Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit kronik granulomatosa yang secara
primer menyerang saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran
nafas bagian atas, sistem retikuloendotel, mata, otot, tulang, dan testis. Penyebab
kusta adalah Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat, dan pada
tahun 2009 telah ditemukan penyebab baru yaitu Mycobacterium lepramatosis.
Kusta dahulu dikenal dengan penyakit yang tidak dapat sembuh dan diobati,
namun sejak tahun 1980 dimana program Multi Drug Treatment (MDT) mulai
diperkenalkan, kusta dapat didiagnosis dan diterapi. Pengobatan Kusta pada
wanita hamil dan anak-anak harus sangat di perhatikan. Baik dari dosis sampai
pemilihan jenis obat. Agar dapat menghindari efek samping yang tidak di
kehendaki.
Morbus Hansen atau kusta atau lepra bukan merupakan penyakit yang tidak
dapat dikendalikan. Morbus Hansen menyerang semua umur dan menyebar luas
keseluruh dunia, terutama di Asia, Afrika, Amerika Latin, Daerah tropis dan
Subtropis, serta masyarakat yang sosial ekonomi rendah. Makin rendah sosial
ekonomi makin berat penyakitnya, sebaliknya faktor sosial ekonomi tinggi sangat
membantu penyembuhan. Jumlah kasus diseluruh dunia selama 12 tahun terakhir
ini telah menurun 85%. Kasus kusta yang terdaftar pada permulaan tahun 1997
kurang lebih 890.000 penderita. Di Indonesia jumlah kasus yang tercatat pada
akhir maret 1997 adalah 31.699 orang, distribusi tidak merata, yang tertinggi
diantara lain di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Penderita anakanak kurang dari 14 tahun lebih kurang 13% sedangkan untuk anak umur kurang
1 tahun jarang sekali. Frekuensi tertinggi terdapat pada kelompok umur antara 25
sampai 35 tahun. Penyakit kusta berhubungan dengan respon imunologi 95%
populasi manusia memiliki kekebalan alamiah terhadap M. Leprae

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI :
Kusta atau Morbus Hansen merupakan penyakit infeksi yang kronik,
dan penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular
obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus
respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf
pusat. 1
B. EPIDEMIOLOGI:
Masalah epidemiologi masih belum terpecahkan, cara penularan
belum diketahui pasti hanya berdasarkan anggapan klasik yaitu melalui
kontak langsung antar kulit yang lama dan erat. Anggapan kedua ialah secara
inhalasi, sebab M.leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet. 1
Masa inkubasi nya sangat bervariasi antara 40 hari sampai 40 tahun,
umumnya beberapa tahun, rata-rata 3-5 tahun. 1
Kelompok umur terbanyak yang menderita penyakit ini adalah usia
25-35 tahun. Frekuensi pada jenis kelamin pria atau pun wanita adalah sama. 2
C. ETIOLOGI:
Kuman penyebab adalah Mycobacterium leprae yang ditemukan oleh
G.A.HANSEN pada tahun 1874 di Norwegia.1 Kuman ini bersifat obligat
intrasel, aerob, tidak dapat dibiakkan secara in vitro, berbentuk basil Gram
positif dengan ukuran 3-8m x 0,5m, bersifat tahan asam dan alkohol.
Kuman ini mempunyai afinitas terhadap makrofag dan sel Schwann, replikasi
yang lambat di sel Schwann menstimulasi cell-mediated immune response,
yang menyebabkan reaksi inflamasi kronik. 3

Gambar 1. Microbakterium lepra

D. PATOFISIOLOGI: 3
Sebenarnya M.leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang
rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu
memberikan

gejala

yang

lebih

berat,

bahkan

dapat

sebaliknya.

Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit, tidak lain


disebabkan oleh respon imun yang berbeda yang memicu timbulnya reaksi
granuloma setempat atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif.
Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut penyakit imunologik.
Kusta bukanlah penyakit yang sangat menular. Sarana utama penularan
adalah dengan penyebaran aerosol dari sekret hidung yang terinfeksi pada
mukosa hidung dan mulut terbuka. Kusta umumnya tidak menyebar melalui
kontak langsung melalui kulit utuh, meskipun kontak dekat adalah yang paling
rentan.
Masa inkubasi kusta adalah 6 bulan sampai 40 tahun atau lebih. Masa
inkubasi rata-rata adalah 4 tahun untuk kusta tuberkuloid dan 10 tahun untuk
kusta lepromatosa.
Daerah yang paling sering terkena kusta adalah saraf tepi perifer, kulit,
selaput lendir saluran pernapasan bagian atas, ruang anterior dari mata, dan

testis. Daerah-daerah tersebut cenderung bagian dingin dari tubuh. Kerusakan


jaringan tergantung pada sejauh mana imunitas diperantarai oleh sel, jenis dan
luasnya penyebaran basiler dan jumlahnya, penampilan yang merusak jaringan
komplikasi imunologi (yaitu, reaksi lepra), dan pengembangan kerusakan saraf
dan gejala sisa.
M. leprae adalah bakteri intraseluler obligat, bersifat asam, gram positif
basil dengan afinitas untuk makrofag dan sel Schwann. Untuk sel Schwann pada
khususnya, mengikat mikobakteri ke domain G dari rantai alpha laminin-2
(hanya ditemukan di saraf perifer) dalam lamina basal. Replikasi lambat mereka
dalam sel Schwann akhirnya merangsang respon kekebalan yang dimediasi sel,
yang menciptakan reaksi peradangan kronis. Akibatnya, pembengkakan terjadi
di perineurium, menyebabkan iskemia, fibrosis, dan kematian aksonal.
Urutan genom M leprae hanya selesai dalam beberapa tahun terakhir.
Satu penemuan penting adalah bahwa meskipun itu tergantung pada host untuk
metabolisme, mikroorganisme mempertahankan gen untuk pembentukan
dinding sel mikobakteri. Komponen dinding sel merangsang antibodi
immunoglobulin M dan tuan diperantarai sel respon imun, sementara juga
moderator kemampuan bakterisidal makrofag.
Kekuatan dari sistem kekebalan inang mempengaruhi bentuk klinis dari
penyakit ini. Kekuatan diperantarai sel imunitas (interferon-gamma interleukin
[IL] -2) dan hasil respon humoral yang lemah dalam bentuk ringan dari
penyakit, dengan terdefinisi dengan baik saraf yang terlibat dan beban bakteri
yang lebih rendah. Sebuah respon humoral yang kuat (IL-4, IL-10), tetapi hasil
kekebalan yang relatif tidak ada sel-dimediasi pada kusta lepromatosa, dengan
lesi luas, kulit yang luas dan keterlibatan saraf, dan beban bakteri tinggi. Oleh
karena itu, spektrum penyakit yang ada seperti yang diperantarai sel imunitas
mendominasi dalam bentuk ringan kusta dan menurun dengan meningkatnya
keparahan klinis. Sementara itu, kekebalan humoral relatif tidak ada pada
penyakit ringan dan meningkat dengan tingkat keparahan penyakit.
4

