Anda di halaman 1dari 13

Nama : Fikri Rizky Ilhami

NIM : 12.02.0008
Kelompok : 7

A.

BATU GAMPING

Gambar batu gamping

Batu gamping pada umumnya adalah bukan terbentuk dari batuan sediment
seperti yang kita kira, tidak juga terbentuk dari clay dan sand, terbentuk dari batubatuan bahkan juga terbentuk dari kerangka calcite yang berasal dari organisme
microscopic di laut dangkal. Pulau Bahama adalah sebagai contoh dari daerah dimana
proses ini masih terus berlangsung hingga sekarang.
Sebagian perlapisan batu gamping hampir murni terdiri dari kalsit, dan pada
perlapisan yang lain terdapat sejumlah kandungan silt atau clay yang membantu
ketahanan dari batu gamping tersebut terhadap cuaca. Lapisan gelap pada bagian atas
mengandung sejumlah besar fraksi dari silika yang terbentuk dari kerangka mikrofosil,
dimana lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca.
Batu gamping dapat terlarutkan oleh air hujan lebih mudah dibandingkan dengan
batuan yang lainnya. Air hujan mengandung sejumlah kecil dari karbon dioksida
selama perjalanannya di udara, dan hal tersebut mengubah air hujan tersebut menjadi
nersifat asam. Kalsit adalah sangat reaktif terhadap asam. Hal tersebut menjelaskan
mengapa goa-goa bawah tanah cenderung untuk terbentuk pada daerah yang banyak
mengandung batu gamping, dan juga menjelaskan mengapa bangunan bangunan yang
terbuat dari bahan batugamping rentan terhadap air hujan yang mengandung asam.

Pada daerah daerah tropis , batu gamping terbentuk menjadi batuan yang kuat
membentuk sejumlah pegunungan-pegunungan batu gamping yang indah.
Dibawah pengaruh pressure yang tinggi, batu gamping termatomorfosakan
menjadi batuan metamorf marble. Pada kondisi tertentu, kalsit yang terdapat di dalam
batugamping teralterasi menjadi dolomite, berubah menjadi batuan dolomite.
Batu kapur (Gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara
mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara
organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau
ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih
susu, abu muda, abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.
Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit
(CaCO3), yang merupakan mineral metastable karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah
menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur
atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil adalah Siderit (FeCO3), ankarerit (Ca2MgFe(CO3)4),
dan magnesit (MgCO3).

B.

PENAMBANGAN BATU GAMPING

Gambar. Penambangan Batu Gamping.

Melihat gambar diatas pasti Anda berpikir bahwa kita sedang membahas
tambang, yups dugaan Anda benar. Topik kita kali ini membahas tambang batu
gamping, bagi Anda yang tidak tahu apa itu batu gamping, batu gamping bahasa
tanahnya batu karang yang biasa dong pake buat batu tela, Anda bisa lihat sendiri di
daerah Polimak, Argapura, Argapura Pantai, Hamadi dll.
Batu gamping merupakan bahan galian industri, batu gamping terbagi dalam
klastik dan non klastik, batu gamping non klastik merupakan koloni dari binatang laut
dari coelenterata, Moluska, dan Protozoa, Foraminifera dan sebagainya, jenis batu
gamping ini sering disebut dengan batu gamping Koral karena penyusun utamanya

adalah Koral yang merupakan anggota dari Coelentrata. Sedangkan batu gamping
klastik merupakan hasil rombakan jenis batu gamping non klastik yang merupakan
hasil proses erosi oleh air, transportasi, sortasi, sedimentasi.
Jadi seperti itulah asal usulnya, sekarang kita melihat cara penambangan yang
baik, tidak merusak lingkungan, dan aman yang artinya kecelakaan kerja bisa
diminimalisir.
Pada umumnya deposit batu gamping ditemukan dalam bentuk bukit. Oleh sebap
itu teknik penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dalam bentuk kuari tipe sisi
bukit (side hiil type) Untuk penambangan skala besar pembongkaran dibantu dengan
sistem peledakan beruntun dibantu peralatan berat antara lain eksavator, bulldozer,
ripper (penggaruk), sedangkan untuk penambangan skala kecil dilakukan dengan alat
sederhana antara lain cangkul, ganco dan sekop.

Sketsa Penggalian Batu Gamping Dengan Cara Berteras-Teras

Apabila skala penambangannya kecil, sistem yang diterapkan dalam kegiatan


penambangan adalah sistem gophering, mengikuti bagian/jalur batu gamping yang
relatif mudah dibongkar, namun dengan alasan keselamatan kerja sistem gophering
tidak dianjurkan.

Anda bisa lihat di berita-berita para penambang tradisional yang

tewas tertimpa runtuhan batu dan tanah karena menggunakan sistem ini.

