Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSITAS INDONESIA

TEKNOLOGI KEMASAN UNTUK PRODUK PANGAN DAN OBAT

Oleh Kelompok 6:
Alristo Sanal
Annisa Kurnia
Fachryan Zuhri
Firdhauzi Kusuma Rachmani
Kharis Mukhifullah
Lidya Ayu Pratiwi
Nadia Kurniawan

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
DEPOK
2014

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii


BAB 1 ............................................................................................................................... 1
KEMASAN DAN PERKEMBANGANNYA .................................................................. 1
1.1.

Definisi Kemasan ............................................................................................... 1

1.2.

Fungsi Kemasan ................................................................................................. 1

1.3.

Sejarah Perkembangan Kemasan dari Zaman Dahulu hingga Sekarang ........... 3

BAB 2 ............................................................................................................................... 5
KEMASAN UNTUK PANGAN DAN OBAT ................................................................ 5
2.1.

Kemasan Obat .................................................................................................... 5

2.2.

Kemasan Pangan ................................................................................................ 6

BAB 3 ............................................................................................................................... 9
TEKNOLOGI KEMASAN UNTUK PANGAN DAN OBAT ........................................ 9
3.1.

Teknologi Kemasan Pangan .............................................................................. 9

3.1.1.

Teknologi Kemasan Pangan Jangka Panjang ............................................. 9

3.1.2.

Teknologi Kemasan Minuman dan Pangan Basah ................................... 16

3.2.

Teknologi Kemasan Obat ................................................................................ 20

3.2.1.

Teknologi Kemasan Obat Padat ............................................................... 20

3.2.2.

Teknologi Kemasan Obat Cair ................................................................. 24

ii

BAB 1
KEMASAN DAN PERKEMBANGANNYA
1.1.

Definisi Kemasan
Kemasan atau packaging, jika diartikan secara umum adalah bagian terluar yang

membungkus suatu produk dengan tujuan untuk melindungi produk dari cuaca,
guncangan, dan benturan-benturan terhadap benda lain. Setiap bentuk benda yang
membungkus suatu benda didalamnya dapat disebut dengan packaging atau kemasan,
selama benda tersebut dapat melindungi isinya.
Untuk menampilkan image dan pandangan terhadap suatu isi produk, maka
kemasan biasanya dibentuk atau didesain sedemikian rupa, sehingga pesan yang akan
disampaikan produsen dapat ditangkap oleh konsumen produk dengan baik.
Untuk membuat suatu kemasan, tidak hanya tergantung dari material-material
tertentu saja, tetapi juga terdapat berbagai jenis material yang dapat digunakan. Material
kemasan tersebut biasanya ditentukan berdasarkan komposisi dan ketahanan dari
produk.
1.2.

Fungsi Kemasan
Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi

produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga produk dapat lebih mudah disimpan,


diangkut, dan dipasarkan. Secara umum, fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah
sebagai berikut:
a. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga ke konsumen, agar
produk tidak tercecer, terutama untuk produk dalam fasa cairan, pasta, atau
butiran
b. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet,
panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan
mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk
c. Sebagai identitas produk. Dalam hal ini, kemasan dapat digunakan sebagai alat
komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada
kemasan

UNIVERSITAS INDONESIA

d. Meningkatkan

efisiensi,

karena

dapat

memudahkan

pengiriman

dan

penyimpanan dan memudahkan penghitungan isi (misal: satu kemasan berisi 10


buah, 1 lusin, 1 gross, dsb)
e. Melindungi pengaruh buruk dari luar dan melindungi pengaruh buruk dari
produk itu sendiri, misalnya produk yang dikemas berupa produk yang berbau
tajam atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun, dan produk yang
dapat melunturkan warna
f. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan kecap dan
sirup yang mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan
botol plastik sebagai pengganti botol kaca
g. Menambah daya tarik konsumen
h. Sarana informasi dan iklan
i. Memberikan kenyamanan bagi konsumen
Fungsi pada poin f, g, dan h merupakan fungsi tambahan dari kemasan. Akan
tetapi dengan semakin meningkatnya persaingan dalam industri pangan, fungsi
tambahan ini justru lebih ditonjolkan, sehingga penampilan kemasan harus betul-betul
menarik bagi calon pembeli, dengan cara sebagai berikut:
a. Mencetak kemasan dengan kombinasi beberapa warna dan mengkilat sehingga
terlihat menarik dan terkesan mewah
b. Dapat memberi kesan bahwa produk memiliki mutu yang tinggi
c. Desainnya secara teknis memudahkan konsumen untuk membukanya
d. Desainnya secara teknis mengikuti teknologi mutakhir sehingga produk yang
dikemasnya terkesan modern dan mengikuti perkembangan zaman
Disamping fungsi-fungsi diatas, kemasan juga memiliki peranan penting dalam
industri pangan, yaitu sebagai berikut:
a. Pengenal identitas produk
b. Penghias produk
c. Piranti monitor
d. Media promosi
e. Media penyuluhan atau petunjuk cara penggunaan dan manfaat produk yang ada
didalamnya

UNIVERSITAS INDONESIA

f. Pelindung bagi konsumen


g. Sumber informasi mengenai isi/produk, juga sebagai pertimbangan pengambilan
keputusan untuk membeli produk tersebut atau tidak
1.3.

