Anda di halaman 1dari 24

Oleh: Kelompok 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Dalam kehidupan sehari-hari tentu semua orang mengenal gitar. Jika senar

gitar dipetik maka senar gitar akan bergetar dan mengalunkan suara melodi yang
begitu indah. Apabila senar gitar tersebut tidak terus dipetik maka lama kelamaan
senar gitar akan berhenti bergetar. Hal yang sama tidak hanya terjadi pada gitar saja
tetapi pada semua benda yang digetarkan. Begitu juga hal yang sama terjadi pada
sebuah ayunan bandul. Ayunan bisa bergetar atau berayun-ayun jika didorong. Jika
ayunan tidak lagi didorong maka ayunan tersebut akan berhenti berayun. Demikian
juga dengan pegas. Pegas akan berhenti bergetar jika kita tidak terus menerus
menggetarkannya. Sangat banyak contoh lainnya yang dapat kita temukan dalam
kehidupan kita sehari-hari.Dunia kita ini penuh dengan benda-benda yang bergerak.
Gerak-gerak tersebut dapat kita kelompokan menjadi dua, yaitu gerak di sekitar suatu
tempat dan gerak yang berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.
Untuk gerak yang berada di sekitar suatu tempat dalam kehidupan sehari-hari
seperti pada ayunan bandul dan getaran senar. Sedangkan gerak yang berpindah dari
suatu tempat ke tempat lain contohnya seperti bola yang ditendang oleh pemain
sepak bola dan gelombang laut yang bergerak menuju pantai.Sering kita jumpai suatu
gejala yang mempunyai sifat kedua-duanya, kita dapat menyatakan sebagai gerak di
sekitar suatu tempat atau gerak yang berpindah dari suatu tempat ke tempat lain,
bergantung pada sudut pandang kita. Seperti pada contoh gelombang laut bergerak
menjalar ke arah pantai, tetapi seekor itik yang sedang berenang ataupun perahu yang
berada di pantai tersebut, akan bergerak naik turun tanpa gerak menjalar ke arah
pantai. Gerak bolak-balik seperti seekor itik, atau perahu itu disebut dengan gerak
osilasi. Gelombang yang terjadi dapat bersifat satu dimensi (misalnya gelombang
pada tali), dua dimensi (misalnya gelombang permukaan air dan selaput tipis) atau
bersifat tiga dimensi

(misalnya gelombang elektromagnet, gelombang laut,

gelombang selinder, gelombang bola, dan gelombang gempa bumi).

Pada Bab ini akan di bahas mengenai osilasi sebagai salah satu sumber
gelombang. Untuk lebih memudahkan dalam analisisnya, sumber gangguan ini
disajikan pula dalam bentuk

kompleks. Pembahasan akan dibatasi pada sistem

osilator sederhana.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Gerak Harmonik dan Sifat-Sifatnya


Gerak periodik merupakan suatu gerak yang terjadi secara berulang dalam

selang waktu yang sama sehingga gerak ini disebut juga sebagai gerak
harmonik/harmonis. Apabila suatu partikel melakukan gerak periodik pada lintasan
yang sama maka geraknya disebut gerak osilasi/getaran.Dalam kehidupan seharihari, gerak bolak balik benda yang bergetar terjadi tidak tepat sama karena adanya
pengaruh gaya gesekan. Sama halnya ketika kita memainkan gitar, senar gitar
tersebut akan berhenti bergetar apabila kita menghentikan petikan. Demikian juga
bandul yang berhenti berayun jika tidak digerakan secara berulang. Hal ini
disebabkan karena adanya gaya gesekan. Gaya gesekan menyebabkan benda-benda
tersebut berhentiberosilasi. Sifat osilasi yang dinyatakan dengan persamaan
x (t ) A cos(t ) ,selalu dihasilkan dari dua sifat intrinsik besaran fisika, yang

cenderung saling berlawanan, yakni gaya pemulih (return force) dan inersia. Gaya
pemulih selalu ingin mengembalikan gangguan x menjadi nol. Inersia melawan
setiap perubahan gangguan tersebut terhadap waktu

dx
.
dt

Bagaimana osilasi dapat terjadi pada sistem, dapat ditinjau dari sebuah pegas
yang dipasang horisontal, di mana pada ujung pegas tersebut dikaitkan sebuah benda
bermassa m. Massa benda diabaikan, demikian juga dengan gaya gesekan, sehingga
benda meluncur pada permukaan horisontal tanpa hambatan. Pada kedaan ini, benda
yang dikaitkan pada ujung pegas berada dalam posisi setimbang (lihat gambar 1).

