Anda di halaman 1dari 4

Pemeriksaan urin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urinalisis dan juga

kadar filtrasi glomerulus. Urinalisis adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang penting
untuk menegakkan berbagai diagnosis (Lembar S, dkk, 2012). Banyak produk akhir
metabolism dan berbagai zat lainnya diekskresikan melalui urin.Pemeriksaan urinalisis selain
memberikan indikasi kondisi ginjal sebagai organ ekskresi, juga mampu memberikan indikasi
berbagai kondisi sistemik seseorang. Itu sebabnya urinalisis merupakan salah satu
pemeriksaan laboratorium yang sering diminta oleh seorang dokter.
1. Dipstick tes
: tes ini menggunakan reagen tertentu mengetahui keadaan normal dan
abnormal termasuk protein dalam urin. Kemudian urin diperiksa dibawah mikroskop
untuk mencari eritrosit dan leukosit dan juga apakah adanya kristal dan silindris. Biasanya
dijumpai hanya sedikit protein albumin didalam urin. Hasil positif pada pemeriksaan
dipstick menunjukkan adanya kelainan.
2. Laju Filtrasi glomerulus (LFG) : adalah penunjuk umum bagi kelainan ginjal,dengan
bertambah parahnya kerusakan ginjal,LFG akan menurun. Nilai normal LFG adalah 100140 mL/min bagi pria dan 85-115 mL/min bagi wanita, dan ia menurun dengan
bertambahnya usia. LFG ditentukan dengan jumlah bahan buangan dalam urin 24 jam atau
dengan menggunakan indikator khusus yang dimasukkan dalam intravena. The kidney
Disease Outcomes Quality Initiative (K/QOQI) of the National Kidney Foundation (NKF)
menyatakan gagal ginjal kronis terjadi apabila berlaku kerusakan jaringan atau
menurunnya Laju Filtrasi glomerulus (LFG) urang dari 60 mL/min/1,73 m2 selama 3 bulan
atau lebih.
Selan itu pemeriksaan urinalis dapat juga meliputi pemeriksaan makroskopis,
mikroskopis, dan pemeriksaan kimia.
a. Pemeriksaan makroskopis
Pemeriksaan makroskopis ini dilakukan dengan mengamati keadaan yang ada pada sampel
urin meliputi:
1. Warna

Urin normal memiliki warna khusus yang menunjukkan adanya penyakit atau infeksi.
Urin normal berwarna kuning karena pigmen urokrom dan urobilin.
Urin encer hampir tidak berwarna
Urin pekat berwarna kuning tua atau sawo matang.

Beberapa keadaan warna urin dan penyebabnya adalah :

Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.


Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak),

senna.
Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk

infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.


Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab

nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.


Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab

nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.


Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.

Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh

obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.


Hitam atau hitam kecoklatan: Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat,
indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks
besi, fenol

2. Berat
jenis Pengukuran berat jenis urin menggunakan alat yang disebut urinometer. Urinometer
adalah hidrometer untuk penentuan bobot jenis dari urine dan ditera khusus untuk
penentuan tersebut. Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal) dan
umumnya dipergunakan pada temperatur 60o F atau 15,5o C.
Prosedur pemeriksaan

40 mL urin dimasukkan ke dalam gelas ukur, lepas pelan- pelan urinometer ke dalam
gelas ukur.
Pembacaan

Rumus : berat jenis terbaca + (suhu kamar-suhu kamar)/3x0.001


3. pH
Urin pH urin adalah asam. pH urin diukur menggunakan ph universal yang dicelupkan ke
dalam urin. Perubahan warna paha ph universal disamakan pada skala pH yang ada pada
bungkus pH universal. Urin yang akan diperiksa harus memiliki pH asam karena jika pH
urin sudah basa maka bisa dikatakan bahwa urin tersebut sudah rusak karena aktivitas
mikroorganisme yang ada di dalam urin yang mengubah ureum menjadi amoniak sehingga
pH menjadi basa. Perubahan pH menjadi basa tersebut membutuhkan waktu tidak 1 menit
2 menit jadi bisa dikatakan jika ph urin tersebut sudah berubah menjadi basa maka
senyawa-senyawa yang ada dalam urin tersebut juga sudah berubah baik bentuk maupun
struktur kimia (rusak, teroksidasi, kadar turun, dll) sehingga tidak baik digunakan untuk
digunakan sebagai sampel untuk pemeriksaan.
4. Kejernihan urin
Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam)
atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular
berlebihan atau protein dalam urin.
5. Volume urin
Volume urin normal orang dewasa 600 2500 ml/ hari. Jumlah ini tergantung pada
masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/ fisik individu, produk akhir nitrogen
dan kopi, teh serta alkohol mempunyai efek diuretic.

