Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Dewasa ini masalah mengenai kerusakan lingkungan merupakan isu yang
sedang hangat dibicarakan. Kerusakan lingkungan dapat terjadi baik dari perilaku
manusia sendiri maupun diakibatkan oleh alam. Limbah merupakan salah satu
penyebab kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia. Salah
satu faktor pencemaran lingkungan dihasilkan oleh limbah pabrik. Pabrik susu
merupakan salah satu contoh penghasil limbah yang dapat mencemari lingkungan.
Dari pabrik susu dapat mencemari lingkungan baik udara maupun darat. Namun,
dewasa ini dari Dinas Pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap setiap pabrik
agar menindaklanjuti pembuangan limbah agar diharapkan ramah lingkungan.
Salah satu contoh tindakan yang diberikan pabrik susu kepada lingkungan dengan
mendirikan suatu Intalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) guna mensterilkan
limbah yang akan di buang ke darat.
Prospek industri susu yang semakin menjanjikan, mendorong produsen
susu untuk terus menambah kapasitas produksi dan membangun pabrik baru di
Indonesia. Namun, di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran baru dalam
peningkatan volume limbah yang dihasilkan. Volume air limbah pabrik susu di
Indonesia, rata-rata menghasilkan limbah dengan volume sebesar 2 liter/kg
produk susu. Untuk mengurangi dampak negatif dari produksi susu olahan, maka
limbah cair hasil produksi susu dapat harus ditindak lanjuti agar tidak mencemari
lingkungan sekitar.
Sebagian besar sumber utama limbah cair industri susu berasal dari produk
susu yang terbuang selama proses produksi, biasanya disebabkan oleh kebocoran
dan tumpahan selama proses produksi berlangsung, seperti sistem operasional
kurang baik yang terjadi pada saat pemindahan pipa saluran produksi, mesin
evaporasi, proses pengisian dan sisa bahan baku yang rusak. Susu yang hilang
selama produksi berkisar antara 0,%1 3%.
Industri susu juga tidak luput dari masalah limbah yang dihasilkan.
Walaupun menurut Republika (2011) konsumsi susu masyarakat Indonesia masih
jauh di bawah konsumsi rata-rata di beberapa negara Asia Tenggara, yaitu lebih
kurang sebesar 11,09 kilo gram per kapita per tahun dan angka ini bahkan tak
1

setengahnya konsumsi susu di Malaysia yang 23 kg/kapita/tahun, limbah cair


yang berasal dari industri susu cukup melimpah dan mempunyai karakteristik
khusus, yaitu kerentanannya terhadap bakteri. Limbah tersebut sangat mudah
mengalami proses pembusukan dan apabila tidak segera didaur ulang akan sangat
membahayakan lingkungan di sekitar industri.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, maka perlu dicari alternatif
pemecahan terhadap kemungkinan pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah
industri susu melalui perancangan suatu metode proses pengolahan yang
sederhana, murah, dan efisien untuk mengolah limbah tersebut sehingga menjadi
air yang tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar daerah industri susu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Industri Susu
Industri pengolahan susu merupakan salah satu industri yang terus

bertumbuh

di

Indonesia.

Asosiasi

Industri

Pengolah

Susu

(AIPS)

memproyeksikan tahun 2012 industri pengolahan berbahan baku susu sapi bisa
tumbuh antara 6,8 persen sampai 7 persen. AIPS beranggotakan sejumlah
perusahaan pengolah susu besar seperti Nestle, Sari Husada, Frisian Flag, Ultra
Jaya, Indolacto, dan lain-lain. Tahun 2011 nilai penjualan industri pengolah susu
sapi sekitar Rp 31 triliun (AIPS, 2012).
2.2

