesuatu
yang bukan haknya, dia tetap dibilang maling, sama seperti seorang
penggangguran yang maling motor.
Pemberian hukuman yang tegas bagi maling maling yang
berkeliaran di negara kita ini, sangatlah penting agar memberi efek jera
dan takut untuk melakukannya. Seharusnya ada pemimpin yang berani
menegakkan hukum dengan tegas dan adil tanpa pandang bulu.
Disamping
itu
menumbuhkan
kesadaran
berTuhan
(God
Consciousness) bagi para penegak hukum sangatlah penting untuk
menumbuhkan keberanian mereka dalam menangani kasus kasus
peredaran gelap narkoba dan kasus kasus korupsi lainnya, jangan
sampai kasus kasus yang telah terungkap tidak dituntaskan. Dengan
menumbuhkan kesadaran berTuhan seseorang akan bekerja dengan ikhlas
(God oriented) dan ihsan (melakukan sesuatu dengan kesadaran bahwa
semua perbuatannya dilihat Allah). Sehingga membuat seseorang tidak
berani berbohong, berbuat curang, memanipulasi data atau perbuatan
tercela lainnya.

E. Kesimpulan
Permasalahan penyalahgunaan dan pererdaran gelap narkoba
memang bukanlah masalah yang sederhana. Masalahnya sangat komplek
dan bisa dikatakan rumit. Karena itu diperlukan berbagai upaya yang
komprehensif dan berkesinambungan dalam memeranginya.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta
dan masyarakat selama ini nampaknya belum menunjukkan hasil yang
memuaskan, hal ini disebabkan oleh berbagai kelemahan dan kendala
terutama dalam koordinasi aplikasi program, evaluasi dan monitoring
serta masalah moral penegak hukum.
Dalam rangka semangat untuk terus memerangi penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba, mari kita perbaiki kelemahan kelemahan
tersebut dan kita atasi berbagai kendala dengan cara yang cerdas.

Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua terus berjuang memerangi penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba. Kita harus menang! Insyaallah.