Anda di halaman 1dari 51

BAB VIII

POMPA
8.1.

Pompa di Dunia Industri


Mempelajari pompa tanpa mengetahui alasannya adalah ibarat anda
berjalan kaki menyusuri hutan tanoa mengetahui ada apa dibalik hutan tersebut.
Bersusah payah menyusuri jalan namun Anda bingung untuk apa Anda
melakukannya.
Bacaan kecil ini akan member anda gambaran nyata aplikasi-aplikasi
pompa di dunia industry. Dari beberapa tulisan ini mengenai pompa, bagian ini
sengaja di jadikan bagian prtama karena jelas bahwa mengetahui tujuan untuk
mempelajari pompa adalah hal yang lebih penting dari pada pembelajaran itu
sendiri. Tujuannya simple: agar Anda tidak tersesat.
Pompa adalah sebuah alat mekanis yang berfungsi untuk memindahkan
fluida berupa cair, gas, ataupun lumpur , dari suatu tempat ke tempat yang
lain. Pompa suda sangat begitu luas digunakan di segala aspek kehidupan.
Penggunaan yang paling sering kita jumpai adalah seperti pada system irigasi,
system suplply air, system supply bahan bakar minyak, system pengkondisian
udara (Air Conditioner), system pengendalian banjir, dan lain sebagainya.
Karena penggunaanya yang begitu luas, pompa menjadi sebuah alat yang
memiliki banyak variasi. Mulai dari ukuran kecil hingga besar, dari kapasitas
debit kecil hingga besar, serta dari tekanan kerja yang rendah hingga tinggi.
Beberapa pompa yang akan kita bahas selanjutnya menjadi sedikit contoh
dari jutaan aplikasi pompa di dunia industry. Kemungkinan sebagian besar dari
anda belum pernah mengetahuinya sebelumnya, karena pompa-pompa berikut

351

adalah pompa dengan desain khusus yang di pergunakan di kondisi system yang
khusus pula. Berikut adalah pompa=pompa tersebut:
8.1.1. Electric Submersible Pump (ESP): Pompa Pengeboran Minyak Bumi
Electric Submersible Pump (ESP) adalah jenis pompa sentrifugal
bepenggerak motor listrik yang didesain untuk mampu di tenggelamkan di
dalam sumber fluida kerja. Tujuannya adalah untuk daoat menghindari
terjadinya kavitasi pada pompa. Pompa dengan desain khusus ini digunakan
pada kondisi-kondisi yang khusus pula. Seperti untuk mengangkat air dari
sumber/mata air yang berada di dalam tanah, mengangkat fluida berwujud
sludge (lumpur), dan juga mengangkat minyak mentah pada proses
pengeboran minyak bumi.

Ilustrasi Electric submersible pump pada proses pengeboran minyak bumi


(sumber : Wikipedia.org)
352

ESP digunakan pada proses pengangkatan minyak bumi dan termasuk


teknologi yang paling canggih dan efisien hingga saat ini. Namun disisi lain
teknologi ini juga tidaklah murah. Karena selain desain konstruksi pompa dan
motor listrik yang khusus, diperlukan juga teknologi kabel listrik yang harus
tahan korosi, serta tahan terhadap tekanan dan temperature tinggi.

Bagian-bagian Sistem Electric Submersible Pump pada Oil Well

353

Keterangan :
1. Switchboard
2. Transformer
3. Control Cabinet
4. Terminal Box
5. X-max Tree
6. Submersible Electric Cabel
7. Oil Outlet Valve
8. Big and Flat Shield
9. Check Valve
10. Pump Outlet
11. Small and Flat Shield
12. Submersible Pump
13. Gas Separator
14. Protector
15. Submersible Cable
16. PHD/PSI
17. Centralizer
Pompa ini berjenis sentrifugal multistage dengan jumlah stage yang di
sesuaikan dengan kondisi lapangan. Setiap stage terdiri atas impeller dan
diduser yang berfungsi untuk meningkatkan tekanan fluida serta mengalirkan
langsung stage selanjutnya. Diameter pompa umumnya berukuran 90-254mm,
dengan ukuran panjangnya yang berfariasi di 1m hingga 8,7m. Motor listrik
yang digunakan adalah berfasa tiga dengan kebutuhan daya antara 7,5kW
hingga 560kW pada frekuensi 60Hz.

354

Bentuk Electric Submersible Pump


Electric Submersible Pump ini membutuhkan daya sebsar 3-5kV dari listik
AC untuk dapat mengoprasikan motor listrik yang khusus. Motor tersebut harus
bertahan pada tekanan lingkungan kerja 34M Pa serta suhu 149 C . Pompa
ini mempompa minyak bumi dari kedalaman 3,7km dengan kemampuan
produksi hingga 2500m3 per hari. Energy yang dibutuhkan pompa ini adalah
sebesar 1000 tenaga kuda atau sekitar 750kW. Efisiensi pompa ini akan turun
drastic apabila fluida kerja yang dipimpa (minyak bumi) bercampur dengan gas
alam karena akan menimbulkan kavitasi. Untuk mengatasi hal ini diperlukan
instalasi separator gas pada system pompa.

355

Secara umum Electrical Submersible pump di bagi menjadi 2 bagian:


1. Peralatan di atas permukaan
a. Wellhead
Wellhead atau kepala sumur dilengkapi dengan tubing hanger
khusus yang mempunyai lubang untuk cable pack-off atau penetrator.
Cable pack-off ini biasanya tahan sampai tekanan 3000 psi. Tubing
hanger dilengkapi juga dengan lubang untuk hidraulic control line,
yaitu saluran cairan hidraulik untuk menekan subsurface ball valve
agar terbuka.
Gambar di bawah memperlihatkan tubing hanger dengan cable packoff. Wellhead juga harus dilengkapi dengan seal agar tidak bocor
pada lubang untuk kabel dan line. Wellhead di desain untuk tahan
terhadap tekanan 500 psi sampai 3000 psi.

Gambar.1. Wellhead
b. Junction Box

356

Junction box ditempatkan di antara kepala sumur dan


switchboard untuk alasan keamanan. Gas dapat mengalir keatas
melalui kabel dan naik ke permukaan menuju switchboard, yang bisa
menyebabkan terjadinya kebakaran, karena itu kegunaan dari junction
box ini adalah untuk mengeluarkan gas yang naik keatas tadi. Junction
box biasanya 15 ft (minimum) dari kepala sumur dan normalnya
berada diantara 2 sampai 3 ft di atas permukaan tanah.
Fungsi dari junction box antara lain :

Sebagai ventilasi terhadap adanya gas yang mungkin bermigrasi


kepermukaan melalui kabel agar terbuang ke atmosfer.

