Anda di halaman 1dari 18

PSIKOTERAPI DALAM KEPERAWATAN

ekarudypurwana@yahoo.co.id

Dewasa ini, gangguan jiwa merupakan masalah yang harus diperhatikan secara
penuh,pederitanya sudah menjadi sebagian besar dari masyarakat atau penduduk
Negara ini. Psikiatri merupakan cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari aspek
kesehatan jiwa serta hubungan timbale baliknya terhadap fungsi-fungsi fisiologis pada
tubuh manusia.Karenanya dirasa amat penting untuk mempelajari segala macam
gangguan psikologis dan abnormal pada perilaku setiap individu,oleh karena itu
bahasan mengenai terapi juga harus dipelajari sedalam dalamnya untuk intervensi
selanjutnya pada setiap penderitasegala macam gangguan tersebut.
Melalui psikiatri,kita dapat mempelajari banyak terapi dan klasifikasinya, bukan
rahasia umum bahwa semakin banyak kasus-kasus jiwa yang terjadi pada manusia ,
gangguan-gangguan yang banyak sekali ragamnya. Dari ragamnya gangguangangguan tersebut, tentunya di perlukan cara penanganan atau terapi yang berbeda.
Pada pembahasan nanti kita akan membahas macam dan klasifikasi terapi pada
psikiatri dan mengulas gangguan-gangguan yang terjadi serta penanganan atau terapi
yang tepat dan sesuai untuk pengobatannya bertujuan agar mempercepat proses
penyembuhannya.

A. Suasana Terapi
Dasar semua pengobatan adalah suasana terapi yang diciptakan oleh dokter ,
perawat bersama pasiennya. dan yang memegang peranan penting dalam hal ini

Prikoterapikep.erp.2015

Page 1

adalah hubungan antara pasien dan perawat. selama pasien masih tetap merupakan
manusia yang holistic, masih berperasaan, masih bisa merasakan emosi, mempunyai
cinta-kasih, ia harus dihadapi pula oleh seorang manusia yang lain, yaitu seorang
perawat yang mempunyai emosi juga. hubungan ini sangat berbeda sekai antara mesin
dan ahli tehnik,atau robot dengan komputer. Dalam suasana terapi ini, faktor sugesti
dan persuasi, serta keyakinan dan kepercayaan pada sang perawat sampai sekarang
masih merupakan faktor yang penting yang bersifat empatik tanpa perasaan
sentimental atau simpati yang berlebihan.
Penderitaan dapat menimbulkan perilaku yang sifatnya dipengaruhi oleh berbagai
faktor , yang penting ialah:
a.

Asal genetic orang tersebut;

b. Persepsi masa kecil tentang penderitaan;


c.

Pengalaman tentang rasa sakit dan nyeri;

d. Keadaan hidup sekarang;


e.

Keinginan dan harapannya untuk masa depan;


Dengan memerhatikan faktor-faktor diatas, terapis akan lebih menilai hakiki
perilaku pasiennya,

sehingga pendekatannya terhadap pasien itu akan lebih

membantu suasana terapi.

B. Terapi Dalam Psikiatri


Pengobatan dalam psikiatri pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga golongan
besar,yaitu:

Prikoterapikep.erp.2015

Page 2

a. Somatoterapi
Sasaran utama pengobatan ini adalah tubuh manusia dengan harapan bahwa
pasien itu akan sembuh karena reaksinya secara holistik. Somatoterpi secara umum
dapat dibagi menjadi : farmakologi, pembadahan dan fisioterapi. Selanjutnya yang
dipakai dalam bidang ilmu kedoteran jiwa, yaitu:

1. Electro Convulsive Therapy (ECT)


ECT merupakan bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kenjang dengan cara
mengalirkan arus listrik melalui electrode yang ditempelkan pada pelipis klien untuk
memberikan rangsangan elektrik secara eksternal untuk terapi gangguan jiwa
tertentu.ECT

membangkitkan

efek

pada

hipotalamus

didaerah

limbic

yang

mengakibatkan mood pasien.