Standar Baku Mutu Air Buangan


Sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Pasal 1 menyebutkan

bahwa baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur
lingkungan hidup. Baku mutu air, yaitu batas atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen lain yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar
yang dapat ditenggang dalam sumber air tertentu, sesuai dengan peruntukannya
(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1990). Sudarmadji
(2002), menjelaskan bahwa baku mutu air adalah persyaratan mutu air yang sudah
disiapkan oleh suatu negara atau daerah bersangkutan.
Mahbub (1982) dalam Sudarmadji (2002), menyatakan bahwa dalam
pengelolaan mutu air bagi sumber air dikenal dua macam baku mutu air yaitu
sebagai berikut:
1)

Stream standard, adalah persyaratan mutu air bagi sumber air seperti
sungai, danau, air tanah yang disusun dengan mempertimbangkan
pemanfaatan sumber air tersebut, kemampuan mengencerkan serta faktor

2)

ekonomis.
Effluent standard, adalah persyaratan mutu air limbah yang dialirkan ke
sumber

air,

sawah,

tanah,

dan

lokasi-lokasi

lainnya

dengan

mempertimbangkan pemanfaatan sumber air yang bersangkutan dan


faktor ekonomis pengolahan air buangan (untuk daerah industri).
2.3

Limbah Cair
Karakteristik air yang telah mengalami pencemaran dapat diklasifikasikan

menjadi tiga yaitu karakteristik fisis, kimia dan biologi ( Linsley and Frannzini,
1991)
1. Karakteristik Fisis
Perubahan yang ditimbulkan oleh parameter fisis berupa limbah cair yaitu
suhu, zat padat terlarut,zat padat tersusupensi, kekeruhan ,daya hantar
listrik, warna, rasa dan bau. Air limbah dengan tingkat pencemar sedang
mengandung sekitar 60% zat-zat terlarut dan sekitar 40% zat padat
tersupensi.
2. Karakteristik Kimia
Karakteristik ini ditentukan oleh kandungan unsur yang membentuk sifatsifat kimia dari limbah cair yang meliputi pH, kadar khlor, alkalinitas, kadar
sulfur, zat beracun seperti : CN ( cianida ), Cr ( chrom ), logam berat ( Na,
Mg, Cr, Cd, Zn, Cu, Fe, dan Hg ), fosfor, gas-gas seperti NH 3, CH4O2 dan
lain- lain, methane, dan nitrogen. Bahan organik dalam limbah mengandung
sekitar 40%-60% protein, 25% - 50% karbohidrat serta 10% lainnya berupa
lemak.
pH menunjukan derajat asam-basa suatu cairan, melalui konsentrasi
(aktifitas) ion Hidrogen. Peranan ion hidrogen dalam air dapat mempengaruhi
aktifitas manusia, binatang, mikroorganisme serta proses-proses lainya. Ion
hidrogen sangat berperan dalam air, namun tidak begitu berperan dalam pelarut
organik seperti alkohol dan lain-lain. Oleh karena itu, derajat asam basa hanya
dapat diukur di dalam pelarut air.
3. Karakteristik Biologi
Karakteristik ini ditentukan oleh kandungan organisme di dalam air seperti
bakteri coliform dan organisme mikro lainnya termasuk ganggang dan
jamur.
2.4

Karakteristik Limbah Cair Susu

Sumber utama limbah cair industri susu adalah produk yang hilang selama
operasi pencucian yang dilakukan secara intensif selama proses proses produksi.
Limbah cair yang berasal dari industri susu karakteristiknya tidak jauh berbeda
dari perusahaan makanan lainnya. Tetapi limbah cair dari industri susu
mempunyai karakteristik khas yaitu kerentanannya terhadap bakteri pengurai.
Dengan demikian limbah cair industri susu akan mudah mengalami kebusukan.
(Agus,2000). Selain itu juga industri pengolahan susu melibatkan bahan baku susu
murni menjadi produk konsumen seperti susu, mentega, keju, yoghurt, susu
kental, susu kering (susu bubuk), dan es krim, menggunakan proses seperti
chilling (pendinginan), pasteurisasi, dan homogenisasi. Limbah susu mengandung
gula terlarut dan protein, lemak serta residu dari aditif. Parameter-parameter
penting yang harus diperhatikan dalan dairy industry adalah :
a. BOD dengan rata-rata berkisar 0,8-2,5 kilogram per metrik ton (kg/t) susu
dalam limbah yang belum ditreatment
b. COD yang biasanya sekitar 1,5 kali kadar BOD
c. TSS di 100-1,000 miligram per liter (mg/l)
d. Total padatan terlarut fosfor (10-100 mg/l), dan nitrogen (sekitar 6% dari
tingkat BOD).
Berikut Tabel 1 di bawah ini berisi mengenai parameter yang memegang
peranan penting dalam kualitas limbah industri olahan susu.

