Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP

DENYUT JANTUNG DAPHNIA

Oleh
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
: Hasan
: B1J012204
:I
:5
: Boenga nur cita

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Daphnia sp adalah hewan Crustaceae yang termasuk ordo Cladoceta.

Jantung Daphnia sp berupa kantung berbentuk pelana terletak di dalam thorax


sebelah dorsal. Jantung terikat pada dinding sinus pericardi dengan perantara
sejumlah logamenta. Sistem vaskuler dari Daphnia sp ialah terbuka, jantung
memompa darah ke seluruh bagian tubuh dan menghisapnya kembali melalui
lubang-lubang yang dilengkapi valva. Tiga pasang lubang yang dilengkapi
dengan valva disebut ostia, memungkinkan darah masuk kembali dari sinus
melingkarnya. Daphnia sp juga memiliki 5 pasang kaki yang menyerupai
lembaran daun. Gerakan kaki menyebabkan timbulnya aliran air yang membawa
partikel-partikel makanan dan oksigen. Jantungnya terdapat pada sisi dorsal,
denyut jantung cepat dan memiliki sepasang ovaria di kanan-kiri, saluran
pencernaan di thorax (Radiopoetro,1977). Daphnia sp mempunyai suatu badan
yang terdiri dari kepala dan tubuh. Antena pada Daphnia sp adalah alat
penggerak utama. Daphnia sp akan berganti bulu dan mengganti kulit
eksternalnya pada waktu tertentu (Rottmann, 2002). Hewan ini bisa ditemukan
dalam kultur kutu air, yang merupakan salah satu penyusun zooplankton, hidup
di air tawar, misalnya di danau. Genus Daphnia telah menjadi model taxon yang
sering digunakan dalam berbagai percobaan. Daphnia tidak seperti hewan
crustacea yang lain, kromosomnya sangat kecil dan mempunyai rangka
eksoskeletal yang sangat kecil pula (Ville et al., 1988).
Daphnia ini merupakan hewan poikoiterm, yaitu suhu tubuhnya selalu
berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan. Jantung Daphnia sp.
merupakan struktur globular kecil dibagian anterodorsal tubuh. Kecepatan denyut
jantungnya dipengaruhi beberapa faktor antara lain aktivitas, ukuran dan umur,
cahaya, temperatur (suhu), Obat-obat (senyawa kimia). Suhu mempengaruhi
proses fisiologi organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Suhu tubuh yang
konstan sangat dibutuhkan oleh hewan karena perubahan suhu dapat
mempengaruhi konformasi protein dan aktivitas enzim. Apabila aktivitas enzim
terganggu, reaksi dalam sel juga akan terganggu (Barnes, 1965). Oleh karena
itu, dilakukan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu
terhadap kecepatan denyut jantung Daphnia sp.

Daphnia sp dapat dilihat dengan mata telanjang bila berada di air bening
dengan cahaya yang cukup terang, tetapi untuk mengamati organ-organ
internalnya dibutuhkan bantuan mikroskop dengan perbesaran minimal 20x.
Praktikum kali ini menggunakan Daphnia sp sebagai bahan percobaan untuk
mengetahui pengaruh lingkungan terhadap denyut jantungnya, menggunakan
Daphnia sp karena tubuh hewan ini transparan, maka organ-organ internalnya
sangat jelas dibawah mikroskop dan kerja jantungnya mudah diamati serta
mudah didapat.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum pengaruh lingkungan terhadap denyut jantung
Daphnia sp adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur lingkungan dan zat
kimia terhadap denyut jantung hewan percobaan (Daphnia sp).

II. MATERI DAN CARA KERJA


2.1

Materi
Bahan yang digunakan dalam kali ini adalah Daphnia sp, es batu, larutan

alkohol 5 %, dan air panas.


Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah termometer, pipet
tetes, cavity slide, mikroskop cahaya, stopwatch, hand tally counter, dan kertas
tissue.
2.2

Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum pengaruh lingkungan terhadap

denyut jantung Daphnia sp kali ini adalah sebagai berikut :