Toll-like receptors (TLRs) juga mungkin memainkan peran dalam


patogenesis kusta. M leprae mengaktifkan TLR2 dan TLR1, yang ditemukan
pada permukaan sel Schwann, terutama dengan kusta tuberkuloid. Meskipun ini
pertahanan kekebalan yang dimediasi sel yang paling aktif dalam bentuk ringan
dari kusta, juga mungkin bertanggung jawab untuk aktivasi gen apoptosis dan,
akibatnya, timbulnya kerusakan saraf ditemukan pada orang dengan penyakit
ringan. Alpha-2 reseptor laminin ditemukan dalam lamina basal sel Schwann
juga merupakan target masuk untuk M leprae ke dalam sel, sedangkan aktivasi
dari jalur erbB2 reseptor tirosin kinase signaling telah diidentifikasi sebagai
mediator dari demielinasi pada kusta .
Aktivasi makrofag dan sel dendritik, baik antigen-penyajian sel, terlibat
dalam respon kekebalan host terhadap M leprae. IL-1beta diproduksi oleh
antigen-penyajian sel yang terinfeksi oleh mycobacteria telah ditunjukkan untuk
merusak pematangan dan fungsi sel dendritik. Karena basil telah ditemukan
dalam endotelium kulit, jaringan saraf, dan mukosa hidung, sel-sel endotel juga
ikut untuk berkontribusi pada patogenesis kusta. Jalur lain dimanfaatkan oleh M
leprae adalah jalur ubiquitin-proteasome, dengan menyebabkan apoptosis sel
kekebalan tubuh dan tumor necrosis factor (TNF) -alpha/IL-10 sekresi.
Sebuah peningkatan mendadak dalam T-sel kekebalan bertanggung
jawab untuk reaksi reversal tipe I. Ketika hasil reaksi dari aktivasi TNF-alpha
dan pengendapan kompleks imun pada jaringan dengan infiltrasi neutrophilic
dan dari aktivasi komplemen pada organ. Satu studi menemukan bahwa
siklooksigenase 2 diungkapkan di microvessels, berkas saraf, dan serat saraf
terisolasi dalam dermis dan subcutis selama reaksi reversal.
Bila basil M.leprae masuk kedalam tubuh seseorang, dapat timbul
gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis
bergantung pada sistem imunitas seluler (SIS) penderita. SIS baik akan tampak
gambaran klinis kearah tuberkuloid, sebaliknya SIS rendah memberikan
gambaran lepromatosa. 1
5

Gambar 2. Patofisiologi Lepra

Gambar 3. Patogenesis Kerusakan Saraf pada Pasien Kusta

E. KLASIFIKASI:

Ridley dan Jopling memperkenalkan istilah spektrum determinate pada


penyakit lepra yang terdiri berbagai tipe, yaitu :
TT
: tuberkuloid polar, bentuk yang stabil
Ti
: tuberkuloid indefinite
BT
: borderline tuberculoid
BB
: Mid borderline
BL
: borderline lepromatous
Li
: lepromatosa indefinite
LL
: Lepromatosa polar, bentuk yang stabil
TT adalah tipe tuberkuloid polar, yakni tuberkuloid 100%, tipe yang
stabil. Jadi tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga LL adalah tipe
lepromatosa polar, yakni lepromatosa 100%. Sedangkan tipe antara Ti dan Li
disebut tipe borderline atau campuran, berarti campuran antara tuberkuloid
dan lepromatosa. BB adalah tipe campuran 50% tuberkuloid dan 50%
lepromatosa. BT dan Ti lebih banyak tuberkuloidnya, sedangkan BL dan Li
lebih banyak lepromatosanya. Tipe-tipe campuran ini adalah tipe yang labil,
berarti dapat beralih tipe, baik ke arah TT maupun ke arah LL.
Menurut WHO (1981), lepra dibagi 2 menjadi multibasilar (MB) dan
pausibasilar (PB). Multibasilar berarti mengandung banyak basil dengan
indeks bakteri (IB) lebih dari 2+, yaitu tipe LL, BL, dan BB pada klasifikasi
Ridley-Joping. Pausibasilar mengandung sedikit basil dengan IB kurang dari
2+, yaitu tipe TT,BT, dan I. 1
Untuk kepentingan pengobatan, pada tahun 1987 telah terjadi
perubahan. Yang dimaksud dengan kusta PB adalah kusta dengan BTA negatif
pada pemeriksaan kulit, yaitu tipe TT, BT, dan I, sedangkan kusta MB adalah
semua penderita kusta tipe BB, BL, LL atau apapun klasifikasi klinisnya
dengan BTA positif, harus diobati dengan rejimen MDT-MB. 1

Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO ( 1995 ) 1


PB
1. Lesi kulit
(makula
datar,
papul
yang
meninggi, nodus)

1-5 lesi
Hipopigmentasi/eritema
Distribusi tidak simetris
Hilangnya sensasi jelas

2. Kerusakan

Hanya satu cabang saraf

saraf

MB
- > 5 lesi
- Distribusi lebih simetris
- Hilangnya sensasi kurang
jelas

Banyak cabang saraf

(menyebabkan
hilangnya
sensasi/kelemahan
otot

yang

dipersarafi

oleh

saraf

yang

terkena)

Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta MultiBasilar


(MB) 1
8

Sifat

Lepromatosa (LL)

Lesi
Bentuk

Jumlah

Borderline

Mid

Lepromatosa (BL)

(BB)

Makula

Makula

Plakat

Infiltrat difus

Plakat

Dome-shape (kubah

Papul

Papul

Nodus
Tidak

Distribusi
Permukaan

Batas
Anestesia
BTA

Lesi kulit

Sekret
hidung
Tes Lepromin

Punched-out
dihitung, Dapat
dihitung,

terhitung, Sukar

praktis tidak ada kulit masih

Borderline

ada

kulit kulit sehat jelas ada

sehat
Simetris
Halus berkilat

sehat
Hampir simetris
Halus berkilat

Asimetris
Agak kasar, agak

Tidak jelas
Biasanya tidak jelas

Agak jelas
Tak jelas

berkilat
Agak jelas
Lebih jelas

Banyak (ada globus)


Banyak (ada globus)

Banyak
Biasanya negatif

Agak banyak
Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta PausiBasilar


(PB) 1

Karakteristik

Lesi
Tipe

Tuberkuloid

Borderline

(TT)

Tuberculoid (BT)

Makula ; makula Makula


dibatasi infiltrat

Indeterminate (I)

dibatasi Hanya Infiltrat

infiltrat saja; infiltrat


saja

Jumlah

Satu atau dapat Beberapa

Distribusi

beberapa
Terlokalisasi

Permukaan

asimetris
Kering, skuama

Batas

satu Satu atau beberapa

dengan lesi satelit


& Asimetris

Jelas

Anestesia

atau

Jelas

Bervariasi

Kering, skuama

Dapat

halus

agak

Jelas

berkilat
Dapat jelas atau dapat

Jelas

tidak jelas
Tak ada sampai tidak
jelas

BTA
lesi kulit

Hampir

Tes lepromin

negative
Positif kuat (3+)

selalu Negatif atau hanya 1+


Positif lemah

Biasanya negatif
Dapat positif lemah atau
negatif

F. DASAR DIAGNOSIS
1. Gejala Klinis
Masa inkubasinya 2 40 tahun (rata-rata 5 7 tahun). Onset
terjadinya perlahan-lahan dan tidak ada rasa nyeri. Pertama kali mengenai
sistem saraf perifer dengan parestesi dan baal yang persisten atau rekuren
tanpa terlihat adanya gejala klinis.
Pada stadium ini mungkin terdapat erupsi kulit berupa

macula

dan

bula yang bersifat sementara. Keterlibatan sistem saraf menyebabkan


kelemahan otot, atrofi otot, nyeri neuritik yang berat, dan kontraktur tangan
dan kaki.
Gejala prodromal yang dapat timbul kadang tidak dikenali sampai lesi
erupsi terjadi ke kutan. 90% pasien biasanya mengalami keluhan pada
pertama kalinya adalah rasa baal, hilangnya sensori suhu sehingga tidak dapat

