Anda di halaman 1dari 25

INTEGRASI EKONOMI

Latar Belakang Terbentuknya Integrasi Ekonomi


Secara harfiah kata integrasi dapat diartikan sebagai penggabungan. Menurut Tinbergen,
integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas
dengan jalan menghapuskan semua pembatasan-pembatasan (barriers) yang dibuat terhadap
bekerjanya perdagangan bebas dan dengan jalan mengintroduksi semua bentuk-bentuk kerjasama dan
unifikasi. Integrasi dapat dipakai sebagai alat untuk mengakses pasar yang lebih besar, menstimulasi
pertumbuhan ekonomi sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nasional.
Integrasi ekonomi memiliki prinsip dan mekanisme yang sama dengan perdagangan bebas.
Secara teoritis, integrasi ekonomi mengacu pada suatu kebijakan komersial atau kebijakan
perdagangan yang secara diskriminatif menurunkan atau menghapuskan hambatan-hambatan
perdagangan hanya diantara negara-negara anggota yang sepakat akan membentuk suatu integrasi
ekonomi. Semua bentuk hambatan perdagangan baik tarif maupun non tarif sengaja diturunkan atau
bahkan dihapuskan diantara negara anggota. Sedangkan bagi negara-negara yang bukan anggota,
maka pemberlakuan tarif dan non tarif tergantung dari kebijakan negara masing-masing. Dalam
integrasi ekonomi terjadi perlakuan diskriminatif antara negara-negara anggota dengan negara-negara
diluar anggota dalam melakukan perdagangan, sehingga dapat memberikan dampak kreasi dan
dampak diversi bagi negara-negara anggota (Salvatore, 1997). Krugman (1991) memperkenalkan
suatu angapan bahwa secara alami blok perdagangan didasarkan pada pendekatan geografis yang
dapat memberikan efisiensi dan meningkatkan kesejahteraan bagi anggotanya.
Griffin dan Pustay (2002), membentuk susunan atau hirarki dari integrasi ekonomi regional
yang mungkin terjadi. Ada lima tingkatan yaitu, kawasan perdagangan bebas, persekutuan pabean,
pasaran bersama, uni ekonomi, dan uni politik.
Secara teoritis Salvatore (1997) menguraikan integrasi ekonomi menjadi beberapa bentuk:

1.

Pengaturan perdagangan Preferensial (preferential trade arrangements) dibentuk oleh negara-

negara yang sepakat menurunkan hambatan-hambatan perdagangan yang berlangsung diantara


mereka dan membedakannya dengan negara-negara yang bukan anggota.

2.

Kawasan perdagangan bebas (free trade area) adalah bentuk integrasi ekonomi yang lebih

tinggi dimana semua hambatan perdagangan baik tarif maupun non-tarif diantara negara-negara
anggota telah dihilangkan sepenuhnya, namun masing-masing negara anggota tersebut masih berhak
menentukan sendiri apakah tetap mempertahankan atau menghilangkan hambatan-hambatan
perdagangan yang diterapkan terhadap negara-negara diluar anggota.

3.

Persekutuan Pabean (customs union) mewajibkan semua negara nggota untuk tidak hanya

menghilangkan semua bentuk hambatan perdagangan diantara mereka, namun juga menyeragamkan
kebijakan perdagangan mereka terhadap negara luar yang bukan anggota.

4.

Pasar bersama (common market) yaitu suatu bentuk integrasi dimana bukan hanya

perdagangan barang saja yang dibebaskan, namun arus faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal
juga dibebaskan dari semua hambatan.

5.

Uni Ekonomi (economic union) yaitu dengan menyeragamkan kebijakan-kebijakan moneter

dan fiskal dari masing-masing negara anggota yang berada dalam suatu kawasan atau bagi negaranegara yang melakukan kesepakatan.

Perjanjian perdagangan preferensial (PTAs) adalah kesepakatan antara dua negara atau lebih
yang mana tarif yang dikenakan pada barang yang diperdagangkan bagi negara anggota lebih rendah
dibanding dengan tarif yang diperdagangkan dengan negara diluar anggota. PTAs dapat diartikan
secara luas meliputiRegional Trading Arrangement (RTAs) yang merupakan kesepakatan yang
dibentuk dalam satu kawasan, kesepakatan perdagangan antar negara-negara berkembang,
kesepakatan perdagangan antar kawasan dan bentuk kesepakatan lainnya yang bertujuan untuk
memperlancar arus barang dan jasa.
Bentuk kesepakatan perdagangan yang telah dibentuk telah mengarah pada perdagangan
bebas,

seperti World

Trade

Organization (WTO), Association

of

Southeast

Asian

Nations (ASEAN) and South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC), ASEAN Free
Trade Area (AFTA), SAARC Preferential Trading Agreement (SAPTA), Australian and New
Zealand yaitu Closer Economic Relation Trade Agreement (CER), South Pacific Regional Trade and

Economic

Cooperation

Agreement (SPARTECA), Asian

Pacific

Economic

Cooperation(APEC), European Union (EU), North American Free Trade Area (NAFTA), Latin
American Free Trade Area(LAFTA), European Free Trade Area (EFTA), Andean Pact, Economic
Cooperation Organization (ECO), Southern Common Market (Mercosur) dan lainnya (Lapipi, 2005).
Secara umum, bentuk kesepakatan perdagangan antara dua negara atau lebih, baik PTAs,
sistem perdagangan multilateral, sistem perdagangan dalam suatu kawasan maupun organisasi
perdagangan dunia memiliki prinsip yang sama yaitu menurunkan atau menghilangkan semua bentuk
hambatan perdagangan, baik tarif maupun non tarif. Cakupan integrasinya mulai dari integrasi untuk
perdagangan barang dan jasa sampai pada pasar tunggal bersama yang meliputi semua aspek
ekonomi, seperti perdagangan barang dan jasa, perdagangan faktor produksi, integrasi dalam moneter
dan integrasi kebijakan ekonomi secara menyeluruh.
Tujuan yang paling mendasar dari integrasi ekonomi ini adalah untuk meningkatkan volume
perdagangan barang dan jasa, meningkatkan mobilitas kapital dan tenaga kerja, meningkatkan
produksi, meningkatkan efisiensi produksi serta meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
Pembentukan integrasi ekonomi pada akhirnya akan menciptakan dampak meningkatnya
kesejahteraan negara-negara anggota secara keseluruhan karena akan mengarah pada peningkatan
spesialisasi produksi, yang didasarkan pada keuntungan komparatif (Lapipi, 2005).

Integrasi Ekonomi di ASEAN


Globalisasi ekonomi telah merubah struktur perekonomian dunia secara fundamental.
Demikian pula halnya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dewasa ini ASEAN tumbuh
sebagai wadah integrasi ekonomi dengan pasar potensial, yang pengaruhnya berdampak pada
peningkatan kerjasama ekonomi yang semakin luas terutama dengan negara-negara di kawasan Asia
Timur seperti China, Jepang dan Korea Selatan. Integrasi ekonomi ASEAN menghadapi tantangan
besar karena negara-negara ASEAN memiliki sistem ekonomi, pendapatan per kapita, tingkat
pembangunan ekonomi dan institusi serta kondisi sosial yang berbeda dan heterogen.

