Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI ASKEP ANEMIA

HEMOLITIK

MAKALAH
GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI

ASKEP ANEMIA HEMOLITIK

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya,
penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Hemetologi & Imunologi yang berjudul
Askep Anemia Hemolitik tepat pada waktunya.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam pengrjaan makalah ini.

Penulis juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun agar penulis dapat berbuat
lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya
dan pembaca pada umumnya.

Jambi, 16 Desember 2009

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................


LAMPIRAN ................................................................................................

KATA PENGANTAR ...............................................................................

ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang ...............................................................................

1.2

Rumusan Masalah ..........................................................................

1.3 Tujuan ............................................................................................

BAB II KONSEP DASAR TEORI


2.1

Pengertian Anemia Hemolitik ........................................................

2.2

Etiologi...........................................................................................

2.3

Patofisiologi....................................................................................

2.4

Manifestasi klinis............................................................................

2.5

Pemeriksaan Diagnostik .................................................................

2.6

Penatalaksanaan..............................................................................

BAB III PEMBAHASAN KASUS ........................................................... 10


BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ....................................................................................... 21
4.2 Saran ................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Anemia hemolitik adalah anemia yang tidak terlalu sering dijumpai, tetapi bila
dijumpai memerlukan pendekatan diagnostik yang tepat. Pada kasus-kasus penyakit
dalam yang dirawat di RSUP sanglah tahun 1997. Anemia hemolitik merupakan 6% dari
kasus anemia, menempati urutan ketiga setelah anemia aplastik dan anemia sekunder
keganasan hematologis.
Anemia hemolitik yaitu meningkatnya kecepatan destruksi eritrosit sebelum waktunya.
Dalam keadaan in sumsum tulang memproduksi darah lebih cepat sebagai kompensasi
hilang nya sel darah merah. Pada kasus Anemia biasanya ditemukan splenomegali
diakibatkan karena absorbsi sel darah ysng telah mati secara berlebihan oleh limpa.
Karena pada anemia hemolitik banyaknya sel darah merah yang mati pada waktu yang
relative singkat
Pada kasus anemia hemolitik yang akut terjadi distensi abdomen di karenakna
hepatomegali dan splenomegali
Dalam makalah ini penulis membahas tentang konsep dasar anemia hemolitik serta
asuhan keperawatannya.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dat membuat rumusan masalah yaitu

sebagai berikut :
1. Apa Pengertian dari Anemia Hemolitik ?
2. Apa Etiologi dari anemia Hemolitik ?
3. Bagaimanakah patofisiologis pada anemia Hemolitik?
4. Apa saja manifestasi dari anemia Hemolitik?
5. Pemeriksaan penunjang apa saja yang perlu dilakukan ?
6. Bagaimankah penatalaksanaan nya ?
7. Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Anemia Hemolitik ?

1.3 Tujuan
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Sistem
Hematologi & Imunologi yang berjudul Askep Anemia Hemolitik . Tujuan khusus
penulisan makalah ini adalah menjawab pertanyaan yang telah dijabarkan pada rumusan
masalah agar penulis ataupun pembaca tentang konsep skoliosis serta proses keperawatan
dan pengkajiannya.

BAB II
KONSEP DASAR TEORI
2.1

Pengertian
Anemia hemolitik adalah anemia yan di sebabkan oleh proses hemolisis,yaitu
pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya.Pada anemia hemolitik,
umur eritrosit menjadi lebih pendek (normal umur eritrosit 100-120 hari).
Anemia hemolitik adalah anemia karena hemolisis, kerusakan abnormal sel-sel darah
merah (sel darah merah), baik di dalam pembuluh darah (hemolisis intravaskular) atau di
tempat lain dalam tubuh (extravascular)..

2.2

Etiologi
Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik &
faktor ekstrinsik.