Tabel 1. Kualitas Limbah Industri Susu


pH memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan mikroba. Pengukuran
tingkat keasaman ini dapat mengunakan elektroda pH yang tahan terhadap kondisi
limbah itu sendiri.

Produksi krim, mentega, keju, dan whey adalah sumber utama dari BOD
dalam air limbah. Pada umumnya, beban limbah dari konstituen susu adalah
sebagai berikut : 1 kg lemak susu setara dengan 3 kg COD ; 1 kg laktosa setara
dengan 1,13 kg COD; dan 1 kg protein setara dengan 1,36 COD kg. Air limbah
dapat mengandung zat patogen dari bahan yang terkontaminasi atau proses
produksi. Susu sering menghasilkan bau dan debu (dalam beberapa kasus) yang
perlu dikontrol. Sebagian besar limbah padat dapat diolah menjadi produk lain
dan produk sampingan.
Penentuan BOD dan COD sangat penting untuk mengetahui tingkat
pencemaran limbah yang menuju ke perairan umum. Kandungan BOD dan COD
perlu diketahui agar senyawa organik dalam limbah air dapat teroksidasi melalui
reaksi kimia baik yang mudah atau sukar didegradasi secara biologis . BOD dapat
diukur dengan menggunakan prinsip manometrik dan respirometrik. COD dapat
diukur dengan menggunakan metode spektrofotometri setelah mengalami
pemanasan pada suhu dan waktu tertentu.
Total Suspended Solid (TSS) adalah salah satu parameter yang digunakan
untuk pengukuran kualitas air. Penentuan padatan tersuspensi total perlu
dilakukan untuk mengetahui kandungan bahan-bahan organik dan anorganik yang
dapat berdampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi
matahari ke dalam air dan meningkatkan kekeruhan air yang menyebabkan
gangguan pertumbuhan bagi organisme air. Penentuan kadar TSS dapat dilakukan
dengan menggunakan metode gravimetric, spektrofotometri atau dengan TSS
meter. Lemak dan minyak biasa ditemukan mengapung di permukaan air
meskipun sebagaian terdapat dibawah permukaan air. Adanya minyak dan lemak
diatas permukaan air menghambat proses biologi dalam air sehingga proses
fotosintesis sulit terjadi. Penentuan kadar minyak dan lemak secara akurat dapat
dilakukan dengan melakukan ekstraksi atau dengan metode spektrofotometri.
Limbah dari pengolahan susu segar mempunyai bahan organik terlarut yang tinggi
dan bahan tersuspensi yang rendah (Jenie. 2004).

Pengendalian senyawa nitrogen dan fosfor penting dilakukan karena


senyawa-senyawa tersebut bersifat metabolistik. Keberadaan fosfor yang
berlebihan disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menstimulir ledakkan
pertumbuhan algae di perairan yang akhirnya membentuk lapisan di atas
permukaan air yang dapat menghambat penetrasi oksigen dan matahari sehingga
akan mengganggu kehidupan biota air. Penentuan kadar nitrogen dan fosfor dapat
dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri.
Limbah cair yang berasal dari industri susu mempunyai karakteristik
khusus, yaitu kerentanannya terhadap bakteri. Limbah tersebut mudah mengalami
proses pembusukan dan apabila tidak segera didaur ulang akan membahayakan
lingkungan di sekitar industri (R. Wagini, 2002). Suhu mempretasikan aktivitas
dan pertumbuhan bakteri dalam limbah. Pengukuran suhu dapat dilakukan dengan
menggunakan termometer biasa. Selain itu juga terdapat bakteri coliform
merupakan indikator mikroorganisme berbahaya di dalam air limbah. Pada
umumnya, penentuan banyaknya bakteri coliform dalam limbah dapat
menggunakan metode MPN.