Perbedaan dan heterogenitas menyebabkan beberapa negara yang tidak memiliki infrastruktur
dan kapasitas institusional yang memadai mengalami kesulitan untuk berintegrasi dengan negara yang
lain. Salah satu kondisi yang berbeda dan heterogen adalah mata uang. Implikasi dari hal ini adalah,
munculah wacana pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan visi ASEAN
2020. MEA bertujuan untuk membentuk suatu pasar tunggal, yang diarahkan pada penerapan mata
uang tunggal (single currency) yang bertujuan untuk menjaga stabilitas mata uang regional dalam
pelaksanaan pasar tunggal di ASEAN, yang rencananya akan dimulai pada 2015. Rencana munculnya
mata uang tunggal tersebut tercetus dalam sebuah sebuah ASEAN Community yang sudah disepakati
menjadi ASEAN vision 2020. ASEAN Community sendiri yang dimaksudkan akan dibangun
berdasarkan tiga pilar, yakni ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic Community
(AEC) dan ASEAN Socio-Cultur Community (ASCC).
Pada dasarnya economis and monetary union (EMU) adalah bagian dari proses integrasi
ekonomi. Negara yang merdeka dapat meng-integrasikan ekonomi mereka untuk mencapai berbagai
manfaat, seperti efisiensi dan ketahanan perekonomian. Integrasi ekonomi dapat dibagi menjadi enam
langkah:

1.

A preferential trading area. Langkah ini diawali dengan cara mengurangi


tarif customs (bea masuk) antara negara-negara tertentu.

2.
3.
4.
5.

A free trade area. Sebuah wilayah perdagangan bebas.


A customs union. Penyatuan customs (bea masuk).
A common market. Sebuah pasar bersama.
Economic and monetary union. Pasar tunggal dengan mata uang dan kebijakan
moneter tunggal.

6.

Complete economic integration. Semua hal diatas ditambah dengan harmonisasi


kebijakan fiskal dan lainnya.

Costs and Benefits Economic and monetary union (EMU)

Tujuan dari penyatuan ekonomi dan moneter adalah untuk membuat perekonomian berfungsi
lebih baik, membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan kemakmuran yang lebih besar bagi negaranegara anggota. Manfaat tersebut meliputi:

Manfaat bagi Konsumen:


Persaingan yang semakin meningkat. Konsumen bisa berbelanja lebih mudah lintas batas negara serta

membandingkan harga. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan karena kompetisi antar toko-toko
dan pemasok semakin meningkat.
Harga lebih stabil. Pasar tunggal dengan mata uang dan kebijakan moneter tunggal akan membuat

inflasi rendah dan stabil.


Meminjam lebih mudah dan murah. Inflasi dan suku bunga yang rendah dan stabil membuat setiap

orang lebih mudah dan murah untuk meminjam, misalnya untuk membeli rumah.
Lebih mudah dan murah melakukan perjalanan. Mata uang tunggal akan menghapuskan biaya

pertukaran mata uang sehingga memudahkan masyarakat untuk melakukan perjalanan.

Manfaat bagi pelaku bisnis:


Suku bunga rendah berarti investasi akan meningkat. Inflasi yang rendah akan membuat suku bunga

juga rendah sehingga memudahkan pelaku bisnis melakukan pinjaman untuk berinvestasi.
Stabilitas ekonomi mendorong perencanaan jangka panjang. Inflasi dan suku bunga yang tidak stabil

merupakan biaya atau risiko tak terduga bagi pelaku bisnis, hal ini membuat riskan bagi perusahaan
untuk berinvestasi jangka panjang. Stabilitas ekonomi dibawah EMU mengurangi ketidakpastian dan
mendorong investasi jangka panjang bagi perusahaan.
Risiko

rendah mendorong perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara seringkali

menggunakan mata uang yang berfluktuasi, sehingga untuk mengurangi atau mengimbangi risiko
tersebut perusahaan akan menjual dengan harga tinggi di luar negeri. EMU dengan pasar dan mata
uang tunggal akan menghilangkan risiko tersebut.

Hilangnya biaya nilai tukar akan merangsang perdagangan dan investasi. Mata uang tunggal akan

menghilangkan biaya tukar yang tinggi antar negara ASEAN sehingga akan merangsang perdagangan
dan investasi.

Manfaat bagi ASEAN dan negara-negara Asia lainnya:


Penghematan bagi pemerintah. Inflasi yang rendah dan stabil berarti pinjaman pemerintah lebih murah

dari pada dimasa lalu karena suku bunga yang juga rendah dan stabil.
Dampak sosial Inflasi rendah dan stabil. Tingkat inflasi yang tinggi dan volatile dimasa lalu

meningkatkan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Sekarang inflasi yang stabil dan
rendah, yang kurang mampu lebih terlindungi dari perbedaan daya beli.
Lebih tahan terhadap guncangan dari luar. Ukuran dan kekuatan ekonomi kawasan ASEAN yang besar

membuatnya lebih tahan terhadap guncangan-guncangan ekonomi.


Integrasi keuangan meningkat. Mata uang tunggal membuat lebih mudah dan efisien investasi untuk

bergerak di sekitar kawasan ASEAN. Ukuran pasar keuangan kawasan ASEAN yang luas membuat
modal yang tersedia untuk investasi lebih besar dan memungkinkan investor untuk menyebar risiko
lebih luas. Dan untuk warga, biaya mengirim uang ke negara lain kawasan ASEAN akan berkurang
drastis.
Mendukung perdagangan internasional. Mata uang tunggal kawasan ASEAN semakin banyak

digunakan untuk transaksi perdagangan internasional karena kekuatan dan ketersediaan. Hal ini
memungkinkan mengurangi risiko kerugian yang disebabkan oleh fluktuasi mata uang global, dan
membuat perdagangan lebih mudah bagi mitra dagang.
Selain manfaat diatas dan mungkin masih banyak manfaat lainnya dari integrasi ekonomi di
ASEAN, terdapat juga beberapa biaya, meliputi:

Biaya kerusakan dalam efisiensi ekonomi mikro, setidaknya sementara. Biaya pertukaran ke mata
uang baru dapat bervariasi dan dapat meliputi biaya administrasi, biaya hukum, biaya psikologis, dan
biaya lainnya. Keadaan khusus terutama diterapkan ketika negara-negara anggota salah memilih nilai

tukar paritas nominal. Hal ini akan menyebabkan daya saing negara anggota menjadi lebih rendah
atau lebih tinggi dibandingkan dengan daya saing negara-negara anggota lain.

Kesempatan bagi negara-negara untuk menjaga stabilitas makroekonomi mereka menurun, karena
nantinya akan menjadi tanggung jawab Bank Sentral bersama.

Akan sulit menyatukan berbagai macam kepentingan. ASEAN dengan latar belakang ekonomi, sosial
budaya, bahasa maupun sejarah yang berbeda-beda akan sangat sulit mewujudkan integritas ekonomi
tanpa adanya kerjasama dan kerja keras serta perencanaan yang matang.

Optimum Currency Area (OCA) Theory


Hal utama yang mendasari tentang mata uang tunggal adalah teori Optimum Currency Area
(OCA). Teori OCA berasal dari artikel yang ditulis oleh ekonom Mundell (1961), McKinnon (1963),
dan Kenen (1969). Artikel tersebut memperdebatkan tentang nilai tukar tetap dan fleksibel. Pada masa
itu dibawah sistem Bretton Woods nilai tukar tetap, pilihan nilai tukar dipandang sebagai masalah
teoritis dari pada praktis. Teori OCA terus mengalami perkembangan, salah satunya adalah oleh
Tamim Bayoumi dan Barry Eichengreen. Dalam paper nya mereka membuat suatu estimasi yang
menghasilkan OCA indeks.
OCA indeks merupakan suatu indikator yang dapat digunakan untuk melihat apakah
penyatuan moneter lebih atau kurang diinginkan. OCA indeks mengukur tingkat goncangan output,
jadi jika suatu negara dimana siklus bisnis simetris dan output nasional bergerak bersama maka nilai
ukuran ini akan menjadi kecil. Selanjutnya OCA indeks melihat perbedaan komposisi komoditas
ekspor kedua negara dengan alasan bahwa goncangan akan lebih simetris ketika kedua negara
memiliki keunggulan komparatif dalam sektor ekspor yang sama. OCA indeks juga menggunakan
data perdagangan bilateral, rata-rata nilai ekspor ke negara mitra, termasuk GDP yang diukur dalam
USD.

