Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

Perpindahan Panas
Perpindahan Panas Radiasi pada Solar
Water Heater

Disusun oleh
Setiawan Akbar
131724027

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBANGKIT


TENAGA LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ENERGI

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2014

BAB I

1.1.

TUJUAN

a. Mengetahui proses perpindahan panas radiasi pada solar water heater


b. Mengetahui laju perpindahan panas radiasi pada solar water heater panel
hitam dan panel putih
c. Mengetahui efektivitas solar water heater panel hitam dan panel putih
d. Mengetahui karakteristik dari solar water heater panel hitam dan panel
putih
1.2.

DASAR TEORI
Perpindahan panas radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari
benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila bendabenda itu terpisah di dalam ruang, bahkan jika terdapat ruang hampa di
antara benda - benda tersebut.dalam bentuk gelombang elektromagnetik
Benda-benda yang terkena radiasi, meradiasikan energy yang energinya
terdiri dari proton-proton yang bergerak dengan arah, fasa dan frekuensi yang
serampangan. Proton-proton tersebut dapat diserap, direfleksikan atau
diteruskan melalui permukaan . Ada tiga sifat permukaan yang mengukur
kuantitas-kuantitas yang dimaksud, diantaranya:
Absortivitas (keterserapan), adalah bagian dari radiasi yang diserap

oleh bahan.
Refleksivitas (keterpantulan), adalah bagian radiasi yang direfleksikan

oleh bahan.
Transmisivitas,

adalah bagian radiasi yang ditransmisikan oleh

bahan.

A. Radiasi Pada Permukaan Benda


Jumlah energi yang meninggalkan suatu permukaan sebagai panas
radiasi tergantung pada suhu mutlak dan sifat permukaan tersebut.

Radiator sempurna atau benda hitam (black body) memancarkan energi


radiasi dari permukaannya dengan laju qr yang diberikan oleh
qr = . A1 . T14
Btu / hr
Btu/h, jika A1 luas permukaan dalam ft persegi, T1 suhu permukaan dalam
derajat rankine (R) dan konstanta dimensional dengan nilai 0,1714 x 108

Btu/h ft2R4. Dalam satuan SI laju aliran panas qr mempunyai satuan watt,

jika luas permukaan A1dalam m2, suhu mutlak dalam derajat Kelvin, dan
5,67 x 10

-8

watt / m2 k4. besaran dinamakan konstanta Stefan

Boltzmann.
Jika benda hitam tersebut beradiasi ke sebuah penutup yang
sepenuhnya mengurungnya dan yang permukaanya juga hitam, yaitu
menyerap semua energi radiasi yang datang padanya , maka laju bersih
perpindahan panas radiasi diberikan oleh.
qr = . A1 . (T14 - T24)
Dimana T2 adalah suhu permukaan penutup dalam derajat Fahrenheit
mutlak.
Jika pada suhu yang sama dengan benda hitam benda nyata
memancarkan sebagian yang konstan dari pancaran benda hitam pada
setiap panjang gelombang, maka benda itu disebut benda kelabu (gray
body). Laju bersih perpindahan panas dari benda kelabu dengan suhu T 1 ke
benda hitam dengan suhu T2 yang mengelilinginya adalah
qr = . A1 . 1 . (T14 - T24)
Dimana 1 adalah emitansi (emittance) permukaan kelabu dan sama
dengan perbandingan daya radiasi total benda (W) terhadap daya radiasi
total benda hitam(Wb) didefiisikan sebagai daya emisivitas benda tersebut,
yang besarnya:
=