Apabila benda ditarik ke kanan sejauh +x (pegas diregangkan), pegas akan


memberikan gaya pemulih pada benda tersebut yang arahnya ke kiri sehingga benda
kembali ke posisi setimbangnya (gambar 2).
3

Sebaliknya, jika benda ditekan ke kiri sejauh -x, pegas juga memberikan
gaya pemulih untuk mengembalikan benda tersebut ke kanan sehingga benda
kembali ke posisi setimbang (gambar 3).

Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari


pegas yang direntangkan atau ditekan dari posisi setimbang (posisi setimbang ketika
x = 0). Secara matematis ditulis:
F = -kx .(1)
Persamaan ini sering dikenal sebagai hukum hooke dan dicetuskan oleh
Robert Hooke, di mana k adalah konstanta dan x adalah simpangan. Untuk
meregangkan pegas sejauh x, kita akan memberikan gaya luar pada pegas, yang
besarnya sama dengan F = +kx. Pegas dapat bergerak jika terlebih dahulu diberikan
gaya luar.

Gambar 4
Jika pegas diregangkan sampai jarak x = A, kemudian dilepaskan pegas
menarik benda kembali ke posisi setimbang (x=0). Ketika melewati posisi setimbang,
benda bergerak dengan laju yang tinggi karena telah diberi percepatan oleh gaya
pemulih pegas. Ketika bergerak pada posisi setimbang, gaya pegas= 0, tetapi laju
benda maksimum.

Gambar 5
Karena laju benda maksimum maka benda terus bergerak ke kiri. Gaya
pemulih pegas kembali memperlambat gerakan benda sehingga laju benda perlahanlahan menurun dan benda berhenti sejenak ketika berada pada x = -A. Pada titik ini,
laju benda = 0, tetapi gaya pegas bernilai maksimum, di mana arahnya menuju ke
kanan (menuju posisi setimbang).

Gambar 6
5

Benda tersebut bergerak kembali ke kanan menuju titik setimbang karena


ditarik oleh gaya pemulih pegas tadi. Gerakan benda ke kanan dan ke kiri berulang
secara periodik dan simetris antara x = A dan x = -A.

Gambar 7
Besaran fisika pada Gerak Harmonik Sederhana pada pegas pada dasarnya
sama dengan ayunan sederhana, yakni terdapat periode, frekuensi dan amplitudo.
Jarak x dari posisi setimbang disebut simpangan. Simpangan maksimum alias jarak
terbesar dari titik setimbang disebut amplitudo (A). Satu getaran Gerak Harmonik
Sederhana pada pegas adalah gerak bolak balik lengkap dari titik awal dan kembali
ke titik yang sama. Misalnya jika benda diregangkan ke kanan, maka benda bergerak
mulai dari titik x = 0, menuju titik x = A, kembali lagi ke titik x = 0, lalu bergerak
menuju titik x = -A dan kembali ke titik x = 0.
2.2

Sistem Osilasi Dengan Satu Derajat Kebebasan


Suatu sistem osilasi seperti bandul, benda pada pegas, dan rangkaian seri LC,

persamaan geraknya setiap waktu dapat dinyatakan secara lengkap dengan satu
besaran fisika tertentu.Sistem yang demikian dapat disebut mempunyai satu derajat
kebebasan.Sebagai contoh, persamaan gerak bandul dapat dinyatakan dengan sudut
yang terbentuk antara tali dengan garis vertikal.Persamaan gerak pada pegas,
dinyatakan dengan simpangannya terhadap titik setimbang.Dan persamaan gerak
rangkaian listrik LC, dinyatakan dengan arus atau muatan di dalam kapasitor. Untuk
semua sistem dengan satu derajat kebebasan, kita akan lihat bahwa persamaan
perpindahan dari keadaan seimbang, mempunyai bentuk sederhana yang bergantung
pada waktu, yaitu:
6

x (t ) A cos(t ) ..............................................................................(2)

Dengan A, , dan adalah konstanta, sedangkan t adalah variabel waktu.


Atau dalam bentuk komplek dapat dinyatakan sebagai berikut;
Persamaan di atas hanya berlaku perpindahan yang dekat dari posisi
kesetimbangannya yang dikenal dengan osilasi harmonis sederhana. Namun jika
simpangannya sangat besar kedua persamaan tersebut tidak akan berlaku lagi.
Muatan yang besar dalam kapasitor pada LC menyebabkan kapasitor akan rusak, dan
persamaan tersebut tidak berlaku lagi.
2.4

Osilator Harmonik Sederhana


Ketika gaya pemulih berbanding lurus dengan perpindahan dari posisi

kesetimbangan, sebagaimana diberikan oleh persamaan F = -kx, osilasi yang terjadi


disebut gerak harmonik sederhana (GHS). Percepatan a

d2x F
dari suatu benda

m
dt 2

dalam GHS diberikan oleh


d 2x
k
x .(3)
2
m
dt

tanda minus berarti percepatan dan perpindahan selalu memiliki tanda berlawanan.
Suatu benda yang mengalami gerak harmonik sederhana disebut sebuah osilator
harmonik.
2.4.1 Osilator Pegas Elastis