APEC
Sekilas APEC
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) adalah forum kerja sama dari 21 Ekonomi di
lingkar Samudera Pasifik yang berdiri tahun 1989. Kerja sama di APEC meliputi tidak saja
perdagangan, tetapi juga upaya meningkatkan investasi dan kerja sama ekonomi lainnya
secara menyeluruh. Saat ini terdapat 21 Ekonomi yang menjadi anggota APEC, yaitu
Australia, Brunei Darussalam, Canada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Japan,
South Korea, Malaysia, Mexico, New Zealand, the Philippines, Peru, PNG, Russia,
Singapore, Chinese Taipei, Thailand, the United States, dan Viet Nam. Kerja sama di APEC
merupakan kerja sama non-politis, ditandai dengan keanggotaan Hong Kong-China dan
Chinese Taipei, serta karena bentuk kerja samanya yang difokuskan pada
ekonomi, perdagangan, dan investasi. Selain ke-21 Ekonomi tersebut, APEC memiliki tiga
pengamat (observer), yaitu ASEAN Secretariat, Pacific Economic Cooperation Council
(PECC), dan Pacific Islands Forum (PIF) Secretariat.
Tujuan utama APEC adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan
kesejahteraan di Asia Pasifik. Hal ini dilakukan dengan mendorong dan memfasilitasi
perdagangan dan investasi yang lebih bebas dan terbuka di kawasan, serta meningkatkan
kerja sama pengembangan kapasitas Ekonomi Anggota dengan target tahun 2010 untuk
Ekonomi maju dan tahun 2020 untuk Ekonomi berkembang. Tujuan APEC tersebut
tercantum dalam hasil kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Bogor pada tahun
1994 yang lebih dikenal dengan Bogor Declaration.
with the industrialized economies achieving the goal of free and open trade and
investment no later than the year 2010 and developing economies no later than the year
2020.
Kerja sama di APEC dibangun berdasarkan beberapa prinsip yaitu consensus; voluntary and
non-binding; concerted
unilateralism;
dandifferentiated
time
frame.
Prinsip consensus memiliki arti bahwa semua keputusan di APEC harus bermanfaat dan
disepakati oleh 21 Ekonomi Anggota. Prinsip voluntary and non-binding berarti kesepakatan
dilakukan secara sukarela dan tidak mengikat. Sementara itu, prinsip concerted
unilateralism berarti keputusan dilakukan secara bersama-sama sesuai dengan kemampuan
tiap Ekonomi tanpa syarat resiprositas, serta prinsip differentiated time frame berarti bahwa
Ekonomi maju diharapkan melakukan liberalisasi terlebih dahulu.
Meski kesepakatan di APEC bersifat sukarela dan tidak mengikat, namun komitmen yang
dideklarasikan anggota APEC terbukti lebih efektif untuk diimplementasikan. Fleksibilitas
yang diberikan memberikan ruang kepada anggota, yang memiliki keragaman kapasitas,
untuk berimprovisasi, melakukan uji coba, dan mengembangkan pelatihan bersama secara
bertahap hingga memenuhi kesepakatan yang diinginkan. Selain itu, APEC juga memiliki
beberapa mekanisme peer review berkala yang diselenggarakan untuk mengukur kemajuan
pencapaian anggota dan merancang aktivitas kerja sama teknis terkait.

Seiring dengan semakin kompleksnya isu-isu perdagangan dan investasi di kawasan, kerja
sama sektoral di APEC juga semakin luas dan kompleks. Saat ini APEC memiliki tidak
kurang dari 34 fora dan subfora yang menyelenggarakan pertemuan secara rutin. Berbagai
pertemuan tingkat Menteri sektoral juga rutin diselenggarakan di APEC, seperti diantaranya
Pertemuan Menteri Perdagangan, Pertemuan Menteri UKM, dan Pertemuan Menteri Peranan
Wanita.
Guna mendukung partisipasi aktif Indonesia di berbagai fora dan subfora APEC dimaksud,
berbagai Kementerian/Lembaga nasional terlibat aktif dan berkontribusi sesuai dengan tugas
dan fungsi masing-masing, seperti Kementerian Perdagangan di Committee on Trade and
Investment (CTI), Kementerian Koordinator bidang Perekonomian di Economic
Committee (EC), dan Kementerian PPN/Bappenas di SOM Steering Committee on Economic
and Technical Cooperation (SCE). Adapun koordinator nasional Indonesia untuk APEC
berada di bawah tanggung jawab Kementerian Luar Negeri.
Sektor swasta juga berperan penting di APEC. Sektor swasta melalui APEC Business
Advisory Council (ABAC) telah berperan aktif dalam berbagai kegiatan dan pertemuan
APEC. Anggota APEC yang berasal dari seluruh anggota APEC terdiri dari tiga orang
pengusaha terkemuka yang ditunjuk langsung oleh Pemimpin Ekonomi APEC guna
menyuarakan kepentingan dunia usaha masing-masing Ekonomi. Ketua ABAC Indonesia saat
ini adalah Wishnu Wardhana dengan anggota Anindya Bakrie dan Karen Agustiawan, dengan
anggota pengganti adalah Gatot Suwondo, Arief Yahya, dan Erwin Aksa.
Peluang Kerja Sama APEC
APEC saat ini dianggap sebagai salah satu forum ekonomi regional terpenting di Asia Pasifik,
karena melibatkan partisipasi para Pemimpin Ekonomi negara-negara kunci di kawasan,
seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Australia, dan tujuh anggota ASEAN. Dari segi
demografis, APEC merupakan organisasi yang besar karena menaungi penduduk sejumlah
2,7 milyar jiwa. Empat belas dari 21 Ekonomi Anggota APEC merupakan 40 Ekonomi
pengekspor terbesar di dunia, sementara sembilan anggota APEC tercatat sebagai anggota
G20. Selain itu, setiap tahun Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, Menteri Keuangan
dan Menteri-Menteri lain hadir dalam pertemuan-pertemuan APEC. Kehadiran para
Pemimpin dan Menteri APEC tersebut selama ini juga dimanfaatkan sebagai kesempatan
untuk melakukan pembahasan masalah-masalah bilateral dan regional.
APEC juga berperan penting dalam memajukan agenda perdagangan multilateral. Di tahun
1994, APEC memberikan kontribusi signifikan bagi terselesaikannya Putaran Uruguay di
bawah perundingan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Keberhasilan ini telah
mendorong terbentuknya organisasi perdagangan dunia WTO. Kini, forum kerja sama APEC
dipandang sebagai salah satu arena kunci guna mendorong terselesaikannya Putaran Doha.
Hal ini didukung oleh komitmen Menteri-Menteri Perdagangan APEC yang melakukan
pertemuan setiap tahun guna mencari solusi konkret sistem perdagangan multilateral di
bawah semangat Bogor Goals.
APEC turut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
kawasan Asia Pasifik dan kemajuan perekonomian global. Selain itu, anggota-anggota APEC
juga berkontribusi terhadap 53% GDP dunia serta 44% volume perdagangan dunia. Tingkat
pertumbuhan rata-rata per tahun anggota APEC adalah 2,5%. Angka ini jauh lebih tinggi
ketimbang ekonomi non-APEC yang hanya mencapai 1,3% per tahun pada periode yang

