Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1

PREEKLAMPSIA
Preeklampsia merupakan penyakit dalam kehamilan yang ditandai dengan gejala
hipertensi, edema dan proteinuria. Eklampsia merupakan kegawat-daruratan obstetri yang
morbiditas dan mortalitasnya tinggi bagi ibu dan bayinya. Insidens preeklampsia adalah
7-10 % dari kehamilan dan merupakan penyebab kematian ibu nomor dua di Indonesia.
Preeklampsia juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan kematian janin
dalam kandungan.

II.1.1 Definisi Preeklampsia


Preeklampsia merupakan sindroma spesifik-kehamilan berupa penurunan perfusi
pada organ-organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan
peningkatan tekanan darah dan proteinuria (William, 2005)
Preeklamsi merupakan kumpulan gejala yang ditandai dengan trias: hipertensi,
edema dan proteinuria yang terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu sampai segera
setelah persalinan. (Rustam Mochtar, 1998; B. Taber, 1994; Cunningham et. at. 1989;
Budiono W. et. at. 1997)
II.1.2 Faktor Risiko Preeklampsia
1) Riwayat preeklampsia
Seseorang yang mempunyai riwayat preeklampsia atau riwayat keluarga dengan
preeklampsia maka akan meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia.
2) Primigravida
Pada primigravida pembentukan antibodi penghambat (blocking antibodies) belum
sempurna sehingga meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia. Perkembangan
preklamsia semakin meningkat pada umur kehamilan pertama dan kehamilan dengan
umur yang ekstrem, seperti terlalu muda atau terlalu tua.
3) Kegemukan
4) Kehamilan ganda.

Preeklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang mempuyai bayi kembar atau lebih.
5) Wanita yang mempunyai riwayat penyakit tertentu sebelumnya, memiliki risiko
terjadinya preeklampsia. Penyakit tersebut meliputi hipertensi kronik, diabetes, atau
penyakit ginjal.
II.1.3 Patofisiologi
Etiologi preeklampsia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori yang
dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada satu pun
teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori- teori yang saat ini adalah :
1)

Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta


Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada lapisan
otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan ototnya tetap kaku dan
keras sehingga lumen arteri spiralis relatif mengalami vasokonstriksi sehingga
aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta.

2)

Teori Radikal Bebas


Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan
(radikal bebas). Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia
adalah radikal hidroksil yang sangat toksik, khususnya terhadap membran sel
endotel pembuluh darah. Radikal hidroksil akan merusak membran sel, yang
mengandung banyak asam lemak tak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida
lemak selain akan merusak membran sel, juga akan merusak nukleus dan protein
sel endotel.

3)

Teori Intoleransi Imunologik antara ibu dan janin


Pada plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi penurunan ekspresi HLA-G.
Maka, menghambat invasi trofoblas ke dalam desidua. Akibatnya, lapisan ototnya
tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis relatif mengalami
vasokonstriksi sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadilah
hipoksia dan iskemia plasenta.

4)

Teori Genetik
Preeklampsia meningkat pada anak dari ibu yang memiliki riwayat menderita
preeklampsia.

5)

Teori Defisiensi Gizi


Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, dapat mengurangi
risiko preeklampsia. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tak jenuh
yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit
dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.

II.1.4 Perubahan Sistem dan Organ pada Preeklampsia


Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis
pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan
iskemia. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon
terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin, tromboxan) yang dapat
menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf
lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus
dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri
epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi
penurunan volume intavaskular, meningkatnya cardiac output dan peningkatan tahanan
pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis mikroangiopati menyebabkan anemia dan
trombositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat bahkan kematian janin dalam rahim.
II.1.5 Diagnosis Preeklampsia
Diagnosis preeklampsia dapat ditegakkan dari gambaran klinik dan pemeriksaan
laboratorium. Dari hasil diagnosis, maka preeklampsia dapat diklasifikasikan menjadi 2
golongan yaitu:
1) Preeklampsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut:
a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau
kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat
tekanan darah normal.
b) Proteinuria kuantitatif > 300 mg/24 jam atau kualitatif dipstik : 1+ atau 2+ pada
urine kateter atau midstearm.

