Anda di halaman 1dari 120

;

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM

Nama
NIM
Kelompok
Kelas

:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM
METODE ASEPTIS DAN STERILISASI

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

:
:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

Tanggal Praktikum
11 Maret 2015
Praktikum 1.1 dan METODE ASEPTIS DAN STERILISASI
1.2
PRELAB
1. Apa pentingnya metode aseptis dalam dunia mikrobiologi ? Jelaskan pula
prinsip dasar metode aseptis.

Metode aseptis sangatlah penting dalam dunia mikrobiologi, yakni untuk


mencegah adanya kontaminan yang masuk ke dalam kultur yang akan diamati.,
menjaga kemurnian kultur dan melindungi pekerja / praktikan.
Prinsip dasar metode aseptis adalah mempertahankan objek agar bebas dari
kontaminas mikroorganisme, dengan cairan disinfektan ( alcohol 70% ) yang
disemprotkan diberbagai perlengkapan praktikum seperti meja, alat praktikum, diri
( tangan ) dan juga dipanaskan dengan api bunsen ( Keith, 2008 ).
2. Apa tujuan pemanasan dengan api/bunsen pada teknik aseptis ? Jelaskan.

Pada dasarnya, penggunaan pemanasan dengan api / Bunsen adalah untuk


mencegah adanya kontaminasi dari kultur kelingkungan maupun dari lingkungan ke
kultur, sehingga kultur terbevbas dari berbagai mikroba bertaminan yang terbawa
bersama udara, karena mikroba kontaminasi akan mati dengan panas ( Keith, 2008 ).
3. Jelaskan tujuan dari sterilisasi.

Tujuan dari sterilisasi adalah untuk mengkondisikan alat dan bahan agar
menjadi steril dari berbagai mikroba pathogen dan pembusuk beserta sporanya,
sehingga hasil penelitian yang diperoleh dari percobaan kultur murni tidak
menyimpang ( Harvey, 2006 ).
4. Sebutkan metode sterilisasi untuk bahan yang tidak tahan terhadap panas ?
Jelaskan

Metode sterilisasi untuk bahan yang tidak tahan terhadap panas diantaranya
adalah dengan cara penyaring / filtrasi yang digunakan untuk sterilisasi cairan yang
mudah rusak karena panas dan volatile ( mudah menguap ) seperti vitamin dan
antibiotic, dimana pada cara ini mikroba tidak dimatikan tetapi dihilangkan. Yang
kedua adalah sterilisasi kimia yang digunakan untuk sterilisasi objek padat yang snsitif
dengan menggunakan alcohol dan disinfektan. Yang ketiga adalah dengan cara sinar
radiasi yakni menggunakan sinar x dan sinar

( Fathiyah, 2010 )

5. Bagaimanakah cara sterilisasi alat spreader yang benar ?

Cara :
1.
2.
3.
4.

Disipkan spreader yang akan disterilisasi


Speader diberi alcohol 70%
Spreader dibakar pada api Bunsen
Diulangi prosuder di atas sebanyak 3x ( ( Purnomo, 2009 )

6. Jelaskan bagaimana cara metode aseptis dan sterilisasi dengan menggunakan


bahan kimia. Sebutkan contoh bahan kimia yang dapat digunakan.

Metode aseptis dan sterilisasi menggunkan bahan kimia dilakukan dengan cara
menyemprotkan bahwa kimia ke berbagai peralatan / objek padat yang sensitive
dengan panas ( ada beberapa peralatan yang perlu diusap dengan tisu )
Bahan kimia yang dapat digunakan adalah larutan CuSO 4, AgNO3, alcohol
70%, formalin 4-20%, larutan garam ( NaCl 5%, KCl 10% ). Beberapa bahan tertentu
seperti etilen oksida dapat digunakan untuk perangkat platik dan pipet. Etilen oksida
merupakan agen alkilasi yang meneyebabkan dekstruksi mikroorganisme termasuk sel
sel spora dan vegetative ( Nisa, 2011 )
7. Bagaimanakah cara sterilisasi alat cawan petri yang benar ? Jelaskan

Cara :
1. Mejakerja, tangan praktikan dan lingkungan sekitar dibersihkan dengan
alcohol 70%
2. Disiapkan cawan petri yang akan disterilisasi
3. Dibungkus kertas coklat dengan kondisi terbalik, lalu dibungkus plastik.
4. Dimasukkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit ( sterilisasi
sebelum melakukan praktikum )
5. Pinggiran mulut cawan petri dipanaskan dengan memutar-mutarkan
beberapa detik diatas Bunsen yang telah diberi / dinyalakan apinya ( aseptis )
( Nisa, 2011 ).
Paraf Asisten

Nama:

DIAGRAM ALIR

1. Aseptis diri dan lingkungan


Alkohol 70%

Disemprotkan kemeja kerja

Dibersihkan / dilap dengan tissu


Autoklaf disiapkan + alat yang akan disterilisasi
Alkohol disemprotkan ketelapak tangan
Aquades dicek dalam autoklaf ( harus sampai batas )
Digosokkan merata kedua telapak tangan dan punggung tangan
Alat yang akan digunakan dibungkus plastic + dimasukkan keranjang
Hasil
Autoklaf ditutup rapat
Dengan waktu 15 menit disuhu 121oC
Air ditunggu hingga mendidih dan uapnya telah mencapai penutup autoklaf
Klep pengaman ditutup dengan kencang
Dengan waktu 15 menit dimulai sejak tekanan 2 atm
Autoklaf dimatikan saat terdengar bunyi

Tekanan dalam kompartemen ditunggu turun hingga sama dengan tekanan udara dilingkungan
Klep klep pengaman dibuka agar sisa uap keluar
Sekrup dibuka dengan berseberangan
2. Cara penggunakan autoklaf
Tutup dibuka perlahan dari belakang
Alat dikeluarkan

3. Memindahkan kultur dari tabung reaksi ( broth ) ke Erlenmeyer

Analisa Prosedur

Metode aseptis dan netralisasi adalah suatu metode untuk mencegah terjadinya
kontaminasi suatu kontaminan yang masuk dan mengganggu atau merusak mikroorganisme.
Oleh sebab itu sebelum melakukan praktikum praktikan harus mensterilkan alat alat yang
akan digunakan dengan cara yang benar. Langkah pertama adalah aseptis diri dan lingkungan.
Untuk aseptis diri hanya menyemprotkan alcohol 70% di tangan dan di gosok dengan rata
sampai pergelangan tangan. Untuk aseptis lingkungan juga disemprotkan alcohol 70% dan di
lap menggunakan tissue dengan searah.
Untuk tabung reaksi bibir tabung di beri kapas dengan puntalan yang rapi apabila di
buka terdengar suara *bung. Ini berlaku untuk tabung reaksi, labu Erlenmeyer. Setelah di beri
kapas selanjutnya bibir tabung atau labu di bungkus dengan kertas payung warna coklat. Di
bungkus dengan rapi dan di ikat menggunakan karet. Untuk gelas beaker hanya di bungkus
dengan kerats payung saja. Untuk pipet ukur dimasukkan tissue yang dipillin setelah itu
potong pas di bibir lubang pipet ukur. Setelah itu bungkus semua badan pipet ukur dengan
kertas payung. Selanjutnya di masukkan plastik yang panjang dan dipillin. Untuk cawan petri
hanya di bungkus dengan kertas payung hanya saja caranya adalah dibalik ketika
membungkusnya, tutupnya berada di bawah dan cara melipatnya harus seperti kupu-kupu dan
rapi. Untuk tip hanya dimasukkkan di gelas beaker yang di selubungi kapas baik di bawah
maupun di atas. Selanjutnya di bungkus dengan kertas payung dan diikat dengan karet. Untuk
tip cara pengggunakannnya hanya sekali pakai. Ketika membungkus kertas payung bagian
mengkilap ada di dalam. Untuk jarum oase caranya adalah masukkan ke dalam alcohol lalu di
panaskan tetapi harus di tengah terlebih dahulu lalu ke ujung agar kultur tidak kaget. Untuk
Spider hanya dimasukkan ke alcohol lalu dipanaskan. Setelah bahan tadi yang sudah
dibungkus dengan rapi selanutnya di masukkan ke dalam plastic besar dan di ikat. Tatapi
dalam mengikat untuk menutup jangan sampai ada rongga udara agar tidak meledak sat di
masukkan ke dalam Autoklaf. Untuk mikropipet cara penggunakannya adalah pertama
mengambil tip dengan mikropipet lalu di rekatkan menggunakan tangan. Untuk pengambilan
kultur pipet ukur terlebih dulu berapa keadaan angka yang dipilih dan tekan satu atau hanya
biasa lalu dimasukkan kedalam kultur. Untuk mengeluarkan kultur tekan 2 kali atau sangat
ditekan. Ketika pengambilan kultur keadaan mikropipet jangan sampai miring keatas agar
tidak masuk ke dala pipet ukur. Setelah penggunakan mikropipet pencet disamping
mikropipet dan tip akan lepas sendirinya. Setelah di sterilkan kapas yang di pipet ukur tidak
usah dilepas dan masukkan saja pada bulb. Ini bertujuan agar steril dari bulb. Untuk mencopot
kapas menggunakan tangan kelingking dan tengah. Untuk penggunakan autoklaf pertama
katup di keadaan mengahadap tidur. Setelah itu di lihat di dalam autoklaf sudah ada aquades
apa belum. Selanjutnya wadah atau baskom atau tempat penempatan alat dimasukkan.
Kmudian di tutup dan selang uap air di masukkan di samping ranjang bertujuan untuk
mengalirkan uap. Lalu ditup dan katup di berdirikan. Lalu klep di putar di kencangkan. Llu
kabel dicolokkan , kemudian di onkan dan tunggu samapai atm naik 1 atm. Setelah itu itu di
offkan dan tunggu sampai tekanan 0. Lalu di buka. Dan alat siap digunakan

KESIMPULAN

Prinsip dasar metode aseptis adalah mempertahankan objek agar bebas dari
kontaminasi mikroorganisme, dengan cairan desinfektan ( alcohol 70 % ) yang disemprotkan
diberbagai perlengkapan praktikum seperti meja, alat praktikum, diri ( tangan ) dan juga
dipanaskan dengan api Bunsen. Dimana praktikum ini memilki tujuan yaitu mahasiswa
mampu memahami prinsip sterilisasi, mampu mempersiapkan alat dan bahan yang akan
disterilisasikan dengan autokaf dan mampu melakukan sterilisasi alat, media
mikroorganismje, dan bahan yang digunakan dalam uji mikrobiologi dengan menggunakan
autoklaf.

PEMBAHASAN

1. Jika anda mendapatkan stok kultur murni dari laboratorium mikrobiologi, hal

apa saja yang harus diperhatikan agar stok kultur tidak terkontaminasi ?
Jelaskan

Agar kultur tidak rusak terkontaminasi ada beberapa perlakuan dengan metode
aseptis dan sterilisasi dan yang harus diperhatikan yakni :
1. Alat yang akan dipakai harus terbebas dari kontaminan.
2. Media yang akan dipakai harus terbebas dari kontaminan
3. Teknik isolasi yang digunakan harus benar
4. Ketika akan memindahkan atau mengisolasi kultur harus selalu dilakukan
didekat api bursen ( Gunawan, 2008 ).
2. Mengapa media yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu?
Bagaimana cara sterilisasi media? Jelaskan

Agar medianya steril dari berbagai kontaminan dan agar tidak ada mikroba
kontaminan yang tumbuh dimedia, sehingga nantinya didapatkan kultur murni yang
sesuai dengan yang diinginkan.
Caranya adalah :
1. Media agar cawan petri : bahan atau media yanag akan dipakai dimasukkan
ke Erlenmeyer, lalu dipanaskan, setelah itu ditutup
rapat dengan kapas dan dibungkus kertas paying,
lalu
dimasukkan
kedalam
plastic
dan
disterilisasikan ke autoklaf.
2. Media agar tegak
: Bahan yang sudah dipanaskan dituang pada tabung
reaksi. Kemudian ditutup dengan kapas dan kertas
paying. Lalu dibungkus plastic dan dimasukkan ke
autoklaf.
3. Media agar miring
: Prosesnya sama seperti media tegak, hanya saja
media dalam tabung reaksi diposisikan miring
hingga mengeras setelah dilakukan sterilisasi,
sehingga didapat media miring, barulah disterilisasi
( Hadi, 2011 )
3. Mengapa sterilisasi dengan suhu tinggi tidak cocok digunakan untuk sterilasi

larutan vitamin dan metode sterilisasi apakah yang cocok? Jelaskan alasan
anda

Karena vitamin sangat rentan dan sensitive terhadap panas dan suhu tinggi.
Jika terkena suhu tinggi, vitamin akan rusak dan fungsin fisiologinya tidak akan
berfungsi. Untuk itu diperlukan suatu metode sterilisasi tanpa panas seperti metode
1. Dipanaskan jarum ose, slkohol 70% dan Bunsen.
filtrasi menggunakan membrane selulosa asetat / pilikarbonat. Pada metode ini
2. Dipanaskan jarum ose dengan api bursen hingga membara. Tetapi dipanasi
mikroba tidak dimatikan namun dihilangkan, untuk itu digunakan filtrasi
bagian tengah jarum lalu ke ujung.
menggunakan filter membrane, yang memiliki pori pori yang berukuran kecil.
3. Jarum ose yang membara dicelupkan kealkohol 70%
Sehingga dapat menyaring berbagai mikroba kontaminan. Sehingga vitamin dapat
4. Diulangi 3x.
disterilisasi tanpa merusaknya ( Irianto, 2006 ).
5. Pada pemanasan jarum ose yang ketiga, setelah membara tidak perlu
4. Bagaimana
teknik
jarum
ose
benar
?
dimasukkan
ke sterilisasi
alcohol 70%,
cukup
diyang
dinginkan
sebentar
setelah itu langsung
bias digunakan untuk mengambil kultur.
6. Ketika akan digunakan untuk mengambil kultur lagi dengan kultur yang sama,
ose tidak perlu diserilisasikan kembali dengan pemanasan dibursen dan dicelup
alcohol serta diulangi 3x ( WHO, 2005 ).

5. Bagaimana teknik penggunaan pipet mikro yang benar ? Apakah pipet mikro
tersebut perlu di sterlilisasi terlebih dahulu? Jelaskan jawaban anda.

Sebelum menggunakan pipet mikro, harus tau jenis pipet mikro jenis pipet
mikro ada 2, yaitu fix ( skala tidak bias diatur ) dan no fix ( skala bias diatur ).
Berikut teknik penggunakan pipet mikro :
1. Disiapkan mikro tip yang sudah disterilisasikan dan pipet mikro.
2. Mikro tip ditancapkan kemikro pipet dan kencangkan ( tidak boleh memegang
ujung mikro tip )
3. Tekan sekali mikropipet dan dimasukkan mikro pipet ke sampel kultur cair.
4. Lepaskan tekanan dan sampel kultur akan masuk kemikro tip secara otomatis
sesuai ukuran mikropipetnya.
5. Stelah itu keluarkan mikropipet dan amsukkan kemedia yang diinginkan.
6. Tekan mikropipet 2 kali untuk mengeluarkan kultur cair.
7. Mikro tip dilepaskan dengan menekan tombol pada mikropipet atau dilepaskan
dengan menekan tombol pada mikropipet atau dilepas manual ( bagi yang tidak
ada tombol ).
8. Mikropipet tidak perlu diterilisasikan cukup dibersihkan dengan metode aseptis
menggunakan alcohol 70% yang disterilisasikan cukup mikrotipnya saja.
9. Mikro tip di sterilisasikan dengan memasukkan ke dalam gelas beker yang
diberi kapas. Lalu di tutup dedngan kapas dan kertas paying dan dimasukkan ke
dalam plastik ( Suriawiria, 2005 )
6. Apabila tidak tersedia pipet mikro, alat apa yang akan saudara siapkan untuk
mengambil sampel kultur cair, secara aseptis ?

Apabila tidak tersedia pipet mikro, maka dalam mengambil sampel kultur
cair, dapat menggunakan pipet ukut 10 ml, 5 ml dan 1 ml. namun pipet tersebut
harus disterilisasikan terlebih dahulu dengan autoklaf. Saat mengambil sampel dapat
menggunakan bola hisap dan yang terpenting ada selalu bekerja di dekat bursen
( Hadi, 2011 )
Perbedaan :
1. Sterilisasi : suatu metode mengondisikan alat menjadi streil dari berbagai
mikroba pathogen,
dan Jelaskan
dilakukan sebelum praktikum.
7. Apa perbedaan
antarapembusuk
Destruksiserta
dansporanya
Sterilisasi.
Dengan aquades bias di pakai berulang. Dengan perubahan tekanan 1 atm
biasanya sampai 2 jam.
2. Destruksi : Suatu pengondisian untuk mensterilisasikan alat dari berbagai
mikroba kontaminan, ( pathogen, pembusuk beserta sporanya ) yang dilakukan
selesai praktikum. Dimana aquades harus di ganti. Dan perubahan tekanan 1
atm dan biasanya sampai 2 jam ( Gunawan, 2008 ).