sama. Gabungan ekonomi para anggota APEC meningkat dua kali lipat dari US$ 17,7 triliun
di tahun 1989 menjadi US$ 35,8 triliun di tahun 2010. Total perdagangan barang dan jasa
APEC juga meningkat lima kali lipat dari US$ 3,1 triliun di tahun 1989 menjadi US$ 16,8
triliun di tahun 2010. Sementara itu, dari sisi investasi, Foreign Direct Investment(FDI) yang
masuk ke kawasan APEC meningkat 715% antara tahun 1989 dan 2010.
Total perdagangan Indonesia di tahun 1989 ke seluruh Ekonomi Anggota APEC adalah US$
29,9 milyar. Di tahun 2011, angka ini naik menjadi US$ 289,3 milyar, atau 75% dari total
perdagangan Indonesia. [1] Pada tahun 1994, nilai FDI masuk ke Indonesia dari seluruh
Ekonomi Anggota APEC adalah US$ 2,5 milyar. Di tahun 2011, angka ini meningkat menjadi
US$ 10,6 milyar atau 54% dari total FDI masuk ke Indonesia.
APEC juga memiliki peranan penting dalam memajukan agenda reformasi struktural di
kawasan. Sejak tahun 2004, APEC giat membahas agenda reformasi struktural yang
mencakup reformasi perundang-undangan, tata kelola publik dan perusahaan, kebijakan
persaingan dunia usaha, dan penguatan infrastruktur hukum ekonomi. Pembahasan dan
pelaksanaan kegiatan pelatihan terkait agenda-agendabehind-the-border tersebut diharapkan
mampu mengurangi kerugian yang dialami dunia usaha dan perekonomian kawasan akibat
ekonomi biaya tinggi.
Bagi Indonesia, potensi dan peluang kerja sama ekonomi di APEC tersebut dapat
dimanfaatkan untuk mengembangkan kapasitas ekonomi, daya saing, dan inovasi Indonesia
dan mendorong terbukanya pasar di Asia Pasifik.
APEC Indonesia 2013
Pada tahun 2008, Indonesia mengajukan diri dan terpilih secara konsensus untuk menjadi
ketua dan tuan rumah KTT ke-21 APEC tahun 2013. Penyelenggaraan KTT ke-21 APEC dan
seluruh rangkaian pertemuan APEC di tahun 2013 di Indonesia perlu dimanfaatkan sebagai
peluang untuk menunjukan peran aktif Indonesia di dalam memajukan ketahanan ekonomi
regional, memanfaatkan integrasi ekonomi kawasan bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan
lapangan kerja, serta peningkatan investasi, dan ekspor Indonesia. Selain itu, diharapkan
ketuanrumahan Indonesia dapat membawa manfaat positif bagi upaya mempromosikan
potensi perdagangan, investasi, pariwisata, serta kebudayaan.
Tema APEC Indonesia 2013 adalah Resilient Asia-Pacific, Engine of Global
Growth. Kepemimpinan Indonesia pada APEC tahun 2013 dapat dimanfaatkan untuk
mewujudkan kawasan Asia Pasifik yang tangguh, berketahanan, dan cepat pulih di
tengah krisis ekonomi. Perwujudan visi ini diharapkan dapat menjadikan kawasan Asia
Pasifik sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia. Guna mendukung pencapaian tema
tersebut, Indonesia mengusung tiga prioritas utama, yaitu meningkatkan upaya
pencapaian Bogor Goals(Attaining the Bogor Goals), mendorong pertumbuhan berkelanjutan
yang merata (Achieving Sustainable Growth with Equity), serta meningkatkan konektivitas
kawasan (Promoting connectivity).
Di bawah prioritas Attaining the Bogor Goals, Indonesia berupaya mendorong penguatan
integrasi ekonomi regional melalui liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan mendukung
sistem perdagangan multilateral. Sementara itu, di bawah prioritas Achieving Sustainable
Growth with Equity, Indonesia berupaya mendorong penguatan peran UMKM dan wanita
dalam perekonomian, membahas masalah ketahanan pangan, serta mengarusutamakan isu-isu

kelautan di APEC. Sedangkan pada prioritas Promoting Connectivity, Indonesia berupaya


meningkatkan konektivitas fisik, institusional, dan perorangan di kawasan, diantaranya
melalui peningkatan kerja sama pengembangan dan investasi infrastruktur, kerja sama lintas
batas sektor pendidikan, kerja sama fasilitasi tanggap darurat bencana alam, serta kerja sama
fasilitasi pariwisata di kawasan Asia Pasifik.

CER
Integrasi Ekonomi-Pertahan antara Australia dan Selandia Baru
Hubungan kerja sama antara Australia dan Selandia Baru dapat dikatakan sebagai the most
ideal bilateral relations dalam sistem internasional. Dalam bidang perekonomian dan
perdagangan,Australia-New

Zaeland

Closer

economic

relations

free

trade

agreement (ANZCERTA) atau lebih dikenal dengan istilah CER (Closer Economic Relations)
merupakan landasan utama bagi terciptanya integrasi ekonomi yang solid. Kekuatan kedua
negara tersebut dapat disamakan dengan kekuatan ekonomi seluruh anggota ASEAN, dengan
total populasi hanya 24 juta jiwa.
Terdapat empat aspek utama yang diatur dalam mekanisme ANZCERTA, yaitu:
1. Perdagangan barang
2. Perdangangan jasa
3. Pengakuan bersama terhadap produk dan pekerjaan dan
4. Pembentukan badan akreditasi bersama.
Setelah sukses mengimplementasikan CER, Australia dan Selandia Baru membentuk SEM
(Single Economic Market) sebagai respons terhadap perkembangan dinamika system
perdangangan Internasional. Empat program utama yang diatur dalam SEM adalah:
1. Meningkatkan akses (mengurangi batas kedaulatan negara) terhadap aktivitas di
kedua negara.
2. Memperbaiki iklim investasi, terutama memberikan kemudahan bagi praktektisi usaha
asal Selandia Baru untuk beroperasi di Australia.

3. Meningkatkan efektivitas tata aturan kerja sama.


4. Mendukung pengembangan usaha melalui kerja sama industri dan kebijakan.
Geopolitik ASEAN dan Australia: Faktor Indonesia (?)
Integrasi ekonomi ASEAN dan respon Australia terhadap negara-negara dikawasan,
terutama Indonesia, sangat erat kaitannya dalam aspek Geografis dan dinamika politik
Intenasional. Geostrategi dapat diartikan sebagai siasat pemanfaatan posisi geografis dan
geofisika. Dalam ranah politik, geopolitik merupakan suatu cara pemanfaatan geostrategi
untuk kepentingan nasional, sementara itu dalam ranah ekonomi, geostrategi digunakan
sebagai siasat dalam pemanfaatan sumber-sumber alam untuk meningkatkan kemakmuran
masyarakat (geoekonomi).
Dalam waktu dekat, ASEAN akan mengimplemantasikan FTA terpadu dengan raksasaraksasa ekonomi dunia seperti Jepang, India, China, Australia, dan Selandia Baru. ASEAN
merupakan organisasi regional paling aktif di dunia yang sangat terbuka dalam pembentukan
FTA bilateral.
Salah satu fungsi FTA adalah sebagai strategi pertahanan geopolitik negara-negara ASEAN.
Eksistensi dan kapabilitas negara-negara ASEAN, yang umumnya terdiri dari negara
berkembang, secara individu tidak terlalu signifikan dalam sistem internasional. Beberapa
karakteristik yang dimilki oleh negara berkembang dalam konteks diplomasi dan politik luar
negeri adalah kurangnya perangkat diplomasi serta terbatasnya kemampuan implementasi
dan analisis kebijakan luar negeri. ASEAN juga berfungsi untuk menyatukan negara-negara
kecil yang dari sudut pandang geografis kurang ideal untuk mengadakan integrasi regional.
Kondisi geografis ASEAN yang tersebar dan terpisah-pisah bisa dikatakn kurang
menguntungkan, berbeda halnya dengan Uni Eropa dan Mercosur yang secara alami memang
ideal untuk mengadakan integrasi regional.
Dari sudut pandang geografis, Selandia Baru merupakan negara yang jauh lebih terpencil dari
Australia. Akses distribusi produk dari dan ke Selandia Baru sangant tergantung pada
kerjasamanya dengan Australia. Namun demikian, aliansi yang unik dan solid antara Selandia

Baru dan Australia, tidak menjadikan Selandia Baru sangat tergantung pada perlindungan
Amerika Serikat.
Selandia Baru tidak memiliki kewahatiran yang sama seperti halnya Australia terhadap
Indonesia. Selandia Baru secara tegas menolak keberadaan kapal-kapal laut Amerika Serikat
keculai apabila Amerika Serikat dapat menjamin bahwa kapal-kapal tersebut tidak
mengangkut senjata nuklir. Kondisi tersebut menjadikan politik dan kebijakan luar negeri
Selandia Baru lebih independen. Namun, perlu digarisbawahi kembali bahwa dari segi
geografis.