W
Wb

Jika kedua benda tersebut bukan radiator sempurna dan jika kedua
benda itu mempunyai hubungan geometrik tertentu satu sama lain, maka
perpindahan panas bersih diantara kedua benda tersebut diberikan oleh
qr = . A1 . 1-2 . (T14 - T24)
Berbagai tipe fluks radiasi menyangkut analisis dari perpindahan
panas radiasi. Emissive power, E(W/m2), adalah rata2 dimana radiasi

dipancarkan dari permukaan per unit luas permukaan, pada setiap panjang
gelombang dan segala arah. Emissive power berhubungan dengan sifat
dari blackbody, dimana adalah besaran permukaan yang diketahui sebagai
emisivitas. .Radiasi dari sekitar, dimana bisa memiliki beberapa
permukaan pada temperature yang berbeda2, adalah insiden pada
permukaan. Permukaan juga dapat terkena iradiasi dari matahari atau laser.
Dari berbagai kasus, kita mendefinisikan irradiasi, G (W/m2), sebagai
rata2 dimana radiasi terjadi pada permukaan per satuan luas permukaan,
pada setiap panjang gelombang dan segala arah.

Gambar 1.1 Radiasi pada permukaan (a) Refleksi, absorpsi, dan transmisi dari irradiasi untuk
medium semitransparan. (b) Radiositas untuk medium buram

Ketika radiasi terjadi pada media semitransparan, sebagian irradiasi


mungkin direfleksi, diserap, and diteruskan. Transmissi mengacu pada
radiasi menembus medium, seperti terjadi ketika lapisan air atau pelat kaca
yang di-irradiasi oleh matahari atau pencahayaan.
Absorpsi

terjadi ketika radiasi berinteraksi dengan medium,

menyebabkan peningkatan energy panas dalam medium. Refleksi adalah


proses

dari

radiasi

yang

sedang

diarahkan

kembali

permukaan,tanpa ada efek dari medium. Kita mendefinisikan

menjauhi
sebagai

fraksi dari irradiasi yang direfleksikan, absorptivitas sebagai fraksi dari


irradiasi yang diserap, dan transmissivitas sebagai fraksi dari irradiasi
yang ditransmisikan. Karena semua irradiasi harus direfleksikan, diabsorsi,
atau ditransmisikan,

+ +=1
benda yang tidak mentrasnmisikan iradiasi adalah buram
+ =1

Dengan pemahaman dari pembagian irradiasi menjadi direfleksikan,


diabsorsi,and ditransmisikan komponen, dua tambahan dan fluks radiasi
dapat ditentukan. Theradiosity, J (W/m2), dari permukaan benda semua
energy radian yang meninggalkan permukaan. Untuk permukaan buram ini
menyertakan emisi dan sebagian dari irradiasi yang direfleksikan,hal ini
dijelaskan dengan persamaan
J =E+ Gref
J =E+ G

Radiosity juga dapat ditentukan pada permukaan dari medium


semitransparan. Dalam kasus ini, the radiosity meninggalkan bagian atas
permukaan dapat menambahan radiasi yang ditrasnmisikan melalui
medium dibawahnya. akhirnya, the netradiative flux dari permukaan,
(W/m2), adalah perbedaan antara radiasi masuk dan radiasi keluar
q rad=J- G
Dari persamaan yang ada maka net flux untuk permukaan buram
q rad=E+G- G

q rad= {T} rsub {s} rsup {4} - G

Tabel Error! No text of specified style in document..1.1 Perpindahan panas radiasi (seluruh panjang
gelombang dan segala arah)

B. Solar Water Heater


Solar water heater merupakan salah satu alat perpindahan panas yang
berfungsi sebagai pemanas air yang memanfaatkan radiasi matahari
sebagai sumber panasnya. Di Indonesia memiliki iklim tropis, dimana
suplai matahari terpenuhi dengan baik. Konstruksi solar water heater pada
umumnya hanya menggunakan panel hitamu ntuk menyerap sumber
panasnya, namun solar water heater yang ada di labotarium surya Teknik
Konversi Energi terdapat plat putih sebagai penyerapnya. Hal ini bertujuan
untuk membandingkan panel dengan warna apa yang efisiensinya lebih
baik. Radiasi matahari
Berikut ini rangkaian pengganti tahanan termal dari solar water heater
Radiasi matahari
KacaLuar
Selang Luar
Selang Dalam
Kaca Dalam
Gas
Air

Udara
Gambar 1.2. Tahanan termal solar water heater

BAB II

2.1.