DAFTAR PUSTAKA

Fathiyah.2010.Metode Aseptis Mirobiologi Pangan.Jakarta:Erlangga


Harvey, 2006.Food Microbilogy. New York : Mc Grand Hill

Keith, Downes pouch France.2008.Compendum of Menthods For the Microbiological


Examination Of Food.USA American Public Health Assosiation.
Purnomo,Aji .2009.Sterilisasi Pada Produk Pangan.Surabaya:Yudistira
Nisa,Clara.2011.Metode Aseptis Mikroba.Bandung:Erlangga
DAFTAR PUSTAKA
TAMBAHAN

Gunawan, Agustin Widya. 2008. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta : PT. Penebar Swadaya
Hadi, danang Kumara. 2011. Mikrobiologi. Jember : Universitas Negeri Jember
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi. Bandung : Yrama Widya
WHO. 2005. Pemastian Mutu Obat. Jakarta : EGC
Suriawiria, U. 2005 Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Papas Sinar Sinanti

Komponen Penilaian LKP:


Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan

dan

Nilai
Maksim
al
10
10
70

Nilai yang
diperoleh

Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
Kompetensi
Bisa
Tidak
1.
Mampu melakukan tahapan persiapan alat
dan media sebelum sterilisasi :
Membuat sumbatan tabung reaksi dan
erlenmeyer
Membungkus cawan petri, tabung
reaksi dan erlenmeyer

2.

3.

Memasukkan glass ware


plastik untuk disterilisasi

ke

dalam

Mampu menggunakan autoklaf dengan


baik dan benar :
Membuka
dan
menutup
klep
pengaman
Memeriksa ketersediaan air distilat
Menyalakan / mematikan autoklaf
Menentukan
waktu
sterilisasi
/
destruksi
Mampu melakukan setiap tahapan metode
aseptis diri dan lingkungan sebelum dan
sesudah melakukan kerja di laboratorium
mikrobiologi :
Melakukan aseptis diri
Melakukan aseptis lingkungan kerja
Melakukan aseptis alat kerja
TOTAL

10

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM
TEKNIK ISOLASI, KULTIVASI dan
PRESERVASI KULTUR

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

:
:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

Tanggal
Praktikum
Praktikum 2.1

11 Maret 2015
NUTRISI DAN MEDIA

PRELA
B
1. Sebut dan jelaskan syarat-syarat media pertumbuhan bagi mikroorganisme!

Syarat syarat adalah :


1. Media harus steril sehingga mikroba tersebut dapat tumbuh
2. Medium harus mempunyai tekanan osmotic, pH, tegangan permukaan yang sesuai.
Hal ini bertujuan agar mikroba dapat tumbuh optimal.
3. Medium tidak mengandung zat zat penghambat karena apabila medium tersebut
mengandung zat zat penghambat maka dapat menghambat bahkan mematikan
mikroba dalam media.
4. Medium harus mengadung semua nutrisi yang mudah digunakan mikroba, dimana
mikroba memiliki kebutuhan yang berbeda ( Dimas, 2008 )
2. Jelaskan perbedaan media berdasarkan konsistensinya!

a. Media cair adalah nutrient broth, berbentuk cair, tersedia dalam bentuk tabung ,
umumnya hanya digunakan untuk menumbuhkan koloni.
b. Medium padat ( solid medium ) adalah medium ini dapat berupa medium organic
seperti wortel, medium kentang dan atau medium organic seperti silika gel.
c. Medium padat yang dapat di cairkan ( semi solid medium ) adalah medium yang
dalam keadaan panas ( dipanasi ) berbentuk cair tetapi dalam keadaan dingin
berbentuk padat karena medium ini mengandung agar atau gelatin dan dapat dibuat
tegak atau miring ( Dedi, 2006 )
3. Apa yang dimaksud dengan media diferensial? Berikan pula contohnya!

Media diferensial adalah medium yang ditambahkan reagensia atau zat kimia
tertentu yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan
perubahan tertentu sehingga dapat untuk membedakan bakteri himolitik dan non
himolitik ( Keith, 2008 ).
4. Apa perbedaan antara media sintetik (chemically defined) dengan media non
sintetik (complex)?

a. Medium sintetik ( chemically defined ) adalah medium yang susunan kimianya dapat
diketahui dengan pasti, medium ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan
makanan mikroba.
b. Medium non sintetik adalah medium yang susunan kimiannya tidak dapat ditentukan
dengan pasti, medium ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari
taksonomi mikroba ( Harvey, 2006 ).

5. Jelaskan tahapan pembuatan 250 ml media racik yang terdiri atas pepton 1%
(b/v), ekstrak khamir 0,5% (b/v) dan NaCl 1%, agar 1,5% (b/v)?

a.

Komposisi :
Pepton

x 250 = 2,5 gram.

Ekstrak khamir =

x 250 = 1,25 gram

NaCl

x 250 = 2,5 gram

Agar

x 250 = 3, 75 gram

b. Bahan yang diperlukan sesuai komposisi di atas ditimbang.


c. Di campurkan dan dilarutkan semua bahan tersebut ke dalam aquades 250 ml
kemudian dipanaskan dan diaduk.
d. Maemasukkan media tersebut pada Erlenmeyer dan disumbat dengan kapas.
e. Sterilisasi media tersebut pada suhu 121oC selama 15 menit ( Dedi, 2006 )
6. Bagaimana cara membuat 150 ml media PCA? Jelaskan pula komposisi media
tersebut!

0,23 % ekstrak ragi = 0,0023 x 150 = 0,345 gr/ml


0,1 % glukosa = 0,001 x 150 = 0,5 gr/ml
1,4 % agar = 0,015 x 150 = 2,25 gr/ml
Cara :
1. PCA dilarutkan kedalam 150 ml aquades
2. Dipanaskan dengan air mendidih dan dihomogenkan
3. Disterilisasi menggunakan autoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC
4. pH tekanan diatur ( Ani, 2008 )

Paraf Asisten

Nama:

PEMBAHASA
N
1. Mengapa media mikroorganisme harus steril? Apa yang terjadi bila media
mikroorganisme tidak disterilisasi?

Media harus steril untuk menghindari mikroorgaanisme kontaminanasi yang dapat


mengganggu hasil pengamatan atau penelitian, karena apabila media tidak steril maka
kontaminan dapat menganggu perkembangan kultur bahkan membunuh kultur yang
berakibat gagalnya usaha untuk menumbuhkan dan mengamati kultur pada media,
sehingga media harus disterilkan dengan cara yang benar ( Pratiwi, 2008 ).
2. Apakah semua jenis media harus disterilisasi dengan autoklaf? Beri contoh
media yang tidak disterilisasi dengan autoklaf! Jelaskan alasan anda!

Tidak semua jenis media harus disterilisasikan dengan autoklaf. Hal ini dikarenakan
beberapa zat / senyawa dalam suatu media tidak tahan suhu tinggi ( panas ). Contohya
adalah media URBA. Hal ini dikarenakan URBA mengandung / tersusun atas bahan yang
tidak tahan panas / rusak jika terkena panas, seperti kristal violet, gara bile, dan neutral
red. Dan TCBS dan SSA kandungan bile salt yang menguap di suhu tinggi ( Supardi, 2005
).
3. Bagaimana cara memastikan bahwa
terkontaminasi oleh mikroorganisme?

media

hasil

sterilisasi

tidak

Untuk memastikan bahwa media hasil sterilisasi tidak terkontaminasi oleh


mikroorganisme adalah dengan menginkubasi media 2 3 hari ( ada koloni atau tidak
dinginkan ) dan bias dilihat langsung menggunakan mikroskop ( Arora, 2005 ).
4. Jelaskan perbedaan media diperkaya, media selektif dan media diferensial!
Sebutkan pula contoh dan kegunaannya!

a. Media diperkaya adalah medium yang ditambahkan zat zat tertentu sehingga
dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterottrof tertentu.
Contoh : Serum agar, bile agar.
b. Media selektif adalah medium yang ditambahkan zat kimia tertentu yang
bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain. Misaknya medium
yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah
pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negative.
Contoh : Macconkey agar, salmonella shigella agar, thiosulfate citrate bilesalt.
c. Media diferensial adalah media yang ditambah reagensia atau zat kimia tertentu
yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan / mengadakan
perubahan tertentu sehingga dapat untuk membedakan bakteri himolitik dan

non himolitik.
Contoh : EMBA ( Eosin Methilene Blue Agar ) ( Djarijah. 2005 ).
5. Mengapa pada prosedur pour plate, suhu media agar yang akan digunakan
tidak boleh melebihi 50oC? Jelaskan!

Karena pada suhu 50o C, media masih berbentuk cair dan mikroba masih bisa hidup
di rentang suhu 50o C pada media. Jika suhu terlalu rendah maka media akan memadat
sehingga media dan sampel tidak dapat tercampur rata. Sedangkan pada suhu diatas
50o C dapat menyebabkan kematian / kerusakan sel pada bakteri yang tidak tahan
panas. Selain itu, pada suhu tinggi menyebabkan penguapan sehingga terbentuk titik
titik air diatas cawan setelah media memadat ( Pratiwi, 2008 ).
6. Mengapa pada media APDA ditambahkan larutan asam tartarat konsentrasi
10%? Jelaskan hubungannya dengan pertumbuhan mikroorganisme!

Pada media APDA ditambahkan larutan asam tartarat konsentrasi 10 % untuk


mengatur pH agar menjadi asam, yaitu 3,5 4,0. Media APDA berfungsi untuk isolasi dan
enumerisasi pertumbuhan khamir dan yeast. Mekanisme kerja APDA yaitu menurunkan
pH yang menyebabkan kondisi asam, karena pada pH asam akan menghambat
pertumbuhan bakteri. Sedangkan media APDA digunakan untuk pertumbuhhan khamir
dan yeast ( Arora, 2005 ).
7. Sebutkan macam-macam dan konsentrasi larutan pengencer yang saudara
ketahui! Sebutkan pula fungsi larutan pengencer tersebut!
a. Buffer fosfat ( larutan kingers ) adalah untuyk mengembalikan vitalitas sel sel

bakteri yang kemungkinan hilang karena kondisi didalam sampel kurang


menguntungkan. Larutan ini memiliki konsentrasi 0,1 M dengan pH 8
b. Pepton 0,1 % + NaCl 0,85 % adalah berfungsi sama dengan buffer fosfat, yaitu untuk
mengembalikan vitalitas sel sel bakteri yang kemungkinan hilang karena kondisi
media kurang menguntungkan.
c. Pepton water 0,1 % adalah untuk perbanyakan vibrio dengan pH relative tinggi yakni
kurang lebih 8,4 dan mengandung NaCl sebesar 1-2 %. Pertumbuhan optimum vibrio
berkisar pada suhu 20 35o C ( Pratiwi, 2008 ).
8. Bagaimana mekanisme kerja senyawa kimia penghambat pertumbuhan
mikroorganisme yang terdapat pada media selektif ?

Mekanisme kerja menguntungkan atau mendukung perkembangan


mikroorganisme tertentu dan menghambat mikroorganisme yang tidak diinginkan
seperti Kristal violet yang menhambat gram ( + ) ( Supardi, 2005 ).
9. Menurut saudara, apa perbedaan makronutrien
mikroorganisme? Sebutkan pula contoh dan peranannya!

dan

mikronutrien

a. Makronutien adalah nutrient yang dibutuhkan oelh suatu mikroba untuk dapat bertahan

hidup dalam jumlah besar.

Contoh : karbohidrat, lemak, dan protein yang berperan sebagai sumber C, H, O, N


b. Mikronutrien adalah nutien yang dibutuhkan oleh mikroba untuk dapat bertahan hidup
dalam jumlah yang kecil.
Contoh : sulfur, kalium, natrium, kalsium, dan magnesium sebagai sumber makanan
mikroba ( Supardi, 2005 ).
10.Jelaskan peranan media selektif untuk pertumbuhan mikroorganisme! Apa
saja aplikasi dari media selektif pada bidang pangan?

Peran media selektif adalah untuk menekan pertumbuhan mikroba lain yang tidak
diinginkan dann merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan dengan penambahan
zat kimia tertentu selain nutrisi yang sebelumnya sudah ada pada media tersebut,.
Misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah
pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negative.
Aplikasinya yaitu pada isolasi BAL yang dipakai sebagai media pengolahan suatu
produk pangan dimana dalam pertumbuhannya. Hanya disiolasi sendiri tanpa ada mikroba
lain. Sehingga mampu mengahsilkan asam laktat seperti yang diinginkan. Namun jika di
dalam media ada mikroba lain, maka BAL tidak dapat tumbuh dengan baik media
selektifnya adalah MRSA ( Dworkin, 2006 ).

11.

Bagaimana seorang analis mikrobiologi menentukan tingkat pengenceran


atau dilusi suatu sampel dan pengenceran mana yang akan ditanam ke dalam
media pada cawan? Jelaskan!

Diawali dengan dibuat sampai 10-3 dahulu lalu masih tumbuh maka dibuat lagi
sampai pengenceran 10-7 kemudian kalau 10-7 tidak tumbuh maka sampai 10-6 saja
( Arora, 2005 ).
12.Pengujian total mikroorganisme pada produk keju dilakukan pada suhu 30 oC
selama 3 hari. Apakah suhu inkubasi tersebut sudah tepat? Mikroba tipe apa
yang tidak terdeteksi pada suhu tersebut? Jelaskan alasan anda!

Sudah, pada keju bakteri yang tumbuh adalah BAL yang dapat memfermentasi asam
laktat pada susu, jenis bakteri ini sangat peka terhadap suhu dan merupakan bakteri mesfil
yang dapat tumbuh optimum pada suhu 25o 30o C. Contoh bakterinya adalah Casei, L.
Bulgaricus, Streptocollus lactis ).
Bakteri yang tidak terdeteksi adalah mikroba thermofil dan pathogen yang hidup
disuhu tinggi dan pH 4,8 ( Arora, 2005 ).

KESIMPULAN

Media adalah suatu wadah yang mengandung campuran nutrisi yang digunakan untuk
perkembang biakan mikroba. Tujuan dari praktikum kali ini adalah mahasiswa atau praktikan
mampu mengetahui macam macam media yang digunakan dalam praktikum. Dan syarat
pertumubuhan mikroba adalah :
a. Media harus steril sehingga mikroba tersebut dapat tumbuh
b. Medium harus mempunyai tekanan osmotic, pH, tegangan permukaan yang sesuai. Hal
ini bertujuan agar mikroba dapat tumbuh optimal.
c. Medium tidak mengandung zat zat penghambat karena apabila medium tersebut
mengandung zat zat penghambat maka dapat menghambat bahkan mematikan mikroba
dalam media.
d. Medium harus mengadung semua nutrisi yang mudah digunakan mikroba, dimana
mikroba memiliki kebutuhan yang berbeda

DATAR PUSTAKA

Ani, Itotul. 2008. Media Kultur Mikrobiologi.Bandung:Yudistira


Dedi.2006. Nutrisi Mikrobiologi. Jakarta:Erlangga
Dimas, Mohammad .2008. Media dan Nutrisi.Bogor : IPB Press
Fathiyah.2010.Metode Aseptis Mirobiologi Pangan.Jakarta: Erlangga
Harvey, 2006.Food Microbilogy. Mc Grand Hill. New York
DATAR PUSTAKA
TAMBAHAN

Arora, Dilip K, et al. 2005. Handbook of Applied Mycology : Volume 3 : Foods and Feeds.
New York : Marcel Dekker Inc
Djarijah, Abbas Siregar. 2005. Budidaya Jarum Tiram. Yogyakarta : Kanisius
Dworkin, Martin, et al. 2006. The Prokaryotes: Vpl 6 : Proteobacteria: Gamma Subclass.
Minneapolis: Universitas of Minnesota
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Erlangga
Supardi, Imam, dan Sukamto. 2005. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan
Pangan. Bandung : Penerbit Alumni

Komponen Penilaian LKP :

Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

Nilai
Maksim
al
10
10
70

Nilai yang
diperoleh

10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
Kompetensi
Bisa
1.
Mampu menyebutkan beberapa jenis media
pertumbuhan mikroorganisme
2.
Mampu membedakan media racik dengan
media jadi
3.
Mampu mebuat media racik
4.

Mampu membuat media jadi

5.

Mengetahui faktor konversi masing-masing


media yang dibuat
Mampu menghitung dan menimbang kebutuhan
media pertumbuhan mikroorganisme

6.
7.
8.
9.
10.

Mampu
membuat
berbagai
media
mikoorganisme dengan benar
Mampu menganalisis kesesuaian antara jenis
mikroba dan media pertumbuhannya
Mengetahui cara sterilisasi berbagai jenis media
Mampu membedakan anatar media selektif
dengan media diferensial
TOTAL

10

Tidak

Tanggal
Praktikum
Praktikum 2.2

18 Maret 2015
TEKNIK ISOLASI, KULTIVASI dan PRESERVASI
KULTUR

PRELAB
1. Mengapa dalam teknik isolasi goresan kuadran, cawan petri harus dibagi
menjadi beberapa kuadran ? Jelaskan.

Penggunakan teknik isolasi goresan kuadran, cawan petri dibagi menjadi


beberapa kuadran. Bertujuan agar dapat dihasilkan koloni yang terpisah.
Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah (Waluyo,
2007)
2. Apa tujuan dari teknik isolasi dalam dunia mikrobiologi ?