Sejarah Perkembangan Kemasan dari Zaman Dahulu hingga Sekarang


Pengemasan bahan pangan sudah lama dikenal dan digunakan untuk keperluan

manusia. Pada zaman prasejarah, orang masih menggunakan bahan kemasan dari bahanbahan alam seperti daun-daun, kulit buah, kulit kayu, pelepah, batu-batuan, cangkang
kerang, dan kulit binatang. Pada zaman Paleolitik, perkembangan pengemasan baru
sampai pada pembuatan keranjang dari rumput atau dari ranting-ranting kayu yang
lentur.
Pada zaman Neolitik, mulai dikenal wadah dari logam yang dibentuk berupa
cawan untuk minum. Pada zaman ini, dikenal pula bentuk-bentuk kemasan seperti
cawan, baki, dan bentuk lain yang terbuat dari tanah liat. Pada zaman Sumerian,
kemasan jenis kaca sudah mulai dikenal dalam bentuk toples kecil yang digunakan
untuk mengemas cairan berharga seperti ramuan obat-obatan atau parfum.
Pada tahun 750-an, terjadi penyebarluasan pemakaian botol, toples, dan
tempayan yang terbuat dari tanah. Pengrajin yang terampil membuat container keramik
dan container dekoratif lainnya untuk menyimpan kemenyan, wewangian, dan salep.
Pada awal tahun 1800-an, ketika populasi penduduk di Eropa dan Amerika
semakin tumbuh, tong, kotak kayu, dan kantong serat digunakan secara luas sebagai
material kemasan. Seiring dengan permintaan barang konsumen yang semakin
meningkat, perkembangan kaleng, aluminium, kaca, dan kantong kertas muncul sebagai
sumber daya kemasan yang signifikan.
Pada tahun 1817, kotak kardus pertama kali dibuat di Inggris 200 tahun setelah
orang Cina menemukan kertas, dan berubah menjadi perkembangan revolusioner pada
akhir abad ke-19. Kemasan kardus diproduksi secara komersial pada tahun 1839.
Prinsip Litografi dalam proses pencetakan kemasan ditemukan oleh Alois
Senefelder pada tahun 1798, yang merupakan titik signifikan dalam sejarah desain
kemasan, dan semakin maju dengan diadakannya produksi massal. Karena semua
kemasan, mulai dari kotak kardus, peti kayu, botol, dan kaleng memiliki label kertas,

UNIVERSITAS INDONESIA

proses litografi label cetakan menjadi salah satu perkembangan yang patut dicatat pada
masa itu. Selanjutnya, setiap label atau pembungkus dicetak dengan tangan memakai
mesin press kayu diatas kertas buatan tangan.
Pada tahun 1980-an, dimana persaingan dalam dunia usaha semakin tajam dan
kalangan produsen saling berlomba untuk merebut perhatian calon konsumen, bentuk
dan model kemasan dirasa sangat penting peranannya dalam strategi pemasaran. Disini,
kemasan harus mampu menarik perhatian konsumen, membujuk konsumen, dan
menggambarkan keistimewaan produk. Pada saat inilah kemasan mengambil alih tugas
penjualan pada saat jual beli terjadi.
Pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan banyaknya merek-merek produk
dengan jenis yang sama dan dijual bersamaan, produsen mulai menyadari kebutuhan
untuk menyeret insinyur teknologi pengemasan kedalam tim pengembangan kualitas
produk dan desainer kemasan sebagai bagian tim pemasaran.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB 2
KEMASAN UNTUK PANGAN DAN OBAT
Pengemasan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan mutlak
diperlukan dalam persaingan dunia usaha seperti saat ini. Saat ini kemasan merupakan
faktor yang sangat penting karena fungsin dan kegunaanya dalam meningkatkan mutu
produk dan daya jual dari produk. Kemasan telah banyak digunakan pada berbagai hal
seperti pangan, obat-obatan, barang elektronik, minuman dan lain-lain. Pada makalah
ini kami akan membahas lebih lanjut tentang pengemasan pada obat dan pangan.
2.1.

Kemasan Obat
Suatu sediaan obat diakui keberadaannya, jika disertai kemasan akhir dengan

penandaan yang lengkap. Harus ada gabungan yang tepat dari kedua unsur pokok
tersebut untuk mempertahankan shelf life yang memadai. Pengemasan obat adalah
suatu metode ekonomis yang memberikan kenyamanan, identifikasi, penyajian dan
perlindungan terhadap suatu sediaan obat sampai dikonsumsi. Perlindungan adalah
kegunaan utama untuk pengemasan sediaan obat.
Perlindungan sediaan obat harus dilakukan terhadap bahaya lingkungan seperti
kelembaban, kontaminasi mikroba, oksigen dan cahaya matahari serta bahaya fisik
seperti penyimpanan dan pengangkutan. Kebutuhan perlindungan diterapkan bukan
hanya selama penyimpananshelf life yang normal, tetapi juga harus termasuk periode
penggunaan sediaan. Selain itu, sediaan obat harus kompetibel dengan kemasan dan
bahan kemasan tidak merubah karakteristik stabilitas dari sediaan obat. Kegagalan
untuk melindungi dapat menghasilkan kerusakan produk atau terjadinya produk
sampingan yang berbahaya. Proses pengemasan dilakukan di dalam rumah sakit besar
maupun kecil dikarnakan industri farmasi telah membuat semua sediaan obat sehingga
peranan apoteker rumah sakit berubah dari formulator menjadi pengemas.

UNIVERSITAS INDONESIA

Gambar 2.1. Kemasan obat (Sumber : google.com)

Kemasan obat sangat diperlukan karena memiliki fungsi utama yaitu:

Fungsi pokok dari suatu kemasan obat adalah mewadahi sediaan obat agar tidak
membiarkannya menjadi bagian dari lingkungan. Terutama hal ini mensyaratkan
suatu kemasan tidak bocor dan tetap kedap terhadap pengaruh bahan-bahan
formulasi sediaan obat dan cukup kuat menahan isinya selama distribusi fisik.

Perlindungan adalah fungsi kemasan yang paling penting. Sediaan obat harus
dilindungi terhadap kerusakan fisik, kehilangan kandungan atau bahan ramuan
dan terhadap gangguan dari komponen lingkungan yang tidak dikehendaki,
seperti uap air, oksigen, cairan, kotoran, kontaminasi dan cahaya matahari

Memberi identitas terhadap isinya secara lengkap dan tepat

Membolehkan isinya dapat digunakan dengan cepat, mudah dan aman.