10

membedakan panas dengan dingin. Selanjutnya, sensasi raba dan nyeri,


terutama dialami pada tangan dan kaki, sehingga dapat terjadi kompliksi ulkus
atau terbakar pada ekstremitas yang baal tersebut. Bagian tubuh lain yang
dapat terkena kusta adalah daerah yang dingin, yaitu daerah mata, testis, dagu,
lubang hidung, daun telinga, dan lutut.
Perubahan saraf tepi yang terjadi dapat berupa:
a. pembesaran saraf tepi yang asimetris pada daun telinga, ulnar,
tibia posterior, radial kutaneus,
b. Kerusakan sensorik pada lesi kulit
c. Kelumpuhan nervus trunkus tanpa tanda inflamasi berupa
neuropati, kerusakan sensorik dan motorik, serta kontraktur
d. Kerusakan sensorik dengan pola Stocking-glove
e. Acral distal symmethric anesthesia (hilangnya sensasi panas
dan dingin, serta nyeri dan raba)

2. Pemeriksaan Fisik 4
a. Tuberculoid Leprosy (TT, BT)
Pada TT, imunitas masih baik, dapat sembuh spontan dan masih mampu
melokalisir sehingga didapatkan gambaran batas yang tegas. Mengenai kulit
maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula
atau plak, dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau
central clearing. Permukaan lesi dapat bersisik, dengan tepi yang meninggi.
Dapat disertai penebalan saraf tepi yang biasanya teraba. Kuman BTA negatif
merupakan tanda terdapatnya respon imun yang adekuat terhadap kuman
kusta. Pada BT, tidak dapat sembuh spontan, Lesi menyerupai tipe TT namun
dapat disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa,
tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas
TT. Gangguan saraf tidak berat dan asimetris.
11

Gambar 4. Lesi Tuberculoid Leprosy, soliter, anesthetic, annular

Gambar 5. Lesi Kulit pada Tuberculoid Leprosy

12

Gambar 6. Borderline Tuberculoid Leprosy,


gambaran anular inkomplit dengan papul satelit
b. Borderline Leprosy
Pada tipe BB borderline,meruapakan tipe yang paling tidak stabil,
disebut juga bentuk dimorfik. Lesi kulit berbentuk antara tuberculoid dan
lepromatous.Terdiridari macula infiltratif, mengkilap, batas lesi kurang tegas,
jumlah banyak melebihi tipe BT dan cenderung simetris. Lesi bervariasi,
dapat perbentuk punch out yang khas. Pada tipe ini terjadi anestesia dan
berkurangnya keringat.

13

Gambar 6. Lesi Kulit pada Borderline BB Leprosy


c. Lepromatous Leprosy
Tipe BL, secara klasik lesi dimulai dengan makula, awalnya sedikit
dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Makula lebih bervariasi bentuknya.
Distribusi lesi hampir simetris. Lesi innfiltrat, dan plak seperti punched out.
Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi hipopigmentasi,
berkurangnya

keringat

dan

hilangnya

rambut

lebih

cepat

muncul.

Penebalan saraf tepi teraba pada tempat predileksi.


Tipe LL,jumlah lesi sangat banyak, nodul mencapai ukuran 2 cm,
simetris,permukaan halus, lebih eritematous, berkilap, berbatas tidak tegas
dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Ditemukan
juga lesi Dematofibroma-like multipel, batas tegas, nodul, eritem.
Distribusi lesi khas pada wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga.
Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif membentuk facies
leonine. Kerusakan saraf menyebabkan gejala stocking and glove anesthesia

.
Gambar 7. Lesi Kulit pada Lepromatous Leprosy
14

Deformitas pada kusta


Deformitas dapat dibagi dalam deformitas primer dan sekunder. Deformitas
primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi
terhadap M.Leprae, yang mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya, yaitu kulit,
mukosa traktus respiratorius atas, tulang-tulang jari, dan wajah.
Deformitas sekunder terjadi sebagai akibat perubahan saraf, umumnya
deformitas terjadi diakibatkan keduanya, tetapi terutama karena kerusakan saraf. 1
Gejala-gejala kerusakan pada saraf :
1. N.ulnaris
a. Anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis
b. Clawing kelingking dan jari manis
c. Atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot lumbrikalis medial

2. N. medianus
a. Anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
b. Tidak mampu abduksi ibu jari
c. Clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
d. Ibu jari kontraktur
e. Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
3. N. radialis
a. Anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk
b. Tangan gantung (wrist drop)
c. Tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan

15

d. N. poplitea lateralis
e. Anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis
f. Kaki gantung (foot drop)
g. Kelemahan otot peroneus
4. N. tibialis posterior
a.

Anestesia telapak kaki

b.

Claw toes

c.

Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis

5. N. fasialis
a. Cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus
b. Cabang bukal, mandibular, dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi
wajah dan kegagalan mengatupkan bibir
6. N. trigeminus
Anestesia kulit wajah, kornea, dan konjungtiva mata
Kerusakan mata pada kusta juga dapat terjadi secara primer dan
sekunder. Primer mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu mata, juga
dapat mendesak jaringan mata lainnya. Sekunder disebabkan oleh rusaknya N.
Fasialis yang dapat membuat paralisis N.Orbicularis palpebrarum sebagian
atau seluruhnya, mengakibatkan lagoftalmus yang selanjutnya menyebabkan
kerusakan bagian-bagian mata lainnya. Secara sendiri-sendiri atau bergabung
akhirnya dapat menyebabkan kebutaan. 1
Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas kelenjar
keringat, kelenjar palit, dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering
dan alopesia. Pada tipe lepromatosa dapat timbul ginekomastia akibat

16

gangguan keseimbangan hormonal dan oleh karena infiltrasi granuloma pada


tubulus semineferus testis. 1
Kusta histoid
Kusta histoid merupakan variasi lesi pada tipe lepromatous yang ditandai
dengan adanya nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk plak. Bakterioskopik
positif tinggi. Umumnya timbul sebagai kasus relapse sensitive atau relapse resisten.1
Relapse sensitive terjadi bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan
pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dapat terjadi karena kuman yang
dorman aktif kembali atau pengobatan yang diselesaikan tidak adekuat, baik dosis
maupun pemberiannya,disebut juga resisten sekunder. 1
Relaps resisten terjadi, bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan
pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan, tetapi tidak dapat diobati dengan
obat yang sama karena kuman telah resisten terhadap obat MDT, disebut juga resisten
primer. 1
Pemeriksaan saraf tepi 4
a. Nervus Cranialis perifer:
b. N. auricularis magnus
Pasien menoleh ke kanan/kiri semaksimal mungkin, maka saraf
yang terlibat akan terdorong oleh otot-otot di bawahnya sehingga dapat
terlihat pembesaran saraf. Dua jari pemeriksa diletakkan di atas
persilangan jalannya saraf dengan arah otot. Bila ada penebalan, maka
akan teraba jaringan seperti kabel atau kawat. Bandingkan kanan dan kiri
dalam hal besar, bentuk, serat, lunak, dan nyeri atau tidaknya.
c. N. ulnaris
Tangan yang diperiksa rileks, sedikit fleksi dan diletakkan di atas
satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa meraba sulcus nervi ulnaris dan
merasakan adanya penebalan atau tidak Bandingkan kanan dan kiri dalam
hal besar, bentuk, serat, lunak, dan nyeri atau tidaknya.
17

d. N. peroneus lateralis
Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah
lateral dari capitulum fibulae, dan merasakan ada penebalana atau tidak.
Bandingkan kanan dan kiri dalam hal besar, bentuk, serat, lunak, dan nyeri
atau tidaknya.
e. N. tibialis posterior
Meraba maleolus medialis kaki kanan dan kiri dengan kedua
tangan, meraba bagian posterior dan mengurutkan ke bawah ke arah tumit.
Bandingkan kanan dan kiri dalam hal besar, bentuk, serat, lunak, dan nyeri
atau tidaknya.
Pemeriksaan Fungsi Saraf 4
a. Tes sensorik
Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin.
- Rasa raba
Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya, disinggungkan ke
kulit pasien. Kapas disinggungkan ke kulit yang lesi dan yang
sehat, kemudian pasien disuruh menunjuk kulit yang disinggung
dengan mata terbuka. Jika hal ini telah dimengerti, tes kembali
-

dilakukan dengan mata pasien tertutup.


