Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH SISTEM PENGHANTARAN OBAT

Enhancement of Transdermal Delivery of Tamoxifen Citrate using Nanoemulsion


Vehicle

Disusun Oleh
Nur Khayati Putri Indriyani
1111102000126

A. Abstrak
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan formulasi sediaan
nanoemulsi pada pemberian rute transdermal tamoxifen sitrat untuk kanker payudara. Dari
By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 1

beberapa minyak yang diuji, minyak arachis dipilih sebagai fase minyak dari sediaan
nanoemulsi, karena menunjukkan kapasitas pelarut yang baikdan tingkat penetrasi kulit
sangat baik. Nanoemulsi telah diidentifikasi menggunakan diagram fase pseudoternary.
Formula nanoemulsi yang stabil secara termodinamika ditandai dengan ukuran tetesan,
mikroskop elektron transmisi, dan indeks bias. Nanoemulsi dikarakterisasi menggunakan
DSC dan FTIR untuk menjamin kompatibilitas antara bahan-bahan.
Permeasi sediaan transdermal tamoxifen sitrat ditentukan dengan Keshary-Chien
difusi sel. Sebuah peningkatan yang signifikan dalam parameter permeabilitas seperti steadystate flux (Jjs) diamati pada formulasi nanoemulsi A1, yang terdiri dari 5% wt/wt obat, 4.12%
wt/wt fase minyak, 37,15% wt/wt surfaktan, dan 58.73% wt/wt air suling. Dengan ukuran
globul rata-rata 68 nm. Mikroskop elektron transmisi menunjukkan partikel berbentuk sferis
dan DSC dan studi FTIR menunjukkan kompatibilitas bahan-bahan tersebut. Hasil ini
menunjukkan sistem dipersiapkan untuk meningkatkan efektivitas sediaan transdermal dari
tamoxifen sitrat.
B. Pendahuluan
Tamoxifen sitrat (TAM), adalah antagonis estrogen yang dikenal sebagai obat pilihan
untuk kanker payudara. Tamoxifen sitrat juga diindikasikan untuk pengobatan tumor reseptor
estrogen yang positif pada populasi pre-menopause. Tamoxifen umumnya diberikan melalui
rute pemberian oral dan parenteral. Tamoxifen sitrat mengalami metabolisme hepatik yang
luas setelah pemberian oral pada manusia. Meskipun cukup aktif dalam pemberian oral,
tamoxifen sitrat memperlihatkan efek samping tertentu, seperti tidak suka pada makanan,
kram perut, mual dan muntah. Namun, efek samping yang jarang lainnya yang timbul akibat
dari terapi jangka panjang termasuk karsinoma endometrium, gangguan mata, tromboemboli,
dan resistensi obat. Penghantaran obat transdermal dapat memberikan alternatif untuk
penghantaran

obat

karena

menghindari

terjadinya

masalah

terhadap

intoleransi

gastrointestinal, menghindari metabolisme First Pass Effect di hati, dan mengeliminasi


kebutuhan untuk akses IV. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perhatian telah difokuskan
pada formulasi berbasis lipid untuk meningkatkan bioavailabilitas obat lipofilik untuk oral.
Pendekatan yang populer adalah penggabungan senyawa obat kedalam pembawa lipid yang
inert, seperti minyak, dispersi surfaktan, liposom, mikroemulsi, nanoemulsi, SNEDDS.
Salah satu tehnik yang paling berpeluang untuk peningkatan permeasi obat
transdermal adalah tehnik mikroemulsi atau nanoemulsi. Nanoemulsi secara termodinamika
By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 2