Tujuan dari isolasi agar mencegah penyebaran mikroba patogen, dan


menumbuhkan jenis mikroba tertentu. Memisahkan pertumbuhan bakteri satu
dengan bakteri lainnya. Untuk memperbanyak bakteri ( yang ditanam kultur bakteri
atau koloni bakteri ). Untuk menhitung jumlah kuman ( yang ditanam, suspesi
sampel ) ( Thomas, 2011)
3. Apa tujuan transfer kultur pada agar miring ? Jelaskan

Tujuan transfer kultur pada agar miring adalah untuk mengambil koloni yang
saling terpisah dari koloni yang lain, dengan jarum ose yang sudah disterilkan
secara aseptis, dan memindahkan ke medium agar miring (agar slope/agar slant).
Sehingga masing-masing kultur pada agar miring mewakili satu strain bakteri
(single strain of bakteria). Koloni-koloni yang terpisah tersebut merupakan
keturunan dari satu sel tunggal ( single cell ). Namun tidak setiap koloni berasal dari
singlecell, sebagai contoh adalah Streptococcus yang beberapa selnya saling
berlekatkan membentuk rantai ( Rakhmawati, 2014)
4. Apa tujuan dari sub kultur dalam transfer kultur ?

Tujuan dari sub kultur dalam transfer kultur adalah mendapatkan bakteri
tertentu dari transfer kultur tersebut. Selain itu untuk mempertahankan kultur dari
kontaminasi oleh mikroba yang tidak diinginkan ( Parija, 2009 )

5. Ada berapa macam teknik Isolasi? Sebutkan dan Jelaskan masing-masing


teknik tersebut.

Ada 3 macam teknik isolasi adalah


1. Metode cawan gores kuadran ( Strike Plate ) adalah metode yang praktis, hemat
biaya, waktu, dan hanya membutuhkan ketrampilan. Dimana kesalahan yang
umum dilakukan dalam metode ini antara lain tidak memanfaatkan permukaaan
medium untuk digores sehingga dalam pengendceran kurang optimal. Dan
penggunakan inoculum yang terlalu banyak dapat menyulitkan disaat
memisahkan sel waktu digores ( Rukhminfah, 2013 ).
2. Metode cawang tuang ( Pour Plate ) adalah untuk mendapatkan koloni kultur
organisme. Kelemahan dari metode ini adalah membutuhkan waktu dan bahan
yang lama dan banyak, tetapi tidak memerlukan ketrampilan tinggi. Pembiakan
campuran diencerkan dengan menggunakan medium agar yang telah yang
diencerkan dan diinginkan. Pengenceran dilakukan dengan beberapa tahap
hingga diperoleh koloni tinggi ( Rukhminfah, 2013 ).
3. Metode sebar diatas pelat agar ( Spread Plate ) Adalah teknik dengan
menyebarkan sampel ( yang telah diencerkan ) diatas permukaan pelat agar
dalam cawan petri. Umunya antara 0,1 ml dan 1 ml Sampel disebarkan
dipermukaan media padat dengan menggunakan tangkai gelas steri ( batang
pengaduk ). Cawan kemudian diinkubasi dan jumlah koloni yang tumbuh di
hitung ( Radji, 2006 ).
Prinsip dari tiga teknik tersebut sama yaitu mengencerkan biakan campuran
hingga setiap individu spesies dapat dipisahkan , sehingga setiap koloni yang
terbentuk merupakan hasil dari pembelahan satu sel ( Radji, 2006 ).
6. Bagaimana cara transfer kultur dari medium cair ke agar tegak ? Jelaskan.

Dilakukan aseptis diri dan lingkungan terlebih dahulu. Kemudian jarum ose
distrilkan dengan cara dioanaskan dan dimasukkan dalam alcohol; 70% seabanyak 3
kali dan dipanaskan kembali dan dianginkan beberapa detik. Lalu jarum ose
dicelupkan pada tabung yang berisi kultur dari media cair. Selanjutnya jarum ose
ditusukkan dalam media agar tegak ( Jarvis, 2008 ).
7. Faktor apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam proses kultivasi mikroba?
Jelaskan.

Factor yang perlu diperhatikan dalam proses kultivasi mikroba adalah menyediakan
nutrisi yang sesuai.. Selain itu perlu disediakan kondisi fisik yang memungkinkan
pertumbuhan optimum. Kondisi fisik ini diantaranya adalah suhu, atmosfer gas, pH.
Suhu mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme,
keragaman suhu juga dapat mengubah proses proses metabolic teretntu serta
morfologi sel. Gas gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah
oksigen dan karbon dioksida. pH optimum bagi kebanyakan bakteri terletak anatara
6,5 7,5. Namunbeberapa speies dapat tumbuh dalam keadaan sangat masam, atau
sangat basa. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambhan. Sebagai
contoh, organisme fotoautotrofik yng menggunakan cahaya sebagai sumber
energinya. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotic
maupun tekanan idrostatik ( Pelczar, 2009 ).

8. Sebutkan dan jelaskan teknik-teknik preservasi mikroba yang digunakan


dalam pembuatan stok kultur!

Ada beberapa teknik penyimpanan kultur murni yaitu ( Rikhmawati, 2014 )


a. Pemindahan kulturke medium baru secara periodic
b. Penyimpanan pada suhu rendah dalam refrogetor atau dibekukan
c. Pengeringan, misaknya Iyofilisasi ( freez-drying).
Metode yang memenuhi kedua persyaratan teknik penyimpanan kultur murni
adalah iyofilisasi, yang digunakan oleh berbagai tempat penyimpanan kultur yang
paling sederhana adalah dengan pemindahan kultur ke medium barusecara periodic.
Tetapi metode ini beresiko tinggi karena pemindahan kultur yang berulangkali akan
mengakibatkan terjadinya perubahan genetic dan fisiologis kultur mikroorganisme.
Di smaping itu metode ini seringkali memakan waktu terutama bila jumlah besar
kultur harus dipindahkan. Kelemahan metode ini adalah waktu penyimpanan
relative pendek artinya memerlukan waktu simpan yang lebih panjang, missal 3-5
bulan, maka disarankan untuk menyimpan kultur dalam refrigetor pada temperature
0-5oC . Pada kondisi ini metabolism bakteri direduki secara mencolok
( Rikhmawati, 2014 )

Paraf Asisten

Nama:

DIAGRAM ALIR

Buatlah diagram alir cara melakukan Teknik Isolasi, Kultivasi, dan Preservasi
Kultur.

1.

Metode Streak Plate Goresan Kuadran


Cawan berisi media
Dibuat 4 sektor kuadran
Dipijarkan Ose
Diambil satu ose kultur dari agar miring ( asptis )
Digoreskan dipermukaan agar sector 1 secara zigzag

Dibuat goresan secara zigzag dari sector 2 ke 3 dan dari 3 ke 4


Cawan petri dibuat label
Diinkubasi pada suhu 30oC selama 48 jam
Hasil
2.

Teknik Spread Plate

Sampel
Diencerkan
Diambil suspense sampai 0,1 ml
Diinokulasi pada cawan
Diratakan dengan spreader ( aseptis )
Cawan petri diberi label
Diinkubasi suhu 30oC selama 48 jam
Hasil

3.

Teknik Pour Plate


Sampel
b. Medium agar miring
ke agar
tegak sampel 1 ml
Diambil
suspense
Diinokulasi pada cawan
Dituang medium agar steril bersuhu 40-50oC
Media yang masih cair dituangkan
Diputar mengikuti pola angka 8
Diinokulasi suhu 30oC selama 48 jam
Hasil
c. Medium agar miring ke medium
broth

4.

Transfer Kultur dari tabung reaks berisi kultur i ke tabung reaksi media
a. Medium agar miring ke medium agar miring
Sampel
Ose dipijarkan
Diambil satu ose dari tabung yang berisi media agar miring
Dinokulasikan pada tabung berisi agar miring secara zigzag dari bawah ke atas
Diinkubasi suhu 30oC selama 48 jam

5.

Teknik Preservasi Kriogenik

Hasil

Sampel
Ose dipijarkan
Diambil satu kultur dari tabung reaksi media agar miring
Diinokulasi pada tabung berisi agar tegak dengan menusuk tepat bagian dasar
media
Diinkubasi suhu 30oC
Hasil

Sampel
Ose dipijarkan
Diambil satu kultur dari tabung reaksi media agar miring
Diinokulasi pada tabung berisi media broth
Diinkubasi suhu 30oC
Hasil
Alat dan Bahan
Dibuat larutan stok gliserol konsentrasi 60 %
Dimasukkan 0,5 ml kultur dan 0,5 ml gliserol ke tube teril
Di Vortex
Dibekukan suhu -80oC
Hasil
DATA HASIL PENGAMATAN

1. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar


miring!

Echinulate

Tidak terbentuk

Asal Isolat : E. Coli


Keterangan : Bagian ujung agar, tumbuh kapang
Terkontaminasi , koloni bakteri tidak
Terbentuk Bercak bercak, namun
bukan koloni bakteri

Asal Isolat : S. Aureus


Keterangan : Tidak terkontaminasi
koloni mikroba
membentuk pola
zig - zag

2. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar


tegak!

Filiform

Asal Isolat : E. Coli


Keterangan : Tidak terkontaminasi,
Terbentuk koloni mikroba
Pada pola tusukan dengan
Bentuk filiform

Filiform

Asal Isolat : S. Aureus


Keterangan : Tidak terkontaminasi, terbentuk
koloni mikroba pada pola
tusukan dengan bentuk filiform.

3. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar cair!

a. Medium agar miring ke agar miring menggunakan media nutrient agar


a.1 Mikroorganisme E-Coli
Setelah diinkubasi pada suhu 30oC selama 48 jam, transfer kultur agar miring
ke agar miring terjadi kontaminasi. Terbukti adanya bercak-bercak hitam.
Kontaminasi terjadi karena terdapat mikrorganisme lain yang tumbuh ( anaerob ).
Menurut
literature, dalam percobaan ini Asal
mungkin
saja: ada
Asal Isolat
: E. Coli
Isolat
S. factor
Aureuskesalahan seperti
pada: Tidak
saat melakukan
isolasikoloni
sebisa mungkin,
agar jangan
berbicara
agar tidak ada
Keterangan
terkontaminasi,
Keterangan
: Tidak
terkontaminasi,
jamurBakteri
maupun
bakteri di
danpermukaan
diharapkan juga pada praktikan
supaya
lebih
teliti dan
terbentuk
koloni
bakteri
di dasar
didapatkan hasil yang maksimal dan pada saat tangan praktikan
Tabung tidak disterilkan
bisa mengakibatkan sampel dan alat terkontaminan ( Radji, 2012 ).
a.2 Mikroorganisme
S. Aureus
4. Bandingkan
pertumbuhan
kultur yang anda lakukan pada agar tegak, agar
miring, dan
media
cair.
Setelah diinkubasi pada suhu 30oC selama 48 jam , transfer kultur agar miring
a. E.ke
Coli
agar miring tidak terjadi kontaminasi. Terbukti adanya koloni mikroba yang
Tipemembentuk
media yangpola zig zag. Menurut literature
Pertumbuhan
Kontaminasi
S. Aureus termasuk
bakteri aerob
Nama Media
digunakan
(+)
atau
(-)
(+)
(-)
fakultatif sehingga dapat tumbuh meskipun dilingkungan yang atau
kekurangan
Agar Tegak
Nutrient Agar
+
oksigen ( Fatoni, 2006 ).
Agar Miring
Nutrient Agar
+
b. Medium agar miring ke agar tegak menggunakan media nutrient agar
Broth
Nutrient Broth
+
b.1
Mikroorganisme
E-Coli
b. E. Coli
o
Setelah
selama 48 jam, transfer
kultur yang
Tipe media
yang diinkubasi pada suhu 30 CPertumbuhan
Kontaminasi
Nama
Media
dilakukan tidak terjadi kontaminasi dan terbentuk
koloni dengan (+)
model
digunakan
(+) atau (-)
atau filiform.
(-)
Dikatakan
tidakterjadi
kontaminasi
karena
garis
putih
bekas
tusukan
jarum
ose
Agar Tegak
Nutrient Agar
+
mikroorganisme.
Hal ini
Agarterlihat
Miring jelas ditumbuhi
Nutrient
Agar
+ sesuai dengan literature,
- setelah
Broth48 jam diinkubasi Nutrient
+
terdapatBroth
pertumbuhan mikroorganisme
pada agar -yang telah
ditusuk sebelumnya. Bakteri yang tumbuh memiliki bentuk filiform dan
berdasarkan kebutuhan oksigennya adalah affuse ( Buckle, 2007 ).
b.2 Mikroorganisme S. Aureus
Setelah diinkubasi pada suhu 30oC selama 48 jam, transfer kultur yang
dilakukan pada media agar tegak terbentuk koloni secara filiform. Tidak terjadi
kontaminasi pada percobaan kali ini. Karena garis bekas tusukan dan jarum ose
terlihat jelas ditumbuhi mikroorganisme. Hal ini sesuai literature, setelah 48 jam
diinkubasi terdapat pertumbuhan mikroorganisme pada agar yang telah ditusuk
sebelumnya. Bakteri yang tumbuh memiliki bentuk filiform dan berdasarkan
kebutuhan oksigennya yaitu affuse ( Buckle, 2007 ).
c. Medium agar miring ke medium broth menggunakan media nutrient broth
c.1 Mikroorganisme E-Coli
Setelah diinkubasi pada suhu 30oC selama 48 jam, transfer kultur yang
dilakukan tidak terjadi kontaminasi. Karena terentuk endapan putih di dasar dan
dipermukaan tabung reaksi tempat media borth. Hal ini sesuai dengan literature
yang
media
cairketiga
( borthmedia
) penampakan
bakteri ditunjukkan
5. Bahas
datadidapatkan.
yang andaPada
peroleh
pada
yang digunakan!
dengan keruhnya warna yang terajdi pada media cair. Seperti halnya pada media
yang lain, pada media ini un kebanyakan penampakan pertumbuhan
mikrooranisme terjadi di atas permukaan media cair. Meskipun media ini
berbentuk cair, tetapi mikroorganisme tetap saja bergerak keatas untuk
mendapatkan oksigen lebih ( Mahatma, 2008 ).

c.2 Mikroorganisme S. Aureus


Setelah diinkubasi dengna suhu 30oC selama 48 jam, mikrooranisme yang di
transfer kultur pada media broth tidak mengalami kontaminasi. Karena terbentuk
endapan berwarna putih didasar tabung reaksi tempat media nutrient broth. Hal ini
sesuai dengan literature yang diperole, bahwa mikroorganisme ini tumbuh hampir
disemua media da nada juga yang menjulur seperti untaian benang halus. Warna
media berubah menjadi agak keruhdan ini menandakan bahwa bakteri tumbuh di
dalam media. Walaupun dimedia cair, bakteri ini akan tetap tumbuh. Karena
bersifat anaerob fakultatif, mikroorganisme ini tidak bergerak mendekati
permukaan media ( Mahatma, 2008 ).

6. Gambar bentuk sel-sel mikroba yang saudara isolasi pada cawan petri dengan
pensil warna!

Asal Isolat : E. Coli


Asal Isolat : S. Aureus
Keterangan : Sedikit terkontaminasi, koloni
Keterangan : Terkontaminasi, pada
Hanya terbentuk dikuadran I, pada
pola goresan tidak
Kuadaran II mulai sedikit. III dan IV
terbentuk koloni bakteri,
Sudah tidak ada terbentuk koloni
melainkan kapang
Bercak kuning di luar goresan
Merupakan kontaminasi
7.

Bandingkan pertumbuhan kultur yang anda lakukan pada agar tegak, agar
miring, dan media cair.

a.

E-Coli
Bentuk Pertumbuhan Koloni
Bentuk
Small
Elevasi
Spidle
Permukaan
Halus mengkilap
Margin
Undulate
b. S. Aureus
Bentuk Pertumbuhan Koloni
Bentuk
Medium
Elevasi
Irreguler
Permukaan
Halus mengkilap
Margin
Lobate

Keterangan
Terkontaminasi
Terkontaminasi
Terkontaminasi
Terkontaminasi
Keterangan
Terkontaminasi
Terkontaminasi
Terkontaminasi
Terkontaminasi

8. Pilihlah salah satu koloni yang terpisah, jelaskan ciri-ciri nya (lihat Gb.2.7 dan
2.8) dan identifikasi bakteri tersebut.

Jawab :
Pada metode streak plate goresan kuadran, tidak terdapat mikroorganisme E-Coli
dengan koloni yang terpisah. Karena, mikroorganisme tidak bisa tumbuh pada kuadran 3

dan 4. Setelah itu juga, terjadi kontaminasi pada metode ini. Sehinga praktikumyang
dilakukan kurang berhasil. Menurut literatur, hal ini mungkin dikarenakan kurang aseptis
diri dan lingkungan sebelum dilakukanna praktikum. Selain itu, mungkin karena
kontaminasi dari aktivitas praktikan ( Radji, 2012 ).
9.
Bahas data yang anda peroleh dilihat dari bentuk pertumbuhan koloninya.
Dari praktikum yang dilakukan pada metode goresan kuadran belum berhasil.
Kaena mikroorganisme E-Coli hanya tumbuh pada kuadran 1 dan 2. Selain itu,
mikroorganisme juga terkontaminasi. Sehingga mikroorganisme tidak tumbuh sesuai
yang diharapkan dan justru tumbuh di hamper seluruh permukaan agar. Begitu juga
dengan medium cawan petri yang berisi S. Aureu tumbuh pada kuadran 1 dan 2 saja.
Bahkan lebih banyak terkontaminasi. Menurut liteartur, metode gores kuadran bila
deilakukan dengan baik akan enghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap
koloni berasal dari satu sel. Metode gores cawan yang dilakukan dengan baik
kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan.
Namun untuk memperoleh hasil yang baikdiperlukan ketrampilan yang cukup
biasanya diperoleh dari pengalaman ( Buckle, 2007 )
10.Kesimpulan apakah yang dapat ditarik dari praktikum ini ?