Sebagai terminal penyambungan kabel dari dalam sumur dengan


kabel dari swichboard.

c. Switch Board
Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat
pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload dan
underload protection serta alat pencatat (recording instrument) yang
bisa bekerja secara manual ataupun otomatis apabila terjadi
penyimpangan. Switchboard ini dapat digunakan untuk tegangan dari
440 volt sampai 4800 volt.
Fungsi utama dari switchboard adalah :

Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole


problem seperti: overload atau underload current.

Auto restart setelah underload pada kondisi intermittent


well.
357

Mendeteksi unbalance voltage.

Pada switchboard biasanya dilengkapi dengan ammeter chart yang


berfungsi untuk mencatat arus motor versus waktu ketika motor
bekerja.

Gambar.2. Switchboard
d. Transformer
Merupakan alat untuk mengubah tegangan listrik, bisa untuk
menaikan atau menurunkan tegangan. Alat ini terdiri dari core (inti)
yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga. Keduanya, baik
core maupun coil direndam dengan minyak trafo sebagai pendingin
dan isolasi. Perubahan tegangan akan sebanding dengan jumlah lilitan
kawatnya. Biasanya tegangan input transformer diberikan tinggi agar
didapat ampere yang rendah pada jalur transmisi, sehingga tidak
dibutuhkan kabel (penghantar) yang besar. Tegangan input yang tinggi
akan diturunkan dengan menggunakan step-down transformer sampai
dengan tegangan yang dibutuhkan oleh motor.

358

Gambar.3. Transformer
2. Peralatan di bawah permukann
Peralatan di bawah permukaan dari electrical submersible pump terdiri
atas pressure sensing instruments, electric motor, protector, intake, pump
unit dan electric cable serta alat penunjang lainnya.
a. PSI Unit ( Preasure Sensing Instrument)
PSI atau Pressure Sensing Instrument adalah suatu alat yang
mencatat tekanan dan temperatur di dalam sumur. Secara umum PSI
Unit mempunyai 2 komponen pokok, yaitu :

PSI Down Hole Unit, Dipasang dibawah Motor Type Upper atau
Center Tandem, karena alat ini dihubungkan pada Wye dari
Electric Motor yang seolah-olah merupakan bagian dari Motor
tersebut.

PSI Surface Readout, Merupakan bagian dari sistem yang


mengontrol kerja Down Hole Unit serta menampakkan (display)
informasi yang diambil dari Down Hole Unit.

359

b. Electric Motor
Jenis motor electrical submersible pump adalah motor listrik
induksi dua kutub tiga fasa yang diisi dengan minyak pelumas khusus
yang mempunyai tahanan listrik (dielectric strength) tinggi. Dipasang
paling bawah dari rangkaian, dan motor tersebut digerakkan oleh arus
listrik yang dikirim melalui kabel dari permukaan. Motor berfungsi
untuk menggerakan pompa dengan mengubah tenaga listrik menjadi
tenaga mekanik.
Fungsi dari minyak tersebut adalah :

Sebagai pelumas.

Sebagai tahanan (isolasi).

Sebagai media penghantar panas motor yang ditimbulkan oleh


perputaran rotor ketika motor tersebut sedang bekerja.
Jadi minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi tertentu yang

biasanya sudah ditentukan oleh pabrik, yaitu berwarna jernih, tidak


mengandung bahan kimia, dielectric strength tinggi, lubricant dan
tahan panas. Minyak yang diisikan akan mengisi semua celah-celah
yang ada dalam motor, yaitu antara rotor dan stator.
Motor berfungsi sebagai tenaga penggerak pompa (prime mover),
yang mempunyai 2 (dua) bagian pokok, yaitu :

Rotor (gulungan kabel halus yang berputar).

Stator (gulungan kabel halus yang stasioner dan menempel pada


badan motor).
360

Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi tenaga


putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros (shaft) yang
berada ditengahnya akan ikut berputar, sehingga poros yang saling
berhubungan akan ikut berputar pula (poros pompa, intake, dan
protector).
c. Protector
Protector (Reda) sering juga disebut dengan Seal Section
(Centrilift) atau Equalizer (ODI). Secara prinsip protector mempunyai
4 (empat) fungsi utama, yaitu :

Untuk melindungi tekanan dalam motor dan tekanan di annulus.

Menyekat masuknya fluida sumur kedalam motor.

Tempat duduknya thrust bearing (yang mempunyai bantalan axial


dari jenis marine type) untuk merendam gaya axial yang
ditimbulkan oleh pompa.

Memberikan ruang untuk pengembangan dan penyusutan minyak


motor sebagai akibat dari perubahan temperatur dari motor pada
saat bekerja dan saat dimatikan.

Secara umum protektor mempunyai 2 (dua) macam tipe, yaitu :


Positive Seal atau Modular Type Protector.
Labyrinth Type Protector.

361

Untuk sumur-sumur miring dengan temperatur > 300F disarankan


menggunakan protektor dari jenis positive seal atau modular type
protector.

Gambar.4. Motor
d. Intake
Intake dipasang dibawah pompa dengan cara menyambungkan
sumbunya (shaft) memakai coupling. Intake merupakan saluran
masuknya fluida dari dasar sumur ke pompa menuju permukaan.
Untuk jenis-jenis tertentu, intake ada yang dipasang menjadi satu
dengan housing pompa (intregrated), tetapi ada juga yang berdiri
sendiri.
Ada beberapa jenis intake yang sering dipakai, yaitu :
Standard Intake, dipakai untuk sumur dengan GLR rendah. Jumlah
gas yang masuk pada intake harus kurang dari 10% sampai dengan
15% dari total volume fluida. Intake mempunyai lubang untuk
masuknya fluida ke pompa, dan dibagian luar dipasang selubung
(screen) yang gunanya untuk menyaring partikel masuk ke intake
sebelum masuk kedalam pompa.

362

Rotary Gas Separator dapat memisahkan gas sampai dengan 90%,


dan biasanya dipasang untuk sumur-sumur dengan GLR tinggi.
Gas Separator jenis ini tidak direkomendasi untuk dipasang pada
sumur-sumur yang abrasive.