Di dunia obat atau farmasi sering menggunakan kemasan unit tunggal yaitu

suatu kemasan sekali pakai diistilahkan dengan kemasan satu dosis. Kemasan obat unit
tunggal dapat ditampilkan pada skala besar oleh pabrik farmasi atau pada skala kecil
oleh apotek yang menyalurkan obat tersebut.
2.2.

Kemasan Pangan
Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan atau

membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak.
Sedangkan bahan kemasan pangan adalah zat kimia yang digunakan sebagai bahan
dasar dan bahan tambahan kemasan pangan.

UNIVERSITAS INDONESIA

Gambar 2.2. Kemasan pangan (Sumber : google.com)

Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi
produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan
dipasarkan. Kemasan pada bahan pangan sangat diperlukan karena memiliki fungsi
sebagai berikut:
1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar
produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet,
panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan
mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.
3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat
komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada
kemasan.
4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan
berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan
penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan.
5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari produk
di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau
tajam, atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun dan produk yang
dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi
produk-produk lain di sekitarnya.

UNIVERSITAS INDONESIA

6. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan kecap dan


syrup mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan botol
plastik.
7. Menambah daya tarik calon pembeli
8. Sarana informasi dan iklan
9. Memberi kenyamanan bagi pemakai.
Di samping fungsi-fungsi di atas, kemasan juga mempunyai peranan penting
dalam industri pangan, yaitu:
1. Pengenal jatidiri/identitas produk
2. Penghias produk
3. Piranti monitor
4. Media promosi
5. Media penyuluhan atau petunjuk cara penggunaan dan manfaat produk yang ada
di dalamnya
6. Bagi pemerintah kemasan dapat digunakan sebagai usaha perlindungan
konsumen
7. Bagi konsumen kemasan dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang
isi/produk, dan ini diperlukan dalam mengambil keputusan untuk membeli
produk tersebut atau tidak.
Begitu pentingnya kemasan dalam perdagangan, membuat setiap produsen terus
berinovasi menciptakan kemasan-kemasan yang fungsional dan menarik.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB 3
TEKNOLOGI KEMASAN UNTUK PANGAN DAN OBAT
3.1.

Teknologi Kemasan Pangan

3.1.1. Teknologi Kemasan Pangan Jangka Panjang


Pangan jangka panjang merupakan produk makanan yang disimpan dalam waktu
yang lama (jangka waktu panjang). Produk seperti ini tentu saja memerlukan teknologi
tertentu agar kualitas dari pangan/makanan tetap terjaga. Berikut ini merupakan
teknologi yang digunakan untuk dapat menjaga kualitas makanan sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lama.
3.1.1.1. Segel Manual
Teknologi penyegel menggunakan pemanas untuk merekatkan kemasan plastik
yang ingin disegel. Tujuan penyegelan adalah melindungi makanan dari lingkungan
terutama dari udara yang dapat mempengaruhi kualitas makanan.
Segel Tangan Manual

Gambar 3.1. Mesin segel manual tangan (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Model segel manual ini adalah mesin pengemas yang pengoperasiannya


menggunakan tangan. Mesin ini bisa digunakan untuk mengemas aneka produk dalam
kemasan plastik. Mesin ini biasanya dipakai oleh home industri dengan beragam produk
(produk makanan, obat, dll) yang dikemas dalam kantong plastik.

UNIVERSITAS INDONESIA

Segel Pedal Manual

Gambar 3.2. Mesin segel manual pegas (Sumber: http://www.tokomesin.com)

Sama seperti Segel Tangan Manual, tetapi alat ini menggunakan kaki saat proses
penekanannya.
3.1.1.2. Segel Otomatis dan Semi Otomatis
Teknologi penyegel otomatis memeliki tujuan yang serupa dengan penyegel
manual. Teknologi ini menggunakan pemanas untuk merekatkan kemasan plastik yang
ingin disegel.
Segel Semi Otomatis

Gambar 3.3. Mesin segel semi otomatis (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Segel ini menggunakan gear untuk memutar kemasan yang ingin di seal. Jadi
kita cukup memasukkan kepala kemasan ke gear tersebut dan langsung otomatis
tersegel tanpa harus melakukan penekanan seperti pada segel manual.
Sealer Full Otomatis

UNIVERSITAS INDONESIA

10

Gambar 3.4. Mesin segel otomatis (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Teknologi kemasan jenis ini sudah full otomatis semuanya sehingga nantinya
cukup menambah pangan dan mengganti plastik pengemasnya jika sudah habis. Contoh
produk yang dapt dikemas alat ini antara lain: gula pasir, bubuk kopi, susu bubuk,
krimer, bubuk coklat campuran, bubuk jamu, serbuk daun teh, serbuk fiber pelangsing,
serbuk sari buah, serbuk minuman suplemen, serbuk jelly, tepung agar-agar, MSG,
sodium cyclamate, bubuk pewarna makanan, bubuk bumbu dapur, tepung penyedap
rasa, tepung beras, bubuk deterjen, bedak parfum (deodorant), pupuk majemuk,
camilan/makanan kering, biskuit, makaroni, biji kopi, kacang tanah, biji kacangkacangan, rempah-rempah, permen bulat, pil jamu, dan lain-lain. Model segelnya pun
bermacam-macam:

UNIVERSITAS INDONESIA

11

Gambar 3.5. Hasil penyegelan mesin segel otomatis (a) segel bantal, (b) segel tengah,
(c) segel tiga sisi, (d) produk bersegel tiga sisi, (e) segel empat sisi, (f) produk bersegel empat sisi
(Sumber: Google)

3.1.1.3. Mesin Shrink


Teknologi ini menggunakan panas dari sinar infra merah untuk memanaskan
plastik sehingga plastik bisa ketat dengan botol/kotak kemasan/lainnya yang ingin
dikemas sehingga tidak mudah terbuka.
Mesin Shrink Tunnel tanpa Kaki