Teknik isolasi adalah suatu usaha untuk munumbuhkan mikroba diluar


lingkungan alaminya. Sebaiknya teknik isolasi dilakukan dengan tngkat ketelitian
tinggi dan dituntut untuk bekerja secara aseptis agar bebas dari pengaruh kontaminasi
mikroorganisme lain. Karena mikroorganisme yang telah digunakan merupakan
mikroorganisme pathogen yang cukup sensitive.
Prinsip dan teknik isolasi adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba
lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat
dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan
membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya.

PEMBAHASA
N
1. Pada teknik isolasi, apa perbedaan koloni mikroba yang tumbuh pada masingmasing kuadran ? Mengapa demikian ? Jelaskan.

Pada prinsip teknik isolasi goresan kuadran merupakan pengenceran dimana


goresan pertama paling pekat kemudian menjadi semakin encer sampai pada
goresan keempat yang terletak di tengah tengah media. Bila metode ini dilakukan
dengan baik akan mengahasilkan terisolasinya mikroorganisme, dima setiap koloni
berasal dari satu sel. Jadi, jika pada sector 1 terdapat banyak mikroorganisme, maka
pada sector 4 akan terlihat mikroorganisme dengan kultur murni ( Suriawira, 205 )

2. Apa yang dimaksud dengan selective media ? Mengapa media tersebut


digunakan dalam teknik isolasi ? Jelaskan. Sebutkan contoh selective
media sebanyak 2.

Media Selektif adalah medium yang ditambahkan at kimia tertentu yang


bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain. Delektivitas dicapai
dalam beberapa cara, sebagai contoh organisme yang dapat memanfaatkan gula
yang diberikan mudah disaring dengan membuat gulka bahwa satu satunya
sumber karbon dalam medium. Di sisi lain, penghambatan selektif berupa jenis
mikroorganisme dapat dicapai dengan menambahkan pewarna, antibiotic, garam
atau inhibitor tertentu yang mempengaruhi metabolism atau system system enzim,
atau inhibitor tertentu yang mempengaruhi metabolisme atau system system
enzim organisme. Contoh media selektif misalnya : ( Atlas, 2006 ).
a. Agar garam manitol ( Atlas, 2006 ).
b. Media yang mengandung kalium tellurite ( Atlas, 2006 ).
3.

Apakah koloni yang terpisah pada teknik isolasi merupakan


pertumbuhan dari satu sel mikroba ? Apakah koloni tersebut dapat dikatakan
sebagai kultur murni ? Jelaskan.

Iya, karena prinsip teknik isolasi pengenceran dimana goresan pertama paling
pekat kemudian menjadi semakin encer sampai pada goresan ke empat yang terletak
ditengah-tengah media. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan mengahasilkan
terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni bersal dari satu sel ( Suriawira,
2005 )

Keunggulan :
a. Strea Plate adalah kita akan mendapatkan koloni tunggal, dikarenakan kultur
yang diambil dengan ose, digoreskan ke 4 kuadran. Sehingga di setiap kuadran
jumlah koloni
mikroba
yang Plate
tumbuhdan
akan
terus Plate
berkurang.
4. Apa keunggulan
metode
Streak
Spread
pada Selain
teknik itu,
isolasi
kontaminan
mudah
karenaDilution.
pada metode ini ose digoreskan dengan
mikroba?
Jelaskan
puladibedakan,
tentang Loop
pola tertentu, sehingga koloni yang tumbuh diluar pola tersebut dapat
dinyatakan sebagai kontaminan ( Atlas, 2006 ).
b. Spread Plate adalah pertumbuhan koloni atau penyebaran koloni dapat lebih
merata pada permukaan agar. Dan dapat memisahkan mikrooorganisme aerob
dengan mikroorganisme yang lain ( Atlas, 2006 ).
Loop Dilution adalah bertujuan untuk mmperkecil atau mengurangi jumlah mikroba
yang tersuspensi kecairan melalui pengenceran dengan perbandingan miroba, media
cair 1 : 9 ( Atlas, 2006 ).

5. Apa kegunaan penambahan gliserol pada proses preservasi kultur? Jelaskan.

Gliserol berfungsi dalam menjaga keseimbangan permeabilitas dan viabilitas


sel mikroba. Permeabilitas dijaga agar dinding sel mikroba tidak mengalami
kristalisasi dan rusak. Selain itu viabilitas juga harus dijaga agar mikroba dapat
berkembang biak dengan baik dikarenakan lingkungan sekitarnya masih terkontrol
dan tetap cocok untuk mikroba tersebut. Sehingga mikroba masih bisa hidup di
lingkungan tersebut ( Atlas, 2006 ).

Anilsa Prosedur

Alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah bunsen, cawan petri yang
distrelikan, cawan petri yang sudah diisi media dan sudah disterilkan, mikropipet, medium
agar tegak, medium agar miring, medium broth ( berupa nutrient broth ) yang telah
disterilakan , kertas payung, karet jarum ose bengkok dan lurus, sprider, mikrotip, mikrotub.
1. Inokulasi dari media miring ke agar miring
Untuk melakukan inokulasi dari media miring ke agar miring yaitu, aseptis diri dan
lingkungan. Kemudian, tabung reaksi yang berisi kultur dipegang pada tangan kiri dan tangan
kanan memegang jarum ose bengkok. Kemudian, jarum ose disterilisasi dengan cara panaskan
dalam api bunsen hingga jarum ose terlihat membara lalu dicelupkan dalam alkohol. Langkah
ini diulangi hingga tiga kali, agar jrum ose benar benar steril. Setelah itu kapas yang ada di
tabung reaksi yang berisi kultur dibuka menggunakan jari manis dan kelingking tangan kanan.
Lalu bibir atau mulut tabung diapanaskan mengunakan api bunsen yang bertujuan agar bakteri
yang ada di dalam tabung reaksi tidak terkontaminasi. Lalu di masukkan jarum ose dengan
pengambilan dari bawah ke atas dengan di atas permukaaan media saja. Sebelum tabung
reaksi yang ada kultur ditutup, mulut tabung di panaskan kembali. Dan di tutup dengan
mengunakan kapas tadi yang ada di tangan kanan. Lalu pada tabung reaksi yang berisi agar
miring dipegang dengan tangan kiri. Dan dibuka kapas menggunakan jari manis dan
kelingking tangan kanan lalu bibir tabung dipanaskan dengan api bunsen. Setela itu jarum ose
di masukkan dari bawah ke atas dan secara zig zag. Seteah itu mulut tabung dipaskan dan
ditutup dengan kapas yang ada di tangan kanan. Terakhir jarum ose do sterilkan dengan
pemanasan dengan api bunsen dan akohol sebanyak tiga kali. Dan tidak lupa memberi label
dan keterangannya.
2. Inokulasi dari media miring ke agar tegak
Untuk melakukan inokulasi dari media miring ke agar tegak yaitu, aseptis diri dan
lingkungan. Kemudian, tabung reaksi yang berisi kultur dipegang pada tangan kiri dan tangan
kanan memegang jarum ose lurus. Kemudian, jarum ose disterilisasi dengan cara panaskan
dalam api bunsen hingga jarum ose terlihat membara lalu dicelupkan dalam alkohol. Langkah
ini diulangi hingga tiga kali, agar jrum ose benar benar steril. Setelah itu kapas yang ada di
tabung reaksi yang berisi kultur dibuka menggunakan jari manis dan kelingking tangan kanan.
Lalu bibir atau mulut tabung diapanaskan mengunakan api bunsen yang bertujuan agar bakteri
yang ada di dalam tabung reaksi tidak terkontaminasi. Lalu di masukkan jarum ose dengan
pengambilan dari bawah ke atas dengan di atas permukaaan media saja. Sebelum tabung
reaksi yang ada kultur ditutup, mulut tabung di panaskan kembali. Dan di tutup dengan
mengunakan kapas tadi yang ada di tangan kanan. Lalu pada tabung reaksi yang berisi agar
tegak dipegang dengan tangan kiri. Dan dibuka kapas menggunakan jari manis dan kelingking
tangan kanan lalu bibir tabung dipanaskan dengan api bunsen. Setela itu jarum ose di
masukkan dengan ditusuk saja. Seteah itu mulut tabung dipaskan dan ditutup dengan kapas
yang ada di tangan kanan. Terakhir jarum ose do sterilkan dengan pemanasan dengan api
bunsen dan akohol sebanyak tiga kali. Dan tidak lupa memberi label dan keterangannya.
3. Inokulasi dari media miring ke broth
Untuk melakukan inokulasi dari media miring ke agar tegak yaitu, aseptis diri dan
lingkungan. Kemudian, tabung reaksi yang berisi kultur dipegang pada tangan kiri dan tangan
kanan memegang jarum ose bengkok. Kemudian, jarum ose disterilisasi dengan cara panaskan

dalam api bunsen hingga jarum ose terlihat membara lalu dicelupkan dalam alkohol. Langkah
ini diulangi hingga tiga kali, agar jrum ose benar benar steril. Setelah itu kapas yang ada di
tabung reaksi yang berisi kultur dibuka menggunakan jari manis dan kelingking tangan kanan.
Lalu bibir atau mulut tabung diapanaskan mengunakan api bunsen yang bertujuan agar bakteri
yang ada di dalam tabung reaksi tidak terkontaminasi. Lalu di masukkan jarum ose dengan
pengambilan dari bawah ke atas dengan di atas permukaaan media saja. Sebelum tabung
reaksi yang ada kultur ditutup, mulut tabung di panaskan kembali. Dan di tutup dengan
mengunakan kapas tadi yang ada di tangan kanan. Lalu pada tabung reaksi yang berisi
nutrient broth dipegang dengan tangan kiri. Dan dibuka kapas menggunakan jari manis dan
kelingking tangan kanan lalu bibir tabung dipanaskan dengan api bunsen. Setela itu jarum ose
di masukkan dengan digoyangkan seperti dikocok. Seteah itu mulut tabung dipaskan dan
ditutup dengan kapas yang ada di tangan kanan. Terakhir jarum ose do sterilkan dengan
pemanasan dengan api bunsen dan akohol sebanyak tiga kali. Dan tidak lupa memberi label
dan keterangannya.
4. Metode Streak goresan kuadran
Dilakukan aseptis diri dan lingkungan terlebih dahulu. Cawan petri yang sudah terisi
media, pada bagian bawahnya di bagi atau digambar menggunakan spidol gelap menjadi 4
kuadran. Dimana dituliskan no 1, 2, 3 dan 4. lalu jarum ose bengkok di sterilkan dengan
pemanasan api bunsen dan di ceupkan di alkohol diulang sebanyak tiga kali. Lalu diambil
kultur dari tabung reaksi yang berisi kultur di inokulasi ke cawan petri. Tetapi sebelumnya
cawan petri diluarnya dpanaskan menggunakan api bunsen setekah itu dimasukkan dengan
mengawali dari kuadran satu ke dua ke tiga dan ke kuadran 4. Untuk perpindahan dari
kuadran satu ke kuadran lainnya di anjurkan untuk di bakar dulu jarum osenya dan di ulangi
dari tengah goresan usahakan dalam penggoresan slalu dekat dengan api bunsen. Setelah
selesai cawan petri ditutup dan cawan petri di luar dipanaskan kembali dan jarum ose
disterilkan dengan api bunsen dan dicelupkan ke alkohol diulangi sebanyak tiga kali. Lalu
diberi label dan keterangannya.
5. Metode Pour Plate
Langkah pertama untuk metode ini adalah siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Alatalanya antara lain adalah cawan petri, tabung reaksi, pembakar Bunsen, mikropipet, mikrotip
dan korek api. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain adalah sampel (larutan yang
sudah diencerkan yaitu 10-4, 10-5 dan 10-6. Selanjutnya aseptis diri, lingkungan dan mikropipet
dengan alkohol 70% dan lap dengan tissue. Aseptis mikropipet dengan cara semprotkan
alkohol 70% lalu lap dengan tissue. Kemudian ambil larutan sampel sebanyak 1 ml dengan
cara, buka tutup kapas tabung reaksi, panaskan mulut tabung lalu ambil larutan menggunakan
mikropipet. Setelah itu bakar mulut tabung lagi dan tutup dengan kapas. Panaskan tepi-tepi
cawan petri buka tutupnya dan masukkan larutan sampel ke dalamnya dengan perlahan. Tutup
cawan petri lalu panaskan lagi tepi-tepinya. Kemudian buka tutup kapas pada Erlenmeyer
yang berisi agar cair yang akan digunakan sebagai media, bakar mulut Erlenmeyer bersamaan
dengan itu bakar tepi-tepi cawan petri buka tutupnya dan tuangkan agar cair ke dalamnya
seckupnya. Setelah itu tutup cawan petri lalu bakar tepi-tepinya dan juga bakar mulut tabung
Erlenmeyer. Kemudian itu tutup Erlenmeyer dengan tutup kapas. Selanjutnya aduk cawan
petri dengan cara goyangkan cawan petri dengan membentunk angka 8. Dilakukan hal yang
sama seperti di atas dengan mengganti sampel 10-5 dan 10-6 . Sebelum memulai selnajutnya
aseptis diri dan lingkungan terlebih dahulu. Kemudian inkubasikan alat pada suhu 30oC

selama 48 hari, amati perubahan yang terjadi dan catat hasilnya. Diusahakan untuk setiap
perlakuan didekatkan dengan api Bunsen untuk mengurangi adanya kontaminan dari udara.
6. Metode Spread Plate
Langkah pertama untuk metode ini adalah siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Alatalanya antara lain adalah cawan petri, tabung reaksi, pembakar Bunsen, mikropipet, mikrotip,
spreader, label, vortex dan korek api. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain adalah
kultur dan larutan pengencer. Kemudian lakukan aseptis lingkungan dan aseptis diri terlebih
dahulu lalu beri label pada 6 tabung reaksi yang berisi 9 ml larutan pengencer disetiap
tabungnya dengan nama 10-1 10-6. Aseptis mikropipet dengan cara semprotkan alkohol 70%
ke mikropipet kemudian lap dengan tissue lalu ambil kultur sebanyak 0,1 ml menggunakan
mikropipet, kemudian buka kapas yang menutupi tabung reaksi 10-1 bakar mulut tabung
dengan api Bunsen kemudian tuangkan kultur ke dalamnya, bakar ulut tabung reaksi lagi
kemudian tutup menggunakan kapas. Vortex tabung reaksi. Untuk pengenceran, selanjutnya
dilakukan hal yang sama untuk larutan pengencer 10 -1 ke 10-2, 10-2 ke 10-3 dan selanjutnya
sampai ke larutan pengencer terakhir 10-6. Pada metode spread plate larutan yang digunakan
hanyalah 10-4, 10-5. Dan 10-6. Ambil larutan sebanyak 0,1 ml pada larutan pengencer dan tuang
ke dalam cawan petri. Cara pengambilannya adalah pertama aseptis diri, lingkungan dan
mikropipet terlebih dahulu kemudian lap dengan tissue, lalu buka kapas pada tabung reaksi
dan bakar mulut tabung reaksi. Ambil larutan sebanyak 0,1 ml, bakar mulut tabung reaksi lagi
kemudian tutup dengan panas. Panaskan tepi-tepi cawan petri, buka dan tuangkan sampel ke
dalamnya lalu tutup dan panaskan tepi-tepinya lagi. Selanjutnya aseptis spreader dengan
tuangkan alkohol 70% pada tabung reaksi kosong celupkan spreader ke dalamnya kemudian
tiriskan spreader api Bunsen untuk mengurangi adanya kontaminan dari udara. sebentar dan
panaskan di atas api Bunsen. Dilakukan hal sama hingga 3 kali. Panaskan tepi-tepi cawan
petri lalu buka dan ratakan sampel menggunakan spreader dengan perlahan. Tutup cawan petri
dan panaskan tepi-tepinya. Dilakukan hal yang sama seperti di atas dengan mengganti sampel
dengan larutan yang sudah diencerkan 10-5 dan 10-6. Kemudian inkubasikan alat pada suhu
30oC selama 48 hari, amati perubahan yang terjadi dan catat hasilnya. Diusahakan untuk
setiap perlakuan didekatkan dengan api Bunsen.

7.

Preservasi Kariognik
Alat dan bahan yang digunakan dalam preservasi kariogenik anara lain mikrotub ,
mikrotip 0,5 ml mikropipet, gliserol 60% dan kultur. Pertama, kultur diambil menggunakan
mikopipet yang sudah distrilkan denagn dibilas mnggunakan alkohol dan tissu dan diambil
sebanyak 0,5 ml dan di masukkan ke dalam mikrotub. Setelah itu juga dimasukan gliserol
sebanyak 0,5 ml dan dimasukkan ke mikrotub. Lalu di fortex dan di bekukan. Penggunakan
gliserol 60% bertujuan agar penyimpanan tahan lama karena dengan konsentrasi tinggi
pengawetan lebih lama.