2.5

Metode Proses Pengolahan Limbah Cair


Proses pengolahan limbah cair yang telah berkembang hingg saat ini

adalah proses pengolahan secara fisika, kimia dan biologi. Dalam penerapannya
masing-masing

proses

dapat

berdiri

sendiri

atau

dengan

cara

pengolahan

yang

mengkombinasikannya (Wagini, 1996).


1. Proses Fisika
Proses

pengolahan

secara

fisika

yaitu

proses

mengakibatkan perubahan kualitas limbah cair akibat berlangsungnya prosesproses fisis. Proses ini meliputi : proses sekrining, flotasi, filtrasi,dan absorpsi.
2. Proses Kimia
Proses pengolahan secara kimia, meliputi proses-proses : koagulasitiokulasi, yaitu proses pemisahan partikel dengan menambahkan bahan koagulan

yang dibantu dengan proses flokulasi. Proses-proses lainnya adalah : proses


pertukaran ion dan proses yang mampu nienghilangkan zat terlarut organik.
3. Proses Biologi
Proses pengolahan secara biologi sesungguhnya merupakan proses
oksidasi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Proses pengolahan secara
biologi dklasifikasi berdasarkan ketergantungan prosesnya dengan oksigen, yaitu
proses aerob dan proses anaerob.

BAB III
METODE PENELITIAN

Penelitian

pengolahan

limbah

cair

industri

susu,

dilakukan

di

Laboratorium Fisika Terapan dan Lingkungan, di bawah Laboratorium Fisika


Dasar, Jurusan Fisika FMIPA UGM. Sedangkan obyek yang diteliti adalah limbah
cair industri susu PT. Sari Husada Yogyakarta. Bahan-bahan lainnya adalah :
tawas sebagai bahan koagulan, batu kapur, arang aktif dan pasir kuarsa sebagai
bahan penyaring.
Sesuai dengan karaktenistik limbah cair industri susu, maka proses-proses
pengolahan dipilih dengan mengkombinasikannya proses secara fisika, kimia dan
biologi. Pada penelitian ini proses-proses yang telah dipilih tersebut
dikombinasikan dan dipilih alur proses pengolahan limbah cair industri susu
secara seksama disajikan pada gambar berikut.

Peralatan proses pengolahan limbah cair industri susu dirancang dalam


bentuk bak-bak yang disesuaikan dengan fungsinya. Peralatan hasil rancangan
diinstalasi sesuai dengan alur proses yang telah dipilih dan secara seksama
disajikan pada gambar 2. Sebelum proses pengolahan limbah cair industri susu
yang

sesungguhnya

berlangsung, terlebih dahulu

dilakukan eksperimen

pendahuluan yaitu proses aerasi dan analisa Jart Test.

3.1 Eksperimen Pendahuluan


3.1.1

Proses Aerasi
Proses ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme. Konsentrasi

mikroorganisme yang besar akan menurunkan kandungan bahan pencemar dalam


10

waktu yang sangat singkat. Eksperimen pendahuluan ini dilakukan untuk


mengetahui pertumbuhan mikroorgansme yang paling besar selama kurun waktu
10 jam. Proses aerasi dilakukan dengan memasukkan oksigen ke dalarn limbah
cair industri susu dengan menggunakan aerator pump. Pemberian oksigen
dilakukan secara terus menerus, sebelum dan selama proses aerasi berlangsung,
setiap 2 jam dilakukan pengujian terhadap jumlah bakteri untuk mengetahui
pertumbuhannya.

