Anda di halaman 1dari 32

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

TINJAUAN UMUM DAN PERMASALAHAN SILIKA PADA


LAPANGAN PANASBUMI PT. GEO DIPA ENERGI UNIT I
DIENG, WONOSOBO, JAWA TENGAH

DISUSUN OLEH:
RACHMAT KURNIAWAN DITA UGA
BASITH FURQON PRASETYO HADI

113120016
113120060

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2014

HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL KERJA PRAKTEK
TINJAUAN UMUM DAN PERMASALAHAN SILIKA PADA
LAPANGAN PANASBUMI PT. GEO DIPA ENERGY UNIT I
DIENG, WONOSOBO, JAWA TENGAH

Diajukan untuk memenuhi persyaratan kerja praktek (KP) guna melengkapi


kurikulum akademik Program Studi Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

RACHMAT KURNIAWAN DITA UGA

113120016

BASITH FURQON PRASETYO HADI

113120060

Yogyakarta, Desember 2014


Menyetujui,
Koordinator Kerja Praktek
Program Studi Teknik
Perminyakan
Fakultas Teknologi Mineral
UPN Veteran Yogyakarta

Dewi Asmorowati, ST

TINJAUAN UMUM DAN PERMASALAHAN SILIKA PADA


LAPANGAN PANASBUMI PT. GEO DIPA ENERGY UNIT I
DIENG, WONOSOBO, JAWA TENGAH

I.

LATAR BELAKANG
Kerja praktek (KP) merupakan salah satu Mata Kuliah Keilmuan dan
Ketrampilan (MKK) dalam sistem kurikulum akademik yang telah ditetapkan
oleh Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral,Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, dituangkan dalam salah satu mata
kuliah dengan bobot akademik 3 SKS yang harus ditempuh oleh mahasiswa
Teknik Perminyakan program studi Strata-1 (S-1) di Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta.
Kerja praktek (KP) pada dasarnya merupakan aplikasi dari semua ilmu yang
telah didapatkan dari bangku kuliah dan kemudian diterapkan pada kondisi yang
nyata di lapangan.
Kerja praktek (KP) merupakan sebagian visualisasi dari mata kuliah yang
telah ditempuh seperti: penggerak mula, geohidrologi & hidrothermal,
teknikreservoir panasbumi, dan teknik produksi panasbumi.
Adapun tujuan dari Kerja Praktek (KP) adalah memberikan gambaran nyata
kondisi di lapangan, baik yang secara teori telah diperoleh selama mengikuti
kuliah maupun contoh aktivitas nyata yang nantinya akan dihadapi oleh
mahasiswa sebagai calon decision maker di lapangan dan sebagai studi banding
antara teori yang selama ini dipelajari dengan keadaan nyata di lapangan.
Perkembangan ilmu dan teknologi (IPTEK) dalam dunia industry
panasbumi yang semakin canggih, menuntut mahasiswa Teknik Perminyakan
untuk memahami aplikasi dari teori-teori yang telah dipelajari dan mengetahui
perkembangan

teknologi

tersebut,

khususnya

pada

aspek

reservoir

panasbumi,aspek pemboran panasbumi, aspek penyelesaian sumur (well


completion).

Pada tahap eksploitasi dalam industri panas bumi terdapat berbagai


permasalahan yang dihadapi. Permasalahan yang biasanya terjadi diantaranya
scale, korosi dan abrasi pada peralatan, kekurangan massa uap (superheated)
akibat kurangnya air dalam reservoir, dan lain sebagainya.
Energi panasbumi adalah energi yang diambil melalui sumur bor hingga
mencapai reservoir yang mengandung air meteoril yang telah dipanaskan oleh
interusi magma melalui sistem konveksi-konduksi.Penggunaan sumber panasbumi
ini melibatkan pendinginan fluida panasbumi. Fluida ini mengandung berbagai
spesi terlarut (hampir mencapai jumlah 300 g/kg dari total fluida) dan gas terlarut,
dimana bila terjadi perubahan kondisi termodinamika dapat terjadi proses
pengerakan, korosi bahkan menyebabkan masalah lingkungan seperti emisi gas
dan cairan buangan.
Proses scalling merupakan masalah utama dalam pengembangan energi
panasbumi yang didapatkan setelah pemisahan gas, biasanya dalam keadaan lewat
jenuh oleh silica. Dimana kerak tersebut dapat terbentuk di dalam sumur dan
peralatan proses produksi. Timbulnya kerak sebagian besar disebabkan oleh
pengendapan silica sehingga uji pengendapan silica dapat digunakans sebagai
indikasi kemungkinan pembentukan kerak pada air panasbumi.
Kemudian apabila silica ini terus meningkat kuantitas jumlahnya seiring
dengan naiknya temperature, maka dikhawatirkan dapat menurunnya jumlah
kapasitas produksi pada saat proses produksi dilakukan. Sehingga perlunya
penanganan serius untuk mencegah atau paling tidak mengurangi proses
pengerakan silica pada fluida panasbumi. Selain itu, pengerakan silica dapat
menimbulkan kehilangan energi dan kerusakan dini yang disebabkan oleh
penyumbatan

pada

peralatan

produksi

(contohnya

pipa)

yang

dapat

membahayakan proses produksi sehingga dapat meningkatkan biaya operasional.


Proses pengerakan silica juga dipengaruhi oleh jenis reservoir sistem
hidrotermal yang dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan, tergantung
pada kadar uap yang terkandung. Berdasarkan fasanya, reservoir panasbumi dapat
dikelompokan menjadi reservoir satu fasa dan dua fasa. Yang termasuk dalam satu

fasa adalah warm water, hot water, dan superheated steam. Sedangkan reservoir
dua fasa adalah liquid dominated dan vapour dominated.

II.

TUJUAN DAN MANFAAT

2.1. Tujuan
1.

Mempelajari keterampilan dan teknik yang relevan dengan tujuan


profesi.

2.

Mengetahui secara langsung bentuk, fungsi maupun cara kerja dari


peralatan yang digunakan dalam industri panasbumi.

3.

Menambah pengalaman praktek lapangan dan mampu mengaplikasikan


semua teori yang diperoleh dari bangku kuliah dengan kondisi nyata di
lapangan, sehingga pada nantinya dapat digunakan sebagai bekal ilmu
di kemudian hari.