Gambar 8 Osilator pegas


7

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika suatu sistem osilasi terdiri
dari satu pegas dengan konstanta pegas k, dan satu benda bermassa m, yang terletak
di atas bidang datar licin tanpa gesekan, kemudian diberi simpangan sedikit ke
kanan, lalu dilepaskan, maka sistem berosilasi dengan keadaan umumnya seperti
pada gambar (8). Gaya yang bekerja pada benda adalah:
F kx dimana ( x x0 ) mengungkapkan simpangan terhadap kedudukan

setimbang. Berdasarkan hukum II Newton F m a , yang juga akan sama dengan


F k x m g .

Sehingga:

m a k x

m a k x 0 , dimana a

dv
d 2x
atau a
adalah percepatan maka:
2
dt
dt

d 2x
kx 0
dt 2
d2
m 2 x k x 0 .(4)
dt
2
d
k
x x
2
m
dt
m

Dari kalkulus diferensial fungsi sinus atau cosinus memenuhi sifat, yaitu :
d
cos t sin t
dt
.....(5)
d2
d

cos
t

sin
t

cos
t
dt
dt 2

sehingga dapat ditulis :


d2
k
x x
2
m
dt
d2
k
x(t ) x(t ) , dimana x(t ) A cos t maka:
2
dt
m
d2
d2
x
(
t
)

A cos t ......(6)
dt 2
dt 2

Persamaan diatas diturunkan dua kali, sehingga :


d2
d2
x
(
t
)

A cos t
dt 2
dt 2
d
A sin t
dt
A 2 cos t

(7)
sedangkan :
k
k
x(t )
A cos t
m
m

sehingga persamaan menjadi :


d2
k
x (t ) x (t )
2
m
dt
A 2 cos t
A 2 cos t

k
A cos t
m

.(8)

k
A cos t
m

Dari persamaan diatas terlihat bahwa :


2

k
atau
m

k
m

Dengan:

, frekuensi sudut karakteristik bagi osilator bersangkutan = 2f

= amplitudo osilasi
2

t = fasa dari gerakan harmonik

= pan fasa

2
f

1
2

k
f , frekuensi osilasi
m

T 2

m
, periode osilasi
k

Dalam gerak benda yang berosilasi, akan terlihat dengan jelas benda
mengalami penyimpangan sejauh x. Benda yang menyimpang tentu akan
mempunyai kecepatan, dari persamaan simpangan itulah dapat diturunkan
hingga diperoleh persamaan kecepatan yang selanjutnya dapat diturunkan
kembali untuk mendapatkan persamaan percepatan.
Persamaan simpangan atau perpindahan dari suatu keadaan setimbang,
mempunyai

bentuk

sederhana

yang

bergantung

pada

waktu,

yaitu

x (t ) A cos(t ) . Maka kecepatan osilasi yang bersangkutan adalah

dx
A sin(t ) A 2 x 2 (t ) (9)
dt

Dan percepatan diberikan dengan persamaan


a

d 2x
2 x(t ) A 2 cos(t ) .(10)
2
dt

2.4.2. Bandul Sederhana


Contoh gerak osilasi (getaran) yang sering dijumpai yaitu gerak osilasi
pendulum (bandul). Bandul sederhana terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola
kecil bermassa m yang digantungkan pada ujung tali, sebagaimana tampak pada
gambar di bawah. Dalam menganalisis gerakan bandul sederhana, gaya gesekan
udara kita abaikan dan massa tali sangat kecil sehingga dapat diabaikan relatif
terhadap bola.

Gambar9.Gerak osilasi bandul matematis


Gambar di atas memperlihatkan bandul sederhana yang terdiri dari tali
dengan panjang L dan bola pendulum bermassa m. Gaya yang bekerja pada bola
pendulum adalah gaya berat (w = mg) dan gaya tegangan tali FT. Gaya berat
10

memiliki komponen mg cos yang searah tali dan mg sin yang tegak lurus tali.
Bandul berosilasi akibat adanya komponen gaya berat mg sin . Karena tidak ada
gaya gesekan udara, maka bandul melakukan osilasi sepanjang busur lingkaran
dengan besar amplitudo p sama.
Hubungan antara panjang busur x dengan sudut dinyatakan dengan
persamaan:
x = L

.... (11)