ALAT DAN BAHAN


1.
2.
3.
4.
5.

2.2.

Solar water heater


Thermometer
Air 1000 ml
Piranometer
Battery / Acumulator
PROSEDUR PERCOBAAN

A. Pengukuran irradiasi pada suatu titik tertentu pada Lab. Surya


1. Persiapkan Piranometer untuk mengukur irradiasi.
2. Tentukan titik-titik yang akan diujikan.
3. Atur piranometer agar sensor tepat menghadap arah matahari.
4. Catat hasil pengukuran irradiasinya.
5. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk setiap titik.
B. Pengukuran temperatur permukaan benda uji
1. Persiapkan thermometer untuk mengukur suhu permukaan benda uji.
2. Tentukan titik-titik pada permukaan benda uji yang akan diukur
3. Ukurlah temperatur tiap titik benda uji
4. Catat hasil pengukuran temperatur
5. Ulangi langkah 3 dan 4 untukbenda uji yang lain
C. Pengujian perpindahan panas radiasi pada Solar Water Heater (SWH)
1. Mempersiapkan peralatan praktikum yang dibutuhkan seperti Solar
Water Heater, piranometer, dan thermometer.
2. Letakkan SWH dengan titik yang memiliki irradiasi tinggi pada
percobaan 1, atur posisi plat menghadap arah matahari
3. Memanaskan SWH selama 5 20 menit.
4. Atur piranometer dengan posisi matahari di atasnya sebagai pusat dan
catat hasil pengukurannya.
5. Operasikan SWH dengan posisi fan ON
6. Ukur suhu awal pada kedua kaca, plat, air yang masuk dan keluar
SWH dengan thermometer dan debit air yang mengalir
7. Catat setiap hasil pengukurannya, dan tunggu selama 5 menit.
8. Ulangi langkah 4 sampai 7 dengan kondisi posisi fan OFF
2.3.

HASIL PERCOBAAN

A. Pengukuran irradiasi pada suatu titik tertentu pada Lab. Surya.

Gambar 2.1 Gambar denah titik-titk pengujian pada rooftop Lab.Surya

Irradiasi ( W/m2)
Titik
C
D

NO WAKTU
10:15
1
10:30
2
10:36
3
10:22
4
10:33
5
10:38
6
10:20
7
10:32
8
10:37
9
10:25
10
10:30
11
10:42
12
10:23
13
10:34
14
10:39
15
Rata Rata

A
745
740
747

743
744
756

742
747
741

735
726
730

744

747.6

743.3

730.3

750
744
746
746.7

Tabel 3.1 Tabel hasil pengukuran irradiasi beberapa titik di Lab Surya

B. Pengukuran temperatur permukaan benda uji.

Tabel 4.2 Tabel hasil pengukuran temperature permukaan seng putih

Tabel 5.3 Tabel hasil pengukuran temperature permukaan kayu hitam

Tabel 6.4 Tabel hasil pengukuran temperature permukaan karet hitam

Tabel 7.5 Tabel hasil pengukuran temperature permukaan seng hitam

C. Pengujian perpindahan panas radiasi pada Solar Water Heater (SWH)

2.4.

ANALISIS

A. Pengukuran irradiasi pada suatu titik tertentu pada Lab. Surya.


Pengukuran ini dilakukan pada titik-titik yang telah ditentukan di
rooftop Lab.Surya seperti pada gambar 2.1. Dari pengukuran ini dapat
diketahui bahwa titik yang memiliki irradiasi yang tertinggi yaitu pada titik
B yaitu sebesar 747.6 W/m2. Hal tersebut dikarenakan posisi matahari pada
sekitar pukul 10.30 WIB berada dari timur dan berdasarkan pengaturan
piranometer matahari sedikit berada timur laut sehingga posisi titik B lebih
dekat dengan matahari. Selain itu pada sebagian titik-titik uji tidak
terhalang oleh gedung sehingga pancaran sinar matahari bisa langsung
mengenai titik-titik uji tersebut.

