Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Memasuki era milenium baru ini perlu diupayakan
pengembangan strategi program kesehatan yang efektif guna
mendapatkan generasi penerus bangsa yang kuat dan berkualitas.1
Generasi penerus bangsa yang kuat dan berkualitas dapat
diwujudkan melalui upaya-upaya yang terarah, sehingga dapat
dihasilkan generasi yang sehat yang merupakan modal dasar untuk
pembentukan generasi yang diharapkan.1 Berdasarkan kesepakatan
global Millenium Development Goals/MDGs

pada tahun 2015

diharapkan semua negara yang merupakan perwakilan dari 189


negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akan menjalankan
kesepakatan tersebut yang dimulainya pada September 2000, berupa
delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya
adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat
pada 2015.2
Dimana tujuan keenam dalam MDGs adalah menangani
berbagai penyakit menular paling berbahaya dapat menurun sesuai
yang diharapkan. Dimana dalam MDGs urutan teratas adalah Human
Immunodeviciency Virus (HIV), yaitu virus penyebab Acquired
Immuno Deviciency Syndrome (AIDS) terutama karena penyakit ini
dapat membawa dampak yang menghancurkan, bukan hanya
terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap negara secara
keseluruhan.2
Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang
lebih dikenal dengan dengan AIDS adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus HIV yaitu: H = Human (manusia), I =Immuno
deficiency (berkurangnya kekebalan), V = Virus. AIDS merupakan
gejala

menurunnya

sistem

kekebalan

tubuh

manusia

yang

diakibatkan oleh serangan virus HIV. Endemi HIV/AIDS sejak

wabah

tahun

1981

telah

menjadi

ancaman

kemanusiaan.

Berdasarkan data global UNAIDS, tahun 2005 terdapat 3,1 juta


orang meninggal karena AIDS, dan tahun 2006 terdapat 4,1 juta
kasus HIV/AIDS.2
Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA),
sejak 1987 sampai Juni 2008, tercatat 12.686 kasus AIDS, 2.479 di
antaranya telah meninggal.3 Hasil estimasi depkes, tahun 2003
terdapat 99.000-130.000 kasus HIV/AIDS di Indonesia dan
berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI sampai dengan
tahun 2005 tercatat 6.789 orang, hidup dengan HIV/AIDS.3 Survei
Riskesdas 2010 menunjukan bahwa kebanyakan dari mereka yang
berisiko terinfeksi HIV tidak mengetahui akan status HIV mereka,
apakah sudah terinfeksi, belum terinfeksi atau tidak terinfeksi virus
tersebut.4 Dan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang hidup
dengan virus HIV diperkirakan sebagian besar adalah laki-laki.4
Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang
dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048),
tahun 2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun
2011 (21.031), tahun 2012 (21.511), 2014 (6.266). Jumlah kumulatif
infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Maret 2014 sebanyak
(134.053). Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta
(30.023), diikuti Jawa Timur (13.599), Papua (10.881), Jawa Barat
(7.612) dan Bali (6.819).2
Saat ini penderita HIV/AIDS tidak hanya dari golongan
orang dewasa yang senang melakukan hubungan seks dan bergantiganti pasangan, tetapi juga anak yang baru lahir pun tidak menutup
kemungkinan

terserang

dan

mengidap

HIV/AIDS.

Hal

ini

disebabkan pergeseran cara penularan penyakit tersebut. Faktor


risiko penularan terbanyak adalah melalui heteroseksual (59,8%),
jarum suntik (18%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan
homoseksual (2,4%). Selama ini, epidemi AIDS hanya teronsentrasi
pada populasi risiko tingkat tinggi. Tetapi sekarang telah bergeser

dari hubungan seks yang tidak aman ke pemakaian narkoba,


psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), terutama bagi mereka
yang menggunakan jarum suntik.2
Masalah HIV/AIDS saat ini bukan hanya masalah kesehatan
dari penyakit menular saja, tetapi sudah menjadi masalah kesehatan
masyarakat yang luas. Oleh karena itu, penanganannya tidak hanya
dari segi medis tetapi juga dari segi psikososial dengan
menggunakan pendekatan kesehatan masyarakat melalui upaya
pencegahan primer, sekunder dan tersier. Salah satu upaya tersebut
adalah deteksi dini untuk mengetahui status seseorang sudah
terinfeksi HIV atau belum melalui konseling dan testing HIV/AIDS
secara sukarela, bukan dipaksakan atau diwajibkan.2
Konseling tes sukarela atau Voluntary Conseling and Testing
(VCT) merupakan pintu masuk (entry point) untuk membantu setiap
orang mendapatkan akses ke semua pelayanan, baik informasi,
edukasi, terapi atau dukungan psikososial. Dengan terbukanya akses,
maka kebutuhan akan informasi yang akurat dan tepat dapat dicapai,
sehingga proses pikir, perasaan dan perilaku dapat diarahkan kepada
perubahan perilaku yang lebih sehat.3
Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan
testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential dan secara
lebih dini membantu orang mengetahui status HIV. Konseling pra
testing memberikan pengetahuan tentang HIV & manfaat testing,
pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue
HIV yang akan dihadapi. Konseling post testing membantu
seseorang untuk mengerti & menerima status (HIV+) dan merujuk
pada layanan dukungan.4
Salah satu penularan penyebaran HIV ini adalah melalui
hubungan seks yang tidak aman. Dimana Sunan Kuning merupakan
salah satu resosialisasi yang ada di Indonesia. Sunan kuning
memiliki program khusus yang bersifat wajib berupa pemeriksaan
tes HIV yaitu VCT yang wajib dilakukan oleh setiap WPS setiap 3
3