Rasa tajam
Menggunakan jarum yang disentuhkan ke kulit pasien. Setelah
disentuhkan bagian tajamnya, lalu disentuhkan bagian tumpulnya,
kemudia pasien diminta menentukan tajam atau tumpul. Tes

dilakukan seperti pemeriksaan rasa raba.


Suhu
Menggunakan dua buah tabung reaksi yang berisi air panas dan air
dingin. Tabung reaksi disentuhkan ke kulit yang lesi dan sehat

secara acak, dan pasien diminta menentukan panas atau dingin.


b. Tes Otonom
Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada
penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes
anhidrosis, yaitu :
1.
Tes keringat dengan tinta ( tes Gunawan)
18

2.
3.

Tes Pilokarpin
Tes Motoris (voluntary muscle test) pada n. ulnaris, n.medianus,
n.radialis, dan n. peroneus4

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaaan bakterioskopik
Digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan
obat. Sediaan dibuat dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa hidung
yang diwarnai dengan pewarnaan ZIEHL NEELSON. Bakterioskopik
negative pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak
mengandung basil M.Leprae. Pertama tama harus ditentukan lesi di kulit
yang diharapkan paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu menentukan
jumlah tepat yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk
rutin sebaiknya minimal 4 6 tempat yaitu kedua cuping telinga bagian
bawah dan 2 -4 lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan
paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa menghiraukan ada atau
tidaknya lesi di tempat tersebut karena pada cuping telinga biasanya didapati
banyak M. leprae1.
Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah
sediaan dinyatakan dengan indeks bakteri ( I.B) dengan nilai 0 sampai 6+
menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang (LP).
1 + Bila 1 10 BTA dalam 100 LP
2+ Bila 1 10 BTA dalam 10 LP
3+ Bila 1 10 BTA rata rata dalam 1 LP
4+ Bila 11 100 BTA rata rata dalam 1 LP
5+ Bila 101 1000BTA rata rata dalam 1 LP
6+ Bila> 1000 BTA rata rata dalam 1 LP
Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah
solid dan non solid. IM= Jumlah solidx 100 %/ Jumlah solid + Non solid

19

Syarat perhitungan IM adalah jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA, I.B
1+ tidak perlu dibuat IM karedna untuk mendapatkan 100 BTA harus mencari
dalam 1.000 sampai 10.000 lapangan, mulai I.B 3+ maksimum harus dicari
100 lapangan.
b. Pemeriksaan histopatologi,
Makrofag dalam jaringan yang berasal dari monosit di dalam darah
ada yang mempunyai nama khusus, dan yang dari kulit disebut histiosit.
Apabila SIS nya tinggu, makrofag akan mampu memfagosit M.Leprae.
Datangnya histiosit ke tempat kuman disebabkan karena proses imunologik
dengan adanya faktor kemotaktik. Kalau datangnya berlebihan dan tidak ada
lagi yang harus difagosit, makrofag akan berubah bentuk menjadi sel epiteloid
yang tidak dapat bergerak dan kemudian akan dapat berubah menjadi sel datia
Langhans.
Adanya massa epiteloid yang berlebihan dikelilingi oleh limfosit yang
disebut tuberkel akan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan dan cacat.
Pada penderita dengan SIS rendah atau lumpuh, histiosit tidak dapat
menghancurkan M.Leprae yang sudah ada didalamnya, bahkan dijadikan
tempat berkembang biak dan disebut sebagai sel Virchow atau sel lepra atau
sel busa dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan. 1
Gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel dan
kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non
solid. Tipe lepromatosa terdpat kelim sunyi subepidermal ( subepidermal
clear zone ) yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya
tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow dengan banyak basil. Pada tipe
borderline terdapat campuran unsur unsur tersebut.
c. Pemeriksaan serologik:

20

Didasarkan terbentuk antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi


oleh M.leprae. Antibodi yang terbentuk dapat bersifat spesifik terhadap
M.Leprae, yaitu antibodi anti phenolic glycolipid-1 (PGL-1) dan antibodi
antiprotein 16kD serta 35kD. Sedangkan antibodi yang tidak spesifik antara
lain antibodi anti-lipoarabinomanan (LAM), yang juga dihasilkan oleh kuman
M.tuberculosis.
Kegunaan pemeriksaan serologik ialah dapat membantu diagnosis
kusta yang meragukan, karena tanda klinis dan bakteriologik tidak
jelas.Pemeriksaan serologik adalah MLPA (Mycobacterium Leprae Particle
Aglutination), uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-Sorbent Assay) dan ML
dipstick (Mycobacterium Leprae dipstick). 1
4.Tes lepromin
adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra tapi tidak
untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk menunjukkan sistem imun penderita
terhadap M. leprae. 0,1 ml lepromin dipersiapkan dari ekstrak basil organisme,
disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca setelah 48 jam/ 2hari (reaksi
Fernandez) atau 3 4 minggu (reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif bila
terdapat indurasi dan eritema yang menunjukkan kalau penderita bereaksi
terhadap M. Leprae, yaitu respon imun tipe lambat ini seperti mantoux test (PPD)
pada tuberkolosis3.
Reaksi kusta
Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan
penyakit yang sebenarnya sangat kronik. 1. Penyakit kusta yang merupakan suatu
reaksi kekebalan (cellular response) atau reaksi antigen antibody (humoral
response). Reaksi ini dapat terjadi sebelum pengobatan, tetapi terutama terjadi
selama atau setelah pengobatan. Dari segi imunologis terdapat perbedaan prinsip
antara reaksi tipe 1 dan tipe 2, yaitu pada reaksi tipe 1 yang memegang peranan

21

adalah imunitas seluler (SIS), sedangkan pada reaksi tipe 2 yang memegang
peranan adalah imunitas humoral. 4
a. Reaksi tipe 1
Menurut

Jopling,

reaksi

kusta

tipe

merupakan

delayed

hypersensitivity reaction yang disebabkan oleh hipersensitivitas selular (reaksi


reversal upgrading) seperti halnya reaksi hipersensitivitas tipe IV. Antigen
yang berasal dari kuman yang telah mati (breaking down leprosy bacilli) akan
bereaksi dengan limfosit T disertai perubahan sistem imun selular yang cepat.
Jadi pada dasarnya reaksi tipe I terjadi akibat perubahan keseimbangan antara
imunitas dan basil. Dengan demikian, sebagai hasil reaksi tersebut dapat
terjadi upgrading/reversal. Pada kenyataannya reaksi tipe I ini diartikan
dengan reaksi reversal oleh karena paling sering dijumpai terutama pada
kasus-kasus yang mendapatkan pengobatan, sedangkan down grading reaction
lebih jarang dijumpai oleh karena berjalan lebih lambat dan umumnya
dijumpai pada kasus-kasus yang tidak mendapat pengobatan.
Meskipun secara teoritis reaksi tipe I ini dapat terjadi pada semua
bentuk kusta yang subpolar, tetapi pada bentuk BB jauh lebih sering terjadi
daripada bentuk yang lain sehingga disebut reaksi borderline.
Gejala klinis reaksi reversal ialah umumnya sebagian atau seluruh lesi
yang telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam waktu yang
relatif singkat. Artinya lesi hipopigmentasi menjadi eritema, lesi eritema
menjadi lebih eritematosa, lesi makula menjadi infiltrat, lesi infiltrat makin
infiltrat dan lesi lama menjadi bertambah lesi luas. Tidak perlu seluruh gejala
harus ada, satu saja sudah cukup 4.
b. Reaksi tipe II
Reaksi tipe II disebabkan oleh hipersensitivitas humoral , yaitu reaksi
hipersnsitivitas tipe III karena adanya reaksi kompleks antigen-antibodi yang
melibatkan komplemen. Terjadi lebih banyak pada tipe lepromatous juga
tampak pada BL. Reaksi tipe II sering disebut sebagai Erithema Nodosum
22