Gambar 3.6. Mesin shrink tunnel tanpa kaki (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Mesin ini bisa Anda gunakan untuk mengemas produk dengan plastik (kemasan
plastik rapat pada body produk). Berbagai produk : produk dalam kaleng, produk dalam

UNIVERSITAS INDONESIA

12

botol, dll. Sumber pemanasan dari mesin ini adalah tabung infra merah. Suhu
pemanasan bisa diatur secara otomatis, tidak bising.
Mesin Shrink Tunnel dengan Kaki

Gambar 3.7. Mesin shrink tunnel dengan kaki (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Kelebihan alat ini dari Shrink Tunnel sebelumnya adalah alat ini memiliki kaki.
Jadi tidak perlu menggunakan meja lagi untuk menaruhnya.
3.1.1.4. Penyegel Vakum
Teknologi ini menghisap seluruh udara di dalam kemasan dan saat kondisinya
sudah vakum, langsung dilakukan penyegelan.
Penyegel Vakum Portable Manual

Gambar 3.8. Mesin penyegel vakum portable (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Mesin Pengemas Vakum Portable ini dikhususkan untuk rumah tangga. Mesin
ini bisa dibawa ke mana-mana, cocok untuk ibu-ibu rumah tangga

UNIVERSITAS INDONESIA

13

Penyegel Vakum Semi Otomatis

Gambar 3.9. Mesin penyegel vakum semi otomatis (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Mesin pengemas vakum ini adalah peralatan yang bisa digunakan secara semi
otomatis untuk mengemas produk secara vakum. Dengan pengemasan secara vakum,
maka produk yang Anda kemas akan aman dari oksidasi, kerusakan biologis, dan bisa
lebih bertahan lama dan tetap fresh. Mesin ini bisa Anda gunanakan untuk produk apa
saja. Produk-produk yang cocok dikemas dengan mesin ini antara lain : bakso, ikan,
roti, makanan agar lebih awet, dan lain-lain.
Penyegel Vakum Otomatis

Gambar 3.10. Mesin penyegel vakum otomatis (Sumber: http://www.mesinpengemas.com)

Vakum jenis ini tidak perlu di buka tutup lagi di bagian dalamnya. Cukup
langsung ditaruh kemasan yang ingin disegel. Lebih mudah dan simpel.

UNIVERSITAS INDONESIA

14

3.1.1.5. Penyegel Bertekanan

Gambar 3.10. Mesin penyegel bertekanan (Sumber: http://www.tokomesin.com)

Teknologi ini berkebalikan dengan teknologi Penyegelan Vakum. Dimana


kemasan diisi dengan udara sebelum disegel. Pengisian gas pada kemasan sebelum
proses penyegelan ditujukan untuk menciptakan balon yang berguna untuk melindungi
barang saat dikirim. Atau mengisi udara pada produk makanan ringan, seperti keripik,
snack, dll. Penyegel jenis ini, cocok digunakan untuk kemasan pembungkus yang kecil
dan memakai system pengontrol suhu elektronik konstan (tetap) dan mekanisme
transmisi yang berkecepatan cukup. Mesin ini dapat menyegel plastic film dari berbagai
macam bahan seperi PE, PP, kertas alumunium, dan dapat disesuaikan dengan sistem
sulam timbul, serta pengontrol mikro computer tipe terbaru dengan alat penghitung.
3.1.1.6. Perbandingan Antara Berbagai Teknologi Kemasan Pangan Jangka
Panjang
Tabel 3.1. Tabel Perbandingan Kelebihan dan Kekurangan Teknologi Kemasan Pangan
Teknologi Penyegelan

Kelebihan

Kekurangan

Segel manual, semi

Sangat mudah dilakukan

Produk dapat teroksidasi

otomatis, dan otomatis

dan biayanya murah

karena masih ada udara luar


yang ikut tersegel. Jika
prosuk berupa kue kering
akan mudah rusak karena
tertekan saat dikemas.

UNIVERSITAS INDONESIA

15

Teknologi Penyegelan
Shrink

Kelebihan

Kekurangan

Dapat menguatkan

Hanya dapat diaplikasikan

kemasan yang sudah ada

pada kemasan tertentu

(kemasan yang digunakan


sebelum melewati mesin
shrink)
Penyegel vakum

Dapat menghilangkan

Biaya peralatan relatif lebih

kemungkinan busuknya

mahal

produk akibat oksidasi


Penyegel bertekanan

Dapat menjaga produk dari

Harganya mahal, baik dari

tekanan luar saat proses

alat maupun gas, karena

distribusi

biasanya menggunakan gas


nitrogen agar makanan
tidak teroksidasi oleh gas
oksigen

3.1.2. Teknologi Kemasan Minuman dan Pangan Basah


Dalam teknologi kemasan pangan basah ini maksudnya adalah teknologi
kemasan yang digunakan untuk pangan yang berbentuk cair atau mengandung cairan
didalamnya, seperti susu, serta pangan segar yang masih banyak mengandung air atau
uap air. Disini akan dibahas tentang penggunaan teknologi kemasan untuk mengemas
produk-produk makanan dan minuman saat ini. Untuk produk minuman, seperti susu
misalnya, banyak yang memilih untuk membungkusnya dengan kemasan kertas dalam
berbagai ukuran. Teknologi kemasan yang digunakan adalah teknologi kemasan aseptis
yang terdiri dari beberapa lapisan material pada kemasan tersebut. Untuk kemasan
pangan segar seperti sayuran dan buah, kini menggunakan teknologi pengemasan MAP
(Modified Atmosphere Packaging).

