Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I
Pendahuluan

A. Deodoran
Deodoran atau dalam istilah asingnya deodorant atau deodorizer adalah
suatu zat yang digunakan untuk menyerap atau mengurangi bau menyengat.
Ada 2 prinsip kerja produk :
1. Antiperspirant
Mengurangi keluarnya keringat dengan cara mengecilkan pori-pori kulit.
Bahan yang biasa digunakan adalah Aluminum Chlorohydrate (ACH) pada
roll on dan Aluminium Zirconium Tetrachlorohydrex Gly pada powder stick.
2. Deodorant
Mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Formula anti
bakteri yang sangat efektif untuk mengurangi bau badan adalah o-Cymen-5OL dan Triclosan. Tambahan pewangi tubuh yang berfungsi menutupi bau
badan.
B. Bentuk-bentuk deodorant
Deodoran memiliki beberapa bentuk, ada yang cair ada pula yang padat.
Untuk penggunaan kebersihan tubuh misalnya, deodoran digunakan pada
bagian permukaan tubuh tertentu untuk menghilangkan bau tidak sedap.
Karena kebanyakan bau tidak sedap dari tubuh disebabkan oleh aktifitas
bakteri pada kulit, ke dalam deodoran biasanya ditambahkan pula zat
antiseptik, yang berfungsi untuk membunuh bakteri penyebab bau.Batubara
aktif dan silika gel menghilangkan bau dari udara dengan cara menyerapnya
ke permukaan aktifnya.

Ada pula beberapa deodoran yang menghilangkan bau dengan cara


bereaksi dengan senyawa penyebab bau. Salah satu contohnya adalah klorofil.
Ada juga glikol yaitu deodoran sekaligus disinfektan yang biasanya
disemprotkan saat digunakan untuk menyerap bau dari udara.
C. Jenis-jenis Deodorant
Bentuknya bubuk berwarna putih. Lebih banyak dikemas
BEDAK
STICK BIASA
AEROSIL
ROLL ON

dalam bentuk sachet.


Bentuk padat transparan berwarna. Wangi kuat, terasa dingin
saat digunakan dikulit. Dikemas dalam botol plastik.
Bentuk cair, dikemas dalam kaleng aluminium. Wangi kuat.
Biasanya disebut juga Deodorant Perfume Spray.
Bentuk cair, biasanya berwarna putih. Dikemas dalam
kemasan botol plastik ataupun kaca. Wanginya kuat. Bola
roll-on sebagai media pengoles. Cara pakai : Oleskan di
ketiak.
Isi padat berwarna putih. Wangi lembut. Dikemas dalam botol

STICK POWDER
LOTION

plastik.
Bentuk krim lotion, biasanya berwarna putih, dikemas dalam
sachet. Wangi lembut.

BAB II
Sedian Aerosol

A. Pengertian
Aerosol merupakan istilah yang digunakan untuk sediaan semprotan kabut
tipis dari sistem bertekanan tinggi. Sering disalah artikan pada semua jenis
sediaan bertekanan, sebagian diantaranya melepaskan busa atau cairan
setengah padat.
Menurut FI III, aerosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih
zat berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan, berisi propelan atau
campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis,
dapat digunakan untuk obat luar atau obat dalam dengan menggunakan
propelan yang cukup.
Menurut FI IV, aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas dibawah
tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat sistem katup
yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaiaan topical pada
kulit dan juga pemakaiaan local pada hidung ( aerosol nasal ), mulut ( aerosol
lingual ) atau paru-paru ( aerosol inhalasi ) ukuran partikel untuk aerosol
inhalasi harus lebih kecil dari 10 mm, sering disebut juga inhaler dosis
turukur . Aerosol Busa adalah emulsi yang mengandung satu atau lebih zat
aktif, surfaktan, cairan mengandung air atau tidak, dan propelan.
Dalam literatur lain, aerosol adalah suatu sistem koloid lipofob (hidrofil),
dimana fase eksternalnya berupa gas atau campuran gas dan fase internalnya
berupa partikel zat cair yang terbagi sangat halus atau partikel-partikelnya
tidak padat, ukuran partikel tersebut lebih kecil dari 50 mm. jika partikel
internal terdiri dari partikel zat cair, system koloid itu berupa awan atau