bulan sekali. Proses kegiatan pemeriksaan dilakukan di tempat


pelayananan kesehatan khusus yang ada di dalam komplek sunan
kuning yaitu Klinik Griya ASA. Dalam hal VCT tempat ini
mewajibkan setiap WPS melakukan VCT yang bertujuan untuk
mendeteksi dini individu yang terinfeksi HIV di Relokalisasi Sunan
Kuning. Tes ini merupakan tes yang dilakukan secara sukarela dan
tanpa paksaan pada seorang individu. Dengan mengetahui status
HIV lebih dini maka akan lebih memungkinkan untuk melakukan
pemanfaatan pelayanan terkait dengan pencegahan, perawatan,
dukungan serta pengobatan untuk HIV. Karena begitu pentingnya
program ini, kami mengambil judul makalah berupa Laporan
Kegiatan Program VCT Klinik Griya ASA PKBI di Wilayah Sunan
Kuning Kota Semarang.
I.2. Tujuan
I.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui kegiatan serta manfaat dari
pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS secara
sukarela (Voluntary Conseling and Testing /VCT) untuk
menurunkan angka kematian akibat HIV/AIDS melalui
pendeteksian dini terhadap penyakit tersebut.
I.2.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan
dalam pelayanan VCT pada klinik Griya ASA Sunan Kuning.
2. Mengetahui jumlah pasien/klien yang memanfaatkan pelayanan
VCT Klinik Griya ASA Sunan Kuning.
3. Mengetahui masalah atau kendala yang diperoleh selama
program kerja dan pelayanan VCT di Klinik Griya ASA.

I.3. Manfaat
I.3.1. Bagi Mahasiswa
Mendapatkan

informasi

mengenai

program

dan

alur

pelayanan VCT khususnya di Klinik Griya ASA serta dapat


meningkatkan kualitas kesehatan individu yang berisiko tinggi
dalam mengurangi risiko penularan HIV/AIDS.
I.3.2. Bagi Masyarakat
Masyarakat mengetahui bagaimana pendeteksian dini pada
penyakit HIV/AIDS dan masyarakat mengetahui gejala, cara
penularan, pencegahan serta pengobatan dari penyakit HIV/AIDS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Voluntary Counseling and Testing


VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau Konseling dan
Tes Sukarela (KTS, merupakan kegiatan konseling yang bersifat
sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah
untuk HIV. Konseling dilakukan oleh konselor terlatih yang memiliki
keterampilan konseling dan pemahaman akan seluk beluk HIV /
AIDS.1 Voluntary atau sukarela artinya semua klien yang akan
dikonseling harus dalam bentuk sukarela, tidak boleh dipaksa oleh
karena klien posisinya lebih rendah dari konselor atau ikut konseling
karena

diperintahkan

oleh

pasangannya.

Demi

untuk

tidak

menyebarkan HIV mungkin suatu waktu calon pengantin perlu tes


HIV. VCT merupakan pintu masuk (entry point) untuk pencegahan
dan perawatan HIV/AIDS.8
II.1.1. Konselor
Konselor adalah full time counselor yang berlatar belakang
psikologi dan ilmuwan psikologi (psychiatrists, family therapist,
psikologi terapan) yang sudah mengikuti pelatihan VCT dengan
standart WHO. Profesional dari kalangan perawat, pekerja sosial dan
dokter. Community-based yang sudah terlatih (Peer).8

Konselor Dasar (Lay Counselor)


o

Berangkat dari kebutuhan sebaya

Dekat dengan komunitas

Lebih

mempromosikan

VCT

dan

dukungan.

Konselor Profesional (Profesional Counselor)


o

Pre dan post konseling

Issue Psikososial

konseling

Konselor Senior/pelatih (Senior Counselor)


Memberikan dukungan untuk konselor dan petugas

managemen kasus
Mendampingi, supervisi dan memberikan bantuan

teknis kepada konselor


II.1.2. Prinsip VCT

Adanya persetujuan dari klien yang dinyatakan dengan


penandatanganan surat persetujuan (Informed Consent) atas dasar
sukarela, tanpa paksaan atau tekanan dari siapapun.

Ada kerahasiaan segala sesuatu yang dibicarakan antara konselor


dengan klien.

Tidak

ada

diskriminasi

dan

dilakukan

dalam

suasana

persahabatan.

Menggunakan

prinsip

klien

center

dalam

menentukan

keputusan.8
II.1.3. Tujuan Utama VCT
Tujuan utama VCT adalah8:

Mendorong orang sehat, tanpa keluhan/asimptomatik untuk


mengetahui tentang HIV, sehingga mereka dapat mengurangi

kemungkinan tertular HIV


Merupakan sebuah strategi kesehatan masyarakat yang efektif,
karena mereka dapat mengetahui status HIV mereka, sehingga
tidak melalukan hal-hal yang dapat ikut menyebarkan virus HIV

bila mereka masih berisiko sebagai penyebar HIV


Mendorong seseorang yang sudah ODHA untuk merubah
pendirian yang sangat merugikan seperti: ODHA merupakan
penyakit keturunan atau penyakit kutukan, atau HIV/AIDS

merupakan vonis kematian.


Memberi informasi tentang HIV/AIDS, tes,
pengobatan ODHA

pencegahan dan

Mengenali perilaku atau kegiatan yang menjadi sarana yang

memudahkan penularan HIV


Memberikan dukungan moril untuk merubah perilaku ke arah
yang lebih sehat dan aman dari infeksi HIV

II.1.4. Manfaat VCT


a. Pada Individu8

Membantu ODHA mengatasi stres dan membuat keputusankeputusan pribadi berkaitan dengan nasibnya.

