Anda di halaman 1dari 6

F.

Pembahasan
Pratikum ini akan dibahas mengenai penentuan kadar trigliserida secara
kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui cara menentukan kadar trigliserida
secara enzimatik dengan metode GPO-PAP. Metode ini merupakan metode
enzimatik yang akan mengkatalisis pemecahan lemak menjadi asam lemak
dan gliserol yang nantinya akan menghasilkan serapan warna yang diukur di
alat.
Trigliserida merupakan lipid sederhana dan bentuk cadangan lemak dalam
tubuh manusia. Lebih dari 95% lemak dari makanan disimpan di dalam tubuh
dalam bentuk trigliserida. Adapun fungsi trigliserida di dalam tubuh untuk
menyediakan cadangan energi bagi berbagai metabolisme yang terjadi dalam
tubuh dan memfasilitasi transport energi serta makanan ke dalam sel-sel
tubuh.
Kolesterol adalah salah satu lemak tubuh yang berada dalam bentuk bebas
dan ester dengan asam lemak. Kolesterol termasuk komponen struktural vital
sebagai penyusun membran sel kolesterol berperan penting dalam menjaga
kelangsungan fungsi dari berbagai jaringan saraf dan darah.
Perbedaan antara trigliserida dan kolesterol adalah trigliserida disimpan
dalam sel lemak dibawah jaringan kulit sedangkan kolesterol disimpan
didalam hati dan pembuluh darah. Trigliserida menghasilkan energi yang lebih
besar dibandingkan kolesterol. Selain itu, kolesterol membangun sel-sel dan
hormon-hormon tertentu dalam tubuh.
Lipoprotein terbagi menjadi tiga jenis yaitu VLDL (Very Low Density
Lipoprotein), LDL (Low Density Lipoprotein), dan HDL (High Density
Lipoprotein). VLDL mentransport trigliserida dan kolesterol menjauhi hati
menuju jaringan untuk disimpan dan digunakan. LDL membawa 60-70 %
kolesterol plasma yang disimpan dijaringan adiposa dan otot polos dan juga
membawa kolesterol menjauhi hati. HDL membawa kolesterol kembali ke
dalam hati untuk dimetabolisme menjadi energi dan tidak untuk disimpan di
jaringan
Terdapat 3 jenis lemak dasar didalam darah, yaitu kolesterol, trigliserida
dan fosfolipid. Lemak yang bersumber dari makanan akan masuk ke dalam
tubuh mengalami proses metabolisme. Metabolisme lemak tinggi dalam darah

lebih baik dibandingkan kadar LDL dalam darah. Hal ini disebabkan semakin
banyak lemak atau kolesterol yang akan dimetabolisme menjadi eenergi
sehingga semakin sedikit lemak yang tersimpan dalam jaringan. Oleh karena
sifatnya lipofilik, lemak akan mengikat bagian membran sel yang juga bersifat
lipofilik sehingga akan terakumulasi dan dapat menyebabkan terjadinya plak
pada pembuluh darah yang dapat pula berakibat pada aterosklerosis.
Menurut American Association of Clinical Endocrinologists Guidelines
(2012), kadar normal untuk trigliserida adalah dibawah 150 mg/dL, sedangkan
kadar normal untuk HDL adalah lebih dari 60 mg/dL, dan kadar normal LDL
adalah 100-129 mg/dL.
Konsentrasi HDL yang tinggi di dalam darah dapat dihubungkan dengan
insidensi rendah terjadinya aterosklerosis yang memicu terjadinya penyakit
jantung koroner, sedangkan konsentrasi LDL yang tinggi terutama insidensi
tinggi terjadinya aterosklerosis, kadar trigliserida yang tinggi cenderung
disertai dengan tingginya kadar LDL sedangkan HDLnya cenderung rendah.
Kondisi seperti ini disebut dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan
metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi
lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar
kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida serta penurunan kadar
kolesterol.
Metabolisme lemak dan transport lemak dalam tubuh melibatkan
kilomikron dan lipoprotein. Adapun enzim yang berperan adalah lipoprotein
lipase kilomikron terbentuk dalam mukosa usus dari asam lemak dan gliserol,
sedangkan lipoprotein disintesis dihati. Enzim lipoprotein mengkatalisis
peruraian trigliserida dalam kilomikron untuk melepaskan asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dan gliserol berikatan menjadi trigliserida untuk
disimpan dalam jaringan adiposa. Sisa kilomikron yang kaya akan kolesterol
dibawa ke hati untuk dimetabolisme.
Prinsip dari pengujian yang dilakukan ini adalah hidrolisis enzimatik
dengan enzim lipoprotein lipase menjadi asam lemak dan gliserol, kemudian
gliserol mengalami fosforilasi oleh bantuan gliserol kinase menjadi gliserol-3fosfat dioksidasi menjadi hidrogen periksoda dan dihidroksi aseton fosfat.

