Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Sakit kepala (Headache) merupakan keluhan yang sering diutarakan oleh orang
dewasa. Headache dapat menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan,
aktivitas sosial dan kapasitas kerja. Hal ini berakibat pada penurunan derajat
kualitas hidup.1
Headache terbagi menjadi beberapa tipe yaitu simple headache, migrain, tensiontype headache dan cluster headache. Tipe headache pada setiap orang dapat
berbeda meskipun dalam satu keluarga. Episode headache dapat semakin
memburuk atau bahkan menghilang secara tiba-tiba untuk beberapa waktu, lalu
akan timbul kembali.2
Di dalam literatur kedokteran, Tension-type headache

(TTH) memiliki

multisinonim, seperti: tension headaches, muscle contraction headache, sakit


kepala tegang otot, nyeri kepala tegang otot dan stress headache.3
TTH adalah nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/sequeezing), mengikat,
tidak berdenyut, tidak dipengaruhi dan tidak diperburuk oleh aktivitas fisik,
bersifat ringan hingga sedang, tidak disertai (atau minimal) mual dan/atau muntah,
serta disertai fotofobia atau fonofobia.3
Sekitar 93% laki-laki dan 99% perempuan pernah mengalami nyeri kepala. TTH
dan nyeri kepala servikogenik adalah dua tipe nyeri kepala yang paling sering
1 The Federation, 2012.
2 NINDS, 2009.
3 Anurogo D, 2014.

dijumpai. TTH adalah bentuk paling umum nyeri kepala primer yang
mempengaruhi hingga dua pertiga populasi. Sekitar 78% orang dewasa pernah
mengalami TTH setidaknya sekali dalam hidupnya.3
TTH episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi, dengan
prevalensi 1-tahun sekitar 38-74%. Penelitian Lyngberg et al (2005) menyebutkan
prevalensi TTH sebesar 87%.4 Prevalensi TTH di Korea sebesar 16,2% sampai
30,8%, di Kanada sekitar 36%, di Jerman sebanyak 38,3%, di Brazil hanya 13%.
Insiden di Denmark sebesar 14,2 per 1000 orang per tahun. Survei di USA
menemukan prevalensi tahunan TTH episodik sebesar 38,3% dan TTH kronis
sebesar 2,2%.3
TTH dapat menyerang segala usia. Usia terbanyak adalah 25-30 tahun, namun
puncak prevalensi meningkat di usia 30-39 tahun. Sekitar 40% penderita TTH
memiliki riwayat keluarga dengan TTH. Prevalensi seumur hidup pada perempuan
mencapai 88%, sedangkan pada laki-laki mencapai 69%. Onset usia penderita
adalah pada dekade ke-dua atau ke-tiga kehidupan yaitu antara 25-30 tahun.3

4 Lyngberg et al, 2005.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi


Nyeri (sakit) merupakan mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila
ada jaringan manapun yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah,
seorang individu akan bereaksi dengan cara menjauhi stimulus nyeri tersebut.
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus
nyeri. Stimulus nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia.
Mekanik, spasme otot merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat
mengakibatkan terhentinya aliran darah ke jaringan (iskemia jaringan),
meningkatkan metabolisme di jaringan dan juga perangsangan langsung ke
reseptor nyeri sensitif mekanik.
Daerah sensitif terhadap nyeri kepala dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu
intrakranial dan ekstrakranial. Intrakranial yaitu sinus venosus, vena korteks
serebrum, arteri basal, duramater bagian anterior, dan fossa tengah serta fossa
posterior. Ektrakranial yaitu pembuluh darah dan otot dari kulit kepala, bagian
dari orbita, membran mukosa dari rongga nasal dan paranasal, telinga tengah dan
luar, gigi, dan gusi. Sedangkan daerah yang tidak sensitif terhadap nyeri adalah
parenkim otak, ventrikular ependima, dan pleksus koroideus.
Nyeri kepala dipengaruhi oleh nukleus trigeminoservikalis yang merupakan
nosiseptif yang penting untuk kepala, tenggorokan dan leher bagian atas. Semua
aferen nosiseptif dari saraf trigeminus, fasial, glosofaringeus, vagus, dan saraf dari
C1 3 beramifikasi pada grey matter area ini. Nukleus trigeminoservikalis terdiri
dari tiga bagian yaitu pars oralis yang berhubungan dengan transmisi sensasi taktil
diskriminatif dari regio orofasial, pars interpolaris yang berhubungan dengan