stabil dan transparan, dispersi minyak dan air yang stabil oleh surfaktan dan kosurfaktan yang
memiliki ukuran molekul rata-rata 10-140 nm. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
formulasi nanoemulsi telah meningkat ke sifat penghantaran transdermal dan dermal baik in
vitro, serta in vivo.
Dalam penghantaran trnsdermal, tujuan desain dosis adalah untuk memaksimalkan
aliran obat melalui kulit kedalam sirkulasi sistemik. Sistem nanoemulsi adalah pembawa
yang memungkinkan karena mempunyai kemampuan yang kuat untuk menghantarkan obat
melalui kulit. Oleh karena itu, dalam penelitian ini fokus terhadap sistem nanoemulsi untuk
penghantaran obat transdermal tamoxifen sitrat.
C. Bahan dan Cara Kerja
1. Bahan-bahan
Tamoxifen sitrat dari Biochem Pharmaceutical Ltd (Mumbai, India), minyak arachis,
minyak jojoba, minyak wijen, minyak kelapa, minyak jarak (dibeli dari SD Fine Chemical
Mumbai, India). Labrafil M 1944 CS dari Gattefosse, Cremophore EL, Tween 80 dari Cadila
Health Care Ltd (Ahemdabad India), akuades dari Chetak Distillery Ltd Rahuri, India. Semua
bahan kimia lainnya dan reagen yang digunakan dalam penelitian ini adalah reagen analitis.
2. Cara Kerja
a. Skrining eksipien :
Kelarutan tamoxifen sitrat dalam berbagai minyak (minyak arachis, minyak jojoba,
minyak kelapa, minyak wijen, minyak castor) surfaktan (Cremophore EL, Labrafil M 1944
CS, Tween 80) dan kosurfaktan (Etanol, Butanol, Propanol) ditentukan dengan melarutkan
sejumlah berlebih tamoxifen sitrat dalam 2 ml dari masing-masing minyak yang dipilih,
surfaktan dan kosurfaktan di dalam vial 5 ml. Sejumlah berlebih tamoxifen sitrat
ditambahkan kemasing-masing vial 5 ml dan dicampur menggunakan vortex. Vial kemudian
disimpan pada suhu 37 1,0 0C pada isotermal shaker (Nirmal Internasional, India) selama
72 jam untuk sampai keseimbangan. Sampel yang telah diseimbangkan dipindahkan dari
shaker dan disentrifugasi pada 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan diambil dan disaring
melalui membran filter 0,45 m. Konsentrasi tamoxifen sitrat ditentukan pada setiap larutan
dengan sprktrofotometer UV dengan panjang gelombang 272 nm.
b. Diagram fase Pseudo-ternary :

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 3

Berdasarkan studi kelarutan, minyak arachis terpilih sebagai fase minyak. Cremophore
EL dan etanol dipilih sebagai surfaktan dan kosurfaktan. Akuades digunakan sebagai fase air.
Surfaktan dan kosurfaktan (Smix) dicampur pada perbandingan (1:1, 2:1). Rasio ini dipilih
dalam meningkatkan konsentrasi surfaktan sehubungan dengan kosurfaktan untuk detail hasil
diagram fase. Untuk setiap diagram fasa, minyak dan Smix pada ratio tertentu dicampur
secara menyeluruh pada ratio masa yang berbeda. dari 1:9-9. Sembilang kombinasi yang
berbeda dari minyak banding Smix yaitu 1:9; 2:8; 3:7; 4:6; 5:5; 6:4; 7:3; 8:2; 9:1, dibuat agar
ratio maksimum sudah mencakup dalam penelitian untuk menggambarkan batas-batas fase
dalam diagram. Diagram fasa pseudo antara minyak, Smix, dan fase air dikembangkan
dengan menggunakan metode titrasi cair. Titrasi lambat dengan fase air dilakukan untuk
pengamatan visual setiap rasio massa minyak dan Smix dan mudah mengalir untuk
nanoemulsi sistem o/w. Keadaan fisik nanoemulsi ditandai pada diagram fasa tiga komponen
dengan satu sumbu mewakili fase cair, sumbu kedua mewakili minyak dan sumbu ketiga
mewakili campuran surfaktan dan kosurfaktan pada massa tetap.
c. Pemilihan dan persiapan formulasi nanoemulsi:
Dari pembentukkan diagram fasa, berbagai formula dipilih sesuai kriteria nanoemulsi
sehingga obat dapat dimasukkan kedalam fase minyak. Tepat 5% b/b dari tamoxifen sitrat
tetap konsisten dalam semua formulasi yang dipilih menjadi penelitian termodinamika yang
berbeda.
d. Penelitian stabilitas termodinamika:
Untuk mengatasi masalah formulasi metastabil, uji stabilitas termodinamika dilakukan.
Formulasi yang dipilih disentrifugasi pada 3500 rpm selama 30 menit. Formulasi yang tidak
menunjukkan pemisahan fasa diambil untuk dilakukan siklus pemanasan dan pendinginan.
Enam siklus dari suhu refrigerator dari 40C dan 450C selama 48 jam dilakukan. Formulasi
yang stabil pada suhu tersebut dilanjutkan pengujian Freeze-thaw cycle. Tiga siklus Freezethaw cycle dilakukan untuk beberapa formulasi dengan suhu 21oC dan +25oC. Formulasi yang
bertahan stabilitas dispersinya, dipilih untuk penelitian lebih lanjut dan komposisi formulasi
tersebut terdapat dalam table 1.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 4