Leprosum (ENL) dengan gambaran lesi lebih eritematus, mengkilap, tampak


nodul atau plakat, ukuran bernacam-macam, pada umunnya kecil, terdistribusi
bilateral dan simetris, terutama di daerah tungkai bawah, wajah, lengan, dan
paha, serta dapat pula muncul di hampir seluruh bagian tubuh kecuali daerah
kepala yang berambut, aksila, lipatan paha, dan daerah perineum. Selain itu
didapatkan nyeri, pustulasi dan ulserasi, juga disertai gejala sistematik seperti
demam dan malaise. Perlu juga memperhatikan keterlibatan organ lain seperti
saraf, mata, ginjal, sendi, testis, dan limfe. 4

Tabel perbedaan reaksi kusta tipe 1 dan tipe 2 4


No. Gejala/tanda
1
Kondisi umum
2

Peradangan
kulit

Tipe I (reversal)
Baik atau demam ringan

Tipe II (ENL)
Buruk, disertai malaise

dan febris
di Bercak kulit lama menjadi Timbul nodul kemerahan,
lebih meradang (merah), lunak, dan nyeri tekan.
dapat timbul bercak baru

Biasanya pada lengan dan


tungkai.

Waktu terjadi

Awal pengobatan MDT

Tipe kusta
Saraf

PB atau MB
Sering terjadi
Umumnya berupa nyeri
tekan

Keterkaitan
organ lain

saraf

dan

gangguan fungsi saraf


Hampr tidak ada

dapat

pecah (ulserasi)
Setelah pengobatan yang
lama,

4
5

Nodul

umumnya

lebih

dari 6 bulan
MB
Dapat terjadi

atau
Terjadi pada mata, KGB,
sendi, ginjal, testis, dll
23

Faktor pencetus

Melahirkan
Obat-obat

yang

Emosi
Kelelahan

stress fisik lainnya


kehamilan

meningkatkan
kekebalan tubuh

dan

Tabel Perbedaan Reaksi Kusta Ringan dan Berat tipe 1 dan tipe 2 4
No Gejala/tanda
1.

Kulit

Tipe I
Ringan
Berat
Bercak : Bercak

Tipe II
Ringan
: Nodul

Berat
: Nodul

merah,

merah,

tebal,

tebal,

bertambah

panas,

panas,

sampai pecah

nyeri

nyeri yang

merah,

merah,panas,nyeri panas, nyeri yang


parah

bertambah
parah
sampai
2

Saraf tepi

Nyeri

pecah
Nyeri pada Nyeri

pada

perabaan

perbaan

(+)

Keadaan

(-)
Demam

umum
Keterlibatan

(-)
-

organ lain

pada Nyeri pada perabaan

perabaan (-)

(+)

Demam (+)

Demam (+)

Demam (+)

+
Terjadi peradangan
pada :
mata

24

iridocyclitis
testis

epididimoorchiti

s
ginjal : nefritis
kelenjar limpa :

limfadenitis
gangguan pada
tulang,

hidung,

dan tenggorokan
*bila ada reaksi pada lesi kulit yang dekat dengan saraf, dikategorikan
sebagai reaksi berat
Fenomena Lucio
Fenomena lucio merupakan reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi
pada kusta tipe lepromatosa non nodular difus. Gambaran klinis berupa plak
atau infiltrat difus, bewarna merah muda, bentuk tidak teratur dan terasa nyeri.
Lesi terutama di ekstremitas, kemudian meluas ke seluruh tubuh. Lesi yang
berat tampak lebih eritematous disertai purpura dan bula kemudian dengan
cepat terjadi nekrosis serta ulserasi yang nyeri. Lesi lambat menyembuh dan
akhirnya terbentuk jaringan parut.
Gambaran histopatologi menunjukkan nekrosis epidermal iskemik
dengan nekrosis pembuluh darah superfisial, edema, dan proliferasi
endhotelial pembuluh darah lebih dalam. Didapatkan banyak basil M.Leprae
di endotel kapiler. Walaupun tidak ditemukan infiltrat PMN seperti pada ENL
namun dengan imunofluoresensi tampak deposit imunoglobulin dan
komplemen di dalam dinding pembuluh darah. 1
G. DIAGNOSIS BANDING2
1. Anterior tibial sindrom
Sering terlihat pada Volkmanns ischemic contracture
Gejala:

25

Dimulai dengan nyeri lokal dan tenderness pada muskulus tibialis


anterior secara mendadak
Daerah pre tibial tampak tegang dan erythematous tetapi tungkai terasa
dingin
Paralise otot-otot bagian anterior berkembang dengan cepat, terutama
M.Tibialis anterior
Muskulus extensor digitorum brevis menjadi lemah
Gangguan sensoris terbatas pada daerah N.peroneal profunda
Mekanisme:
Edema lokal otot sebagai reaksi dari trauma lokal dan secara sekunder
meningkatkan tekanan pada compartement dan oklusi pembuluh darah
lokal
Akut oklusi oleh emboli/thrombus A.Tibialis anterior atau induk
percabangannya yang menimbulkan iskhemik nekrosis sesuai dengan
distribusinya
2. Penyakit Oklusi arteriosklerotik
Disebut juga iskhemik neuritis
Gejala:
Klaudikasio
Rest pain, gejala nyeri pada extrimitas bawah berhubungan dengan
gangguan pembuluh darah tepi. Rasa nyeri bersifat difus seperti rasa
panas, terbakar, geli dan tertusuk, gejala ini terutama waktu malam hari.
Gangguan motoris
Gangguan reflek
Atropi otot
3. Diabetes
Biasanya pada usia pertengahan dan tua

26

Kelemahan danatropi otot-otot proksimal extrimitas bawah yang


asimetris
Sering disertai nyeri pada otot-otot paha. Nyeri terasa paling berat pada
malam hari
Reflek patella menurun/hilang
Gangguan sensoris sering tidak begitu menyolok
Terutama mengenai otot-otot iliopsoas, quadrisep dan adduktor. Bila
kelompok otot anterolateral pada tungkai bawah terkena bersamaan
menimbulkan anterior compartement syndrome
Elektromiografi Yang terpenting yaitu adanya perubahan amplitudo,
adanya blok konduksi dan kegagalan konduksi saraf, menurunnya
kecepatan hantaran saraf, meningkatnya distal latency, memperlihatkan
tanda-tanda denervasi
Beberapa hal penting dalam menentukan diagnosis banding lepra:
1.
Ada Makula hipopigmentasi
2.
Ada daerah anestesi
3.
Pemeriksaan bakteriologi memperlihatkan basil tahan asam
4.
Ada pembengkakan/pengerasan saraf tepi atau cabangcabangnya.
1.

Tipe I (makula hipopigmentasi) : tinea versikolor, vitiligo, pitiriasis

2.

rosea, atau dermatitis seboroika atau dengan liken simpleks kronik.


Tipe TT (makula eritematosa dengan pinggir meninggi) : tinea

3.

korporis, psoriasis,lupus eritematosus tipe diskoid atau pitiriasis rosea


Tipe BT,BB,BL (infiltrat merah tak berbatas tegas) : selulitis,

4.

erysipelas atau psoriasis.