2.2. Manfaat
Dapat mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah didapatkan dari
perkuliahan penggerak mula, geohidrologi & hidrothermal, teknik reservoir
panasbumi, teknik produksi panasbumi dan seluruh praktikum yang telah
didapatkan dengan kondisi nyata di lapangan dan dapat mengetahui secara
langsung tentang pelaksanaan operasi dan kegiatan dalam industri panasbumi
serta untuk menambah wawasan pengetahuan.

III. TINJAUAN PUSTAKA


Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi lapangan panasbumi pada dasarnya
hampir sama dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pada lapangan
migas.Kegiatan yang dilakukan pada panasbumi meliputi : analisa reservoir
panasbumi,pemboran sumur panasbumi, penyelesaian sumur (well completion)
panasbumi,produksi dan pengelolaan fluida produksi panasbumi.

Indonesia
1194 MW

Gambar 1. World Geothermal Installed Capacity

Gambar 2. Potensi Geothermal Indonesia

3.1. Aspek Reservoir Panasbumi


3.1.1. Tinjauan Umum Sistem Reservoir Panasbumi
Secara umum reservoir panasbumi dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga)
jenis, yaitu:

Hydrothermal System.
Geopressure Accumulation.
Hot Dry Rock.

Gambar 3. Ilustrasi Sistem Geothermal


Reservoir hydrothermal system mempunyai 4 (empat) unsur utama, yaitu:
o Fluida reservoir (uap dan air panas).
o Lapisan berpori dan rekahan/rongga sebagai tempat terakumulasinya fluida.
o Lapisan kedap alir (impermeable) yang berfungsi sebagai penutup atau
pencegah mengalirnya fluida yang terakumulasi (cap rock).
o Sumber panas (hot source).
Temperatur reservoir panasbumi relatif sangat tinggi. Berdasarkan pada
besarnya temperatur, Hochstein (1990) membedakan sistem panasbumi menjadi 3
(tiga) bagian, yaitu:

1. Sistem panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistem yang reservoirnya


mengandung fluida dengan temperatur < 125 C.
2. Sistem panasbumi bertemperatur sedang, yaitu suatu sistem yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur antara 125 225 C.
3. Sistem panasbumi bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistem yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur > 225 C.
3.1.2. Klasifikasi Reservoir Panasbumi Berdasarkan Jumlah Fasa
3.1.2.1. Sistem Satu Fasa
Pada sistem ini reservoir pada umumnya berisi air yang mempunyai
temperatur 90-180 0C dan tidak terjadi pendidihan bahkan selama eksplorasi.
3.1.2.2. Sistem Dua Fasa
3.1.2.2.1. Sistem Dominasi Uap (Vapour Dominated System)
Pada kondisi ini didalam reservoir terdapat akumulasi uap (vapour) yang
lebih dominan dibandingkan dengan air (water) sehingga diperkirakan uap panas
mengisi rongga-rongga batuan reservoir, saluran terbuka maupun rekahanrekahan, sedangkan fasa cair mengisi pori-pori batuan. Karena jumlah air yang
terkandung didalam pori-pori relatif sedikit, maka saturasi air mungkin sama atau
hanya sedikit lebih besar dari saturasi air konat (Swc) sehingga air terperangkap
dalam pori-pori batuan dan tidak bergerak. Pada sistem ini tekanan dan
temperature umumnya relatif tetap terhadap kedalaman.
3.1.2.2.2. Sistem Dominasi Air (Water Dominated System)
Pada kondisi ini didalam reservoir terdapat akumulasi air (water) yang lebih
dominan dibandingkan uap (vapour) sehingga diperkirakan fasa cair mengisi
rongga-rongga, saluran terbuka maupun rekahan-rekahan. Pada sistem ini baik
tekanan maupun temperatur tidak konstan terhadap kedalaman.
3.1.3. Sifat Fisik Batuan Reservoir

Sebagian besar reservoir panasbumi terdapat pada batuan vulkanik dengan


aliran utama melalui rekahan. Sifat fisik batuan yang utama, antara lain:
o Porositas ()
Reservoir panasbumi umumnya ditemukan pada batuan rekah alami, dimana
batuan tersebut terdiri dari rekahan-rekahan , rongga-rongga atau pori-pori. Fluida
panasbumi tidak hanya terdapat dalam pori-pori saja tetapi juga terdapat pada
rekahan-rekahan. Volume rongga-rongga atau pori-pori batuan tersebut umumnya
dinyatakan sebagai fraksi dari volume total batuan dan didefinisikan sebagai
porositas (). Secara matematis porositas dapat dinyatakan sebagai berikut :
=

Vpori-pori
Vbatuan

Dimana V pori-pori adalah volume pori-pori batuan dan batuan V adalah


volume total batuan.
Porositas batuan reservoir panasbumi biasanya dibedakan menjadi 2 (dua)
yaitu porositas rekahan dan porositas antar butir (matriks batuan). Reservoir
panasbumi umumnya mempunyai porositas matriks 3-25% sedangkan rekahannya
dapat memiliki porositas sebesar 100%.
o Permeabilitas (k)
Permeabilitas batuan merupakan ukuran kemampuan suatu batuan untuk
dapat mengalirkan fluida.Permeabilitas merupakan parameter penting untuk
menentukan kecepatan alir fluida didalam batuan berpori dan dalam batuan rekah
alami. Parameter ini dihubungkan dengan kecepatan alir fluida pada hukum Darcy
seperti dibawah ini :
v=

k dp
dx

( )

Dari persamaan ini dapat dinyatakan bahwa kecepatan alir fluida(kecepatan


flux) berbanding lurus dengan k/ (mobility ratio).

Permeabilitas didalam panasbumi dinyatakan dalam satuan m2, dimana


1Darcy besarnya sama dengan 10-12 m2. Besarnya permeabilitas batuan tidak sama
kesegala arah (anisotropy) , umumnya permeabilitas pada arah horizontal jauh
lebih besar daripada arah vertikal.Batuan reservoir panasbumi pada umumnya
mempunyai permeabilitas matriks batuan sangat kecil, yaitu antara 1-100 mD dan
transmisivitas (hasil kali permeabilitas dengan ketebalan) antara 1-100 Dm
(Darcymeter).
o Densitas Batuan ()
Densitas batuan adalah perbandingan antara berat batuan dengan dengan
volume dari batuan tersebut. Sedangkan densitas spesifik (spesific density) adalah
perbandingan antara densitas batuan terhadap densitas air padatekanan dan
temperatur normal.
o Konduktivitas Panas Batuan (K)
Konduktivitas

panas

adalah

besarnya

kemampuan

batuan

untuk

menghantarkan panas dengan cara konduksi pada suatu gradien thermal.Secara


matematis konduktivitas panas diyatakan sebagai berikut :
K=

Q
dT
dZ

( )

