Anda di halaman 1dari 30

36

BAB III
PERANCANGAN PRODUK
A. Perancangan Awal
1. Konsep Rancangan
Dalam merancang mesin pengiris tempe ini hal pertama yang harus
diketahui adalah konsep rancangan / draft design. Adapun draft design dari
mesin pengiris tempe secara sederhana bisa dilihat pada gambar di bawah
ini.

Gambar 3.1 Draft Design


Keterangan:
1. V-Belt
2. Puli
3. Penahan Tempe
4. Housing Bearing
5. Baut Pengikat

6.
7.
8.
9.
10.

Wadah Tempe
Pendorong Tempe
Silinder Pneumatik
Motor Listrik
Rangka

2. Spesifikasi Produk
Nama

: Mesin pengiris tempe sebagai bahan dasar keripik tempe


dengan penggerak motor listrik dan sistem pneumatik.

Fungsi

: Memotong tempe menjadi tipis-tipis untuk digunakan


sebagai keripik tempe.

Daya

: HP

Kapasitas

: 240 batang/jam

Berat

: 35 kg

Tinggi

: 550 mm

Panjang

: 850 mm

Lebar

: 610 mm

3. Daftar Nama Komponen


Dalam mesin ini menggunakan berbagai macam komponen, bentuk,
dan ukuran. Adapun komponen-komponen yang digunakan dalam mesin ini
bisa dilihat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 Nama-nama komponen
N
Nama Komponen Jml Material
o
1
Sabuk-V
1
43 inch
2
Puli 50 mm
3
FC 20
3
Penahan Tempe
1
Stainless
4
Rumah Bearing
4
ST 37
5
Baut M10
12 ST 37
6
Wadah Tempe
1
Stainless
7
Pendorong Tempe
1
Plastik
8
Silinder Pneumatik
1
6 mm
9
Motor Listrik
1
HP
10 Rangka
1
Besi Siku
11 Poros Utama
2
S30C
12 Puli 175 mm
1
FC 20
13 Pemegang Pisau
2
ST 37
14 Poros Pisau
2
FC 30

Jenis
MS
MS
MB
MS
MS
MS
MB
MS
MS
MB
MB
MS
MB
MB

Kebutuhan

Harga Total

6 kg
30x30
700x400
1 kg
1400 rpm
6m
3 kg
2 kg
2 kg
1 kg

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

40.000
120.000
50.000
100.000
36.000
150.000
100.000
300.000
500.000
140.000
60.000
40.000
40.000
20.000

15 Bantalan Pisau
16 Bantalan Utama
17 Baut M8
18 Sabuk-V
19 Relay
20 Trafo
TOTAL

2
4
10
1
2
1

ST 37
ST 37
ST 37
23 inch
Kecil
2V

MS
MS
MS
MS
MS
MS

Rp.
60.000
Rp. 120.000
Rp.
20.000
Rp.
35.000
Rp.
70.000
Rp.
35.000
Rp. 2.036.000

4. Prinsip Kerja Mesin Pengiris Tempe


Mesin pengiris tempe ini menggunakan motor listrik yang
ditransmisikan ke poros eksentrik sebagai penggerak pisau, dan pisau
tersebut berguna untuk mengiris tempe. Pada mesin ini menggunakan dua
poros yang berputar bersama, untuk menyamakan putaran tersebut, mesin
ini menggunakan puli dan v-belt yang dimana diameter puli kedua poros
tersebut memiliki diameter yang sama, sehingga tidak mengalami reduksi,
dan putaran kedua poros tersebut sama. Sedangkan tempe dimasukkan pada
tempat menaruh tempe atau hopper, kemudian didorong maju oleh silinder
pneumatik.
Silinder pneumatik digerakkan maju oleh udara yang berasal dari
kompresor dan sudah melalui solenoid valve yang sudah diatur dan
dirangkai supaya pada saat ada tempe saja silinder tersebut bisa mendorong
maju supaya tempe bisa terpotong dan jatuh ke wadah di bawah yang sudah
di sediakan.