e. Karakterisasi Nanoemulsi:
Nanoemulsi dikarakterisasi dengan tehnik-tehnik berikut.
f. Nanoemulsi Droplet size analisis:
Distribusi ukuran tetesan nanoemulsi dioptimalkan dengan spektroskopi kolerasi foton,
mengguakan Delsa Nnao-C (Beckman Coulter Instrumen). Hamburan cahaya dimonitor pada
25oC pada sudut hamburan yaitu 90o. Sampel nanoemulsi diencerkan dengan air suling dan
disaring menggunakan membran filter 0,22 m untuk menghilangkan multi scattering.
Sampel diencerkan kemudian ditempatkan di couvette kuarsa dan dikenakan tetesan analisa
ukuran.
g. Transmisi Electron Microscopy (TEM):
Morfologi dan struktur nanoemulsi dapat dilihat menggunakan TEM (Philips CM-10,
USA) pada 200kV dan mampu beresolusi dari poin ke poin. Untuk melakukan percobaan
TEM, drop 50 l dari nanoemulsi diencerkan dengan air suling (1:100), disaring
menggunakan kertas saring 0,22 m dan disalut dengan karbon dengan 2% asam
fosfotungstat. Hal itu dibiarkan selama 30 detik untuk pengeringan.
h. Indek bias
Indeks bias plasebo dan formulasi obat ditentukan dengan menggunakan refraktometer
jenis Abbe.
i. Viskositas :
Viskositas nanoemulsi ditentukan dengan menggunakan viskometer Brookfield cone dan
plate (Brookfield Teknik Laboratorium, Inc, Boston, MA) pada 25 0.5 C.

j. Isi obat :
Nanoemulsi yang cocok diencerkan dengan metanol untuk memperoleh obat dengan
konsentrasi 10 g/ml dan absorbandi dicatat dengan menggunakan spektrofotometer UV pada
272 nm.
k. Penelitian secara in vitro permeasi pada kulit:

Penyiapan kulit perut pada tikus :

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 5

Tikus-tikus albino jantan dibunuh dengan menggunakan kloroform dengan cara


inhalasi (Institutional Animal Ethics Committee, MESCOP 1211/ac/08/CPCSEA).
Rambut yang melekat pada kulit perut di hilangkan dengan menggunakan alat
pemotong listrik, karena untuk mencegah pengrusakan kulit yang ekstrim. Kulit yang
tebal direndam dalam air suling dengan suhu 600C selama 60 s, dilanjutkan dengan
pengangkatan epidermis secara hati-hati. Kulit dikeringkan dalam desikator pada 25%
RH dan dilapisi dengan menggunakan aluminium foil dan disimpan pada suhu 40C.

Prosedur :
Pada penelitian permeasi pada kulit dengan menggunakan tehnik in vitro, telah
dilakukan modifikasi sel difusi Keshary-Chein dengan luas area difusi yang efektif
yaitu 1,76 cm2 dan 35 ml kapasitas reserveir chamber, menggunakan kulit tikus. Kulit
dimasukkan kedalam suhu kamar dan dipasang diantara kompartemn donor dan
kompartemen penerima sel difusi Keshary-Chien, dimana sisi stratum korneum
menghadap ke kompartemen donor, dan sisi dermal menghadap ke kompartemen
penerima. Awalnya kompartemen donor tersebut kosong, dan kompartemen penerima
diisi dengan dapar fosfat saline (PBS) pH 7,4. Cairan receveir diaduk dengan
menggunakan rotor magnet pada kecepatan 100 rpm dan suhu dipertahankan pada
3710C. Setiap 30 menit, PBS diganti dengan PBS yang masih segar untuk
menstabilkan kulit. Diperoleh hasil bahwa cairan penerima menunjukkan daerah
puncak yang dapat diabaikan setelah 2,5 jam dan seterusnya yang mengindikasikan
kulit yang stabil. Setelah stabilitas kulit lengkap, 1 ml formulasi nanoemulsi
ditempatkan kedalam kompartemen donor dan ditutup dengan lapisan film parafin
untuk memberikan kondisi oklusif. Disaring menggunakan filter membran 0,45 mm
dan dianalisis kandungan obatnya dengan spektrofotometer UV pada panjang
gelombang 272 nm.

Analisis FT-IR
Spektrum FT-IR dari semua sampel tamoxifen sitrat, sampel kosong tanpa obat,
dan semua formulasi dicatat pada Nicolet Magna 550 (USA). Spektrofotometer FTIR
mengguanakan piring AgCl, dalam rentang frekuensi antara 4000-400 cm-1.