Hubungan Bilateral dan Friksi Politik Mewarnai Hubungan Anggota ASEAN dengan
Australia-Selandia Baru

Australia dan Selandia Baru sudah memilki hubungan diplomatik yang terjalin selama
puluhan tahun dengan Negara-negara ASEAN. Malaysia adalah mitra dagang terbesar di
ASEAN bagi Selandia Baru. Kedua Negara telah memulai negoisasi pembentukan FTA
bilateral sejak 2005. Singapura merupakan pasar potensial bagi produk-produk hasil
pertanian Australia. CEP dengan singapura sebagai yang paling komprehensif setelah kerja
sama serupa dengan Australia. FTA Antara Australia-Indonesia rencananya juga akan
dirampungkan pada 2009, segera setelah penyelesaian perundingan AANZ-FTA( ASEAN,
Australia,New Zaeland-Free Trade Area).
Hubungan bilateral antara Australia dengan Negara-negara CLMV (Kamboja, Laos,
Myanmar, Vietnam) juga terjalin baik. Sebagai Negara-negara yang tergolong ke dalam
kelompok Negara kurang berkembang, Kambodja dan Myanmar mendapatkan akses ekspor
bebas tarif ke pasar Australia. Pada 2007, dibentuk Parliamentary Friendship Group antara
kedua Negara Vietnam dan Selandia Baru mempererat hubungan bilateral. Hubungan
Malaysia dan Australia, misalnya selama puluhan tahun dapat dikatakan rapuh dan tidak
harmonis, yaitu selama masa kepemimpinan Perdana Menteri Mahatir Mohammad.
Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia pun juga diwarnai permasalahan dan

isu-isu yang sama, karena berbatasan langsung dan keduanya kerap dibandingkan dengan
Negara-negara ASEAN lainnya.
Dalam beberapa hal Australia merupakan tantangan politik bagi Indonesia, begitu juga
dengan Indonesia merupakan ancaman geopolitik bagi Australia. Negara-negara ASEAN
perlu memanfaatkan momentum tren Asia-oriented Australia ini demi kepentingan
kemajuan ekonomi dan integrasi kawasan

Potensi Kerjasama ASEAN dengan Australia dan Selandia Baru

Para pemimpin ASEAN bersama-sama dengan Australia dan Selandia Baru telah
menyetujuan pembentukan AANZ-FTA (ASEAN, Australia, NewZealand, free trade area)
yang rencananya akan dimulai diberlakukan pada tahun 2009. Kerjasama tersebut bisa
dikatan sedikit terlambat mengingat kondisi geostrategis yang selama ini menghubungkan
kedua kawasan.
Terdapat dua hal yang melatarbelakangi pentingnya pembentukan AANZ-FTA. Pertama, dari
faktor geografis, ASEAN, Australia, dan Selandia Baru berada pada satu kawasan regional.
Posisi Australia dan Selandia Baru yang sebenarnya kurang strategis, dapat dimanfaatkan
secara optimal oleh negara-negara ASEAN.
Kedua, hubungan perdagangan ASEAN dengan Australia dan Selandia Baru yang cenderung
bersifat saling komplementer. Dengan kata lain, masing-masing pihak memproduksi apa yang
diperlukan oleh pihak lainnya. Terdapat kecocokan pasar antara ASEAN dan AustraliaSelandia Baru. Kondisi tersebut pada dasarnya merupakan kondisi ideal yang dibutuhkan
dalam setiap kerjasama perdagangan bebas. Kedua pihak akan saling bekerjasama, tingkat
interdepensi meningkat, sementara iklim persaingan ekonomi, dapat diminimalisir. Apabila
berhasil diimplementasikan, AANZ-FTA merupakan mekanisme perjanjian perdagangan
yang paling komprehensif yang pernah dirumuskan oleh ASEAN. Negosiasi kerjasama
AANZ-FTA meliputi perdagangan barang, jasa, investasi, dan hak kekayaan intelektual
secara simultan.

GCC
Pembentukan

GCC

terutama

didasarkan

pada

kekhawatiran

negara-negara

anggotanya terhadap ancaman Iran. Yang dimaksud ancaman Iran adalah kemungkinan
meluasnya pengaruh revolusi Iran dan kemungkinan kemenangan Iran dalam Perang Teluk I
(Perang Iran-Irak, 1980-1988). Iran memang memandang GCC sebagai sarana untuk
menutupi ekspansi pengaruh Saudi. Iran juga memandang GCC sebagai sebuah instrumen
bagi kebijakan AS di Teluk, sebagaimana dulu negara-negara Arab radikal memandang Iran
di bawah Shah. Tapi Iran menegaskan tidak akan memusuhi GCC sepanjang organisasi itu
tidak lebih dari sekedar organisasi untuk mempertahankan diri serta tidak memenuhi Iran.
Dalam kenyataannya para anggota GCC memiliki kebebasan dalam menjalin hubungan
dengan Iran.[1]

Tujuan GCC secara khusus adalah:[2]


1.

Untuk mencapai koordinasi, integrasi dan hubungan yang erat menuju persatuan diantara
negara-negara anggota.

2.

Untuk mempererat pertalian, hubungan dan semua aspek kerja sama di antara rakyat di
kawasan Teluk.

3.

Menyeragamkan hukum dan sistem dalam masalah-masalah seperti: ekonomi dan keuangan,
perdagangan, bea cukai dan transportasi, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan dan
kesejahteraan sosial, komunikasi, informasi, politik, legislatif dan pemerintahan.

4.

Mendorong kemajuan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi industri,


pertambangan, pertanian, peternakan dan sumber air, serta mendirikan pusat-pusat riset ilmu
pengetahuan, serta menjalankan proyek-proyek bersama.

Pernyataan pertama mereka hanya menyangkut masalah ekonomi, kemungkinan besar


karena adanya pertentangan antara Oman dan Kuwait. Kendati GCC secara terbuka menolak
setiap bentuk aliansi militer dan pakta pertahanan antara negara-negara di kawasan ini dan
kekuatan-kekuatan asing, Oman lebih condong menjalin kerja sama militer dengan Amerika
Serikat, sementara Kuwait berkeingan menjalin hubungan dengan Uni Soviet (waktu itu).

Dalam kenyataannya selama paroh kedua tahun pertama, pertemuan-pertemuan GCC


secara terbuka difokuskan pada masalah-masalah keamanan. Ini merupakan akibat dari
terjadinya tiga peristiwa penting:[3]
1.

Meningkatnya perang Iran-Irak, termasuk serangan udara Iran terhadap tanker-tanker minyak
Kuwait

2.