Tipe LL (bentuk nodula): lupus eritematous sistemik, dermatomiositis,
atau erupsi obat

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama dari pengobatan yaitu untuk memutuskan mata rantai
penularan untuk menurunkan insiden terjadinya penyakit, mengobati dan
menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, dan untuk mencapai

27

tujuan tersebut, strategi pokok yang dilakukan didasarkan atas deteksi dini dan
pengobatan penderita4
Program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin,
klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. Program ini bertujuan untuk
mengatasi

resistensi

dapson

yang

semakin

meningkat,

mengurangi

ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan untuk mengeliminasi


persistensi kuman kusta dalam jaringan. 4
Obat antikusta yang paling banyak dipakai pada saat ini adalah DDS
(Diaminodifenil sulfon) kemudoan klofazimin dan rifampicin. Pada tahun
1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotic lain untuk pengobatan alternative
yaitu ofloksasin, minosiklin, dan klaritomisin. Sejak tahun 1951 pengobatan
tuberculosis dengan obat kombinasi ditujukan untuk mencegah kemungkinan
resistensi obaat sedangkan MDT untuk kusta baru dimulai tahun 1971.
Pengobatan kusta selama kehamilan dan menyusui
Kusta diperburuk selama kehamilan, sehingga sangat penting bahwa terapi
multidrug standar dilanjutkan selama kehamilan. Program Aksi untuk Penghapusan
Kusta, WHO, Jenewa telah menyatakan bahwa rejimen MDT standar dianggap aman,
baik untuk ibu dan anak, dan karena itu, harus dilanjutkan berubah selama kehamilan.
Sebuah jumlah kecil obat anti-lepra diekskresikan melalui ASI, tetapi tidak ada
laporan efek samping sebagai akibat dari ini kecuali untuk perubahan warna kulit
ringan dari bayi karena klofazimin. Perlakuan dosis tunggal untuk pasien kusta lesi
tunggal paucibasiler harus ditunda sampai setelah melahirkan. 6
Hormonal

dan

imunologi

perubahan

dalam

penumpasan

kehamilan

menyebabkan sel-dimediasi kekebalan dan memburuknya gejala. Bayi yang lahir dari
ibu dengan berat lahir rendah memiliki kusta dan peningkatan risiko terserang
penyakit itu. WHO merekomendasikan MDT karena itu dilanjutkan selama
kehamilan .Namun, obat yang digunakan dalam pengobatan kusta tidak tanpa risiko
dan pengobatan harus di bawah pengawasan spesialis5
28

Rifampisin mengurangi efektivitas kontrasepsi hormonal, saran kontrasepsi


sehingga alternatif harus ditawarkan. Dosis tinggi dari rifampisin mungkin
teratogenik dan tidak dianjurkan untuk digunakan selama trimester pertama. Dapson
dapat menyebabkan hemolisis neonatal dan methaemoglobinamea. Jika perlu harus
diresepkan untuk wanita hamil dalam kombinasi dengan asam folat. Klofazimin dapat
menyebabkan perubahan warna pada kulit bayi yang disusui. Penggunaan
thalidomide tetap ketat kontra-ditunjukkan pada wanita usia subur. 5
DDS:
Ada dua jenis relaps pada kusta yaitu relaps sensitive (persisten) dan relaps
resisten. Pada relaps persisten secara klinis, bakterioskopik, histopatologik dapat
dinyatakan penyakit tiba-tiba aktif kembali dengan timbulnya lesi baru dan
bakterioskopik positif kembali. Tetapi setelah dibuktikan dengan pengobatan dan
inokulasi pada mencit, ternyata M.Leprae yang semula dorman, sleeping, atau
persisten bangun dan aktif kembali. Pada pengobatan sebelumnya, basil dorman sukar
dihancurkan dengan obat atau MDT apapun.
Pada relaps resisten secara klinis, bakterioskopik, histopatologik yang khas
dapat dibuktikan dengan percobaan dan inokulasi pada mencit, bahwa M.Leprae
resisten terhadap DDS. Resisten hanya terjadi pada kusta multibasilar tetapi tidak
pada pausibasilar, oleh karena SIS penderita PB tinggi dan pengobatannya relative
singkat.
Pengertian MDT pada saat ini adalah DDS sebagai obat dasar ditambah
dengan obat-obat lain. Dosis DDS ialah 1-2 mg/kg BB setiap hari. Efek sampingnya
antara lain nyeri kepala, erupsi obat, anemia hemolitik, leucopenia, insomnia,
neuropati

perifer,

sindrom

DDS,

nekrosis

epidermal

toksik,

hepatitis,

hipoalbuminemia, dan methemoglobinemia. 1


Rifampicin:
Kombinasi DDS dengan dosis 10mg/kg BB, diberikan setiap hari atau setiap
bulan. Rifampicin tidak bileg diberikan sebagai monoterapi karena dapat
memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi. Efek Samping yang harus di
29

perhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu-like syndrome


dan erupsi kulit. 1
Klofazimin (lamprene) :
Dosis sebagai antikusta ialah 50mg setiap hari, atau 100 mg selang sehari atau
3x100mg setiap minggu. Juga bersifat sebagai antiinflamasi sehingga dapat dipakai
pada penanggulangan E.N.L dengan dosis lebih tinggi yaitu 200-300 mg/hari namun
awitan kerja baru timbul setelah 2-3 minggu.
Efek sampingnya adalah warna kecokelatan pada kulit dan warna kekuningan
pada sclera sehingga mirip ikterus. Hal tersebut disebabkan oleh klofazimin yang
merupakan zat warna dan dideposit terutama pada sel system retikuloendotelial,
mukosa, dan kulit. Obat ini menyebabkan pigmentasi kulit yang sering merupakan
masalah dalam ketaatan berobat penderita. Efek samping hanya terjadi dalam dosis
tinggi, berupa gangguan gastrointestinal yakni nyeri abdomen, nausea, diare,
anoreksia, dan vomitus. Selain itu dapat terjadi penurunan berat badan.Perubahan
warna tersebut akan mulai menghilang setelah 3 bulan obat diberikan. 1
Ofloksasin:
Merupakan turunan flurokuinolon yang paling aktif terhadap Mycobacterium
leprae in vitro. Dosis optimal harian adalah 400 mg. Dosis tunggal yang diberikan
dalam 22 dosis akan membunuh kuman Mycobacterium Leprae hidup sebesar
99,99%.
Efek sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan saluran cerna lainnya.,
berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk insomnia, nyeri kepala, dizziness,
nervousness dan halusinasi. Walaupun demikian hal ini jarang ditemukkan dan
biasanya tidak membutuhkan penghentian pemakaian obat.
Penggunaan pada anak, remaja, wanita hamil dan menyusui harus hati-hati,
karena pada hewan muda kuinolon menyebabkan artropati. Selain ofloksasin dapat
pula digunakan levofloksasin dengan dosis 500 mg sehari. Obat tersebut lebih baru,
jadi lebih efektif. 1
Minosiklin:
30

Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidalnya lebih tinggi


daripada klaritromisin, tetapi lebih rendah daripada rifampicin. Dosis standar harian
100 mg. Efek sampingna adalah pewarnaan gigi bayi dan anak-anak, kadang-kadang
menyebabkan hiperpigmentasi kulit dan membran mukosa, berbagai simptom saluran
cerna dan susunan saraf pusat, termasuk dizzines dan unsteadiness. Oleh sebab itu
tidak di anjurkan untuk anak-anak atau selama kehamilan1
Klaritromisin:
Merupakan kelompok antibiotik makrolid dan mempunyai

aktivitas

bakterisidal terhadap Mycobacterium leprae pada tikus dan manusia. Pada penderita
kusta lepromatosa, dosis harian 500 mg dapat membunuh 99 % kuman hidup dalam
28 hari dan lebih dari 99,9% dalam 56 hari. Efek sampingnya adalah nausea, vomitus
dan diare yang terbukti sering di temukan bila obat ini diberikan dengan dosis 2000
mg. 1
Penghentian pemberian obat lazim disebut Release From Treatment (RFT).
Setelah RFT dilanjutkan dengan tindak lanjut tanpa pengobatan secara klinis dengan
tindak lanjut tanpa pengobatan secara klinis dan bakterioskopis minimal setiap tahun
selama minimal 5 tahun. Kalau bakterioskopis tetap negative dan klinis tidak ada
keaktivan baru, maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut Release From
Control (RFC). 1
MDT untuk pausibasilar ( I, TT, BT ) adalah rifampicin 600 mg setiap bulan
dan DDS 100 mg setiap hari. Keduanya diberikan selama 6 bulan sampai 9 bulan.
Selama pengobatam, pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan bakterioskopis
setelah 6 bulan pada akhir pengobatan. Pemeriksaan dilakukan minimal setiap tahun
selama 2 tahun secara klinis dan bakterioskopis. Kalau tidak ada keaktivan baru
secara klinis dan bakterioskopis tetap negative, maka dinyatakn RFC. 1
WHO pada tahun 1998 telah memperpendek masa pengobatan untuk kasus
Multibasilar menjadi 12 dosis dalam 12-18 bulan, sedangkan pengobatan untuk kasus
Pausibasilar dengan lesi kulit 2-5 buah tetap 6 dosis dalam 6-9 bulan. 1