Dimana Q adalah laju aliran panas per satuan luas dan

dT
dz

adalah

gradien temperatur. Konduktivitas panas suatu batuan tidak hanya ditentukan oleh
jenis batuan ataupun mineral-mineral penyusunnya, tetapi juga ditentukan oleh
struktur kristal yang membentuk batuan tersebut. Hal ini menyebabkan panas
merambat dengan laju yang berbeda kearah yang berlainan. Keanekaragaman sifat
konduktivitas panas batuan diperkirakan tidak hanya karena susunan ion dari
suatu struktur kristal, tetapi juga orientasi dari masing-masing butiran mineral.
o Panas Spesifik Batuan

Panas

spesifik

batuan

adalah

suatu

parameter

yang

menyatakan

banyaknyapanas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur satu satuan massa


batuan sebesar 1C.
Panas spesifik batuan umumnya mempunyai harga sebagai berikut :
o Pada temperatur rendah

kJ
: 0,75-0,85 kg

o Pada temperatur sedang

kJ
: 0,85-0,95 kg

o Pada temperatur tinggi

kJ
: 0,95-1,10 kg

3.1.4. Sifat Fisik Fluida Reservoir


o

Volume Spesifik
Volume spesifik fluida adalah perbandingan antara volume dengan massa

kg
dari fluida tersebut. Satuan dari volume spesifik adalah m 3 . Volumespesifik air
(vf) dan uap (vg) tergantung dari besarnya tekanan dantemperatur dimana
harganya dapat dilihat pada steam table.
o

Densitas
Densitas fluida adalah perbandingan antara massa dengan volume darifluida

tersebut. Satuan densitas adalah

kg
m 3 , Densitas air (f) dan uap (g) tergantung

dari besarnya tekanan dan temperatur dimana harganyaditentukan dari harga


volume spesifik, yaitu sebagai berikut :
o

Energi Dalam (u)

Energi dalam merupakan parameter yang menyatakan banyaknya panas


yang terkandung didalam suatu fasa per satuan massa. Satuan dari energi dalam
adalah

kJ
kg . Besarnya energi dalam uap (ug) dan energi dalam air(uf) juga

tergantung dari tekanan dan temperatur yang harganya dapatdilihat pada steam
table.
o Enthalpi
Enthalpi adalah jumlah dari energi dalam (u) dengan energi yang dihasilkan
oleh kerja tekanan. Hubungan antara energi dalam dengan enthalpi adalah :
hf = uf +

vf

kJ
Satuan dari enthalpi adalah kg . Besarnya enthalpi uap (hg) dan enthalpy air
(hf) juga tergantung dari tekanan dan temperatur yang ditentukan dari steam table.
o Panas Laten (hfg)
Panas laten adalah panas yang diperlukan untuk mengubah satu satuan
massa air pada kondisi saturasi (jenuh) menjadi 100% uap. Satuan dari panas
kJ
latent adalah kg .dimana besarnya juga tergantung dari tekanan dan temperatur
yang ditentukan dari steam table.
o Entropi (s)
Seperti sifat thermodinamika lainnya, entropi juga tergantung dari tekanan
dan temperatur yang ditentukan dari steam table.
o Viskositas

Viskositas adalah ukuran keengganan suatu fluida untuk mengalir.


Viskositas dibedakan menjadi dua, yaitu viskositas dinamik (g) dan viskositas
kinematik (v). Viskositas kinematis adalah viskositas dinamis dibagi dengan
densitasnya, yaitu:
v=

Viskositas juga tergantung dari tekanan dan temperatur dan harganya ditentukan
dari steam table.
3.1.5. Potensi Reservoir Panasbumi
Untuk menentukan potensi suatu reservoir panasbumi dapat menggunakan 2
(dua) cara, yaitu:
1. Analisa Numerik
Penentuan potensi suatu lapangan dengan analisa numerik (simulasi
reservoir) dilakukan dengan cara :

Membuat suatu model reservoir yang diharapkan dapat mencerminkan atau


mewakili kondisi sebenarnya, melalui :
o Membuat struktur grid, dimana model dibagi menjadi beberapa blok.
o
Membuat penyebaran permeabilitas, dimana distribusi permeabilitas
didalam model mencerminkan kondisi lapangan.
o Membuat kondisi boundary, dimana pada kondisi ini dapat dipisahkan
antara cap rock, permeable zone dan kondisi reservoir.
o Membuat model panas dan massa yang terproduksikan serta berapa

banyak fluida yang diinjeksikan.


Natural state, dimana model yang digunakan harus dapat menyerupai kondisi

reservoir sebenarnya.
Melakukan history matching.
Memperkirakan pengembangannya.
2. Mass and Heat in Place

Didalam proses estimasi cadangan panasbumi pada suatu reservoir ataupun


suatu lapangan, yaitu dengan cara menghitung mass and heat inplace dengan
anggapan reservoir mengandung fluida air dan uap, maka massa fluida dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
M=AH { Sww + ( 1-Sw ) v }
Dimana :
A = luas area, m2
H = ketebalan reservoir, m
= porositas
Sw = saturasi air

kg
w = densitas air kondisi reservoir, m 2
kg
v = densitas uap pada kondisi reservoir, m 2
Sedangkan heat in place dalam fluida reservoir dapat dihitung dari massa fluida
dan enthalpi.
Qv=Mv hv

dan
Qw=Mw hw
Dimana :

Qv = panas dalam uap, kJ


Qw = panas dalam air, kJ
kJ
hv = enthalpi uap, kg

kJ
hw = enthalpi air, kg

Initial heat in place dalam reservoir batuan dapat dihitung dari volume reservoir,
porositas, kapasitas panas batuan dan temperatur reservoir.
Qr=AH(1- )Ct tr
Dimana :

A = luas reservoir, m2
H = ketebalan reservoir rata-rata, m
kJ
Cr = kapasitas panas batuan, kg
t = temperatur initial diatas reference temperatur, 0C
kJ
r = densitas batuan, m 3

3.2. Aspek Pemboran Panasbumi


Proses pemboran sumur panasbumi pada umumnya secara teknis tidak
jauhberbeda dengan pemboran pada sumur migas. Perbedaannya terletak pada :
Perangkat pemboran untuk sumur panasbumi dilengkapi dengan cooling
tower, yang berfungsi untuk mendinginkan fluida (lumpur) pemboran yang
keluar dari sumur, sehingga diharapkan tidak terjadi perubahan karakteristik

fluida (lumpur) pemboran tersebut.