B. Pengukuran temperatur permukaan benda uji.


Pengukuran ini dilakukan pada beberapa bahan seperti kayu dicat
hitam, seng dicat hitam, karet hitam, dan seng tanpadicat. Dari pengukuran
temperatur berbagai bahan dapat diketahui bahwa bahan yang memiliki
temperatur yang paling tinggi adalah karet hitam. Emisivitas karet 0.94,
emisivitas kayu 0.8-0.9, emisivitas seng 0.23. Dari pengukuran didapat
hasil yang tidak sesuai dimana seharusnya temperatur yang terukur pada
tiap bahan akan sesuai dengan emisivitas bahan tersebut namun seperti
yang diketahui bahwa temperatur kayu dengan temperature seng tidak
sesuai. Selain itu juga seharusnya bahan yang berwarna hitam memiliki
temperature yang lebih tinggi namun dapat dilihat bahwa seng putih lebih
tinggi temperaturnya dari seng hitam.
Kesalahan seperti ini kami memperkirakan bahwa terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran. Faktor-faktor tersebut yaitu,

1. Peletakan benda

Pada pengukuran yang dilakukan benda-benda tidak diletakkan pada


satu titik sehingga mungkin ada perbedaan irradiasi yang mencapai
benda.
2. Bentuk benda
Pengukuran ini dilakukan pada benda-benda secara acak sehingga
tidak ada kesamaan bentuk, geometri, ketebalan, sehingga adanya
perbedaan luasan yang menyerap irradiasi
3. Adanya proses perpidahan panas yang lain.
Pada saat pengukuran ada beberapa benda diletakkan dilantai, benda
tersebut seperti karet, kayu dan seng putih dan lantai pada rooftop
Lab.Surya dilapisi oleh fiber dan dicat biru. Karena beberapa benda
tersebut diletakkan dilantai kemungkinan terjadi perpindahan panas
konduksi antara permukaan lantai dengan benda tersebut.
C. Pengujian perpindahan panas pada Solar Water Heater (SWH)
Pengujian perpindahan panas pada solar water heater ini dilakukan
pada titik yang memiliki tingkat irradiasi paling tinggi di rooftop
Lab.Surya sesuai dengan hasil pengukuran pada percobaan sebelumnya.
Pada solar water heater ini terdapat dua plat berbeda yaitu plat berwarna
putih dan plat berwarna hitam dan dari kedua plat tersebut diperlakukan
dengan kondisi kipas pendingin on atau off.
Cara kerja solar water heater yaitu, dynamo berputar untuk
mengalirkan air dari penampung ke flowmeter lalu menuju plat kolektor
panas baik itu plat putih maupun plat hitam, setelah itu air melewati
radiator dan kembali ke penampung. Dari data hasil pengukuran dapat
dibuat grafik antara properties terhadap waktu perngukuran. Berikut ini
adalah grafik antara irradiasi dan waktu pengukuran.

Grafik irradiasi terhadap waktu


770
760
750
740
730
Irradiasi (W/m2) 720
710
700
690
680
10:19 10:33 10:48 11:02 11:16 11:31 11:45 12:00

Waktu

Gambar 8.2 Grafik irradiasi terhadap waktu

Dari grafik ini dapat dilihat bahwa semakin hari semakin siang terjadi
fluktuasi irrradiasi. Hal ini mungkin dikarenakan adanya awan, angin, dan
kelembaban yang membuat pancaran irradiasi yang mencapai piranometer.
Berikut ini adalah grafik antara temperatur air yang masuk dengan
waktu pengukuran. Namun karena pengukuran dilakukan pada kondisi
yang berbeda yaitu ketika ada kipas pendingin dan tidak.