Dimana sudut adalah perbandingan antara jarak linear x dengan jari-jari lingkaran
(r) jika dinyatakan dalam satuan radian. Karena lintasan bandul tidak berupa garis
lurus melainkan berupa lingkaran, maka digunakan pendekatan ini untuk
menentukan besar simpangannya. Jari-jari lingkaran pada kasus ini adalah panjang
tali L.
Syarat sebuah benda melakukan Gerak Harmonik Sederhana adalah apabila
gaya pemulih sebanding dengan simpangannya. Apabila gaya pemulih sebanding
dengan simpangan x atau sudut maka pendulum melakukan Gerak Harmonik
Sederhana.
Gaya pemulih yang bekerja pada pendulum secara matematis ditulis :
F mg sin

(12)
Tanda negatif menunjukkan bahwa gaya mempunyai arah yang berlawanan dengan
simpangan sudut . Berdasarkan persamaan ini, tampak bahwa gaya pemulih
sebanding dengan sin, bukan dengan . Karena gaya pemulih F berbanding lurus
dengan sin, maka gerakan tersebut bukan merupakan Gerak Harmonik Sederhana.
Alasannya jika sudut kecil, maka panjang busur x (x = L ) hampir sama dengan
panjang L sin (garis putus-putus pada arah horisontal). Dengan demikian untuk
sudut yang kecil, lebih baik gunakan pendekatan :
sin
sehingga persamaan gaya pemulih menjadi:
F mg sin mg

Karena x L

x
, maka persamaan di atas menjadi:
L

11

F mg

mg
x
x
atau F
L
L

..

(13)
Persamaan ini sesuai dengan hukum Hooke F kx , dimana konstanta gaya efektif
adalah k

mg
sehingga:
L

mg

L g
m
L

Maka, hubungan frekuensi dan periode bandul yaitu:


f

2 2

1
2
f

g
L
L
g

Berdasarkan persamaan di atas, tampak bahwa periode dan frekuensi getaran


pendulum sederhana bergantung pada panjang tali dan percepatan gravitasi. Karena
percepatan gravitasi bernilai tetap, maka periode sepenuhnya hanya bergantung pada
panjang tali (L). Dengan kata lain, periode dan frekuensi pendulum tidak bergantung
pada massa beban alias bola pendulum. Anda dapat dapat membuktikannya dengan
mendorong seorang yang gendut di atas ayunan. Bandingkan dengan seorang anak
kecil yang didorong pada ayunan yang sama.
2.4.3. Rangkaian LC

Gambar 10. Rangkaian listrik LC


Kita perhatikan suatu sistem osilasi rangkaian listrik yang terdiri dari satu
induktor dengan induktansi L, dan satu kapasitor dengan kapasitansi C seperti
gambar (10). Mula-mula rangkaian dihubungkan ke suatu sumber dan setelah terjadi
resonansi, sumber dilepas.

12

Untuk rangkaian listrik LC yang diperlihatkan pada gambar (10), penerapan


hukum tegangan Kirchoff langsung menghasilkan persamaan
L

dI Q

0 ...........................................................................................(14)
dt C

Karena I

dQ
, maka persamaan di atas menjadi
dt

d 2Q
2Q .........................................................................................(15)
dt 2

Dengan

1
LC

Hasil serupa dapat diperoleh dengan mendeferensiasi persamaan (14), yaitu


d 2I
1
2

I I ..........................................................................(16)
2
dt
LC

pemilihan antara kedua bentuk ini ditentukan oleh syarat awal yang diketahui.
Massa dapat di asumsikan sebagai L, x diasumsikan sebagai I, dan
konstanta k juga dapat diasumsikan sebagai

1
, maka jika m, x dan k
C

1
I maka akan diperoleh hasil yang sama
LC

disubstitusikan ke persamaan

dengan

k
x .Pada sistem (Osilator Pegas Elastis, Bandul Sederhana,
m

Rangkaian LC) ada persamaan dan perbedaannya.Persamaannya yaitu pada


ke

tiga

system

tersebut

menggunakan

persamaan

differensial

orde

2.Karakteristiknya kalau pada system osilator pegas elastic, frekuensinya


dipengaruhi oleh massa pegas dan konstanta pegas, pada system bandul
sederhana frekuensinya dipengaruhi oleh panjang tali bandul dan gaya
gravitasi bumi yaitu 9,8 m/s2, sedangkan pada system rangkaian LC
frekuensinya dipengaruhi oleh kapasistansi dengan induktansi.(..
bukan asumsi, tetapi konsep esensialnya adlah persamaan diff orde
duabagaiamana dengan karateristik ketiga persamaan tersebut
meskipun sama-sama pers diff orde dua yang homogen)