31

Penderita multibasilar yang resisten dengan rifampisin biasanya akan resisten


pula dengan DDS sehingga hanya bisa mendapat klofazimin. Dalam hal ini rejimen
pengobatan menjadi klofazimin 50 mg, ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg
setiap hari selama 6 bulan, dilanjutkan klofazimin 50 mg ditambah ofloksasin 400 mg
atau minosiklin 100 mg setiap hari selama 8 bulan. 1
Bagi penderita MB yang menolak klofazimin dapat di berikan ofloksasin 400
mg/hari atau minosiklin 100 mg/hari selama 12 bulan. Alternatif lain ialah diberikan
rifampicin 600 mg ditambah dengan ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg dosis
tunggal setiap bulan selama 24 bulan. 1
WHO Recommended treatment regimens 6
6 month regimen for Paucibasiler (PB) Leprosy
*

Menyesuaikan dosis tepat untuk anak kurang dari 10 tahun. Misalnya, dapson 25 mg

setiap hari dan rifampisin 300 mg diberikan sebulan sekali di bawah pengawasan

Dewasa

Dapson
100 mg

Rifampisin
600 mg

50-70 kg

Setiap hari

Sebulan sekali di bawah

Anak

50 mg

pengawasan
450 mg

10-14 tahun *

Setiap hari

Sebulan sekali di bawah


pengawasan

12 month regimen for Multibasiler (MB) Leprosy


Dewasa

Dapsone
100 mg

Rifampisin
600 mg

Clofazimin
50 mg
DAN 300 mg

50-70 kg

Setiap Hari

Sebulan sekali Setiap

Sebulan

sekali
32

di

bawah hari

di

bawah

Anak

50 mg

pengawasan
450 mg

10-14 tahun *

Setiap hari

Sebulan sekali Setiap

Sebulan

sekali

di

di

bawah

50 mg

bawah hari

pengawasan

pengawasan
DAN 150 mg

pengawasan

Menyesuaikan dosis tepat untuk anak kurang dari 10 tahun. Misalnya, dapson 25 mg

sehari, rifampisin 300 mg diberikan sebulan sekali di bawah pengawasan, klofazimin,


50 mg diberikan dua kali seminggu, dan klofazimin 100 mg diberikan sebulan sekali
di bawah pengawasan
Single Lesion Paucibasiler (SLPB) Leprosy (one time dose of 3 medications
taken together)

Dewasa

Rifampisin
600 mg

Ofloxasin
400 mg

Minosiklin
100 mg

50-70 kg
Anak

300 mg

200 mg

50 mg

5- 14 tahun *
*
Tidak dianjurkan untuk wanita hamil atau anak-anak kurang dari 5 tahun
Tipe PB4
Pengobatan MDT untuk kusta tipe PB dilakukan dalam 6 dosis minimal yang
diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah minum 6 dosis maka dinyatakan RFT
(released from treatment)
Anak
Hari

diawasi Rifampisin

petugas
Hari 2-28 : di rumah

Dewasa
2caps Rifampisin

2caps

(300mg+150mg) + DDS (2x300mg) + DDS 1 tab


1 tab (50mg)

(100mg)

DDS 1 tab (50mg)

DDS 1 tab (100mg)


33

*Anak di bawah 10 tahun diberi dosis 1-2mg/kgBB


Tipe MB4
Mengobatan MDT untuk kusta tipe MB dilakukan dalam 24 dosis yang
diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Setelah selesai minum 24 dosis maka
dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri
positif.
Anak
Hari 1 : diawasi petugas

Dewasa

Rifampisin
(300mg+150mg)
Klofazimin

2caps Rifampisin

2caps

+ (2x300mg)

3caps klofazimin

3caps

(3x50mg) + DDS 1 tab (3x100) + DDS 1 tab


(50mg)
Hari 2-28 : di rumah

Klofazimin

(100mg)
1

tab Klofasimin

1cap

(50mg) + DDS 1 tab (100mg) + DDS 1 tab


(50mg)

(100mg)

* anak di bawah 10 tahun diberi dosis 1-2mg/kgBB

34

Pengobatan Reaksi Kusta:


Pengobatan E.N.L :
Obat yang paling sering dipakai adalah tablet kortikosteroid antara lain
prednison. Dosisnya tergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya prednison 1530 mg sehari, kadang-kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi dosisnya,
tetapi sebaliknya bila reaksinya terlalu ringan tidak perlu diberikan. Sesuai dengan
perbaikan reaksi, dosisnya diturunkan secara bertahap sampai berhenti sama sekali
Ada lagi obat yang dianggap sebagai obat pilihan pertama yaitu thalidomide,
tetapi harus berhati-hati karena mempunyai efek teratogenik. Jadi tidak boleh
diberikan kepada orang hamil atau masa subur. Jika hal ini tidak mungkin, adalah
penting bahwa kehamilan dikeluarkan sebelum perawatan ini dimulai. Kontrasepsi
yang efektif harus digunakan selama 4 minggu sebelum dan setelah pengobatan serta
selama masa pengobatan. Haruskah kehamilan terjadi meskipun tindakan pencegahan
ini, ada risiko tinggi kelainan berat janin. 1
Klofazimin kecuali sebagai obat antikusta dapat juga dipakai sebagai antireaksi E.N.L, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi. Khasiatnya lebih lambat dari
kortikosteroid. Keuntungan lain klofazimin dapat dipakai sebagai usaha untuk lepas
dari ketergantungan kortikosteroid. 1
Pengobatan reaksi reversal:
Perlu diperhatikan, apakah reaksi ini disertai neuritis atau tidak. Sebab kalau
tanpa neuritis akut tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Kalau ada neuritis akut,
obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya juga disesuaikan dengan
berat ringannya neuritis, makin berat makin tinggi dosisnya. Biasanya diberikan
prednison 40-60 mg sehari, kemudian diturunkan perlahan-lahan. Pengobatan harus
secepat-cepatnya dan dengan dosis yang adekuat untuk mengurangi terjadinya
kerusakan saraf secara mendadak. 1