Grafik temperatur air masuk terhadap waktu


posisi kipas pendingin ON
36
34
32

Tair.in (oC)

30
28
26
10:19 10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24

Waktu

Gambar 9.3 Grafik temperature air masuk terhadap waktu, posisi kipas
pendingin ON

Grafik temperatur air masuk terhadap waktu


posisi kipas pendingin OFF
36
35
34
33

Tair.in (oC) 32
31
30
29
11:22 11:25 11:28 11:31 11:34 11:36 11:39 11:42 11:45 11:48

Waktu

Gambar 10.4 Grafik temperature air masuk terhadap waktu, posisi


kipas pendingin OFF

Dari grafik pada gambar 2.3 dapat dilihat bahwa temperatur air yang
masuk lebih tinggi pada plat hitam dibanding plat putih, selain itu
temperatur air yang masuk ke kolektor semakin merendah karena adanya
kipas pendingin. Sedangkan dari grafik 2.4 dapat dilihat bahwa
temperature air yang masuk lebih tinggi pada plat putih dibanding plat
hitam, selain itu temperature air yang masuk ke kolektor semakin
meningkat
Berikut ini adalah grafik antara temperatur air yang keluar dengan
waktu pengukuran. Namun karena pengukuran dilakukan pada kondisi
yang berbeda yaitu ketika ada kipas pendingin dan tidak.

Grafik temperatur air keluar terhadap waktu


posisi kipas pendingin ON
50
40
30

Tair.out (oC)

20
10
0
10:1910:2610:3310:4010:4810:5511:0211:0911:1611:24

Waktu

Gambar 11.5 Grafik temperature air keluar terhadap waktu, posisi


kipas pendingin ON

Grafik temperatur air keluar terhadap waktu


posisi kipas pendingin OFF
40
38
36

Tair.out (oC)

34
32
30
11:2211:2511:2811:3111:3411:3611:3911:4211:4511:48

Waktu

Gambar 12.6 Grafik temperature air keluar terhadap waktu, posisi kipas
pendingin OFF

Dari grafik pada gambar 2.5 dapat dilihat bahwa temperatur air yang
keluar lebih tinggi pada plat hitam dibanding plat putih, selain itu
temperatur air yang keluar dari kolektor semakin merendah karena adanya
kipas pendingin. Sedangkan dari grafik 2.6 dapat dilihat bahwa

temperature air yang keluar lebih tinggi pada plat putih dibanding plat
hitam, selain itu temperature air yang keluar dari kolektor semakin
meningkat
D. Perhitungan perpindahan panas radiasi pada kolektor
Proses perpindahan panas radiasi yang terjadi, terdapat pada kolektor
yaitu pada masing-masing plat. Irradiasi yang dipancarkan akan
menembus kaca ditransmisikan, lalu megenai plat, lalu dari plat sebagian
ada yang diserap dan ada yang dipantulkan menuju kaca dan kaca akan
memantulkan kembali. Berikut perhitungan perpindahan panas radiasi
pada masing-masing plat di solar water heater
1. Dengan kipas pendingin
a. Plat putih
=

0.24 (seng putih)

=
W/m2.K

5.67

Tp =
312.5 K

39.5oC =

qp.putih

A T4

A (Tp 4Tk 4 )

10-8

0.24 5.67 x 10

=G.A
758.5

W
2
0.49m
2
m

= 371.67 W
putih

G =

758.5

W
m2

W
2
4
4
0.49 m ( ( 312.5 ) ( 309.38 ) ) K
2
m K

= 10.42 W

0.49 m2

Tk = 36.38oC= 309.38 K

qR

A =

q p . putih
100
qR

10.42W
100
371.67 W

= 2.80 %

Tabel 2.7 Tabel hasil perhitungan perpindahan panas radiasi pada plat putih dengan kipas pendingin

b. Plat hitam
=

1 (seng hitam)