B. Perancangan Teknik
Merajang 1 batang tempe yang memiliki diameter 8 cm dan panjang 20 cm
membutuhkan 100 kali pengirisan, asumsi tersebut direncanakan ketebalan

irisan tempe 2 mm jadi dalam 1 cm tempe akan diiris menjadi 5 lembar irisan
tempe, di mesin ini menggunakan mata pisau pengiris jenis tunggal. Maka untuk
merajang 1 batang tempe yang memiliki diameter 8 cm dan panjang 20 cm
diperlukan:
100
=100 putaran
1
Kapasitas yang direncanakan (Q) = 240 batang / jam, Jadi:
Q=

n
putaran per batang

n=putaran per batang x Q

100

putaran
batang
x 240
batang
jam

24000 putaran/ jam

24000
putaran/menit
60

400 putaran/menit

400 rpm

Jadi putaran mesin yang dibutuhkan adalah 400 rpm

Dalam merancang mesin pengiris tempe ini hal awal yang perlu diketahui
dalam perencanaan teknik selain kapasitas produksi dan putaran pisau yaitu
besarnya gaya potong tempe untuk mengiris tempe dengan diameter 8 cm, hal ini
kita dapat dari hasil uji coba pengirisan tempe menggunakan pisau yang dikenai
gaya potong ke bawah sebanyak 4 kali pengujian dan diperoleh data sebagai
berikut:

Tabel 3.2. Hasil Percobaan


Pengujian
I
II
III
IV

Gaya Potong (kg)

Keterangan

2.5
2
1,5
1

Terpotong
Terpotong
Terpotong
Tidak terpotong

Dari hasil percobaan tersebut menjelaskan, tempe akan terpotong apabila


diberi beban lebih dari 1 kg, dan dari data di atas yang terpotong bisa kita ratarata, dan hasilnya adalah F = 2 kg yang akan digunakan sebagai dasar
perhitungan.
Dalam mesin pengiris tempe ini terdapat beberapa komponen yang harus
di hitung, antara lain:
1. Perhitungan Daya Penggerak
Pada mesin pengiris tempe ini menggunakan mata pisau yang
digerakkan menggunakan poros eksentrik. Dengan gaya yang mengarah ke
bawah, dan gaya tersebut digunakan untuk mencari besarnya daya yang
dibutuhkan. Mekanismenya bisa di lihat pada gambar
Mata
Pisau

Poros
Gambar 3.2 Mekanisme Mesin Pengiris

Karena adanya gaya potong ke bawah sebesar 2 kg yang diakibatkan


oleh pisau dan panjang pisau 220 mm (ukuran pada gambar 3.2).

220

40

Gambar 3.3 Dimensi Pisau

Maka torsi yang terjadi pada tuas di mekanisme mesin tersebut


adalah
Torsi (T)

=FxR
= 2 kg x 220 mm
= 440 kgmm

Jadi Daya ( P )

T
(= 1000
) . ( 260n ) ( kW )
102

(Sularso & K. Suga, 1997:7)

440
2. 3,14. 400
.(
)
(
)
1000
60
P =
102

P =

( 0,44 ) . (41,87)
102

P =

18,42
102

P= 0,181 kW
Dari perhitungan di atas diketahui besarnya daya untuk memotong
bahan adalah 0,181 kW, maka daya yang direnacanakan adalah:
Pd =P. fc ( kW ) (SularsoK . Suga , 1997 :7)

Faktor koreksi ( fc )=1,0 (lihat ditabel 2.1)

Pd =0,181. 1,0
Pd =0,181 kW
Pd =

0,181
(HP )
0,746

Pd =0,242 HP
Jadi besarnya daya motor yang digunakan adalah

0,242

HP.

Besarnya daya motor yang direncanakan dengan mempertimbangkan faktor


koreksi dan motor yang ada di pasaran, maka dipilih motor listrik dengan
spesifikasi: daya output 0,25 HP, putaran 1400 rpm
2. Perencanaan Sistem Transmisi (Puli dengan Sabuk)
a. Tipe sabuk
Dari perhitungan sebulumnya diketahui:
Daya rencana motor listrik (Pd)
Putaran poros motor (n1)
Putaran poros pisau pengiris (n2)

= 0,25 HP (0,187 kW)


= 1400 rpm
= 400 rpm

10.000

Putaran Puli Kecil (rpm)

7.000
6.000
5.000
4.000
3.000

2.000

B
1.000
900
800
700
600
500
400

C
D

300
200

E
100

5 6 7 8 910

20 30 4050

100

Daya Rencana (kW)