UNIVERSITAS INDONESIA

16

3.1.3.1. Teknologi Kemasan Susu


Kemasan pada produk susu kebanyakan saat ini adalah mengunakan teknologi
aseptik dengan bahan kertas karton. Produk susu merupakan salah satu produk yang
sangat sensitif terhadap kerusakan karena memang produknya yang mudah ditumbuhi
bakteri dan zat kontaminan lainnya.
Pengemasan Aseptik dalam arti sempit berarti pengisian bahan pangan dingin
yang telah disterilisasi dan steril ke dalam kemasan yang telah disterilisasi dan steril,
dalam lingkungan steril sehingga dapat mencegah terjadinya kontaminasi pada saat
pengisian dan penutupan wadah. Di bidang teknologi pengemasan pangan, mungkin
pengemasan aseptis merupakan teknologi pengemasan yang paling dinamis dalam
perkembangannya. Di Eropa, pengisian dan pengemasan bahan pangan yang telah
mengalami proses sterilisasi telah mencapai teknologi tingkat tinggi, dan makin penting
dari waktu ke waktu.

Gambar 3.11. Konsep pengemasan aseptik

Dari skema di atas, dapat dilihat bahwa konsep kemasan steril berawal dari
produk pangan atau minuman yang sudah terlebih dahulu steril. Misalnya susu, telah
dilakukan proses sterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan Ultra High
Temperature. Lalu produk pangan tersebut juga dipindahkan menuju lingkungan steril
dengan kondisi yang aseptik pula untuk dimasukan ke dalam kemasan. Material
kemasan yang akan memuat produk tersebut juga sudah mengalami tahap sterilisasi
sehingga pada akhirnya didapatkanlah sebuah kemasan aseptik.

UNIVERSITAS INDONESIA

17

Kemasan untuk susu yang saat ini digunakan adalah material kertas karton yang
mana terdiri dari beberapa lapisan material lainnya yang bertujuan untuk menjaga
keaseptikan kemasan.

Gambar 3.12. Contoh bahan kemasan untuk produk susu

Keuntungan dari teknologi kemasan ini adalah:


1) Metode sterilisasi bahan pangan sangat efektif .
2) Tidak ada residu berbahaya pada kemasan.
3) Metode ramah lingkungan dan aman secara toksikologi.
4) Metode pengemasan cocok untuk bahan pangan asam rendah atau asam tinggi.
5) Menunjang teknik pelabelan yang menarik
3.1.3.2. Teknologi Kemasan Pangan Segar
Teknologi kemasan pangan segar yang ada saat ini adalah menggunakan
teknologi MAP (Modified Atmosphere Packaging). Penerapan teknologi ini digunakan
karena untuk membuat memperpanjang masa simpan produk pangan sayuran dan buah
agar tetap segar selama mungkin walaupun sudah disimpan dalam suatu kemasan. Hal
ini juga bertujuan untuk meningkatka kualitas produk sayuran dan buah segar dipasaran.
Modified

Atmosphere

Packaging

(MAP)

merupakan

teknologi

yang

berlandaskan pada modifikasi komposisi gas atmosfer dalam kemasan yang mana
komposisinya berbeda pada kandungan udara biasanya (20.9 % O2, 78% N2, dan 0.03%
CO2). Komposisi gas yang dimodifikasi harus disesuaikan untuk masing-masing produk
atau makanan. Dibandingkan dengan proses kimia atau termal, kemasan dengan gas
pelindung

merupakan

UNIVERSITAS INDONESIA

proses

yang

lembut.

Terkadang,

metode

lain

untuk

18

memperpanjang umur simpan juga digunakan dalam sebuah kombinasi. Menggunakan


MAP hanya menunda kerusakan dan pembusukan pangan. Untuk itu, proses yang
higienis dan kualitas yang tinggi dari bahan baku harus terjamin.

Gambar 3.13. Contoh kemasan yang menggunakan teknologi MAP

MAP digunakan untuk berbagai tipe produk, dimana campuran gas dalam
kemasan bergantung pada tipe produknya, material kemasannya, dan temperatur
penyimpanan. Tetapi untuk buah-buahan dan sayuran merupakan respiring products
dimana interaksi dengan material kemaan dengan produknya sangatlah penting. Jika
permeabilitas (untuk O2 dan CO2) dari lapisan kemasan disesuaikan dengan respirasi
produk, sebuah kesetimbangan atmosfir yang termodifikasi atau Equilibrium Modified
Atmosphere tersebut akan terjadi dalam kemasan dan umur simpan produk akan
meningkat. EMAP (Equilibrium Modified Atmosphere Packaging) banyak digunakan
pada produk sayuran dan buah potong.

Gambar 3.14. Mekanisme yang terjadi pada EMAP

Jika kita mengatur permeabilitas dari film untuk digunakan pada kemasan untuk
laju respirasi dari produk, komposisi gas yang menguntungkan untuk produk dapat
terjadi dengan sendirinya. Tujuannya adalah untuk mengontrol konsentrasi oksigen dan
karbon dioksida. Kesetimbangan atmosfer ini dipengaruhi oleh interaksi antara respirasi

UNIVERSITAS INDONESIA

19

produk dan permeabilitas film. Karena film secara umum film tidak cukup permeabel
untuk aplikasi tersebut, sifat film dapat diterapkan dengan mikro-perforasi.
Keunggulan dari teknologi ini adalah dapat meningkatkan umur simpan produk
dengan sedikit limbah dan mengurangi biaya sebesar 50%. Kekurangannya adalah
sangat bergatung pada kualitas pengolahan produk dan kesterilan bahan baku karena
tujuan dari MAP ini adalah menghambat pertumbuhan bakteri dan mencegah kerusakan.
Jika prosesnya saja sudah buruk, maka menggunakan teknologi ini pun akan percuma.
3.2.