=
W/m2.K

5.67

Tp =

41.2oC

310.6 K

Tk =

37.62oC

314.2 K

qp.putih

A T4

A (Tp 4Tk 4 )

10-8

=
0.24 5.67 x 108

=G.A
=

758.5

0.49 m2

G =

758.5

W
m2

W
0.49 m 2 ( ( 314.2 )4 ( 310.6 )4 ) K
2
m K

= 12.13 W

qR

A =

W
2
0.49m
2
m

= 371.67 W

putih

q p . putih
100
qR

10.42W
100
371.67 W

= 3.26 %

Tabel 2.8 Tabel hasil perhitungan perpindahan panas radiasi pada plat hitam dengan kipas pendingin

2. Tanpa kipas pendingin


a. Plat putih
=

0.24 (seng putih)

=
W/m2.K

5.67

Tp =

35.6oC

308.6 K

Tk =

32oC

305 K

qp.putih

A T4

A (Tp 4Tk 4 )

10-8

0.24 5.67 x 108

= 11.55 W

A =

0.49 m2

G =

W
m2

W
0.49 m2 ( ( 308.6 )4 ( 305 )4 ) K
2
m K

qR

=G.A
=

727

W
0.49 m2
2
m

= 356.23 W

putih

q p . putih
100
qR

11.55 W
100
356.23 W

= 3.24 %

Tabel 2.9 Tabel hasil perhitungan perpindahan panas radiasi pada plat putih tanpa kipas pendingin

b. Plat hitam
=

1 (seng hitam)

=
W/m2.K

5.67

10-8

A =

0.49 m2

G =

W
m2

Tp =

37.3oC

310.3 K

Tk =

34.6oC

307.6 K

qp.putih

A T4

A (Tp 4Tk 4 )

=
8

0.24 5.67 x 10

W
2
4
4
0.49 m ( ( 310.3 ) ( 307.6 ) ) K
2
m K

= 8.85 W

qR

=G.A
=

727

W
0.49 m2
2
m

= 356.23 W

putih

q p . putih
100
qR

8.85 W
100
356.23 W

= 2.48 %

Tabel 2.10 Tabel hasil perhitungan perpindahan panas radiasi pada plat hitam tanpa kipas
pendingin

Dari perhitungan diatas dapat dilihat nilai perpindahan panas radiasi


yang tejadi pada kedua kolektor solar water heater, dengan kondisi dengan
kipas pendingin dan tanpa kipas pendingin. Berikut ini adalah grafik antar
perpindahan panas radiasi di kolektor solar water heater dengan waktu
pengukuran.

Chart Title
140
120
100
80

qP (J/s)

60
40
20
0
10:19 10:26 10:33 10:40 10:48 10:55 11:02 11:09 11:16 11:24

Waktu pengukuran

Gambar 13.7 Grafik perpindahan panas radiasi pada plat terhadap waktu,
posisi kipas pendingin ON

Chart Title
200
150

qR (J/s) 100
50
0
11:22 11:25 11:28 11:31 11:34 11:36 11:39 11:42 11:45 11:48

Waktu Pengukuran

Gambar 14.8 Grafik perpindahan panas radiasi pada plat terhadap waktu,
posisi kipas pendingin OFF

Dari grafik pada gambar 2.7 dapat dilihat bahwa terjadi fluktuasi
perpindahan panas radiasi pada solar water heater dengan kipas pendingin,
namu tetap bisa dilihat plat hitam memiliki perpindahan panas radiasi yang
tertinggi pada grafik 2.7. Sedangkan pada grafik 2.8 dapat dilihat bahwa
juga terjadi fluktuasi perpindahan panas radiasi pada solar water heater
tanpa kipas pendingin, namun pada kasus ini perpindahan panas yang
tertinggi pada plat putih dan kurva plat putih berada diatas kurva plat
hitam. Perpindahan panas radiasi ini bergantung pada nilai emisivitas
bahan, luas benda, dan irradiasi
Pada saat solar water heater menggunakan kipas pendingin, nilai
efisiensi solar water heater pada plat hitam sebesar 3.26% dan nilai
efisiensi pada plat putih sebesar 2.80%. Namun setelah dilakukan peratarataan didapatlah hasil efisiensi plat hitam sebesar 3.11% dan efisiensi plat
putih sebesar 0.64%. Pada saat solar water heater tidak menggunakan
kipas pendingin , nilai efisiensi solar water heater pada plat hitam sebesar
2.48% dan nilai efisiensi pada plat putih sebesar 3.24%. Namun setelah
dilakukan perata-rataan didapatlah hasil efisiensi plat hitam sebesar 3.24%
dan efisiensi plat putih sebesar 0.35%.
Dari data diatas dapat dibuktikan bahwa plat hitam memiliki efisiensi
perpindahan panas radiasi dibandingkan plat putih. Hal tersebut
dikarenakan plat hitam memiliki emisivitas yang tinggi sehingga mampu
menyerap panas yang dipancarkan oleh matahari, sedangkan pada plat
putih mungkin lebih banyak irradiasi yang dipantulkan kembali oleh plat
sehingga panas yang diserap relatif sedikit.

E. Perhitungan panas yang diserap oleh air


Dari proses perpindahan panas radiasi yang telah terjadi, maka akan
terjadi penyerapan panas dari kolektor menuju air dalam pipa alir. Panas
yang terjebak pada kolektor solar water heater akan berpindah menuju air.
Berikut ini adalah perhitungan panas yang diserap oleh air.
1. Dengan kipas pendingin
a. Plat putih
Ta

Ta.rata

Ta.out Ta.in

33.1oC - 31.5oC

1.6 C

9 gph

0.000009464 m3/s

Ta . out+Ta .
2

33.1o C+ 31.5o C
2

32.3oC

994.935 kg/m3

Cp@32.3oC =

4179 J/(kgC)

a@32.3oC

q =

m Cp Ta

= ( ) Cp Ta
= 0.000009464 m3/s x 994.935 kg/m3 x 4179 J/(kgC) x 1.6C
= 62.96 J/s

Tabel 2.11 Tabel hasil perhitungan panas yang diserap air pada plat putih dengan
kipas pendingin
b. Plat hitam
Ta

Ta.rata

Ta.out Ta.in

38.1oC 33.9oC

4.2 C

7 gph

0.000007361 m3/s

Ta . out+Ta .
2

38.1o C+33.9o C
2

36oC

993.69 kg/m3

Cp@32.3oC =

4091 J/(kgC)

a@32.3oC

q =

m Cp Ta

= ( ) Cp Ta
= 0.000007361 m3/s x 993.69 kg/m3 x 4091 J/(kgC) x 4.2C
= 125.68 J/s

Tabel 2.12 Tabel hasil perhitungan panas yang diserap air pada plat hitam dengan
kipas pendingin

2. Tanpa kipas pendingin


a. Plat putih
Ta

Ta.rata

Ta.out Ta.in

33.9oC 31.8oC

2.1C

7 gph

0.000007361 m3/s

Ta . out+Ta .
2

33.9 o C +31.8o C
2

32.85oC

994.757 kg/m3

Cp@32.3oC =

4179 J/(kgC)

a@32.3oC

q =

m Cp Ta

= ( ) Cp Ta
= 0.000007361 m3/s x 994.757 kg/m3 x 4179 J/(kgC) x 2.1C
= 64.26 J/s

Tabel 2.13 Tabel hasil perhitungan panas yang diserap air pada plat putih tanpa
kipas pendingin