200 300 400500 7001000

Gambar 3.4. Diagram pemilihan sabuk V


(Sularso & K. Suga, 1997: 169)

Berdasarkan data diatas dan diagram pemilihan Sabuk V yang


dianjurkan oleh (Sularso & K. Suga, 1997: 169)
Maka dipilihlah penampang sabuk V tipe A
b. Diameter Puli Transmisi
D p .n 2=d p .n 1

D p=

n1 . d p
n2

D p=

1400 .50
400
175 mm

Jadi diambil puli transmisi (Dp) = 175 mm


c. Kecepatan liner sabuk V
v=

d p n1 m
( )
60 . 1000 s

v=

3,14 . 50 . 1400
60 . 1000

3,6633 m/s
d. Jarak Poros penggerak (pada motor) dengan poros yang digerakkan
C = 2 . Dp
C = 2 . 175 = 350 mm
e. Kapasitas daya transmisi dari satu sabuk (P0)

P0 = daya standar + harga tambahan karena perbandingan putaran


(lihat di lampiran1)

P0 = 1,31 + 0,18 = 1,49 kW


f. Panjang keliling sabuk (L)
L = 2C+

1
2
( d p + Dp ) + 4C ( d p + Dp )

L = 2 . 350+

3,14
1
( 50+175 ) +
( 50+175 )2
2
4 . 350

L = 700+352,25 +36,16
L = 1089,41 mm
L = 108,94 cm
Jadi panjang sabuk yang diguanakan menyesuaikan dengan yang
ada di pasaran dipilih L = 1092 mm = 43 Inch (lihat di lampiran 2).
g. Menghitung ulang jarak sumbu poros puli (C)
b = 2L- ( d p + Dp )

(Sularso & K. Suga, 1997 :170)

2. 10923,14 (50+ 175 )


= 2184 706,5
= 1477,5 mm

b+ b 8 ( D pd p )
C=
8

1477,5+ 1477,528 ( 17550 )

1477,5+ 2183006,25(125000)
8

1477,5+ 2058006,25
8

C=

1477,5+1434,58
=364,01 mm
8

Jadi jarak sumbu poros puli adalah 364 mm


h. Sudut kontak antara sabuk dengan puli ( )
180

57 ( 17550 )
364

18019,57
160,43 dipilih163

Sehingga faktor koreksi ( K ) = 0,96

( lihat di lampiran 3 )

i. Menghitung jumlah sabuk yang digunakan (N)


N=

Pd
P0 K

N=

0,2
1,38 . 0,96

0,187
1,324

0,269 dipilih1
Maka jumlah sabuk yang digunakan adalah 1 buah.

3. Penentuan Puli

Dari tabel V-Belt , untuk sabuk tipe A diketahui ukuran-ukuran puli

sebagai berikut: e = 12,5 mm; c = 2,5 mm; t = 9 mm; s = 10 mm;

= 40o

(Dobrovolsky, 1978:226), sehingga puli dapat dihitung sebagai berikut:


a. Puli penggerak
1) Ketebalan puli penggerak
B = (z-1) . t + 2.s

(Dobrovolsky, 1978:231)

B = (1-1) . 9 + (2) . (10) = 20 mm


2) Berat puli pengerak
d
Wp = /4 . p
V=

.b.

3,14
kg
. ( 50 )2 .20 .. 7,2 x 106
=0, 463585 kg
3
4
mm

b. Puli yang digerakkan


1) Ketebalan puli yang digerakkan
B = (z-1) . t + 2.s

(Dobrovolsky, 1978:231)

B = (1-1) . 9 + (2) . (10) = 20 mm


2) Berat puli yang digerakkan
V = ( D p )2 B
4
d
Wp = /4 . p
V=

.b.

3,14
. ( 175 )2 .20 .7,2 x 106 kg /mm3=3,462 kg
4

4. Perhitungan Beban Pisau Pencacah pada Poros

Pada bagian ini akan menghitung beban pisau pada poros


a. Volume pisau

(V)

= p . l .t
= 220 40 2
= 17600 mm3

b. Volume penghubung pisau ke poros (ukuran lihat di gambar mesin)


(V)

= . r2 . t + p . l . t
= 3,14 . 202 . 10 + 40 . 80 . 10
= 44560 mm3

c. Volume pemegang pisau (ukuran lihat di gambar mesin)


(V)

= . r2 . t + p . l . t
= 3,14 . 302 . 12 + 20 . 40 . 12
= 43512 mm3

d. Vtotal

= (V.Pisau)+(V.Penghubung x 2)+(V.Pemegang x 2)
= (17600) + (44560 x 2) + (43512 x 2)
= 193024 mm3

Beban (W)

V Tot .
= 193024 mm3. 7,2 x 10-6 kg/mm3 =1,389 kg

Jadi beban pisau pada poros sebesar 1,389 kg


5. Perencanaan Poros
Poros yang digunakan adalah poros transmisi dengan beban puntir
murni dan beban lentur, daya di transmisikan ke poros melalui puli dan
sabuk-V.
a. Pemilihan bahan poros
Direncanakan bahan poros yang akan digunakan adalah baja
karbon untuk konstruksi mesin tipe S30C, dimana menurut (Sularso &

K.Suga, 1997: 3) dalam tabel bahan diketahui baja karbon S30C memilki
spesifikasi:
Kekuatan tarik B
: 48 kg/mm2
Perlakuan panas
: Penormalan
Faktor keamanan
: Sf1 = 6,0; Sf2 = 2,0
b. Analisa gaya-gaya yang bekerja pada poros
Untuk menentukan gaya-gaya yang bekerja pada poros diperlukan

data-data berikut, yang diperoleh dari perhitungan di atas.


Daya rencana (Pd )
: 0,187 kW
Putaran poros (n)
: 400 rpm
Panjang poros (l)
: 290 mm
Berat puli pada poros (W)
: 3,462 kg
Beban tarik sabuk terhadap poros (R)
: 7,714 kg
Beban akibat berat pisau (W)
: 1,389 kg

FDV

FCV

FAV
100

75

75

40

FBV
Gambar 3.4. Analisa gaya yang bekerja pada poros

1) Gaya yang terjadi pada titik A


FAV = Gaya akibat tarikan sabuk terhadap poros (R) + berat puli (W)
= 7,714 + 3,462 = 11,176 kg
2) Gaya yang terjadi pada titik C
FCV = Beban akibat berat pisau keseluruhan
= 1,389 kg

3) Gaya reaksi arah vertikal (FBV dan FDV )


MD = 0
-(FAV . 250) + (FBV . 150) - (FCV . 75) = 0
F
( AV . 250)+( F CV . 75)
150
F BV =

F BV =

(11,176 .250)+(1,389 . 75)


150

F BV =19,32 kg
MA = 0
-(FDV . 250) - (FBV . 100) + (FCV . 175) = 0
F
( CV . 175)( F BV . 100)
250
F DV =

F DV =

(1,389. 175)( 19,32.100)


250

F DV =

(1026,55)(3056)
250

F DV =6,756 kg
(karena hasilnya negatif - hal tersebut menunjukkan bahwa arah
gaya di balik / berlawanan).

FAV = 11,176 kg

FCV = 1,389 kg

FDV =
kg

6,756

100

75

75

40

FBV =19,32 kg
Gambar 3.6. Analisa gaya yang bekerja pada poros

4) Momen lentur (M)


MAV
MBV

=0
= FBV . 100
= 19,32 kg . 100 = 1932 kg.mm (dari kiri)

MCV

= FCV . 75
= 1,389. 75 = 1389 kg.mm (dari kanan)
MDV = 0
Berdasarkan data tersebut maka titik B memiliki nilai momen yang
paling besar yaitu 1932 kg.mm
5) Tegangan lentur yang dijinkan (a )
a=

52kg /mm2
=4,333 kg /mm2
6.2

6) Torsi pada poros (T)


P
T =9,74 x 10 5 d ( SularsoK . Suga , 1997:7)
n
T =9,74 x 10 5

0,187
400

455,35 kgmm
7) Diamter poros (ds )
5,1
2
2
ds
(K m . M ) +(K t . T )

1
3

5,1
ds
(2 . 1932)2 +( 2. 455,35)2

4,583

1
3

5,1
ds
37356544+829374,5
4,583
d s [ 1,113 (3969,8) ]