6. Buih
Pada urin normal yang baru saja dikeluarkan tidak akan langsung menimbulkan buih
namun jika dikocok akan menimbulkan buih putih. Pada urin yang baru saja dikeluarkan
langsung membentuk buih putih maka urin tersebut mengandung protein. Pada urin yang
berbuih kuning maka urin tersebut mengandung bilirubin.
7. Bau
Urin normal beraroma seperti zat-zat yang sudah dimakan.
b. Pemeriksaan mikroskopis
Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin.
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan memutar (centrifuge) urin lalu mengamati
endapan urin di bawah mikroskop. Tes ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur organik
(sel-sel : eritrosit, lekosit, epitel), silinder, silindroid, benang lendir; unsur anorganik (kristal,
garam amorf); elemen lain (bakteri, sel jamur, parasit Trichomonas sp., spermatozoa).
1.Eritrosit
Dalam keadaan normal, terdapat 0 2 sel eritrosit dalam urin. Jumlah eritrosit yang
meningkat menggambarkan adanya trauma atau perdarahan pada ginjal dan saluran kemih,
infeksi, tumor, batu ginjal.
2.Leukosit
Dalam keadaan normal, jumlah lekosit dalam urin adalah 0 4 sel. Peningkatan jumlah
lekosit menunjukkan adanya peradangan, infeksi atau tumor.
3.Epitel
Ini adalah sel yang menyusun permukaan dinding bagian dalam ginjal dan saluran kemih.
Sel-sel epitel hampir selalu ada dalam urine, apalagi yang berasal dari kandung kemih
(vesica urinary), urethra dan vagina.
4.Silinder (cast)
Ini adalah mukoprotein yang dinamakan protein Tam Horsfal yang terbentuk di tubulus
ginjal. Terdapat beberapa jenis silinder, yaitu : silinder hialin, silinder granuler, silinder
eritrosit, silinder lekosit, silinder epitel dan silinder lilin (wax cast). Silinder hialin
menunjukkan kepada iritasi atau kelainan yang ringan. Sedangkan silinder-silinder yang
lainnya menunjukkan kelainan atau kerusakan yang lebih berat pada tubulus ginjal.
5.Kristal
Dalam keadaan fisiologik / normal, garam-garam yang dikeluarkan bersama urine (misal
oksalat, asam urat, fosfat, cystin) akan terkristalisasi (mengeras) dan sering tidak dianggap
sesuatu yang berarti. Pembentukan kristal atau garam amorf dipengaruhi oleh jenis

makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urin (tergantung


banyak-sedikitnya minum).Yang perlu diwaspadai jika kristal-kristal tersebut ternyata
berpotensi terhadap pembentukan batu ginjal. Batu terbentuk jika konsentrasi garamgaram tersebut melampaui keseimbangan kelarutan. Butir-butir mengendap dalam saluran
urine, mengeras dan terbentuk batu.
6. Benang lendir
Ini didapat pada iritasi permukaan selaput lendir saluran kemih.
c. Pemeriksaan kimia
1. Glukosa
Pada percobaan uji glukosa dilakukan dengan menambahkan 5 ml larutan benedict
kedalam tabung reaksi yang berisi 8 tetes urin dan kemudian dipanaskan. Hasilnya adalah
larutan yang semula berwarna biru menjadi biru kehijauan. Uji positif ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata. Benedict spesifik dengan gula pereduksi. Sehingga
apabila hasil uji glukosa positif akan menyebabkan warna merah bata karena ada endapan
yang terbentuk (Cu2O) dan urine tersebut mengandung gugus OH bebas yang reaktif.
Reaksinya adalah sebagai berikut: (D-glukosa) + 2 CuO (asam glukonat) + Cu2O
2. Protein
Untuk mengetahui adanya unsur protein dalam urin, pada percobaan ini menggunakan
reagen millon. Setelah 3 ml supernatan urine ditambah 5 tetes reagen millon maka larutan
yang awalnya berwarna putih keruh, tetap tidak terjadi perubahan yang signifikan, yakni
tetap berwarna putih keruh. Reaksi negatif dari reagen millon karena tidak terbentuknya
ikatan antara Hg dari pereaksi millon dengan gugus hidroksifenil yang terdapat dalam
urine, sehingga tidak didapatkan warna merah. Reaksi pembentukan reagen millon yaitu:
HgCl2

(merkuri klorida)

2HNO3

(asam nitrat)

Hg(NO3)2+ Cl2
(merkuri nitrat)

3. Pigmen Empedu
Untuk mengetahui adanya pigmen empedu, pada percobaan ini cukup dengan mengocok
tabung reaksi yang berisi urin dengan baik dan benar. Hasilnya terdapat buih yang
berwarna putih. Reaksi yang dihasilkan negatif jika buih yang dihasilkan berwarna bening
(tidak ada pigmen empedu). Reaksi positif ditandai dengan buih berwarna kuning.