1. Faktor Intrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi pada metabolisme dalam eritrosit itu sendiri sel eritrosit.
Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:
Keadaan ini dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
a. Gangguan struktur dinding eritrosit
Sferositosis
Penyebab hemolisis pada penyakit ini diduga disebabkan oleh kelainan membran
eritrosit. Kadang-kadang penyakit ini berlangsung ringan sehingga sukar dikenal. Pada
anak gejala anemianya lebih menyolok daripada dengan ikterusnya, sedangkan pada
orang dewasa sebaliknya. Suatu infeksi yang ringan saja sudah dapat menimbulkan krisis
aplastik
Kelainan radiologis tulang dapat ditemukan pada anak yang telah lama menderita
kelainan ini. Pada 40-80% penderita sferositosis ditemukan kolelitiasis.
Ovalositosis (eliptositosis)
Pada penyakit ini 50-90% dari eritrositnya berbentuk oval (lonjong). Dalam keadaan
normal bentuk eritrosit ini ditemukan kira-kira 15-20% saja. Penyakit ini diturunkan
secara dominan menurut hukum mendel. Hemolisis biasanya tidak seberat sferositosis.

Kadang-kadang ditemukan kelainan radiologis tulang. Splenektomi biasanya dapat


mengurangi proses hemolisis dari penyakit ini.
A-beta lipropoteinemia
Pada penyakit ini terdapat kelainan bentuk eritrosit yang menyebabkan umur eritrosit
tersebut menjadi pendek. Diduga kelainan bentuk eritrosit tersebut disebabkan oleh
kelainan komposisi lemak pada dinding sel.
b. Gangguan pembentukan nukleotida
Kelainan ini dapat menyebabkan dinding eritrosit mudah pecah, misalnya pada
panmielopatia tipe fanconi.
Anemia hemolitik oleh karena kekurangan enzim sbb:
Definisi glucose-6- phosphate-Dehydrogenase (G-6PD)
Defisiensi Glutation reduktase
Defisiensi Glutation
Defisiensi Piruvatkinase
Defisiensi Triose Phosphate-Isomerase (TPI)
Defisiensi difosfogliserat mutase
Defisiensi Heksokinase
Defisiensi gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase
c.

Hemoglobinopatia
Pada bayi baru lahir HbF merupakan bagian terbesar dari hemoglobinnya (95%),
kemudian pada perkembangan selanjutnya konsentrasi HbF akan menurun, sehingga pada
umur

satu

tahun

telah

mencapai

keadaan

yang

normal

Sebenarnya terdapat 2 golongan besar gangguan pembentukan hemoglobin ini, yaitu:


Gangguan struktural pembentukan hemoglobin (hemoglobin abnormal). Misal HbS, HbE
dan lain-lain
Gangguan jumblah (salah satu atau beberapa) rantai globin. Misal talasemia
2. Faktor Ekstrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit.
Akibat reaksi non imumitas : karena bahan kimia / obat

Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang dibentuk oleh
tubuh sendiri.
Infeksi, plasmodium, boriella
2.3

Patofisiologi
Hemolisis adalah acara terakhir dipicu oleh sejumlah besar diperoleh turun-temurun
dan gangguan. etiologi dari penghancuran eritrosit prematur adalah beragam dan dapat
disebabkan oleh kondisi seperti membran intrinsik cacat, abnormal hemoglobin, eritrosit
enzimatik cacat, kekebalan penghancuran eritrosit, mekanis cedera, dan hypersplenism.
Hemolisis dikaitkan dengan pelepasan hemoglobin dan asam laktat dehidrogenase
(LDH). Peningkatan bilirubin tidak langsung dan urobilinogen berasal dari hemoglobin
dilepaskan.
Seorang pasien dengan hemolisis ringan mungkin memiliki tingkat hemoglobin
normal jika peningkatan produksi sesuai dengan laju kerusakan eritrosit. Atau, pasien
dengan hemolisis ringan mungkin mengalami anemia ditandai jika sumsum tulang
mereka produksi eritrosit transiently dimatikan oleh virus (Parvovirus B19) atau infeksi
lain, mengakibatkan kehancuran yang tidak dikompensasi eritrosit (aplastic krisis
hemolitik, di mana penurunan eritrosit terjadi di pasien dengan hemolisis berkelanjutan).
Kelainan bentuk tulang tengkorak dan dapat terjadi dengan ditandai kenaikan
hematopoiesis, perluasan tulang pada masa bayi, dan gangguan anak usia dini seperti
anemia sel sabit atau talasemia.