Teknologi Kemasan Obat

3.2.1. Teknologi Kemasan Obat Padat


Berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan), kemasan
obat padat juga terdiri atas kemasan primer, kemasan sekunder dan kemasan tersier.
Kemasan primer obat padat merupakan kemasan yang langsung mewadahi atau
membungkus obat (bersentuhan langsung dengan obat) misalnya kemasan strip dan
blister. Kemasan sekunder obat padat merupakan kemasan yang berfungsi melindungi
kemasan primer obat, biasanya dikenal dengan inner box dari karton ataupun plastik
klip, yang umumnya tidak berpengaruh terhadap stabilitas produk. Kemasan sekunder
ini juga dapat digunakan untuk melindungi obat yang peka terhadap cahaya, dimana
panjang gelombang cahaya yang dapat diterima antara 290-450 nm. Kemasan tersier
obat padat yakni kemasan yang melindungi kemasan primer dan kemasan sekunder
obat, biasa dikenal dengan outer box dan bisa berupa kantong plastik putih (tidak boleh
kantong plastik daur ulang) untuk mengindari kontaminasi.
3.2.1.1. Teknologi Kemasan Strip
Kemasan strip merupakan kemasan untuk obat yang dikonsumsi secara per oral
dengan sistem dosis tunggal. Kemasan strip digunakan untuk sediaan padat berupa
tablet, kapsul, kaplet, pil, lozenges, dll. Teknik untuk mengemas kemasan strip disebut
juga strip packaging atau stripping. Metode ini sudah berlangsung lebih dari seperempat
abad. Metodenya adalah dengan mengemas dengan dua lapisan atas/ bawah, dan
kemudian disegel dan dipotong. Produk akan jatuh kedalam mold yang panas, kemudian
dibentuk kemasan dan mewadahi produk tersebut. Ukuran dan kedalaman dari mold

UNIVERSITAS INDONESIA

20

(cetakan) tersebut harus cukup untuk menampung produk dan membentuk kantong, dan
jangan sampai produk tertekan. Produk yang disegel antara dua lapisan tipis ini
biasanya mempunyai segel dan dipisahkan dari bungkus-bungkus yang bedekatan
karena adanya perforasi (lubang kecil untuk memudahkan dalam membuka kemasan).
Pemilihan material kemasan harus tepat, agar tidak ada migrasi dari produk keluar.

Gambar 3.15. Contoh kemasan strip (Sumber: Khoiriyani, Yessy, dkk. 2012)

Bahan penyusun strip diantaranya adalah PLM (polycellonium), PLO


(Polycello) dan PLN (Polynium). PLM merupakan bahan strip yang paling umum,
dimana kandungannya adalah polycello atau cellophan dan alumunium. Cellophan
adalah sejenis bahan dari serat selulosa yang berbentuk tipis transparan, fungsinya
dalam kemasan adalah untuk menempelkan pewarna pada strip. Bahan yang biasa
dipakai adalah MST/ MT dan PT cellophan. Alumunium sendiri berfungsi untuk
menjaga obat dari pengaruh cahaya, kelembaban dan panas (suhu). Semakin tebal
alumunium yang digunakan akan semakin membuat tingkat proteksi terhadap produk
menjadi lebih baik. Namun harus dilihat dari sisi mesin strip, apakah kompatibel atau
tidak karena bisa jadi semakin tebal akan menggangu proses stripping. Antara selophan
dan alumunium ini terdapat satu lapisan yakni PE atau Polyetilen yang berfungsi untuk
melekatkan selophan dan alumunium. Lapisan setelah alumunium sendiri adalah PE
lagi, fungsinya kali ini adalah untuk membuat dua PLM dapat saling melekat saat
distripping. Jadi secara garis besar, ada 4 lapisan dalam PLM yakni selophan (terluar),
PE, Alu, PE (terdalam). Pembuatan PLM secara garis besar yaitu selophan dicetak dan
diberi warna lalu PE dicairkan. Kemudian Alu dan selophan dipasang dalam masingmasing silindernya, saat akan ditemukan maka diberi cairan PE, sehingga keduanya
melekat. Lalu dilapis dengan PE kembali pada bagian dalam. Untuk PLO dan PLN
hampir sama dengan PLM. Hanya saja PLO komposisinya adalah selophan dan PE
sehingga sifatnya elastis dan tembus pandang (contoh: antimo tablet). Sedangkan PLN
kandungannya adalah Alu dan PE.

UNIVERSITAS INDONESIA

21

Gambar 3.16. Mesin stripping (Sumber: Khoiriyani, Yessy, dkk. 2012)

Gambar 3.17. Sistem pengemas strip (Sumber: Mayangsari, Ayu, dkk. 2012)

Sistem kerja mesin strip sendiri cukup sederhana yakni dengan menyiapkan dua
PLM pada rollernya. Kemudian, ditengahnya dimasukkan dalam strip dan dipanasi
sehingga PE mencair dan akan melekatkan kedua PLM. Pemeriksaan strip juga
sederhana, cukup diperiksa kesesuaian antara warna dan teks, lebar PLM dalam satu rol,
dan kebersihan PLM. Saat produksi, dilakukan pengecekan kualitas PLM dengan tes
kebocoran menggunakan metilen blue dalam pressure chamber.
3.2.1.2. Teknologi Kemasan Blister
Beberapa jenis sediaan obat padat seperti tablet dan kapsul ada yang
menggunakan kemasan blister. Dengan kemasan jenis ini, bentuk dan warna obat dapat
terlihat dikarenakan sebagian sisi kemasannya yang bening. Kemasan blister dibentuk
dengan melunakkan suatu lembaran resin termoplastik dengan pemanasan, dan menarik
(dalam vakum) lembaran plastik yang telah lunak itu ke dalam suatu cetakan
membentuk ruang untuk diisi produk. Produk yang akan dikemas kemudian dilepas
melalui happer dan masuk ke cetakan plastik tempat produk tersebut. Setelah itu,

UNIVERSITAS INDONESIA

22

lembar foil yang sudah dilapisi dengan lacquer dipakai untuk menutup lembar plastik
yang sudah dibentuk dan berisi produk, lalu dipotong. Strip dibentuk dalam tray,
dipotong sesuai mold (cetakan) dan dimasukkan dalam kotak karton.