DAFTAR PUSTAKA

Jarvis, Basil. 2008. Statistical Aspects of the Mikrobiological Examination of Foods. London :
Academic Press
Parija, Subhash Chandra. 2009. Textbook of Mikrobiology & Immunology. Haryana : Elsevier
Pelczar, Michael J. 2009. Dasar dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia
Radji, Maksum. Harmita. 2006. Analisis Hayati. Jakarta : EGC
Rachmawati, Anna. 2014. Praktik Layanan Kegiatan Praktikum Biologi.Yogyakarta : UNY
Rukhminifah, Santi. 2013. Teknik Isolasi Bakteri. Bandung : Universitas Padjajaran
Thomas, Margie, Mardiah, et al. 2011. Teknik Isolasi dan Kultur. Medan : Universitas
Sumatera Utara
Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Press
DAFTAR PUSTAKA
TAMBAHAN

Atlas, Ronald M. 2006. Handbook of Microbiological Media for the Examinition of food 2end
edition. Boca Ration : Taylor and Francis group
Buckle. 2007. Mikrobiologi Terapan. Yogyakarta : Universitas Gajah mada
Mahatmi, Hapsari, dkk. 2008. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Volumer 1 Fakultas
Kedokteran Hewan. Denpasar : Universitas Udayana
Radji, Maksum. 2012. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi. Depok : Universitas
Indonesia
Suriawira, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Papas Sinar Sinanti

Komponen Penilaian LKP:

Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

Nilai

Nilai yang

Maksim

diperoleh

al
10
10
70
10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
Kompetensi
Bisa
1.
Mampu melakukan teknik isolasi pada media

Tidak

agar ke broth dan sebailknya secara aseptis


dan benar :

Aseptis ose dan mulut tabung / cawan

Membuka

sumbatan

tabung

erlenmeyer secara aseptis dan benar

2.

Menggores agar dengan teknik yang

benar
Mampu melakukan transfer kultur dengan
goresan kuadran :

3.

Menggambar kuadran pada cawan

Aseptis ose dan mulut tabung / cawan

Mempijarkan ose setiap kali berpindah

kuadran
Mampu melakukan teknik

preservasi untuk

membuat stok kultur

Menghitung

kebutuhan

gliserol

dan

kultur

Menggunakan microtube secara aseptis


dan benar

Menggunakan pipet mikro secara aseptis


dan benar

Menentukan kondisi penyimpanan kultur


dengan tepat
TOTAL

10

LEMBAR KERJA
PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM
TEKNIK ENUMERASI MIKROBA

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

:
:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

Tanggal
Praktikum
Praktikum 3.1

25 Maret 2015
TEKNIK SAMPLING

PRELAB
1. Bagaimana cara pengambilan sampel sayuran seperti bayam, sawi yang akan

dianalisis total E.coli? Jelaskan tahapannya!

Sampel sayuran dicuci atau dibilas terlebih dahulu diambil 5 gram, lalu
dipotong, kemudian sampel dimasukkan ke dalam larutan pengencer. Kemudian
diambil 45 ml untuk menganalisis E-Coli kemudian ditempatkan pada media agar
cawan dengan metode tuang lalu diinkubasi 2 hari ( Thomas, 2011 ).
2. Jelaskan peranan teknik sampling dalam pengujian mikrobiologi? Jelaskan!

Peran :
1. Teknik sampling memiliki peran yang penting karena digunakan dalam menguji
keberadaan mikroba pada suatu sampel atau bahan ( Randu, 2009 ).
Untuk mendapatkan hasil yang mewakili dari bahan yang diambil (Sari, 2008).
2. Untuk mendapatkan keakuratan dalam penghitungan mikroba ( Samuel, 2007 ).
3. Menghemat waktu dan biaya pengamatan ( Randu, 2009 ).
3. Jelaskan perbedaan tahapan pengambilan sampel cair dan padat untuk

pengujian mikrobiologi? Jelaskan tahapannya !

Sampel Cair

Sampel padat

Sebelum diambil, sampel cair harus


dihogenkan ( diaduk )
Sampel diambil sebanyak 100 500 ml
Ditempatkan pada botol steril, ditulis
tanggal pengambilan nama sampel dan
lokasi

Digunakan pisau, sendok, atau alat lain


untuk pengambilan
Sampel diambil kira kira 100 gram

Dibawa ke laboratorium

Masukkan dalam tempat yang tersedia


secara aseptis dan tertutup rapat
Ditulis tanggal pengambilan, nama
sampel, dan lokasi
Dibawa kelaboratorium

( Jarvis, 2008 )
Paraf Asisten

Nama:

DIAGRAM ALIR

1.

Pengambilan Sampel Padat


Bahan
Diambil dengan menggunakan pisau, sendok, atau
alat lain agar lebih mudah

Diambil pada permukaan bagian dalam, jika makanan berupa daging


Diaamti dari keempat yang disediakan secarav septis dan tutup rapat
Dibawa kelaboratorium

Hasil
2.

Pengambilan Sampel Cair


Sampel cair
Diambil 100-500 ml
Ditempatkan pada botol steril
Dibawa ke laboratorium
Hasil

3.

Pengambilan Sampel Permukaan


Sampel permukaan
Di surface slices, cuci dan bilas
Di swab ( usap )
Ditempel, ke media
Dibawa ke laboratorium
Impession plates

4.

Pengambilan Sampel Anaerob


Daging
Dimasukkan sampel pada kantong anaerob

Pengambilan sampel menggunakan wool swab dan kemudian ditempatkan pada botol
Sebelum digunakan wool swab dibasahi dengan media
5.

Transportasi dan Penyimpanan Sampel


Sampel
Dipelihara sampel hingga dilakukan tes laboratorium
Jenis makanan yang dibekukan harus disimpan dalam freezer dengan menggunakan
CO2 padat ( solid carbon dioxide )
Jenis makanan yang tidak dibekukan disimpan dalam refrigerator 4oC
Hasil

6.

Penanganan sampel di Laboratorium


Dicatat riwayat sampling datransportasi serta penyimpanan
Diberi label, tanggal penerimaan, nama, jenis dan asal sampel
Diperiksa sampel sesuai prosedur Mikrobiologi

PEMBAHASA
N
1. Sebutkan beberapa jenis teknik sampling! Jelaskan pula masing-masing
peranannya!

Menurut ( Samuel, 2008) :


1. Teknik sampling sampel padat merupakan sampel yang berupa padat yang
biasanya di letakkan di freezer untuk dibekukan.
2. Teknik sampling sampel cair merupakan sampel cair ditambahkan suatu
pengencer dengan perbandingan tertentu. Dengan pengambilan sampel dengan
pipet steril.
3. Sampel sampling permukaan merupakan Pengambilan sampel dengan swab atau
oun adhesive tape.
4. Sampel udara merupakan digunakan untuk mengukur pencemaran lingkungan.
Namun tidak kuantitatif
2. Apa saja indicator yang harus diperhatikan ketika melakukan teknik sampling
untuk pengujian mikrobiologi ? Jelaskan!

Menurut (Gabriel, 2009) adalah


1. Pengambilan sampling dilakukan secara aseptis
2. Peralatan yang digunakan untuk mengambil sampel harus steril
3. Praktikan harus steril, dengan menyemprotkan alcohol 70%
4. Sampel yang akan diambil dapat mewakili atau tidak
5. Penyimpanan sampel harus dilakukan secara aseptis dan harus dijauhkan dari halhal yang dapat mengoptimalkan
6. Suhu penyimpanan dari sampel yang bisa mempengaruhi tumbuh atau tidaknya
mikroba sampel
7. Penyimpanan harus sesuai
3. Mengapa pengambilan sampel untuk uji mikrobiologi dilakukan dengan
aseptis?

Agar tidak terjadi kontaminasi yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari uji
mikroba tersebut, sehingga hasil yang didapat adalah data yang mendekati aurat. Jadi
uji mikrobiologi ini dikakukan dengan cara yang tepat ( aseptis ), dapat mencerminkan
keadaan sebenarnya dari suatu bahan atau kulltur murni (Ronaldo, 2007)
4. Apa perbedaan teknik sampling metode swab dan metode adhesive surface?
Jelaskan!

1.

2.

Metode swab adalah teknik sampling yang dilakukan dengan cara memakai
batang oles ( yang sudah dicelupkan kedalam larutan pengencer pepton ) yang
selanjutnya dioleskan dipermukaan alat pengolahan atau bahan pangan. Untuk
metode adhesive surface terlebih dahulu sampel didekatkan dengan kuat diatas
permukaan cawan petri yang berisi media sukrosa, gliserol yang sifatnya stabil
supaya dapat diketahui mikroba yang ada pada sampel (Ronaldo, 2007).
Pada metode swab, dilakukan kontak langsung dengan samp[el, yaitu dengan
memakai batang oles yang sebelumnya diberi larutan pengencer pepton, lalu

suspense tersebut dimasukkan kemedia. Sedangkan pada adhesive surface sampel


mengalami kontak langsung dengan media yang isinya agar serta bisa juga dioakai
medium sampel yang koyak (Ronaldo, 2007).
5. Jelaskan teknik sampling untuk mendeteksi mikroorganisme pada produk es
krim dan nugget ikan? Jelaskan tipe mikroorganisme yang dapat tumbuh
pada produk tersebut!

a. Es krim ( sampel cair ) menggunakan teknik sampling sampel cair :;


1. Es krim yang semi padat tersebut dihomogenkan menggunakan fortex
2. Sampel Es krim diambil 10-15 ml menggunakan pipet ukur
3. Diencerkan sampai 10-3
4. Diambil 1 ml dari tiap sampel dan di masukkan pada PCA
5. Diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 37oC
Bakteri yang tumbuh antara lain E-Coli dan salmonella sp (Tristan, 2009)
b. Nuuget 9=( sampel padat ) menggunakan teknik sampling sampel padat :
1. Sampel diambil sebanyak 5 gram
2. Kemudian dihaluskan sampai benar-benar halus
3. Dilarutkan pada sampel pepton ( pengenceran 10-1)
4. Dilakukan pengenceran 10-5 seperti praktikum bakso
5. Untuk pengenceran terakhir yaitu 10-3, 10-4, 10-5 diinokalikan dengan PCA dan
VRBA
6. Diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 37oC
Bakteri yang dapat tumbuh adalah psikrofil, kapang (Tristan,2009)

6. Apa saja yang harus diperhatikan ketika melakukan sampling untuk bahan
yang mengandung mikroba 6 indicator? Jelaskan!

1. Bahan yang mengandung mikroba anaerob tidak boleh dipaparkan pada oksigen
(Randu, 2010).
2. Untuk menjaga lingkungan tetap anaerob, sampel harus dimasukkan kedalam kantong
anaerob (Randu, 2010).
3. Pengambilan sampel menggunakan wool swap dan kemudian ditempatkan kedalm
botol, sebelum digunakan wool swap dibasahi terlebih dahulu dengan media (Randu,
2010).
7. Bagaimana teknik dan prosedur sampling yang dilakukan jika saudara ingin
mengisolasi bakteri termofilik dari lumpur lapindo di Sidoarjo?

Menurut (Ramuel , 2010) :


1. Sampel diambil dari bagian dasar dan permukaan air atau lumpyr lapindo
menggunakan botol winkles steril
2. Sampel dihomogenosasi
3. Sampel diambil sebanyak 100-500 ml
4. Ditempatkan dibotol steril yang dapat mempertahankan suhu 55oC
5. Dibawa ke lab

8. Jelaskan kelebihan dan kekurangan teknik sampling metode cuci dan metode
bilas!

Menurut (Gabriel, 2009) adalah


1. Metode cuci kelebihannya dapat digunakan untuk alat yang memiliki permukaan
tidak rata, jenis mikroba dan jumlahnya lebih lengkap, muda digunakan dan hasil
pengujian mikrobannya mencerminkan mikroba yang sesungguhnya.
Kekurangannya adalah larutan pengencer yang dibutuhkan banyak, tidak dapatv
digunakan dibahan pangan.
2. Metode billas adalah kelebihannya yaitu mudah menjangkau seluruh bangun
permukaan, dapat digunakan pada alat yang permukannya rata. Kelemahannya
adalah tidak dapat digunakan pada bahan makanan, kurang efeltif dan hanya bisa
untuk sampelm padat.
9. Apakah metode pengemasan dan kondisi penyimpanan mempengaruhi tipe
mikroorganisme bahan pangan yang akan dianalisis? Jelaskan alasan anda!

Menurut (Gabriel, 2009) adalah


Berpengaruh, karena tiap mikroba memiliki spesifitas lingkungan yang membuat
mikroba tersebut dapat tumbuh optimal.
1. Penyimpanan disimpan disuhu 10-40oC, maka akan tumbuh mikroba. Ketika
disimpan disuhu 35-55oC, akan tumbuh mikroba termofil, dll.
2. Pengemasan ketika dilakukan metode penegemasan yang memungkinkan ada
nya kontakl O2 tanpa pengemasan yang memungkinkan adanya kontak O2 atau
tanpa pengemasan maka akan tumbuh bakteri tipe aerob dan anaerob fakultatif
Komponen Penilaian LKP:
Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

Nilai
Maksim
al
10
10
70
10
100

Nilai yang
diperoleh

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
Kompetensi
Bisa
Tidak
1.
Mampu
menyebutkan
dan
menjelaskan beberapa jenis teknik
sampling
2.
Mampu
mempraktekkan
teknik
sampling untuk bahan yang akan
dianalisis kadar mikroorganismenya :
Melakukan aseptis diri, alat, dan
lingkungan kerja
Mengambil sampel bahan padat
Mengambil sampel bahan cair
Mengambil sampel permukaan
ikan/daging
Mengambil sampel telur
Mengambil sampel sayur
Mengambil sampel turunan susu
3.
Mampu menganalisis kelebihan dan
kekurangan beberapa jenis teknik
sampling
4.
Mengetahui cara penanganan dan
transportasi
sampel
yang
teah
diambil
TOTAL
5

KESIMPULAN

Uji sampling pada praktikum ini adalah perlakuan pertama pada suhu segar, UHT dan
basi sebelum diperkirakan jumlah mikrobanya dengan metilen blue. Dan pengamtan harus
lebih teliti dalam mengamati perubahan warna

DAFTAR PUSTAKA

Jarvis, Basil. 2008. Statistical Aspects of the Mikrobiological Examination of Foods. London :
Academic Press
Randu, Sudarmanto. 2009. Teknik sampling Mikrobiologi Makanan. Surabaya : Universitas
Surabaya
Samuel, Hengki. 2007. Pengertian Teknik Sampling. Jakarta : Erlangga
Sari, Rahmawati. 2008. Peran Teknik Sampling. Surabaya : Yudistira
Thomas, Margie, Mardiah, et al. 2011. Teknik Isolasi dan Kultur. Medan : Universitas
Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
TAMBAHAN
Samuel, Radi. 2008. Teknik samplinh. Surabaya : Erla
ngga

Tanggal
Praktikum
Praktikum 3.2

HITUNGAN MPN (Most Probable Number)

PRELAB
1. Jelaskan prinsip metode hitungan MPN !

2. Apakah fungsi media berikut yang digunakan dalam pengujian MPN ?


(a). Lactose Broth

(b). EMB agar

(c). BGLBB

3. Apa yang dimaksud dengan tabung positif dan tabung negatif pada metode
MPN ? Jelaskan

Paraf Asisten

Nama:

55

DIAGRAM ALIR

56

DATA HASIL PENGAMATAN DAN


PEMBAHASAN
1. Tuliskan hasil pengamatan anda dari presumptive test seri 3 tabung
Sampel

Pengencer
an

Jumlah
tabung
positif

Kombina
si

Nilai
MPN

MPN
count/ml

Keteranga
n
Data
Primer
Data
Kelompok
...............
Data
Kelompok
................

2. Tuliskan cara perhitungan anda (Data Primer) untuk mendapatkan nilai MPN
count/ml.

3. Bahas data yang Anda peroleh dari sampel yang diuji.

57

4. Bandingkan dan bahas data yang anda peroleh dengan data dua kelompok
lainnya yang menggunakan sampel yang berbeda.

5. Gambarkan hasil pengamatan anda pada confirmed test menggunakan


EMBA (gunakan pensil warna).

58

Sampel :
Keterangan :

Sampel :
Keterangan :

6. Bandingkan dan bahas data yang anda peroleh pada poin 5, dengan salah
satu kelompok lainnya.

7. Apa kesimpulan dari praktikum ini?

59

8. Mengapa bakteri koliform digunakan sebagai 60ndicator sanitasi air


yang dapat dikonsumsi manusia ?

9. Bakteri koliform dapat dibedakan menjadi berapa jenis ? berikan


contohnya masing-masing 2. Dan bagaimana ciri-ciri kenampakannya
masing-masing pada saat ditumbuhkan pada EMBA ?

10.Apakah metode MPN bisa digunakan untuk mengetahui jumlah koliform


pada sampel padat?Jelaskan

60

Komponen Penilaian LKP :


Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

Nilai
Maksim
al
10
10
70

Nilai yang
diperoleh

10
100

61

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No.

Kompetensi

1.

Melakukan uji penduga I :


Melakukan aseptis diri, alat dan
lingkungan kerja
Mampu mengambil sampel air dengan
pipet mikro
Mengetahui seri pengenceran yang
sesuai
Melakukan pengenceran dalam medium
LB sesuai dengan seri pengenceran
sampelnya
Menginkubasikan semua tabung pada
suhu 30 32C selama 2 hari
TOTAL
Melakukan uji penduga II :
Mengetahui syarat tabung dikatakan
bernilai positif
Mengetahui mekanisme terbentuknya
gas dalam tabung Durham dan atau
kekeruhan pada media LB
Mampu menentukan tabung positif
Mampu menentukan nilai kombinasi
MPN
Mampu menghitung MPN count dari
sampelnya
TOTAL
Melakukan uji penguat :
Melakukan aseptis diri, alat dan
lingkungan kerja
Memilih tabung yang paling positif untuk
dilanjutkan ke uji penguat
Menginokulasikan hasil tabung positif
pada agar cawan EMB dengan cara
goresan kuadran.
Mengikubasikan pada suhu 35C selama
24 jam
Menentukan jenis koloni yang tumbuh
berdasarkan pengamatan
TOTAL

2.