13

2.5

Osilasi Teredam
Pembahasan pada osilasi harmonis di atas gesekan yang terjadi antara benda

pada sistem pegas dengan lantai ataupun gesekan udara terhadap bandul diabaikan
sehingga besarnya gaya gesekan tersebut sebanding dengan kecepatan gerak benda
(v).
f

dx
dt

f b

dx
..............................................................................................(17)
dt

Dengan b adalah konstanta gesekan (redaman) di mana persamaan


gerakannya menjadi:
m

d 2x
dx
kx b 0 ..........................................................................................(18)
2
dt
dt

Jika kita gunakan operator deferensial , dimana

d
, persamaan di atas
dt

menjadi sebuah persamaan karakteristik:


m2 b k 0 ........................................................................................(19)

Akar-akar dari persamaan karakteristiknya adalah


1, 2

Jika faktor

b
b 2 k
(
)
2m
2m
m

b
, maka
2m

1, 2 2 02

Solusi dari persamaan gerak yang teredam adalah

x(t ) C1e 1t C 2 e 2t ............................................................................(20)


Dengan mensubstitusi nilai , maka

x(t ) C1 e

( 2 02 ) t

x(t ) e t (C1 e

C2 e

( 2 02 ) t

( 2 02 ) t

C2 e

( 2 02 ) t

) ..............................................(21)

Untuk lebih memahami osilasi teredam yang dinyatakan pada persamaan di atas, ada
beberapa kasus yang dapat kita kaji mengenai osilasi teredam, yaitu:
Pada kasus Pertama, jika 2 02 , maka

2 02 t i ,

maka persaman

(21) menjadi:
14

x (t ) e t (C1 e it C 2 e it ) ................................................................(22)

Asumsikan C1 = C2, maka persamaan diatas menjadi


x(t ) Ce t (e it e it )
x (t ) Ae t cos t ...............................................................................(23)

Osilasi dalam kondisi ini dinamakan osilasiteredam kurang (underdamped


oscilation). Jika diperhatikan pada persamaan terakhir tampaka bahwa osilasi ini
memiliki persamaan yang mirip dengan persamaan osilasi sederhana hanya saja
amplitudonya berkurang secara eksponensial terhadap waktu.
Kasus kedua, jika 2 02 , maka 2 02 t . Solusi dari persamaan
geraknya
x (t ) C1 e 0 C 2 e 2
x(t ) A Be 2 .....................................................................................(24)

Osilasi semacam ini disebut osilasi teredam lebih (overdamped oscilation).


2
2
Kasus ketiga ketika 0 , sehingga persamaan deferensial geraknya:

d 2x
0.
dt 2

Penyelesaian dari persamaan deferensial semacam ini adalah x(t ) At B ,


dengan A, dan B adalah konstanta. Dengan demikian penyelesaian x(t ) merupakan
suatu fungsi eksponensial yang turun dengan cepat, yaitu
x (t ) ( At B )e t .................................................................................(25)

Secara umum gerak osilasi sebenarnya teredam.Energi mekanik


terdisipasi (berkurang) karena adanya gaya gesek. Maka jika dibiarkan, osilasi
akan berhenti, yang artinya GHS-nya teredam(..kalau sudah GHS, tidak
ada yang teredam.). Gaya gesekan biasanya dinyatakan sebagai arah
berlawanan ( ..dengan apa.) dan b adalah konstanta menyatakan
besarnya redaman.
Adapun perbedaan gerak harmonic sederhana dengan gerak harmonic
teredam yaitu: untuk gerak harmonic sederhana persamaannya:

15

F m.a

kx m.a
m.a kx 0
d 2x
kx 0
dt 2
d 2x k
x0
m
dt 2

Sedangkan yang teredam misalkan redaman itu disebabkan atau dipengaruhi


oleh gesekan udara maka persamaannya adalah:

F m.a

kx bv m.a
m.a bv kx 0
d 2x
dx
b
kx 0
dt
dt 2
d 2 x b dx k

x0
m dt m
dt 2

Dari persamaan tersebut nantinya akan mengakibatkan untuk yang


tidak teredam periodenya konstan, sedangkan yang teredam periodenya
semakin lama semakin kecil.
Osilasi Teredam Dengan Gaya Pemacu
Pada osilasi teredam dengan gaya pemacu, kita bisa memperhatikan osilasi
pegas teredam dengan gaya pemacu. Misalkan gaya pemacu memiliki persamaan
F (t ) F0 cos (t ) , maka persamaan geraknya:

d 2x
dx
b
kx F0 cos (t ) .......................................................(26)
2
dt
dt

Persamaan ini merupakan persamaan deferensial yang tidak homogen,


dimana solusinyya memiliki bentuk x(t ) x p (t ) x k (t ) dengan x p (t ) merupakan
solusi pelengkap yaitu solusi persamaan deferensial yang homogen;

x k (t )

merupakan solusi khusus.