Static Gas Separator atau sering disebut reverse gas separator, yang
dipakai untuk memisahkan gas hingga 20% dari fluidanya.

e. Pump Unit
Unit pompa merupakan Multistages Centrifugal Pump, yang
terdiri dari : impeller, diffuser, shaft (tangkai) dan housing (rumah
pompa). Di dalam housing pompa terdapat sejumlah stage, dimana
tiap stage terdiri dari satu impeller dan satu diffuser. Jumlah stage
yang dipasang pada setiap pompa akan dikorelasi langsung dengan
Head Capacity dari pompa tersebut. Dalam pemasangannya bisa
menggunakan lebih dari satu (tandem) tergantung dari Head Capacity
yang dibutuhkan untuk menaikkan fluida dari lubang sumur ke
permukaan. Impeller merupakan bagian yang bergerak, sedangkan
diffuser adalah bagian yang diam. Seluruh stage disusun secara
vertikal, dimana masing-masing stage dipasang tegak lurus pada poros
pompa yang berputar pada housing.
Prinsip kerja pompa ini adalah fluida yang masuk kedalam
pompa melalui intake akan diterima oleh stage paling bawah dari
pompa, impeller akan mendorongnya masuk, sebagai akibat proses
centrifugal maka fluida tersebut akan terlempar keluar dan diterima
oleh diffuser.
Oleh diffuser, tenaga kinetis (velocity) fluida akan diubah
menjadi tenaga potensial (tekanan) dan diarahkan ke stage selanjutnya.
363

Pada proses tersebut fluida memiliki energi yang semakin besar


dibandingkan pada saat masuknya. Kejadian tersebut terjadi terusmenerus sehingga tekanan head pompa berbanding linier dengan
jumlah stages, artinya semakin banyak stage yang dipasangkan, maka
semakin besar kemampuan pompa untuk mengangkat fluida

Gambar.5. Pompa Sentrifugal Tingkat Banyak (Multiple Stage)


f. Electric Cable
Kabel yang dipakai adalah jenis tiga konduktor. Fungsi utama
dari kabel tersebut adalah sebagai media penghantar arus listrik dari
switchboard sampai ke motor di dalam sumur. Kabel harus tahan
terhadap tegangan tinggi, temperatur, tekanan migrasi gas dan tahan
terhadap resapan cairan dari sumur. Untuk itu maka kabel harus
mempunyai isolasi dan sarung yang baik.

364

Bagian dari kabel biasanya terdiri dari :

Konduktor (conductor)

Isolasi (insulation)

Sarung (sheath)

Jaket (jacket)
Ada dua jenis kabel yang biasa dipakai yaitu : round dan flat cable.

Pada jenis round cable di bagian luar sarungnya dibungkus lagi dengan
karet (rubber jacket). Biasanya kabel jenis round ini memiliki
ketahanan yang lebih lama daripada jenis flat cable, tetapi memerlukan
ruang penempatan yang lebih besar.
Secara umum ada dua jenis kabel yang biasa dipakai di lapangan, yaitu
:

Untuk low temperature, disarankan untuk pemasangan pada sumursumur dengan maximum 200F.

Pada high temperature, kabel disarankan untuk pemasangan pada


sumur-sumur dengan temperatur yang cukup tinggi sampai mencapai
mencapai 400F. Untuk sumur bersuhu tinggi (lebih 250F) perlu
dipasang epoxy untuk melindungi kabel, O-ring dan seal.

365

Gambar.6. Kabel Yang Digunakan Pada Bagian Dasar


g. Check Valve
Check valve biasanya dipasang pada tubing (2 3 joint) di atas
pompa. Bertujuan untuk menjaga fluida tetap berada di atas pompa.
Jika check valve tidak dipasang maka kebocoran fluida dari tubing
(kehilangan fluida) akan melalui pompa yang dapat menyebabkan
aliran balik dari fluida yang naik ke atas, sebab aliran balik (back
flow) tersebut membuat putaran impeller berbalik arah, dan dapat
menyebabkan motor terbakar atau rusak.
Jadi umumnya check valve digunakan agar tubing tetap terisi penuh
dengan fluida sewaktu pompa mati dan mencegah supaya fluida tidak
turun ke bawah.

366

h. Bleeder Valve
Bleeder valve dipasang satu joint di atas check valve,
mempunyai fungsi mencegah minyak keluar pada saat tubing dicabut.
Fluida akan keluar melalui bleeder valve.
i. Centralizer
Berfungsi untuk menjaga kedudukan pompa agar tidak
bergeser atau selalu ditengah-tengah pada saat pompa beroperasi,
sehingga kerusakan kabel karena gesekan dapat dicegah.
8.1.2. Boiler Feed Water Pump : Pompa Siklus Rankine
Boiler Feed Water Pump merupakan salah satu aplikasi penggunaan
pompa sentrifugal berukuran besar pada industry pembangkit listrik tenaga
uap. Pompa ini berfungsi untuk mengontrol dan mensuply air pada jumlah
tertentu yang berasal dari tanki air (Feed Water tank) menuju boiler dengan
spesifikasi tekanan tertentu. Air tesebut sebelum masuk ke boiler biasanya
mengalami pemanasan awal (pre-heating). Sehingga air yang di pompa oleh
BFWP juga memiliki temperature tertentu yang cukup panas.

367

Boiler Feed Water Pump


Satu unit BFWP pada PLTU terdiri atas dua pompa dan satu penggerak.
Penggerak yang kecil digunakan bisa berupa motor kistrik atau juga turbin uap
berukuran kecil. Turbin kecil ersebut mendapatkan supply uap air yang
mengambil dari turbin uap utama pada stage tertentu (bis disebut Extraction
Steam).Dua pompa dari BFWP adalah satu bosster pump dan satu main
pump/pompa utama. Keduanya menggunakan penggerak tunggal (turbin uap
atau motor), yang sumbunya decouple dengan atau tanpa system transmisi
tergantung desainnya.
Air yang di transfer BFWP menuju ke boiler berasal dari Feed Water Tank
(FWT) yang terletak pada ketinggian tertentu. Ketinggian dai FWT ini menjadi
368

Positive Suction Head untuk BFWP. Air masuk dari FWT menuju inket booster
pump dan keluar dengan kenaikan tekanan tertentu yang lebih tinggi, ekanan
tersebut menjadi Positive Suction Head untuk main Pump. Selanjutnya air
masuk ke main pump dengan mengalami kenaikan tekanan yang lebih besar
untuk selanjutnya disupply menuju boiler.
Bosster pump memiliki spesiikasi pompa sentrifugal, single flow dan
hanya satu stage pompa. Menggunakan mechanical seal serta thrust dan journal
bearing untuk menahan gaya-gaya yang terjadi. Sedangkan main pumo
berspesifikasi pompa sentriugal, multi-stage dan single flow. Juga menggunakan
mechanical seal serta thrust dan journal bearing. Dan untuk menahan gaya
aksial yang besar, digunakan balance drum yang mengambil sebagian kecil air
dari susu outlet pompa untuk dimasukan ke bagian inlet untuk melawan gaya
aksial yang timbul.
Seperti yang suda disinggung sebelumnya bahwa BFWP mensupply air
menuju boiler dalam jumlah tertentu, yang pada prakterknya jumlah air yang
dibutuhkan oleh boiler ini berubah-ubah. Perubahannnya berdasarkan jumlah
uap air peoduk boiler yang dibutuhkan untuk proses selanjutnya. Semisal pada
PLTU, pada saat beban listrik tinggi maka kebutuhan uap air yang masuk ke
dalam turbin uap juga tinggi otomatis jumlah air yang dibutuhkan untuk masuk
ke boiler juga tinggi. Sehingga BFWP akan mensupply air dalam jumlah sesuai
kebutuhan. Demikian pula sebaliknya pada saat beban lisrik rendah.
Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa ternyata BFWP mempompa air ke
boiler dengan jumlah/debit yang bervariasi. Hal ini dengan jalan mengubahubah kecepatan putaran pompanya. Jika pompa menggunakan penggerak turbin
uap, maka kecepatan putarnya akan di atur oleh bukaan Icontrol valve uap air
penggerak turbin tersebu. Jika bukaannya besar maka uap air yang masuk akan
369