3.

Bisa

Tidak

62

Tanggal
Praktikum
Praktikum 3.3

25 Maret 2015
HITUNGAN CAWAN

PRELAB
1. Jelaskan prinsip dari metode hitungan cawan !

Prinsipnya adalah jika ada sel mikroba yang masih hidup ditambahkan pada
medium agar, maka sel mikroba akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat
dilihat langsung dengan mata telanjang tanpa harus dengan menggunakan mikroskop
dengan menggunakan metode SPG ( Keth, 2009 ).
2. Apakah metode hitungan cawan dapat menghitung jumlah sel? Menurut
anda mengapa demikian? Jelaskan!

Tidak bisa, karena medium agar akan digunakan mikroorganisme untuk


berkembang biak dan membentuk koloni, diaman metode hitungan cawan hanya dapat
digunakan untuk menghitung sel mikroba yang masih hidup saja sedangkan yang mati
tidak akan terhitung. Jadi yang terhitung bukan jumlah seluruh sel namun jumlah sel
yang hidup saja ( Witehead, 2005 ).
3. Apakah yang dimaksud dengan metode pour plate dan spread plate
pada hitungan cawan? Jelaskan!

1. Metode Pour Plate


Metode dimana kultur dimasukkan kewadah terlebih dahulu sebanyak 1 ml baru
medianya, yakni sampel yang sudah diencerkan dimasukkan kecawan petri lalu
ditambahkan agar cair steril yang sudah diinginkan ( Suhu 47 50 oC ) sebanyak 1520 ml dan digoyang agar menyebar dan merata ( Ridwan, 2008 ).
2. Metode Spread Plate
Metode yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba secara merata, yakni media
terlebih dahulu dibuat dari medium agar pada cawan petri, kemudian 0,1 ml kultur
yang telah diambil menggunakan mikropipet kemudian disemprotkan kedalam
media dan diratakan menggunakan sprider ( Randhu, 2007 ).
4. Jelaskan prinsip pengujian biru metilen pada produk susu!

Penambahan metilen blue pada sejumlah produk suhu yang telah diukur
sebelumnya, diaman setelah dilakukan penambahan metilen blue, waktu yang
diperlukan untuk pewarnaan biru mereduksi menjadi senyawa tak berwarna merupakan
ukuran jumlah bakteri yang terdapat pada suhu. Maksudnya semakin tinggi jumlah
bakteri dalam susu, semakin cepat terjadinya perubahan warna ( Samuel, 2009 )
Paraf Asisten

Nama:

63

DIAGRAM ALIR
1. Sampel daging / ikan
Mikroba pada permukaan daging / ikan
Diambil dengan menggunakan swab steril dengan cara mengoleskan batang pengoles
kekiri dan kekanan masing masing sebanyak 3 kali pada luas permukaan 4 cm2
Batang pengoles yang telah dioleskan tersebut kemudian direndam didalam air
pengencer steril ( destilasi streril )

Batang diputar putar dan diperas pada dinding tabung


Suspensi olesan dibuat pengenceran sampai 10-7 (pada daing) dan sampai 10-5 (pada
ikan air tawar)
Dilakukan pemupukan kedalam cawan petri dengan media agar streril
Diinkubasi suhu 25oC selama 2 hari
Dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada media
Hasil

64

2. Sampel sayuran
Sayuran
Dipotong secara aseptis seluas 2 x 2,5 cm atau 2 x 1 x 2,5 cm
Dicelupkan potongan tersebut kedalam labu erlenmeyer berisi 25 ml larutan pengencer
Dikocok sebanyak 25 kali
Dilakukan pengenceran 10-1 hingga 10-5
Dilakukan pemupukan surpensi sebanyak 1 ml atau 2 ml masing masing pada 2 cawan
Dituangkan media agar pada masing masing cawan, biarkan memadat dan diinkubasi
pada posisi terbalik pada suhu 30-32oC selama 2 hari
Dihitung koloni yang tumbuh dan dihitung jumlah koloni mikroba per cm2 permukaan
sayuran
Hasil
3. Sampel telur
Telur
Dicuci, disabun, dan disemprot dengan alkohol
Difiksasi
Dilubangi dengan ujung yang runcing, kemudian dikeluarkan isinya
Ditempatkan dalam Erlenmeyer dan dihomogenkan
Diambil 1 ml untuk kemudian dicampur dengan lakukan pengencer sebanyak 9 ml
Dilakukan pengencer 10-1 hingga 10-7
Diambil amsing masing 1 ml pada 3 pengencer terakhir dan tanam pada media agar
cawan steril
Diinkubasi selama 2 hari pada suhu 25oC
Hasil

65

4. Sampel padat
Sampel padat
Dipotong secara aseptis sebanyak 5 gram pada bagian berbeda
Dihancurkan
Diencerkan dengan tingkat pengenceran tertentu dalam tabung reaksi yang yang berisi
9 ml pepton
Diambil masing masing 1 ml pada 3 pengenceran terakhir dan ditanam pada media
agar steril
Diinkubasi pada suhu 25oC selama 2 hari
Dihitung jumlah koloni
Hasil
5. Sampel cair ( susu, air mineral, dll )
Sampel cair
Dipipet 1 ml untuk pengenceran awal 1 : 10 ( 10-1 )
Dimasukkan dalam tabung reaksi berisi 9 ml aquades
Dikocok dengan vortex
Dibuat pengenceran higga 10-5 ( air mineral ) dan 10-7 ( susu dan produk olahannya )
Diambil masing masing 1 ml pada 3 pengenceran terakhir dan ditanam pada media
agar steril
Diinkubasi selama 2 hari pada suhu 30 32oC
Dihitung koloni yang tumbuh
Hasil

66

DATA HASIL
PENGAMATAN
1. Tuliskan data pengamatan yang diperoleh dari praktikum hitungan cawan

Jumlah koloni pada media *)


Sampel
Bahan Pangan

Pengenceran
10
10-4
10-5

Jumlah
koloni

Pengenceran
10
10-4
10-5

Jumlah
koloni

NA

325

58

16

5,8 X 105

35

16

3,5 X 105

SSA

31

19

3,1 X 104

49

15

19

4,9 X 106

-3

Ikan

-3

NA

Kubis

MRSA
13

1,3 x 104

34

3,4 x 105

VRBA

*)

Jumlah
koloni

42

4,2 x 103

27

PCA

Baks
o

Pengenceran
10
10-3
10-4
-2

672
26

Tuliskan jumlah mikroba yang terdapat pada petridish

67

488
812

2,7 x 103

Pengenceran
10
10-3
10-4
-2

8
80

10
267

Jumlah
koloni

21
51

8,0 x 103
8,0 x 104

2. Tuliskan tahapan dan cara perhitungan anda untuk mendapatkan jumlah


koloni pada masing-masing sampel !

2.1

Analisa prosedur

a.

Sampel ikan
Sebelum memulai praktikum hendaknya terlebih dahulu melakukan aseptis diri,
lingkungan dan alat yang akan dilakukan selama praktikum, untuk mengcegah adanya
kontamisi selama praktikum. Pada percobaan menggunakan sampel ikan ini adalah
pertama menyiapkan alat dan bahan. Setelah alat dan bahan sudah siap maka langkah
selanjutnya adalah batang swap yang sudah disterilisasi dengan pepton dioleskan pada
tiga bagian yang berbeda pada sampel ikan. Selanjutnya dimasukkan kedalam pepton
tadi dan digojog serta diperas-peras pada dinding tabung, supaya bakteri yang
menempel pada swab jatuh pada larutan pepton tersebut. Selanjutnya batang swab
dibuang dan tabung yang berisi pepton tadi di vortexs. Selanjutnya diencerkan hingga
pengenceran 10-7. Selanjutnya pada tiga pengenceran terakhir ditanam pada media NA
dan SSA, sebelum menanam mikroba tersebut dilakukan vorteks terlebih dahulu supaya
bakteri tercampur merata. Pada percobaan sampel ini digunakan media NA karena
media ini cocok untuk jenis sampel yang mengandung protein dan bersifat umum.
Sedangkan media SSA bersifat selektif dalam artian suatu jenis mikroba tumbuh dengan
pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat dan dapat mengidentifikasi bakteri
Salmonella dan Shigella. Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 28 0C.
Selanjutnya dihitung jumlah koloni per ml atau SPC dengan menggunakan rumus yang
sudah ditentukan.
b. Sampel Kubis
Pada percobaan menggunakan sampel kubis, pertama menyiapkan alat dan
bahan antara lain cawan petri yang sudah terisi media NA dan MRSA, 4 tabung reaksi
yang sudah berisi pepton 9 ml yang sudah disterilisasi, mikrotip ukuran 1 ml dan 0,1 ml,
mikro pipet, spreader, bunsen, korek api dan kubis. Sebelum melakukan percobaan
hendaknya melakukan aseptis diri dan lingkungan dan alat-alat yang digunakan, untuk
mencegah masuknya kontaminan pada sampel. Selanjutnya kubis dipotong dengan
ukuran 2 x 2.5 cm. Selanjutnya dimasukkan kedalam pepton steril 25 ml dan diadukaduk hingga seluruh bagian kubis tercelup sempurna, sehingga mikroba yang ada pada
kubis dapat tersebar dalam pepton. Selanjutnya diencerkan hingga pengenceran 10-5
kemudian di vorteks. Selanjutnya tiga pengenceran terakhir ditanam pada media NA dan
MRSA dengan metode spread plate dan pour plate, setiap akan ditanam, harus di vorteks
terlebih dahulu supaya mikroba dapat tersebar merata. Dalam sampel ini menggunakan
media NA dan MRSA karena media NA digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari
mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof.
Sedangkan media MRSA digunakan dapat menumbuhkan dan mengisolasi jenis
Lactobacillus dari seluruh jenis bahan dan bersifat diferensial dalam artian suatu jenis
mikroba tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat.
Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 300C. Kemudian dihitung jumlah
koloni per ml atau SPC dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan.
c. Sampel bakso

68

Sebelum memulai praktikum hendaknya terlebih dahulu melakukan aseptis diri,


lingkungan dan alat yang akan dilakukan selama praktikum. Pada percobaan
menggunakan sampel ikan ini adalah pertama menyiapkan alat dan bahan. Setelah alat
dan bahan siap maka langkah selanjutnya adalah mengambil sampel padat sebanyak 5
gram dengan pisau atau alat yang memudahkan. Selanjutnya dilarutkan pada 45 ml
pepton dan kemudian dimasukkan plastik. Selanjutnya sampel distomacher supaya
dapat hancur. Selanjutnya sampel yang sudah hancur diambil 1 ml, untuk memudahkan
pengambilan maka mikrotip dipotong miring. Selanjutnya diencerkan hingga
pengenceran 10-5. Selanjutnya di platting dengan media PCA dan VRBA, setiap akan
ditanam harus di vorteks terlebih dahulu supaya mikroba dapat menyebar. Pada
percobaan ini dilakukan dengan media PCA karena PCA digunakan sebagai medium
untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan dan bersifat umum sehingga
semua mikroba dapat tumbuh. Media VRBA digunakan karena media VRBA bersifat
selektif hanya bakteri tertentu saja yang dapat tumbuh. Selanjutnya diinkubasi selama
48 jam dengan suhu 280C. Selanjutnya dihitung jumlah koloni per ml atau SPC dengan
menggunakan rumus yang sudah ditentukan.
2.2 Cara perhitungan
a. Sampel ikan
Media NA pada metode pour plate
Pengenceran 10-3 = 325
Pengenceran 10-4 = 58
Pengenceran 10-5 = 16

Media SSA pada metode pour plate


Pengenceran 10-3 = 31
Pengenceran 10-4 = 19
Pengenceran 10-5 = 0

Media SSA pada metode spread plate


Pengenceran 10-3 = 49
Pengenceran 10-4 = 15
Pengenceran 10-5 = 19

69

Media NA pada metode spread plate


Pengenceran 10-3 = 35
Pengenceran 10-4 = 16
Pengenceran 10-5 = 7

b. Sampel kubis
Media NA pada metode pour plate
Pengenceran 10-2 = 42
Pengenceran 10-3 = 672
Pengenceran 10-4 = 488

Media MRSA pada metode pour plate


Pengenceran 10-2 = 27
Pengenceran 10-3 = 26
Pengenceran 10-4 = 812

Media NA pada Spread plate


Pengenceran 10-2 = 8
Pengenceran 10-3 = 10
Pengenceran 10-4 = 21

Media MRSA pada spread plate


Pengenceran 10-2 = 80
Pengenceran 10-3 = 267
Pengenceran 10-4 = 51
b

70

c. Sampel bakso
Media PCA pada metode pour plate
Pengenceran 10-3 = 13
Pengenceran 10-4 = 3
Pengenceran 10-5 = 0

Media VRBA pada metode pour plate ( Tidak Ada )


Media PCA pada metode spread plate
Pengenceran 10-3 = 34
Pengenceran 10-4 = 1
Pengenceran 10-5 = 3

Media VRBA pada metode spread plate ( Tidak Ada )


Pada data hasil percobaan diatas, berdasarkan literatur semakin tinggi
pengenceran maka jumlah koloni semakin sedikit. Namun pada percobaan ini jumlah
koloni tiap pengenceran bervariasi dan mayoritas menyimpang dari literatur. Kesalahan
dalam praktkum kali ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya human error dan
kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh.
Pada sampel yang menggunakan metode pour plate yang dapat tumbuh adalah jenis
bakteri anaerob, sedangkan pada mtode spread plate, yang dapat tumbuh adalah jenis
bakteri aerob. Setiap media yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda-beda
tergantung pada jenis sampel yang digunakan. Media NA dan PCA merupakan media
yang bersifat universal sehingga bisa menumbuhkan semua jenis mikroba yang ada
pada sampel misalnya Staphylococcus aureus yang tumbuh pada media PCA dan
E.coli. Media MRSA merupakan media yang digunakan pada sampel kubis dan bersifat
selektif diferensial dalam artian hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh seperti
bakteri asam laktat dan bakteri jenis Lactobacillus. Media SSA digunakan dalam
sampel ikan karena media ini cocok untuk jenis sampel protein, bersifat selektif
diferensial sehingga hanya menumbuhkan bakteri jenis salmonella dan shigella yang
71

ada protein. Selanjutnya media VRBA adalah media yang digunakan dalam sampel
bakso yang bersifat selektif diferensial dalam artian hanya bakteri tertentu yang dapat
tumbuh dalam media ini, seperti bakteri E.coli (Randi, 2005).
3.

Bahaslah hasil yang anda peroleh pada masing-masing media untuk


satu jenis sampel bahan pangan !

Pada sampel ikan dengan media NA dan metode pour plate diperoleh data pada
pengenceran 10-3 terdapat 325 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 58 koloni dan
pada pengenceran 10-5 terdapat 16 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus
diperoleh hasil 5,8 x 105 CFU / gram. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran
maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Randi, 2005). Pada media ini sebanding
dengan literature karena semakin sedikit jumlah bakteri koloninya. Pada media NA
dengan metode pour plate ini yang tumbuh adalah bakteri anarob seperti Clostridium
botulinum dan bakteri asam laktat karena media NA bersifat umum maka semua jenis
bakteri anaerob yang ada pada sampel daging ikan dapat tumbuh (Randi, 2005). Pada
sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate diperoleh data pada
pengenceran 10-3 terdapat 31 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 19 koloni dan
pada pengenceran 10-5 terdapat 0 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus
diperoleh hasil 3,1 x 104 CFU / gram. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran
maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga sudah sesuai
dengan literatur. Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate yang
dapat tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media SSA bersifat diferensial maka yang
dapat tumbuh adalah bakteri jenis salmonella dan shigella (Randi, 2005). Selanjutnya
pada media NA dengan metode spread plate pada pengenceran 10-3 terdapat 35 koloni,
pada pengenceran 10-4 terdapat 16 koloni dan pada pengenceran 10 -5 terdapat 7 koloni
dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 3,5 x 10 5 CFU / gram. Dalam
literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri
(Randi, 2005). Sehingga sudah sesuai dengan literatur. Pada sampel ikan dengan media
NA dan metode spread plate yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena media
NA bersifat umum maka semua jenis bakteri aerob yang ada pada sampel bisa hidup.
Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate yang dapat tumbuh adalah
bakteri anaerob, karena media SSA bersifat diferensial maka yang dapat tumbuh adalah
bakteri jenis salmonella dan shigella (Randi, 2005). Selanjutnya pada media SSA
dengan metode spread plate pada pengenceran 10-3 terdapat 49 koloni, pada
pengenceran 10-4 terdapat 15 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 19 koloni dan
melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 4,9 x 106 CFU / gram. Dalam
literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri
(Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini
dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan
praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada sampel ikan dengan media
SSA dan metode spread plate yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena media
SSA bersifat diferensial maka yang dapat tumbuh adalah bakteri jenis salmonella dan
shigella (Randi, 2005).