transmisi sensasi taktil diskriminatif seperti sakit gigi, pars kaudalis yang
berhubungan dengan transmisi nosiseptif dan suhu.
Terdapat overlapping dari proses ramifikasi pada nukleus ini seperti aferen dari
C2 selain beramifikasi ke C2, juga beramifikasi ke C1 dan C3. Selain itu, aferen
C3 juga akan beramifikasi ke C1 dan C2. Hal ini lah yang menyebabkan
terjadinya nyeri alih dari pada kepala dan leher bagian atas.
Nyeri alih biasanya terdapat pada oksipital dan regio fronto orbital dari kepala dan
yang jarang adalah daerah yang dipersarafi oleh nervus maksiliaris dan
mandibularis. Ini disebabkan oleh aferen saraf tersebut tidak atau hanya sedikit
yang meluas ke arah kaudal. Lain halnya dengan saraf oftalmikus dari trigeminus.
Aferen saraf ini meluas ke pars kaudal.
2.2. Definisi Tension-type headache (TTH)
Tension-type headache adalah suatu keadaan yang melibatkan sensasi nyeri atau
rasa tidak nyaman di daerah kepala, kulit kepala atau leher yang biasanya
berhubungan dengan ketegangan otot di daerah ini2.
Tension-type headache sebelumnya disebut muscle contraction headache atau
nyeri kepala tegang otot, merupakan tipe nyeri kepala terbanyak yang dikeluhkan.
Sebutan tersebut diberi berdasarkan adanya stres atau konflik mental emosional
yang mencetuskan terjadinya nyeri dan kontraksi otot di leher, kepala, muka dan
rahang2.
TTH adalah nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/sequeezing), mengikat,
tidak berdenyut, tidak dipengaruhi dan tidak diperburuk oleh aktivitas fisik,
bersifat ringan hingga sedang, tidak disertai (atau minimal) mual dan/atau muntah,
serta disertai fotofobia atau fonofobia3.
2.3. Epidemiologi Tension-type Headache
Sekitar 93% laki-laki dan 99% perempuan pernah mengalami nyeri kepala. TTH
adalah bentuk paling umum dari nyeri kepala primer yang mempengaruhi hingga
4

dua pertiga populasi. Sekitar 78% orang dewasa pernah mengalami TTH
setidaknya sekali dalam hidupnya.3
TTH episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi, dengan
prevalensi 1-tahun sekitar 38-74%. Penelitian Lyngberg et al (2005) menyebutkan
prevalensi TTH sebesar 87%4. Prevalensi TTH di Korea sebesar 16,2% sampai
30,8%, di Kanada sekitar 36%, di Jerman sebanyak 38,3%, di Brazil hanya 13%.
Insiden di Denmark sebesar 14,2 per 1000 orang per tahun. Survei di USA
menemukan prevalensi tahunan TTH episodik sebesar 38,3% dan TTH kronis
sebesar 2,2%.3
TTH dapat menyerang segala usia. Usia terbanyak adalah 25-30 tahun, namun
puncak prevalensi meningkat di usia 30-39 tahun. Sekitar 40% penderita TTH
memiliki riwayat keluarga dengan TTH. Prevalensi seumur hidup pada perempuan
mencapai 88%, sedangkan pada laki-laki mencapai 69%. Onset usia penderita
adalah pada dekade ke-dua atau ke-tiga kehidupan yaitu antara 25-30 tahun.3
2.4. Etiopatofisiologi Tension-type Headache
Etiologi TTH diklasifikasikan sebagai berikut3:
(1) Organik, seperti: tumor serebral, meningitis, hidrosefalus dan sifilis
(2) Gangguan fungsional, seperti: lelah, bekerja tak kenal waktu, anemia, gout,
ketidaknormalan endokrin, dan nyeri yang direfeleksikan.
TTH terjadi karena adanya asosiasi positif antara nyeri kepala dan stress. Hal ini
terbukti nyata pada penderita TTH. Nyeri kepala dapat terjadi akibat cetusan dari
faktor resiko yaitu: gangguan tidur, perubahan pola tidur, kelaparan, dehidrasi,
caffein withdrawal, dan fluktuasi hormonal wanita. Stress menjadi faktor pemicu
tersering TTH3. Namun tidak ada yang dapat menjelaskan mekanisme yang
mendasari hal tersebut dapat terjadi5.