Batuan yang ditembus pada umumnya berupa batuan beku (vulkanik).
Perlengkapan tambahan seperti blower dan gas monitoring, karena pada
pemboran panas bumi sering dijumpai adanya gas beracun, seperti : H2S,

CO2 dan CO.


Target pemboran adalah zona rekahan/loss yang pada umumnya diakibatkan
oleh patahan dengan temperatur reservoir sudah mencapai 250 0C.
Jenis pemboran yang secara umum dilakukan pada lapangan

panasbumi,antara lain :
Pemboran tegak (vertical drilling).
Pemboran berarah (directional drilling).
Susunan pipa selubung (casing) pada sumur panasbumi pada umumnya
terdiri dari :
o Casing 30 inch (stove pipe) dari kedalaman 0-25 meter.
o Casing 20 inch dari kedalaman 25-150 meter.

o
o

3
Casing 13 8 inch dari kedalaman 150-450 meter.

5
Casing 9 8
o

inch dari kedalaman 450-1350 meter.

Casing 7 inch dari kedalaman 1350-kedalaman akhir.


Casing 7 inch yang digunakan untuk sarana memproduksikan fluida

panasbumi dari formasi kedalam lubang sumur sebagian berlubang (slotted


liner),dimana penempatannya ditentukan dari data pemboran dan didalam zona
produksi dimana terjadi hilang sirkulasi secara total (total loss circulation).

Gambar 4. Contoh Profil Sumur Geothermal


Fluida (lumpur) pemboran yang digunakan pada pemboran sumur
panasbumi adalah lumpur HPHT (High Pressure & High Temperature) dengan

bahan dasar air (water base mud). Pada fluida (lumpur) pemboran tersebut sering
ditambahkan penetral sulfida untuk mengurangi pengaruh gas H2S yang sering
dijumpai pada daerah panasbumi dan berguna untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya korosi pada rangkaian pipa pemboran (drill string).
Pada saat proses pemboran telah mencapai zona produksi dan terjadi hilang
sirkulasi

(total

loss

circulation),

maka

pemboran

dilanjutkan

dengan

menggunakan air sebagai fluida (lumpur) pemboran. Pada pemboran daerah


hilang sirkulasi ini, fluida (lumpur) pemboran hanya sesekali digunakan untuk
membuang cutting kedalam formasi.Hal ini dilakukan sampai pemboran mencapai
kedalaman akhir.
Penyemenan casing pada sumur panasbumi dilakukan dengan menggunakan
Thermal Cement dari kedalaman dasar sumur (shoe) sampai diatas permukaan.Hal
3
ini dilakukan untuk casing 30, 20, 13 8

5
dan 9 8

inch, sedangkan casing

5
7inch tidak disemen tetapi hanya digantungkan didalam casing 9 8

inch

denganmenggunakan liner hanger sampai kedalaman akhir.Untuk penyemenan


5
casing 9 8

inch biasanya dilakukan dengan 2 (dua) tahap.

3.2.1. Lumpur Pemboran


Lumpur pemboran pada mulanya hanya berfungsi sebagai media pembawa
serbuk bor (cutting) dari dasar lubang bor keatas permukaan. Dewasa ini lumpur
pemboran mempunyai fungsi penting dalam operasi pemboran, antara lain :
Mengangkat cutting keatas permukaan.
Mengontrol tekanan formasi.
Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string.
Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake.
Menahan cutting pada saat sirkulasi dihentikan.
Mengurangi sebagian berat rangkaian pipa bor (bouyancy effect).
Melepas cutting dan pasir diatas permukaan.
Mendapatkan informasi (mud logging).
Sebagai media logging.

Komposisi dan sifat-sifat lumpur pemboran sangat berpengaruh pada


operasipemboran.Dapat dikatakan berhasil atau tidak suatu pemboran salah satuny
adipengaruhi oleh lumpur pemboran.Secara umum lumpur pemboran mempunyai
4 (empat) komponen atau fasa,yaitu :
Fasa cair (air, air asin, minyak).
Reactive solid yaitu padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid
(bentonite).
Inert solid yaitu zat padat yang tak bereaksi (barite, CMC, spersene).
Fasa kimia.
Perencaan lumpur pemboran pada sumur panasbumi meliputi
perencanaan bahan dasar lumpur, zat additif yang akan digunakan untuk
mencegah maupun menanggulangi problem-problem yang muncul. Selain
itu juga sifat-sifat lumpur pemboran tersebut harus memperhitungkan
rheologi dan sifat-sifat lumpur pemboran seperti filtration loss dan pH

yang harus direncanakan dengan baik.


Rheologi Lumpur Pemboran
Masalah yang sering muncul dalam operasi pemboran sumur
bertemperatur tinggi adalah terjadinya flokulasi. Hal ini akan berpengaruh
terhadap viskositas, gel strength serta yield point dari lumpur. Untuk
mengantisipasi ataupun untuk menanggulangi masalah flokulasi adalah
dengan menggunakan zat additif yang berfungsi sebagai deflokulan untuk
mengembalikan stabilitas lumpur pemboran dalam bentuk disperse.
Salah satu zat additif yang dapat digunakan adalah lignosulfonate,
yaituchrome

lignosulfonate

dan

ferrochrome

lignosulfonate

yang

merupakan deflokulan yang cukup efektif. Zat additif tersebut selain dapat
menjadi deflokulan juga dapat mengontrol gel strength dan yield point,
karenabahan ini dapat mengendalikan rheologi dari lumpur pemboran
dalam halini membuat disperse akan terjaga dengan baik. Penggunaan
deflokulan ini dikhususkan untuk sumur-sumur yang bertemperatur diatas
350F (177C) sedangkan temperatur dibawah 250F (120C) penggunaan
bahan ini tidak efektif dan tidak efisien.
Selain zat additif diatas, dapat juga menggunakan thining agent
dalam halini dalah lignite.Untuk kondisi temperatur tertentu lignite lebih
stabil dibandingkan lignosulfonate. Penggunaan lignite sengat efektif

untuk sumur-sumur bertemperatur diatas 400 0F, sedangkan untuk


temperature 350F lignite akan mengalami dekomposisi. Beberapa zat
additif lainnya yang juga dapat digunakan antara lain quebracho dan
polyphospate.
Filtration Loss
Flokulasi