1. Daphnia sp dilekakkan ke dalam lekukan pada cavity slide dengan
menggunakan pipet tetes. Air yang berlebihan dikeringkan dengan
menggunakan kertas tissue.
2. Denyut jantungnya diperhatikan baik-baik di bawah mikroskop cahaya
dengan perbesaran 20x. Jangan terkecoh dengan gerakkan kakinya yang
juga bergerak dengan ritmis.
3. Satu orang dipiih untuk mengatur waktu dan satunya mengamati denyut
jantung normal Daphnia sp di bawah mikroskop.
4. Daphnia sp dikembalikan lagi ke tempatnya atau dibuang.
5. Temperatur media Daphnia sp diukur menggunakan termometer, kemudian
Daphnia sp yang baru di letakkan pada cavity slide seperti cara kerja
sebelumnya.
6. Satu orang dipilih untuk mengatur waktu dan satunya mengamati pengaruh
suhu panas terhadap denyut jantung Daphnia sp di bawah mikroskop.
7. Pengamat harus teliti menggunakan handy tally counter dan menghitung
setiap kali jantung Daphnia sp berdenyut.
8. Penghitungan denyut jantung diberhentikan setelah 15 detik. Jumlah
denyut jantung dihitung, dicatat dan dikalikan 4 agar diperoleh denyut
jantung per menit. Hasil yang diperoleh kemudian dicatat.
9. Daphnia sp dikembalikan lagi ke tempatnya atau dibuang.
10. Cavity slide yang berisi Daphnia sp baru di letakkan ke dalam wadah yang
lebih besar yang berisi air dan bongkahan es. Temperatur dibiarkan turun
hingga suhu tertentu
11. Jika temperatur media Daphnia sp mencapai temperatur tertentu,
kemudian segera diletakkan di bawah mikroskop dan di amati sesuai
prosedur sebelumnya.

12. Perlakuan yang terakhir pada denyut jantung Daphnia sp, yaitu lingkungan
Daphnia sp diberikan larutan alkohol 5 % pada cavity slide, kemudian
diamati di bawah mikroskop sesuai prosedur sebelumnya.
13. Data yang didapat kemudian dicatat dan dibandingkan dengan perlakuan
yang dilakukan sebelumnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
Tabel Pengamatan pengaruh lingkungan terhadap denyut jantung Daphnia
Kelompo
k
1
2
3
4
5

Normal
Suhu
DJ
28
28
28
28
29

116
104
124
154
147

Perlakuan (denyut jantung/menit)


Dingin
Panas
Alkohol
Suhu
DJ
Suhu
DJ
Konsen
DJ
15
10
10
16
22

88
72
124
148
172

40
40
41
40
52

140
132
140
215
204

.
5%
5%
5%
5%
5%

128
152
96
208
204

1
Gambar. Daphnia sp. pada Lingkungan Normal

Keterangan :
1. Jantung

3.2

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 5 diketahui bahwa denyut jantung

Daphnia sp pada suhu normal (29 C) adalah 147 kali per menit. Banyaknya
denyut jantung Daphnia sp pada air dingin adalah 172 kali per menit, sedangkan
pada air panas denyut jantung adalah 204 kali per menit, serta dengan
penambahan alkohol 5% adalah 204 kali per menit. Hasil urutan denyut jantung
Daphnia sp. ini meningkat bersama peningkatan suhu air tempat hidupnya. Hal
ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu lingkungan tempat hidup Daphnia
maka semakin cepat denyut jantungnya (Soegiri, 1988). Guyton (1976)
menambahkan bahwa dalam keadaan normal denyut jantung Daphnia sp per
menit sekitar 100-150 kali per menit.
Daphnia sp merupakan salah satu hewan poikiloterm sehingga naik
turunnya temperature lingkungan dapat mepengaruhi denyut atau kerja jantung.
Metabolisme hewan poikiloterm dipengaruhi oleh lingkungan, begitu juga dengan
denyut

jantungnya.

Temperatur

rendah

akan

mengakibatkan

aktifitas

metabolisme menurun, oksigen yang dibutuhkan juga mengalami penurunan


suhu sehingga denyut jantung lambat, begitu juga sebaliknya (Barnes, 1965).

Frekuensi detak jantung jantung Daphnia sp akan semakin menurun


apabila ditempatkan pada lingkungan dengan suhu yang rendah dan akan
semakin meningkat seiring dengan naiknya suhu lingkungan (Barnes, 1965). Hal
tersebut karena Daphnia sp merupakan hewan poikiloterm yang aktivitas
metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan luas. Begitu juga dengan frekuensi
denyut jantung. Suhu rendah akan mengakibatkan aktivitas metabolisme turun
dan mengakibatkan denyut jantung lambat karena menyuplai sedikit kebutuhan
oksigen (Kimball, 1988).
Gordon (1982), menyatakan kecepatan konsumsi oksigen pada hewan
poikiloterm akan naik dua kali lipat setiap kali kenaikan 10 0 C. Keadaan
temperatur yang rendah menyebabkan denyut jantung menurun, karena pada
kondisi ini Daphnia sp memerlukan oksigen dalam jumlah sedikit. Peningkatan
dan penurunan kecepatan denyut jantung Daphnia sp ini memerlukan
mekanisme penyesuaian diri terhadap lingkungan agar dapat bertahan hidup.
Peningkatan dan penurunan suhu berimbas pada besar dan kecilnya detak
jantung.
Perlakuan dengan pemberian alkohol 5% ternyata pada awalnya cepat
tetapi kemudian akan melemah. Hal ini sesuai dengan Guyton (1976) pada
pemberian zat-zat kimia dalam saluran ekstraseluler dapat menyebabkan
kematian. Hasil percobaan denyut jantung Daphnia sp yang diberi alkohol
menunjukkan peningkatan dari denyut normal. Zat kimia yang mampu
mengurangi frekuensi denyut jantung seperti akohol, acetilcolin dan morpin. juga
menyatakan bahwa penggunaan obat-obatan ini akan menyebabkan penurunan
aktifitas jantung (Schmidt, 1990).
Menurut Watterman (1960), kerja jantung Daphnia sp dipengaruhi oleh
faktor ekstenal (suhu dan zat kimia) dan faktor internal (hewan betina yang
sedang

mengerami

telurnya

denyut

jantung

cepat).

Soetrisno

(1987)

menambahkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi fisiologi atau denyut


jantung, diantaranya adalah :
1.

Faktor kimiawi yang meliputi ion adrenalin, karbondioksida serta


pengaruh zat kimia lain dimana semakin tinggi konsentrasi semakin naik
frekuensi denyut jantungnya.

2.

Temperatur dimana akan mempengaruhi denyut jantung, dimana


denyut jantung akan naik seiring dengan naiknya temperatur tubuh

3.

Hewan kecil mempunyai denyut cepat daripada hewan besar

4.

Hewan muda frekuensinya akan lebih tinggi jika dibandingkan


dengan hewan tua. Hal tersebut karena ukuran tubuh hewan muda lebih
kecil dan pengaruh hambatan berkurang

Barnes (1965) mengatakan kecepatan denyut jantung Daphnia sp dipengaruhi


oleh:

Kerapatan populasi tinggi akan menyebabkan kecepatan denyut


jantung semakin besar

Hewan betina yang membawa telur/anaknya dalam kantong


pengeraman akan menyebabkan kecepatan denyut jantungnya akan
bertambah

Kenaikan kecepatan metabolisme akan menaikkan kecepatan


detak jantung juga.

Pemberian rangsang dalam beberapa variasi kondisi, semakin


besar rangsangan yang diterima maka semakin tinggi kecepatan denyut
jantung.
Daphnia memiliki fase seksual dan aseksual, pada kebanyakan populasi

daphnia didominasi oleh daphnia betina yang bereproduksi secara aseksual ,


pada kondisi yang umum daphnia dapat memproduksi telur sebanyak100 butir
dan dapa bertelur kembali setiap tiga hari, daphnia betina dapat bertelur hingga
25 kali dalam hidupnya, tetapi rata-rata hanya dapat bertelur sebanyak 6 kali
saja. Daphnia betina akan mulai bertelur setelah usia empat hari dengan telur
sebanyak 4-22 butir, dalam kondisi buruk jantan dapat bereproduksi sehingga
terjadilah reproduksi seksual, telur yang dihasilkan merupakan telur-telur dorman
(resting eggs), faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah kekurangan
makanan, kandungan oksigen rendah, kepadatan populasi yang tinggi,dan
temperatur yang rendah (Henneke, 2009).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
temperatur lingkungan dan zat kimia dapat mempengaruhi denyut jantung
Daphnia sp hal ini sesuai dengan hasil pengamatan pada Suhu normal (29 C)
denyut jantungnya adalah 147 kali per menit. Banyaknya denyut jantung Daphnia

sp pada air dingin adalah 172 kali per menit, sedangkan pada air panas denyut
jantung adalah 204 kali per menit, serta dengan penambahan alkohol 5% adalah
204 kali per menit. Hasil urutan denyut jantung Daphnia sp. ini meningkat
bersama peningkatan suhu air tempat hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi suhu lingkungan tempat hidup Daphnia maka semakin cepat
denyut jantungnya dan Penambahan zat kimia (alkohol 5 %) dapat memacu
metabolisme, dan kerja jantung meningkat.

DAFTAR REFERENSI
Barness, R. D. 1965. Invetebrata Zoology. W. B. Sounders Company, London.
Gordon. 1982. Animal Physiology Principles and Adaptation. Mac Munan
Publishing. Co. Inc, New York.
Guyton. 1976. Fisiologi Kedokteran. Buku Kedokteran ECG, Jakarta.
Kimball, J.W. 1988. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Kedokteran, Jakarta.
Pangkey, henneke. 2009. Daphnia dan Penggunaannya. Staf pengajar pada
studi budaya perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNSRAT.
Manado.
Radiopoetro. 1977. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Rottmann, R.W., J. Scott Graves, Craig Watson and Roy P.E. Yanong. 2002.
CultureTechniques of Moina: The Ideal Daphnia for Feeding to
Freshwater Fish Fry 1. Animal Physiology
Schmidt-Nielsen. 1990. Animal Physiology and Enviroment. Cambridge
University Press, Cambridge.
Soegiri, N. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Soetrisno. 1987. Diktat Fisiologi Hewan. Fakultas Peternakan Unsoed,
Purwokerto.
Ville, et al., 1988. Zoologi Umum. Erlangga. Jakarta.
Waterman, T.H. 1960. Physiology of Crustacea Vol. I. Academy Press, New York.