Anda di halaman 1dari 15

I.

Pendahuluan
Berdasarkan Permenkes no.129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan

Minimal Rumah Sakit, Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas perayanan
kesehatan

perorangan

merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang

sangat diperlukan dalam mendukung

penyelenggaraan upaya kesehatan.

Penyelenggaran pelayanan kesehatan di rumah sakit mempunyai karakteristik dan


organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan
perangkat keilmuan yang beragam, berinteraksi satu sama lain. Ilmu pengetahuan
dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang perlu diikuti oleh
tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu standar,
membuat semakin kompleksnya permasalahan di rumah sakit. Pada hakekatnya
rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya
merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf keejahteraan
masyarakat.
1. Standar Pelayanan Rumah Sakit
Berdasarkan Permenkes no.129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit, Standar pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat
SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan
urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal.
Indikator SPM adalah tolak ukur untuk prestasi kuantitatif dan kualitatif yang
digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuh didalarn
pencapaian suatu SPM tertentu berupa masukan, proses, hasil dan atau manfaat
pelayanan.
Standar pelayanan minimal ini dimaksudkan agar tersedianya panduan
bagi daerah dalam melaksanakan perencanaan pelaksanaan dan pengendalian
serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan standar pelayanan
minimal rumah sakit. Standar pelayanan minimal ini bertujuan untuk
menyamakan pemahaman tentang definisi operasional, indikator kinerja, ukuran
atau satuan rujukan.
Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh

setiap warga secara minimal. Juga merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur
pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan Layanan Umum kepada
masyarakat.
2. Pelayanan di Rumah Sakit
Pelayanan di rumah sakit dibagi ke dalam dua kelompok yaitu Pelayanan
Utama dan Pelayanan Penunjang.
a. Pelayanan Utama
Pelayanan Utama pada Rumah Sakit merupakan pemberian pelayanan
medik. Pelayanan medik adalah upaya kesehatan perorangan meliputi
pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diberikan kepada
pasien oleh tenaga medis sesuai dengan standard pelayanan medis dengan
memanfaatkan sumber daya dan fasilitas secara optimal.
b. Pelayanan Penunjang
Pelayanan penunjang adalah pelayanan yang dilakukan sebagai
penunjang dari pelayanan utama di rumah sakit. Pelayanan penunjang medik
di rumah sakit menurut Jhon R. Griffith meliputi pelayanan diagnostik,
terapeutik dan kegiatan di masyarakat umum. Pelayanan Penunjang
diagnostik meliputi: Laboratorium (kimiawi, hematologi, histopologi,
bakteriologi, virologi, otopsi, dan kamar jenazah), Diagnostik Imaging
(radiologi, tomografi, radioisotop, ultra-sonografi_, dan CT-Scan), dll.
Pelayanan Penunjang Terapuetik meliputi: Instalasi Farmasi, Anestesi, Ruang
Bedaj, Ruang persalinan, Bank Darah, Rehabilitasi Medik, dan lain-lain.
Pelayanan Penunjang Kegiatan di Masyarakat umum meliputi: Imunisasi,
Program Skrining, Pengendalian Berat Badan.

3. Pelayanan Rawat Jalan


Pelayanan rawat jalan merupakan salah satu unit kerja di rumah sakit yang
melayani pasien berobat jalan dan tidak lebih dari 24 jam pelayanan, termasuk
seluruh prosedur diagnostik dan terapeutik. Rawat jalan juga merupakan salah
satu yang dominan dari pasar rumah sakit serta merupakan sumber keuangan yang

bermakna, sehingga selalu dilakukan upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan


(Azwar, 1996).
4.1 Tujuan Pelayanan Rawat Jalan
Tujuan pelayanan Rawat Jalan diantaranya adalah untuk memberikan
konsultasi kepada pasien yang memerlukan pendapat dari seorang dokter
spesialis, dengan tindakan pengobatan atau tidak. Selain itu juga untuk
menyediakan pelayanan tindak lanjut bagi pasien rawat inap yang sudah diijinkan
pulang tetapi masih harus dikontrol kondisi kesehatannya (Sholeh, 1993).

4.2 Penunjang Pelayanan Rawat Jalan


Pelayanan Rawat jalan di rumah sakit memiliki berbagai pelayanan, yaitu:
A. Klinik Penyakit Dalam
1. Konsultasi
2. Endokrin Metabolisme & Diabetes
3. Hati & Pencernaan
4. Ginjal & Hipertensi
5. Hemodialisa
6. jantung dan pembuluh darah
7. Endoskopi dan Kolonoskopi
8. ERCP
B. Klinik Anak
1. Konsultasi
2. Tumbuh Kembang
3. Perinatologi
4. Inhalasi
5. Imunisasi
C. Pro Jiwa
1. Konsultasi Masalah Kejiwaan
2. Konseling Pra nikah/Konseling pernikahan
3. Pemeriksaan/test kepibadian
D. Klinik kebidanan dan kandungan
1. Konsultasi (konseling genetic)
2. Ginekologi
3. Laparaskopi
4. Endokrinologi dan Infertilisasi
5. Obstetri

6. Fetomaternal: USG + HSG


7. Perinatala resiko tinggi
8. Menopause
9. Kolposkopi
10. Cryo
11. Keluarga berencana
E. Klinik bedah
1. Bedah umum
2. Bedah vascular
3. Bedah thoraks Kardio Vaskular
4. Bedah ortopedi
5. Bedah saraf
6. Bedah digestif
7. Bedah plastic
8. Bedah anak
F. Klinik mata
1. Konsultasi
2. Orbita dan rekonstruksi
3. Glukoma
4. Katarak
5. Strabismus
6. Eksternal eye disease (kelainan mata luar)
7. Refraksi
8. Retina
G. Pusat kesehatan THT & Saluran Nafas Atas
1. Konsultasi
2. Nasoendoskopi
3. Radiofrecuency volume reduction turbine/ reduksi kornea
4. Laringoskopi Serat Optik
5. Neuro Otologi
6. Audiometri nada murni
7. Timpanometri dan test fungsi tuba eustasius
8. Sleep study (Polisomnografi/ full PSG)
9. Bedah sinus endoskopi fungsional
10. Tympanoplasty
11. Operasi-operasi THT lainnya
H. Saraf
1. Konsultasi

2. Neuro Fisiologi (EEG)


I. Jantung
1. Konsultasi
2. Treadmill
3. EKG
4. Ekhokardiografi
J. Klinik Kulit dan Kelamin
1. Dermatologi umum
2. Alergi/imunologi
3. Mikologi
4. Morbushansen (kusta)
5. Penyakit inffeksi menular seksual
6. Pediatric dermatologic
7. Kosmetik
8. Tumor kulit
K. Klinik Paru
1. Konsultasi
2. Penyakit Paru Obstruktif dan Asma
3. Penyakit infeksi, TB, dan Jamur
4. Onkologi: tumor paru, tumor mediastinum, metastase tumor ke paru
5. Spirometri
6. Bronkospi
7. Diagnostic toracoscopy
8. Sleep laboratory
9. Non invasive ventilator
L. Klinik gigi
1. Konsultasi
2. Bedah mulut
3. Ortodonti
4. Phosthodonti
5. Endodontic/ konservasi gigi
6. Pemeriksaan gigi anak
7. Perawatan jaringan penyangga gigi
M. Klinik psikologi
1. Konseling
2. Tes minat bakat

3. Tes intelegensia (IQ)


N. Klinik nutrisi
1. Konsultasi
2. Terapi diet: diet diabetes mellitus, diet hati, diet lambung, diet
jantung, diet tinggi kalori protein, diet rendah kolesterol, diet rendah
kalori, diet rendah protein, diet rendah garam, diet ginjal.
O. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat II (Lanjutan)
Pelayanan rawat jalan tingkat II (lanjutan) meliputi:
a. Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis
b. Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis termasuk
tindakan operasi ODC (One Day Care)
c. Pemberian resep obat sesuai dengan indikasi medis
d. Pemeriksaan penunjang diagnostic lanjutan sesuai indikasi medis:
- Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaaan radiologi
- Pemeriksaan patologi anatomi, mikrobiologi
- Pemeriksaan elektromedik antara lain: EKG, ECG, EMG USG, CT
Scanning, pemeriksaan endoskopi, dll
e. Fisioterapi
4.2.1

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelayanan Rawat Jalan


Poliklinik rawat jalan yang baik adalah yang mempunyai ciri-ciri sebagai

berikut:
1. Fasilitas fisik rumah sakit yang memadai
2. Jam praktek yang tepat, terdapat pelayanan 24 jam dan sistem rujukan
yang baik
3. Penjadwalan kunjungan yang efisien, untuk memperndek waktu tunggu
4. Tarif yang terjangkau oleh sasaran
5. Kualitas pelayanan yang oleh pasien biasanya dinilai baik bila pelayanan
oleh dokter dan perawat dilakukan dengan ramah,penuh perhatian terhadap
kebutuhan pasien dan perasaannya
Ada tiga faktor penting yang menentukan pelayanan rawat jalan, yaitu:
1. Sarana
Konsep dasar poliklinik pada prinsipnya ditetapkan sebagai berikut:

a. Letak poliklinik berdekatan dengan jalan utama, mudah dicapai dari


bagian administrasi,terutama oleh bagian rekam medis, berhubungan
dekat dengan apotek, bagian radiologi dan laboratorium
b. Ruang tunggu poliklinik,harus cukup luas. Di usahakan ada
pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan noninfeksi.
c. Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (sirkulasimasuk
dan keluar pasien pada pintu yang sama).
d. Poli-poli yang ramai sebaiknya tidak saling berdekatan.
e. Poli anak tidak diletakkan dengan poli paru, sebaiknya poli anak dekat
f.
g.
h.
i.

dengan poli kebidanan.


Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan.
Pada tiap ruang harus ada wastafel (air mengalir).
Letak poli jauh dari ruang incenerator,IPAL dan bengkel ME.
Bila konsep Rumah sakit dengan sterilisasi sentral, tidak perlu ada
ruang sterilisasi, namun pada beberapa poliklinik seperti poli
Gigi/THT/Bedah tetap harus ada ruang sterilisasi,karena alat-alat yang
digunakan harus langsung disterilkan untuk digunakan kembali.

Di bawah ini adalah contoh pembagian instalasi rawat jalan pada rumah sakit
tipe C. Kebutuhan sarana pelayanan rumah sakit kelas C terdiri dari:
A. Poli Umum, terdiri dari 4 klinik spesialis dasar, antara lain:
- klinik penyakit dalam
- klinik anak
- klinik bedah
- klinik kebidanan dan penyakit kandungan
B. Klinik tambahan/pelengkap antara lain:
- klinik mata
- klinik Telinga Hidung Tenggorokan (THT)
- klinik gigi dn mulut.
- klinik kulit dan kelamin
- klinik syaraf f. klinik jiwa
- klinik rehabilitasi medic
- klinik jantung
- klinik paru
- klinik bedah syaraf
- klinik orthopedi
- klinik kanker
- klinik nyeri
- klinik geriartri.
2. Tenaga

Pimpinan pelayanan rawat jalan harus seorang tenaga medis tetap yang ikut
berpartisipasi dalam kebijakan dan pengambilan keputusan seluruh kegiatan
Rumah sakit, serta bertanggung jawab langsung kepada direktur.
3.

Pasien
Usahakan waktu tunggu dari pengunjung dapat dikurangi seminimal mungkin

melalui pengaturan dari arus dan jumlah pengunjung dikaitkan dengan kapasitas
pelayanan yang ada. Dalam hal ini faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
pelayanan yang baik tidak lain adalah faktor pengunjung, petugas dan sistem dari
pelayanan itu sendiri.
4.2.2

Manajemen Pelayanan Instalasi Rawat Jalan


Dalam proses manajemen rawat jalan rumah sakit, hal-hal yang perlu

diperhatikan:
1. Perencanaan
Dalam penerapan perencanaan ini harus diperhatikan aspek:
- Meningkatkan pasien rawat inap
- Pengembangan jenis pelayanan rawat jalan
Dalam perencanaan yang perlu dipertimbangkan dengan baik adalah
sebagai berikut:
a. Sumber daya yang digunakan misalnya fasilitas pelayanan, peralatan,
bahan dana untuk pengembangan, informasi tentang jenis pelayanan
baru dan staf
b. Metode yang akan ditempuh, proses dan prosedur
c. Tugas,standart dan tujuan yang akan dicapai
d. Tahapan yang akan ditempuh
e. Pelaksanaan pengimplementasian rencana
f. Proyeksi tujuan
g. Lokasi penerapan rencana
h. Penjadwalan pelaksanaan rencana secara rinci
i. Rencana pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana
j. Penetapan alat dan cara pengukuran dan penilaian kemampuan dan
pencapaian sasaran.
Tahapan perencanaan dibagi menjadi dua rencana yaitu rencana jangka
panjang dan jangka pendek. Rencana jangka pendek biasanya dengan

mempertimbangkan sasaran-sasaran jangka pendek (misal: rencana tahunan).


Adapun rencana jangka panjang adalah rencana strategik yang menyususnnya
diperlukan melihat keluar organisasi untuk mengantisipasi kebutuhan dan peluang
dimasa depan, dan menginventarisir sumber daya dan kemampuan yng ada
didalam organisasi. Oleh karena terjadinya percepatan perubahan di dalam
masyarakat maka rencana jangka panjang biasanya di buat dalam rencana lima
tahunan.
2. Pengorganisasian
Ciri organisasi rawat jalan yang harus memperhatikan proses
pelayanan pasien yang dipengaruhi oleh 3 unsur penting berikut:
- Tenaga yang melaksanakan, terdiri dari medis, paramedis dan non
-

medis yang saling bergantung.


Bentuk pelayanan yangitailor -made
Ciri dan cara kerja team-work
Dengan ketiga ciri di atas maka perlu kejelasan tugas masing-masing

sehingga tidak timbul gap dan tumpang tindih dalam pelayanan.


3.

Penggerakan
Dalam manajemen rawat jalan, menganalisa proses yang dijalani

pasien meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.

Pasien diterima (petugas penerima-pasien)


Diagnosis ditegakkan (dokter-lab-penunjang)
Menerima obat (dokter-apoteker)
Merasakan hasil pengobatan (Pasien)
Berhenti berobat karena sembuh, pengobatan dilanjutkan atau
rediagnosis (Pasien-dokter).

Urutan proses pelayanan pasien adalah sebagai berikut:


4. Registrasi pasien
5. Menunggu pelayanan
6. Pemeriksaan pasien
7. Pengobatan
8. Penyuluhan pasien dan keluarganya
9. Sistm perjanjian dan penjadwalan kunjungan
10. Sistem pembayaran jasa
11. Pelayanan informasi.

4.2.3

Pengawasan dan Evaluasi

a. Pengawasan
Pengawasan adalah salah satu fungsi manajemen untuk memantau apakah
semua kegiatan telah dilaksanakan sesuai ketentuan atau kebijaksanaan yang
berlaku, agar sumberdaya digunakan secara optimal. Ada 3 manfaat pengawasan,
yaitu:
1. mencegah penyelewengan/ kebocoran harta/ kekayaan rumah sakit dan
menjamin penggunaan sumber daya secara optimal
2. setiap anggota organisasi merasa diawasi sehingga bekerja dengan sebaik
3.

mungkin
merasa yakin yang lain juga diawasi, sehingga mengurangi frustasi di
bagian kering

Proses pengawasan terdiri dari 4 langkah:


1. Tetapkan standart-standart kinerja secara konkret dan terukur
2. Ukur hasil kinerja aktual
3. Bandingkan hasil kinerja aktual dengan standar
4. Laksanakan tindakan korektif, bila terjadi penyimpangan yang berarti.
Pengawasan harus dijalankan terus menerus untuk memastikan bahwa
apa yang dilaksanakan sesuai dengan tahap rencana pencapaian tujuan
organisasi.
b. Evaluasi
Evaluasi adalah fungsi manajemen yang dilaksanakan sercara sistematus
dan berlanjut untuk menilai apakah kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan
rencana,

serta

mempelajari

faktor-faktor

yang

menyebabkan

kegagalan

pelaksanan tersebut.
Agar evaluasi bisa berjalan dengan baik, maka pada saat membuat rencana
disamping ditetapkan target, juga harus ditetapkan indikator keberhasilan.
Evaluasi di rumah sakit sangat sulit dilaksanakan, walaupun demikian beberapa
langkah evaluasi terhadap sistem pelayanan sbb:

Peer Review, Clinical Review, Medical Audit: Evaluasi meliputi


kecocokan

tindakan

yang

dilaksanakan,

dibanding

standar.

Pelaksanaannya biasanya oleh dokter spesialis yang dianggap mampu.


Telaah departemental: evaluasi oleh departemen atas aktifitas klinik dalam

skala kecil di rumah sakit.


Telaah oleh staf medik: evaluasi dilakukan oleh staf medik yang tidak
merawat pasien, misal, dilakukan oleh dokter yang telah pensiun yang

dikontrak untuk menelaah sejumlah rekam medik yang diambil sampel


Telaah kematian: biasanya dilaksanakan oelh bagian kamar jenazah.

Disini terutama evaluasi pada outputnya.


Evalusi dan komite farmasi dan terapi, komite pengelian infeksi

nasokomial, dan lain-lain.


Audit perawat: dilaksanakan oleh staf perawat senior.
Paramedical review: telaah terhadap pelayanan

menyangkut lama pemeriksaan, kesalahan pemeriksaan dan lain-lain


Telaah atas pelayanan hotel: evaluasi pelayanan hotel adalah sangat

mudah mendapat perhatian.


Telaah olah pasien: evaluasi oleh pasien boleh dilaksanakan, biasanya

penunjang

baik

sekali selama dirawat dan sekali setelah pulang. Walaupun kita tidak bisa
berharap banyak masukan dari evaluasi.
4.3 Standar Pelayanan Rawat Jalan
Terdapat beberapa standar minimal pelayanan rawat jalan di rumah sakit
menurut Keeputusan Menteri Kesehatan Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 tentang
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, standar minimal rawat jalan. Yakni:
1. Dokter Pemberi Pelayanan di Poliklinik Spesialis
Dalam standar pelayanan rawat jalan minimal, untuk dokter pemberi
pelayanan di poliklinik spesialis harus ditangani oleh 100% dokter yang ahli
dalam bidang poliklinik spesialis tersebut. Seperti contoh, untuk poliklinik
spesialis mata, harus di pegang oleh dokter yang telah memiliki lisensi dalam
spesialis mata. Hal ini bertujuan agar pelayanan pengobatan berlangsung
maksimal dan untuk menghindari kesalahan jika tidak ditangani oleh orang
yang tepat.
2. Ketersediaan Pelayanan

Dalam pelayanan rawat jalan, terdapat beberapa instansi yang harus ada
sebagai acuan minimal untuk pelayanan rawat jalan. Yakni adalah: Klinik
Anak, Klinik Penyakit Dalam, Klinik Kebidanan dan Klinik Bedah. Instansiinstansi tersebut merupakan instansi minimal dan wajib ada dalam pelayanan
rumah sakit rawat jalan.
3. Ketersediaan Pelayanan di Rumah Sakit Jiwa
Untuk pelayanan rawat jalan di rumah sakit jiwa sendiri terdapat beberapa
instansi yang harus ada sebagai acuan minimal. Yaitu: Pelayanan Bagian
Anak Remaja, Pelayanan NAPZA (Narkotik, Psikotropika dan Zat Adiktif),
Pelayanan Gangguan Psikotik, Peayanan Gangguan Neurotik, Pelayanan
Mental Retardasi, Pelayanan Mental Organik, dan Pelayanan Lanjut Usia.
Instansi tersebut merupakan instansi minimal yang harus ada di pelayanan
rawat jalan di rumah sakit jiwa.
4. Jam Pelayanan
Untuk jam operasional pelayanan rumah sakit rawat jalan terdapat standar
minimalnya, yakni 08.00 sampai 13.00 Setiap hari kerja kecuali Jumat: 08.00
- 11.00. waktu tersebut merupakan patokan minimal waktu pelayanan di
rumah sakit untuk rawat jalan.
5. Waktu Tunggu Pelayanan
Waktu tunggu untuk pelayanan di rawat jalan tidak boleh melebihi 60 menit.
Hal tersebut demi menjaga kepuasan dari pasien terhadap pelayanan di rumah
sakit.
6. Kepuasan Pasien
Untuk menjaga kepercayaan dari pasien rumah sakit, kepuasan
pelayanan rumah sakit rawat jalan harus diatas 90%. Hal ini dikarenakan
tujuan pelayanan sendiri adalah salah satunya adalah kepuasan pasien.
Sehingga jika kepuasan pasien kecil, maka dapat dikatakan pelayanan
kepuasan pasien tersebut gagal.
7. Pelayanan TB
Untuk pelayanan TB seperti penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan
mikroskopik, harus dapat diketahui lebih dari 60%. Hal ini dilakukan untuk

memaksimalkan apakah TB bisa terdeteksi dengan baik. Untuk pencatatan


dan pelayanan TB di rumah sakit minimalnya harus dibawah 60% dari jumlah
pengunjungnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa penyakit tersebut dalam
jumlah yang kecil di lingkungan tersebut.
4.4 Alur Pelayanan Rawat Jalan
Alur pelayanan rawat jalan dapat dibagi menjadi beberapa alur, yakni
A. Pasien Askes
Loket Askes

Askes Center

Poliklinik

1. Mendaftar ditempat penerimaan pasien (Loket Askes)


2. Melapor ke Askes Center dengan membawa:
- Kartu Askes
- Rujukan dari Puskesmas atau dokter keluarga
3. Menuju poliklinik menunggu giliran diperiksa
B. Pasien JAMKESMAS
1. Mendaftar ditempat penerimaan pasien (Loket Jamkesmas)
2. Melapor ke Askes Center untuk mendapatkan Surat Keabsahan Peserta
(SKP) dengan membawa:
- Kartu Jamkesmas
- Rujukan dari Puskesmas atau Rumah Sakit
3. Kembali ke loket untuk dibuatkan Surat Jaminan Pelayanan (SJP) dengan
membawa:
- Fotocopy KTP
- Fotocopy Kartu Jamkesmas
- Fotocopy Kartu Keluarga
- Fotocopy SKP
- Fotocopy rujukan
4. Menuju poliklinik menunggu giliran diperiksa

Loket
Jamkes
mas

Askes
Center

Loket
Jamkesma
s

Poliklini
k

Bagi Pasien yang tidak mampu dan tidak memiliki Kartu Jamkesmas
tetap dilayani dengan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu dari
kelurahan tempat berdomisili.

C. Pasien Tunai
Loket
Kasir
Poliklinik
Tunai
RJ
1. Mendaftar ditempat penerimaan pasien (Loket Tunai)
2. Membayar dikasir Rawat Jalan (RJ)
3. Menuju poliklinik menunggu giliran diperiksa
D. Pasien JAMSOSTEK

Loket Jamsostek

Poliklinik

1. Mendaftar ditempat penerimaan pasien (Loket JAMSOSTEK) dengan


membawa:
- Kartu Jamsostek
- Rujukan dari Puskesmas
2. Menuju poliklinik menunggu giliran diperiksa

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi ketiga. Binarupa
Aksara. Jakarta.
Permenkes no. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
Sholeh, S. 1993. Himpunan Peraturan Kesehatan. Arema. Jakarta.