3.1.2

Analisa Jart Test


Analisa ini dilakukan untuk mengetahui optimasi penggunaan bahan

koagulan sebagal destabilitator koloid (Tjokrokusurno.1995). Pada penelitian ini


digunakan bahan koaguIan tawas dengan konsentrasi 10% dalam 1000 ml air.
Proses didahului dengan melakukan penambahan koagulan ke dalam setiap 500
ml sampel, dengan variasi dosis koagulan yang disertai pengadukan cepat selama
1 menit dan diteruskan dengan pengadukan lambat selarna 2 menit. Setelah proses
penambahan koagulan dan pengadukan dilakukan, masing-masing sampel dengan
dosis koagulan yang berbeda-beda dipindahkan ke dalam tabung gelas ukur secara
perlahan supaya flok yang terbentuk tidak pecah. Pemantauan dilakukan dengan
mengamati warna secara visual dan mengukur besaran pH, kekeruhan dan zat
padat tersuspensi.

3.2

Pengolahan
Proses sesungguhnya pengolahan limbahcair indusri susu dengan peralatan

proses hasil instalansi yang disajikan pada gambar 2 dilakukan dengan tahapantahapan sebagai berikut:

11

Gambar 2.Instalasi Peralatan Proses Pengolahan Limbah Cair Industri Susu


Tahap 1.
Proses equalisasi atan proses penyeragaman, yaitu proses pendahuluan yang akan
sangat membantu terhadap proses aerasi anaerob.
Tahap 2.
Proses aerasi anaerob, yaitu proses yang bertujuan untuk menurunkan bahanbahan organik terlarut dan senyawa organik Iainnya dengan bantuan bakteri
anaerob.
Tahap3.
Proses aerasi, bertujuan untuk menurunkan bahan-bahan organic dan senyawa
organik lainnya dengan cara rnemasukkan oksigen secara terus menerus.
Tahap 4.
Proses sedimentasi pertama, proses untuk mengendapkan lumpur yang dihasilkan
pada proses aerasi.
Tahap 5.

12

Proses koagulasi-flokulasi, yaitu proses penambahan dosis koagulan dan


dilanjutkan dengan proses pengadukan untuk membentuk flok.
Tahap 6.
Proses sedimentasi kedua, yaitu proses pengendapan terhadap flok yang terbentuk
pada proses 5.
Tahap 7.
Proses flotasi, yaitu proses pengapungan untuk meningkatkan laju pemindahan
partikel-partikel tersuspensi yang masih ada.
Tahap 8.
Proses sedimentasi ketiga, yaitu proses pengendapan partikel ringan.
Tahap 9.
Proses penyaringan dengan pasir, untuk menyaring partikel halus.
Tahap 10.
Proses penyaringan dengan arang aktif, untuk menyerap bahan-bahan kimia yang
masih tersisa.

13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Pengujian Awal


Hasil pengujian awal terhadap sampel limbah cair industri susu

rnenunjukkan bahwa limbah tersebut mengandung bahan pencemar yang cukup


tinggi. Pada tabel 1, parameter-parameter BOD dan COD melebihi ambang batas
baku mutu air buangan. Disamping limbah cair industri susu sangat rentan
terhadap bakteri. Dari kurva pertumbuhan bakteri dengan waktu aerasi, pada
gambar 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri relatif konstan dan agak
lambat pada 6 jam pertama aerasi. Pertumbuhan yang lambat ini disebabkan oleh
adanya suasana pada limbah cair, sehingga bakteripun menyesuaikan diri. Setelah
8 jam aerasi bakteri mulai tumbuh berlipat ganda dan akhirnya akan turun secara
drastis setelah 10 jam.
Pertumbuhan bakteri yang berlipat ganda ini mengakibatkan persediaan
makanan yang berupa bahan organik yang terkandung didalam limbah akan cepat
habis. Apabila keadaan ini berlangsung secara terus-menerus tanpa ada tambahan
makanan dan luar maka bakteri akan kelaparan dan mati. Pada eksperimen
pendahuluan proses aerasi ini diketahui bahwa pertumbuhan bakteri yang paling
maksimum terjadi pada aerasi selama 8 jam dan waktu aerasi inilah digunakan
sehagai dasar proses aerasi pada proses pengolahan yang sesungguhnya,
sedangkan dan analisa jar test mewujudkan adanya penurunan tingkat kekeruhan,
jumlah zat padat tersuspensi dan pH terhadap penambahan dosis koagulan, lihat
gambar 4, 5 dan 6. Penurunan yang besar terjadi pada penambahan dosis koagulan
5 ml. Sedangkan pada penambahan dosis koagulan 10 ml hingga 35 ml justru
akan rnenaikkan tingkat kekeruhan. Jumlah total padat tersuspensi dan tingkat
keasaman (pH). Dari analisa ini menunjukkan bahwa penambahan dosis koagulan
yang paling ideal untuk proses pengolahan limbah cair industri susu adalah 5 ml
kedalarn 500 ml sampel. Hasil ini digunakan sebagai dasar pada proses
pengolahan yang sesungguhnya. Optimasi yang diperoleh dan eksperimen
pendahuluan diaplikasikan pada proses pengolahan yang sesungguhnya.