Hidrogen peroksida bereaksi dengan 4-aminoantipirin membentuk quinoeimin


yang memiliki gugus kromofor dan dapat dibaca oleh semi automatic
chemistry analyzer. Prinsip dari alat ini adalah energi cahaya akan diubah
menjadi energi listrik oleh fotosel energi listrik yang dihasilkan besarnya
sebanding dengan kuat lemahnya sinar atau cahaya yang masuk sehingga
dapat terukur serapan zat warna pada quinonieimin.
Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian ini adalah penyiapan
sampel, sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah darah. Darah terdiri
dari dua bagian yaitu bagian plasma dan bagian serum. Perbedaan serum dan
plasma terletak pada fibrinogennya. Pada serum tidak terkandung fibrinogen
sehingga membuat darah sukar membeku, sedangkan plasma merupakan
bagian yang masih mengandung fibrinogen sehingga mudah untuk membeku.
Pengujian ini mengggunakan plasma karena pada plasma darah terdiri dari air,
elektrolit, protein, glukosa, lipid, asam amino, hormon, NaCl, dan produk
buangan metabolit seperti urea, asam urat dan kreatinin. Kandungan lipid yang
terdapat dalam plasma darah inilah yang membuat plasma darah digunakan
dalam percobaan ini. Hal ini disebabkan karena trigliserida merupakan salah
satu jenis lipid. Untuk mendapatkan plasma darah, maka sampel darah yang
telah didapatkan ditambahkan EDTA terlebih dahulu, kemudian disentrifugasi
selama10-15 menit. EDTA biasanya digunakan dengan konsentrasi 1-1,5
mg/ml darah. Tujuan dari ditambah EDTA adalah untuk menghambat
terjadinya pembekuan darah, sedangkan tujuan disentrifugasi adalah untuk
memisahkan campuran yang sulit dibedakan. Prinsip dari sentrifugasi adalah
pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal yang dihasilkan dari rotasi perputaran
sentrifuge, dimana berat jenis yang lebih besar akan mengendap sehingga
plasma yang memiliki berat jenis yang paling kecil akan berada pada bagian
atas campuran darah.
Langkah selanjutnya yaitu pengujian sampel yang dilakukan dengan cara
disiapkan tiga tabung reaksi kemudian masing-masing tabung diisi dengan
bahan yang berbeda, pada tabung pertama diisi dengan reagen R 1 dan
aquabidest, pada tabung kedua diisi dengan reagen R 1 dan standar trigliserida,
sedangkan pada tabung ketiga diisi dengan reagen R1 dan sampel plasma