Mengurangi risiko pribadi untuk tertular HIV


Membantu ODHA untuk menerima nasibnya
Mengarahkan ODHA untuk menerima pelayanan yang

dibutuhkan
Merencanakan perubahan perilaku
Merencanakan perawatan untuk masa depan
Meningkatkan kualitas kesehatan pribadi
Mencegah infeksi HIV dari ibu ke bayi
Menfasilitasi akses pelayanan sosial
Menfasilitasi akses pelayanan medis (Infeksi oportunistik,
IMS, OAT, ARV)

Memfasilitasi kegiatan dan dukungan sebaya

b. Pada masyarakat8
Memutus rantai penularan HIV dalam masyarakat
Mengurangi stigma masyarakat
Mendorong masyarakat dan pihak yang terkait untuk
memberi dukungan pada ODHA
II.1.5. Tahap-tahap VCT
Pada dasarnya tahap-tahap dalam pelaksanaan VCT ada tiga
tahap yaitu8:
1. Konseling pre tes HIV
Yang diberikan dalam konseling pre tes HIV

Perilaku yang berisiko menularkan HIV

Pengenalan HIV/AIDS, pencegahan dan pengobatannya

Untungnya jika ikut VCT dan kerugiannya bila ditolak

Makna bila hasil tes positif atau negatif

Rencana perubahan perilaku

Dampak atas pribadi, keluarga dan sosial terhadap hasil tes


HIV

2. Tes HIV
Hasil Tes HIV yang perlu diketahui

Reaktif dalam tubuh klien ada HIV (sudah jadi ODHA)


Non reaktif HIV belum ada dalam tubuh klien
Indeterminate tes perlu diulangi karena hasil tidak jelas
Masa/periode jendela masa antara masuknya HIV

kedalam tubuh sampai terbentuknya antibodi terhadap HIV


(umumnya 2 minggu sampai 6 bulan), namun HIV dapat
ditemukan dalam darah, sehingga sudah infeksius. Pada periode
jendela (window periode) ini sangat membahayakan karena
disangka negatif, padahal HIV positif
3. Konseling pasca tes HIV
Yang diberikan dalam konseling post tes HIV

Konselor memberi penjelasan tentang hasil tes HIV.

Bila belum dimengerti, klien bisa bertanya sampai jelas


maknanya.

Setelah

hasil

tes

dimengerti,

maka

klien

mungkin

menangggapi secara emosional. Dalam keadaan demikian


konselor HIV/AIDS mendampingi klien mengendalikan
reaksi emosional mereka.

Setelah klien tenang dan dapat menerima hasil tes HIV, maka
konselor akan memberikan penjelasan kembali tentang:
o Cara pencegahan dan penularan HIV/AIDS terlepas
hasil tes klien positif atau negatif.
o Memberi dukungan sesuai yang dibutuhkan.
o Membuat rencana lebih lanjut.

II.2. Human Immunodeficiency Virus (HIV)

II.2.1. Definisi
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency
Virus. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem
kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan
macrophages komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan
menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini
mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terusmenerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat
lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-penyakit.
Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi
lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar
jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan.
Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang
parah dikenal sebagai infeksi oportunistik karena infeksi-infeksi
tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah.1
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency
Syndrome dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang
terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV
merupakan penyakit penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan
timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa
infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.1
II.2.2. Penularan
Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu1 :

Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS


Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV
Alat-alat untuk menoreh kulit (contoh: tato)
Ibu pada bayinya
Melalui transfusi darah atau produk darah yg sudah tercemar HIV

II.2.3. Tahapan HIV AIDS

10

Ada beberapa tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai


timbul gejala AIDS1 :
Tahap 1 : Periode Jendela
o HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya
antibodi terhadap HIV dalam darah
o Tidak ada tanda tanda khusus, penderita HIV tampak
sehat dan merasa sehat
o Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
o Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2

minggu - 6 bulan
Tahap 2 : HIV Positif (5 10 tahun)
o HIV berkembang biak dalam tubuh
o Tidak ada tanda tanda khusus, penderita HIV tampak
sehat dan merasa sehat
o Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV
seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap
HIV
o Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun,
tergantung daya tahan tubuhnya rata-rata 8 tahun (di

negara berkembang lebih pendek)


Tahap 3 : HIV Positif (gejala)
o Sistem kekebalan tubuh semakin turun
o Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya:
pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare
terus menerus, flu, dll
o Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan,
tergantung daya tahan tubuhnya

Tahap 4 : AIDS (infeksi semakin buruk)


o Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
o Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin
parah

Istilah AIDS dipergunakan untuk tahap-tahap infeksi HIV yang


paling lanjut. Sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak

11

mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam


waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi
tertentu, yang dikelompokkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia
(World Health Organization) sebagai berikut1:

Tahap I : Penyakit HIV tidak menunjukkan gejala


apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.

Tahap II (meliputi manifestasi mucocutaneous minor


dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tak
sembuh- sembuh)

Tahap III (meliputi diare kronis yang tidak jelas


penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi
bakteri yang parah, dan TBC paru-paru), atau

Tahap IV (meliputi Toksoplasmosis pada otak,


Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran
pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau
paru-paru dan Sarkoma Kaposi). Penyakit HIV digunakan
sebagai indikator AIDS.
Lamanya dapat bervariasi dari satu individu dengan individu

yang lain. Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV
dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun,
kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat
memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus
(viral load) dalam tubuh yang terinfeksi.1
II.2.4. Gejala dan Tanda
Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya
karena tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi
awal.

Beberapa

orang

mengalami

gangguan

kelenjar

yang

menimbulkan efek seperti demam (disertai panas tinggi, gatal-gatal,


nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada
12

saat seroconversion. Seroconversion adalah pembentukan antibodi


akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan
setelah terjadinya infeksi.5
Kendatipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang
yang terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada
orang lain. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di
dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV.
Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem
kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi
penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS.5
II.2.5. Pengobatan HIV
Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan
HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak
dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai
obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang
diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal
terjadinya AIDS.5
Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur
yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT),
dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut,
saran-saran

mengenai

pengelolaan efek

makanan

nutrisi,

dan

pencegahan

gizi,

pengobatan

IMS,

dan perawatan infeksi

oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.2


Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV.
Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara
memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh. Dalam suatu sel yang
terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi
sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang
diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap
kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral
memperlambat

replikasi

sel-sel,

13

yang

berarti

memperlambat

penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi


dengan berbagai cara antara lain5:
1. Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)
HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk
mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja
reverse

transcriptase

dengan

cara

mencegah

proses

pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.


2. Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)
Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan
mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini
mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan
produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.
3. Penghambat Protease (PI)
Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam
replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru.
Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang
terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain.
Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan
karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.
Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan
menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang
terkait

dengan AIDS

secara

dramatis.

Walau

bukan

solusi

penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup


orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan
hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV
dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah
putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).5
Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang
lama,

jenis

obat-obatan

antiretroviral

yang

berbeda

perlu

dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah


Highly Active Anti-Retroviral Therapy (HAART) digunakan untuk
menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.5

14

Kementerian Kesehatan meluncurkan inisiatif penggunaan ARV


untuk Pengobatan dan Pencegahan atau dikenal dengan SUFA
(Strategic Use of ART), atau yang dikenal juga dengan slogan TOP
(Temukan, Obati dan Pertahankan) yang bertujuan meningkatkan
cakupan tes HIV, meningkatkan cakupan ART serta meningkatkan
retensi terhadap ART yang diperkuat dengan Permenkes No. 21 tahun
2013. Kebijakan ini mendorong penemuan kasus lebih dini dengan
menawarkan tes HIV bagi ibu hamil, pasien TB, pasien IMS, pasien
Hepatitis dan mereka yang mempunyai pasangan HIV positif serta
semua populasi kunci (Lelaki Seks Lelaki, Waria, Pekerja Seks dan
Pengguna Narkoba Suntik). Dengan menemukan kasus lebih dini
diharapkan mereka akan mendapatkan terapi ARV (ART) lebih cepat
sehingga dapat menekan risiko penularan. Saat ini ART dapat
diberikan kepada mereka yang mempunyai CD4.6
Untuk pengobatan,saat ini sudah disediakan obat yang dalam
bentuk kombinasi 3 jenis obat ARV dalam 1 tablet (tripel FDC =
isinya tenovofir, emtricitabin danepavirens), sehingga lebih mudah
bagi ODHA untukmeminumnya, efek samping lebih minimal
dankepatuhan akan lebih baik.6
II.2.6. Pencegahan
Penularan HIV secara seksual dapat dicegah dengan7:

Berpantang seks

Hubungan monogami antara pasangan yang tidak terinfeksi

Seks Non - Penetratif

Penggunaan kondom pria atau kondom wanita secara konsisten


dan benar

Cara tambahan yang lain untuk menghindari infeksi7:

15

Bagi pengguna narkoba suntikan, selalu gunakan jarum


suntik atau semprit baru yang sekali pakai atau jarum yang
secara tepat disterilkan sebelum digunakan kembali.

Pastikan bahwa darah dan produk darah telah melalui tes


HIV dan standar keamanan darah dilaksanakan.

II.3. Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS


II.3.1. Tujuan Penanggulangan HIV dan AIDS
Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan
kualitas hidup ODHA serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi
akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.9
II.3.2. Strategi
Untuk mencapai tujuan STRANAS, ditetapkan strategi sebagai
berikut9:

Meningkatkan dan memperluas upaya pencegahan yang nyata


efektif dan menguji coba cara-cara baru

Meningkatkan dan memperkuat sistem pelayanan kesehatan


dasar dan rujukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah
ODHA yang memerlukan akses perawatan dan pengobatan

Meningkatkan kemampuan dan memberdayakan mereka yang


terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan
AIDS di pusat dan di daerah melalui pendidikan dan pelatihan
yang berkesinambungan;

Meningkatkan survei dan penelitian untuk memperoleh data bagi


pengembangan program penanggulangan HIV dan AIDS

Memberdayakan individu, keluarga dan komunitas dalam


pencegahan HIV di lingkungannya

Meningkatkan kapasitas nasional untuk menyelenggarakan


monitoring dan evaluasi penanggulangan HIV dan AIDS

Memobilisasi

sumberdaya

pemamfaatannya di semua tingkat.


16

dan

mengharmonisasikan

II.4. Area Pencegahan HIV Dan AIDS


Penyebaran HIV dipengaruhi oleh perilaku berisiko kelompokkelompok masyarakat. Pencegahan dilakukan kepada kelompokkelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi
ancaman yang dihadapi. Kegiatan-kegiatan dari pencegahan dalam
bentuk penyuluhan, promosi hidup sehat, pendidikan sampai kepada
cara menggunakan alat pencegahan yang efektif dikemas sesuai
dengan sasaran upaya pencegahan. Dalam mengemas programprogram pencegahan dibedakan kelompok-kelompok sasaran sebagai
berikut9:
Kelompok tertular (infected people)
Kelompok tertular adalah mereka yang sudah terinfeksi
HIV.

Pencegahan

ditujukan

untuk

menghambat

lajunya

perkembangan HIV, memelihara produktifitas individu dan


meningkatkan kwalitas hidup.9
Kelompok berisiko tertular atau rawan tertular (high-risk people)
Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku
sedemikian rupa sehingga sangat berisiko untuk tertular HIV.
Dalam kelompok ini termasuk penjaja seks baik perempuan
maupun laki-laki, pelanggan penjaja seks, penyalahguna napza
suntik dan pasangannya, waria penjaja seks dan pelanggannya serta
lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya, narapidana termasuk
dalam kelompok ini. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan
untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman.9
Kelompok rentan (vulnerable people)
Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang karena
lingkup pekerjaan, lingkungan, ketahanan dan atau kesejahteraan
keluarga yang rendah dan status kesehatan yang labil, sehingga
rentan terhadap penularan HIV. Termasuk dalam kelompok rentan
adalah orang dengan mobilitas tinggi baik sipil maupun militer,
perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima
transfusi darah dan petugas pelayanan kesehatan. Pencegahan untuk

17

kelompok ini ditujukan agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan


yang berisiko tertular HIV (menghambat menuju kelompok
berisiko).9
Masyarakat Umum (general population)
Masyarakat umum adalah mereka yang tidak termasuk
dalam ketiga kelompok terdahulu. Pencegahan ditujukan untuk
peningkatkan kewaspadaan, kepedulian dan keterlibatan dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di
lingkungannya.9