35

Anggoata gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan. Analgetik dan
sedativa kalau diperlukan dapat diberikan. Klofazimin dan thalidomid untuk reaksi
reversal kurang efektif, oleh karena itu jarang dipakai. 1
Pencegahan Cacat:
Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf, hilangnya sensibilitas dan
berkurangnya kekuatan otot. Cara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat adalah
dengan melaksanakan diagnosis dini kusta, pemberian pengobatan MDT yang cepat
dan tepat. Selanjutnya dengan mengenali gejala dan tanda reaksi kusta yang disertai
gangguan saraf serta memulai pengobatan dengan kortikosteroid sesegera mungkin. 1
Perlu diperhatikan apakah reaksi ini disertai neuritis atau tidak. Sebab kalau
tanpa neuritis akut tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Kalau ada neuritis akut,
obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya disesuaikan dengan berat
ringannya neuritis, makin berat makin tinggi dosisnya. Biasanya diberikan
prednisolon 40 mg sehari, kemudian diturunkan perlahan-lahan. Pengobatan harus
secepat-cepatnya dan dengan dosis yang adekuat untuk mengurangi terjadinya
kerusakan saraf secara mendadak. Jarang terjadi ketergantungan terhadap
kortikosteroid. Anggota gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan.
Analgetik dan sedativ kalau diperlukan dapat diberikan. Klofazimin untuk reaksi
reversal kurang efektif, oleh karena itu tidak pernah dipakai, begitu juga talidomid
tidak efektif untuk reaksi reversal.
Pengobatan reaksi kusta yang dianjurkan Sub Direktorat Kusta Direktorat
Jendral Pengedalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Departemen
Kesehatan Indonesia dapat dilihat skema di bawah ini.
Tabel 5. Pemberian Prednisolon
Minggu pemberian
Minggu 1 2

Dosis harian yang dianjurkan


40 mg
36

Minggu 3 4
Minggu 5 6
Minggu 7 8
Minggu 9 10
Minggu 11 12

30 mg
20 mg
15 mg
10 mg
5 mg

a. Pemberian lampren
ENL yang berat dan bekepanjangan dan terdapat ketergantungan pada
steroid (pemberian prednisolon tidak dapat diturunkan sampai 0), perlu
ditambahakn klofazimin untuk dewasa 300 mg/ hari selama 2-3 bulan. Bila ada
perbaikan diturunkan menjadi 200 mg/hari selama 2-3 bulan. Jika ada perbaikan
diturunkan menjadi 100mg/hari selama 2-3 bulan dan selanjutnya kembali ke dosis
klofazimin semula, 50 mg/hari, kalau penderita masih dalam pengobatan MDT,
atau dihentikan bila penderita sudah dinyatakan RFT. Pada saat yang sama, dosis
prednisolon diturunkan secara bertahap.
b. Pencegahan Cacat
Cara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat atau prevention of
disabilities (POD) adalah dengan melaksanakan diagnosis dini kusta, pemberian
pengobatan MDT yang cepat dan tepat. Selanjutnya dengan mengenali gejala dan
tanda reaksi kusta yang disertai gangguan saraf serta memulai pengobatan dengan
kortikosteroid sesegera mungkin. Bila terdapat gangguan sensibilitas, penderita
diberi petunjuk sederhana misalnya memakai sepatu untuk melindungi kaki yang
telah terkena, memakai sarung tangan billa bekerja dengan benda yang tajam atau
panas, dan memakai kacamata untuk melindungi matanya. Selain itu diajarkan
pula cara perawatan kulit sehari-hari. Hal ini dimulai dengan memeriksa seharihari. Hal ini dimulai dengan memeriksa ada tidaknya memar, luka , atau ulkus.
Setelah itu tangan dan kaki direndam, disikat dan diminyakyi agar tidak kering dan
pecah.

37

WHO Expert Committee on Leprosy membuat klasifikasi cacat pada tangan,


kaki dan mata bagi penderita kusta. Pada pertemuan yang ketujuh (1977) dibuat
amandemen khusus untuk mata, hal ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini.1

Tingkat 0
Tingkat 1
Tingkat 2
Tingkat 0

Cacat pada tangan dan kaki


Tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada
kerusakan atau deformitas yang terlihat
Ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan
atau deformitas yang terlihat
Terdapat kerusakan atau deformitas
Cacat pada mata
Tidak ada kelainan/kerusakan pada mata

Tingkat 1

(termasuk visus)
Ada kelainan/kerusakan pada mata, tetapi

Tingkat 2

tidak terlihat, visus sedikit berkurang


Ada kelainan mata yang terlihat (misalnya
lagoftalmus, iritis, kekeruhan kornea) dan
atau visus sangat terganggu.

c. Rehabilitasi
Usaha rehabilitasi medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh ialah antara
lain dengan jalan operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna
kembali ke asal, tetapi fungsinya dan secara kosmetik dapat diperbaiki. Cara lain
ialah dengan cara kekaryaan yaitu dengan memberi lapangan pekerjaan yang
sesuai untuk cacat tubuhnya, sehingga dapat berprestasi dan dapat meningkatkan
rasa percaya diri selain itu dapat dilakukan terapi psikologik.
I. KOMPLIKASI 4

38

Gangguan saraf tepi


.

Tangan/kaki
kurang rasa

luka

sensorik

motorik

anestesi

kelemahan

Kornea mata
anestesi, reflek
kedip

infeksi

mutilasi

Tangan/kaki
lemah atau
lumpuh

Jari
bengkok/kaku

otonom

Gangguan kel. Keringat,


minak, aliran darah

Mata lagoftalmus

Kulit kering/pecah

infeksi

luka

kebutaan

infeksi

kebutaan
luka

mutilasi

J. PROGNOSIS
Dengan adanya obat-obat kombinasi, pengobatan menjadi lebih
sederhana dan lebih singkat, serta prognosis menjadi lebih baik. Jika sudah
ada kontraktur dan ulkus kronik, prognosis kurang baik. 4

39

BAB III
KESIMPULAN
Kusta merupakan penyakit yang di sebabkan oleh kuman Mycobacterium
leprae.

Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus

respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat.
Klasifikasi bentuk penyakit kusta yang banyak dipakai dalam bidang
penelitian adalah klasifikasi menurut Ridley dan Jopling yang mengelompokkan
penyakit kusta menjadi 5 kelompok berdasarkan gambaran klinis, bakteriologis,
histopatologis, dan imunologis, yaitu tipe tuberculoid (TT), tipe borderline
tuberculoid(BT), tipe mid borderline (BB), tipe borderline lepromatosa (BL) , dan
tipe lepromatosa (LL).
Program MDT dimulai pada tahun 1981,yaitu ketika kelompok studi
kemoterapi WHO secara resmi mengeluarkan rekomendasi pengobatan kusta dengan
rejimen kombinasi yang selanjutnya dikenal sebagai rejimen MDT-WHO. Rejimen
ini terdiri atas kombinasi obat-obat DDS, Rifampisin, dan Klofazimin. Kusta
diperburuk selama kehamilan, sehingga sangat penting bahwa terapi multidrug
standar dilanjutkan selama kehamilan. Program Aksi untuk Penghapusan Kusta,
WHO, Jenewa telah menyatakan bahwa rejimen MDT standar dianggap aman, baik
untuk ibu dan anak, dan karena itu, harus dilanjutkan berubah selama kehamilan.
Sebuah jumlah kecil obat anti-lepra diekskresikan melalui ASI, tetapi tidak ada
laporan efek samping sebagai akibat dari ini kecuali untuk perubahan warna kulit
ringan dari bayi karena klofazimin. Pemakaian Thalidomide pada pengobatan E.N.L

40

harus dihindari karena mempunyai efek teratogenik. Perlakuan dosis tunggal untuk
pasien kusta lesi tunggal paucibasiler harus ditunda sampai setelah melahirkan.

41

DAFTAR PUSTAKA
1. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe Dili, Sri Linuwih Menaldi.
Kusta., 2010. Dalam : Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi Kelima Cetakan Kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI;73-88
2. Siregar., 2003. Saripati Penyakit Kulit, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC: 124-126
3. Lewis. S.Leprosy., 2010. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/1104977-overview#showall
4. Bonarz., 2011. Kusta dalam http://id.scribd.com/doc/52132089/referat-MHindah diunduh tanggal 4 Februari 2011
5. Willacy Hayley., 2010. Available at :
http://www.patient.co.uk/doctor/Leprosy.htm
6. WHO.1998 Model Prescribing Information: Drugs Used in Leprosy. Available
at: http://apps.who.int/medicinedocs/en/d/Jh2988e/1.html

42

Anda mungkin juga menyukai