Alat dalam penggunaan ECT berupa elektrokonvulsator. Pada terapi umumnya
penggunaan alat tersebut berkisar 100-150 volt selama 2-3 detik terjadi konvulsi. Bila
tidak terjadi maka langsung diulang dengan voltase yang sama atau lebih tinggi dan
dapat diulang sampai tiga kali.
Indikasi dalam penggunaan ECT adalah untuk depresi yang resistant dengan obat,
kecenderungan bunuh diri, menolak makan dan minum, kehamilan, skizofrenia
katakonik, skizofrenia bentuk akut, paranoid, Efek samping dalam penggunaan terapi
ECT adalah robekan otot, sakit kepala, demensia, delirium, amnesia retrograde, dll.

2.

Terapi Kejutan Insulin (Insulin Shock Therapy).

Pada tahun 1933, M.J Sakel dia menggunakan insulin dalam merawat orang yang
kecanduan morfin. Keadaan koma yang terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja

Prikoterapikep.erp.2015

Page 3

yang timbulkan oleh insulin ternyata berpengaruh baik pada kepribadian. Terapi ini
menjadi salah satu bentuk somatoterapi yang sangat penting untuk skizofrenia. Dalam
terapi ini psikiater memberikan pasien dosis insulin yang setiap harinya semakin
bertambah sampai pada kadar dosis tertentu yang diperlukan untuk menimbulkan
keadaan kejutan. Psikiater berpendapat bahwa peran utama dari bentuk-bentuk
somatoterapi, misalnya kejutan insulin dan obat-obat penenang adalah untuk membuat
pasien lebih mudah diberi psikoterapi.

3. Pengobatan psikotropik (Terapi Farmakologi)


Sesudah menciptakan suasana terapi, maka dalam suasana inilah dokter itu melakukan
sesuatu yang menurut si sakit dapat menolongnya. Bila diberi obat, maka pengaruh
obat tidak terlepas pula dari suasana terapi itu, sehingga efek placebo dapat setinggi
30%-50%, bukan saja obat psikotoropik, tetapi juga dari umpamanya obat
antihipertensi,anti-diabetes,anti-kholesterol . obat dapat juga dipergunakan sebagai alat
untuk memelihara hubungan pasien-dokter , sebagai jembatan dalam hubungan pasien
dan dokter supaya tidak terputus . kita melihat bahwa farmakoterapi atau terapi dengan
pemberian obat merupakan hanya salah satu cara terapi di antara banyak cara lain.
Penggunaan obat psikotropik ataupun psikofarmakoterapi merupakan bidang yang lebih
kecil lagi dari lapangan pengobatan yang begitu luas .adapun dalam psikiatri yang
mempelajari serta memakai obat psikotropik dinamakan farmakopsikiatri.
Obat psikotropik adalah obat yang mempunyai efek terapetik pada proses mental
pasien karena efeknya pada otak . akan tetapi kita harus ingat bahwa gangguan mental
itu disebabkan oleh suatu masalah psikologik ataupun social , maka tidak ada satupun

Prikoterapikep.erp.2015

Page 4

obat yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut , kecuali diri sendiri dan dokter serta
obat hanya sebagai fasilitator yang membantu kea rah penyelesaian atau kea rah
penyesuaian diri yang lebih baik .
Pembagian obat psikotropik.
1. Tranquilazer, mempunyai efek anti-cemas,anti-tegang dan anti-agitasi
2. Neroleptika, mempunyai efek antipsikosa dan antiskizofrenia,serta juga efek anticemas, anti-tegang.
3. Antidepresant, mempunyai efek antidepresi dan anti-cemas dan tegang serta efek
aktivasi dan efek menghilangkan hambatan.
4. Psikotomimetika,

dapat

menimbulkan

gejala-gejala

psikosa,

tetapi

reversible,umpamanya meskalin dan LSD (tidak akan dibicarakan disini karena


tidak dipakai buat pengobatan, tetapi dipakai untuk penelitian gejala-gejala
psikosa).