5 Kaniecki RG, 2012

Penyebab utama TTH belum diketahui. Dari beberapa dekade telah dijelaskan
aspek dan patofisiologi dari TTH yang menyatakan penyebab TTH adalah proses
multifaktorial yang melibatkan faktor myofascial perifer dan komponen CNS.
Mekanisme myofasial perifer sangat penting untuk menjelaskan kejadian ETTH
(Episodic Tension-type Headache), sedangkan jalur sensitisasi nosiseptif central
terlihat berhubungan dengan mekanisme kejadian CTTH (Chronic Tension-type
Headache)6.
Penelitian menunjukkan aktivitas myofascial sebagai sumber potensial dari TTH
dimana terjadi aktivasi persisten dari trigger poin yang memimpin sensitisasi pada
nosiseptor perifer dan pada neuron kedua di nukleus spinal trigeminus.
Mekanisme sentral tampak lebih berhubungan dengan patogenesis CTTH.
Ambang nyeri tampak normal pada infrequent ETTH tetapi tampak menurun pada
frequent ETTH dan CTTH. Penderita dengan CTTH memiliki tingkat
hipersensitivitas tinggi terhadap stimulus dari tekanan (pressure), panas (thermal),
dan modalitas listrik. Sensitivitas ini juga terlihat pada jaringan (otot, tendon dan
saraf) selama nyeri kepala dan diantara nyeri kepala6.
Sensitisasi jalur nyeri (pain pathways) terjadi di sistem saraf pusat karena
perpanjangan rangsang nosiseptif (prolonged nociceptive stimuli) dari jaringanjaringan miofasial perikranial. Sensitisasi ini bertanggung jawab untuk konversi
TTH episodik menjadi TTH kronis3.
Pada individu yang rentan secara genetis, stres kronis menyebabkan elevasi
glutamat yang persisten. Stimulasi reseptor NMDA mengaktivasi NFkB yang
memicu transkripsi iNOS dan COX-2, diantara enzim-enzim lainnya. Tingginya
kadar nitric oxide menyebabkan vasodilatasi struktur intrakranial, seperti sinus
sagitalis superior, dan kerusakan nitrosative memicu terjadinya nyeri dari beragam
struktur lainnya seperti dura. Nyeri kemudian ditansmisikan melalui serabutserabut C dan neuron-neuron nociceptive A menuju dorsal horn dan nukleus

trigeminal di TCC (Trigeminal Complex), tempat mereka bersinaps dengan


second-order neurons3.
Pada beragam sinap ini, terjadi konvergensi nosiseptif primer dan neuron-neuron
mekanoreseptor yang dapat direkrut melalui fasilitasi homosinaptik dan
heterosinaptik sebagai bagian dari plastisitas sinaptik yang memicu terjadinya

Gambar 2.1. Patofisiologi TTH3

sensitisasi sentral. Pada tingkat molekuler, sinyal nyeri dari perifer menyebabkan
pelepasan beragam neuropeptida dan neurotransmitter (misalnya: substansi p dan
glutamat) yang mengaktivasi reseptor-reseptor di membran postsynaptic,
7

membangkitkan potensial-potensial aksi dan berakumulasi pada plastisitas


sinaptik serta menurunkan ambang nyeri (pain thresholds) 3.
Sirkuit spinobulbospinal muncul dari RVM (rostoventral medulla) secara normal
melalui sinyal-sinyal fine-tunes pain yang bermula dari perifer, namun pada
individu yang rentan disfungsi dapat memfasilitasi sinyal-sinyal nyeri, serta
membiarkan terjadinya sensitisasi sentral3. Proses ini dapat dilihat pada skema 1.
Nyeri perikranial berkembang seiiring waktu oleh recruitment serabut-serabut C
dan mekanoreseptor A di sinaps-sinaps TCC, membiarkan perkembangan
allodynia dan hiperalgesia. Intensitas, frekuensi dan nyeri perikranial berkembang
seiring waktu, berbagai perubahan molekuler di pusat-pusat lebih tinggi seperti
thalamus memicu terjadinya sensitisasi sentral dari neuron-neuron tersiar dan
perubahan-perubahan selanjutnya pada persepsi nyeri3.
Konsentrasi platelet factor 4, beta-thromboglobuli, tromboxane B2, dan 11dehydrothromboxane B2 plasma meningkat signifikan di kelompok TTH episodik
dibandingkan dengan di kelompok TTH episodik dibandingkan dengan di
kelompok TTH episodik dibandingkan dengan di kelompok TTH kronis dan
kelompok kontrol (sehat)3.
Pada penderita TTH episodik, peningkatan konsentrasi substansi P jelas terlihat di
platelet dan penurunan konsentrasi beta-endorphin dijumpai di sel-sel mononklear
darah perifer. Peningkatan konsentrasi metenkephalin dijumpai pada CSF (Cairan
serebrospinal)