darah. Tabung 1 digunakan sebagai blanko yaitu sebagai pembanding dengan


larutan standar dan larutan sampel. Aquabidest yang ditambahkan bertujuan
untuk melarutkan reagen dimana aquabidest memiliki kemurnian yang tinggi
sehingga pembacaan absorbansi pada blanko lebih akurat. Tabung 2
digunakan sebagai larutan standar yang merupakan larutan yang memiliki
kadar trigliserida normal dan sebagai pembanding, sedangkan tabung 3
digunakan sebagai larutan uji yang akan diukur kadar trigliseridanya. Setelah
itu, diinkubasi selama 10 menit dan diukur kadarnya dengan alat semi
automatic chemistry analyzer pada panjang gelombang 546 nm.
Reagen yang digunakan pada percobaan ini adalah reagen R1 yang berisi
buffer PIPES pH 7,5 , 4-klorfenol, 4-ammoantipyrin ion Magnesium, ATP,
Lipase, peroksidase, gliserol kinase dan gliserol 3-fosfat oksidae. Buffer pada
reagen ini digunakan untuk mempertahankan pH darah. Campuran reagen dan
larutan diinkubasi di alat selama 10 menit pada suhu 37 C. hal ini dilakukan
untuk mengoptimalkan kerja enzim karena pada suhu 37 C enzim dapat
bekerja dengan optimum. Sedangkan isi-isi pereaksi lain yang terkandung
dalam reagen R1, berfungsi dalam membantu reaksi yang terjadi pada
pengukuran kadar trigliserida dimana enzim lipase berfungsi untuk
memperantarai hidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam-asam lemak.
Selanjunya gliserol ini akan mengalami fosfatase dengan bantuan enzim
gliserol kinase yang akan menghasilkan gliserol-3-fosfat, kemudian gliserol-3fosfat akan dioksidasi menghasilkan dihidroksi-aseton-fosfat dan hidrogen
peroksida (H2O2). Pada tahap selanjutnya, hidrogen peroksida inilah yang akan
bereaksi dengan 4-aminoantipirin dan 4-klorofenol dengan bantuan enzim
peroksidase membentuk kompleks kunonimin yang berwarna merah muda
yang kemudian dapat diukur secara fotometrik.
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil pada sampel 1 dengan berat
badan 47 kg memiliki kadar trigliserida 110,12 mg/dL, pada sampel 2 dengan
berat badan 58 kg memiliki kadar trigliserida 743,92 mg/dL, sedangkan pada
sampel 3 dengan berat badan 40 kg memiliki kadar trigliserida 63,49 mg/dL.
Apabila dibandingkan dengan kadar trigliserida normal yang berada dibawah

150 mg/dL maka sampel 1 dan 3 berada pada rentang normal. Sedangkan pada
sampel 2 kadarnya melebihi normal.
Faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya kadar trigliserida yaitu
mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak jenuh, berat badan
yang berlebihan, seringnya mengkonsumsi minuman beralkohol. Contoh
lemak jenuh yaitu lemak yang berasal dari hewani yang cenderung bentuknya
padat karena tidak memiliki ikatan rangkap sedangkan lemak tak jenuh yaitu
lemak nabati seperti minyak kelapa cenderung bersifat cair karena memiliki
ikatan rangkap yang banyak sehingga mengkonsumsi makanan lemak jenuh
tinggi dalam tubuh dapat tertimbun di sel-sel jaringan pembuluh darah yang
dapat menyebabkan plak di dinding pembuluh darah. Tingginya kadar
trigliserida merupakan faktor resiko terjadinya arterosklerosis, penyempitan
pembuluh darah akibat penumpukan plak sehingga aliran darah terhambat,
apabila terjadi pada pembuluh darah koroner maka akan dapat menyebabkan
terjadinya penyakit jantung koroner karena darah tidak dapat mensuplai
oksigen yang cukup ke jantung sehingga jaringan tersebut akan menurun
fungsinya. Plak yang telah menumpuk sewaktu-waktu dapat pecah dan
berpindah ke pembuluh darah lain karena terbawa aliran darah dan dikenal
sebagai emboli. Peningkatan kadar trigliserida yang tinggi juga dapat
menyebabkan penyakit hipertensi, maupun hyperlipidemia. Hiperlipidemia
merupakan penyakit yang banyak terjadi saat ini dan erat kaitannya dengan
peningkatan resiko jantung koroner. Aterosklerosis sendiri merupakan
gangguan pembuluh darah koroner yang diakibatkan penimbunan plak lipid
dalam dinding arteri.
Cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar trigliserida yaitu
mengkonsumsi makanan yang tinggi protein dan rendah lemak, mengurangi
kebiasaan minum minuman beralkohol, mengkonsumsi makanan yang
mengandung serat tinggi seperti buah-buahan dan sayuran serta aktivitas fisik
dan olahraga yang teratur.
Manfaat penentuan kadar trigliserida adalah untuk diagnosa gangguan
metabolit lipid, menentukan kadar trigliserida dan kolesterol total pada

penderita diabetes dan mencari hubungan antara kadar trigliserida dengan


penyakit jantung.