yang

ditimbulkan

oleh

temperatur

tinggi

dapat

menyebabkan bertambahnya air bebas yang terkandung didalam lumpur


pemboran.Semakin besar temperatur maka semakin besar pula derajat
flokulasi yang ditimbulkan, sehingga semakin besar pula jumlah air bebas
yang terkandung didalam lumpur pemboran. Kondisi yang demikian akan
menimbulkan adanya filtration loss atau masuknya filtrat lumpur kedalam
formasi.
Besarnya filtration loss yang terjadi harus dikontrol dengan
menggunakan zat additif yang berfungsi untuk mengurangi filtration loss.
Secara umum ada 2 (dua) alasan dilakukannya filtration loss control,yaitu :
1. Mengontrol ketebalan dan karakteristik mud cake, karena hal ini sangat
berpengaruh pada operasi pemboran. Karena jika mud cake terlalu tebal
akan dapat menimbulkan masalah seperti terjepitnya pipa pemboran,
sedangkan jika terlalu tipis menyebabkan dinding formasi mudah
runtuh.
2. Membatasi jumlah filtrat yang masuk kedalam formasi.
Penggunaan zat additif yang berfungsi sebagai deflokulan dapat
mengurangi terjadinya filtration loss karena zat additif ini menyebabkan
lumpur pemboran terdispersi kembali sehingga mengurangi kandungan
air bebas dalam lumpur pemboran. Zat additif tersebut antara
lainferrochrome lignosulfonate, metal lignosulfonate dan lignite.
Selain zat additif diatas dapat pula digunakan CMC atau carboxy
methylcellulose.Zat additif ini dapat mengurangi filtration loss dengan
membentuk lapisan solid.Terkadang CMC juga dapat mengurangi
flokulasi.CMC efektif digunakan pada temperatur dibawah 300F,
selain itu dapat pula digunakan starch yang juga dapat mengurangi
filtration loss dengan membentuk lapisan solid. Starch dapat digunakan
pada temperature dibawah 200F danakan rusak pada temperatur 275F.

Pengurangan filtration loss pada sumur bertemperatur tinggi harus


diperhitungkan pada saat lumpur pemboran bergerak atau bersirkulasi
(dinamik) dan pada saat lumpur pemboran diam tidak bersirkulasi
(statik).Oleh karena itu penggunaan zat additif harus disesuaikan
dengan kondisi sumur serta karakteristik dari lumpur pemboran yang

digunakan.
pH
pH dari lumpur pemboran harus selalu dikontrol. Karena selain
berpengaruh terhadap sifat-sifat lumpur pemboran, pH juga akan
mempengaruhi efektifitas zat additif yang akan digunakan. Contohnya
seperti chrome lignosulfonate dan lignite paling efektif digunakan pada
lumpur dengan pH sekurang-kurangnya 9. Secara normal pengontrolan pH
harus dijaga antara 8-9.Untuk pH diatas 9 dapat ditambahkan caustic
soda(NaOH) dan untuk pH dibawah 8 dapat ditambahkan acid seperti

acidicpolyphosphate.
3.2.2. Penyemenan (Cementing)
Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas konstruksi sumur, yaitu
kualitas semen yang digunakan.Untuk itulah perlu dilakukan studi laboratorium
untuk mengetahui komposisi dan sifat fisik semen yang tepat. Pada proses
penyemenan sumur dilapangan panasbumi yang harus diperhatikan adalah
temperatur tinggi dari sumur tersebut. Temperatur tinggi sangat berpengaruh
terhadap komposisi semen yang akan digunakan dalam operasi penyemenan. Oleh
karena itu beberapa faktor yang sangat berpengaruh dari semen dan kelakuan
semen harus dipertimbangkan secara khusus untuk mengurangi masalah-masalah
yang mungkin terjadi.
Thickening Time
Thickening time didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan suspense
semen

untuk

mencapai

konsistensi

sebesar

100

UC

(Unit

of

Consistency).Konsistensi sebesar 100 UC merupakan batasan bagi suspensi


semen agarmasih dapat dipompa, sebab apabila lebih dari batas tersebut
maka semenakan berbentuk corn sehingga sulit untuk dipompakan dan
biladipaksakan maka akan merusak pompa semen.

Proses pengerasan semen pada temperatur tinggi akan semakin cepat


terjadi, berarti thickening time akan semakin singkat. Pada sumur yang
dalam dan bertemperatur tinggi, thickening time yang singkat akan menjadi
masalah yang cukup besar. Sehingga perlu adanya penambahan retarder
kedalam suspensi semen seperti calcium lignosulfonate,carboxymethyl
hydroxyethyl

cellulose

dan

senyawa-senyawa

asamorganik

untuk

memperpanjang thickening time.


Permeabilitas
C-H-S gel dari semen portland yang telah terhidrasi dengan air
merupakan material yang mempunyai ikatan sangat kuat pada temperatur
normal sampai 110C (230F). Pada temperatur yang lebih tinggi, C-H-S
gelakan mengalami metamorfosa sehingga sifatnya berubah yang dapat
menyebabkan adanya peningkatan permeabilitas. Sementara dalam operasi
penyemenan diharapkan permeabilitas yang terbentuk sekecil mungkin atau
bahkan tidak ada sama sekali. Karena dengan adanya permeabilitas,maka
akan dapat menurunkan kekuatan semen dan juga memungkinkan masuknya

fluida formasi yang nantinya dapat merusak casing.


Compressive Strength
Adapun compressive strength didefinisikan sebagai kekuatan semen
dalam menahan tekanan-tekanan yang berasal dari formasi maupun dari
casing.Jadi, compressive strength merupakan kekuatan untuk menahan
tekanan-tekanan dalam arah horizontal.Seperti halnya pada sifat-sifat
suspensi semen yang lain, compressive strength dipengaruhi juga oleh
adanya zat additif. Zat additif untuk meningkatkan compressive strength
diantaranya adalah calcium chlorida,pozzolan dan barite. Sedangkan zat
additif untuk menurunkan compressive strength antara lain bentonite dan
sodium silikat.
Pada temperatur tinggi, C-H-S gel cenderung berubah untuk menjadi
alphadicalcium sulfat (-C2SH) yang berbentuk kristal dan lebih pada
terbentuknya dibandingkan dengan C-S-H gel. Timbulnya -C2SH ini
menyebabkan volume semen menyusut, sehingga mengganggu keutuhan
semen yang berakibat pada menurunnya compressive strength dan naiknya

permeabilitas semen diatas temperatur 110C. Compressive strength akan


hilang dalam waktu satu bulan dan permeabilitasnya akan bertambah besar.
Pada kondisi diatas 110C terbentuk tobermotite (C5S6H5) yang dapat
mempertahankan sifat strength tinggi dan permeabilitas rendah.Kenaikan
temperatur sampai 150C(300F) menyebabkan tobermotite berubah
menjadi xonotlite (C6S3H2). Tapi kadang-kadang tobermotite dapat bertahan
sampai temperatur 250C (482F), karena adanya pergantian aluminium
dalam struktur atom semen portland. Pada temperatur 249C (480F)
terbentuk trucottite (C7S12H3) dan pada temperatur mendekati 400C (750F)
baik xonotlite maupun trucottite mencapai keadaan stabil dan jika melebihi

temperatur stabil maka kedua mineral tersebut akan merusak semen.