b. Terapi Psiko-edukatif

1) Psikoterapi (Terapi Psikologi)


Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran atau dapat dikatakan
sebagai pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah
ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam
mengatasi gangguan emosionalnya, dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan
emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam
mengatasi masalah psikisnya.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 5

Psikoterapi juga merupakan suatu interaksi sistematis antara klien dan terapis yang
menggunakan prinsip-psinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan
dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan klien supaya membantu klien mengatasi
tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau
berkembang sebagai seorang individu. Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip
penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik. Psikoterapi
biasanya digunakan dalam terapi psikiatri pada orang-orang yang mengalami masalahmasalah tingkah laku yang abnormal, seperti gangguan suasana hati, gangguan
penyesuaian diri, gangguan kecemasan atau skizofrenia. Untuk beberapa gangguan ini,
terutama gangguan bipolar dan skizofrenia, terapi biologis umumnya memegang
peranan utama dalam perawatan. Meskipun demikian, selain perawatan biologis,
psikoterapi membantu pasien belajar tentang dirinya sendiri dan memperoleh
keterampilan-keterampilan yang akan memudahkannya menanggulangi tantangan
hidup dengan lebih baik.

2) Behavioral Therapy (Terapi Perilaku)


Suatu terapi yang berfokus untuk memodifikasi atau mengubah perilaku. Seperangkat
perilaku atau respon yang dilakukan dalam suatu lingkungan dan menghasilkan
konsekuensi-konsekuensi tertentu. Terapi perilaku berusaha menghilangkan masalah
perilaku

khusus

pasien. Operan

secepat-cepatnya
conditioning adalah

dengan
modifikasi

mengawasi
perilaku

perilaku

yang

belajar

dipertajam

si
atau

ditingkatkan frekuensi terjadinya melalui pemberian reinforcement. Lingkungan sosial


digunakan untuk membantu seseorang dalam meningkatkan kontrol terhadap perilaku
yg berlebihan atau berkurang (Murray & Wilson).

Prikoterapikep.erp.2015

Page 6

Indikasi utama dari terapi perilaku ialah gangguan fobik dan perilaku kompulsif,
disfungsi sexual (misalnya impotensi dan frigiditas) dan deviasi sexual (misalnya
exhibisionisme). Dapat dicoba pada pikiran-pikiran obsesif, gangguan kebiasaan atau
pengawasan impuls (misalnya gagap, enuresis, dan berjudio secara kompulsif),
gangguan nafsu makan (obesitas dan anorexia) dan reaksi konversi. Terapi perilaku
tidak berguna pada skizofrenia akut, depresi yang hebat dan (hipo) mania.

Perkembangan Terapi Perilaku


a) Dialectical Behavior Therapy (DBT)
DBT telah berhasil digunakan pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang.
Terapi ini bersifat selektif, dan mengambil metode dari terapi suportif, kognitif dan
perilaku. Fungsi DBT adalah :
1. Meningkatkan dan memperluas daftar pola perilaku terlatih pasien
2. Meningkatkan matovasi pasien untuk berubah dengan mengurangi dorongan pada
perilaku maladaptif, termasuk disfungsi (kognisi dan emosi).
3. Meyakinkan bahwa pola perilaku baru dikembangkan dari lingkungan terapeutik ke
lingkungan alami
4. Membuat struktur lingkungan sedemikian rupa sehinggaperilaku efektif bukannya
perilaku disfungsi yang didorong
5. Meningkatkan motivasi dan kemampuan terapis sehingga diperoleh terapi efektif.
b) Terapi Kognitif-Perilaku (Cognitive Behavioural Therapy)
Terapi kognitif-perilaku (sering disingkat CBT) menampilkan usaha yang relatif baru
untuk menyatukan aspek terapi perilaku yang berguna dengan terapi kognitif dan

Prikoterapikep.erp.2015

Page 7

memiliki tujuan utama membantu pasien mendapatkan perubahan yang mereka


harapkan dalam kehidupannya. Asumsi dasar yang melatarbelakangi terapi-kognitif
perilaku meliputi:
1. Respons pasien lebih berdasarkan kepada interpretasi ketimbang pada
realitasnya.
2. Pikiran, perilaku, dan emosi saling terkait.
3. Tindakan terapeutik perlu diklarifikasi dan diubah menurut pikiran pasien
4. Manfaat perubahan proses kognitif dan perilaku pasien lebih besar daripada
manfaat perubahan salah satunya saja.
c.