Untuk solusi yang homogen telah dibicarakan sebelumnya yang terdiri dari
tiga kasus (underdamped, overdamped, dan critically damped oscilation). Sedang
solusi khususnya memiliki bentuk:
x k (t ) A cos (t ) ......................................................................(27)

16

Jadi permasalahannya adalah bagaimana mencari bentuk amplitudo A dan


sudut fase .Untuk memperoleh kedua bentuk tersebut, maka persamaan (27) di
substitusikan ke persamaan (26).
dx
A sin (t )
dt

d 2x
A 2 cos (t )
2
dt

Sehingga adakn didapat:

F
2
2
A ( 0 ) cos 2 sin m cos (t )
...........................(28)
2
A ( 0 ) sin 2 cos sin (t ) 0

Dari persamaan ini, kita dapat menuliskan dua bentuk persamaan yaitu
Pertama:

F
2
2
A ( 0 ) cos 2 sin m cos (t ) 0
A ( 02 2 ) cos 2 sin

A
A

F m
( ) cos 2 sin
2
0

F m
( 2 ) 2 2
2
0

F
0
m

.........................................................................(30)

Kedua

A ( 0 2 ) sin 2 cos sin (t ) 0


(0 2 ) sin 2 cos 0

tan

2
...................................................................................(31)
(0 2 )

2.6. Sistem Osilasi Dua Derajat Kebebasan : Osilasi Gandeng


Contoh yang sangat baik dari sistem yang mempunyai dua derajat kebebasan
adalah molekul-molekul dari partikel elementer (khususnya partikel K meson yang
netral). Untuk mempelajari hal ini, kita perlu mekanika kuantum. Contoh yang lebih
sederhana adalah pendulum gandeng; satu pendulum tergantung di suatu atap, dan
17

pendulum lainnya digantungkan pada massa pendulum pertama; dua pendulum yang
digandeng dengan pegas; tali dengan dua manic-manik (tasbih), dua pegas yang
digandeng, serta dua rangkaian LC yang tergandeng.
Untuk merumuskan persamaan gerak sistem ini, perlu dua besaran x, kita
sebut saja x1 dan x2. Sebagai contoh, pada bandul gandeng x1 dan x2 menyatakan
posisi masing-masing bandul terhadap garis vertical; pada rangkaian LC gandeng, x1
dan x2 menyatakan muatan di dalam masing-masing kapasitor atau arus listrik di
dalam rangkaian.
Gerakan umum dari sistem dengan dua derajat kebebasan sangatlah
kompleks. Meskipun demikian, kita akan melihat bahwa untuk sistem dua derajat
kebebasan dengan persamaannya yang bersifat linier, gerakan umum tersebut
merupakan superposisi dua gerakan harmonis sederhana yang tidak saling
bergantungan. Dua gerakan harmonis sederhana ini kita sebut dengan mode normal
atau mode sederhana. Dengan memilih kondisi awal yang sesuai (syarat batas x1, x2,
x1 /dt dan x2/dt), kita dapat menyatakan sistem berosilasi hanya dalam salah satu
mode saja.
Osilasi Gandeng Pegas
Kita perlihatkan sistem pegas gandeng, terdiri dari tiga pegas yang konstanta
pegasnya sama yaitu k, dan dua benda yang massanya sama juga yaitu m, terletak
pada permukaan datar tanpa gesekan seperti pada gambar (11). Kemudian salah satu
benda kita beri simpangan, lalu kita lepaskan lagi, sehingga sistem ini berosilasi,
keadaannya menjadi seperti pada gambar (12)

Gambar 11 keadaan setimbang

Gambar 12 Keadaan umum

18

Dari gambar ini dapat kita tuliskanpersamaan gerak untuk masing-masing


benda sebagai berikut :

d 2 x1
(32)
m 2 kx1 k ( x 2 x1 )
dt
.....................................................................
Dan :

d 2 x2
m 2 k ( x 2 x1 ) kx 2 ....................................................................(33)
dt
Jumlah kedua persamaan diatas akan menghasilkan :

d 2 ( x1 x 2 )
(34)
m
k ( x1 x 2 )
dt 2
....................................................................
Solusi persamaan ini merupakan osilasi pusat massa, sebagai berikut :
x 2 x1 x 2 A1 cos(1t 1 ) .................................................................(35)

Dengan 1

k
yang dikenal dengan mode l, atau mode rendah.Gerak osilasinya
m

ditunjukkan seperti gambar (13).Tampak bahwa gerak osilasi pusat massa ini
mempunyai frekuensi yang sama dengan frekuensi osilasi pegas tunggal, pegas
penggandeng hanya berfungsi sebagai penyelaras gerak osilasi. Perpindahan masingmasing benda mempunyai besar dan arah yang sama.