Terjadinya usaha kudeta di Bahrain yang dilakukan kelompok pro-Iran

3.

Pembentukan pakta pertahanan pada Agustus 1981 antara Libya, Ethiopia, dan Yaman
Selatan.

Kemudian, ketika terjadi perang Iran-Irak, Oman Khawatir akan keamanan Selat
Hormuz yang menjadi pintu ke daerah Teluk. Pada tahun 1987 banyak kapal yang melintas di
selat itu menjadi sasaran perang. Menanggapi krisis Teluk akibat invasi Irak ke Kuwait,
Oman sebagai negara anggota GCC beranggapan bahwa perselisihan itu sebaiknya
diselesaikan tanpa menggunakan kekuatan bersenjata. Tetapi setelah Irak tidak mau angkat
kaki dari Kuwait, maka Oman sebagaimana sikap anggota GCC lainnya, mendukung
tindakan sekutu pimpinan Amerika Serikat. Dan setelah perang berakhir, Oman menjadi
mediator antara Irak dan anggota GCC untuk dapat berhubungan dengan lebih baik. Oman
juga menganggap perlu adanya hubungan baik antara GCC dan Iran.[4]

Peran GCC(Gulf Cooperation Council) terhadap negara anggotanya

Dalam peranannya GCC aktif untuk membantu negara-negara anggotanya terlihat


pada invasi Irak ke Kuwait yang terjadi pada 5 Mei 1991, GCC bersama Mesir dan Suriah
bertemu

dan

menghasilkan

Deklarasi

Damaskus

yang

terkenal

sebagai six

plus

two formula, yang prinsipnya menyetujui pembentukan Pasukan Kemanan Arab guna
menjaga kestabilan Kawasan Teluk Parsi serta mencegah terulanganya invasi Irak ke Kuwait.
[5]
Contoh konkritnya yang dapat dilihat pada akhir-akhir ini, konflik yang terjadi di
Bahrain tidak menyurutkan peran GCC sebagai organisasi regional untuk turut ikut campur
dalam konflik ini, karena Bahrain merupakan salah satu negara anggotanya. Atas permintaan
Manama untuk meredam protes di seluruh negeri yang menentang pemerintah, negara

anggota GCC, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar mengirim angkatan
bersenjata mereka ke pulau Teluk Persia.[6]
Gejolak yang terjadi di Bahrain ini akibat adanya perseteruan Muslim Syiah Muslim
Sunni. Masyarakat Muslim Syiah yang menjadi mayoritas di Bahrain menginginkan
demokrasi yang lebih besar lagi. Dengan begitu masyarakat Muslim Syiah dapat berkuasa.
Menurut saya, dengan adanya campur tangan Iran terhadap Bahrain dapat di curigai, sebab
mungkin ada kepentingan tertentu Iran atas Bahrain. Apalagi Iran dan Bahrain sama-sama
memiliki penduduk Muslim Syiah yang mayoritas. Apabila Syiah berkuasa di Bahrain, Iran
juga dapat dengan mudah menguasai Bahrain dengan alasan karena kita sama-sama Muslim
Syiah, kita adalah saudara.
Tuntutan demokrasi di Bahrain, bukan hanya persoalan antara dua negara antara Iran
dan Bahrain. Tetapi ada peran penting di sini bagi GCC (organisasi regional) karena sudah
menyangkut regional. Pengiriman pasukan Perisai Aljazeera bukan karena semata-mata
campur tangan militer terhadap Bahrain, akan tetapi merupakan keharusan karena Bahrain
adalah salah satu anggota GCC dalam konteks kerja sama militer dan pertahanan bersama di
antara negara-negara Arab Teluk. Jadi wajar saja apabila negara-negara teluk yang
merupakan anggota dari Dewan Kerjasama Teluk untuk membantu Bahrain.
Dalam pasal 2 dari kesepakatan pertahanan bersama GCC ditegaskan, negara-negara
anggota GCC menganggap bahwa setiap aksi permusuhan terhadap salah satu anggota berarti
turut melakukan tindakan permusuhan terhadap semua anggota GCC. Dalam Pasal 3
ditegaskan, adalah kewajiban bagi GCC membantu anggota lain yang mendapat ancaman
atau tindakan permusuhan. Ini sah dalam konteks pertahanan bersama GCC. Mereka bisa
melakukan tindakan militer yang bertujuan meredam ancaman serta mengembalikan
keamanan dan stabilitas di GCC. Pada Desember 2000, anggota GCC menandatangani
kesepakatan pertahanan bersama, di mana setiap anggota berkewajiban mempertahankan atau
membela anggota lain yang mendapat ancaman atau tindakan permusuhan.[7]
GCC membela Bahrain bukan karena ingin menguasainya. Aparat keamanan GCC
berada di bawah komando aparat kemanan Bahrain. Pasukan GCC hanya bertugas menjaga
tempat-tempat yang strategis, para pengunjuk rasa tetap ditangani oleh aparat keamanan
Bahrain.

ECOWAS

Hubungan internasional dewasa ini telah banyak berkembang dan mulai


meninggalkan pemikiran dasar bahwa negara hanya satu-satunya aktor yang diakui
yang berjuang sendiri untuk kekuasaan. Namun dalam perkembangannya, untuk
mencapai kepentingannya negara dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka
melakukan kerjasama dengan negara lain maupun aktor lain dan membentuk sebuah
ikatan tersendiri yang didasarkan pada berbagai kesamaan, baik letak geografis,
budaya politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Interaksi inilah yang kemudian
menumbuhkan

regionalisme

yang

disebabkan

oleh

interdependensi

atau

kesalingtergantungan antar negara yang kemudian diwadahi dalam sebuah institusi.


Uni Eropa adalah contoh sukses dari regionalisme ini yang memicu kawasan lain
untuk melakukan hal yang sama, tidak terkecuali di Afrika. Khususnya di kawasan
Afrika Barat, ide untuk menumbuhkan regionalisme dan interdendensi mulai mencuat
pada tahun 1975 dalam Perjanjian Lagos yang melahirkan sebuah blok ekonomi
negara-negara Afrika Barat yaitu ECOWAS (Economic Community of West African
States). Lalu apa tujuan utama didirikannya ECOWAS ini? Dan bagaimana peran
ECOWAS sendiri dalam membentuk regionalisme dan interdependensi negara-negara
Afrika Barat?
Afrika adalah sebuah kawasan yang memiliki sejarah panjang dari mulai masa
peradaban hingga masa kolonilaisme bangsa-bangsa Eropa disana. Berakhirnya
Perang Dunia dan Perang Dingin melahirkan banyak negara baru di kawasan Afrika
yang tadinya terpecah belah karena kedatngan bangsa Eropa yang memperbudak
mereka. Untuk menyatukan kembali Afrika banyak ide yang bermunculan untuk
membentuk sebuah insititusi yang mampu mewadahi kepentingan negara-negara di
Afrika. Namun karena Afrika yang terlalu luas, satu organisasi saja nampaknya tidak
akan mampu menyatukan seluruh Afrika, hal ini dibuktikan dengan runtuhnya OAU
(Organization of African Unity) sebagai organisasi regional pertama Afrika. Maka dari
itu organisasi regional juga muncul pada beberapa bagian Afrika, salah satunya adalah
di Afrika Barat dengan munculnya ECOWAS.
Gagasan mengenai pembentukan masyarakat Afrika Barat pertama kali
dikemukakan oleh Presiden Liberia William Tubman di tahun 1964 setahun setelah
OAU dinyatakan bubar. Pada awalnya ide ini hanya disetujui beberapa negara seperti
Pantai Gading, Guinea dan Liberia. Namun seiring perkembangan waktu akhirnya 15
negara Afrika Barat menyetujui ide ini dan menandatangani perjanjian pembentukan

ECOWAS (Economic Communitiy of West African States) melalui Perjanjian Lagos


pada 28 Mei 1975 (Sturman, 2012). ECOWAS memiliki tujuan utama yaitu
mempromosikan kerjasama dan integrasi dibidang ekonomi, sosial, aktivitas budaya
serta memimpin pembangunan ekonomi dan keuangan bersama melalui integrasi
ekonomi

negara-negara

anggotanya.