Sosioterapi

1. Terapi Lingkungan
Terapi lingkungan adalah pengobatan gangguan mental atau ketidakmampuan
menyesuaikan diri dengan melakukan perubahan substansial dalam keadaan langsung
pasien kehidupan dan lingkungan dengan cara yang akan meningkatkan efektivitas
bentuk lain dari terapi. Tujuan terapi lingkungan adalah untuk memanipulasi lingkungan
sehingga semua aspek pengalaman rumah sakit klien dianggap terapeutik. Konsep
terapi lingkungan dikembangkan dari keinginan untuk melawan efek negatif regresif
institusionalisasi:

mengurangi

bertindak secara independen,

kemampuan

adopsi

nilai-nilai

untuk
kelembagaan

berpikir
dan

sikap,

dan
dan

hilangnya komitmen di dunia luar. Terapi lingkungan dalam pengobatan yang dilakukan
pasien melibatkan baik keluarga dan lingkungan tempat tinggal pasien agar dapat
membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan proses
pengobatan pasien.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 8

2.

Terapi Keluarga

Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga
sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern &
Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang
ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social.Tujuan pertama
adalah menemukan bahwa masalah yang ada berhubungan dengan keluarganya,
kemudian dengan jalan apa dan bagaimana anggota keluarga tersebut ikut
berpartisipasi. Ini dibutuhkan untuk menemukan siapa yang sebenarnya terlibat,
karenanya perlu bergabung dalam sesi keluarga dalam terapi ini, juga memungkinkan
apabila diikutsertakan tetangga, nenek serta kakek, atau keluarga dekat yang
berpengaruh.

C. Gangguan dan Terapi


a.

Skizofrenia
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kejiwaan berat dan menunjukkan

adanya disorganisasi (kemunduran) fungsi kepribadian, sehingga menyebabkan


disability (ketidakmampuan), (Maramis, 1994). Gannguan jiwa jenis ini dapat terjadi
mulai sekitar masa remaja dan kebanyakkan penderitannya adalah berjenis kelamin
laki-laki dan menjadi sakit pada usia antara 15-35 tahun, sedangkan pada perempuan
kebanyakkan penampakan gejala antara usia 25-35 tahun (Kaplan, dkk, 1991).
Gangguan kejiwaan skizofrenia ini sering menyebabkan kegagalan individu dalam
mencapai berbagai ketrampilan yang diperlukan untuk hidup yang menyebabkan
penderita menjadi beban keluarga dan masyarakat. (Chandra, 2004).

Prikoterapikep.erp.2015

Page 9

Gangguan kejiwaan atau skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional


berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang
khas seperti, kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, depresi, gangguan persepsi, dan
perawatan diri. Skizofrenia tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif
seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada skizofrenia tipe II
ditemukan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri, apatis, dan perawatan diri yang
buruk. Berdasarkan DSM-IV menggunakan subtype skizofrenia yang sama dengan
yang digunakan di dalam DSM-III-R yang meliputi:
1. Tipe Paranoid
2. Tipe Terdisorganisasi
3. Tipe Katatonik
4. Tipe Tidak Tergolongkan
Pengobatan
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama
menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju ke kemunduran
mental. Terapist jangan melihat kepada penderita skizofrenia sebagai penderita yang
tidak dapat disembuhkan lagi atau sebagai suatu mahluk yang aneh dan inferior. Bila
sudah dapat diadakan kontak, maka dilakukan bimbingan tentang hal-hal yang praktis.
Biarpun penderita mungkin tidak sempurna sembuh, tetapi dengan pengobatan dan
bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhana
dirumah ataupun di luar rumah.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 10