72

Pada sampel kubis dengan metode pour plate dan media NA pada pengenceran
10 terdapat 42 koloni, pada pengenceran 10-3 terdapat 672 koloni dan pada
pengenceran 10-4 terdapat 488 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh
hasil 4,2 x 103 CFU / gram. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin
sedikit jumlah koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidak sesuaian dengan
literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis
saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Dengan metode
pour plate bakteri yang tumbuh adalah jenis bakteri anerob, karena media NA bersifat
umum maka semua bakteri an aerob yang ada pada sampel yapat tumbuh, seperti
bakteri asam laktat dan E.coli (Randi, 2005). Pada media MRSA pada pengenceran 10 -2
terdapat 27 koloni, pada pengenceran 10-3 terdapat 26 koloni dan pada pengenceran
10-4 terdapat 812 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 2,7 x 10 3
CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah
koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur,
kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat
melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Dengan metode pour
plate yang tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media MRSA bersifat diferensial
maka hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh seperti bakteri asam laktat (Randi,
2005). Selanjutnya dengan metode spread plate dan media NA pada pengenceran 10 -2
terdapat 8 koloni, pada pengenceran 10-3 terdapat 10 koloni dan pada pengenceran 10-4
terdapat 21 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 8,0 x 10 3 CFU
/ gram. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah
koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur,
kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat
melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada media NA
dengan metode spread plate, karena media NA bersifat umum jadi semua koloni
bakteri yang tumbuh adalah koloni bakteri aerob (Randi, 2005). Pada media MRSA
dengan metode spread plate pada pengenceran 10-2 terdapat 80 koloni,10-3 terdapat 267
koloni dan pada pengenceran 10-4 terdapat 51 koloni dan melalui perhitungan sesuai
rumus diperoleh hasil 8,0 x 104 CFU per ml. Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan
literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis
saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Dengan metode
pour plate yang tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media MRSA bersifat
diferensial maka hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh seperti bakteri asam laktat
(Randi, 2005).
Selanjutnya pada sampel bakso, dengan media PCA dan metode pour plate dapat
diketahui dengan pengenceran 10-3 terdapat 13 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat
3 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 0 koloni dan melalui perhitungan sesuai
rumus diperoleh hasil 1,33 x 104 CFU / gram. Dalam literatur, semakin tinggi
pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga
sesuai dengan literature. Pada metode ini yang dapat tumbuh adalah bakteri anaerob,
karena PCA bersifat umum maka semua jenis bakteri anaerob yang ada pada sampel
dapat hidup, seperti bakteri jenis Salmonella. Pada media VRBA dengan metode pour
plate dapat diketahui dengan pengenceran 10-3 , 10-4, dan pengenceran 10-5 tidak
-2

73

terdapat koloni, dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 0 CFU / gram.
Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni
bakteri (randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini
dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan
praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat
tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media VRBA bersifat selektif maka yang dapat
tumbuh hanya bakteri E.coli. Kemungkinan bakso yang diuji mengandung boraks atau
formalin. Karena bakso yang menhgandung boraks atau formalin tidak terdapat adanya
kehidupan bakteri. Karena sifat formalin yang berfungsi untuk mengawetkan (Alif,
2011).Selanjutnya pada metode spread plate dengan media PCA pada pengenceran 10 -3
terdapat 34 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 1 koloni dan pada pengenceran 10-5
tidak terdapat koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 3,4 x 10 5
CFU / gram. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah
koloni bakteri (Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur,
kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat
melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang
dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena PCA bersifat umum maka semua bakteri
aerob yang ada pada sampel dapat hidup, seperti Staphylococcus aureus (Randi, 2005).
Pada metode spread plate dengan media VRBA pada pengenceran 10-3 tidak terdapat
koloni, pengenceran 10-4 terdapat 3 koloni dan pada pengenceran 10-5 tidak terdapat
koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 0 CFU / gram. Dalam
literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri
(Randi, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini
dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan
praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat
tumbuh adalah bakteri aerob, karena media VRBA bersifat selektif maka hanya bakteri
tertentu, misalnya bakteri E.coli (Randi, 2005). Kemungkinan bakso yang diuji
mengandung boraks atau formalin. Karena bakso yang menhgandung boraks atau
formalin tidak terdapat adanya kehidupan bakteri. Karena sifat formalin yang berfungsi
untuk mengawetkan (Alif, 2011).
4.

Tuliskan hasil pengamatan anda pada pengujian biru metilen pada


produk susu ( Tidak Dikerjakan )
Waktu
Sampel
Reduksi
Mutu susu
Keterangan
(jam)

5.

Bahaslah hasil yang anda peroleh pada pengujian biru metilen dari jenis
sampel susu yang tersedia ( Tidak Dikerjakan )

74

6.

Apa kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini?

a.

Hitungan Cawan
Prinsip dari metode hitungan cawan ini adalah menghitung jumlah koloni
mikroba yang tumbuh dan membentuk suatu koloni pada media agar tertentu tanpa
bantuan mikroskop. Dimana metode yang digunakan adalah metode spread plate
dan pour plate. Sedangkan untuk perhitungan metode hitungan cawan ini dapat
menggunakan aturan SPC, dimana jumlah koloni yang dihitung adalah antara 30300 jumlah koloni. Apabila jumlah koloni lebih dari 300, maka jumlah koloni
mikroba bisa ditulis dengan TNTC (Too Numerous to Count) karena dianggap
terlalu banyak untuk dihitung, namun apabila diketahui nilainya maka dihitung yang
paling mendekati 300. Apabila jumlah koloni kurang dari 30, maka yang diambil
untuk perhitungan adalah jumlah koloni yang mendekati 30.
Pada data hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
dengan metode spread plate koloni terbanyak terdapat pada sampel kubis dengan
media NA yaitu 8,0 x 103 CFU/gram, kemudian disusul dengan sampel ikan dengan
media NA yaitu 3,5 x 105 CFU/gram kemudian dilanjutkan sampel bakso yang
hanya untuk media PCA yaitu 3,4 x 10-5 CFU / gram. Untuk metode Spread plate
paling banyak kubis dengan media MRSA yaitu 8,0 x 10 4 CFU / gram, dilanjutkan
sampel ikan dengan media SSA yaitu 4,9 x 10 6 CFU / gramdan terkahir sampel
bakso dengan media VRBA yaitu 0 CFU / gram. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
bakteri aerob lebih banyak tumbuh daripada bakteri anaerob.
(b) Pengujian Susu dengan metilen biru ( Tidak Dikerjakan )

75

PEMBAHASAN
1. Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari metode pour plate dan spread
plate. Kapan kita dapat menggunakan metode tersebut? Jelaskan alasan
anda!

1. Metode pour plate digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteri anaerob, karena
media dituang setelah kultur sehingga menyebabkan kondisi anaerob pada cawan
(Hilman, 2012)
Kelebihan:
a. Mudah dilakukan (Hilman, 2012)
b. Koloni tersebar merata pada media (Hilman, 2012)
Kekurangan:
c. Butuh kehati-hatian dalam menuang ke media (Hilman, 2012)
d. Kontaminasi sulit dibedakan (Hilman, 2012)
e. Koloni yang berbeda saling bertumpuk (Hilman, 2012)
2. Metode spread plate digunakan digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteriaerob,
karena media sudah ada terlebih dahulu pada cawan kemudian dituangi kultur
sehingga menyebabkan kondisi aerob oada cawan (Hilman, 2012)
Kelebihan:
a. Koloni tersebar merata oada permukaan media (Hilman, 2012)
b. Kontaminan mudah dibedakan (Hilman, 2012)
Kekurangan:
a. Harus dilakukan dengan hati-hati (Hilman, 2012)
b. Hanya dapat menumbuhkan bakteri aerob (Hilman, 2012)

2. Apa kelebihan perhitungan mikroba dengan metode hitungan cawan


dibanding metode enumerasi langsung?

a.
b.
c.
d.
e.

Dapat menghitung sel atau koloni yang masih hidup yang dihitung (Hilman, 2012)
Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus (Hilman, 2012)
Tidak perlu bantuan mikroskop untuk menghitung mikroba (Hilman, 2012)
Ketelitian tinggi apabila dilakukan dengan benar (Hilman, 2012)
Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba (Hilman, 2012)

3. Mengapa yang digunakan dalam aturan SPC hanya koloni yang berjumlah
30-300 saja?

Karena jika jumlah koloni terlalu banyak maka beberapa sel akan membentuk
koloni yang dapat menyebabkan ketidak akuratan karena sel saling bertumpuk dan
memperbesar terjadinya ketidak akuratan. Apabila koloni terlalu sedikit maka nantinya
secara statistik jumlah mikroba yang dihasilkan rendah. Secara statistik yang paling
baik adalah kisaran jumlah koloni 30-300. Selain itu jika terdapat koloni kurang dari 30
artinya penceran terlalu tinggi, jika terdapat koloni lebih dari 300 artinya pengenceran
terlalu rendah (Hendra, 2008)

76

4. Apakah yang dimaksud dengan TNTC atau TBUD pada pengamatan


hitungan cawan? Dan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jelaskan!

TNTC adalah kependekan dari Too Numerous To Count dan TBUD adalah
kependekan dari Terlalu Banyak Untuk Dihitung. Maksudnya adalah jumlah koloni
yang dihitung terlalu banyak, melebihi 300 koloni sehingga sulit untuk dihitung. TNTC
atau TBUD terjadi karena penceran yang dilakukan rendah, sehingga menyebabkan
jumlah koloni sangat banyak dan bertumpuk sehingga kesulitan untuk dihitung
(Hendra, 2008)
5. Berikut ini data hasil plating dari sampel kefir de carrota pada media MRSA.
Hitung jumlah koloni berdasarkan metode SPC!
Sampel
Ke1
2
3
4
5

Jumlah koloni Pada


Pengenceran
10-4
10-5
10-6
TBUD
305
89
TBUD
248
82
189
52
21
TBUD
TBUD
23
18
7
0

Hitung berapa jumlah koloni per mL nya berdasarkan aturan SPC. Tuliskan
tahapan penghitungan anda!

1. Pengenceran yang diambil adalah pengenceran 10-6 karena pada pengenceran


tersebut menghasilkan jumlah koloni kisaran 30-300 (Hamid, 2009)
SPC = 8,9 x 107 CFU / ml
2. Karena pada dua pengenceran tersebut diperoleh jumlah koloni kisaran 30-300
maka menggunakan rumus. Apabila hasilnya kurang dari 2 maka diambil rata-rata.
Apabila hasilnya lebih dari 2 maka diambil pengenceran terendah (Hamid, 2009)
SPC = 2,48 x 107 CFU / ml
= 2,5 x 107 CFU / ml
3. Karena pada dua pengenceran tersebut diperoleh jumlah koloni kisaran 30-300
maka menggunakan rumus. Apabila hasilnya kurang dari 2 maka diambil rata-rata.
Apabila hasilnya lebih dari 2 maka diambil pengenceran terendah (Hamid, 2009)
SPC = 1,89 x 106 CFU / ml
= 1,9 x 106 CFU / ml
4. Karena jumlah koloni kurang dari kisaran 30 dan ada yang TBUD maka yang
diambil adalah yang mendekati 30 (Hamid, 2009)
SPC = 2,3 x 107 CFU / ml
5. Karena jumlah koloni kurang dari kisaran 30 maka yang diambil adalah yang
mendekati 30 (Hamid, 2009)
SPC = 1,8 x 105 CFU / ml
6. Mengapa pada analisis hitungan cawan satuan yang digunakan CFU/ml
bukan sel per ml? Jelaskan alasan anda!

77

Karena yang dihitung adalah dalam bentuk koloni bukan sel. CFU sendiri adalah
kependekan dari Coloni Forming Unit yang artinya unit koloni yang terbentuk. Pada
metode hitungan cawan ini juga tidak mungkin untuk menghitung sel karena metode ini
dilakukan dengan mata telanjang atau tanpa bantuan mikroskop sehingga yang tampak
adalah berupa koloni. Jadi yang dihitung setiap 1 ml adalah jumlah koloni mikroba
(Hilman, 2012)
7. Bagaimana preparasi sampel untuk menghitung jumlah koloni pada
permukaan agar?

a. Perparasi suspensi sampel dilakukan pada media steril (Hilman, 2012)


b. Suspensi pada sampel diencerkan hingga tingkat pengenceran tertentu, dengan
tujuan supaya mikroba dapat dihitung dengan baik (Hilman, 2012)
c. Tiga pengenceran terakhir ditanam pada cawan dengam metode dan media yang
telah ditentukan (Hilman, 2012)
d. Jika dilakukan dengan metode spread plate, digunakan mikrotip 0,1 ml (Hilman,
2012)
e. Jika dilakukan dengan metode pour plate , digunakan mikrotip 1 ml (Hilman,
2012)
f. Diinkubasi pada suhu dan waktu yang sudah ditentukan (Hilman, 2012)
g. Dihitung jumlah koloninya (Hilman, 2012)
8. Bagaimana
preparasi
sampel
untuk
menghitung
total/keseluruhan pada sampel makanan padat?

jumlah

koloni

Preparasi untuk sampel padat antara lain:


1. Sampel padat diambil secara aseptis sebanyak 5 gram (Randi, 2005).
2. Dilarutkan pada pepton 45 ml kemudian di masukkan plastik (Randi, 2005).
3. Dihancurkan dengan stomacher (Randi, 2005).
4. Diambil 1 ml dengan mikrotip yang sudah dipotong miring untuk memudahkan
pengambilan sampel (Randi, 2005).
5. Diencerkan hingga 10-5 dengan 4 tabung (Randi, 2005).
6. Di platting, ditanam pada media yang sudah di preparasi sebelumnya (Randi,
2005).
7. Diinkubasi selama 2 hari dengan suhu 280C (Randi, 2005).
9. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil penghitungan koloni
pada metode hitungan cawan, hingga diperoleh hasil TNTC/TBUD atau
koloni tidak muncul?

Faktor yang mempengaruhi hasil penghitungan koloni pada metode hitungan


cawan, hingga diperoleh hasil TNTC/TBUD atau koloni tidak muncul antara lain
(Alif, 2011) :
a. Tingkat pengenceran terlalu tinggi sehingga menyebabkan koloni tidak muncul
b. Tingkat pengenceran terlalu rendah sehingga koloni yang muncul terlalu banyak
(> 300) sehingga tidak bisa dihitung

78

c. Ketidaksesuaian media yang digunakan


d. Adanya kontaminasi. Kontaminasi bisa disebabkan karena alat yang digunakan,
lingkungan dan diri yang tidak aseptis
e. Kondisi pH dan suhu yang tidak sesuai
10.Perhatikan data plating produk susu berikut ini!
Jumlah Koloni pada
Pengencera
n
Petri 1
Petri 2
Petri 3
10-1
TNTC
TNTC
TNTC
-2
10
630
645
591
10-3
TNTC
TNTC
TNTC
10-4
5
5
8
Hitunglah total mikroorganisme pada sampel susu tersebut (dalam
CFU/ml)! Jelaskan modifikasi prosedur yang dapat anda lakukan untuk
memperoleh hitungan cawan yang akurat!

Berdasarkan data hasil jumlah koloni yang ada, karena jumlah koloni tidak
memenuhi persyaratan maka boleh dihitung dari keduanya
Rata-rata dari pengenceran 10-2 = 622 koloni
SPC = 6,2 x 104 CFU / ml
Rata-rata dari pengenceran 10-4 = 6 koloni
SPC = 6 x 102 CFU / ml
Jadi, modifikasi prosedur yang dapat dilakukan supaya hitungan cawa akurat
adalah meninggikan tingkat pengenceran dan menanam semua pengenceran
(Hamid,2009).
11.Mengapa pada metode hitungan cawan digunakan media agar? Mengapa
dilakukan teknik pengenceran sebelum dilakukan metode plating?

Media agar adalah media yang digunakan pada metode pour plate dan spread
plate, dimana metode tersebut adalah metode yang cocok untuk hitungan cawan.
Dengan menggunakan media agar koloni dapat diamati secara langsung, tanpa
bantuan mikroskop. Teknik pengenceran dilakukan supaya didapat koloni yang sesuai
untuk perhitungan, yaitu kisaran 30-300 koloni. Sehingga bisa dihitung dan hasilnya
akurat (Hamid,2009).

12.Mengapa suhu inkubasi yang digunakan pada kisaran suhu tertentu? Apa
akibatnya jika suhu inkubasi dinaikkan atau diturunkan dari suhu semula?

Suhu inkubasi yang digunakan pada kisaran suhu tertentu karena setiap
mikroba memiliki karakteristik suhu yang berbeda-beda untuk tetap hidup dan
berkembang biak. Suhu inkubasi sendiri ditentukan dari suhu optimum pertumbuhan
mikroba supaya mikroba dapat tumbuh dengan baik. Sehingga apabila suhu inkubasi
dinaikkan atau diturunkan dari suhu semula maka akan mengganggu pertumbuhan
mikroba bahkan menyebabkan kematian pada mikroba tersebut karena lingkungan
tidak lagi sesuai dengan karakteristiknya (Hamid,2009).
79

13.Apa fungsi dari biru metilen dalam menentukan kualitas susu? Jelaskan dan
tuliskan reaksi yang terjadi! ( Tidak Dikerjakan )

14.Mengapa susu bisa menjadi cepat asam jika tidak segera disimpan dalam
lemari pendingin? Berapa lama Jelaskan! ( Tidak Dikerjakan )

Komponen Penilaian LKP :


Jenis Penilaian

Nilai
Maksim
al

Nilai yang
diperoleh

80

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

10
10
70
10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
Kompetensi
Bisa
Tidak
1.
Memahami peraturan yang terdapat
dalam metode Standard Plate Count
(SPC)
2.
Mampu melakukan pemupukan dalam
hitungan cawan dengan cara pour plate
secara aseptis dan benar
3.
Mampu melakukan pemupukan dalam
hitungan cawan dengan cara spread
plate secara aseptis dan benar
4.
Mampu menghitung dan menentukan
nilai SPC dari masing-masing cawan
5.