BAB III
PROGRAM VCT GRIYA ASA

18

III.1. Profil Griya ASA


Aksi Stop AIDS (ASA) merupakan upaya dari pemerintah dan
dunia dalam mencegah dan memberantas penyakit HIV/AIDS yang
semakin banyak di masyarakat. ASA PKBI Jawa Tengah sebagai
kelompok relawan peduli AIDS, narkoba dan IMS yang bernaung
dibawah PKBI Daerah Jawa Tengah yang lahir pada tanggal 16 Maret
1998 karena dipicu oleh merebaknya kasus HIV-AIDS, narkoba dan
IMS di Jawa Tengah.10
Salah satu Aksi Stop AIDS (ASA) PKBI Jawa Tengah adalah
program pencegahan HIV/AIDS untuk pekerja seks. Pada tanggal 10
Januari 2002 Aksi Stop AIDS (ASA) PKBI Jawa Tengah membagi
program pencegahan HIV/AIDS untuk pekerja seks menjadi dua
yaitu, Griya ASA yang berlokasi di lokalisasi Sunan Kuning
Semarang, dan ASA TDH di jalan Argorejo 10 No.5 Kalibanteng
Kulon. Griya ASA mendapat kepercayaan untuk melakukan program
ASA di lokalisasi Sunan Kuning.
Program ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang
IMS, HIV/AIDS kepada WPS dan pelanggannya, serta cara
pencegahannya

melalui

pendekatan

pendampingan

(Outreach).

Pelaksana pendampingan adalah direkrut dari para relawan Griya ASA


PKBI Jawa Tengah. Untuk memberikan pelayanan komprehensif,
PKBI Kota Semarang mendirikan klinik IMS bagi WPS dan
pelanggannya di Sunan Kuning dan non lokalisasi sekaligus
pelanggan PSK. Dibangun juga sistem rujukan baik rujukan khusus
maupun rujukan laboratorium.
Griya ASA PKBI Kota Semarang merupakan suatu program dari
Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM) PKBI Kota Semarang yang
bergerak di bidang Kelaurga Berencana (KB), Pencegahan Infeksi
Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI
Semarang telah mendampingi wanita yang dikategorikan kelompok
resiko tinggi di wilayah Kota Semarang. Adapun tujuannya adalah

19

membantu Pemerintah dalam program KB, pencegahan penularan


IMS dan HIV/AIDS yang setiap tahun jumlahnya semakin meningkat.
Program - program yang terdapat di Griya ASA :
1) Outreach (Pendampingan)
2) VCT (Konseling dan Tes Sukarela)
3) PMTCT
Hal yang perlu diketahui dari hasil testing HIV adalah :
1) Tanda Non reaktif berarti HIV belum ada di dalam tubuh
2) Tanda reaktif berarti HIV sudah ada pada tubuh
3) Indeterminate berarti perlu adanya pengulangan testing HIV
karena hasil testing HIV tidak jelas
4) Masa jendela berarti masa inkubasi HIV yaitu masa antara
masuknya virus HIV ke dalam tubuh manusia sampai
terbentuknya antibody terhadap HIV atau disebut HIV positif
(umumnya 2 minggu 6 bulan).
Penyampaian hasil testing negatif dan positif, meliputi11:
1) Memberikan waktu bagi klien untuk memahami hasil tes dan
bereaksi.
2) Mendampingi klien dalam mengendalikan reaksi emosional.
3) Menjelaskan makna reaktif atau nonreaktif .
4) Menjelaskan kembali cara pencegahan dan penularan
HIV/AIDS, terlepas hasil tes negatif/positif .
5) Memberikan dukungan yang sesuai .
6) Membuat rencana lebih lanjut .
7) Membahas tindak lanjut medis dan strategi perubahan
perilaku

Tabel 1. Hasil Test VCT

Hasil Test (-)


Menegaskan kembali cara

Hasil Test (+)


Sampaikan berita dengan hati-hati.

penularan dan pencegahan

Sediakan waktu untuk diskusi.

20

Negatif

ksa
esiapan
ulang
pasien
3 bulan kemudian
HIV/AIDS.
men reaksi emosi dan dukungan reaksi psikologis
- Membantu merencanakan
naan dukungan dan perawatan
nan klinik, KDS, MK, ARV
perubahan perilaku yang lebih
penurunan resiko
konseling, MK, KDS, layanan kesehatan, PL, PMTCT

sehat

Bantu adaptasi dengan situasi.

Buat rencana tepat dan rasional.

Konseling berkelanjutan

dan aman.

melibatkan kelurga, teman, dan

Memberi dukungan untuk

lingkungan.

mempertahankan perilaku yang


-

Positif

Dorongan untuk mengurangi

lebih sehat.

penularan, motivasi untuk

Anjuran untuk melakukan VCT

menurunkan risiko penularan.

kembali 3 bulan berikutnya.

Kenali sumber dukungan lain,


termasuk layanan medik RS dan
perawatan rumah.

Merujuk pada manajemen kasus.

21

Bagan 1. Alur Pemeriksaan VCT

Konseling Post Test


Informasi hasil
Konseling hasil test

III.2. Data Kunjungan VCT


Tabel 2. Data Kunjungan VCT Bulan Januari 2014 Februari
2015

Bulan

Jumlah

Pre-Test

Kunjungan

22

Test

Post-Test

Reaktif

Januari

62

62

62

62

Februari

63

63

63

63

Maret

169

169

169

169

April

128

128

128

128

Mei

121

121

121

121

Juni

127

127

127

127

Juli

16

16

16

16

Agustus

79

79

79

79

September

56

56

56

56

Oktober

57

57

57

57

November

116

116

116

116

Desember

123

123

123

123

Januari

47

47

47

47

98

98

98

98

2015
Februari
2015

Berdasarkan data kunjungan VCT pada bulan Januari 2014


Februari 2015 didapatkan rata-rata jumlah kunjungan VCT sebanyak
90 orang per bulan, rata-rata yang melakukan pre-test sebanyak 90
orang per bulan, rata-rata yang melakukan test sebanyak 90 orang per
bulan, dan yang melakukan post-test sebanyak 90 orang per bulan.
Berdasarkan data tersebut ditemukan 20 kasus baru HIV reaktif di
tahun 2014, pada bulan Januari (2 orang), Februari (2 orang), Maret (2
orang), September (4 orang), Oktober (2 orang), November (4 orang),
Desember (4 orang). Pada bulan Januari 2015, ditemukan 2 kasus
baru HIV reaktif dan bulan Februari ditemukan 5 kasus baru HIV