1. Farmakoterapi (Terapi Somatik)


Neroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan
skizofrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih digunakan pada
penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Pada penderita paranoid obat yang
umumnya diresepkan adalah trifluoperazin. Dengan fenotiazin biasanya waham dan
halusinasi hilang dalam waktu 2-3 minggu. Bila tetap masih ada waham dan halusinasi,
maka penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut
serta dengan kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja.
Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan selama beberapa
bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah
lebih dari satu kali, maka sesudah gejala-gejala mereda, obat diberi terus selama satu
atau dua tahun.
2. Terapi elektro-konvulsi (TEK)
Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya elektrokonvulsi
belum diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat
memperpendek serangan skizofrenia dan mmpermudah kontak dengan penderita. Akan
tatapi ini tdak dapat mencegah serangan yang akan datang. Bila dibandingkan dengan
terapi koma insulin, maka dengan TEK lebih sering terjadi serangan ulang. Akan tetapi
TEK lebih mudah diberikan, dapat dilakukan secara ambulant, bahaya lebih kurang,
lebih murah dan tidak memerlukan tenaga khusus seperti terapi koma insulin.
TEK baik hasilnya pada jenis katatonik terutapa stupor. Terhadap skizofrenia
simplex efeknya mengecewakan; bila gejala hanya ringan lantas diberi TEK, terkadang
gejalanya menjadi semakin berat.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 11

3. Terapi koma insulin


Terapi ini cocok diberikan pada saat permulaan penyakit. Presentasi kesembuhan
lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit. Terapi koma
insulin memberi hasil yang baik pada penderita awal katatonia dan paranoid.
4. Terapi Psikososial
Terapi pelaku. Rencana pengobatan untuk skzofrenia harus ditujukan pada kemampuan
dan kekurangan pasien. Teknik perilaku menggunakan ketrampilan sosial untuk
meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis,
dan komunikasi interpersonal. Latihan ketrampilan perilaku melibatkan penggunaan
kaset video orang lain dan pasien, permainan stimulasi (role playing) dalam terapi, dan
pekerjaan rumah tentang ketrampilan yang telah digunakan.
Terapi berorientasi-keluarga. Berbagai terapi berorientasi- keluarga merupakan terapi
yang juga berguna dalam pengobatan skizofrenia. Karena pasien skizofrenia seringkali
dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali,
seringkali mendapatkan manfaat terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap
hari).
Terapi kelompok. Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada
rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Terapi kelompok sangat
efektif dalam menurunkan isolasi kelompok, meningkatkan rasa persatuan, dan
meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia.
Psikoterapi

Individual.

Psikoterapi

merupakan

terapi

yang

membantu

dan

menambahkan efek farmakologis. Jenis terapi yang dilakukan dalam psikoterapi adalah
psikoterapi suportif dan psikoterapi berorientasi-tilikan. Konsep penting di dalam