b. Plat hitam
Ta

Ta.rata

Ta.out Ta.in

33.2oC 31.5oC

1.7 C

6.5 gph

0.000006309 m3/s

Ta . out+Ta .
2

33.2o C+ 31.5o C
2

32.35oC

994.919 kg/m3

Cp@32.3oC =

4179 J/(kgC)

a@32.3oC

q =

m Cp Ta

= ( ) Cp Ta
= 0.000006309 m3/s x 994.919 kg/m3 x 4179 J/(kgC) x 1.7C
= 44.60 J/s

Tabel 2.14 Tabel hasil perhitungan panas yang diserap air pada plat hitam tanpa
kipas pendingin

Dari perhitungan diatas dapat dilihat bahwa nilai panas yang diserap
oleh air yang mengalir pada kolektor solar water heater. Pada saat solar
water heater menggunakan kipas pendingin, besarnya kalor yang diserap
oleh air pada kolektor plat putih yaitu 62.96 J/s dan kalor yang diserap
oleh air pada kolektor plat hitam sebesar 125.68 J/s. Namun setelah
dilakukan perata-rataan didapatlah hasil jumlah kalor yang diserap pada
kolektor plat putih sebesar 77.74 J/s dan jumlah kalor ynag diserap pada
kolektor plat hitam sebesar 90,27J/s.
Pada saat solar water heater tidak menggunakan kipas pendingin,
besarnya kalor yang diserap oleh air pada kolektor plat putih yaitu 64.26
J/s dan kalor yang diserap oleh air pada kolektor plat hitam sebesar 44.60
J/s. Namun setelah dilakukan perata-rataan didapatlah hasil jumlah kalor
yang diserap pada kolektor plat putih sebesar 80.28 J/s dan jumlah kalor
ynag diserap pada kolektor plat hitam sebesar 71.01 J/s.

BAB III

3.1.

KESIMPULAN

Dari percobaan perpindahan panas radiasi pada solar heater yang telah
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa,
1. Titik yang memiliki pancaran irradiasi yang tinggi yaitu ketika titik
tersebut dekat dengan arah matahari dan tidak terhalangi oleh apapun.
2. Emisivitas suatu benda tergantung bahan benda dan warna benda
tersebut.
3. Benda yang memiliki emisivitas tinggi mampu menyerap panas lebih
baik.
4. Pancaran irradiasi terpengaruh dengan angin, awan, kelembaban dan
lainnya.
5. Temperatur air yang masuk ke kolektor solar water heater jika ada kipas
pendingin maka cenderung menurun namun jika tanpa kipas pendingin
maka temperature air cenderung naik.
6. Temperatur air yang keluar dari kolektor solar water heater jika ada kipas
pendingin maka cenderung stabil namun jika tanpa kipas pendingin maka
temperature air cenderung naik.
7. Plat hitam pada solar water heater memiliki efisiensi perpindahan panas
radiasi lebih baik dibanding plat putih

8. Efisiensi plat hitam 3.11% dan efisiensi plat putih sebesar 0.64% ketika
kipas pendingin aktif, namun pada saat tidak menggunakan kipas
pendingin efisiensi plat hitam 3.24% dan efisiensi plat putih sebesar
0.35%.
9. Panas yang diserap oleh air pada plat hitam 90,27 J/s dan yang diserap
oleh air di plat putih 77.74 J/s ketika kipas pendingin aktif. Pada saat
kipas pendingin tidak aktif, maka panas yang diserap air pada plat hitam
71.01 J/s. dan panas yng dieserap air pada plat putih 80.28 J/s.

3.2.

DAFTAR PUSTAKA
Cengel Y.A., 2003, Heat Transfer: A Practical Approach, Second
Edition, McGraw-Hill
Frank P. Incropera, David P. Dewitt, 2011, Fundamentals of Heat and
Mass Transfer, Seventh Edition, New York