23

reaktif. Target jumlah kunjungan setiap bulannya adalah sebanyak 116


orang, namun dari data tersebut jumlah kunjungan terbanyak adalah
pada bulan Maret 2014 yaitu sebanyak 169 orang. Dengan kata lain
data kunjungan VCT setiap bulan belum memenuhi target.
III.3. Kendala Kegiatan VCT

Adapun hal-hal yang menjadi kendala dalam kegiatan VCT di


Griya ASA adalah:
Tabel 3. Kendala Kegiatan VCT

PRE-TEST
1. Masih ada klien
yang takut dalam
mengikuti
kegiatan VCT.

TEST
1. Tidak ada
tempat yang
memadai untuk
dilaksanakan tes

2. Belum
tersedianya
ruangan untuk
pre-test, test dan
post-test yang
memadai.

POST-TEST
1. Ada beberapa klien yang takut
mengetahui hasil, sehingga hasil
post-test tidak diambil.
2. 75% klien yang positif HIV
tidak mau alih profesi dan telah
diedukasi untuk memakai
kondom, namun dalam
pekerjaannya tidak dapat
dipastikan apakah klien tetap
memakai kondom atau tidak.
3. Klien resah karena takut
terjadi kebocoran hasil
pemeriksaan yang terjadi di
Sunan Kuning yang dilakukan
oleh sesama anggota KDS
(Kelompok Dukungan Sesama).

BAB IV
KASUS DAN PEMBAHASAN
IV.1. Non-ODHA
Klien 1
Identitas Klien
Nama

: Ny. S
24

Usia

: 23 tahun

Alamat

: Sunan Kuning gang IV

Alamat Asal

: Purwodadi

Status

: Janda

Jumlah Anak

:1

Lama Bekerja

: 3 bulan

Pendidikan terakhir

: SMP

Agama

: Islam

Alasan bekerja sebagai WPS : Alasan ekonomi


Permasalahan
Ny. S, berusia 23 tahun. Klien adalah anak pertama dari 2
bersaudara, ayah klien adalah buruh tani dengan penghasilan
perbulan tidak menetap, ibu klien tidak bekerja, dan adik klien masih
bersekolah SMP. Klien bersekolah hanya sampai jenjang SMP
karena klien dan ayahnya bekerja untuk menghidupi keluarga. Klien
sempat bekerja menjadi pengasuh bayi babysitter selama 8 tahun,
dengan penghasilan perbulan Rp. 1.500.000. Namun, klien
mengatakan kalau pekerjaan sebagai pengasuh bayi terlalu berat dan
klien diajak oleh temannya untuk bekerja sebagai WPS di Sunan
Kuning. Untuk menghidupi keluarga terutama anaknya yang masih
berusia 1,5 tahun serta membiayai sekolah adiknya yang masih SMP
maka klien memutuskan untuk bekerja sebagai WPS di Sunan
Kuning.
Klien baru bekerja sebagai WPS di Sunan Kuning selama 3
bulan. Selama melakukan hubungan seks, klien selalu menggunakan
kondom yang dibagikan oleh Griya ASA. Klien mengaku melakukan
aktivitas seksual dengan cara pervaginal. Ny. S mengatakan tidak
pernah melakukan oral maupun anal seks dalam pekerjaannya ini.
Klien melakukan VCT pada awal bulan Desember 2014 dan
direncanakan melakukan VCT ulang 3 bulan berikutnya. Klien
mengatakan bahwa sebelumnya

belum pernah mendapatkan

informasi tentang VCT. Klien mengerti akan pentingnya VCT bagi

25

kesehatan. Klien mengatakan hasil pemeriksaan VCT didapatkan


negatif. Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit menular
sebelumnya, klien tidak pernah memakai obat-obatan seperti
narkoba.
Klien berencana untuk tetap bekerja sebagai WPS karena klien
masih harus membiayai keluarganya terutama anaknya yang masih
berusia 1,5 tahun. Bagaimana pemecahan masalah untuk klien?
Pemecahan Masalah
Solusi pertama adalah agar Ny. R harus selalu diingatkan akan
pentingnya melakukan VCT secara rutin tiap 3 bulan dan melakukan
skrining IMS tiap 2 minggu agar penyakit menular seksual dan
HIV/AIDS bisa terdeteksi lebih dini. Edukasi pada klien tentang
pentingnya penggunaan kondom baik pada tamu untuk mencegah
penularan penyakit infeksi menular seksual atau HIV/AIDS.
Karena ada beberapa dilema yang akan dihadapi oleh klien,
yakni

harus

membiayai

keluarganya

terutama

anaknya,

menyekolahkan adiknya sampai selesai, klien masih membutuhkan


pekerjaan sebagai WPS. Maka dari itu, KIE mengenai HIV/AIDS
perlu diberikan kepada klien dan diharapkan agar klien selalu
memakai alat pelindung yaitu kondom dalam upaya menurunkan
kemungkinan penularan HIV.