14

4.2

Hasil Setelah Pengolahan

15

Hasil pengujian terhadap air hasil pengolahan limbahcair tersebut


menunjukkan bahwa besaran-besaran seperti: kekeruhan, zat padat terlarut, zat
padat tersuspensi, BOD dan COD mengalami penurunan yang sangat nyata.
Kemudian jika hasil pengujian tersebut dibandingkan dengan standar baku mutu
air buangan golongan III menunjukkan bahwa air hasil pengolahan dan penelitian
ini memenuhi kualitas air buangan sehingga cukup aman dibuang kelingkungan.

16

BAB V
KESIMPULAN
1) Limbah cair industri susu rnengandung zat pencemar yang cukup tinggi
melebihi ambang batas baku mutu air buangan, sehingga akan
mengakibatkan pencemaran lingkungan jika limbah tersebut langsung
dibuang. Oleh karena itu limbah tersebut harus diolah.
2) Dan eksperirnen pendahuluan aerasi anaerob diperoleh pertumbuhan bakteri
yang paling maksimum terjadi dengan lama waktu aerasi 8 jam.
3) Penambahan dosis koagulan yang paling ideal pada proses pengolahan
limbah cair industri susu adalah 5 ml kedalam 500 ml sampel. Metode
penambahan koagulan dan penggunaan alur proses yang dipilih pada proses
4)

pengolahan ini dinilai paling efisien.


Dengan proses pengolahan yang dipilih pada penelitian ini, diperoleh air
hasil pengolahan memenuhi kualitas baku mutu air buangan golongan III,
sehingga air hasil pengolahan akan sangat aman jika dibuang ke lingkungan.

17

DAFTAR PUSTAKA
Agus, S.B., 2000, Studi Fisis Pengolahan Limbah Cair Industri Susu PT. Sari
Husada,Yogyakarta, FMIPA, UGM, Yogyakarta.
Economopoulos, Alexander P. 1993. Assessment of Sources of Air, Water, and
Land Pollution: A Guide to Rapid Source Inventory Techniques and Their
Use in Formulating Environmental Control Strategies. Part 1: Rapid
Inventory
Techniques
in
Environmental
Pollution.
WHO/PEP/GETNET/93.1-A. Geneva: World Health Organization.
Linsey,
Ray
K.Franzini
&
Joshep
B.,
1991.Teknik
Sumber
DayaAir(terjemahan)jilid 2, edisi Ketiga, Penerbit Erlangga. Jakarta.
Robinson, R. K. 1986. Advances in Milk Products. In Modern Dairy
Technology, Vol. 2. Amsterdam: Elsevier Applied Science Publishers.
Tjokrokusumo, KRT., 1995, Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus
Pengelolaan dan Pengolahan Air, STTL YLH, Yogykarta.
Wagini, R., 1996, Teknologi Daur Ulang Limbah Industri Peternakan Sapi
Sebagal Alternatif Diversifikasi Sumber Energi dan Mengatasi Pencemaran
Lingkungan.RUT V, FMIPA, UGM, Yogyakarta.
Ward hana, WA., 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Penerbit And
Ofset,Yogyakarta.

18

Anda mungkin juga menyukai