Prikoterapikep.erp.2015

Page 12

psikoterapi bagi seorang pasien skizofrenia ialah perkembangan suatu hubungan


terapetik yang dialami pasien sehingga menimbulkan rasa aman. Dimana dalam
penelitian klinis menyadari bahwa kemampuan pasien skizofrenia untuk membentuk
ikatan terapetik dengan ahli terapi dapat membantu proses pengobatan.
b. Gangguan Mood
Ganggungan mood adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh
hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat.
Pasien dengan mood yang meninggi (elevated) yaitu mania, menunjukkan sikap
meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat, penurunan kebutuhan tidur, penginggian
harga diri, dan gagasan kebesaran. Sedangkan pasien dengan mood terdepresi
(depresi) merasakan hilangnya energy-energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan
berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Tanda dan gejala lain dari gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas,
kemampuan kognitif, pembicaraan, dan fungsi vegetative (tidur, nafsu makan, aktivitas
seksual, dan irama biologis lainnya).
Gangguan mood yang utama adalah gangguan depresif berat dan gangguan bipolar
I. Kedua gangguan tersebut biasanya dinamakan gangguan afektif, dimana patologi
utama dalam gangguan tersebut adalah mood, yaitu keadaan emosional internal yang
meresap dari seseorang, dan bukan dari afek (eksprsi eksternal dari isi emosional saat
itu). Pasien yang hanya episode depresif dikatakan mengalami ganguan depresif berat,
seringkali dinamakan depresi unipolar. Pasien dengan episode manic dan depresif dan
pasien yang hanya pada tahap manic saja dikatakan menderita gangguan bipolar I.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 13

Gangguan yang biasanya menyertai gannguan mood adalah ketergantungan alcohol,


kecemasan, dan kondisi medis.
Pengobatan
Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai beratnya depresi dan
besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan bijaksana dan penderita
sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-pikiran bunuh diri kepada orang
yang memahami masalahnya. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau rancangan
bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan pemberian terapi
elektrokonvulsi (ECT) disamping psikoterapi dan obat antidepresi.
1. Terapi Psikososial
Terapi kognitif. Terapi kognitif memusatkan pada distorsi kognitif. Distorsi tersebut
termasuk perhatian selektif terhadap aspek negatif. Tujuan terapi kognitif adalah untuk
menghilangkan episode depresif dan mencegahrekurennya dengan membantu pasien
mengidentifikasi dan uji kognitif negatif, mengembangkan cara berpikir alternatif,
fleksibel, dan positif, serta melatih kembali respon kognitif dan perilaku baru.
Terapi berorientasi psikoanalitik. Pendekatan psikoanalitik pada gangguan mood adalah
didasrkan pada teori analitik tentang depresi dan mania. Pada umumnya, tujuan
psikoterapi psikoanalitik adalah untuk mendapatkan perubahan pada struktur atau
karakter kepribadian pasien, bukan semata-mata menghilangkan gejala. Perbaikan
dalam kepercayaan diri, keintiman, kapasitas untuk bersedih, dan kemampuan untuk
mengalami berbagai macam emosi adalah beberapa tujuan terapi psikoanalitik.
Pengobatan seringkali mengharuskan pasien mengalami kecemasan dan penderitaan
yang lebih banyak selama perjalanan terapi.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 14

2. Farmakoterapi
Pada pasien penderita depresi ringan maka dapat diobati ambulatoar, menyelidiki
sumber stress dan psikodinamika, psikoterapi suportif dan obat antidepresi. Disamping
depresi, sering terdapat juga kecemasan yang timbul sekunder karena depresi itu
seperti kecemasan. Jika terdapat kecemasan, maka di samping obat antidepresi dapat
diberikan obat anti-cemas (tranquilaizer) atau neroleptik.
Sedangkan pada gangguan depresi berat, sebagian besar klinisi memilih salah
satu obat trisiklik atau tetrasiklik atau salah satu SSRIs sebagai obat lini pertama dalam
pengobatan gangguan depresi berat. Obat trisiklik dan tetrasiklik memiliki efek samping
yang berbeda, pada obat trisiklik seperti aventyl, desipramine, dan vivactil dan obat
tetrasiklik sekunder memiliki efek lebih ringan daripada obat trsiklik dan tetrasiklik tersier
(imipramine).
Efek merugikan dari obat antidepresan adalah letalitasnya jika digunakan
overdosis. Obat trisiklik dan tetrasiklik, sejauh ini, adalah antidepresan yang paling
mematikan, sedangkan SSRIs, bupropion, trazodone, dan MAOIs jauh lebih aman,
tetapi obat tersebut dapat mematikan jika digunakan dalam overdosis dalam kombinasi
dengan alcohol atau obat lain.
c.