semakin banyak dan putaran turbin sekaligus putaran pomppa akan lebih besar.
Sedangkan jikamenggunakan penggerak motor listri, yang mengatur besar debit
air adalah fluid coupling yang terpasang di antara motor dengan main pump.
Fluid coupling ini mengatur kecepatan putar pompa sesuai dengan kebutuhan
debit air yang dibutuhkan. Sedangkan putaran motor listrik sebagai penggerak
utamanya adalah tetap/konstan.
8.1.3. Pompa Ekstraksi Kondensat (Condensate Extraction Pump)
Pompa ekstraksi kondensat lebih dikenal dalam bahasa inggis dengan
nama Condensate Extraction Pump (CEP). Pompa ini menjadi salah satu
pompa yang keberadaanya sangat penting di siklus Water Steam pembangkit
listriktenaga uap. CEP secara sederhana berfungsi untuk mensupply air
kondensat yang berasal dari kondensor menuju ke proses selanjutnya, yaitu
deaerator dan feed water tank. Uap air yang selanjutnya berubah fase menjadi
air di dalam kondensor memiliki besar tekanan nol atu vakum. Untuk itulah
dibutuhkan CEP untuk menaikan head air sehinga dapat tesuply ke deaerator
yang letaknya di ketinggian tertentu.
Pompa Ekstrasi Kondensat berjenis pompa sentrifugal sengan sumbu/shaft
vertical dan multistage. Digunakan pompa sentrifugal karena cocok dengan
kebutuhannya pada kondisi yang bertekanan dan volume tinggi. Serta hanya
dibutuhkan suction head yang minimum untuk beroprasi. Semisal d iambil
contoh pompa vertical, sentrifugal, tiga stage seperti pada gambar di bawah
ini. Setiap stage memiliki impeler tersendiri, jadi total ada tiga impeller. Air
kondensat yang keluar dari kondensor, memiliki temperature hangat (sekitar
40-50 derajat celcius) dengan tekanan vakum. Kondensat tersebut masuk ke
pompa menuju stage pertama dan dinaikan tekanannya. Selanjutnya msuk ke
stage dua dan tiga dan tepat di titik outlet dari stage trakhir tekanan masih
hamper mendekati tekanan yang diinginkan. Selanjutnya kondensat keluar
370

dari pompa tersebut melewati diffuser, yang secara desain akan mendorong air
yang menuju volute casing dan menaikkan tekanan kondensat sesuai dengan
yang diinginkan.

Condensate Extraction Pump


Pompa ekstaksi kondensat amat rentan mengalami kavitasi. Hal ini
disebabkan karena air inletnya memiliki tekanan yang vakum dan temperature
yang masih hangat serta berpotensi terbentuknya gelembung uap air pada

371

CEP. Kavitasi adalah sebuah fenomena terbentuknya gelembung-gelembung


uap air pada pompa yang dapat menimbulkan suara bising pada pompa dan
bahkan dapat menghasilkan tekanan nol pada outlet pompa. Untuk
menghindari kavitasi pada CEP, maka level ketinggian air kondensat di dalam
kondensor dijaga pada level tertentu. Ketinggian kondensat di dalam
kondensor menjadi positive suction head dari CEP. Untuk itu level ketinggian
dari kondensat tersebut menjadi salah satu input proteksi untuk pompa CEP.
Apabila level kondensat turun pada nilai tertentu, pompa CEP yang sedang
bekerja akan dihentikan oleh system otomatis nya menghindari kerusakan
yang lebih parah akibat terjadinya kavitasi.
8.2.

Pompa Secara Umum


Seperti yang sudah di bahas sebelumnya pompa merupakan salah satu
jenis mesin yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke
tempat yang diinginkan. Zat cair tersebut contonya adalah air, oli atau minyak
pelumas, atau fluida lainnya. Industri-industri banyak menggunakan pompa
sebagai salah satu peralatan bantu yang penting untuk proses produksi. Sebagai
contoh pada pembangkit listrik tenaga uap, pompa digunakan untuk menyuplai
air umpan ke boiler atau membantu sirkulasi air yang akan diuapkan di boiler.
Pada pompa akan terjadi perubahan dari dari energi mekanik menjadi
energi fluida. Pada mesin-mesin hidrolik termasuk pompa, energi fluida ini
disebut head atau energi persatuan berat zat cair. Ada tiga bentuk head yang
mengalami perubahan yaitu head tekan, kecepatan dan potensial. Selain dapat
memindahkan cairan, pompa juga dapat berfungsi sebagai untuk meningkatkan
kecepatan, tekanan dan ketinggian pompa. (Djati Nursuhud, 2006)
Pompa memiliki komponen-komponen dalam proses memproduksi. Komponenkomponen tersebut antara lain:
372

1. Pompa
2. Mesin Penggerak, berupa : motor listrik, mesin diesel atau sistem udara.
3. Pipa atau pemipaan digunakan untuk membawa fluida.
4. Kran, digunakan untuk mengendalikan aliran dalam sistem.
5. Sambungan, pengendalian dan instumentasi lainnya.
6. Peralatan penggunaan akhir, yang memiliki berbagai persyaratan.
Misalnya: tekanan, aliran yang menentukan komponen dan susunan
systempemompaan. Contoh: Alat Penukar Panas atau Heat Exchanger,
tangki dan mesin hidrolik.
8.2.1.