Shear Bond Strength
Shear bond strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam
menahan tekanan yang berasal dari berat casing maupun menahan tekanantekanan lainnya dalam arah vertikal.
Dalam lubang pemboran, kekuatan semen sangat dipengaruhi oleh
pembebanan triaxial yang kompleks dan failure stress merupakan
pembebanan utama dari penelitian untuk standard compressive strength
(Neville, 1981). Pengujian compressive strength tidak menunjukkan harga
shear strength dari ikatan antara semen dengan casing ataupun semen
dengan formasi batuan. Untuk itulah dilakukan pengukuran shear
bondstrength semen.
Penilaian penyemenan biasanya berdasarkan compressive strength atau
tensile strength dari semen, dengan asumsi bahwa materialnya memenuhi
syarat untuk pembentukan strength yang baik serta menghasilkan suatu
ikatan yang kuat.Pada kenyataan dilapangan bahwa asumsi diatas tidak
selalu benar.Untuk itulah diperlukan suatu pengujian laboratorium terhadap
kualitas semen.
Shear bond strength terukur antara semen dengan dinding formasi dan
semen dengan dinding casing. Kekuatan ikat semen terhadap dinding casing
sangat dipengaruhi oleh dinding casing seperti kekasaran dan pengaruh mud
cake yang menempel, demikian juga pengaruhnya terhadap kekuatan ikat
dengan formasi.

3.3. Aspek Penyelesaian Sumur (Well Completion) Panasbumi


Pengukuran dan pengujian sumur dapat dilakukan baik pada saat pemboran
masih berlangsung maupun setelah pemboran selesai, yaitu setelah pemboran
mencapai

kedalaman

yang

diinginkan

ataupun

setelah

sumur

diproduksikan.Pengukuran dan pengujian sumur merupakan kegiatan yang


termasuk dalam well completion yang memiliki peranan penting untuk
mendapatkan data atauinformasi mengenai :
Kedalaman zona bertemperatur tinggi, zona produksi dan pusat-pusat
rekahan (feed zone).
Jenis fluida produksi.
Jenis reservoir.
Tekanan dan temperatur didalam sumur dan reservoir.
Kemampuan produksi sumur, yaitu besarnya laju produksi dan enthalpy
fluida pada berbagai tekanan kepala sumur.
Karakteristik fluida dan kandungan gas.
Karakteristik reservoir disekitar sumur.
Kondisi lubang sumur.
3.3.1. Uji Komplesi (Completion Test)
Uji komplesi adalah pengujian sumur yang dilakukan untuk mengetahui
kedalaman zona produksi dan kedalaman pusat-pusat rekahan (feed zone) serta
produktivitasnya. Uji komplesi dilakukan setelah pemboran mencapai target
dengan menginjeksikan air dingin dengan laju tetap dan mengukur besarnya
tekanan dan temperatur didalam sumur guna mengetahui profil (landaian) tekanan
dan temperatur pada saat dilakukan injeksi. Ada dua jenis pengujian yang

dilakukan pada waktu uji komplesi, yaitu :


Uji Hilang Air (Water Loss Test)
Uji hilang air dilakukan untuk mengetahui tempat-tempat dimana terjadi
hilang air atau tempat-tempat dimana fluida formasi masuk kedalam
formasi, karena hal tersebut merupakan indikasi adanya pusat-pusat

rekahan.
Uji Permeabilitas Total (Gross Permeability Test)
Uji permeabilitas total dilakukan untuk mengetahui transien tekanan setelah
laju aliran diubah-ubah. Dengan menganalisa data tersebut besarnya

permeabilitas total dapat ditentukan.


Uji Spinner (Spinner Test)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tekanan, temperatur dan laju alir
fluida didalam lubang sumur dengan cara menurunkan sebuah alat yang
dinamakan Spinner.
4.3.2. Uji Panas (Heat Test)
Uji panas dilakukan setelah uji komplesi selesai, biasanya sumur ditutup
selama beberapa waktu agar menjadi panas sebelum sumur tersebut di uji
kemampuan produksinya.Tekanan dan temperatur didalam sumur diukur pada
interval-interval waktu tertentu. Pengukuran biasanya dilakukan pada hari ke 1,
2,4, 7, 14, 28, dan 42 tetapi bila diperlukan landaian temperatur yang lebih rinci
maka uji panas dapat diteruskan sedikitnya selama satu bulan untuk mendapatkan
informasi yang lebih baik, dengan ditutupnya sumur maka sumur akan menjadi
panas dan temperatur meningkat sedangkan gradien tekanan didalam sumur
berkurang.
Ada beberapa cara bagaimana panas dapat mencapai sumur, antara lain :
Panas merambat dengan cara konduksi melalui formasi disekitarnya.
Fluida mengalir langsung kedalam sumur pada suatu kedalaman dan
keluar pada kedalaman lain (interzonal flow).
Panas merambat dengan cara konveksi didalam lubang sumur.
Setelah uji panas selesai, fluida sumur biasanya disemburkan keatas
permukaan (bleeding) melalui pipa kecil dengan laju aliran sangat kecil, yaitu
kg
sekitar 1 sec

.Tujuannya adalah untuk memanaskan casing sebelum dilakukan

uji produksi.
3.3.3. Uji Produksi (Production Test)
Uji produksi dilakukan untuk mengetahui :
Jenis fluida reservoir dan fluida produksi.
Kemampuan produksi sumur, yaitu besarnya laju produksi dan enthalpy
fluida pada berbagai tekanan kepala sumur.
Karakteristik fluida dan kandungan gas.
Data diatas sangat diperlukan untuk menentukan data laju aliran massa
enthalpi fluida dan akan sangat berguna untuk menghitung potensi sumur pada
berbagai tekanan kepala sumur. Ada beberapa metoda uji produksi yang umum
dipakai, yaitu :
1. Metoda pengukuran satu fasa.