2.4

Manifestasi Klinis
Kadang kadang Hemolosis terjadi secara tiba- tiba dan berat, menyebabkan krisis
hemolotik, yang menyebakan krisis hemolitik yang di tandai dengan:

Demam
Mengigil
Nyeri punggung dan lambung
Perasaan melayang
Penurunan tekana darah yang berarti
Secara mikro dapat menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:

1. Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil pemecahan eritrosit.
Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.
2. Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang seharusnya tidak ada karena
hemoglobin terikat pada eritrosit. Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat
hemoglobin dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat
diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan menyebabkan
hemoglobinemia.
3. Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.
4.

Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai kompensasi banyaknya


eritrosit yang hancur sehingga sel muda seperti retikulosit banyak ditemukan.

2.5

Pemeriksaan Diagnostik
1. Gambaran penghancuran eritrosit yang meningkat:

Bilirubin serum meningkat


Urobilinogen urin meningkat, urin kuning pekat
Strekobilinogen feses meningkat, pigmen feses menghitam
2. Gambaran peningkatan produksi eritrosit
Retikulositosis, mikroskopis pewarnaan supravital
hiperplasia eritropoesis sum-sum tulang

3. Gambaran rusaknya eritrosit:


morfologi : mikrosferosit, anisopoikilositosis, burr cell, hipokrom mikrositer, target cell,
sickle cell, sferosit.
fragilitas osmosis, otohemolisis
umur eritrosit memendek. pemeriksaan terbaik dengan labeling crom. persentasi aktifikas
crom dapat dilihat dan sebanding dengan umur eritrosit. semakin cepat penurunan
aktifikas Cr maka semakin pendek umur eritrosit
2.6

Penatalaksanaan / Pengobatan
Lebih dari 200 jenis anemia hemolitik ada, dan tiap jenis memerlukan perawatan khusus.
Oleh karena itu, hanya aspek perawatan medis yang relevan dengan sebagian besar kasus
anemia hemolitik yang dibahas di sini.

1. Terapi transfusi
Hindari transfusi kecuali jika benar-benar diperlukan, tetapi mereka mungkin penting bagi
pasien dengan angina atau cardiopulmonary terancam status.
Administer dikemas sel darah merah perlahan-lahan untuk menghindari stres jantung.
Pada anemia hemolitik autoimun (AIHA), jenis pencocokan dan pencocokan silang
mungkin sulit. Gunakan paling tidak kompatibel transfusi darah jika ditandai.. Risiko
hemolisis akut dari transfusi darah tinggi, tetapi derajat hemolisis tergantung pada laju
infus.. Perlahan-lahan memindahkan darah oleh pemberian unit setengah dikemas sel
darah merah untuk mencegah kehancuran cepat transfusi darah.
Iron overload dari transfusi berulang-ulang untuk anemia kronis (misalnya, talasemia atau
kelainan sel sabit) dapat diobati dengan terapi khelasi. Tinjauan sistematis baru-baru ini
dibandingkan besi lisan chelator deferasirox dengan lisan dan chelator deferiprone
parenteral tradisional agen, deferoxamine. 10

2. Menghentikan obat
Discontinue penisilin dan agen-agen lain yang dapat menyebabkan hemolisis kekebalan
tubuh dan obat oksidan seperti obat sulfa (lihat Diet).
Obat yang dapat menyebabkan hemolisis kekebalan adalah sebagai berikut (lihat Referensi
untuk daftar lebih lengkap):
Penisilin
Sefalotin
Ampicillin
Methicillin
Kina
Quinidine
Kortikosteroid dapat dilihat pada anemia hemolitik autoimun.
3. Splenektomi dapat menjadi pilihan pertama pengobatan dalam beberapa jenis anemia
hemolitik, seperti spherocytosis turun-temurun.

Dalam kasus lain, seperti di AIHA, splenektomi dianjurkan bila langkah-langkah lain telah
gagal.
Splenektomi biasanya tidak dianjurkan dalam gangguan hemolitik seperti anemia
hemolitik agglutinin dingin.
Diimunisasi terhadap infeksi dengan organisme dikemas, seperti Haemophilus influenzae
dan Streptococcus pneumoniae, sejauh sebelum prosedur mungkin.