Gambar 3.18. Contoh kemasan blister (Sumber: Khoiriyani, Yessy, dkk. 2012)

Kemasan blister terdiri dari dua lapisan kemasan yang berbeda yakni PTP (Press
Trough Packaging) dan Plastik. Komposisi PTP ini adalah alu dan polyethylene.
Sedangkan plastik yang digunakan bisa PVC atau PVdC (Polyvinyldene chloride) yang
transparan, , tergantung dari bahan yang akan diblister. Jika bahan sensitif dengan
kelembapan maka akan lebih disarankan PVDC karena perlindungan yang diberikan
terhadap produk lebih besar. Proses produksi awalnya yaitu PVC dibentuk dengan
dipanaskan terlebih dahulu dengan heater namun tidak sampai cair, lalu dibentuk sesuai
dengan cetakannya atau nama kerennya forming. Proses forming sendiri prinsipnya
adalah dengan memberikan tekanan udara untuk membentuk plastik panas dan cooler
sehingga plastik yang tertekan udara dalam cetakan akan terbentuk namun tidak bisa
kembali ke bentuk semula karena ada proses pendinginan. Kemudian tablet dimasukkan
dalam forming baik manual atau otomatis dan disealing dengan PTP menggunakan
panas pada bagian sampingnya. Baru kemudian dipotong sesuai ukuran blister dengan
menggunakan alat pemotong khusus.

UNIVERSITAS INDONESIA

23

Gambar 3.19. Mesin pengemas blister (Sumber: Khoiriyani, Yessy, dkk. 2012)

Kelebihan dari pengemasan obat dengan strip dan blister ini antara lain:
mempertahankan dan menyatakan keaslian produk; membantu konsumen dalam
menentukan ukuran dosis obat yang diperlukan; untuk blister, kemasannya mudah untuk
dibuka dimana konsumen dapat membuka kemasan dari bagian belakangnya saja karena
jenisnya yang mudah dikelupas, material yang digunakan membuatnya ringan,
teknologi pembuatannya masih cukup sederhana dan biaya yang diperlukan untuk
proses pengemasannya tidak mahal.
3.2.2. Teknologi Kemasan Obat Cair
3.2.2.1. Teknologi Kemasan Obat Cair Oral
Obat cair yang dikonsumsi secara oral membutuhkan kemasan yang tetap
menjaga kualitas obat (terutama dari sinar) dan memfasilitasi pengeluaran obat dari
kemasan dengan mudah. Salah satu teknologi kemasan untuk obat cair yang dikonsumsi
secara oral adalah menggunakan botol boston round atau Winchester bottle. Botol
boston round adalah kemasan obat cair berbahan kaca amber yang berwarna cokelat.
Bahan kaca Amber dan warna botol yang gelap berfungsi untuk menghindari kontak
sinar UV ke dalam obat karena kaca Amber itu sendiri yang bersifat light resistance.
Selain itu, kemasan yang terbuat dari kaca tidak bereaksi dengan obat yang dikemasnya
sehingga kemasan ini tetap menjaga kualitas obat. Sebagai tambahan, tutup botol ini
dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan memfasilitasi pengeluaran obat dengan mudah.
Jenis tutup botol boston round diantaranya adalah:
a. Tutup dengan pipet (terutama untuk obat cair oral dengan dosis yang sedikit)

UNIVERSITAS INDONESIA

24

b. Tutup dengan spray (terutama untuk obat cair oral yang disemprotkan ke mulut)
c. Bottle Top Dispensers (terutama untuk botol boston round yang bervolume
besar)
d. Yorker Dispensing Bottles
e. Children friendly (tutup botol boston round yang tidak mudah dibuka oleh anakanak karena perlu ditekan terlebih dahulu)

Gambar 3.20. Jenis Tutup botol boston round


(Sumber : Medi-Dose, 2010. http://www.medidose.com/Liquid-Packaging.aspx)

Kelebihan :
Menjaga kualitas obat dari paparan sinar
Bahan kaca tidak bereaksi dengan obat sehingga menjaga kualitas
Jenis tutupnya yang bermacam-macam dapat disesuaikan dengan kebutuhan
Kelemahan :
Lebih berat dari plastik dan tidak mudah dibawa (perlu penanganan agar tidak
pecah).
3.2.2.2. Teknologi Kemasan Obat cair Topikal
Salah satu obat cair topikal adalah obat tetes mata. Obat ini harus steril sehingga
membutuhkan kemasan yang memiliki saluran keluaran yang kecil untuk meminimalisir
kontaminasi. Oleh karena itu, obat tetes mata memiliki ujung keluaran yang mengecil
dan akan mengeluarkan tetesan obat atau dropplet. Agar tetap hygienis, bagian
mengecil botol tersebut ditutup kembali dengan tutup yang bentuknya hampir sama
dengan ujung keluaran. Botol tetes mata ini biasanya berbahan plastik khusus (special

UNIVERSITAS INDONESIA

25

zinc stearate-free resin) agar lebih mudah dibawa oleh konsumen. Bahan plastik ini
meminimalisir resiko pembentukan partikulat pada larutan obat tetes mata.

Gambar 3.21. Kemasan obat tetes mata


(Sumber : Medi-Dose, 2010. http://www.medidose.com/Liquid-Packaging.aspx)

3.2.2.3. Teknologi Kemasan Obat Cair Parenteral


Kemasan obat parenteral (injeksi) dan produk steril lainnya harus dikemas
sedemikian rupa agar kemasan tersebut dapat memelihara sterilitas produk sampai obat
tersebut digunakan dan mencegah kontaminasi saat pembukaan. Teknologi pengemasan
untuk obat cair parenteral ini dilaksanakan dengan teknik aseptik untuk meminimalisir
kontaminasi. Teknik aseptik ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu:
a. Pencucian dan sterilisasi (umumnya temperatur tinggi) kemasan yang berasal
dari warehouse
b. Pengisian sekaligus penyegelan agar tidak ada kontak obat dengan udara
sehingga dapat meminimalisir kontaminasi.
c. Inspeksi (menggunakan alat atau visual)
d. Labelling
Semua teknik aseptik ini perlu dilakukan untuk semua jenis kemasan obat cair
parenteral. Jenis kemasan yang biasa digunakan untuk obat sediaan parenteral ini
adalah:

Gambar 3.22. Proses Filling, Sealing, dan Inspeksi dengan teknik aseptik
(Sumber : Gabrielis.(2008). Filling, Stoppering And Capping Machine.)