2. Metoda calorimeter.
3. Metoda lip pressure.
4. Metoda separator.
3.4. Aspek Produksi Panasbumi
Seperti halnya pada lapangan migas, fasilitas produksi pada lapangan
panasbumi tergantung dari jenis fluida yang mengalir dari sumur, tetapi secara
garis besar komponen utamanya adalah sumur, kepala sumur, separator (untuk
fluida dua fasa), silencer dan pipa alir dipermukaan.Disamping itu juga digunakan
pompa, berbagai jenis penyangga pipa (support), loops, ompensator,condensate
trap serta peralatan-peralatan untuk mengukur laju alir fluida,temperatur dan
tekanan.

Gambar 5. Skema Pengolahan Energi Geothermal

3.4.1. Sumur
Berbeda dengan sumur migas, sumur panasbumi tidak menggunakan tubing
dan juga tidak diperforasi.Sumur panasbumi umumnya menggunakan serangkaian
3
casing yang berukuran 20, 13 8
zona

produksi)

dibiarkan

5
,9 8

terbuka

atau

inch dan bagian bawahnya(didepan


menggunakan

liner

berukuran

7inch.Wellpads atau area tempat sumur-sumur produksi maupun sumur injeksi


dilapangan panasbumi biasanya satu dengan yang lain berjarak 1-2 km. Sumur
injeksi biasanya dibor ditempat yang mempunyai elevasi lebih rendah dari sumursumur produksi agar fluida yang diinjeksikan tidak mempengaruhi reservoir.
3.4.2. Kepala Sumur dan Valves
Seperti halnya sumur migas, pada sumur panasbumi juga dipasang beberapa
valve untuk mengatur aliran fluida. Valve tersebut ada yang dipasang diatas atau
didalam sebuah lubang yang dibeton (concrete cellar). Umumnya pada sebuah
kepala sumur ada empat buah valve, yaitu: master/shut off valve, service valve, by
pass valve dan bleed valve.
Di samping jenis-jenis valve diatas, ada beberapa jenis valve lainnya, yaitu
ball float valve yang ditempatkan pada pipa transmisi uap. Ball float valve
merupakan valve pengaman dari kemungkinan terbawanya air kedalam pipa alir
uap. Bila ada air yang terbawa, bola akan naik dan menghentikan aliran. Kenaikan
tekanan akan menyebabkan bursting disch pecah dan mengalihkan aliran menuju
silencer.
3.4.3. Separator
Apabila fluida sumur berupa campuran antara uap dan air (fluida dua fasa),
maka uap dan air dipisahkan dalam separator. Dahulu, separator yang sering
digunakan adalah yang berbentuk lengkungan U akan tetapi pemisahan dengan
cara ini kurang efisien, karena kandungan air didalam uap yang keluar dari
separator masih tinggi dimana dryness sekitar 50-60%. Sekarang ini berbagai
jenis separator telah diciptakan, tetapi yang paling sering digunakan saat ini
adalah webre cyclone separator karena dengan adanya inlet spiral akan
memberikan efisiensi pemisahan yang lebih tinggi. Dengan separator jenis ini,uap
yang keluar dari separator biasanya mempunyai dryness yang sangat tinggi,yaitu

lebih dari 99%. Efisiensi dari separator ini berkurang apabila kecepatan fluida
masuk kedalam separator lebih dari 50 m/sec.
3.4.4. Silencer
Apabila fluida dari sumur akan disemburkan untuk dibuang, fluida tersebut
akan menimbulkan kebisingan yang luar biasa, maka untuk mengurangi
kebisingan dan juga mengontrol aliran fluida yang akan dibuang pada waktu yang
sama, fluida biasanya dialirkan melalui silencer (peredam suara). Bagian atas dari
silencer dibiarkan terbuka sehingga silencer sering disebut atmospheric
separator.Silencer berupa silinder yang diberi pelapis dengan bagian atas yang
terbuka.Apabila fluida dari sumur berupa uap kering, silencer yang digunakan
biasanya berupa lubang yang diisi dengan batuan dan mempunyai ukuran
beraneka ragam.
3.4.5. Pipa Alir Permukaan (Flowline)
Pipa alir uap dilapangan panasbumi terdiri dari pipa alir uap, pipa alir air
dan pipa alir uap-air (apabila fluida sumur terdiri dari dua fasa).Pada lapangan
panasbumi dominasi air, pipa alir dua fasa dimulai dari sumur hingga
separator,sedangkan pipa alir uap membentang dari separator hingga turbin dan
pipa alir air membentang dari separator hingga sumur injeksi. Pipa alir lapangan
panasbumi dominasi uap lebih sederhana, karena hanya terdiri dari pipa alir uap
yang membentang mulai dari sumur hingga turbin dan apabila pada lapangan
tersebut dilakukan injeksi maka akan terdapat pipa alir air injeksi atau pipa alir
kondensat.
3.4.6. Isolator
Untuk mengantisipasi kehilangan panas yang berlebihan, pipa alir uap harus
selalu diisolasi.Material yang digunakan sebagai bahan isolasi sangat beragam
baik bentuk, ukuran, ketebalan dan jenis materialnya. Material yang banyak
tersedia adalah:
Mineral fibrous atau cellular : alumina, asbestos, glass, perlite, rock,

silica.
Organic fibrous atau cellular : cane, cotton, wood, cork.
Cellular organic plastics : clastomer, polystyrene.
Cements : insalating atau finishing.
Heat-reflecting metals : aluminium, nickel, stainless steel.