Klien 2
Identitas Klien
Nama

: Ny. R

Usia

: 27 tahun

Alamat

: Sunan Kuning gang IV

Alamat Asal

: Purwodadi

Status

: Janda

26

Jumlah Anak

: 1 orang

Lama Bekerja

: 1,5 tahun

Pendidikan terakhir

: SD

Agama

: Islam

Alasan bekerja sebagai WPS : Masalah ekonomi


Permasalahan
Ny. R, berusia 27 tahun, Karena terhimpit dengan masalah
ekonomi karena telah bercerai dengan suaminya dan karena
susahnya mencari pekerjaan dengan gaji besar dikarenakan klien
hanya seorang lulusan SD, Ny. R menerima ajakan temannya untuk
bekerja di Sunan Kuning. Keluarga Ny. R tidak mengetahui bahwa
Ny. R bekerja di Sunan Kuning
Nn. R sudah bekerja selama 1,5 tahun di Sunan Kuning dengan
penghasilan rata-rata 3-5 juta perbulannya. Klien mengaku selalu
menggunakan kondom setiap kali berhubungan, dan klien juga
mengaku tidak pernah mau menerima tamu apabila tamu dengan
kesehatan yang tampak mencurigakan (tidak bersih).
Klien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang baik pil
minum, hisap, atau melalui suntikan. Klien rutin melakukan
screening dan VCT setiap 3 bulan sekali selama di Sunan Kuning.
Klien melakukan VCT terakhir

pada bulan Januari 2015 dan

diperoleh hasil negatif. Ny. R dapat bersosialisasi dengan WPS yang


lain dengan baik.

Pemecahan Masalah
Solusi pertama adalah memotivasi klien agar tetap melakukan
VCT rutin setiap 3 bulan sekali agar mengetahui status
kesehatannya. Edukasi pada klien tentang pentingnya penggunaan
kondom baik pada tamu untuk mencegah penularan penyakit infeksi
menular seksual atau HIV/AIDS sekiranya ingin melakukan
hubungan seksual.
27

Klien 3
Identitas Klien
Nama

: Ny. D

Usia

: 31

Alamat

: Sunan Kuning gang IV

Alamat Asal

: Kendal

Status

: Menikah

Jumlah Anak

:3

Lama Bekerja

: 7 tahun

Pendidikan terakhir

: SD

Agama

: Islam

Alasan bekerja sebagai WPS : Diajak Teman, dan Alasan Ekonomi


Permasalahan
Ny. D, berusia 31 tahun, karena alasan ekonomi yang tidak
mencukupi untuk membiayai kehidupan sehari-hari keluarganya,
klien bekerja sebagai WPS. Klien sudah menikah dan suami klien
bekerja sebagai buruh serabutan. Penghasilan suami klien kurang
lebih Rp. 500.000,00 jika suami klien mendapatkan pekerjaan pada
saat itu. Ny. D mendapat tawaran oleh temannya untuk bekerja
menjadi WPS dan disetujuui oleh suaminya. Ny. D mempunyai 3
anak, anak pertama berumur 13 tahun, anak kedua berusia 9 tahun
dan anak ketiga berusia 8 tahun. Dan ketiga anaknya masih
bersekolah.
Ny. D sudah berkerja selama 7 tahun di Sunan Kuning dengan
penghasilan rata-rata 3-6 juta per bulannya. Selama melayani
pelanggan klien mengakui jarang menggunakan kondom terutama
jika pelanggan meminta karena setiap pelanggan yang meminta tidak
menggunakan kondom menjanjikan akan membayar dengan harga
yang lebih tinggi. Klien mengaku melakukan aktivitas seksual
dengan cara per vaginal dan per oral. Namun tidak pernah
melakukan secara per anal.

28

Klien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tetapi


klien sering mengkonsumsi minuman beralkohol pada saat bekerja.
Klien rutin melakukan screening dan VCT setiap 3 bulan sekali
selama di Sunan Kuning. Klien melakukan VCT terakhir pada bulan
Januari 2015 dan diperoleh hasil negative.
Klien berencana untuk tetap bekrja sebagai WPS karena klien
harus

membiayai

keluarganya

sampai

anak-anaknya

selesai

bersekolah dan suaminya mendapat pekerjaan yang layak.


Pemecahan Masalah
Ny. D harus selalu diingatkan akan pentingnya melakukan
VCT secara rutin setiap 3 bulan sekali dan melakukan screening IMS
tiap 2 minggu sekali agar penyakit menular seksual dan HIV/AIDS
bisa terdeteksi lebih dini. Edukasi pada klien tentang pentingnya
penggunaan kondom baik pada tamu untuk mencegah penularan
penyakit infeksi menular seksual atau HIV/AIDS.
Klien 4
Identitas Klien
Nama

: Nn. M

Usia

: 32 tahun

Alamat

: Sunan Kuning gang VI

Alamat Asal

: Palembang

Status

: Belum menikah

Jumlah Anak

: (-)

Lama Bekerja

: 1 tahun

Pendidikan terakhir

: SD

Agama

: Nasrani

Alasan bekerja sebagai WPS : Masalah ekonomi


Permasalahan
Nn. M, berusia 32 tahun. Klien belum menikah dan berasal
dari keluarga yang berpenghasilan kurang. Klien adalah sebagai
tulang punggung keluarga. Pendidikan terakhir klien adalah SD.

29

Klien tidak melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi yang sulit.


Klien telah bekerja WPS di Sunan Kuning selama 1 tahun dengan
penghasilan rata-rata 3,5-4 juta