UNIVERSITAS INDONESIA

26

Ampoules
Kemasan ini adalah kemasan obat parenteral yang paling tua dan biasanya terbuat

dari bahan kaca atau gelas. Kemasan ini hanya dapat digunakan sekali. Ampoules
dibuka di bagian leher botol. Hal ini menyebabkan mungkinnya kontaminasi oleh
partikel kaca saat pembukaan. Oleh karena itu, produk (obat) harus di saring sebelum di
administrasikan. Kelebihan :
Bahan kaca tidak bereaksi dengan produk yang dikemasnya.
Kekurangan :
Hanya sekali pakai sehingga sampah yang dihasilkan banyak
Partikel kaca saat membuka memungkinkan kontaminasi pada obat
Bahan kaca memiliki kemungkinan rusak yang lebih besar

Vial
Container ini terbuat dari kaca atau plastik yang ditutup dengan penutup berbahan

karet (rubber stopper) dan disegel dengan aluminium. Kelebihan kemasan vial
dibandingkan dengan ampoules adalah :
Dapat di desain untuk dosis yang banyak (multiple doses) jika ditambahkan
dengan agen bakteriostatik
Produk (obat) lebih mudah dikeluarkan dari vial dibandingkan dengan ampoules
Tidak ada resiko partikel kaca pada obat selama proses pembukaan.
Namun, vial memiliki kelemahan yaitu :
Kemungkinan terjadinya kontaminasi karena multiple dosis.

Prefilled Syringe
Kemasan ini di desain untuk administrasi yang cepat dan kecepatan waktu yang

maksimum. Penghantaran obat dalam keadaan darurat biasanya tersedia dalam bentuk
injeksi yang dikemas dengan prefilled syringes. Kemasan ini terbuat dari plastik dan
tersedia sekaligus dengan jarum suntiknya. Oleh karena itu, kelebihan kemasan ini
adalah :
Praktis untuk injeksi dan cocok untuk keadaan darurat
Administrasi obat yang lebih cepat

UNIVERSITAS INDONESIA

27

Kelemahan kemasan ini adalah :


Limbah dari kemasan ini banyak karena kemasan ini hanya sekali pakai

Larutan Infus
Larutan infus terbagi menjadi dua yaitu SVP dan LVP. Small volume parenteral

(SVP), memiliki volume sekitar 100 ml. Sedangkan large volume parenteral (LVP)
memiliki volume 100 ml atau lebih. Larutan infus digunakan untuk obat atau cairan
yang harus diberikan secara kontinyu. Kemasan ini terbuat dari polimer plastik, terdiri
dari PVC dan Polyolefin. Kedua jenis plastik tersebut memiliki kelebihan dari kaca
yaitu daya tahan, mudah penyimpanan dan pembuangan, tidak berat, dan lebih aman.
Kelebihan :
Kemasan ini sesuai untuk obat cair steril yang diperlukan dalam jumlah yang
banyak.
Kelemahan :
Volume nya yang banyak tidak memungkinkan untuk dibawa-bawa.

(a)

(c)

(b)

(d)

Gambar 3.23. (a) Ampoules, (b) Vial, (c) Prefilled syringe, dan (d) Larutan infus.
(Sumber : Swapnil Pharmacist. 2011. http://www.slideshare.net/parenteral-preparationequipments-and-layout

UNIVERSITAS INDONESIA

28

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Fungsi Kemasan & Pengemasan | Kemasan & Pemasaran.
http://balekemas.wordpress.com/2011/01/10/fungsi-kemasan-pengemasan/
(diakses tanggal 30 Maret 2014)
Anonim. Sejarah Perkembangan Teknik Kemasan | Blog Polimedia.
http://dosen.polimedia.ac.id/nova/2013/11/11/sejarah-perkembangan-teknikkemasan/ (diakses tanggal 30 Maret 2014)
Gabrielis. 2008. Filling, Stoppering, and Capping Machine. http://www.gabrielis.de/
downloads/gabrielis_FlexiconFPC50.pdf [diakses 30 Maret 18:14]
Khoiriyani,

Yessy,

dkk.

2012.

Packaging

Pharmaceutical

Product.

http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/19/packagingpharmaceutical product/" (Diakses pada 30 Maret 2014 pukul 06.03)


Mayangsari,

Ayu.

2012.

Teknologi

Pengemasan

untuk

Produk

Farmasi.

https://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/22/381/comment-page1/ (Diakses pada 29 Maret 2014 pukul 14.47)


Medi-Dose. 2010. Liquid Packaging. http://www.medidose.com/Liquid-Packaging.aspx
(diakses 30 Maret 20:39)
Paliling,corolus.2013.Pengemasan Pangan.
http://carolus.blog.teknikindustri.ft.mercubuana.ac.id/?p=23 (diakses tanggal 30
Maret 2014)
Pilchik,

Ron.

2000.
h

Pharmaceutical
e

f lis e

Blister

Packaging,

Part

dan

II.

f (Diakses pada 30 Maret 2014 pukul

19.34)
Reddy,

Vamsikhrisna.

2101.

http://www.slideshare.net/

Primary

and

Secondary

Packaging.

vamsikrishnareddy57/primary-and-second-packaging

[diakses 29 Maret 09:55]


Sinegar,J.P.2003.Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan .Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

UNIVERSITAS INDONESIA

29