1
3

1
3

d s [ 5061,5 ] 3
d s 17,17 mm
Jadi diameter poros yang dipilih berdasarkan pada tabel
diameter poros yang digunakan (Sularso & K.Suga, 1997: 9) adalah
ds = 20 mm. Menghitung tegangan geser yang terajdi ( )

16
(K m . M )2 +(K t .T )2
3
ds

16
(2. 1932)2+(2 . 455,35)2
3
3,14 .20

0,000637 .3969,9
2,528 kg/mm

c. Pengecekan poros
Pengecekan ini dengan cara membandingkan tegangan geser
maksimum yang terjadi dengan tegangan geser ijin, dimana tegangan
geser yang terjadi harus lebih kecil dari pada tegangan ijinnya.
a . Sf 2 : .
4,333

kg
kg
. 2:2,528
. 2,2
2
mm
mm2

8,666

kg
kg
:5,562
2
2
mm
mm

9,166

kg
kg
>8,659
Baik
2
mm
mm2

Karena tegangan geser maksimum lebih kecil dibandingkan


dengan tegangan geser ijin maka diameter poros tersebut memenuhi
syarat, tetapi meskipun hasil pengecekan poros sudah baik, untuk
memperoleh hasil yang lebih aman dan mudah diperoleh di pasaran kita
naikkan menjadi 25 mm
Menghitung tegangan geser yang terajdi ( )
16
3 ( K m . M )2 +(K t .T )2
ds

16
2
2
(2. 1932) +(2 . 455,35)
3
3,14 .25

16
38185918,5
3,14 .15625

0,000326 .6179,47

1,294 kg /mm

Pengecekan poros
a . Sf 2 : .
4,333

kg
kg
. 2:1,294
. 3,1
2
mm
mm2

8,666

kg
kg
:4
2
mm
mm2

8,666

kg
kg
>4
baik
2
2
mm
mm

Diameter poros 25 mm memenuhi syarat karena tegangan geser


maksimum lebih kecil dari tegangan geser ijin sehingga bisa digunakan
pada mesin ini

6. Perhitungan Bantalan
Bantalan di kembangkan untuk meningkatkan kemampuan dalam
menahan pergerakan dari poros yang berputar dan juga menahan beban yang
ditanggungnya. Jenis bantalan yang akan digunakan adalah bantalan
gelinding.
a. Pemilihan bantalan
Berdasarakan tabel pemilihan bantalan gelinding menurut Sularso
& K.Suga (1997: 143) untuk poros dengan diameter 25 mm, maka dipilih
bantalan gelinding jenis terbuka nomor 6005, dengan ukuran sebagai
berikut:
Diameter dalam bantalan (d)
Diamter luar bantalan (D)
Lebar (B)
Kapasitas nominal dinamis spesifik (C)
Kapasitas nominal statis spesifik (C0)
b. Resultan gaya-gaya reaksi pada bantalan
Beban akibat berat pisau (W)

100

: 5,866 kg

FCV

FAV

= 25 mm
= 47 mm
= 12 mm
= 790 kg
= 530 kg

75

FBV =19,32 kg
FBV = 30,56 Kg

FDV =
75

Gambar 3.7. Resultan gaya-gaya reaksi pada bantalan

kg

6,756
40

Pada banatalan B:
RB = R BV 2 + R BH2

RB = 19,322+0 2
19,32 kg
Pada banatalan D:
R D= R DV 2+ RDH 2

R D= 6,7562 +0 2=6,756 kg
c. Beban equivalen dianamis (Pr)
Pr

= X . V . Fr + Y. Fa
= 0,56 . 1 . 19,32 + 1,45 . 0

Pr

= 12,27 kg

d. Faktor kecepatan (fn)


1

33,3 3
( SularsoK . Suga . 1997 :136)
n

( )

f n=

33,3 13
=0,437
400

( )

f n=

Perbandinagn kapasitas nominal dinamis spesifik bantalan dengan beban


yang ditanggung banatalan menunjukkan:
C > FBV

790 kg > 19,32 kg Aman


e. Faktor umur bantalan (fh)
f h=f n

C
(SularsoK . Suga .1997 :136)
Pr

f h=0,437 .