Differential Scanning Calorimetry (DSC) :

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 6

Pengukuran ini dilakukan menggunakan (Dupont, USA 990). Contoh tamoxifen


sitrat dan sampel kosong tanpa obat, formulasi ditimbang secara akurat,dikemas dan
ditutup rapat dalam flat yang tersusun dari panci aluminium dengan terdapat kerutan
pada tutupnya. Sampel dipanaskan dalam nitrogen pada rentang suhu 50C sampai 1550C
dengan laju pemanasan konstan 100C/menit.

Uji iritasi pada kulit


Para peneliti mengikuti Guideline of the institutional Animals Ethics
Committee untuk percobaan ini. Rambut dissi dorsal tikus wistar albino telah di kikis
satu hari sebelum dimulainya percobaan. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi 3
kelompok. Kelompok pertama (tanpa formulasi), kelompok kedua menerima formulasi
A1, dan kelompok ketiga menerima 0,8% v/v larutan formalin sebagai iritan standar.
Formulasi baru atau formalin baru diterapkan setiap hari selama tujuh hari.

D. Hasil Dan Pembahasan


Obat yang bersifat lipofilik lebih disukai dalam bentuk nanoemulsi o/w melewati area
permukaan kulit, efisiensi bentuk sediaan yang diterapkan pada kulit tergantung pada aliran
obat di kulit. Aliran obat, tergantung pada komponen formulasi. Fasa minyak dari nanoemulsi
dimana obat yang bersifat lipofilik akan larut, merupakan kriteria penting dalam memilih
komponen formulasi. Sifat fisikokimia dari tamoxifen sitrat menunjukkan potensi yang baik
melalui rute topikal. Tamoxifen sitrat memiliki koefisien partisi yang cukup dan memiliki
lipofilitas yang baik untuk diformulasikan ke sistem transdermal. Kelarutan tertinggi
tamoxifen sitrat ditemukan pada minyak arachis (4.26 0,208 mg/ml) dibandingkan minyak
yang lainnya. Hal ini ditunjukkan pada gambar 1. Oleh karena itu, minyak arachis dipilih
sebagai fase minyak dalam formulasi yang optimal.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 7

Pemilihan yang tepat surfaktan dan kombinasi kosurfaktan (Smix) akan memberkan
kontribusi pada formulasi nanoemulsi dan meningkatkan stabilitasnya. Smix (Cremophore
El : Etanol) dipilih dalam penelitian ini karena memiliki kelarutan yang relatif tinggi pada
obat dan masing-masing komponen. Gambar 1 menunjukkan bahwa kelarutan tamoxifen
sitrat tertinggi pada cremophore El (10,6 0,529 mg/ml) dan etanol 5,09 0,083 mg/ml.

a. Pemilihan formulasi Nanoemulsi


Dari diagram fasa pseudoternary, obat larut sempurna pada jumlah fasa minyak yang
banyak dan nanoemulsi o/w mudah mengalir.
b. Stabilitas termodinamika :
Nanoemulsi merupakan termodinamika yang stabil secara fisik dan sistem dan terbentuk
pada konsentrasi tertentu minyak, surfaktan, dan air, membuat stabil dari fase yang berbeda,
creaming atau cracking. Dengan demikian, formulasi di uji untuk stabilitas fisik bahan yang
digunakan dengan menggunakan sentrifugasi, siklus pemanasan dan pendinginan, dan siklus
freez-thaw.
c. Analisis ukuran tetesan
Table 2, menunjukkan bahwa ukuran tetesan dari A1 (680 nm) lebih rendah
dibandingkan dengan formulasi lain (gambar 3) antara formulasi yang mengandung Smix
(1:1), ukuran rataa-rata tetesan meningkat karena konsentrasi minyak meningkat, dan juga
terjadi peningkatan yang relatif sama seperti perbandingan antara surfaktan dan kosurfaktan
yang bervariasi (2:1). Semua formulasi memiliki tetesan dalam kisaran nano, dilihat jelas dari
nilai-nilai polidispersitas yang rendah pada table 2. Polidispersitas adalah rasio standar
By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 8

deviasi ukuran tetesan, itu menunjukkan keseragaman dispersity. Polidispersitas formula A1


lebih rendah (0,125) dibandingkan formulasi lain.
d. Transmission Electron Microscopy
Analisa TEM menunjukkan bahwa tetesan nanoemulsi dari semua formulasi berbentuk
bulat, dengan ukuran diskrit dalam rentang nanometer (<100 nm). Ukuran tetesan formulasi
A1 diukur dan berbentuk bulat seperti yang ditunjukkan pada gambar 4. Pengamatan ini
konsisten dengan yang diperoleh dalam analisis ukuran globul menggunakan spektroskopi
kolerasi foton.
e. Isi obat
Kadungan semua obat dalam formulasi (table 2) 97,420,87 % dan kurang dari
99,520,52%.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 9

f. Penelitian Permeasi

kulit secara in vitro


Permeasi kulit tertinggi terdapat dalam formulasi A1 dan terendah di formulasi B2