penderita

TTH

kronis,

hal

ini

mendukung

hipotesis

ketidakseimbangan mekanisme pronociceptive dan antinociceptive pada TTH3.


2.5. Gejala dan Tanda Tension-type Headache
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada tension-type headache (TTH) adalah6:
(1) Tidak ada gejala prodromal
6 Dewanto G dkk., 2009

(2)
(3)
(4)
(5)

Nyeri dapat ringan hingga sedang maupun berat


Tumpul, seperti ditekan atau diikat.
Nyeri tidak berdenyut
Menyeluruh atau difus, tidak hanya pada satu titik atau satu sisi), nyeri

lebih hebat did aerah kulit kepala, oksipital dan belakang leher.
(6) Terjadi secara spontan
(7) Memburuk atau dicetuskan oleh stres, dan kelelahan
(8) Adanya insomnia
(9) Kelelahan kronis
(10)
Iritabilitas
(11)
Gangguan konsentrasi
(12)
Kadang-kadang disertai vertigo
(13)
Beberapa orang mengeluhkan rasa tidak nyaman di daerah
elher, rahang dan temporomandibular.
TTH dirasakan di kedua sisi kepala sebagai nyeri tumul yang menetap atau
konstan, dengan intensitas bervariasi, juga melibatkan nyeri leher. Nyeri kepala ini
terkadang dideskripsikan sebagai ikatan kuat di sekitar kepala terasa kencang.
Kualitas nyeri nya khas, yaitu: menekan (pressing), mengikat (tightening), tidak
berdenyut (non-pulsating). Rasa menekan, tidak enak, atau berat dirasakan di
kedua sisi kepala (bilateral), juga di leher, pelipis, dahi. Leher dapat terasa kaku.
TTH tidak dipengaruhi aktivitas fisik rutin. Dapat disertai anoreksia, tanpa mual
dan muntah. Dapat disertai photophobia (sensasi nyeri/tidak nyaman di mata saat
terpapar cahaya) atau phonophobia (sensasi tak nyaman karena rangsang suara).
TTH terjadi dalam waktu relatif singkat, dengan durasi berubah-ubah (episodik)
atau terus menerus (TTH kronis)3.
2.6. Klasifikasi Tension-type Headache
TTH dibedakan menjadi tiga subklasifikasi (Gambar 2.2)3 :
(1) TTH episodik yang jarang (infrequent episodic): 1 serangan per bulan atau
kurang dari 12 sakit kepala per tahun.
(2) TTH episodik yang sering (frequent episodic): 1-14 serangan per bulan atau
antara 12 dan180 hari per tahun.
(3) TTH menahun (chronic): lebih dari 15 serangan atau sekurangnya 180 hari
per tahun.

Gambar 2.2. Klasifikasi TTH ICHD-II tahun 20046

Pada Headache Classification Commite of the Internasional Headache Society


2013, TTH diklasifikasikan menjadi 4 subklasifikasi yaitu menambahkan
probable tension-type headache sebagai subklasifikasi ke empat. Subklasifikasi
ICHD-III tertera pada Gambar 2.3 7.

7 IHS, 2013.

10

Gambar 2.3. Klasifikasi TTH ICHD-III Tahun 20138

2.6.1. Infrequent episodic TTH8


Infrequent episodic TTH atau TTH episodik jarang, biasanya bilateral, terasa
menekan atau mengikat dengan intensitas nyeri ringan hingga sedang dalam
hitungan menit hingga hari. Rasa nyeri tidak memburuk dengan aktivitas fisik dan
tidak berhubungan dengan muntah, tetapi fotofobia atau fonofobia mungkin
diketemukan.
Kriteria diagnosis:
(1) Minimal 10 episode nyeri kepala < 1 hari per bulan atau < 12 hari per tahun
dan memenuhi kriteria (2) hingga (4).
(2) Dirasakan selama 30 menit hingga 7 hari
(3) Memenuhi minimal 2 dari 4 kriteria berikut:
a. Lokasi bilateral
b. Kualitas nyeri berupa rasa mengikat atau menekan tidak disertai denyut
c. Intensitas ringan hingga sedang
d. Tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik misalnya berjalan atau naik tangga.
(4) Memenuhi 2 kriteria berikut:
a. Tidak ada mual muntah
b. Hanya memiliki salah satu dari fotofobia atau fonofobia.