790
=18,60
18,56

f. Umur nominal bantalan (Lh)


Lh=500 . f h3 ( SularsoK . Suga . 1997 :136)
500 .18,603
3217428 jam

Jadi umur nominal bantalan adalah 3.217 .428 jam


g. Pengecekkan umur bantalan
Dalam perencanaannya, mesin ini akan bekerja rata-rata 8 jam per
harinya. Dalam satu tahun terdapat 360 hari, sedangkan umur bantalan
yang direncanakan harus mampu bertahan untuk 5 tahun, sehingga:
Umur nominal bantalan (Lh) > Umur yang direncanakan (Lhr)
Lhr = 8 x 360 x 5
= 14400 jam kerja
Lh > Lhr 3217428 > 14400 Sesuai

7. Perencanaan Pneumatik
a. Perencanaan silinder pneumatik

Silinder pneumatik direncanakan menggunakan silinder


ganda karena dapat menggerakkan piston dengan arah maju dan mundur.
Gaya total yang dibutuhkan pneumatik untuk menekan lontongan tempe,
diketahui massa tempe = 0,5 kg, sehingga:
W

= m.g

= 0,5 kg x 9,8 m/s2


= 4,9 N
1) Bahan silinder
Bahan direncanakan untuk membuat silinder adalah besi
cor kelabu JIS G5501 FC20 mempunyai sifat mekanis sebagai
berikut :
Kekuatan tarik( b ) :
17 kg / mm2 x 9,806=166,702 N /mm2
Kekerasan (Hb) : 217 (Hb)
i=b /fk
i=

166,702
8

i= 20,84

N /mm

Tegangan geser bahan ( g ) dapat diambil secara


empiris, yaitu 0,5-0,7 dari tegangan tarik ijin bahan (Sularso,
1997:299).
g=0,5 X 20,84

N /mm

= 10,42

2) Diameter dalam silinder pneumatik :


D=

4 XFb
+R
XP

D=

D=

4 X 4,9
+ 0,98
3,14 X 0,3
4,67 mm

Diameter

dalam

silinder

minimum

4,67

mm,

untuk

memudahkan pengerjaan, perhitungan,dan disesuaikan dengan


diameter seal piston direncanakan dengan diameter dalam silinder 6
mm. Sedangkan diameter 6 mm memiliki tekanan kerja 1,2 kg (lihat
Tabel 3.2).

Tabel 3.3 Tekanan Kerja Silinder Pneumatik Kerja Ganda


(Sumber: http://scribd.com/doc/80471483/Komponen-Pneumatik-Dan-ElektroPneumatik)

Hal tersebut menandakan bahwa silinder berdiameter 6 mm


memenuhi syarat karena beban yang didorong hanya 0,5 kg.

3) Tebal dinding slinder


t=

D
2

b + Ps
1
bPs

t=

6
2

( 20,84+0,3 )
1
( 20,840,3 )

t=0,51 mm
Dari perhitungan tebal silinder minimum 0,51 mm, untuk
memudahkan pengerjaan, perhitungan, dan keamanan direncanakan 1
mm.

4) Diameter luar silinder (Ds)


Ds =

D2

+ 2ts

Ds = 6+(2 x 1)
Ds = 8 mm

5) Pemeriksaan kekuatan silinder terhadap tegangan memanjang


a=

0,3 x 6
4 ( 1)

a =

0,45

N /mm2

Syarat bahan aman dari tegangan memanjang adalah tegangan


hitung lebih kecil atau sama dengan tegangan geser ijin bahan.

Tegangan geser ijin ( i ) 10,42

N /mm2

a i
0,45

N /mm 10,42

N /mm

Tegangan memanjang ini memenuhi syarat.

6) Pemeriksaan kekuatan silinder terhadap tegangan keliling


Tegangan keliling pneumatik :
c=

0,3 x 6
2( 1)

c =

0,9

N /mm2

Syarat keamanan silinder dari kerusakan tegangan keliling


melingkar adalah tegangan keliling lebih kecil atau sama dengan

tegangan geser ijin bahan. Tegangan geser ijin

N /mm c i . 0,9

N /mm 10,42

memenuhi syarat)

b. Cara Kerja Sistem Pneumatik

N /mm

(i )

10,42

(tegangan keliling

Mesin pengiris tempe ini menggunakan sebuah silinder, di sini kami


simbolkan dengan huruf A, pergerakan dari silinder tersebut bisa dilihat
dalam skema gambar 3.7.