Mampu melakukan interpretasi data


SPC dari tiap sampel yang dianalisis
TOTAL

DAFTAR PUSTAKA

81

Keth, Downes Pouch France. 2009. Compendum Of Menthods For the Mikrobiological
Examinitation of Food. USA American Public Healt Association
Randhu, Malaeka. 2007. Prinsip dan Metode Hitungan Cawan. Jakarta : Erlangga.
Ridwan, Purnama. 2008. Penghitungan Cawan. Bandung : ITB
Samuel, Muhammad. 2009. Metode Hitungan Cawan. Surabaya : Yudistira
Whitehead, Hugh Robinson. 2005. The Reduction of Methylen Blue in Milk. University of
New Zealand. Australia

82

Tanggal
Praktikum
Praktikum 3.4

1 April 2015
TEKNIK ENUMERASI LANGSUNG

PRELAB

1. Bagaimana cara menghitung mikroba secara langsung menggunakan


haemocytometer? Sebutkan dan jelaskan tahapannya

Perhitungan haemocytometer ( ukuran skala 0,1 mm ) dilakukan dengan memberi luas


slode dengan 5 luas bidang pandang, ukuran dan objek yang diamati 0,55 mm persatuan
slode. Sebelumnya, dilakukan perhitungan sel untuk mengetahui gambar selnya dengan
dibuat foto (Borowitzka, 2012).

(Fathiyah, 2012).
2. Apakah yang harus dilakukan, jika mikroba yang terlihat di Haemocytometer
terlalu banyak? Jelaskan

Yang harus dilakukan adalah mikroba diencerkan dengan lautan pengencer


steril hingga jumlah sel setiap petak sekitar 50. Catat factor pengenceran yang
digunakan, dimana pengenceran dilakukan dengan perbandingan 1 : 5 atau 1 : 10
(Fathiyah, 2012).
3. Sebutkan ukuran kotak dalam haemocytometer dan tuliskan rumus yang
digunakan untuk menghitung mikroba menggunakan haemocytometer

Ukuran :
9 kotak besar

1 kotak besar dibagi 25


1 kotak besar dibagi 16
Sehingga 1 kotak besar terdiri dari 400 kotak kecil (Keth, 2009)
Rumus :

(Fathiyah, 2012).

83

DIAGRAM ALIR

Haemocytometer dan gelas penutup

Dibersihkan dengan larutan detergen

Dibilas dengan air suling lalu alkohol, dikeringkan dan didinginkan

Di gojog dengan vortex

Suspensi diambil kira-kira 5-10 l

Diteteskan pada petak-petak

Gelas ditutup dan diletakkan dimeja mikroskop

Diamati dengan perbesaran lemah

Diamati dengan pembesaran sedang

Hitung jumlah sel

Hasil

84

DATA HASIL PENGAMATAN


1. Tuliskan hasil pengamatan jumlah sel menggunakan Haemacytometer (Data
Kelas)
(Data ini adalah data 25 kotak besar)
No. Petak Jumlah sel
No.
Jumlah sel
petak
1.
14.
2.
15.
3.
16.
4.
17.
5.
18.
6.
19.
7.
20.
8.
21.
9.
22.
10.
23.
11.
24.
12.
25.
13.
2. Hitunglah rata-rata jumlah sel serta jumlah sel dalam bahan/ml.
FP =
Rata-rata jumlah sel =

Jumlah sel dalam bahan/ml =

3. Bahas data yang anda peroleh.

85

4. Tuliskan kesimpulan yang anda peroleh pada praktikum ini!

5. Sebutkan kelebihan dan kelemahan


menggunakan haemocytometer!

dalam

penghitungan

mikroba

6. Jika pada pengamatan sel menggunakan haemocytometer diperoleh data


sebagai berikut, hitunglah jumlah sel yeast per ml bahan!
No. Petak

Jumlah sel

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

46
59
37
53
41
52
35
48
54
63
42
50
49

No.
petak
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Jumlah sel
25
28
69
44
52
40
51
62
39
57
51
60

DAFTAR PUSTAKA

86

Borowitzka, Michael,. Navid R. Moheimani. 2012. Alga for Biofuels and Energy. USA :
Springer Dordrecht
Fathiyah.2012.Grafik Pertumbuhan Mikroba. Erlangga : Jakarta
Keth, Downes Pouch France. 2009. Compendum Of Menthods For the Mikrobiological
Examinitation of Food. USA American Public Healt Association

87

88

Komponen Penilaian :
Jenis Penilaian
Pre lab dan Diagram Alir
Log book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di lab
TOTAL

Nilai

dan

Nilai yang
diperoleh

10
10
70
10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


Bisa
Tidak
No
Kompetensi
1.
Mampu
membuat
preparat
untuk
enumerasi langsung
2.

Mampu menentukan petak yang digunakan


pada pembacaan haemocytometer

3.

Mampu
menghitung
jumlah
menggunakan haemocytometer

4.

Mampu menghitung jumlah mikroba per ml


bahan
TOTAL

mikroba

10

89

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI
MIKROBA

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

:
:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

90

PRELAB
Tanggal
Praktikum
Praktikum

IDENTIFIKASI
MIKROORGANISME

DAN

KARAKTERISASI

1. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis metode identifikasi mikroorganisme!

2. Sebutkan tahapan pewarnaan dalam pengecatan Gram, beserta reagen


yang digunakan dan fungsinya!

3. Apa yang dimaksud dengan Bakteri Gram (-) dan Gram (+) ? Jelaskan dan
beri contoh (masing-masing 2 bakteri)!

91

4. Mengapa diperlukan fiksasi panas dalam pengecatan bakteri ? Jelaskan!

5. Apa larutan yang digunakan dalam pengamatan kapang? Apa fungsi


larutan tersebut?

6. Mengapa digunakan metilen blue dalam pengecatan sederhana sel


khamir? Jelaskan!

7. Dalam pengecatan endospora, reagen apakah yang berfungsi sebagai cat


utama dan cat penutup? Jelaskan fungsinya masing-masing!

8. Jelaskan
jenis-jenis
mikroorganisme!

uji

biokimiawi

untuk

proses

identifikasi

92

DIAGRAM ALIR

A. PENGAMATAN KAPANG

93

DATA HASIL
PENGAMATAN
1. Gambar bentuk kapang yang anda amati dibawah mikroskop dengan pensil
warna. Dan beri keterangan bagian-bagian kapang yang nampak pada
gambar anda!

Perbesaran
:
Nama preparat
:
Keterangan
:

Perbesaran
:
Nama preparat :
Keterangan :

Perbesaran
:
Nama preparat
Keterangan
:

X
:

Perbesaran
:
Nama preparat
:
Keterangan
:

94

2. Bahas data yang anda peroleh dari bagian-bagian kapang yang nampak!

3. Bandingkan dan bahas data anda pada perbesaran yang berbeda!

95

B. PENGECATAN SEDERHANA SEL KHAMIR


DATA HASIL
PENGAMATAN
1. Gambar bentuk sel khamir yang anda amati dibawah mikroskop dengan
pensil warna!

Perbesaran
:
Umur preparat
:
Keterangan
:

Perbesaran
Umur preparat
Keterangan

X
:
:

2. Tuliskan data pengamatan yang diperoleh dari praktikum pengecatan


sederhana sel khamir!
Bidang
Pemandanga
n
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rerata

Umur kultur 24 jam


Mati
Hidup

Umur kultur 48 jam


Mati
Hidup

3. Hitung persentase kematiannya!

% Kematian =

96

4. Bandingkan dan bahas data yang anda peroleh antara sel khamir umur 24
jam dan 48 jam!

97

C. PENGECATAN GRAM
DATA HASIL
PENGAMATAN
1. Gambar morfologi dan bentuk sel bakteri pengecatan gram yang anda
amati dibawah mikroskop dengan pensil warna!

Perbesaran

Perbesaran

Perbesaran

Nama bakteri :

Nama bakteri

Nama bakteri

Keterangan

Keterangan

Keterangan

X
:

2. Bandingkan antara ketiganya, dan berikan penjelasan terkait dengan hasil


preparat yang anda peroleh!

98

D.

PENGECATAN ENDOSPORA

DATA HASIL
PENGAMATAN
1. Gambar hasil dari pengamatan endospora yang anda amati dibawah
mikroskop dengan pensil warna!

Nama bakteri :
Perbesaran

Nama bakteri
X

Perbesaran

Nama bakteri
:

Perbesaran

X
Warna spora :

Warna spora

Warna sel vegetatif :

Warna sel vegetatif :

Warna spora

:
Warna sel

vegetatif
Lokasi endospora :

Lokasi endospora :

Lokasi endospora :

2. Bandingkan dan bahas hasil yang anda peroleh ? Jelaskan.

99

100

E.

(i)

UJI BIOKIMIAWI
DATA HASIL
PENGAMATAN
Uji Katalase

1. Tuliskan hasil pengamatan uji katalase pada tabel berikut.


Jenis Mikroba

Gelembung
(ada / tidak)

Katalase
(positif/negatif)

2. Bahas data yang anda peroleh.

101

PEMBAHASA
N
1. Mengapa pada deteksi bakteri patogen digunakan kontrol positif?
Jelaskan peranan kontrol positif tersebut!

2. Jelaskan mengapa pada sampel daging segar terdapat Escherichia coli!

3. Apa
peranan
MUG
(4-methylumbelliferyl--D-glukoronida)
pengujian deteksi Escherichia coli?

pada

102

4. Jelaskan mengapa E. coli tipe enterhemorrhagic (E. coli O157 H7) tidak
terdeteksi pada pengujian deteksi patogen metode kultural (media
selektif-diferensial)!

5. Mengapa media Baird parker dan Mannitol Salt Agar (MSA) yang
digunakan pada deteksi Staphylococcus aureus termasuk ke dalam
media selektif-diferensial?

6. Bagaimana proses pengolahan atau kondisi penyimpanan dapat


mempengaruhi pertumbuhan S. aureus pada produk pangan? Jelaskan!

103

7. Metode pengujian apa saja yang dapat membuktikan keberadaan S.


aureus pada produk pangan? Jelaskan pula kelebihan dan kekurangan
meode tersebut!

8. S. aureus dengan jumlah 102-103 CFU/g pada produk pangan


diindikasikan bahwa tidak terdapat potensi bahaya. Mengapa demikian?
Berapa jumlah minimal S. aureus yang terdapat pada produk pangan
sehingga menyebabkan keracunan?

9. Jelaskan kelebihan dan kekurangan metode deteksi Salmonella spp.


secara konvensional (isolasi dan uji biokimia) dengan metode cepat
(imunoassay atau hibridisasi DNA)!

104

10.Sebut dan jelaskan masing-masing penampakan pertumbuhan koloni


Salmonella spp. Pada media XLD (Xylose Lysine Desoxycholate), HE
(Hektoen Enteric) dan BS (Bismuth Sulfite)!

11.Mengapa sampel produk pangan yang positif terkontaminasi Salmonella


spp. pada media TSI (Triple Sugar Iron) atau LIA (Lysine Iron Agar)
memiliki penampakan berwarna hitam. Jelaskan alasan anda!

12.Ada berapa tahap pengujian deteksi Salmonella spp. dengan metode


konvensional? Jelaskan masing-masing tahapan tersebut!

13.Sebutkan bagian-bagian dari morfologi Rhizopus berikut!

105

A.
B.
C.
D.
E.
14.Mengapa sel khamir yang mati berwarna biru, sedangkan yang hidup
warnanya transparan ? Jelaskan!

F.

15.Mengapa
Jelaskan!

diperlukan

pemanasan

dalam

pengecatan

endospora

16.Apa perbedaan dinding sel bakteri Gram (+) dan Gram (-) ? Jelaskan!

17.Mengapa tidak semua bakteri memiliki endospora ? dan apakah fungsi


dari endospora ? Jelaskan!

106

18.Apakah substrat yang diperlukan untuk terjadinya reaksi katalase ?


Tuliskan persamaan reaksinya!

19.Apa fungsi dari katalase untuk bakteri tertentu ? Berikan contoh 3


bakteri yang menghasilkan katalase!

107

Komponen Penilaian LKP:


Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan

dan

Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

Nilai

Nilai yang

Maksim

diperoleh

al
10
10
70
10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No
1.
2.
3.
4.

Kompetensi

Bisa

Tidak

Mampu menggunakan mikroskop dengan


baik dan benar
Mampu menemukan objek yang diamati
dengan menggunakan perbesaran tertentu
Mampu menggambar objek yang diamati
dan menyebutkan bagian-bagian yang
diamati
Mampu mengidentifikasi objek yang diamati
(menyebutkan jenis mikroba tersebut)
TOTAL

10

108

LEMBAR KERJA
PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM
KURVA PERTUMBUHAN MIKROBA

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

:
:
:
:
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2014

109

Tanggal Praktikum
Praktikum

KURVA PERTUMBUHAN MIKROBA

PRELAB

1. Apa yang dimaksud dengan generation time ? Jelaskan!

2. Pengukuran apa saja yang dapat dilakukan untuk mengetahui laju


pertumbuhan dari populasi mikroba pada kondisi tertentu?

3. Selain massa sel, komponen sel apa saja yang dapat diukur untuk
menentukan laju pertumbuhan mikroba? Jelaskan!

4. Jelaskan fase fase pertumbuhan mikroba dan gambar kurva


pertumbuhannya !

110

5. Jelaskan prinsip pengukuran intensitas pertumbuhan mikroba pada


praktikum ini?

Paraf Asisten

Nama:

111

DATA HASIL PENGAMATAN DAN


PEMBAHASAN
1. Tuliskan data pengamatan anda pada tabel berikut (Metode II).
Jam

waktu

Absorbansi 660

Jam

waktu

Absorbansi 660

(WIB)

inkubasi

nm

(WIB)

inkubasi

nm

(t) menit

(t) menit

08:30

ke0

14:00

ke330

09:00

30

15:30

420

10:00

90

16:30

480

11:00

150

18:00

570

12:30

240

19:00

630

2. Buatlah grafik hubungan antara waktu inkubasi (t) (sumbu x) dengan


Absorbansi (sumbu Y) pada kertas grafik.

112

3.

Tuliskan hasil pembacaan O.D. dan penghitungan jumlah sel pada tabel
berikut.
waktu

Optical Density

Plate Counts cells /

inkubasi

(O.D.)

ml

(t) menit ke0


30
90
150
240
330
420
480
570
630

@ 660 nm

Log of cells / ml

4. Gambarlah kurva antara jumlah sel (sumbu Y) dengan waktu inkubasi


(sumbu X) pada kertas grafik, hubungkan titik-titiknya. Tempel di lembar
ini.

5. Gambarlah kurva antara log jumlah sel (sumbu Y) dengan waktu inkubasi
(sumbu X) pada kertas grafik, hubungkan titik-titik nya dan tempel di
lembar ini.

113

6. Bandingkan dan bahas gambar kurva yang anda peroleh pada No.4 dan
No.5, dengan kurva pertumbuhan mikroba pada umumnya.

7. Hitung waktu generasi kultur ini dengan metode langsung menggunakan


cara matematika, dan metode tidak langsung menggunakan ekstrapolasi
dari skala Absorbansi pada kurva. Tunjukkan hasil penghitungan dan tulis
waktu generasi nya.

114

Rumus : Nt = No x 2n
Sehingga n = (log Nt log No) / log 2
Waktu generasi

hasil bagi antara t dengan n

Dimana : Nt : jumlah sel pada waktu t


No : jumlah sel pada waktu to
n : jumlah generasi
t
: waktu antara No dan Nt

8. Bandingkan dan bahas data yang anda peroleh dari perhitungan waktu
generasi secara matematis (rumus) dan grafik

115

9. Bandingkan waktu generasi yang diperoleh pada percobaan ini dan waktu
generasi (E. coli) dari pustaka. Berikan komentar atau uraian dari data
yang diperoleH

10.Buatlah juga kurva hubungan antara Absorbansi dan jumlah sel sesuai
dengan waktu pengamatan masing-masing pada data pengamatan poin 3.

116

11. Jelaskan kondisi sel pada setiap fase pada kurva pertumbuhan mikroba!

12. Apakah pada fase kematian masih ada sel yang berkembang biak?
Jelaskan!

13. Faktor-faktor apa saja yang dapat memperpendek dan memperpanjang


fase log dan fase stasioner? Jelaskan!

117

14. Untuk pengawetan kultur mikroba, fase mana yang anda pilih? fase log
atau fase stasioner? Jelaskan!

15. Jelaskan pentingnya mengetahui informasi tentang kurva pertumbuhan


mikroba!

16.Apa kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini?

118

Komponen Penilaian LKP :


Jenis Penilaian

Pre lab dan Diagram Alir


Log Book
Data
Hasil
Pengamatan
Pembahasan
Aktivitas di laboratorium
TOTAL

dan

Nilai
Maksim
al
10
10
70

Nilai yang
diperoleh

10
100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi

No
Kompetensi
.
1. Mampu menggunakan
spektrofotometer dengan baik dan
benar
2. Mampu menentukan panjang
gelombang maksimum untuk mikroba
yang digunakan
3. Mampu membaca absorbansi dan
menginterpretasikan hasilnya
4. Mampu menghitung waktu generasi
mikroba yang digunakan
5. Mampu membuat kurva pertumbuhan
mikroba yang digunakan
TOTAL

Tidak

Bisa

10

119

120