(gambar 5). Profil permeasi kulit formulasi A1 apabila dibandingkan dengan formulasi lain
berbeda secara signifikan (p<0,05). Pelepasan maksimum terjadi pada A1 karena meiliki
ukuran tetesan terendah dan viskositas terendah dari semua formulasi nanoemulsi. Steady
stat fluks (Jss) formulasi A1 (95.987.499 g/ cm2/h) yang berbeda secara signifikan
(p<0,05) apabila dibanidngkan dengan formulasi lain seperti yang ditunjukkan pada tabel
2.

Spektrofotometri FTIR
Penelitian mengenai interaksi eksipien obat merupakan salah satu parameter yang

penting, yang menggambarkan banyak informasi mengenai stabilitas formulasi, dan


pelepasan obat dari masing-msing fromulasi. Analisa IR dari tamoxifen sitrat diamati pada
panjang gelombang 3405.50, 1378.13, 1050.83,1507,1477 , 3180,menunjukkan kemurnian
obat. Pada gambar 6 menunjukkan spektrum IR dari obat murni dan dari semua formulasi
nanoemulsi. Permeasi obat melalui stratum korneum melalui dua jalur yaitu intraselular dan
transelular. Jalur intraselular memainkan peranan penting dalam permeasi obat melalui
perkutan. Hal ini diketahui bahwa suatu campuran dari esensial lipid yang netral, yang
disusun sebagai bilayer dengan rantai hidrofobik, membentuk lapisan biomelekuler lipofilik.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 10

Sebagian besaar obat melewati jalur tersebut, dan ini disebut jalur lipid. Nanoemulsi dermal
diharapkan dapat menembus stratum korneum.
Sebuah obat lipofilik seperti tamoxifen sitrat menyerap lebih mudah melalui jalur lipid
melewati stratum korneum. Selain itu, ukuran tetesan dan viskositas dapat mempengaruhi
efisiennya, dimana ukuran tetesan yang kecil dan viskositas yang rendah menjadikan
pembawa yang baik untuk meningkatkan penyerapan perkutan dari tamoxifen sitrat, karena
jumlah vesikel yang dapat berinteraksi pda daerah stratum korneum akan meningkat
apabilan ukuran tetesan dan viskositas menurun.
Seperti alkohol alifatik OH stretch (3405.50 cm-1), fenolik CO stretch (1378.13cm-1),
dan CO stretch (1050.83cm-1), dan 1507 cm-1 dan 1477 cm-1 (C=C cincin stretch) dan
3180 cm-1 (NH2) dalam semua formulasi nanoemulsi. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak
adanya degradasi obat atau interaksi molekul eksipien obat dalam semua formulasi.

DSC
Ditunjukan pada gambar 7. Tamoxifen sitrat memiliki titik leleh 142-146 0C dan

panas fusi dari 88.95 J/g. Dari gambar 7 jelas bahwa formulasi tamoxifen sitrat
menunjukkan adanya puncak endotermik yang rendah dengan intensitas yang rendah dan
suhu lebih rendah. Hasil termogram menunjukkan terjadinya penurunan ukuran dan
intensitas endotermik obat.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 11

Uji iritasi pada kulit


Uji iritasi kulit formulasi A1 menghasilkan skor kurang dari 2 (eritema dan edema)

seperti terlihat dari tabel 4. Menurut Draize et al, senyawa yang menghasilkan skor 2 atau
kurang dianggap negatif (tidak adaa iritasi kulit). Dari sini dapat disimpulkan bahwa
formulasi nanoemulsi yang optimal aman digunakan untuk pengiriman obat transdermal.
E. Kesimpulan
Pilihan yang cocok dari komponen-komponen penting untuk meminimalkan efek iritasi
dan untuk meningkatkan efek permeasi obat perkutan melalui stratum korneum. Atas dasar
tingginya permeasi obat, ukuran tetesan yg kecil, viskositas terendah, dan yg terpilih yaitu
formulasi tamoxifen sitrat yang mengandung 5% tamoxifen sitrat, 4,12% fase mnyak
(minyak arachis), 37,15% campuran surfaktan (Cremophore EL and ethanol) dan 58,71%
akuades sebagai formulasi yang telah optimal. Hasil yang diperoleh menunjukkan sebuah
peluang yang baru tamoxifen sitrat untuk dimasukkan dalam formulasi transdermal baru.

By : NurKhayati Putri Indriyani

Page 12