Klasifikasi Pompa
Pompa dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yang
berbeda, misalnya berdasarkan kondisi kerjanya, cairan yang dilayani /
dipindahkan, bentuk elemen yang bergerak, jenis penggeraknya, serta
berdasarkan cara menghantar fluida dari dari pipa hisap ke pipa tekan.
Namun secara umum pompa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

373

Pompa

Perpindah
an Positve

Reciprocati
ng

Rotary

Cuping

Dinamik

Sekrup

Gear

Pengaruh
Khusus

Sentrifugal

Lobe

Balingbaling

Jenis-Jenis Pompa
8.2.2. Positive Displacement Pump atau Pompa Perpindahan Positif
Pompa perpindahan positif adalah perpindahan zat cair dari suatu
tempat ke tempat lain disebabkan perubahan volume ruang kerja pompa yang
diakibatkan oleh gerakan elemen pompa yaitu maju-mundur (bolak-balik)
atau berputar (rotary). Dengan perubahan volume tersebut maka zat cair pada
bagian keluar (discharge) mempunyai tekanan yang lebih besar dibanding
pada bagian masuk (suction) dan konsekuensinya kapasitas yang dihasilkan
sesuai volume yang dipindahkan.
Pompa ini disebut juga dengan pompa aksi positif. Energi mekanik
dari putaran poros pompa dirubah menjadi energi tekanan untuk
memompakan fluida.

374

Pada pompa jenis ini dihasilkan head yang tinggi tetapi kapasitas yang
dihasilkan rendah. Ciri-Ciri Umum Pompa Positip :

Head yang dihasilkan relatif tinggi dibanding dengan kapasitas.

Mampu beroperasi pada suction yang kering, sehingga tidak


memerlukan proses priming.

Kapasitas atau aliran zat cair tidak berkelanjutan.

Adapun yang termasuk dalam jenis Positive Displacement Pump atau


Pompa Perpindahan Positif ini adalah:

1. Pompa Rotary atau pompa Berputar


Pompa rotary adalah pompa-pompa positip (positive
displacement pumps) dimana energi ditransmisikan dari
motor penggerak ke cairan oleh suatu bagian (elemen) yang
mempunyai gerakan berputar di dalam rumah pompa.
Pompa jenis ini sebagai ganti pelewatan cairan pompa
sentrifugal,

pompa

rotari

akan

merangkap

cairan,

mendorongnya melalui rumah pompa yang tertutup. Hampir


sama dengan piston pompa torak akan tetapi tidak seperti
pompa torak (piston), pompa rotari mengeluarkan cairan
dengan aliran yang lancar (smooth) ( Tyler G. Hicks 1971)
Berdasarkan desainnya, pompa rotary dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:

375

2. Screw Pumps atau Pompa Sekrup.


Pompa jenis ini mempunyai satu, dua atau tiga sekrup
yang berputar di dalam rumah pompa yang diam. Tersedia
sejumlah besar desain untuk berbagai penggunaan. Pompa
sekrup tunggal mempunyai rotor spiral yang berputar di
dalam sebuah stator atau lapisan (linier) heliks dalam
(internal helix stator).
Pompa dua sekrup atau tiga sekrup masing-masing
mempunyai satu atau dua sekrup bebas (idler). Aliran melalui
ulir-ulir sekrup, sepanjang sumbu sekrup, sekrup-sekrup yang
berlawanan dapat dipakai untuk meniadakan dorongan aksial
pada pompa. Adapun kelebihan dari pompa ini adalah:

Efisiensinya totalnya tinggi (70 % 80%)

Ukuran pompa relatif kecil, ringan karena rotor


dapat bekerja pada putaran tinggi.

Aliran hampir benar-benar uniform.

Getarannya relatif kecil.

Kapasitas isapnya baik sekali.

Dapat beroperasi dalam berbagai posisi, horizontal,


vertikal, miring dan lain-lain.

376

Gambar Screw Pump atau Pompa Sekrup


3. Gear Pumps atau Pompa Roda Gigi
Pada pompa ini roda gigi mampu digunakan untuk
memompa cairan yang mempunyai viskositas rendah hingga
tinggi.Pompa roda gigi terdiri dari roda gigi penggerak dan
roda gigi yang digerakkan. Konstruksinya bisa external
ataupun juga internal. Pompa ini umumnya dipakai sebagi
pompa minyak pelumas.
Kebaikan pompa roda gigi adalah:

Alirannya seragam.

Konstruksi sederhana.

Kapasitasnya relatih besar dibanding ukuran pompa


yang kecil.

Instalasi sederhana

Pada Gear Pumps atau Pompa Roda terbagi atas beberapa


bagian, yaitu:

377

a. External Gear Pumps atau Pompa Roda Gigi Luar


Pompa ini merupakan jenis pompa putar yang
paling sederhana. Apabila gerigi roda gigi berpisah
pada sisi hisap, cairan akan mengisi ruangan yang ada
diantara gerigi tersebut. Kemudian cairan ini akan
dibawa berkeliling dan ditekan keluar apabila giginya
bersatu lagi. Roda gigi itu dapat berupa gigi heliks
-tunggal, heliks - ganda atau gigi lurus. Beberapa
desain mempunyai lubang fluida yang radial pada rada
gigi bebas dari bagian atas dan akar gerigi sampai ke
lubang dalam roda gigi. Ini memungkinkan cairan
melakukan jalan pintas (by-pass) dari satu gigi ke gigi
lainnya, yaitu menghindarkan terjadinya tekanan
berlebih yang akan membebani bantalan secara
berlebihan dan menimbulkan kebisingan.

Gambar 2.3. External Gear Pumps atau Pompa Roda


Gigi Luar
(Sumber: Tyler G. Hicks 1971)

378

b. Internal Gear Pumps atau Pompa Roda Gigi Dalam


Pompa

jenis

ini

mempunyai

rotor

yang

mempunyai gerigi dalam yang berpasangan dengan


roda gigi kecil dengan penggigian luar yang bebas
(idler). Sebuah sekat yang berbentuk bulan sabit dapat
digunakan untuk mencegah cairan kembali ke sisi hisap
pompa.

Gambar 2.4. Internal Gear Pumps atau Pompa Roda


Gigi Dalam
(Sumber: Tyler G. Hicks, 1971)
4.

Lobe Pumps atau Pompa Cuping.


Pompa cuping ini mirip dengan pompa jenis roda gigi
dalam hal aksinya dan mempunyai dua rotor. Putaran rotor
tadi diserempakkan oleh roda gigi luarnya. Oleh karena cairan
dialirkan dengan frekuensi yang lebih sedikit tetapi dalam
jumlah yang lebih besar dari yang dialirkan oleh pompa rada
gigi, maka aliran dari pompa jenis cuping ini akan sekonstan
aliran roda gigi. Tersedia juga gabungan pompa-pompa roda
gigi dan cuping. Pompa ini dapat dimodiflkasi lebih lanjut
sesuai dengan yang diinginkan. Tidak jarang ditemukan nama-

379

nama yang berbeda untuk jenis pompa ini walaupun secara


prinsipnya menggunakan atau sama dengan pompa cuping.
Modifikasi-modifikasi yang dibuat tidaklah berbeda jauh
dengan prinsip dasarnya hanya saja perlu disesuaikan dengan
kondisi dan keadaannya terhadap apa dan untuk apa pompa
tersebut diperbuat.

Pompa Rotari Dua Cuping

Pompa Rotari Tiga Cuping

Pompa Rotari Empat Cuping


380

Gambar 2.5. Lobe Pumps atau Pompa Cuping


(Sumber: Tyler G. Hicks 1971)
5. Vane Pumps atau Pompa Baling-baling
Vane Pumps ini merupakan jenis pompa yang dapat
menangani cairan viskositas sedang. Pompa ini unggul dalam
viskositas rendah seperti gas LPG (propana), ammonia,
pelarut, alkohol, minyak bahan baker, bensin dan refrigeran.
Pompa ini mempunyai kontak logam untuk logam internal dan
self kompensasi untuk dipakai, sehingga memungkinkan bagi
pompa untuk mempertahankan kinerja puncak atas cairan
pelumas. Meskipun efisiensinya turun dengan cepat, pompa
ini dapat digunakan sampai 500cps.
Vane Pumps tersedia dalam beberapa konfigurasi
termasuk baling-baling geser (kiri), baling-baling yang
fleksibel, baling-baling berayun, baling-baling putar, dan
baling-baling eksternal. Vane Pumps terkenal akan cat dasar
kering, kemudahan pemeliharaan, dan karakteristik tarikan
yang baik atas kerja pompa.
Selain itu, baling-baling dapat menangani temperatur
cairan dari -32 C / 25 F sampai 260 C / 500 F dan
perbedaan tekanan (P) untuk 15 BAR / 200 PSI (lebih tinggi
untuk pompa hidrolik vane). Setiap jenis Vane Pumps
menawarkan keuntungan yang unik.

381

Sebagai

contoh,

Vane

Pumps

eksternal

dapat

menangani padatan yang besar, di sisi lain, pompa balingbaling yang fleksibel, hanya dapat menangani padatan kecil
tapi menciptakan vakum yang baik. Sliding Vane Pumps
(Pompa Baling-baling Geser) hanya dapat beroperasi untuk
jangka waktu yang singkat dan menangani sejumlah kecil uap.
Adapun keuntungan dan kerugian dari pada pompa
baling adalah, sebagai berikut:
Keuntungan:

Menangani kecilnya kapsitas pada tekanan yang


relatif lebih tinggi.

Mengkompensasi keausan melalui perpanjangan


baling-baling.

Kadang-kadang pilihan untuk pelarut LPG.

Kerugian:

Tidak cocok untuk tekanan tinggi.


Tidak cocok untuk viskositas tinggi.

6. Pompa Reciprocating (bolak-balik).


Pompa Reciprocating merupakan suatu pompa yang
dapat mengubah energi mekanis menjadi energi aliran fluida
dengan menggunakan piston yang dapat bergerak bolak-balik
didalam silinder.

382

Pompa ini merupakan pompa bolak-balik yang


dirancang untuk menghasilkan kapasitas yang cukup besar.
Umumnya menggunakan head yang rendah. Dan digunakan
pada perbedaaan ketinggian yang tidak terlalu besar antara
suction dan discharge. (Tyler G. Hicks 1971)
8.3.

Prinsip Kerja Pompa Reciprocating


Udara yang bergerak cepat dibentuk dengan melepaskan udara tekanan
tinggi melalui sebuah celah buang dipermukaan yang berdekatan, dan
menyeret udara keluar, bersama dengan itu Semakin tinggi tekanan pasokan
udara primer maka semakin buruk efisiensi. Cairan memasuki ruang pompa
melalui katup inlet dan didorong keluar melalui katup keluaran oleh aksi
piston atau diafragma. Jenis-jenis Pompa Reciprocating:

Piston Pump
Pompa piston mempunyai bagian utama berupa torak
atau diafragma yang bergerak bolak balik didalam selinder
untuk dapat mengalirkan fluida. Pompa ini dilengkai dengan
katup katup, dimana fluida bertekanan rendah di hisap
melalui katup hisap ke ruang selinder, kemudian ditekan oleh
torak atau diafragma hingga tekanan statisnya naik dan
sanggup mengalirkan fluida keluar melalui katup tekan. Pompa
piston memiliki langkah langkah kerja, pada langkah hisap
maka terjadi kevakuman di dalam ruang silinder katup hisap
terbuka maka cairan masuk ke ruang silinder, pada saat
langkah tekan katup hisap tertutup dan katup keluar terbuka,
sehingga fluida terdesak dan tekanan menjadi naik, kemudian

383

aliran

keluar

melalui

saluran

keluar.

Proses

tersebut

berlangsung terus menerus selama pompa bekerja.

Pompa torak menurut cara kerjanya:


Pump Single Acting Piston atau Pompa Torak Kerja
Tunggal

Gambar 2.6. Pompa Torak Kerja Tunggal


(sumber: http://awan05.blogspot.com/2009/12/.html)

Gambar 2.7. Skema Pompa Torak Kerja Tunggal


(sumber: http://awan05.blogspot.com/2009/12/.html)

384

Gambar 2.8. Pump Double Action Piston atau Pompa


Torak Kerja Ganda
(sumber: http://awan05.blogspot.com/2009/12/.html)

Pompa torak menurut jumlah silinder:


Single Cylinder Piston Pump atau Pompa Torak
Silinder Tunggal

Gambar 2.9. Single Cylinder Piston Pump atau Pompa


Torak Silinder Tunggal
(sumber: http://awan05.blogspot.com/2009/12/.html)

385

Double Cylinder Piston Pump atau Pompa Torak


Silinder Ganda

Gambar 2.10. Double Cylinder Piston Pump atau Pompa


Torak Silinder Ganda
(sumber: http://awan05.blogspot.com/2009/12/.html)
(a) Swashplate Pump = lempeng swash pompa
(b) Bent Axis Pump = pompa sumbu bengkok

Keuntungan dan kerugian pompa reciprocating


Pompa reciprocating terdiri dari banyak jenis dan
diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang bermacammacam.

Adapun

keuntungan

dan

kerugian

dalam

menggunakan pompa reciprocating adalah:


Keuntungan dari Pompa Reciprocating:

Efisiensi lebih tinggi.

Dapat

digunakan

pancingan.

386

langsung

tanpa

memerlukan

Bila bekerja pada kecepatan konstan, pompa ini akan


mempunyai kapasitas dan tekanan yang konstan pula.

Pompa ini cocok untuk penggunaan head yang tinggi


dan kapasitas rendah.

Kerugian dari Pompa Reciprocating:

Konstruksi lebih rumit.

Keadaan efisiensi yang tinggi tidak akan didapat lagi


bila pompa beroperasi pada kondisi yang tidak sesuai.

Aplikasi Pompa Reciprocating


Pompa reciprocating banyak digunakan dalam berbagai
bidang, antara lain:

8.4.