11

2.6.1.1.Infrequent episodic TTH asosiasi dengan nyeri perikranial


Kriteria diagnosis:
(1) Memenuhi kriteria infrequent episodic TTH
(2) Nyeri perikranial meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.1.2.Infrequent episodic TTH tanpa asosiasi dengan nyeri perikranial
(1) Memenuhi kriteria infrequent episodic TTH
(2) Nyeri perikranial tidak meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.2. Frequent episodic TTH8
Frequent episodic TTH atau TTH episodik jarang, biasanya bilateral, terasa
menekan atau mengikat dengan intensitas nyeri ringan hingga sedang dalam
hitungan menit hingga hari. Rasa nyeri tidak memburuk dengan aktivitas fisik dan
tidak berhubungan dengan muntah, tetapi fotofobia atau fonofobia mungkin
diketemukan.
Kriteria diagnosis:
(1) Minimal 10 episode nyeri kepala dalam 1- 14 hari per bulan atau 12 180
hari per tahun dan memenuhi kriteria (2) hingga (4).
(2) Dirasakan selama 30 menit hingga 7 hari
(3) Memenuhi minimal 2 dari 4 kriteria berikut:
a. Lokasi bilateral
b. Kualitas nyeri berupa rasa mengikat atau menekan tidak disertai denyut
c. Intensitas ringan hingga sedang
d. Tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik misalnya berjalan atau naik tangga.
(4) Memenuhi 2 kriteria berikut:
a. Tidak ada mual muntah
b. Hanya memiliki salah satu dari fotofobia atau fonofobia.
2.6.2.1.Frequent episodic TTH asosiasi dengan nyeri perikranial
Kriteria diagnosis:
(1) Memenuhi kriteria frequent episodic TTH
(2) Nyeri perikranial meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.2.2.Frequent episodic TTH tanpa asosiasi dengan nyeri perikranial
Kriteria diagnosis:
(1) Memenuhi kriteria frequent episodic TTH
(2) Nyeri perikranial tidak meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.3. Chronic TTH8

12

Suatu kelainan dari frequent episodic TTH dengan episode serangan harian yang
lebih sering dibandingkan frequent episodic TTH, biasanya bilateral, terasa
menekan atau mengikat dengan intensitas nyeri ringan hingga sedang dalam
hitungan menit hingga hari. Rasa nyeri tidak memburuk dengan aktivitas fisik dan
tidak berhubungan dengan muntah, tetapi fotofobia atau fonofobia mungkin
diketemukan.
Kriteria diagnosis:
(1) Minimal 10 episode nyeri kepala dalam >15 hari per bulan atau >3 bulan per
tahun dan memenuhi kriteria (2) hingga (4).
(2) Dirasakan selama 30 menit hingga 7 hari
(3) Memenuhi minimal 2 dari 4 kriteria berikut:
a. Lokasi bilateral
b. Kualitas nyeri berupa rasa mengikat atau menekan tidak disertai denyut
c. Intensitas ringan hingga sedang
d. Tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik misalnya berjalan atau naik tangga.
(4) Memenuhi 2 kriteria berikut:
a. Tidak ada mual muntah
b. Hanya memiliki salah satu dari fotofobia atau fonofobia.
2.6.3.1.Chronic TTH asosiasi dengan nyeri perikranial
Kriteria diagnosis:
(1) Memenuhi kriteria Chronic TTH
(2) Nyeri perikranial meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.3.2.Chronic TTH tanpa asosiasi dengan nyeri perikranial
Kriteria diagnosis:
(1) Memenuhi kriteria Chronic TTH
(2) Nyeri perikranial tidak meningkat ketika dilakukan palpasi manual
2.6.4. Probable TTH8
Probable TTH adalah TTH yang tidak memenuhi satu kriteria yang menjadi
kriteria diagnosis dari sub-type TTH dan tidak memenuhi kriteria lain dari
Headache Disorders.
2.6.4.1.Probable infrequent episodic tension-type headache
Kriteria diagnosis:
Mengalami satu atau lebih episode infrequent episodic TTH tetapi tidak
memenuhi 1 kriteria dari kriteria diagnosis (1) hingga (4)