Delirium
Delirium menunjuk kepada sindrom otak organic karena gangguan fungsi atau
metabolism otak secara umum atau karena keracunan yang menghambat metabolism
otak. Gejala utama ialah kesadaran menurun. Gejala-gejala lain adalah: penderita tidak
mampu mengenal orang dan berkomunikasi dengan baik, ada yang bingung atau

Prikoterapikep.erp.2015

Page 15

cemas, gelisah dan panic, ada pasien yang terutama berhalusinasi dan ada yang hanya
berbicara komat-kamit dan inkoheren.
Pengobatan
Tujuan utama adalah untuk mengobati gangguan dasar yang menyebabkan
delirium. Jika kondisinya adalah toksisitas antikolonergik, penggunaan antilirium atau
intramuscular. Tujuan pengobatan yang penting lainnya adalah memberikan bantuan
fisik, sensorik, dan lingkungan. Bantuan fisik diperlukan sehingga pasien delirium tidak
masuk ke dalam situasi dimana mereka mungkin mengalami kecelakaan.
Dua gejala delirium yang mungkin memerlukan pengobatan farmakologis adalah
psikosis dan insomnia. Obat untuk psikosis adalah haloperidol dan droperidol.
Sedangkan insomnia paling baik diobati dengan golongan benzodiazepine atau dengan
hydroxyzine.
d. Demensia
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif
tanpa gangguan kesadaran. Fungsi kognitif yang dapat dipengaruhi adalah intelegensi
umum, belajar dan ingatan, bahasa, memecahkan masalah, orientasi, persepsi,
perhatian, konsentrasi, kepribadian, dan kemampuan sosial. Ada beberapa macam
jenis demensia, yaitu demensia tipe Alzheimer dan demensia tipe vascular.
Pengobatan
Pendekatan pengobatan umum pada pasien demensia adalah memberikan
perawatan suportif, bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya, dan pengobatan
farmkologi untuk gejala spesifik, termasuk gejala perilaku yang mengganggu.
Pengobatan

farmakologis

Prikoterapikep.erp.2015

yang

diresepkan

Page 16

oleh

dokter

biasanya

adalah

benzodiazepine untuk insomnia dan kecemasan, antidepresan untuk depresi, dan obat
antipsikotik untuk waham dan halusinasi.
Kesimpulan
1. Dasar semua pengobatan adalah suasana terapi yang diciptakan oleh dokter bersama
pasiennya. dan yang memegang peranan penting dalam hal ini adalah hubungan
antara pasien dan dokter. Dalam suasana terapi ini, faktor sugesti dan persuasi, serta
keyakinan dan kepercayaan pada sang pengobat merupakan faktor yang penting.
2. Pengobatan dalam psikiatri pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga golongan besar,
yaitu: somatotrapi, terapi psiko-edukatif, dan sosioterapi. Terapi-terapi tersebut
biasanya digunakan pada intervensi gangguan jiwa pada pasien rumah inap ataupun
rawat jalan.
3. Pada setiap gangguan yang ada memiliki intervensi yang berbeda-beda dalam
penggunaan terapi pada pasien. Dan setiap terapi yang digunakan memiliki efek yang
berbeda-beda pada proses penyembuhan pasien, baik rentang waktu penyembuhan
dan efek samping selama penyembuhan.

Prikoterapikep.erp.2015

Page 17

DAFTAR PUSTAKA

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 3. Kanisius: Yogyakarta.


Maramis, W. F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press:
Surabaya.
Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J., Grebb Jack A. 1997. Sinopsis Psikiatri.
Binarupa Aksara: Jakarta.
Spar, James E., Rue Asenath La. 2006. Clinical Manual of Geriatric Psychiatry.
American Psichiatric Publishing, Inc.
Sunberg Norman D., Winenager Allen A., Taplin Julian R. 2007. Psikologi Klinis. Edisi
keempat. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Davidson Gerald C., Neale John M., Kring Ann M. 2006. Psiologi Abnormal. Edisi
kesembilan. Rajawali Pers: Jakarta

Prikoterapikep.erp.2015

Page 18