ECOWAS

juga

hirau

pada

perkembangan industri, transportasi, telekomunikasi, energi, pertanian, dan sumber daya


alam. Dalam perjanjiannya, ECOWAS membangun perekonomian negara-negara Afrika
Barat dengan membentuk pasar bersama melalui liberalisasi perdagangan, seperti
penghapusan pajak ekspor dan impor serta penghapusan hambatan tarif antar negara
anggotanya.

Dalam struktur organisasi ECOWAS sendiri terdapat 9 badan utama, yaitu the
Authority of Heads of State and Government, the Council of Ministers, the
Community Parliament, the Economic and Social Council, the Community Court of
Justice, the Executive Secretariat, the Fund for Co-operation, Compensation and
Development, Specialised Technical Commissions, and Any other institutions that
may be established by the Authority (ECOWAS Commision, 2012). Dalam
mendukung integrasi ekonomi sekaligus membantu pertumbuhan perekonomian
negara-negara anggotanya, ECOWAS memiliki organ utama yaitu Bank ECOWAS
Untuk Pembangunan dan Investasi, Bank ini dirancang untuk menerapkan kebijakan,
mengejar sejumlah program dan melaksanakan proyek-proyek pembangunan di
negara-negara anggota. Dengan cara ini ECOWAS dapat mengarahkan pembangunan
ekonomi disetiap negara anggotanya.
Pada perkembangannya, negara-negara Afrika Barat yang tergabung dalam
ECOWAS ini tidak hanya terfokus pada ekonomi saja, tetapi juga pada stabilitas dan
keamanan kawasan Afrika Barat. Sejak tahun 1993 ECOWAS juga memperluas
fokusnya pada kerjasama dibidang politik antar negara anggotanya. Selain itu
ECOWAS juga difokuskan untuk mencegah dan menangani konflik yang terjadi di
negara-negara anggotanya. Mengingat Afrika adalah kawasan yang rawan konflik baik
karena etnis, ekonomi, atau instabilitas politik, maka ECOWAS memfokuskan
perhatiannya pada pencegahan dan penyelesaian konflik juga. Salah satu contoh
konflik baru-baru ini adalah kasus pemberontakan yang terjadi di Mali, ketika tentara
pemberontak Mali mengkudeta presiden dan menguasai pemerintahan Mali.

Beberapa waktu lalu terjadi pemberontakan di Mali yang dilakukan oleh tentara
yang disebabkan karena kemarahan akibat tindakan pemberontakan Tuareg yang
berupaya memerdekakan Mali Utara. Pemberontakan itu bermula setelah anggota
paratrooper elite yang dikenal sebagai pasukan Baret Merah itu marah dengan cara
pemerintah menangani pemberontakan pimpinan Tuareg yang telah menewaskan
puluhan orang, memaksa sekitar 200.000 warga sipil yang lari dari rumah. Para tentara
pemberontak juga menuduh Presiden Tour kurang berupaya dalam mengatasi
pemberontak Tuareg di utara Mali (Wacana Bandung, 2012). Pemberontakan ini jelas
mengundang kecaman internasional dan juga perhatian dari ECOWAS sebagai
organisasi regional di kawasan Afrika Barat. Para petinggi ECOWAS dalam kasus ini
mengambil keputusan untuk menjatuhkan sanksi-sanksi diplomatik, perdagangan, dan
finansial kepada junta militer Mali berkuasa di pemerintahan kala itu. Kebijakan
ECOWAS ini ternyata menuai dampak positif, pemberontak militer Mali menyetujui
sebuah perjanjian yang ditawarkan ECOWAS mengenai pengalihan kekuasaan ke
pemerintahan sementara sampai digelarnya Pemilihan Umum dalam waktu dekat.
Menurut perjanjian ECOWAS dengan pemberontak tersebut ketua parlemen
Diouncounda Traore mengambil alih jabatan presiden sementara. Dalam waktu 40
hari Traore diwajibkan menggelar pemilihan parlemen. Selain itu perjanjian tersebut
juga memberikan amnesti bagi para tentara yang melakukan kudeta terhadap Presiden
Mali Amadou Toumani Tour, sebagai imbalannya ECOWAS juga mencabut sanksi
yang dijatuhkannya terhadap Mali pasca kudeta tersebut (Kostermans, 2012). Dari
contoh kasus ini ECOWAS memiliki peran penting dala penyelesaian konflik di
negara anggotanya, ECOWAS menajdi sebuah organisasi regional yang mampu
menjadi penengah konflik. Peran seperti inilah yang terus dikembangkan ECOWAS
dalam membentuk integrasi antar negara-negara di kawasan Afrika Barat.
ECOWAS sebagai organisasi regional negara-negara Afrika Barat telah tumbuh
tidak hanya dalam membangun kerja sama ekonomi antar negara anggotanya, tetapi
juga menjadi organisasi regional yang berperan dalam membentuk integrasi kawasan
dan menjaga stabilitas kawasan. ECOWAS telah menjadi alat mediasi bagi negaranegara Afrika Barat dalam meredakan konflik yang terjadi di negaranya. ECOWAS
dapat menjadi sebuah forum terbuka antar negara-negara Afrika Barat dalam
menyelsesaikan permasalahan-permasalahan kawasan. ECOWAS juga dapat menjadi
sarana bagi negara-negara Afrika Barat untuk berhubungan dengan dunia luar dan

membentuk interdependensi ekonomi yang dapat membantu pembangunan di Afrika


Barat. ECOWAS telah berperan penting dalam regionalisme dan pembentukkan
integrasi negara-negara Afrika Barat untuk menjadi kawasan yang lebih solid dan
menjadi organisasi regional yang memimpin pembangunan dibidang ekonomi, sosial,
aktivitas budaya dan keuangan bersama negara-negara anggotanya.

AFRICAN UNION
Munculnya Uni Afrika (AU) dapat digambarkan sebagai suatu kejadian besar yang besar
dalam evolusi kelembagaan benua. Pada 1999/9/9, Kepala Negara dan Pemerintahan
Organisasi Persatuan Afrika mengeluarkan Deklarasi (Deklarasi Sirte) menyerukan
pembentukan sebuah Uni Afrika, dengan melihat, antara lain, untuk mempercepat proses
integrasi di benua untuk mengaktifkan itu memainkan peran yang sah dalam perekonomian
global sementara menangani segi masalah sosial, ekonomi dan politik diperparah karena
mereka adalah dengan aspek-aspek negatif tertentu dari globalisasi.