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
KASUS :
Tn D datang kerumah sakit DKT pada tanggal 14 November 2009 dengan di antar
keluarga nya, Tn D mengeluhkan pusing, lemas, menggigil, nyeri punggung dan lambung
nya serta sesak nafas, dan mudah lelah saat beraktivitas. Tn D mengatakan tidak ada
nafsu makan, mual dan muntah. Tn D mengatakan sebelum sakit berat badan nya 65 Kg.
Klien tampak pucat, konjungtiva pucat. Tn D mengatakan bahwa awalnya dia mengira
kalau dia hanya kelelahan bekerja dan jadwal makan tidak teratur, tapi lama kelamaan
penyakitnya bertamabah parah.
Setelah dilakukan pemerikasaan TD : 100/70 mmHg, Suhu : 35 0 C, RR : 24x/i, HR :
85x/i, BB : 58, TB : 167. Badan pasien teraba dingin. Pada palpasi bagian abdomen
diketahui bahwa pasien mengalami Splenomegali dan pada saat aukultasi terdengar bunyi
usus menurun . Porsi makan yang diberikan tidak digabiskan. Urine pasien berwarna
pekat, feses nya hitam dan keras .
Setelah dilakukan pemeriksaan Labor didapatkan jumlah eritrosit 3000 sel/mm3.
A.

Pengkajian
DS :

Tn D mengeluhkan pusing, lemas, menggigil, nyeri punggung dan lambung, serta sesak
nafas dan mudah lelah saat beraktivitas.

Tn D mengatakan tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah


Tn D mengatakan sebelum sakit berat badan nya 65 Kg.
DO :
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 350
RR : 24x/i
HR : 85x/i
BB : 58 Kg
Pasien tampak pucat dan konjungtiva pucat
Pada saat palpasi abdomen terdapat splenomegali
Porsi makan yang diberikan tidak dihabiskan
Badan pasien teraba dingin
Urine pekat dan feses hitam
Pada Auskultasi terdengar bunyi usus
Jumlah eritrosit 3000 sel/mm3
B.

Analisa Data
NO
1

SIGN & SYMTOMP


DS : Tn D mengeluhkan pusing,

ETIOLOGI
Penurunan komponen seluler

PROBLEM
Perubahan
perfusi

lemas, menggigil, nyeri punggung

yang

jaringan

dan lambung, serta sesak nafas dan

pengiriman oksigen

diperlukan

untuk

mudah lelah saat beraktivitas.


DO :
Badan pasien teraba dingin
Pasien tampak pucat dan konjungtiva
pucat
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 350
RR : 24x/i
HR : 85x/i
2

Jumlah eritrosit 3000 sel/mm3


DS :
Tn D mengatakan tidak ada nafsu

Nafsu makan menurun, mual

Gangguan nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh.

makan, mual, dan muntah


Tn D mengatakan sebelum sakit berat
badan nya 65 Kg.
DO :
Porsi makan yang diberikan tidak
habis
Keadaan umum buruk
BB : 58 Kg
DS : Tn D mengatakan lambung nya

Penurunan

masukan

diet;

nyeri

perubahan proses pencernaan;

DO :

efek samping terapi obat.

Konstipasi

Urine pekat dan feses hitam


Pada Auskultasi terdengar bunyi usus
4

menurun
DS : Tn D mengeluhkan pusing,

Ketidakseimbangan

lemas, serta sesak nafas dan mudah

suplai oksigen (pengiriman)

lelah saat beraktivitas.

dan

DO :

fisik.

kebutuhan,

antara

Intoleransi aktifitas

kelemahan

TD : 100/70 mmHg
RR : 24x/i
5

HR : 85x/i
DS : Tn D mengatakan bahwa

Kurang terpajan/mengingat ;

awalnya dia mengira kalau dia hanya

salah interpretasi informasi ;

kelelahan bekerja dan jadwal makan

tidak

tidak teratur, tapi lama kelamaan

informasi.

mengenal

Kurang pengetahuan

sumber

penyakitnya bertamabah parah.