13

2.6.4.2.Probable frequent episodic tension-type headache


Kriteria diagnosis:
Mengalami satu atau lebih episode frequent episodic TTH tetapi tidak memenuhi
1 kriteria dari kriteria diagnosis (1) hingga (4)
2.6.4.3.Probable chronic tension-type headache
Kriteria diagnosis:
Mengalami satu atau lebih episode chronic TTH tetapi tidak memenuhi 1 kriteria
dari kriteria diagnosis (1) hingga (4).
2.7. Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
2.7.1. Anamnesis
Nyeri kepala (Headache) merupakan salah satu penyebab tersering permasalahan
di bidang neurologi. Etiologi nyeri kepala bervariasi, begitu pula pencetusnya.
Nyeri kepala merupakan keluhan subjektif, dimana hanya penderita saja yang bsia
merasakannya. Hal ini menyebabkan anamnesis menjadi hal paling penting dalam
mendiagnosa nyeri kepala8.
Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis komprehensif adalah
kunci evaluasi klinis TTH dan dapat menyediakan petunjuk potensial terhadap
penyebab penyakit (organik atau gangguan fungsi) yang mendasari terjadinya
TTH3.
Anamnesis mesti meliputi riwayat perjalan nyeri kepala penderita, dimulai dari
lokasi, onset, kualitas dan intensitas. Selain itu juga harus diperhatikan apakah ada
gejala neurologis seperti muntah, mual atau perubahan sensoris. Cidera kepala
dalam 48 jam juga mesti ditanyakan8.
2.7.2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan adalah palpasi manual. Palpasi manual
dilakukan untuk menilai perikranial tenderness. Palpasi manual dilakukan di
8 Popp AJ et al., 2007

14

daerah delapan pasang otot dan insersi tendon yaitu frontal, temporal, masetter,
processus coronoid, sternocleidomastoid, suboccipital, mastoid dan otot-otot
trapezius. Cara melakukan palpasi manual adalah dengan melakukan gerakan
memutar kecil dengan tekanan kuat menggunakan jari ke dua dan ke tiga di
daerah-daerah tersebut selama 4-5 detik. Penilaian palpasi manual dibantu dengan
palpometer3.
Pericranial tenderness dicatat dengan Total Tenderness Score. Tenderness dinilai
dengan empat poin yatu 0,1,2 dan 3 di setiap lokasi otot. Nilai dari sisi kiri dan
kanan dijumlahkan menjadi total skor (maksimum skor 48 poin) 3. Penderita TTH
diklasifikasikan sebagai terkait (asosiasi) dengan pericranial tenderness apabila
skor total > 8 poin dan dikatakan tidak terkait (asosiasi) dengan pericranial
tenderness apabila skor < 8 poin3.
Tidak ada uji spesifik untuk mendiagnosa tension-type headache. Pada
pemeriksaan neurologis tidak ditemukan kelainan apapun7.
2.7.3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, rontgen, CT-Scan kepala atau
MRI tidak perlu dilakukan jika tidak ada indikasi apapun7. Neuroimaging yaitu
pecitraan otak atau cervical spine, terutama direkomendasikan untuk3:
(1)
(2)
(3)
(4)

Nyeri kepala dengan pola atipikal


Riwayat kejang
Dijumpai tanda/gejala neurologis
Penyakit simptomatis, seperti: AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome),
tumor, atau neurofibromatosis.

Pemeriksaan funduskopi untuk papiloedema atau abnormalitas lainnya penting


untuk evaluasi nyeri kepala sekunder3.
2.8. Penatalaksanaan
Manajemen terapi untuk TTH adalah kombinasi dari gaya hidup, fisik dan terapi
farmakologi. Kombinasi dari gaya hidup dan fisik adalah bentuk terapi nonfarmakologis6. Tujuan penatalaksanaan adalah reduksi frekuensi dan intensitas
15

nyeri kepala (terutama TTH) dan menyempurnakan respon terhadap abortive.


Tetapi dapat dimulai lagi jika nyeri kepala berulang3.
Intervensi non-farmakologis tetap menjadi pilihan meskipun hasil penelitian di
bidang ini terbatas. Terapi non-farmakologis berupa latihan relaksasi, relaksasi
progresif, terapi kognitif, biofeedback training, cognitive-behavioural therapy
atau kombinasi. Solusi lain adalah modifikasi perilaku dan gaya hidup berupa3:
(1) Istirahat di tempat tenang dan gelap
(2) Peregangan leher dan otot bahu 20-30 menit, idealnya di pagi hari, selama
minimal seminggu
(3) Hindari terlalu lama bekerja di depan komputer. Beristirahat setiap 15 menit
setiap 1 jam berkerja, berselang-seling , iringi dengan instrumen musik
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

alam/klasik.
Tidur dengan posisi yang benar
Hindari suhu dingin
Bekerja, menonton dan membaca dengan pencahayaan yang tepat
Menuliskan pengalaman bahagia
Terapi tawa
Salat dan berdoa

TTH biasanya diberikan pengobatan selama episode akut. Analgetik tipikal


merupakan obat awal yang diberikan. Berdasarkan evidence, analgetik yang
direkomendasikan adalah golongan NSAID (Non Steroid Anti Inflammatory
Drugs) seperti ibuprofen, ketoprofen, dll (Tabel 2.1). Banyak studi kontrol yang
membuktikan bahwa golongan NSAID dan kombinasi agen memiliki efikasi yang
bagus dalam memperbaiki episode akut TTH. Penggunaan kombinasi ini dibatasi
rata-rata 2-3 hari per minggu untuk mencegah pengobatan nyeri kepala berlebihan
dan mencegah transformasi ETTH menjadi CTTH6.

16

Tabel 2.1. Analgetik yang direkomendasikan untuk terapi TTH episode akut 6.

Kategori NSAID yang digunakan sebagai lini pertama dalam mengatasi TTH akut
adalah simple analgetic berupa ibuprofen dan naproxen, karena toleransinya
terhadap gastrointestinal yang baik. Jika simple analgetic tidak memberikan efek
yang maksimal maka bisa ditambahkan dengan caffeine, karena penelitian
Controlled Clinical Trials menunjukkan peningkatan efikasi simple analgetic
dengan penambahan caffeine 130 mg 200 mg. Butalbital dapat digunakan pada
penderita dengan kontraindikasi konsumsi simple analgetic, tetapi memiliki
resiko tinggi dalam transformasi ETTH menjadi CTTH6.
Suntikan botulinum toxin (Botox) diduga efektif untuk nyeri kepala primer, seperti
TTH, migren kronis, nyeri ekpala harian kronis. Botulinum toxins adalah
sekelompok protein produksi bakteri Clostridium botulinum. Mekanisme kerjanya
adalah menghambat pelepasan asetilkolin di sambungan otot, menyebabkan
kelumpuhan flaksid. Botox bermanfaat mengatasi kondisi dimana hiperaktivitas
otot berperan penting. Riset tentang Botox ini masih berlangsung3.
Tabel 2.2. Agent yang direkomendasikan untuk terapi preventif TTH6.

17

Terapi farmakologi preventif digunakan apabila minimal penderita mengalami 2


hingga 3 hari nyeri kepala setiap minggu. Meskipun penangan dari nyeri kepala
TTH ini mungkin menyebakan meningkatnya resiko transformasi menjadi CTTH.
Penatalaksanaanya menggunakan agen tricyclic antidepressant amintryptiline
yang dimulai dengan dosis terendah dan ditingkatkan secara bertahap hingga
tercapai dosis terapi. Berdasarkan penelitian, dimulai dari 10 mg-25 mg dan
mencapai final dose hingga 50 mg-75 mg untuk penderita CTTH. Pemberian agen
ini di malam hari, 1-2 jam sebelum tidur untuk meminimalkan pening saat
terbangun. Jika dosis terapi telah tercapai, maka mesti dipertahankan selama 6-12
bulan. Bila tidak efektif, bisa diganti dengan mirtazepine. Selain itu juga bisa
digunakan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)6. Jenis agen yang efektif
tercantum pada Tabel 2.2.
Pendekatan multidisiplin adalah strategi efektif mengatasi TTH. Edukasi baik
untuk anak dan dewasa disertai intervensi nonfarmakologis dan dukungan
psikososial amat dipelrukan3.
2.9. Komplikasi
TTH berhubungan dengan gangguan psikiatri dan kondisi medis, meskipun
penelitian menunjukkan komplikasi tersebut lebih banyak pada migrain.
Gangguan psikiatri teramati lebih dari dua pertiga penderita nyeri kepala kronis3,6.