Gambar 14 gerak osilasi pusat massa


Selisih kedua persamaan (32) dan (33) menghasilkan persamaan:

d 2 ( x1 x 2 )
3k ( x1 x 2 )
................................................................(36)
dt 2

Solusi persamaan ini merupakan osilasi relative, sebagai berikut :


19

x 2 x1 x 2 A2 cos( 2 t 2 ) ................................................................(37)

Dengan 2

3k
yang dikenal dengan mode 2, atau mode tinggi.
m

Gerak osilasinya ditunjukkan seperti pada gambar (15).pada osilasi relative


ini, frekuensinya lebih besar dari osilasi pusat massa, perpindahan masing-masing
benda mempunyai besar yang sama tapi arahnya berlawanan.

Gambar 15 gerak osilasi relatif


Gerak osilasi seluruh sistem merupakan superposisi linier dari kedua osilasi
harmonik pada persamaan (34) dan (36), yaitu :
x(t ) A1 cos(1t 1 ) A2 cos( 2 t 2 ) .............................................(38)

Sistematika solusi Sistem Dua Derajat Kebebasan


Bagaimana bila pada osilasi gandeng pegas, massanya atau konstanta
pegasnya tidak sama? Bagaimana bila pada osilasi gandeng rangkaian LC, inductor
atau kapasitornya tidak sama? dapatkah diselesaikan dengan cara seperti yang sudah
dibicarakan di depan? tentu tidak bisa, dalam pasal ini kita akan membicarakan
bentuk umum cara menyelesaikan osilasi gandeng.
Tanpa mamandang bentuk fisis dari sistem osilasi, misalkan kita mempunyai
dua persamaan differensial orde pertama homogeny sebagai berikut :

d 2 x1
a11 x1 a12 x 2 ............................................................................(39)
dt 2
d 2 x2
a 21 x1 a 22 x 2 ............................................................................(40)
dt 2
Kita asumsikan bahwa osilasi mempunyai satu mode normal, artinya kedua
derajat kebebasan x1 dan x2 berosilasi dengan frekuensi dan tetapan fase yangsama.
20

Misalkan solusi kedua persamaan di atas adalah x n (t ) An cos(t ), dengan


n:1,2,..
Substitusi solusi ini ke dalam persamaan (39;40) di atas, menghasilkan :
( 2 a11 ) x1 a12 x 2 0 ........................................................................(41)

a 21 x1 ( 2 a 22 ) x 2 0 ........................................................................(42)

Bentuk persamaan ini akan lebih baik bila diungkapkan dalam bentuk matriks
sebagai berikut :

1 aa 12 x1
0
a 2 a x
21 2 2
2

...........................................................................................(43)

Karena ruas kanan sama dengan nol, maka determinan dari matriks di ruas kiri sama
dengan nol.
( 2 a11 ).( 2 a 22 ) a12 .a 21 0

4 (a11 a22 ). 2 a11 .a22 a12 .a21 0


Jadi kita memperoleh persamaan kuadrat dari 2, dan akar-akarnya dapat
dicari dengan menggunakan rumus abc:

2
1, 2

a a 22
a a 22
11
11

_
2
2

(a11 a 22 a12 a 21 )

Kita juga dapat mengungkapkan perbandingan amplitude dari masing-masing


mode sebagai berikut :
A1 12 a 22

Untuk mode 1 :
A2
a 21

21

Untuk mode 2 :

A1 22 a 22

A2
a 21

Superposisi umum dari kedua mode tersebut adalah :


x1 (t ) ( A1 ) mod e1 cos(1t ) ( A1 ) mod e 2 cos( 2 t )
x 2 (t ) ( A2 ) mod e1 cos(1t ) ( A2 ) mod e 2 cos( 2 t )

Faktor-faktor yang nampak pada osilasi dua derajat kebebasan dengan system
osilasi satu derajat kebebasan diantaranya: pada osilasi satu derajat kebebasan hanya
memiliki satu simpangan, sedangkan pada osilasi dua derajat kebebasan memiliki
dua simpangan yang berbeda yang sering diistilahkan dengan osilasi gandeng
(contohnya saja sistem pegas gandeng yang memiliki dua derajat kebebasan, terdiri
dari tiga pegas yang konstanta pegasnya sama yakni k, dan dua benda yang massanya
sama juga yakni m. contoh lainnya yaitu osilasi gandeng rangaian LC yang terdiri
dari tiga kapasitor yang kapasitansinya sama yakni C, dan dua induktor yang
induktansinya

juga

sama

yakni

L).(apakah

istilah

gandeng

dilihat

dari

simpangannya? bagaimana simpangan sistemnya? Dimana pada system gandeng ada


simpangan masing-masing pegas dan simpangan system/totalnya..)
2.7

Analisis Osilasi harmonis

2.7.1

Analisis Fourier
Fungsi gangguan x(t) yang periodik dapat diuraikan sebagai superposisi linier

dari fungsi harmonik sederhana dengan amplitudo dan frekuensi tertentu. Fungsi
gangguan x(t) yang periodik dapat diuraikan sebagai superposisi linier dari fungsi
harmonik sederhana, melalui uraian deret Fourier sebagai berikut :
x(t )