DO : -

C.

NCP

NO Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1. Perubahan perfusi jaringan Peningkatan perfusi
- Awasi tanda vital
- Memberikan informasi
b.d Penurunan komponen jaringan

kaji

pengisiantentang

seluler yang diperlukan

kapiler,

untuk pengiriman oksigen KH :

kulit/membrane

warnaderajat/keadekuatan
perfusi

jaringan

Keadaan umum Tn.mukosa, dasar kuku. membantu


DS : Tn D mengeluhkanD membaik

dan

menetukan

kebutuhan intervensi.

pusing, lemas, menggigil, TD : 120/80 mmHgnyeri

punggung

dan Suhu 36,50 C 370 C tempat tidur sesuaiparu

lambung, serta sesak nafas Jumlah Eritrosit


dan

mudah

lelah

Tinggikan kepala
- Meningkatkan ekspansi
toleransi.

dan

memaksimalkan

saat5000 9000 sel/mm3

oksigenasi

untuk

beraktivitas.

kebutuhan

seluler.

DO :

Catatan : kontraindikasi

Badan pasien teraba

bila ada hipotensi.

dingin

Pasien tampak pucat dan

upaya

Awasi

menununjukkan
;
gangguan
jajntung
auskultasi
bunyi
karena regangan jantung
napas
perhatikan
lama/peningkatan
bunyi adventisius.
kompensasi
curah
pernapasan

konjungtiva pucat
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 350
RR : 24x/i
HR : 85x/i
Jumlah eritrosit 3000

Gemericik

jantung.
-

sel/mm3

Selidiki

keluhan
-

Iskemia

seluler

nyeri dada/palpitasi. mempengaruhi jaringan


miokardial/

potensial

risiko infark.
- Hindari penggunaan
- Termoreseptor jaringan
botol
penghangat
dermal dangkal karena
atau botol air panas.
gangguan oksigen
Ukur suhu air mandi
dengan thermometer.
-

Kolaborasi
pengawasan
pemeriksaan
laboraturium.
Berikan

sel

merah
lengkap/packed

hasil
darah

Mengidentifikasi
defisiensi dan kebutuhan
pengobatan
terhadap terapi.

/respons

produk darah sesuai


indikasi.
-

Berikan
tambahan

oksigen
sesuai

indikasi.
-

Berikan

Memaksimalkan

transufitransport

oksigen

ke

darah sesuai indikasi jaringan.


2. Gangguan nutrisi kurang

Kebutuhan nutrisi

dari kebutuhan tubuh.

sesuai dengan

b.d nafsu makan menurun, kebutuhan tubuh


mual

sel darah merah


Kaji riwayat nutrisi, Mengidentifikasi
termasuk

makandefisiensi, memudahkan

yang disukai

intervensi

Observasi dan catat Mengawasi masukkan


KH :

DS :

Keadaan umum

masukkan makanankalori atau kualitas


pasien

kekurangan konsumsi

Tn D mengatakan tidak ada membaik


nafsu makan, mual, dan

menghabiskan porsi

Tn D mengatakan sebelum makan yang


sakit berat badan nya 65

Mengawasi penurunan
Timbang

beratberat badan atau

badan setiap hari.

Menurunkan

Mengalami

Porsi makan yang diberikan

peningkatan BB

efektivitas intervensi
nutrisi

diberikan

DO :
tidak habis

makanan

Tn D dapat

muntah

Kg.

Meningkatkan jumlah

Berikan
sedikit

makankelemahan,
denganmeningkatkan

frekuensi sering danpemasukkan dan

Keadaan umum buruk

atau makan diantaramencegah distensi gaster

BB : 58 Kg

waktu makan

Gejala GI dapat

Observasi dan catatmenunjukkan efek


kejadian

anemia (hipoksia) pada

mual/muntah, flatusorgan.
dan dan gejala lain
yang berhubungan

Berikan dan Bantu Meningkatkan nafsu


hygiene mulut yangmakan dan pemasukkan
baik ; sebelum danoral. Menurunkan
sesudah

makan,pertumbuhan bakteri,

gunakan sikat gigimeminimalkan


halus

untukkemungkinan infeksi.

penyikatan
lembut.

yangTeknik perawatan mulut


Berikankhusus mungkin

pencuci mulut yangdiperlukan bila jaringan


di

encerkan

bilarapuh/luka/perdarahan

mukosa oral luka.

dan nyeri berat.