tiap bulan. Selama melakukan

hubungan seks, klien selalu menggunakan kondom yang dibagikan


oleh Griya ASA. Klien mengaku melakukan aktivitas seksual dengan
cara pervaginam dan oral. Berdasarkan pengakuan Nn. M, selama
melakukan hubungan seks tidak pernah melakukan anal seks.
Dalam pemeriksaan VCT, klien rutin mengikuti pemeriksaan
tersebut. Klien sudah pernah melakukan VCT sebelumnya. Klien
rutin melakukan VCT yaitu 4 kali dalam setahun (tiga bulan sekali).
Klien mengerti akan pentingnya VCT bagi kesehatan. Berdasarkan
buku hasil pemeriksaan VCT, didapatkan hasil negatif. Klien
melakukan pemeriksaan VCT terakhir kali pada tanggal 10
Desember 2014 dan diperoleh hasilnya negatif.
Berdasarkan hasil buku catatan pemeriksaan VCT dan skrining
serta menurut pengakuan dari klien tidak ada riwayat penyakit
menular sebelumnya. Klien tidak pernah memakai obat-obatan
seperti narkoba. Klien mengaku meminum alkohol dan merokok.
Klien berencana untuk tetap bekerja sebagai WPS karena klien
masih harus membiayai anggota keluarganya.
Pemecahan Masalah
Solusi pertama adalah agar Nn. M harus selalu diingatkan akan
pentingnya melakukan VCT secara rutin tiap 3 bulan dan melakukan
skrining IMS tiap 2 minggu agar penyakit menular seksual dan
HIV/AIDS bisa terdeteksi lebih dini. Selain itu, memberikan edukasi
pada klien untuk tetap memakai kondom setiap melakukan hubungan
seks baik melalui vaginal maupun oral.
Karena terdapat pertimbangan yang membuat klien untuk tetap
bekerja sebagai WPS, maka Komunikasi, Informasi dan Edukasi
(KIE) mengenai HIV/AIDS perlu diberikan kepada klien dan perlu
diberikan kepada klien dan diharapkan agar klien selalu memakai

30

alat pelindung yaitu kondom dalam upaya menurunkan kemungkinan


penularan HIV.
IV.2. ODHA
Klien I
Identitas Klien

31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan
1. Pemeriksaan VCT dapat mendeteksi HIV/AIDS secara dini
sehingga dapat memutus rantai penularan dan penyebaran
HIV/AIDS.
2. Kurangnya

kesadaran

tentang

pentingnya

melakukan

pemeriksaan VCT secara rutin sehingga kunjungan klien untuk


melakukan pemeriksaan VCT pada lokalisasi kurang berjalan
dengan baik.
3. Masih banyak klien melakukan tindakan berisiko penularan
HIV/AIDS seperti melayani pelanggan tanpa kondom.
4. Menjaga kerahasiaan hasil medis setiap klien agar tidak terjadi
kebocoran informasi ke pihak lain karena hal tersebut membuat
resah klien yang dapat mengakibatkan menurunnya klien yang
periksa VCT.
V.2. Saran
a. Bagi Pemerintah

Selalu menyediakan reagen untuk keperluan laboratorium di


klinik Griya ASA agar tahapan tesing HIV dapat diselesaikan

lebih cepat dan efisien.


Mengadakan suatu pembinaan keterampilan.

b. Klinik Griya ASA

Meningkatkan kualitas pelayanan VCT terutama dalam KIE


tentang hidup sehat, penggunaan kondom dan pentingnya
mengikuti pendampingan.

Membantu klien dalam mendapatkan akses yang dibutuhkan


dalam Care Support Treatment (CST).

32

c. Masyarakat

Masyarakat diharapkan untuk lebih mengerti, memahami


penyakit, faktor risiko dan gejala-gejala HIV/AIDS.

Masyarakat diharapkan untuk merubah perilaku dari unsafe seks menjadi


safe seks.

Masyarakat diharapkan untuk menyadari pentingnya deteksi dini HIV/AIDS


melalui tes VCT dan melakukan tes VCT tiap 3 bulan sekali setelah
melakukan perilaku berisiko.

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Berantas HIV/Aids melalui program VCT 2010. Diunduh dari :
http://bidansmart.wordpress.com/2010/01/12/berantas-hivaidsmelalui-program-care-support-treatment-vct [citied : 18 Maret 2015]
2. Peter Stalker. 2008. Millenium Development Goals. Jakarta. Diakses
[tanggal 18 Maret 2015] dari www.undp.or.id/pubs/docs/Let
%20Speak%20Out%20for%20MDGs%20-%20EN.pdf.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Laporan
perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan I Tahun 2014.
Jakarta.

Diakses

[Tanggal

18

Maret

2015]

dari

http://www.spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1.
4. Sofiani, Afrida. 2010. Berantas HIV/AIDS melalui program VCT.
Jakarta.

Diakses

[tanggal

18

Maret

2015]

dari

https://bidansmart.wordpress.com/2010/01/12/.
5. Komisi Penanggulangan AIDS. 2013. Voluntary Counseling Test
(VCT). Sumatera Utara. Diakses [tanggal 19 Maret 2015] dari
http://kpa-provsu.org/vct.php.
6. Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia. 2011. HIV dan AIDS.
Jakarta. Diakses [tanggal 17 Maret 2015] dari http://kpaprovsu.org/vct.php.
7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Program dan Bentuk
Pengobatan Baru Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2014. Jakarta.
Diakses

[tanggal

17

Maret

2015]

dari

http://www.litbang.depkes.go.id/node/585.
8. Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI. 2010. Statistik Kasus
HIV/AIDS di Indonesia. Jakarta. Diakses [tanggal 18 Maret 2015]
dari http://spiritia.or.id/Stats/Statprev.php?lang=id&th=10.
34

9. Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia. 2011. Kategori : Jenisjenis intervensi 2011. Jakarta. Diakses [tanggal 17 Maret 2015] dari
http://www.aids-ina.org/w/index.php/Kategori:Jenis-jenis_Intervensi.
10. Michael, Martine. 2009. VCT, Metoda Evektif Deteksi dan
Pencegahan HIV/AIDS. Diakses [tanggal 17 Maret 2015] dari
http://publicahealth.wordpress.com/2009/06/19/vct-metoda-evektifdeteksi-dan-pencegahan-hivaids/.
11. Muljani, Alix. 2010. Konseling dan VCT. Jakarta. Diakses [tanggal
18

Maret

2015]

dari

www.healthfoundation.eu/blobs/hiv/73758/2011/27/counseling___vc
t.pdf.
12. Komisi

Penanggulangan

AIDS

Indonesia.

2011.

Voluntary

Counseling Test (VCT). Jakarta. Diakses [tanggal 17 Maret 2015]


dari www.napzasulsel.com/uploadfile/downloadp.php?id=52.

35