Anda di halaman 1dari 5

Komplikasi

Komplikasi HIV (AIDS):


Terdapat sejumlah penyakit yang umumnya berkembang dalam tubuh manusia
dengan sistem kekebalan tubuh yang inadekuat ataupun rudak oleh HIV,
diantaranya adalah : PCP (pneumonia), TBC, kaposi`s sarcoma (kanker kulit),
non-Hodgkins`s lymphoma, herpes simplex, dll.1
Hingga saat ini walaupun manajemen infeksi HIV/AIDS berkembang pesat
namun komplikasi pulmonologis masih menjadi komplikasi yang utama
(penyebab 30 40% masuk rumah sakit).2 Hampir 65% penderita AIDS
mengalami komplikasi pulmonologis dimana pneumonia karena P carinii
merupakan infeksi oportunistik tersering, diikuti oleh infeksi M tuberculosis,
pneumonia bakterial dan jamur, sedangkan pneumonia viral lebih jarang terjadi.3,4
Prognosis
Para peneliti telah mengamati dua pola umum penyakit pada anak yang terinfeksi
HIV. Sekitar 20 persen dari anak-anak mengembangkan penyakit serius pada
tahun pertama kehidupan, sebagian besar anak-anak ini meninggal pada usia 4
tahun. Perempuan yang terinfeksi HIV dan terdeteksi dini serta menerima
pengobatan yang tepat, bertahan lebih lama daripada pria. Orang tua yang
didiagnosis HIV

tidak hidup selama orang muda yang memiliki virus ini.

Meskipun ada upaya yang signifikan, namun tidak ada vaksin yang efektif
terhadap HIV. Oleh karena itu, hal ini dapat berakibat fatal jika tidak ada
pengobatan.1
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita AIDS di UPIPI (Nasronudin, 2007)
1) Penatalaksanaan Umum
Istirahat, dukungan nutrisi yang memadai berbasis makronutrien dan
mikronutrien untuk penderita HIV&AIDS, konseling termasuk pendekatan
psikologis dan psikososial, membiasakan gaya hidup sehat antara lain
membiasakan senam seperti yang dilakukan di UPIPI.

2) Penatalaksanaan Khusus
Pemberian antiretroviral therapy (ART) kombinasi, terapi infeksi sekunder
sesuai jenis infeksi yang ditemukan, terapi malignansi.
Terapi Antiretroviral
Pemberian ARV tidak serta merta segera diberikan begitu saja pada penderita
yang dicurigai, tetapi perlu menempuh langkah- langkah yang arif dan bijaksana,
serta mempertimbangkan berbagai faktor; dokter telah memberikan penjelasan
tentang manfaat, efek samping, resistensi dan tata cara penggunaan ARV;
kesanggupan dan kepatuhan penderita mengkonsumsi obat dalam waktu yang
tidak terbatas; serta saat yang tepat untuk memulai terapi ARV (Nasronudin,
2007).
Meskipun tidak ada obat untuk memerangi AIDS, obat telah sangat efektif dalam
memerangi HIV dan komplikasinya. Pengobatan membantu mengurangi virus
HIV dalam tubuh, menjaga sistem kekebalan tubuh sesehat mungkin dan
menurunkan komplikasi. Berikut adalah beberapa obat yang disetujui oleh US
Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati HIV dan AIDS :
1) Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)
Obat ini menghambat kerja virus dari duplikasi, yang dapat memperlambat
penyebaran HIV dalam tubuh. Antaranya adalah, Abacavir (Ziagen, ABC),
Didanosine (Videx, dideoxyinosine, ddI), Emtricitabine (Emtriva, FTC),
Lamivudine (Epivir, 3TC), Stavudine (Zerit, d4T), Tenofovir (Viread,
TDF), Zalcitabine (Hivid, ddC) dan Zidovudine (Retrovir, ZDV or AZT).
Kombinasi NRTI disarankan untuk diambil pada dosis yang lebih rendah
dan mempertahankan effektivitasnya.
2) Protease Inhibitor (PI)
Obat-obat yang disetujui FDA ini menghambat replikasi virus pada tahap
lanjut dalam siklus hidup virus. Protease inhibitors meliputi Amprenavir
(Agenerase, APV), Atazanavir (Reyataz, ATV), Fosamprenavir (Lexiva,
FOS), Indinavir (Crixivan, IDV), Lopinavir (Kaletra, LPV/r), Ritonavir
(Norvir, RIT) dan Saquinavir (Fortovase,Invirase, SQV).

3) Fusion Inhibitors
Fusion inhibitor adalah obat dari kelas baru yang bertindak melawan HIV
dengan mencegah virus dari bergabung dengan bagian dalam sel sekaligus
mencegah dari replikasi. Kelompok obat-obatan termasuk Enfuvirtide
yang juga dikenal sebagai Fuzeon atau T-20.
4) Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART)
Pada tahun 1996, terapi antiretroviral (ART) diperkenalkan untuk orang
dengan HIV dan AIDS. ART sering disebut sebagai anti-HIV cocktail iaitu
kombinasi dari tiga atau lebih obat-obatan, seperti Protease Inhibitors dan
obat anti-retroviral yang lain. Pengobatan ini sangat efektif dalam
memperlambat virus HIV bereplikasi sendiri. Tujuan ART adalah untuk
mengurangi jumlah virus dalam tubuh atau viral load ke tingkat yang tidak
bisa lagi dideteksi dengan tes darah.
5) Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI)
Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs) memblok
infeksi sel baru HIV. Obat-obat ini dapat ditentukan dalam kombinasi
dengan obat anti- retroviral lainnya. NNRTs meliputi Delvaridine
(Rescriptor, DLV), Efravirenz (Sustiva, EFV) dan Nevirapine (Viramune,
NVP) (Coffey, 2007).1

Gambar 1.1. Tabel Rekomendasi terapi ARV


(Sumber : Astari L, et al. Viral load pada infeksi HIV. [internet]. 2009 [cited :
2015 maret 06] available from : http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Viral%20Load
%20Vol%2021%20No%201.pdf)

Referensi
1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25428/4/Chapter%20II.pdf

2. King LJ, Padley SPG. Imaging of the thorax in AIDS. Imaging


2002;14(1):60-76.
3. Segreti J. Pulmonary complications of HIV dis- ease. In: Tierney LM,
McPhee SJ, Papadakis MA, editors. Current medical diagnosis &
treatment. 39th ed. Connecticut: Prentice-Hall International; 2006.p.41423.
4. Taylor IK, et al. Pulmonary complications of HIV disease: 10 years
retrospective evaluation of yields from bronchoalveolar lavage, 1983-93.
Thorax 1995;50:1240-5.
5. Astari L, et al. Viral load pada infeksi HIV. [internet]. 2009 [cited : 2015

maret 06] available from :

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Viral

%20Load%20Vol%2021%20No%201.pdf

Anda mungkin juga menyukai