Industri proses.

Perkapalan, dock, dan lepas pantai.

Oil dan gas, dan

Aplikasi umum lainnya.

Pompa Dinamik
Pompa dinamik juga dikarakteristikkan oleh cara pompa tersebut
beroperasi: impeler yang berputar mengubah energi kinetik menjadi tekanan
atau kecepatan yang diperlukan untuk memompa fluida, yang termasuk dalam
jenis pompa ini adalah pompa sentrifugal.

387

8.4.1. Pompa Sentrifugal.


Merupakan pompa yang sangat umum digunakan untuk
pemompaan air dalam berbagai penggunaan industri. Biasanya lebih
dari 75% pompa yang dipasang di sebuah industri adalah pompa
sentrifugal.
Pompa sentrifugal adalah salah satu peralatan sederhana yang
sering digunakan pada berbagai proses dalam suatu pabrik. Pompa
sentrifugal ini mempunyai tujuan untuk mengubah energi dari suatu
pemindah utama (motor electric atau turbin) menjadi kecepatan atau
energi kinetik dan kemudian menjadi energi tekanan dari suatu fluida
yang dipompakan. Perubahan energi terjadi melalui sifat dari kedua
bagian utama pompa, impeller dan volute atau diffuser. Impeller
adalah bagian yang berotasi (berputar) yang mengubah energi menjadi
energi kinetik. Volute dan diffuser adalah bagian yang stationer (tidak
bergerak) yang mengubah dari energi kinetik menjadi energy tekanan.
(sularso, 1991)

388

Gambar 2.11. Pompa sentrifugal.


(http://www.agussuwasono.com/index)
Keterangan :
A. Stuffing Box

389

B. Pacing
C. Shaft
D. Shaft Steeve
E. Vane
F. Casing
G. Eye Of Impeller
H. Impeller
I. Casing Wear Ring
J. Impeller
K. Discharge Nozzel
Komponen-Komponen Pompa Sentrifugal
Komponen-komponen

pompa

sentrifugal

adalah

sebagai berikut :
1.

Stuffing Box. Berfungsi untuk mencegah kebocoran


pada daerah dimana poros pompa menembus casing.

2. Packing. Digunakan untuk mencegah dan mengurangi


bocoran cairan dari casing pompa melalui poros.
Biasanya terbuat dari asbes atau teflon.
3. Shaft (poros). Poros berfungsi untuk meneruskan
momen puntir dari penggerak selama beroperasi dan
tempat

kedudukan

impeller

dan

bagian-bagian

berputar lainnya.
4. Shaft sleeve. Berfungsi untuk melindungi poros dari
erosi, korosi dan keausan pada stuffing box. Pada
pompa multi stage dapat sebagai leakage joint,
internal Bearing dan interstage atau distance sleever.

390

5. Vane. Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya


cairan pada impeller
6. Eye of Impeller. Bagian sisi masuk pada arah isap
impeller.
7. Impeller. Berfungsi untuk mengubah energi mekanis
dari pompa menjadi energi kecepatan pada cairan yang
dipompakan secara kontinyu, sehingga cairan pada sisi
isap secara terus menerus akan masuk mengisi
kekosongan akibat perpindahan dari cairan yang
masuk sebelumnya.
8. Wearing

Ring.

Berfungsi

untuk

memperkecil

kebocoran cairan yang melewati bagian depan


impeller maupun bagian belakang impeller, dengan
cara memperkecil celah antara casing dengan impeller.
9.

Bearing (bantalan). Berfungsi untuk menumpu dan


menahan beban dari poros agar dapat berputar, baik
berupa beban radial maupun beban axial. Bearing juga
memungkinkan poros untuk dapat berputar dengan
lancar dan tetap pada tempatnya, sehingga kerugian
gesek menjadi kecil.

10. Casing. Merupakan bagian paling luar dari pompa


yang berfungsi sebagai pelindung elemen yang
berputar, tempat kedudukan diffusor (guide vane),
inlet dan outlet nozel serta tempat memberikan arah
aliran dari impeller dan mengkonversikan energi
kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single
stage).

391

8.4.2. Karakteristik Pompa Sentrifugal


Beberapa hal penting pada karakteristik pompa adalah:

Head (H)
Head adalah energi angkat atau dapat digunakan
sebagai perbandingan antara suatu energi pompa per satuan
berat fluida. Pengukuran dilakukan dengan mengukur beda
tekanan antara pipa isap dengan pipa tekan, satuannya adalah
meter. Head ada dalam tiga bentuk yang dapat saling berubah:
a. Head

potential/head

actual.

Didasarkan

pada

ketinggian fluida di atas bidang datar. Jadi, suatu


kolam air setinggi 2 meter mengandung jumlah
energi

yang

disebabkan

oleh

posisinya

dan

dikatakan fluida tersebut mempunyai head sebesar 2


meter kolam air.
b. Head kinetik/head kecepatan. Adalah suatu ukuran
energi kinetik yang dikandung satu satuan bobot
fluida yang disebabkan oleh kecepatan dan
dinyatakan oleh persamaan yang biasa dipakai
untuk energi kinetik (V2/2g).

c. Head tekanan. Adalah energi yang dikandung oleh


fluida akibat tekanannya dan persamaannya adalah
p/y jika sebuah menometer terbuka dihubungkan
dengan sudut tegak lurus aliran, maka fluida di
dalam tabung akan naik sampai ketinggian yang
sama dengan p/y.

392

Kapasitas (Q)
Kapasitas adalah jumlah fluida yang dialirkan persatuan
waktu.

Putaran (n)
Putaran dinyatakan dalam rpm dan diukur dengan
tachometer.

Daya (P)
Daya dibedakan atas 2 macam, yaitu daya dengan poros
atau daya motor penggerak (Nm) yang diberikan motor listrik
dan daya air yang dihasilkan pompa atau daya pompa.

Daya motor penggerak adalah daya mekanik


keluaran motor penggerak yang diberikan
kepada pompa sebagai daya masukan.

Daya pompa (Np) adalah daya output pompa


terukur yang diberikan kepada fluida.

Efisiensi Pompa
Pompa tidak dapat mengubah seluruh energi kinetik
menjadi energi tekanan karena ada sebagian energi kinetik
yang hilang dalam bentuk losis. Efisiensi pompa adalah suatu
factor yang dipergunakan untuk menghitung losis ini. Efisiensi
pompa terdiri dari:

393

a. Efisiensi hidrolis, memperhitungkan losis akibat


gesekan antara cairan dengan impeller dan losis
akibat perubahan arah yang tiba-tiba pada impeler.
b. Efisiensi volumetris, memperhitungkan losis akibat
c.

resirkulasi pada ring, bush, dll.