embun. Jika partikel internal terdiri ndari partikel zat padat, system koloid itu
berupa asap atau debu.
Beberapa keistimewaan aerosol farmasi yang dianggap menguntungkan
lebih dari bentuk sediaan lain adalah sebagai berikut :
1. Sebagian obat dapat dengan mudah diambil dari wadah tanpa sisanya
menjadi tercemar atau terpapar.
2. Berdasarkan pada wadah aerosol yang kedap udara, maka zat obat
terlindung dari pengaruh yang tidak diinginkan akibat O2 dan kelembapan
udara.
3. Pengobatan topikal dapat diberikan secara merata, melapisi kulit tanpa
menyentuh daerah yang diobati.
4. Dengan formula yang tepat dan pengontrolan katup, bentuk fisik dan
ukuran partikel produk yang dipancarkan dapat diatur yang mungkin
mempunyai andil dalam efektivitas obat; contohnya, kabut halus yang
terkendali dari aerosol inhalasi.
5. Penggunaan aerosol merupakan proses yang bersih, sedikit tidak
memerlukan pencucian oleh pemakainya.
6. Mudah digunakan dan sedikit kontak dengan tangan
7. Bahaya kontaminasi tidak ada karena wadah kedap udara
8. Iritasi yang disebabkan oleh pemakaian topikal dapat dikurangi
9. Takaran yang dikehendaki dapat diatur
10. Bentuk semprotan dapat diatur
Kerugian bentuk sediaan aerosol dalam bentuk MDI (Metered Dose
Inhalers) :
1. MDI biasanya mengandung bahan obat terdispersi dan masalah yang
sering timbul berkaitan dengan stabilitas fisiknya
2. Seringnya obat menjadi kurang efektif
3. Efikasi klinik biasanya tergantung pada kemampuan pasien menggunakan
MDI dengan baik dan benar.

B. Jenis system aerosol


1. System 2 fase (gas dan cair)

Terdiri atas larutan zat aktif dalam propelan cair dan propelan bentuk uap.
Sebagai Pelarut digunakan

etanol, propilenglikol, PEG untuk menambah

kelarutan zat aktif. Fase gas dan fase cair atau fase gas dan fase padat untuk
aerosol yang berbentuk serbuk. Fase cair dapat terdiri dari komponen zat
aktif / campuran zat aktif dan propelan cair / komponen propelan yang
dilarutkan di dalamnya. Yang termasuk system ini antara lain yaitu :
a. Aerosol ruang ( space sprays) : insektisida, deodorant
b. Aerosol pelapis permukaan ( surface coating sprays ) : cat, hair sprays
Aerosol system dua fase ini beroperasi pada tekanan 30 40 p.s.i.g
( pounds per square in gauge ) pada suhu 21C.
2. System 3 fase (gas, cair, padat atau cair)
Terdiri dari suspense atau emulsi zat aktif, propelan cair dan uap propelan.
Suspense terdiri dari zat aktif yang dapat di dispersikan dalam system
propelan dengan zat tambahan yang sesuai seperti zat pembasah atau bahan
pembawa padat seperti talk dan silica koloida. Aerosol system 3 fase ini
beroperasi pada tekanan 15 p.s.i.g ( pounds per square in gauge) pada suhu
21C.
C. Contoh formulasi deodorant aerosol
Formula 1
a.
b.
c.
d.
e.

SD Alcohol 40
Propylene glycol
Larutan Alumunium Klorohidrat 50%
Air deionisasi
Parfum

50 %
3.5 %
40 %
6.5 %
q.s.

Formula 2
a. Al chlorhydrate mikronized

4,5%

b. Isopropil myristate

3,7%

emolien,melktkan
c. Fumed silica

0,15%

agent
d. Perfume
e. Propellants

qs
ad 100%

BAB III
Alkohol Dalam Deodorant

suspending

Alkohol merupakan suatu bahan yang mempunyai efek farmakologi dan


cenderung menimbulkan ketergantungan serta berinteraksi dengan obat lain
(Guntur M, 2004). Turunan alkohol dapat digunakan untuk antiseptik pada
pembedahan dan pada kulit, misalnya etanol dan isopropyl alcohol.
Dalam sediaan deodorant, etanol berperan sebagai bahan pendingin, dan
agen pelarut, membantu menstabilkan emulsi dan dapat mengurangi iritasi bahan
pendingin, dan agen pelarut.
Alcohol SD-40 terkadang ditulis dengan SD Alcohol 40 atau SDA-40. Ini
adalah alkohol kadar tinggi untuk kosmetik yang telah dimurnikan. Menguap
secara cepat, sehingga bisa digunakan sebagai penyalur bahan-bahan penting yang
dibutuhkan permukaan kulit. Lebih lembut bagi kulit dibanding ethyl alcohol.
Bisa membantu membunuh bakteri. SD alkohol-40 biasanya mengacu pada
isopropil alkohol, yang terdapat di banyak produk jerawat sebagai kontrol basa.
Efek pengeringan diperkirakan mengurangi produksi minyak yang berkontribusi
terhadap jerawat sehingga alkohol dapat bertindak untuk mensterilkan kulit.
Apabila kandungan alkohol pada deodorant terlalu tinggi, bahayanya
adalah pada iritasi, kemerahan serta gatal-gatal, bahaya yang bisa langsung
dialami tanpa menunggu lama.
Selain itu beberapa produk memang dalam bentuk aerosol. Memang lebih
praktis dan sederhana dalam penggunaannya. Namun, biasanya produk-produk
aerosol ini mengandung alcohol dimana kandungan aluminium dan antiperspiran
aktif lainnya tidak begitu saja larut dalam alkohol. Ini yang biasanya membuat
efek cepat kering dan dingin pada kulit. Hal ini mempermudah bakteri untuk
tumbuh lebih cepat.