Membantu dalam

Kolaborasi pada ahlirencana diet untuk


gizi untuk rencanamemenuhi kebutuhan
diet.

individual
Meningkatakan
efektivitas program

Kolaborasi ; pantaupengobatan, termasuk


hasil

pemeriksaansumber diet nutrisi yang

laboraturium

dibutuhkan.
Kebutuhan penggantian
tergantung pada tipe

Kolaborasi; berikananemia dan atau


obat sesuai indikasi adanyan masukkan oral
yang buruk dan
defisiensi yang
3. Konstipasi b.d penurunan Membuat/kembali

Observasi warna

diidentifikasi.
Membantu
mengidentifikasi

masukan diet; perubahan

pola normal dari

feses, konsistensi,

proses pencernaan; efek

fungsi usus

frekuensi dan jumlah penyebab /factor

samping terapi obat.

pemberat dan intervensi

KH :
DS : Tn D mengatakan Tn D mengatakan

Auskultasi bunyi

yang tepat.

usus

bunyi usus secara umum

lambung nya nyeri

lambungnya tidak

meningkat pada diare

DO :

nyeri lagi

dan menurun pada

Urine pekat dan feses hitam

Warna urine normal,

konstipasi

Pada Auskultasi terdengar

dan warna feses

Awasi intake dan

normal serta

output (makanan dan dehidrasi, kehilangan

konsistensi yang

cairan).

bunyi usus menurun.

dapat mengidentifikasi
berlebihan atau alat

normal

dalam mengidentifikasi

Bunyi usus normal.

defisiensi diet
membantu dalam
memperbaiki konsistensi
Dorong masukkan feses bila konstipasi.
cairan 2500-3000

Akan membantu

ml/hari dalam

memperthankan status

toleransi jantung

hidrasi pada diare


menurunkan distress
gastric dan distensi

Hindari makanan

abdomen

yang membentuk gas mencegah ekskoriasi


Kaji kondisi kulit

kulit dan kerusakan

perianal dengan
sering, catat
perubahan kondisi
kulit atau mulai
kerusakan. Lakukan
perawatan perianal
setiap defekasi bila
terjadi diare.
Kolaborasi ahli gizi
untuk diet seimbang serat menahan enzim

dengan tinggi serat pencernaan dan


dan bulk.

mengabsorpsi air dalam


alirannya sepanjang
traktus intestinal dan
dengan demikian
menghasilkan bulk,
yang bekerja sebagai
perangsang untuk

Berikan pelembek defekasi.


feses, stimulant

mempermudah defekasi

ringan, laksatif

bila konstipasi terjadi.

pembentuk bulk atau


enema sesuai
indikasi. Pantau
keefektifan.
(kolaborasi)
Berikan obat
antidiare, misalnya
Defenoxilat

menurunkan motilitas

Hidroklorida dengan usus bila diare terjadi.


atropine (Lomotil)
dan obat
mengabsorpsi air,
misalnya Metamucil.
4. Intoleransi

aktifitas

b.dDapat

ketidakseimbangan antaramempertahankan
suplai
(pengiriman)
kebutuhan,
fisik.

(kolaborasi).
Kaji kemampuan
- Mempengaruhi pilihan
ADL pasien.

intervensi/bantuan

oksigen/meningkatkan
-

danambulasi/aktivitas
-

kelemahan
KH :

Observasi

Manifestasi

tanda-kardiopulmonal

dari

tanda vital sebelumupaya jantung dan paru


dan

sesudahuntuk membawa jumlah

aktivitas.

Tn D dapat

oksigen

DS : Tn D mengeluhkanberaktivitas dengan

DO :

ke

jaringan

pusing, lemas, serta sesaknormal.


nafas dan mudah lelah saat RR : 12 21x/i
beraktivitas.
HR : 60 80x/i

adekuat

- Meningkatkan istirahat
- Berikan lingkunganuntuk
tenang,

TD : 120/80 mmHg

menurunkan

batasikebutuhan

pengunjung,

oksigen

dantubuh dan menurunkan

TD : 100/70 mmHg

kurangi suara bising,regangan jantung dan

RR : 24x/i

pertahankan
baring

HR : 85x/i

tirahparu

bila

di

indikasikan
-

- Meningkatkan aktivitas

Rencanakansecara bertahap sampai


kemajuan

aktivitasnormal

dengan

dan

pasien,memperbaiki

termasuk

tonus

aktivitasotot/stamina

tanpa

yang pasien pandangkelemahan.


perlu.

TingkatkanMeingkatkan harga diri

tingkat

aktivitasdan rasa terkontrol.

sesuai toleransi.
-

Gunakan

Mendorong

teknikmelakukan

pasien
banyak

menghemat energi, aktivitas

dengan

membatasi
penyimpangan
dan

energi
mencegah

kelemahan.
-

Anjurkan

Regangan/stress

pasienkardiopulmonal

untuk

berlebihan

mengehentikan

menimbulkan

aktivitas

biladekompensasi

palpitasi, nyeri dada,/kegagalan


nafas

pendek,

dapat

kelemahan,
5. Kurang pengetahuan

atau

pusing terjadi.
Pasien mengerti dan Berikan informasi

memberikan dasar

Kurang terpajan/mengingat memahami tentang

tentang anemia

; salah interpretasi

spesifik. Diskusikan pasien dapat membuat

penyakit, prosedur

informasi ; tidak mengenal diagnostic dan


sumber informasi.

kenyataan bahwa

rencana pengobatan. terapi tergantung


KH :

DS : Tn D mengatakan
Pasien menyatakan
bahwa
awalnya
dia
pemahamannya
mengira kalau dia hanya
proses penyakit dan
kelelahan bekerja dan
penatalaksanaan
jadwal makan tidak teratur,
penyakit.
tapi
lama
kelamaan
Mengidentifikasi factor
penyakitnya bertamabah
penyebab.
parah.
Melakukan tiindakan
DO : yang

pilihan yang tepat.


Menurunkan ansietas

pada tipe dan

dan dapat meningkatkan

beratnya anemia.

kerjasama dalam

Tinjau tujuan dan

program terapi

persiapan untuk
pemeriksaan

ansietas/ketakutan

diagnostic

tentang ketidaktahuan
meningkatkan stress,
selanjutnya
meningkatkan beban
jantung. Pengetahuan
menurunkan ansietas.

perlu/perubahan pola
hidup.

pengetahuan sehingga

Kaji tingkat

megetahui seberapa

pengetahuan klien

jauh pengalaman dan

dan keluarga tentang pengetahuan klien dan


penyakitnya

keluarga tentang
penyakitnya

Berikan penjelasan dengan mengetahui


pada klien tentang

penyakit dan kondisinya

penyakitnya dan

sekarang, klien akan

kondisinya sekarang. tenang dan mengurangi


rasa cemas
Minta klien dan

Mengetahui seberapa

keluarga mengulangi jauh pemahaman klien


kembali tentang

dan keluarga serta

materi yang telah

menilai keberhasilan

diberikan

dari tindakan yang


dilakukan

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Anemia hemolitik adalah anemia yan di sebabkan oleh proses hemolisis,yaitu

pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya.Pada anemia hemolitik,


umur eritrosit menjadi lebih pendek (normal umur eritrosit 100-120 hari)
Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik &
faktor ekstrinsik.
1. Faktor Intrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi pada metabolisme dalam eritrosit itu sendiri sel eritrosit.
Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:
Keadaan ini dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
Gangguan struktur dinding eritrosit
Gangguan pembentukan nukleotida
Hemoglobinopatia
2. Faktor Ekstrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit.
Akibat reaksi non imumitas : karena bahan kimia / obat
Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang dibentuk oleh
tubuh sendiri.
Infeksi, plasmodium, boriella

4.2

Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena

itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis
dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
Handayani Wiwik dan Andi Sulistyo. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika
http://poetriezhuzter.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-anemia.html