18

Komplikasi psikiatri yang sering dijumpai adalah cemas (38,5%), depresi mayor
(32,7%), stres psikososial, gangguan panik, dan tingginya frekuensi bunuh diri.
Gangguan ini lebih banyak dijumpai pada penderita TTH kronis dibandingkan
TTH episodik3.
Temporomandibular disorders juga berhubungan dengan TTH, meskipun
hubungan

antara

keduanya

adalah

nyeri

kepala

sebagai

gejala

dari

temporomandibulars disorders6.
TTh juga dikatakan memiliki hubungan dengan sleep apnea syndrome, meskipun
belum ada data yang valid mengenai hal tersebut. Nyeri kepala pada sleep apnea
syndrome menyerupai TTH kronis karena baisanya terjadi lebih dari 15 hari per
bulan, bilateral, menekan dan tidak disertai nausea, fotofobia atau fotofonia3.
2.10. Prognosis
Informasi mengenai prognosis TTH adalah terbatas, dan tidak ada spesifik yang
menyebutkan prognosis pada pria dewasa. Pada sebuah penelitian dengan sampel
dewasa TTH yang diikuti selama 10 tahun, 44% orang dengan CTTH dilaporkan
mengalami perbaikan komplit, dimana 29% dengan ETTH berubah menjadi
CTTH. Penelitian di Denmark dengan desain potong lintang selama 2 tahun
menyatakan rata-rata remisi 45% diantara penderita ETTH atau CTTH, 39%
berlanjut menjadi ETTH dan 16% CTTH6. Secara umum dapat dikatakan
prognosis TTH adalah baik3.

19

BAB III
KESIMPULAN

TTH adalah nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/sequeezing), mengikat,


tidak berdenyut, tidak dipengaruhi dan tidak diperburuk oleh aktivitas fisik,
bersifat ringan hingga sedang, tidak disertai (atau minimal) mual dan/atau muntah,
serta disertai fotofobia atau fonofobia. TTH mempengaruhi hingga dua pertiga
populasi. Prevalensi TTH 1-tahun sekitar 38-74%.Usia terbanyak adalah 25-30
tahun. TTH terjadi karena adanya asosiasi positif antara nyeri kepala dan stress.
Dari beberapa dekade telah dijelaskan aspek dan patofisiologi dari TTH yang
menyatakan penyebab TTH adalah proses multifaktorial yang melibatkan faktor
myofascial perifer dan komponen CNS. Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan disesuaikan dengan kriteria International Classification of
Headache Disorders III (ICHD-III). Pemeriksaan fisik dapat dilakukan palpasi
manual untuk menilai pericranial tenderness, yang dicatat dengan Total
Tenderness Score. Pemeriksaan neurologis tidak memberikan hasil apa-apa.
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi. Penatalaksanaan bertujuan
untuk reduksi frekuensi dan intensitas nyeri kepala (terutama TTH) dan
menyempurnakan respon terhadap abortive, dengan manajemen terapi adalah
kombinasi dari gaya hidup, fisik dan terapi farmakologi. Prognosis TTH adalah
baik.

20

DAFTAR PUSTAKA
1

The Federation. 2012. Clinical Practice Guideline for The Management of


Headache Disorders in Adults. Online: www.chiropracticcanada.ca January
2012

NINDS. 2009. Headache. National Institute of Neurological Disorders and


Stroke, U.S. Department of Health and Human Services

3
4

Anurogo D. 2014. Tension Type Headache. CDK-214/vol.41 no.3 hlm:186-191


Lyngberg et al. 2005. Has The Prevalence of Migraine and Tension Type
Headache Changed Over a 12-year Period? A Danish Population Survey.
Eur J Epidemiol 2005;20:243-9

Kaniecky RG. 2012. Tension Type Headache. Continum:Life Long Learning


Neurol 2012; 18(4):823-834

Dewanto G, dkk. 2009. Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta: EGC

IHS. 2013. The Internasional Classification of Headache Disorders, 3rd editon


(beta version). International Headache Society. Cephalalgia;33(9):629-808

Pop AJ et al. 2007. A Guide to The Primary Care of Neurological Disorders.

American Associatio of Neurological Surgeons. New york: Thieme

21