A
Gambar 3.8 Diagram Gerak Sistem Pneumatik
Keterangan:
1.
2.

A bergerak maju
A bergerak mundur

4
5
6
Gambar 3.8 Letak Limit Switches Sistem Pneumatik
1.
2.
3.

Keterangan:
Silinder Pneumatik
Teflon 260mm
Rumah Lontongan

4.
5.
6.

Limit Switches 1
Limit Switches 2
Limit Switches 3

Kondisi awal mesin ini Limit Switches 2 dan 3 dalam kondisi


Normal Open,
switches

Limit switches 1 dalam kondisi Normal Close. Limit

2 tertekan oleh pendorong, Limit Switches 3 tertekan tempe,

(semua gerak pneumatik tidak akan bekerja apabila 1,2, dan 3 tidak tertekan
oleh tempe atau pendorong)

Gambar 3.10 Gerakan Mesin Pertama

1) Limit Switches 3 tersentuh oleh tempe terhubung ke relay 1 kemudian


menggerakan pneumatik maju

Gambar 3.11 Gerakan Mesin Kedua

2) Pneumatik maju sampai meninggalkan Limit Switches 2, setelah Limit


Switches 2 ditinggalkan, Pneumatik mundur menyentuh Limit Switches
1.dan memutus Relay 2.
3) Sistem kerja pneumatik akan kembali ke proses awal apabila Relay 2
terputus. Mesin akan bekerja kembali apabila Limit Switches 2 dan 3
hidup.

Gambar 3.12 Gambar Posisi Awal Mesin

C. Rancangan Manufaktur
Setelah mengetahui spesifikasi serta dimensi yang sesuai antara
perencanaan awal dan perancangan teknik, selanjutnya ialah rancangan
manufaktur. Rancangan manufaktur ini berfungsi untuk media komunikasi
antara desainer dengan operator mesin di lini produksi. Rancangan manufaktur
merupakan hasil rancangan teknik yang divisualisasikan dalam bentuk gambar
dengan ukuran sebenarnya atau berskala dan ditambah informasi-informasi lain
yang diperlukan oleh pembuat misalnya; toleransi, tanda pengerjaan, dan
syarat-syarat pengerjaan lain yang diperlukan. Adapun gambar rancangan
mesin pengiris tempe ini bisa di lihat pada lampiran gambar.

D. Proses Manufaktur Material Baku


1. Penahan Tempe

Gambar 3.13. Penahan Tempe

Nama
Fungsi
Jenis Material
Proses pembuatan

: Penahan Tempe
: Menahan tempe yang akan dipotong
: Stainless Steel
: - Pemotongan
- Penggrindaan
- Pengelasan

2. Pendorong Tempe

Gambar 3.13. Pendorong Tempe

Nama
Fungsi
Jenis material
Proses Pembuatan
3. Rangka

: Pendorong tempe
: Mendorong tempe menuju pisau
: Plastik
: - Penggergajian
- Pembubutan (bubut rata dan bubut tirus)

Gambar 3.15. Rangka

Nama
Fungsi
Jenis material
Proses pembuatan

: Rangka
: Tempat merakit semua komponen menjadi satu
: Besi siku
: - Penggergajian
- Penggrindaan
- Pengelasan
- Pengeboran

4. Poros Utama

Gambar 3.13. Penahan Tempe

Nama
Fungsi
Jenis material
Proses pembuatan

: Poros utama
: sebagai poros dari rangkaian pisau pemotong
: S 30 C
: - Penggergajian
- Pembubutan

Pengeboran
Penyekrapan
Pengelasan

5. Pemegang pisau

Gambar 3.17. Pemegang Pisau

Nama
Fungsi
Jenis material
Proses pembuatan

: Pemegang pisau
: Memegang pisau pengiris
: ST37
: - Penggergajian
- Pengeboran
- Penyekrapan

6. Poros pisau

Gambar 3.18. Poros Pisau

Nama
Fungsi
Jenis material
Proses pembuatan

: Poros pisau
: Sebagai poros dari pemegang pisau
: FC30
: - Penggergajian
- Pembubutan
- Penyekrapan