1
a 0 a n cos(nt ) bn sin( nt )
2
...........................................(44)
n 1

Dengan an dan bn disebut koefisien-koefisien Fourier.


an

bn

2
T

2
T

T
2

x(t ) cos(nt )dt

T
2

.....................................................................(45)

T
2

x(t ) sin(nt )dt

T
2

.....................................................................(46)

22

Dengan n = 0,1,2,3,.dan

2
T

Uraian Fourier pada persamaan (44) memperlihatkan sederetan osilasi


harmonik sederhana dengan amplitude dan frekuensi yang tertentu.
Untuk fungsi gangguan (t) yang tidak periodik dapat diuraikan sebagai
superposisi linier dari fungsi harmonik sederhana, melalui transformasi Fourier
(Fourier Transform) sebagai berikut:
x (t )

g ( )e

it

g ( )

Dengan

.................................................................(47)

f (t )e it dt

Persamaan (47) menunjukkan bahwa gangguan yang tidak periodik dapat


dinyatakan sebagai superposisi linier dari fungsi harmonik dalam spektrum yang
kontinu.
2.7.2

Aproksimasi Osilasi Kecil


Selain itu, menarik untuk diperhatikan analisis energy potensialnya dari

sistem osilasi, karena energy potensial sistem osilasi ini mempunyai bentuk yang
khas. Ungkapan gaya pulih dari osilasi harmonis pada pegas F(x) = -k x, dapat pula
mengungkapkan fungsi energy potensialnya, yaitu:
x

V ( x) F ( x ).dx
0

1 2
kx
2
..................................................................(48)

Jadi fungsi energy potensial V(x) yang sebanding dengan x2, mengungkapkan
gerak osilasi harmonis dari sistem tersebut.
Sebaliknya dapat ditunjukkan bahwa setiap sistem dengan fungsi energy
potensial yang berharga minimum pada suatu titik tertentu (misalnya di x = x0), maka
sistem tersebut akan berosilasi di sekitar titik x0 tersebut.
Syarat minimum:
dV
dx

0 dan
x x0

d 2V ( x )
dx 2

0
x x0

...........................................................(49)

Fungsi potensial V(x) ekspansikan ke dalam deret Taylor untuk x = x0 , maka:


V ( x) V ( x0 ) ( x x0 )

dV
dx

x x0

( x x 0 ) d 2V
2!
dx 2

.....
x x0

23

Mengingat persamaan (49), maka persamaan terakhir ini dapat dituliskan


dalam bentuk :
V ( x) V ( x0 )

( x x0 ) 2 d 2V
2!
dx 2

x x0

.......................................................(50)

Ungkapan ini memperlihatkan ciri serupa dengan persamaan (48).Contoh real


dari persamaan 50 yaitu gerak sayap tawon, osilasi garputala, karena saat terjadinya
osilasi di mana simpangan (aproksimasi) yang terjadi sangat kecil.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
a. Sifat osilasi yang dinyatakan dengan persamaan x (t ) A cos(t ) ,selalu
dihasilkan dari dua sifat intrinsik besaran fisika, yang cenderung saling
berlawanan, yakni gaya pemulih (return force) dan inersia..
b. Fungsi gangguan x(t) yang periodik dapat diuraikan sebagai superposisi linier
dari fungsi harmonik sederhana, melalui uraian deret Fourier sebagai berikut :
x(t )

c.

1
a 0 a n cos(nt ) bn sin(nt )
2
n 1

Ketika

gaya

pemulih

berbanding

lurus

dengan

perpindahan

dari

posisikesetimbangan, sebagaimana diberikan oleh persamaan F = -kx, osilasi


yang terjadi disebut gerak harmonik sederhana (GHS). Percepatan a

dari suatu benda dalam GHS diberikan oleh

d2x F

m
dt 2

d 2x
k
x
2
m
dt

3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa agar sering membaca dan secara kritis mengkaitkan
teori yang sudah ada yaitu mengenai Osilasi Harmonik Sederhana dengan fenomena
atau kejadian yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga nantinya mampu
memberikan wawasan lebih mengenai kajian kontekstualnya.ang akan diterapkan
kehadapan peserta didik nantinya.
24

Anda mungkin juga menyukai