c) Edem : lokal pada tungkai tidak digunakan dalam kriteria diagnostik kecuali
anasarka.
2) Preeklampsia berat, bila disertai salah satu atau lebih tanda dan gejala sebagai berikut:
a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b) Proteinuria 5 gr/jumlah urin dalam 24 jam atau kualitatif dipstik: 3+ atau 4+
c) Oligouria, yaitu jumlah urine < 400 cc/ 24 jam.
d) Kenaikan kreatinin serum
e) Terdapat edema paru dan sianosis
f) Adanya gangguan serebral, nyeri kepala dan gangguan penglihatan
g) Rasa nyeri di epigastrium dan kuadran kanan atas abdomen
h) Hemolisis mikroangiopatik
i) Gangguan fungsi hepar
j) Trombositopenia
Pembagian preeklampsia berat:
a. Preeklampsia berat tanpa impending eklampsia
b. Preeklampsia berat dengan impending eklmpsia (nyeri kepala, mata kabur, mual
muntah, nyeri epigastrium)
II.1.6 Komplikasi
Komplikasi dibawah ini yang biasa terjadi pada preeklamsia berat dan eklampsia:

Solusio plasenta
Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi
pada preeklampsia.

Hipofibrinogenemia
Biasanya terjadi pada preeklamsia berat. Oleh karena itu dianjurkan untuk
pemeriksaan kadar fibrinogen secara berkala.

Hemolisis
Penderita dengan preeklamsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik
hemolisis yang dikenal dengan ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini
merupakan kerusakkan sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal

hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan
ikterus tersebut.

Perdarahan otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia.

Kelainan mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu, dapat
terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina. Hal ini merupakan tanda gawat
akan terjadi apopleksia serebri.

Edema paru-paru

Nekrosis hati
Nekrosis periportal hati pada preeklampsia/eklampsia merupakan akibat vasospasme
arteriole umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia, tetapi ternyata juga dapat
ditemukan pada penyakit lain.Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan
pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.

Sindroma HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes dan lowplatelet.

Merupakan sindrom gejala klinis berupa gangguan fungsi hati, hepatoseluler


(peningkatan enzim hati [SGPT, SGOT], gejala subjektif [cepat lelah, mual, muntah,
nyeri epigastrium]), hemolisis akibat kerusakan membran eritrosit oleh radikal bebas
asam lemak jenuh dan tak jenuh. Trombositopenia (<150.000/cc), agregasi (adhesi
trombosit di dinding vaskuler), kerusakan tromboksan (vasokonstriktor kuat),

lisosom.
Kelainan ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel
endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur yang lainnya. Kelainan lain yang
dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.

1.

Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra-uterin

II.1.7 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Preeklampsia Ringan
Pengelolaan preeklampsia ringan dapat secara :
Rawat jalan (ambulatoir)
Mengurangi aktivitas sehari-hari

2.
3.
4.
5.
6.

Tidak perlu diet khusus


Vitamin prenatal
Tidak perlu mengurangi konsumsi garam
Tidak perlu pemberian diuretik, antihipertensi dan sedativa
Kunjungan ke rumah sakit tiap minggu
Rawat inap (hospitalisasi)
1. hipertensi yang menetap selama > 2 minggu
2. proteinuria menetap selama > 2 minggu
3. hasil tes laboratorium yang abnormal
4. adanya gejala atau tanda 1 atau lebih preeklampsia berat
Sikap terhadap kehamilanya:
-

Bila usia kehamilan <37 minggu, tekanan darah mencapai normotensif selama

perawatan, kehamilannya ditunggu sampai aterm.


Bila usia kehamilan >37 minggu, persalinan ditunggu sampai onset persalinan
atau dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal
persalinan. Persalinan dapat dilakukan secara spontan, bila perlu memperingan
kala II.

b. Penatalaksanaan Preeklampsia Berat


Dasar pengelolaan preeklampsia berat :
1.
Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya, yaitu terapi
medikamentosa.
2.
Kedua baru menentukan sikap terhadap kehamilannya :
a.
Ekspektatif, konsevatif : bila umur kehamilan < 37
minggu, kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan
terapi medikamentosa.
b.
Aktif, agresif : bila umur kehamilan 37 minggu, akhiri

kehamilan setelah mendapatkan terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.


Pemberian terapi medikamentosa
a. Segera masuk RS.
b. Tirah baring miring ke kiri secara intermitten.
c. Infus RL atau D5%.
d. Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.
e. Antihipertensi.
Diberikan bila TD 180/110. Obat yang diberikan adalah nifedipine 1020 mg per oral, diulangi setelah 30 menit, dosis maksimal 120 mg dalam
24 jam.
f. Diuretik tidak dibenarkan diberikan secara rutin, karena:

1.
2.

Memperberat penurunan perfusi plasenta


Memperberat hipovolemia

Diuretik baru diberikan jika terdapat edema paru, gagal jantung kongstif
atau edema anasarka. Diuretik yang diberikan adalah furosemid.

Sikap terhahap kehamilannya


Konservatif, ekspektatif :
a. Tujuan: mempertahankan kehamilan
b. Indikasi : kehamilan < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda dan gejala
impending eklampsia.
Aktif,agresif :
a. Tujuan : terminasi kehamilan
b. Bila didapatkan 1 atau lebih keadaan di bawah ini:
Ibu :
1.
Kegagalan terapi medikamentosa : setelah 6 jam sejak dimulai
pengobatan tidak terjadi perubahan dan setelah 24 jam sejak
dimulainya pengobatan terjadi kenaikan tekanan darah.
2.
Adanya tanda dan gejala impending eklampsia.
3.
Gangguan fungsi hepar maupun fungsi ginjal.
4.
Dicurigai terjadi solusio plasenta.
5.
Timbulnya onset partus.
6.
Ketuban pecah dini.
7.
Perdarahan.
Janin :
1. IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG
2. NST non reaktif
3. Timbulnya oligohidramnion
4. Adanya tanda fetal distress
Laboratorium
Adanya tandra sindrom HELLP, khususnya menurunyya trombosit
dengan cepat.

B. Cara persalinan
Sedapat mungkin persalinan diarahkan pervaginam.
a. Penderita belum inpartu
Dilakukan induksi persalinan bila skor Bishop 5. Bila induksi gagal harus disusul
dengan SC.
Indikasi SC :
- tidak memenuhi syarat persalinan pervaginam
- induksi persalinan gagal
- terjadi fetal distress
b. Penderita sudah inpartu

Memperingan kala II
Antikonvulsan. Obat ini dapat diberikan secara intravena melalui infus kuntinyu
atau intramuskular dengan injeksi intermiten.
Infus intravena kontinu:

Loading dose : initial dose


Berikan 4 6 gram MgSO4 20% diberikan dalam 500 cc RL selama 15-20
menit

Maintenance dose :
Mulai infus rumatan dengan dosis 2 g/jam dalam 100 ml cairan intravena tiap
4-6 jam

Injeksi intamuskular intermiten:


a)

Berikan 4 gram MgSO4 sebagai larutan 20% secara intavena dengan


kecepatan tidak melebihi 1 g/menit.

b)

Lanjutkan segera dengan 10 gram MgSO4 50%, sebagian (5%)


disuntikan dalam-dalam di kuadran lateral atas bokong (penambahan 1 ml
lidokain 2 % dapat mengurangi nyeri). Apabila kejang menetap setelah 15
menit, berikan MgSO4 sampai 2 gram dalam bentuk larutan 20% secara
intravena dengan kecepatan tidak melebihi 1 g/menit.

c)

Setiap 4 jam sesudahnya, berikan 5 gram larutan MgSO4 50% yang


disuntikan dalam-dalam ke kuadran lateral atas bokong bergantian kirikanan, tetapi setelah dipastikan bahwa:

Reflek patela (+)

Tidak terdapat depresi pernapasan

Pengeluaran urin selama 4 jam sebelumnya melebihi 100 ml

d)

MgSO4 dihentikan 24 jam setelah bayi lahir.

e)

Siapkan antidotum
Jika terjadi henti napas

Berikan bantuan dengan ventilator

Berikan kalsium glukonas 2 g (20 ml dalam larutan 10%) secara


intravena perlahan-lahan sampai pernapasan mulai lagi.

Antihipertensi.

a) Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg intravena pelan-pelan


selama 5 menit sampai tekanan darah turun.
b) Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam, atau 12,5
intramuskular setiap 2 jam.
c) Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan:

Nifedipine dosis oral 10 mg yang diulang tiap 30 menit.

Labetalol 10 mg intravena sebagai dosis awal, jika tekanan darah tidak


membaik dalam 10 menit, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 20 mg
intravena

Persalinan
-

Pada preeklampsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam.


Jika SC akan dilakukan, perhatikan bahwa:

Tidak terdapat koagulopati

Anestesi yang aman/terpilih adalah anestesia umum. Jangan lakukan anestesia


lokal, sedangkan anestesia spinal berhubungan dengan hipotensi.

Jika anestesia yang umum tidak tersedia atau janin mati lakukan persalinan
pervaginam.

Jika servik matang, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml
dekstrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.

II.2

Kehamilan Lewat Waktu (Serotinus)

II.2.1 Definisi
Kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan yang dihitung dari HPHT, di mana usia
kehamilannya melebihi 42 minggu dan belum terjadi persalinan.

Serotinus/postterm adalah kehamilan lebih dari 42 minggu dengan


berdasarkan perhitungan kehamilan dengan HPHT dan belum terjadi
persalinan

Aterm adalah kehamilan 38-42 minggu (periode persalinan normal)

Postmatur adalah penggambaran janin yang memperlihatkan adanya


kelainan akibat kehamilan yang berlangsung lebih dari yang seharusnya
(serotinus).

II.2.2 Insidens
Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data
statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi
ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, di mana angka kematian kehamilan lewat
waktu mencapai 5-7%.
II.2.3 Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal,
yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan
sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter,
karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu. Menjelang persalinan
terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor terhadap
oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan
lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena
ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim.
Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan
normal umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun
walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin

berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu
keluarga tertentu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun
setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta.
Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai
oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi
uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai
terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin.
Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi, yaitu 30% prepartum, 55%
intrapartum, dan 15% postpartum.
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :

Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.

Tidak diketahui.

Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.

Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi.

Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.

Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

II.2.4 Patofisiologi
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan
adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu
adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO 2/O2 sehingga janin
mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim.
Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang
dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat
selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada
kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan
postterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat
janin. Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat

tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat
menyebabkan distosia bahu.

Sebab Terjadinya Kehamilan Postterm


Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya
kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori
diajukan antara lain sebagai berikut :
1. Pengaruh Progesteron

Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian


perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan
dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis
menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya
pengaruh progesterone.
2. Teori Oksitosin

Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi


kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting
dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil
yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab
kehamilan postterm.
3. Teori Kortisol/ACTH Janin

Dalam teori ini diajukan bahwa pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah
janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin
akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan
memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya
produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia
adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan
kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung
lewat bulan.
4. Saraf Uterus

Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan


kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti
pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya
diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.
5. Herediter

Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan


postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan
berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana
seorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka
besar kemungkinan anak perempuannya akan mengalami kehamilan postterm.

II.2.5 Resiko
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin,
gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali
dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit
menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering
seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang
sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan
janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau
pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas)
air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration
syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat
mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan
kelainan neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu,
antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding
(moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia
uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.
II.2.6 Manifestasi Klinis

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara
subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10
kali/20 menit.

Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui
dengan pemeriksaan USG.

Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi :
Stadium I

kulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit


kering,rapuh, dan mudah mengelupas.

Stadium II
Stadium III

seperti Stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit.


:

seperti Stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan


tali pusat.

Pengaruh dari serotinus adalah :

1. Terhadap Ibu :
Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir,
maka akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.
2. Terhadap Bayi :
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan
40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh
postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap
dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian
janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage.
Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998), yaitu :

Biasanya lebih berat dari bayi matur (> 4000 gram)

Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur

Rambut lanugo hilang atau sangat kurang

Verniks kaseosa di badan kurang

Kuku-kuku panjang

Rambut kepala agak tebal

Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

II.2.7 Diagnosis
Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis
kehamilan postterm karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan
terhadap kondisi kehamilan. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai kehamilan
postterm merupakan kesalahan dalam menentukan umur kehamilan. Kasus kehamilan
postterm yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22%.
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah
mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran
tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia

gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang
berkurang dan gerakan janin yang jarang.
Dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm di samping dari riwayat haid,
sebaiknya dilihat pula hasil pemeriksaan antenatal.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan lewat waktu :
1. HPHT jelas.
2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu.
3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20
minggu dengan fetoskop).
4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang
dari atau sama dengan 20 minggu.
5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.
II.2.8

Pemeriksaan Penunjang

Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia
kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau tidaknya
gawat janin. Pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan berat badan
ibu, diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban.
Pemeriksaan yang dilakukan seperti :
1. Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah persalinan yang lalu,
dan ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan teratur, dapat
diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat
membantu diagnosis.
2. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal,
gerakan janin dan jumlah air ketuban. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial
terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan.
Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia
kehamilan. Pemeriksaan Ultrasonografi pada kehamilan postterm tidak akurat untuk
menentukan umur kehamilan. Tetapi untuk menentukan volume cairan amnion (AFI),
ukuran janin, malformasi janin dan tingkat kematangan plasenta.

3. Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali periksa,
terjadi penurunan atau kenaikan berat badan ibu.
4. Pemeriksaan Amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan air ketuban menurut
warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur mekonium dan
bisa mengakibatkan gawat janin.
5. Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan.
Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin,
karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin
dapat dilakukan :
1. Tes tanpa tekanan (non stress test).
Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila
diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar
janin baik.
2. Gerakan janin.
Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/20 menit) atau
secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/20 menit), dapat juga
ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG
(normal > 1 cm/bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata
oligohidramnion, maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi.
Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik.
Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33%
asfiksia.
II.2.9 Tatalaksana
Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga
setiap persalinan kehamilan posterm harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya
dilaksanakan di rumah sakit dengan pelayanan operatif dan perawatan neonatal yang memadai.

Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan.
Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian
skor pelvik (pelvic score).
Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain :
1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
2. Induksi dengan oksitosin.
3. Bedah seksio sesaria.
The American College of Obstetricians and Gynecologist mempertimbangkan bahwa kehamilan
postterm (42 minggu) adalah indikasi induksi persalinan. Penelitian menyarankan induksi
persalinan antara umur kehamilan 41-42 minggu menurunkan angka kematian janin dan biaya
monitoring janin lebih rendah.
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat,
antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi
sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar,
dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.

Table 1. Skor Bishop


Pendataran serviks
Pembukaan serviks
Penurunan kepala dari Hodge
III
Konsistensi serviks
Posisi serviks

0
0-30%
0

1
40-50%
1-2

2
60-70%
3-4

3
80%
5-6

-3

-2

-1, 0

+1, +2

Keras

Sedang
Searah sumbu jalan

Lunak

Anterior
lahir
Bila nilai pelvis (PS) > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.

Bila PS > 5, dapat dilakukan drip oksitosin.

Bila PS < 5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian lakukan
pengukuran PS lagi.

Posterior

Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan Oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan
induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor
pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis > 5, maka induksi persalinan dapat dilakukan.
Induksi persalinan dilakukan dengan Oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus
dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul
his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena
dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan
hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat
diberikan infus drip Oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul,
dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.
Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :
1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
1. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
2. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi
menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
Pada kehamilan yang telah melewati 40 minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda inpartu,
biasanya langsung segera diterminasi agar resiko kehamilan dapat diminimalis.
II.2.10 Komplikasi
1. Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu :
1. Plasenta

Kalsifikasi

Selaput vaskulosinsisial menebal dan jumlahnya berkurang

Degenerasi jaringan plasenta

Perubahan biokimia

1. Komplikasi pada Ibu


Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri, atonia
uteri dan perdarahan postpartum.

2. Komplikasi pada Janin


Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap atau
berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.
1. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin, gerakan janin berkurang, kematian
janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.
2. Komplikasi yang terjadi seperti kelainan kongenital, sindroma aspirasi mekonium, gawat
janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau pertumbuhan janin terlambat,
kelainan jangka panjang pada bayi.
II.2.11 Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4
kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester
ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu).
Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7
bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7-8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal
ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah
terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang
digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu
diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah
hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat
ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka
itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Angsar, Dikman, 2005. Hipertensi dalam Kehamilan Edisi IV. Fakultas Kedokteran
UNAIR: Surabaya
2. Cunningham, F. Gary et al. 2006. Obstetri Williams. Edisi 21. Volume 1. Jakarta: EGC.
3. Depkes RI. 2001. Standart Pelayanan kebidanan.
4. Doenges, E. Marilyn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC.
5. Hendaryono, Henny. 2007. Materi Kuliah Patologi Kebidanan. Jombang
6. Himpunan kedokteran feto maternal POGI. 2005. Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam
Kehamilan di Indonesia. Semarang
7. Lowdermilk & Shannon, E Perry. 2000. Maternity & Womans Health Care. Philadelpia:
Mosby.
8. Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC
9. Mochtar, Rustam. 1998. Simposium Obstetri. Jilid I. Jakarta: EGC.
10. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. EGC: Jakarta
11. Prawiroharjo, Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta
12. Prawirohardjo, S. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka FKUI
13. Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo.
14. Prawiroharjo.APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta:
Institusi DEPKES R
15. Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka
16. Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
17. Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
18. _____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.