Sebaiknya penggalian harus diupayakan untuk dimulai dari bagian paling atas.
Pekerjaan awal ini memang relatif sulit karena pembuatan jalan ke puncak bukit perlu
dibuat dan biaya investasi tidak kembali dengan cepat. Kalau hal ini tidak dilakukan
akan ditemui apa yang disebut high wall yang akan menyulitkan kegiatan penambangan
selanjutnya. Contohnya Anda bisa lihat di kawasan Bucend Entrop terdapat dinding
bekas penambangan yang terjal (lurus) sangat dikhawatirkan kalau dindingnya runtuh
akibat pelapukan batu gamping oleh air hujan.
Sangat diharapkan kegiatan penambangan harus memperhatikan konsep
penambangan yang baik (good mining practice) yang beberapa aspek diantaranya
adalah aspek lingkungan dan keselamatan kerja.
Kalau dalam penambangan batu gamping masalah lingkungan yang mencolok
adalah kebisingan akibat deru mesin alat berat yang beroperasi serta debu yang
berterbangan akibat lalu-lalang truk pengangkut material. Sedangkan masalah
keselamatan kerja kebanyakan akibat dinding batu gamping yang runtuh akibat
penggalian yang salah sehingga terbentuk hanging wall dan runtuh menimpa para
pekerja..

Gambar penggalian yang salah

C.

MANFAAT BATU KAPUR

Batu kapur

(limestone) (CaCO3) adalah sebuah batuan sedimen terdiri dari

mineral calcite (kalsium carbonate). Sumber utama dari calcite ini adalah organisme
laut. Organisme ini mengeluarkan shell yang keluar ke air dan terdeposit di lantai
samudra sebagai pelagic ooze.
Calcite sekunder juga dapat terdeposi oleh air meteorik tersupersaturasi (air tanah
yang presipitasi material di gua). Ini menciptakan speleothem seperti stalagmit dan
stalaktit. Bentuk yang lebih jauh terbentuk dari Oolite (batu kapur Oolitic) dan dapat
dikenali dengan penampilannya yang granular. Batu kapur membentuk 10% dari
seluruh volume batuan sedimen.

Manfaat Dan Tujuan


Penggunaan batu kapur sudah beragam diantaranya untuk bahan
kaptan, bahan
campuran bangunan, industri karet dan ban, kertas, dan lain-lain.
Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar dan tersebar hampir
merata di seluruh kepulauan Indonesia.
Sebagian besar cadangan batu kapur Indonesia terdapat di Sumatera
Barat.

Manfaat Batu Kapur :


Batu kapur/Limestone (CaCO3) banyak digunakan, antara lain sebagai:
Bahan untuk menurunkan kadar sulfur
Bahan pembuat soda api
Piler kare, kabel
Penurunan kadar asam air

Industri pupuk
Pengkristal gula tepung
Penetral limbah
Ekstraksi peleburan besi
Separator (pemisah) logam mulia
Bahan baku semen
Bahan baku gelas pewarna
Pemutih kertas pakaian
Penyamak kulit
Campuran minuman soda
Farmasi
Bahan pembuat cat
Bahan keramik
Bahan dempul
Pemadam api
Industri kimia
Peningkat keasaman tanah
bahan lem
Bahan kardus
Lumpur Pengeboran
Pengkristal gula pasir
Logam industri pengecora
Paralo, Plastik, Piler Ban, Kertas
Kabel
Kapur pertanian
Bahan kaca kristal
Penjernih sawit/minyak kelapa
Penetral lingkungan
Gerabah bahan
Base jalan, Rel kereta api

Sifat fisik
Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu muda, abu tua, coklat bahkan hitam,
tergantung keberadaan mineral pengotornya.

Sifat kimia
Berasosiasi dengan aragonit (CaCO3), yang merupakan mineral metastable karena
pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang
umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil
adalah Siderit (FeCO3), ankarerit (Ca2MgFe(CO3)4), dan magnesit (MgCO3).
Sifat kimia lain batu kapur adalah mudah terbakar.

Sifat mekanik
berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau
ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang.

D.

POTENSI CADANGAN DI INDONESIA


Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh
sektor industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan,
bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian, bahan keramik, bahan
pembuatan semen dan pembuatan karbid.
Dalam ilmu geologi batu kapur disebut sebagai batu gamping. Batu kapur dapat
terjadi dengan berbagai cara, yaitu dengan cara mekanik, cara biologi dan cara kimia.
Cara mekanik terjadi pada saat unsur mineral yang tertranspor air melalui sungai dan
terjadi sedimentasi atau pengendapan. Umumnya batu kapur cara ini terdapat di sungaisungai baik di hulu maupun di hilir. Cara kimia batu kapur terbentuk dalam kondisi
iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air tawar atau asin dari mineral-mineral
organik dan anorganik kemudian terakumulasi dan terendapkan pada suatu cekungan
yang berfungsi sebagai mangkuk geologi. kemudian terjadi Up-Lifting atau
pengangkatan formasi batuan sehingga batu kapur yang asalnya terdapat di bawah
endapan danau dan sungai yang besar terangkat sehingga letaknya menjadi berada di
sebuah gunung dan bukit. Hal ini dapat dilihat pada bukit di daerah Padalarang. Proses
pengangkatan atau up-lifting terjadi akibat adanya aktivitas vulkanis atau aktivitas
tektonik atau keduanya.
Terakhir cara biologi atau organik, batu kapur ini terbentuk dari pengendapan
cangkang atau rumah siput, foraminifera, ganggang, dan binatang kerang. Ketika
hewan-hewan tersebut mati, mereka meninggalkan cangkangnya dan terakumulasi,
terendapkan pada cekungan laut dangkal. Kemudian semua itu berproses sekitar jutaan
tahun. Oleh karena itu, pada umumnya batu kapur jenis ini terdapat di pantai dan laut
dangkal. Namun adapula yang mengalami proses pengangkatan sehingga letaknya
berada di atas bukit atau gunung. Batu kapur atau batu gamping dalam ilmu geologi
masuk ke dalam klasifikasi batuan sedimen, baik batuan sedimen klastik maupun
sedimen non klastik. Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar dan hampir merata di
seluruh Indonesia. Data yang pasti mengenai jumlah cadangan batu kapur di Indonesia
belum ada, namun secara umum jumlah batu kapur Indonesia mencapai 28,678 milyar
ton (Tushadi Madiadipoera, Direktorat Sumber Daya mineral, 1990) dengan perincian

61,376 juta ton sebagai cadangan terunjuk (probable) dan 28,616 juta ton sebagai
cadangan terka (Possible). Sebagian besar cadangan batu kapur berada di Sumatra
Barat dengan kisaran cadangan sekitar 23,23 milyar ton atau hampir 81,02 % dari
cadangan keseluruhan di Indonesia.
Berdasarkan data tahun 1995, tercatat industri pabrik semen pemakai utama batu
kapur dengan presentase sekitar 86,84 % atau sekitar 72,86 juta ton. Propinsi Jawa
Barat merupakan produsen utama batu kapur tetapi juga merupakan konsumen utama.
Statistik menunjukkan

sektor industri dalam penggunaan batu kapur cenderung

meningkat yakni 10,45% per tahun. Hal ini wajar mengingat batu kapur digunakan
sebagai bahan utama dan bahan non utama dalam berbagai industri.
Sama seperti halnya dengan batubara, minyak bumi dan gas alam, batu kapur
merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui namun berbeda dengan batubara
dan migas, batu kapur tersebar merata dan cadangannya cukup banyak di Indonesia.
Dalam kondisi di lapangan batu kapur dapat berbentuk singkapan dalam bahasa Inggris,
outcrops. Karena biasanya batu kapur merupakan lapisan batuan yang terdapat pada
suatu formasi batuan.

Gunung Kapur Sari di Desa Sekapuk,Kecamatan UjungPangkah, Gresik Jawa Timur.

Propinsi
1. D.I Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Sumatera Selatan
6. Bengkulu
7. Lampung
8. Jawa Barat
9. Jawa Tengah & DIY

Jumlah
100,857
5,709
23.273,300
6,875
48,631
2,730
2,961
672,820
125,000

Keterangan
Seluruh cadangan batu kapur ini
terklasifikasi sebagai cadangan tereka
(termasuk hipotesis dan spekulatif),
kecuali
cadangan
di
Nusa
TenggaraTimur, sejumlah 61,376 juta
ton sebagai cadangan (probable)
terunjuk.

10. Jawa Timur


11. Kalimantan Selatan
12. Kalimantan Tengah
13. Nusa Tenggara Barat
14. Nusa Tenggara Timur
15. Sulawesi Utara
16. Sulawesi Selatan
17. Irian Jaya
Total

416,400
1.006,800
543,000
1.917,386
229,784
66,300
9,946
240,000
28.678,500

Sumber : Bahan Galian Industri, Batu Kapur, Harta Haryadi dkk. Hal. 7-75 = 7-91; 199

Sumber :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_kapur
2. http://kampungminers.blogspot.com/2012/09/batu-gamping.html
3. http://kampungminers.blogspot.com/2012/09/batu-gamping.html
4. http://batuan-sediment.blogspot.com/2008/12/bgp.html
5.http://lorenskambuaya.blogspot.com/2011/12/penambangan-batu-gamping.html
6.http://blog.pasca.gunadarma.ac.id/2012/06/01/batu-kapur-dan-potensicadangannya-indonesia/
7. http://angghajuner.blogspot.com/2012/01/batu-kapur.html
8. http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1235374758/batu-kapur