Tujuan utama dari OAU itu, antara lain, untuk membebaskan benua sisa-sisa sisa penjajahan
dan apartheid, untuk mempromosikan kesatuan dan solidaritas antara negara Afrika, untuk
mengkoordinasikan dan mengintensifkan kerjasama untuk pembangunan, untuk menjaga
kedaulatan dan integritas wilayah Anggota Amerika Serikat dan untuk mempromosikan
kerjasama internasional dalam kerangka PBB.
Memang, sebagai organisasi kontinental OAU yang disediakan sebuah forum yang efektif
yang memungkinkan semua negara anggota untuk mengadopsi posisi dikoordinasikan
mengenai hal-hal yang menjadi perhatian bersama benua dalam fora internasional dan
membela kepentingan Afrika efektif.
Melalui OAU Komite Koordinasi untuk Pembebasan Afrika, Benua bekerja dan berbicara
sebagai salah satu dengan tekad tak terbagi dalam menempa sebuah konsensus internasional
dalam mendukung perjuangan pembebasan dan perjuangan melawan apartheid
Quest for Unity
negara-negara Afrika, dalam pencarian mereka untuk persatuan, pembangunan ekonomi dan
sosial di bawah bendera OAU tersebut, telah mengambil berbagai inisiatif dan membuat

kemajuan substansial dalam banyak daerah yang membuka jalan bagi pembentukan Uni
Afrika. Yang perlu diperhatikan antara ini adalah:
* Lagos Rencana Aksi (LPA) dan UU Final Lagos (1980); memasukkan program dan
strategi untuk pengembangan mandiri dan kerjasama antar negara-negara Afrika.
* Piagam Afrika Manusia dan Hak Rakyat (Nairobi 1981) dan Grand Bay Deklarasi dan
Rencana Aksi HAM: dua instrumen yang diadopsi oleh OAU untuk mempromosikan Hak
Asasi Manusia dan Rakyat di Benua tersebut. Piagam Hak Asasi Manusia mengarah pada
pembentukan Komisi Hak Asasi Manusia Afrika terletak di Banjul, Gambia.
* Afrika Prioritas Program Ekonomi pemulihan (APPER) - 1985: program darurat yang
dirancang untuk mengatasi krisis pembangunan tahun 1980-an, di tengah kekeringan
berkepanjangan dan kelaparan yang melanda benua dan efek melumpuhkan hutang luar
Afrika.
* OAU Deklarasi Politik dan Sosial-Ekonomi Situasi di Afrika dan Perubahan Fundamental
yang terjadi di Dunia (1990): yang menggarisbawahi menyelesaikan Afrika untuk merebut
imitatif, untuk menentukan nasib dan untuk menghadapi tantangan untuk perdamaian,
demokrasi dan keamanan .
* Piagam pada Populer Partisipasi diadopsi pada tahun 1990: sebuah kesaksian penentuan
baru dari OAU untuk berusaha ke tempat warga Afrika di pusat pembangunan dan
pengambilan keputusan.
* Perjanjian pembentukan Masyarakat Ekonomi Afrika (AEC) - 1991: umumnya dikenal
sebagai Perjanjian Abuja, ia berupaya untuk menciptakan AEC melalui enam tahapan yang
berpuncak pada suatu Pasar Bersama Afrika menggunakan Ekonomi Regional Masyarakat
(Rek) sebagai building blocks. Perjanjian telah beroperasi sejak tahun 1994.
* Mekanisme untuk Pencegahan Konflik, Manajemen dan Resolusi (1993): ekspresi praktis
dari penentuan kepemimpinan Afrika untuk mencari solusi untuk konflik, mempromosikan
perdamaian, keamanan dan stabilitas di Afrika.
* Kairo Agenda Aksi (1995): sebuah program untuk peluncuran ulang politik Afrika,
pembangunan ekonomi dan sosial.

* Afrika Common Posisi di Afrika Krisis Utang Luar Negeri (1997): strategi untuk
mengatasi Benua's Krisis Utang Luar Negeri.
* Keputusan Algiers tentang Perubahan konstitusional Pemerintah (1999) dan Deklarasi
Lome pada kerangka untuk Respon OAU untuk Perubahan inkonstitusional (2000).
* The 2000 Khidmat Deklarasi pada Konferensi Keamanan, Stabilitas, Pengembangan dan
Kerjasama: menetapkan prinsip-prinsip dasar untuk promosi Demokrasi dan Tata Kelola
Pemerintahan di Benua tersebut.
* Tanggapan untuk tantangan lain: Afrika telah memulai aksi kolektif melalui OAU dalam
perlindungan lingkungan, dalam memerangi terorisme internasional, dalam memerangi
momok HIV / AIDS, malaria dan TBC atau berurusan dengan isu-isu kemanusiaan seperti
pengungsi dan orang-orang terlantar , ranjau darat, kecil dan ringan senjata antara lain.
* Undang-undang Konstitutif Uni Afrika: diadopsi pada tahun 2000 di KTT Lome (Togo),
diberlakukan pada tahun 2001.
* Kemitraan Baru untuk Pembangunan Afrika (NEPAD): diadopsi sebagai Program AU
pada Lusaka Summit (2001).
Advent dari Uni Afrika
Inisiatif OAU membuka

jalan bagi kelahiran AU. Pada

1999, Majelismemutuskan untuk mengadakan sesi yang

bulan
luar

Juli
biasa untuk

mempercepat prosesintegrasi ekonomi dan politik di


benua itu. Sejak itu, empat Summits telahdiselenggarakan mengarah pada peluncuran resmi
Uni Afrika:
* Sesi Sirte Luar Biasa (1999) memutuskan untuk membentuk Uni Afrika
* The Lome Summit (2000) mengadopsi Undang-Undang Konstitutif Uni.
* The Lusaka Summit (2001) menggambar peta jalan untuk pelaksanaan AU
* The Durban Summit (2002) meluncurkan AU dan sidang Majelis 1 Kepala Negara
Uni Afrika.
Visi Uni Afrika

Visi Uni Afrika adalah bahwa: "Sebuah Afrika terintegrasi, makmur dan damai,didorong oleh
warga sendiri dan mewakili kekuatan dinamis dalam arena global" Inivisi yang baru, forward
looking, Afrika dinamis dan terintegrasi akan sepenuhnya diwujudkan melalui perjuangan
tiada henti pada berbagai bidang dan sebagai upaya jangka panjang. Uni Afrika telah
mengalihkan fokus dari mendukung gerakan-gerakan pembebasan di wilayah Afrika bekas di
bawah kolonialisme dan apartheid, seperti yang disebutkan pada OAU sejak 1963 dan UU
Konstitutif, untuk sebuah organisasi tombak-pos pembangunan Afrika dan integrasi.
The Tujuan AU
* Untuk mencapai persatuan yang lebih besar dan solidaritas antara negara-negara Afrika
dan bangsa Afrika;
* Untuk mempertahankan kedaulatan, integritas teritorial dan kemerdekaan negara anggota
tersebut;
* Untuk mempercepat integrasi politik dan sosial-ekonomi benua;
* Untuk mempromosikan dan mempertahankan posisi umum Afrika pada isu-isu yang
menarik bagi benua dan rakyatnya;
* Untuk mendorong kerjasama internasional, dengan mempertimbangkan dari Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia;
* Untuk mempromosikan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di benua tersebut;
* Untuk mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi dan institusi, partisipasi rakyat dan
pemerintahan yang baik;
* Untuk mempromosikan dan melindungi hak-hak sesuai dengan Piagam Afrika tentang
Manusia dan Masyarakat 'masyarakat manusia dan Hak dan instrumen hak asasi manusia
yang relevan;
* Untuk menentukan kondisi yang diperlukan yang memungkinkan benua untuk
memainkan peran yang sah dalam perekonomian global dan dalam negosiasi internasional;
* Untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan pada tingkat ekonomi, sosial dan
budaya serta integrasi ekonomi Afrika;
* Untuk mempromosikan kerjasama di semua bidang kegiatan manusia untuk
meningkatkan standar hidup masyarakat Afrika;
* Untuk koordinasi dan harmonisasi kebijakan antara yang ada dan yang akan datang
Ekonomi Masyarakat Daerah untuk pencapaian tujuan secara bertahap Uni;
* Untuk memajukan perkembangan benua dengan mempromosikan penelitian di semua
bidang, khususnya dalam sains dan teknologi;

* Untuk bekerja dengan mitra internasional yang relevan dalam pemberantasan penyakit
yang dapat dicegah dan promosi kesehatan yang baik di benua itu.