Bentuknya dapat berupa lembaran, block, cement, loose fill foil.Untuk


ketebalan dan konduktivitas beragam tergantung jenis material.Material yang
digunakan untuk isolasi pipa perlu dilindungi lagi dengan material lain
diluarnya(cladding) untuk melindungi isolator dari masuknya air, kerusakan
secara mekanis ataupun degradasi ultraviolet.Pemilihan jenis material untuk
isolasi dan cladding tergantung dari banyak faktor, untuk sistem temperatur
sedang sampai tinggi biasanya digunakan cellular atau fibrous materials.
3.4.7. Condensate Traps
Meskipun pipa telah diselubungi dengan isolator, tetapi kondensasi biasanya
akan tetap terjadi didalam pipa alir uap. Kehilangan panas harus diupayakan
seminimal mungkin agar kondensat yang masuk kedalam turbin masih dalam
batas yang diizinkan sehingga turbin tidak cepat rusak. Untuk itu pipa alir uap
umumnya dilengkapi dengan sejumlah condensate traps. Condensate traps
biasanya dipasang pada pipa alir uap dengan interval tertentu, untuk menjaga agar
kadar kondensat yang masuk turbin relatif rendah.
3.5. Aspek Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) tergantung pad
ajenis reservoir panasbumi yang ada pada lapangan tersebut. Apabila fluida
produksi berupa fasa uap, maka uap tersebut dapat dialirkan langsung menuju
turbin dan kemudian turbin akan mengubah energi kalor yang dibawa uap menjadi
energi gerak yang akan memutar generator sehingga dihasilkan energi
listrik.Apabila fluida produksi merupakan campuran fluida dua fasa (uap dan air)
maka terlebih dahulu dilakukan proses pemisahan pada fluida produksi dengan
menggunakan cyclone separator. Fraksi uap yang dihasilkan dari separator inilah
yang kemudian dialirkan menuju turbin.
3.5.1. Turbin
Turbin adalah suatu mesin penggerak dimana energi fluida kerja, dalam hal
ini uap digunakan langsung untuk memutar poros (shaft).Bagian turbin yang
berputar dinamakan roda turbin yang terdiri atas beberapa sudu gerak.Roda turbin
terletak didalam rumah turbin.Roda turbin kemudian memutar poros yang
menggerakkan atau memutar generator listrik. Pada dasarnya dikenal dua jenis

turbin, yaitu : turbin dengan tekanan keluaran sama dengan tekanan udara
luar(atmospheric exhaust/back pressure turbine) dan turbin dengan condenser
(condensing unit turbine).
3.5.2. Condenser
Fungsi dari condensor adalah untuk menciptakan tekanan vakum (tekanan
dibawah tekanan atmosfer). Proses terjadinya kondisi vakum ini adalah secara
thermodinamis dan bukan secara mekanis. Hal ini dimungkinkan karena setelah
fluida keluar dari turbin yang sebagian besar masih berupa uap akan bercampur
dengan air dingin, pada condensor akan mencapai kesetimbangan massa dan
energi. Ada dua jenis condensor, yaitu: direct contact/jet condensor dan surface
condensor.
3.5.3. Gas Exhauster
Untuk menjaga agar kondisi condensor tetap vakum, maka non condensable
gas harus dikeluarkan dari condensor. Hal ini dapat dilakukan dengan membuang
gas tersebut dengan menggunakan steam jet ejector.
3.5.4. Menara Pendingin (Cooling Tower)
Condensor membutuhkan air yang cukup banyak.Air dapat berasal dari air
sungai namun, sungai-sungai yang terdapat tidak jauh dari lapangan panasbumi
umumnya tidak cukup besar untuk dapat menyerap panas.Cara yangumum
digunakan adalah dengan menggunakan cooling tower. Ada dua jenis cooling
tower, yaitu:
Mechanical Draft Cooling Tower
Pada jenis ini, air panas dari condensor disemprotkan pada struktur
kayu yang berlapis-lapis yang disebut fill. Pada saat air mengalir melalui
fill,perpindahan panas akan terjadi dari air panas keudara. Dibagian atas dari
cooling tower ini terdapat kipas angin (fan).Air kemudian dipompakan
kembali menuju condensor.Cooling tower jenis ini relatif murah dan
fleksibel karena kecepatan kipas angin dapat diubah disesuaikan dengan
kondisi udara luar dan beban turbin.Kelemahannya adalah konsumsi energi
untuk menggerakan kipas angin relatif besar dan biaya perawatannya relatif
tinggi.
Natural Draught Cooling Tower
Natural draught cooling tower bekerja dengan prinsip yang sama
dengan mechanical draft cooling tower, kecuali pada jenis ini aliran udara

pendingin tidak berasal dari kipas angin, tapi dikarenakan bentuk dan
tingginya cooling tower itu sendiri. Cooling tower jenis ini relatif mahal dan
tidak fleksibel seperti halnya mechanical draft cooling tower tetapi salah
satu keuntungannya adalah biaya perawatan yang relatif rendah.

IV. RENCANA KERJA PRAKTEK


Pelaksanaan kerja praktek (KP) ini dilaksanakan kurang lebih selama
4minggu, dimulai dari tanggal 1 Maret 2015 dengan program sebagai berikut:
Minggu pertama : safety training dan peninjauan kantor

(aspek reservoir panasbumi).


Minggu kedua
:
peninjauan lapangan (aspek

pemboran dan penyelesaian sumur panasbumi).


Minggu ketiga
:
peninjauan lapangan (aspek
produksi dan fasilitas pembangkit listrik tenaga

panasbumi).
Minggu keempat :penyusunan laporan kerja praktek
(KP), presentasi dan ramah tamah dengan para
pembimbing lapangan.

V. PENUTUP
Proposal ini merupakan tinjauan sekilas dari literatur dan teori yang telah
didapatkan

selama

mengikuti

perkuliahan

di

Program

Studi

Teknik

Perminyakan,Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional


VeteranYogyakarta. Besar harapan bahwa kelima aspek tersebut dapat benarbenar diaplikasikan pada lapangan selama kerja praktek (KP) berlangsung
sehingga ilmu maupun pengalaman yang sekarang dimiliki akan dapat bertambah.
Demikian proposal kerja praktek (KP) ini penyusun ajukan, atas
perhatian,bantuan dan kerjasama yang diberikan.Penyusun mengucapkan terima
kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Aris

Munandar, Wiranto,2004, Penggerak Mula, Bandung,Penerbit ITB.

Hendrata,

Danni,2006,Proposal

Kerja

Praktek

reservoir,aspek produksi dan aspek

Peninjauan

aspek

pemboran pada lapangan

panasbumi, Yogyakarta ,Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas


Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran.
Jagranatha, MT. Ir. IB, 2011,Modul Kuliah Lapangan Migas Panasbum.
Yogyakarta ,Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi
Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran.
Saptadji Ph.D. Ir. Nenny Miryani,2003,Teknik Panasbumi,Bandung,Ganesha.
Wijayatma, Armynas Handyas, 2007, Proposal Kerja Praktek Tinjauan Lapanga
Panasbumi Lapangan X Berdasarkan Aspek Reservoir,Aspek Pemboran
dan Aspek dan Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Paasbumi.
Yogyakarta, Program Studi Teknik Perminyakan, FakultasTeknologi
Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran.