Anda di halaman 1dari 14

Praktikum Kimia Lingkungan

I. Judul Praktikum
: Penentuan Kesadahan
II. Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 18 Maret 2015
III.
Tujuan Praktikum
: Mengetahui kadar kesadahan dalam air
IV.
Dasar Teori
Air merupakan kebutuhan yang sangat utama bagi kehidupan manusia. Oleh
karena itu apabila kebutuhan air belum terpenuhi baik secara kuantitas maupun
kualitas maka akan menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat.
Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah kesadahan air. Air
sadah adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah
air dengan kadar mineral yang rendah. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh
adanya logam-logam atau kation bervalensi dua seperti Fe 2+, Sr2+, Mn2+, Ca2+, dan
Mg2+. Akan tetapi penyebab utama kesadahan adalah kalsium dan magnesium.
Kalsium dalam air memiliki kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat,
klorida, dan asam nitrat sementara magnesium memiliki kemungkinan bersenyawa
dengan bikarbonat, sulfat, dan klorida. Kelebihan ion Ca2+ serta ion CO32mengakibatkan terbentuknya kerak pada dinding pipa yang disebabkan oleh endapan
kalsium karbonat.
Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral yang dapat menyumbat
saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah
tangga dan air sadah yang bercampur sabun tidak dapat membentuk busa namun
membentuk gumpalan soap scum yang sukar dihilangkan. Adanya hubungan kimiawi
antara ion kesadahan dengan molekul sabun menyebabkan sifat sabun atau detergen
hilang. Kelebihan ion Ca2+ serta ion CO32- (salah satu ion alkalinity) mengakibatkan
terbentuknya kerak pada dinding pipa yang disebabkan oleh endapan kalsium
karbonat (CaCO3). Kerak ini akan mengurangi penampang basah dari pipa dan
menyulitkan pemanasan air dalam ketel. Tingkat kesadahan air digolongkan sebagai
berikut
mg/L CaCO3
0 75
75 150
150 300
>300

Tingkat Kesadahan
Lunak (soft)
Sedang (moderately hard)
Tinggi (hard)
Sangat tinggi (very hard)

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/MenKes/Per/IX/1990


tentang syarat-syarat kualitas air bersih menyatakan bahwa kadar maksimum
kesadahan yang diperbolehkan yakni 500 mg CaCO 3/L. Nilai ambang batas kesadahan
air yang diperbolehkan untuk air minum adalah 100 mg/L.
Penentuan Kesadahan

Page 1

Praktikum Kimia Lingkungan


Jenis Air Sadah
Berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+), air sadah
digolongkan menjadi dua jenis yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap. Air sadah
sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO 3-), atau
mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2), magnesium bikarbonat
(Mg(HCO3)2). Kesadahan sementara dapat dihilangkan melalui pemanasan sehingga
terbentuk endapan CaCO3 atau MgCO3. Reaksi yang terjadi adalah:
Ca(HCO3)2 (aq)
CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Mg(HCO3)2 (aq)
MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Sedangkan air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion
bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang
terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl 2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium
sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan
magnesium sulfat (MgSO4). Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan harus
dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan larutan
karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3 (aq) untuk mengendapkan ion Ca2+ dan atau
Mg2+.
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq)
Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq)

CaCO3 (s) + 2NaCl (aq)


MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq)

Metode yang dapat digunakan dalam menentukan kesadahan total adalah


metode titrasi EDTA (Etilen Diamine Tetra Asetat) atau titrasi kompleksometri.
Prinsip dasar reaksi dalam penentuan ion-ion logam secara titrasi kompleksometri
umumnya menggunakan EDTA sebagai pembentuk kompleks khelat, dimana EDTA
bereaksi dengan ion logam polivalen seperti Al3+, Bi3+, Ca2+, dan Cu2+ membentuk
senyawa kompleks khelat yang stabil dan larut dalam air. Titran yang digunakan
adalah EDTA yang merupakan asam berbasa 4 (H4Y). Akan tetapi yang sering
digunakan adalah garam natriumnya (Na2H2Y) karena EDTA dalam bentuk asamnya
kurang baik larut dalam air.
HOOCCH2

HOOCCH2
NCH2CH2N

HOOCCH2

HOOCCH2
Gambar EDTA

Penentuan Kesadahan

Page 2

Praktikum Kimia Lingkungan


Untuk logam Ca2+ dan Mg2+ bereaksi baik pada pH 8-10 dengan EDTA. Reaksi
EDTA dengan ion logam:
Ln+ + H2Y2LY(-4+n)
Mg2+ + H2Y2MgY2- + 2H+
3+
2Al + H2Y AlY- + 2H+
Karena membebaskan H+, maka diperlukan larutan buffer untuk mencegah
perubahan yang besar dalam pH larutan selama titrasi. Indikator yang digunakan
adalah indikator yang peka terhadap semua kation termasuk Ca 2+ dan Mg2+, yakni
Eriochrome Black T (EBT) atau Calmigite yang berwarna merah muda bila dalam
larutan dengan pH 10 yang mengandung ion Ca dan Mg. EBT merupakan asam lemah
berbasa 3 (H3In) EBT tidak stabil dalam larutan dan larutan harus dipersiapkan dengan
segar untuk mendapatkan perubahan warna yang sesuai. Banyak titrasi EDTA terjadi
dalam penyanggaan pH 8-10, suatu rentang dimana bentuk dominan dari EBT adalah
bentuk Hln2- biru. Contoh reaksi-reaksi pada penentuan kadar Mg2+ :
1. Penambahan indikator: Mg2+ + Hln2MgIn- + H+
2. Penambahan EDTA: Mg2+ + H2Y2MgY2- + 2H+
23. Pada titik akhir titrasi: MgIn + H2Y
MgH2Y2MgH2Y + In3- ln3- + H2O

Hln2- + OH-

4. Pada titik ekivalen :


Jumlah ekivalen Mg 2+ = Jumlah ekivalen EDTA
Larutan yang mengandung ion Mg2+ setelah ditambah dengan indikator EBT
akan berwarna kemerah-merahan, kemudian setelah terjadi ekivalen antara ion logam
dengan EDTA dapat dilihat dari terbentuknya warna biru dari indikator dalam bentuk
Hln2-.
Apabila yang digunakan indikator murexid maka warna larutan akan berubah
menjadi merah muda. Apabila EDTA ditambahkan pada larutan tersebut pH basa (1213) maka kalsium akan dikomplekskan dan magnesium akan diendapkan menjadi
Mg(OH)2 dan larutan akan berubah dari merah muda menjadi ungu yang
menunjukkan titik akhir titrasi. Proses penghilangan kesadahan air yang sering
dilakukan pada industri-industri adalah melalui penyaringan dengan menggunakan
resin pengikat kation dan anion, zeolit.
V. Alat dan Bahan

Alat
- Buret 50 mL
- Erlenmeyer 100 mL
- Gelas ukur 10 mL
- Labu ukur 250 mL
- Pipet tetes
Penentuan Kesadahan

1 buah
3 buah
1 buah
1 buah
6 buah
Page 3

Praktikum Kimia Lingkungan

- Pipet gondok
1 buah
- Statif dan klem
1 buah
Bahan
- Air limbah / sampel
- Larutan Na EDTA 0,01 M
- Indikator EBT
- Larutan NaOH 0,1 N
- Larutan buffer pH 10
- Indikator murexid
- Aquades

Penentuan Kesadahan

Page 4

Praktikum Kimia Lingkungan


VI.

Alur Kerja
1. Kesadahan Ca2+
25 mL Sampel
Dimasukkan erlenmeyer 100 mL
1 mL NaOH 0,1 N
Sedikit mungkin serbuk murexid

Dititrasi dengan EDTA 0,01 M sambil diaduk sampai perubahan warna merah muda menjadi ungu
- Apabila volume EDTA yang digunakan lebih dari 15 mL maka sampel perlu
diencerkan
Volume EDTA
Larutan ungu
2. Kesadahan Mg2+
25 mL Sampel
Dimasukkan erlenmeyer 100 mL
1 mL Larutan buffer pH 10
1 tetes indikator EBT
Dititrasi dengan EDTA
0,01 volume
M sambil
diaduk
warna
merah
muda
menjadi biru
- Apabila
EDTA
yang sampai
digunakanperubahan
lebih dari 15
mL maka
sampel
perlu
diencerkan
Volume EDTA
Larutan biru

VII.

Hasil Pengamatan :

No.Perc.
Prosedur Percobaan
1.
Kesadahan Ca2+

Hasil Pengamatan
Sampel : lar abu-abu
Aquades : lar tak berwarna
25 mL Sampel
NaOH : lar tak berwarna
Serbuk
Dimasukkan erlenmeyer 100
mL murexid : berwarna
hitam
1 mL NaOH 0,1 N
EDTA : lar tak berwarna
Sedikit mungkin serbuk murexid

Dugaan
Fungsi penam
- NaOH = unt
meningkatk
sampel sup
terionkan o
- Murexid = se
indikator,
mencegah
Setelah pengenceran 2,5 mL
Dititrasi dengan EDTA 0,01 M sambil diaduk sampai perubahan warna merah muda menjadi ungu
kalsium hid
250 mL : lar sampel tak
Penentuan Kesadahan

Volume EDTA
Larutan ungu

Page 5

Praktikum Kimia Lingkungan

- Apabila volume EDTA yang digunakan lebih


dari 15 mL maka sampel perlu diencerkan

berwarna
Sampel + NaOH : lar tak
berwarna
Setelah ditambah serbuk
murexid : lar merah muda
Setelah dititrasi dengan
EDTA : lar berwarna ungu
Volume titrasi
1. 0,1 mL
2. 0,1 mL
3. 0,1 mL

[Ca(OH)2]

Reaksi:
- Ca2+ dengan
H2In- + Ca2
2 H+
- Saat titrasi
EDTA + C
H2In- + C

Kadar maksi
menurut PE
tahun 2010
30mg/L

Sampel : lar abu-abu


Fungsi penam
Larutan penyangga : lar tak - Larutan peny
25 mL Sampel
menjaga pH
berwarna
ketika ion H
Indikator EBT : lar ungu
Dimasukkan erlenmeyer 100mL
pada saat ti
pekat
1 mL Larutan buffer pH 10 EDTA : lar tak berwarna
dapat meny
1 tetes indikator EBT
perubahan
Sampel + lar penyangga: lar
mencegah
Dititrasi dengan EDTA 0,01 M sambil diaduk sampai perubahan tak
warna
merah
muda
menjadi
biru
berwarna
Mg(OH)
2
Setelah ditambah EBT : lar - EBT = sebag
pH 7-11
merah muda

Reaksi:
Setelah dititrasi dengan
Volume EDTA
22+
EDTA : lar berwarna biru - HIn + Mg
Larutan biru
H+ (merah)
Volume titrasi
- MgIn- +H2Y2
1. 0,2 mL
- Apabila volume EDTA yang digunakan lebih 2. 0,3 mL
HIn- (biru)
3. 0,2 mL
Kadar ma
dari 15 mL maka sampel perlu diencerkan
Mg2+ men
PERMEN
2010 adal
Kadar ma
kesadaha
menurut
PERMEN
2010 adal
2.

Kesadahan Mg2+

Penentuan Kesadahan

Page 6

Praktikum Kimia Lingkungan


VIII. Analisis dan Pembahasan

Pada percobaan ini yang dilakukan ada 2, yaitu menentukan kesadahan Ca 2+


dan Mg2+. Dimana dari masing-masing kesadahan tersebut dapat diperoleh hasil
kesadahan total pada sampel.
1. Kesadahan Ca2+
Pada percobaan yang pertama ini, yang dilakukan adalah pengenceran
sampel, yaitu 2,5 mL sampel yang diambil dari sungai disekitar pabrik gula di
daerah Prambon dimasukkan dalam labu ukur 250 mL dan ditambah aquades
hingga tanda batas. Larutan sampel tersebut berwarna abu-abu, tetapi setelah
pengenceran menjadi tidak berwarna. Selanjutnya, sampel yang telah diencerkan
tersebut diambil sebanyak 25 mL dan dimasukkan dalam Erlenmeyer 100 mL.
Selanjutnya ditambah dengan 1 mL NaOH 0,1 N dan ditambah sedikit mungkin
serbuk murexid. Setelah penambahan murexid warna larutan berubah dari tidak
berwarna menjadi berwarna merah muda. Larutan NaOH merupakan larutan
yang tidak berwarna dan serbuk murexid berwarna hitam. Fungsi dari
penambahan NaOH adalah untuk meningkatkan pH sampel supaya Ca2+
terionkan oleh EDTA. Sedangkan fungsi dari penambahan serbuk murexid
adalah sebagai indikator dan untuk mencegah terbentuknya kalsium hidroksida
[Ca(OH)2]. Reaksinya adalah sebagai berikut:
H2In- + Ca2+ CaIn- + 2 H+
Larutan selanjutnya dititrasi dengan EDTA. Larutan EDTA merupakan
larutan yang tidak berwarna. Titrasi dihentikan pada saat warna larutan yang
awalnya berwarna merah muda telah berubah menjadi berwarna ungu. Hal ini
menunjukkan titik akhir dari titrasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
EDTA + CaIn- + 2 H+ H2In- + Ca-EDTA
Pada percobaan ini titrasi dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan
diperoleh volume EDTA yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
V1: 0,1 mL
V2: 0,1 mL
V3: 0,1 mL
Dari volume EDTA di atas, maka dapat dihitung kesadahan Ca 2+ dalam
sampel dengan menggunakan rumus
2+

1000 x Mr Ca
x Pengenceran
( mgL )= A xVolC xsampel
(mL)
Ca

Penentuan Kesadahan

Page 7

Praktikum Kimia Lingkungan


Dari perhitungan melalui rumus di atasmaka diperoleh kesadaan Ca2+
sebagai berikut:
1. Kesadahan Ca2+: 160,32 mg/L
2. Kesadahan Ca2+: 160,32 mg/L
3. Kesadahan Ca2+: 160,32 mg/L
Dan diperoleh rata-rata kesadahan Ca2+ dalam sampel yaitu 160,32 mg/L.
Kadar maksimum Ca2+ menurut PERMENKES tahun 2010 adalah 30mg/L. Dari
hasil yang diperoleh, maka kadar Ca2+ dalam sampel melebihi kadar maksimum
Ca2+ menurut PERMENKES. Dapat dikatakan bahwa sampel tersebut memiliki
kesadahan Ca2+ yang tinggi.
2. Kesadahan Mg2+
Pada percobaan yang kedua ini, yang dilakukan adalah menentukan
kesadahan Mg2+ dalam sampel. Sampel yang telah diencerkan diambil sebanyak
25 mL dan dimasukkan dalam Erlenmeyer 100 mL. Larutan tersebut adalah
larutan tidak berwarna. Kemudian ditambah dengan 1 mL larutan buffer pH 10.
Fungsi dari penambahan tersebut adalah menjaga pH sampel ketika ion H + lepas
pada saat titrasi yang dapat menyebabkan perubahan pH, mencegah terbentuknya
Mg(OH)2. Larutan yang dihasilkan adalah larutan yang tidak berwarna.
Selanjutnya ditambah dengan 1 tetes indikator EBT yang merupakan larutan
berwarna ungu. Warna larutan mengalami perubahan, yaitu larutan yang tidak
berwarna menjadi larutan berwarna merah muda. Reaksinya adalah sebagai
berikut:
Mg2+ (aq) + EBT (aq) > (Mg EBT)2+ (aq)
Larutan kemudian dititrasi dengan EDTA. Larutan yang berwarna merah
muda akan berubah menjadi larutan berwarna biru. Hal ini menunjukkan titik
akhir dari titrasi. Jika H2Y2- mengkompleks semua, Ca2+ dan Mg2+
bebas dari sampel air maka kompleks merah muda (Ca EBT)2+
terdisosiasi dari warna merah muda berubah menjadi biru dari
indikator EBT. Dan titik akhir dicapai, semua ion sadah telah
terkompleksikan

dengan

H2Y2-.

Reaksinya

adalah

sebagai

berikut:
(Mg EBT)2+ (aq) + H2Y2- (aq) > MgY(aq) + 2H+ (aq) +
EBT(aq)

Pada percobaan ini titrasi dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan


diperoleh volume EDTA yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
Penentuan Kesadahan

Page 8

Praktikum Kimia Lingkungan


V1: 0,3 mL
V2: 0,2 mL
V3: 0,3 mL
Dari volume EDTA di atas, maka dapat dihitung kesadahan Mg 2+ dalam
sampel dengan menggunakan rumus
2+

1000 x Mr Mg
x Pengenceran
( mgL )= A xVolC xsampel
(mL)
Mg

Dari perhitungan melalui rumus di atasmaka diperoleh kesadaan Mg 2+


sebagai berikut:
1. Kesadahan Mg2+: 194,48 mg/L
2. Kesadahan Mg2+: 291,72 mg/L
3. Kesadahan Mg2+: 194,48 mg/L
Dan diperoleh rata-rata kesadahan Mg2+ dalam sampel yaitu 226,893mg/L.
Kadar maksimum Mg2+ menurut PERMENKES tahun 2010 adalah 500mg/L.
Dari hasil yang diperoleh, maka kadar Mg2+ dalam sampel tidak melebihi kadar
maksimum Mg2+ menurut PERMENKES. Dapat dikatakan bahwa sampel
tersebut memiliki kesadahan Mg2+ yang rendah.
Dari hasil kesadahan Ca2+ dan Mg2+ tersebut, maka diperoleh kesadahan
total dalam sampel adalah 193,6065 mg/L.
IX.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Kesadahan Ca2+ dalam sampel adalah 160,32 mg/L. Kadar Ca2+ dalam
sampel melebihi kadar maksimum Ca2+ menurut PERMENKES yaitu
sebesar 30 mg/L. Dapat dikatakan bahwa sampel tersebut memiliki
kesadahan Ca2+ yang tinggi.
2. Kesadahan Mg2+ dalam sampel adalah 226,893mg/L. Kadar Mg2+ dalam
sampel tidak melebihi kadar maksimum Mg2+ menurut PERMENKES yaitu
500 mg/L. Dapat dikatakan bahwa sampel tersebut memiliki kesadahan Mg 2+
yang rendah.
3. Kesadahan total dalam sampel air sungai dekat pabrik gula Prambon adalah
193,6065 mg/L.

X. Daftar Pustaka
Penentuan Kesadahan

Page 9

Praktikum Kimia Lingkungan


Amal,

Andika

Muhardianti.

2011.

Laporan

Praktikum

Kesadahan.

http://dhyka1207.blogspot.com/2011/12/laporan-praktikum-kesadahan.html.
Diakses pada 22 Maret 2015.
Amaria, Suyono, Rusmini. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Lingkungan. Surabaya:
Unesa Press.
Day, R. A., Underwood, A.L. 1986. Quantitative Analysis (sixth ed.). New York:
Prentice Hall.
Hadyana, P.A. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.
Said, Nusa Idaman. 2011. Penghilangan Kesadahan Di Dalam Air Minum.
www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB9SADAH.pdf . Diakses
4 April 2014
Patria

K.,

Dwi

N.

2011.

Kesadahan

dalam

Air

Tanah.

Online.

http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2011/10/19/kesadahan-dalam-airtanah-402755.html. Diakses pada 22 Maret 2015.

Penentuan Kesadahan

Page 10

Praktikum Kimia Lingkungan


LAMPIRAN GAMBAR

Pengenceran sampel

Sampel dalam erlenmeyer

Sampel + larutan penyangga + EBT +


EDTA
Sampel + larutan penyangga + EBT

Sampel + NaOH + murexid


Penentuan Kesadahan

Page 11

Sampel + NaOH + murexid + EDTA

Praktikum Kimia Lingkungan

Sampel + NaOH + murexid + EDTA

Penentuan Kesadahan

Page 12

Sampel + NaOH + murexid + EDTA

Praktikum Kimia Lingkungan


LAMPIRAN PERHITUNGAN
1. Penentuan Kesadahan Ca2+
a) Volume titrasi = 0,1 mL
A x C x 1000 x Mr Ca
x Pengenceran
2+
Ca (mg/L) =
Volume sampel
=

0,1mL x 0,01 x 1000 x 40,08


x 100
25 mL

= 160,32 mg/L
b) Volume titrasi = 0,1 mL
A x C x 1000 x Mr Ca
x Pengenceran
2+
Ca (mg/L) =
Volume sampel
=

0,1mL x 0,01 x 1000 x 40,08


x 100
25 mL

= 160,32 mg/L
c) Volume titrasi = 0,1 mL
A x C x 1000 x Mr Ca
x Pengenceran
Ca2+ (mg/L) =
Volume sampel
=

0,1mL x 0,01 x 1000 x 40,08


x 100
25 mL

= 160,32 mg/L
Kesadahan Ca2+ (mg/L) rata-rata =

160,32+160,32+160,32
3

= 160,32 mg/L

2. Penentuan Kesadahan Mg2+


a) Volume titrasi = 0,2 mL
B x C x 1000 x Mr Mg
x Pengenceran
Mg2+ (mg/L) =
Volume sampel
=

0,2mL x 0,01 x 1000 x 24,31


x 100
25 mL

= 194,48 mg/L

Penentuan Kesadahan

Page 13

Praktikum Kimia Lingkungan


b) Volume titrasi = 0,3 mL
B x C x 1000 x Mr Mg
x Pengenceran
Mg2+ (mg/L) =
Volume sampel
=

0,3 mL x 0,01 x 1000 x 24,31


x 100
25 mL

= 291,72 mg/L
c) Volume titrasi = 0,2 mL
B x C x 1000 x Mr Mg
x Pengenceran
Mg2+ (mg/L) =
Volume sampel
=

0,2mL x 0,01 x 1000 x 24,31


x 100
25 mL

= 194,48 mg/L

194,48+ 291,72+194,48
3

Kesadahan Mg2+ (mg/L)rata-rata =

= 226,893 mg/L

2+ ratarata+
Kesadahan Total =

Ca

Mg2 +ratarata
2

160,32 mg/ L+226,893 mg/L


2

387,213 mg/ L
2

= 193,6065 mg/L

Penentuan Kesadahan

Page 14