Efisiensi mekanis, memperhitungkan losis akibat
gesekan pada seal, packing gland, bantalan, dll.

Setiap pompa dirancang pada kapasitas dan head tertentu,


meskipun dapat juga dioperasikan pada kapasitas dan head yang lain.
Efisiensi pompa akan mencapai maksimum pada designed point
tersebut, yang dinamakan dengan titik BEP. Untuk kapasitas yang
lebih kecil atau lebih besar efisiensinya akan lebih rendah
8.5. Operasi Pompa Seri dan Paralel
8.5.1. Operasi Seri Paralel dengan Karakteristik Pompa Sama.
Jika head atau kapasitas yang diperlukan tidak dapat dicapai
dengan satu pompa saja, maka dapat digunakan dua pompa atau lebih
yang disusun secara seri atau paralel.
1. Susunan Seri
Bila head yang diperlukan besar dan tidak dapat
dilayani oleh satu pompa, maka dapat digunakan lebih
dari satu pompa yang disusun secara seri.
Penyusunan pompa secara seri dapat
digambarkan sebagai berikut :

394

2. Susunan Paralel
Susunan paralel dapat digunakan bila
diperlukan kapasitas yang besar yang tidak dapat
dihandle oleh satu pompa saja, atau bila diperlukan
pompa cadangan yang akan dipergunakan bila pompa
utama rusak/diperbaiki.
Penyusunan pompa secara paralel dapat
digambarkan sebagai berikut :

Agar unjuk kerja pompa yang disusun


seri/parael optimal, maka sebaiknya digunakan pompa
dengan karakteristik yang sama. Karakteristik pompa
yang disusun seri/paralel dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

395

Gambar 2.13. Operasi Seri dan Paralel dari pompa


pompa dengan karakteristik yang sama
Gambar 2.13. menunjukan kurva headkapasitas
dari pompapompa yang mempunyai karakteristik yang
sama yang di pasang secara paralel atau seri. Dalam
gambar ini kurva untuk pompa tunggal diberi tanda (1)
dan untuk susunan seri yang terdiri dari dua buah
pompa diberi tanda (2). Harga head kurva (2) diperoleh
dari harga head kurva (1) dikalikan (2) untuk kapasitas
(Q) yang sama. Kurva untuk susunan paralel yang
terdiri dari dua buah pompa, diberi tanda (3). Haraga
kapasitas (Q) kurva (3) ini diperoleh dari harga

396

kapasitas pada kurva (1) dikalikan (2) untuk head yang


sama.
Dalam gambar ditunjukkan tiga buah kurva
headkapasitas sistem, yaitu R1, R2, dan R3. Kurva R3
menujukkan tahanan yang lebih tinggi dibanding
dengan R2 dan R1.
Jika sistem mempunyai kurva headkapasitas
R3, maka titik kerja pompa 1 akan terletak di (D). Jika
pompa ini disusun seri sehingga menghasilkan kurva
(2) maka titik kerja akan pindah ke (E). Disini terlihat
bahwa head titik (E) tidak sama dengan dua kali lipat
head (D), karena ada perubahan (berupa kenaikan)
kapasitas.
Sekarang jika sistem mempunyai kurva head
kapasitas R1 maka titik kerja pompa (1) akan terletak di
(A). Jika pompa ini disusun paralel sehingga
menghasilkan kurva (3) makatitik kerjanya akan
berpindah ke (B). Disini terlihat bahwa kapasitas dititik
(B) tidak sama dengan dua kali lipat kapasitas dititik
(A), karena ada perubahan (kenaikan) head sistem.
Jika sistem mempunyai kurva karakteristik
seperti R2 maka laju aliran akan sama untuk susunan
seri maupun paralel. Namun jika karakteristik sistem
adalah seperti R1 dan R3 maka akan diperlukan pompa
dalam susunan paralel atau seri. Susunan paralel pada
umumnya untuk laju aliran besar, dan susunan seri untuk
head yang tinggi pada operasi. Untuk susunan seri,
karena pompa kedua menghisap zat cair bertekanan dari
pertama, maka perlu perhatian khusus dalam hal
kekuatan konstruksi dan kerapatan terhadap kebocoran
dari rumah pompa.
8.5.2. Operasi Paralel dengan Karakteristik Pompa Berbeda.
Pompapompa yang berbeda karakteristiknya dapat pula
bekerjasama secara paralel. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 2.14.

397

dimana pompa (1) mempunyai kapasitas kecil dan pompa (2)


mempunyai kapasitas besar.

Gambar 2.14. Operasi Paralel dari pompa pompa


dengan karakteristik yang Berbeda.
Jika keduanya dipasang secara paralel maka akan
menghasilkan kurva karakteristik (3). Disini, untuk kurva head
kapasitas sistem R1 akan dicapai titik operasi paralel di (C) dengan
laju aliran total sebesar Q. Dalam hal ini pompa (1) beroperasi dititik
(D) dengan kapasitas Q1 dan pompa (2) beroperasi dititik (E) dengan
kapasitas aliran Q2. Laju aliran total Q = Q1 + Q2.
Apabila kurva headkapasitas sistem naik lebih curam dari
pada R2, maka pompa (1) tidak dapat lagi menghasilkan aliran keluar

398

karena head yang dimiliki tidak tinggi untuk melawan head sistem.
Bahkan jika head sistem lebih tinggi dari pada head ini pompa, aliran
akan membalik masuk kedalam pompa (1). Untuk mencegah aliran
balik ini pompa perlu dilengkapi dengan katup cegah (check valve)
pada pipa keluarnya. Kondisi operasi seperti inipada umumnya tidak
dikehendaki. Jadi untuk operasi paralel sebaiknya dipakai pompa
pompa dengan head tertutup (shutoff head) yang tidak terlalu
berbeda.
8.5.3. Operasi Seri dengan Karakteristik Pompa Berbeda.
Pada gambar 2.15 memperlihatkan karakteristik susunan seri
dari dua buah pompa yang mempunyai karakteristik berbeda. Kurva (1)
adalah dari pompa kapasitas kecil, kurva (2) dari pompa kapasitas
besar, dan kurva (3) merupakan karakteristik operasi kedua pompa
dalam susunan seri.

399

Gambar 2.15. Operasi Seri dari pompapompa dengan


karakteristik yang Berbeda
Jika sistem pipa mempunyai kurva karakteristik R1 maka titik
operasi dengan pompa susunan seri akan terletak di (C). Dalam
keadaan ini pompa (1) bekerja dititik (D) dan pompa (2) dititik (E).
Untuk sistem yang mempunyai kurva karakteristik R2, menjadi negatif
sehingga akan menurunkan head pompa (2). Jadi untuk kurva sistem
yang lebih rendah dari R2 lebih baik dipakai pompa (2) saja.

400

401