Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Perencanaan


Sesuai dengan judulnya di depan, bahwa penulis disini akan menyajikan

suatu karya yang berupa tugas perencanaan Elemen mesin II, dimana tugas ini
adalah salah satu tugas perkuliahan yang diharuskan bagi Mahasiswa Jurusan
Teknik Mesin, Institut Teknologi Indonesia, Ini merupakan salah satu syarat yang
harus diselesaikan untuk mengikuti Tugas Akhir.
Tugas ini merupakan kelanjutan dari tugas sebelumnya yaitu Perencanaan
Elemen Mesin I, demikian tugas yang disusun dengan judul SISTEM
PENGGERAK RODA GIGI DAN RANTAI UNTUK MOTOR KAWASAKI
NINJA, merupakan karya penulis dengan tujuan untuk memenuhi kewajiban
tugas perkuliahan.
Pada perencanaan tugas Elemen mesin ini penulis akan melakukan
perencanaan dengan kriteria tugas yaitu transmisi daya. Dimana penulis
melakukan perencanaan ulang pemilihan rantai rol untuk mentransmisikan daya
dari transmisi primer (transmisi roda gigi lurus dari daya motor penggerak) ke
roda belakang. Dimana

penulis melakukan perhitungan terhadap objek yang

dibahas dengan memodifikasi keadaan standard, namun tanpa menghilangkan


konsep dasar dari pemilihan bahan dan asumsi - asumsi untuk mencari perhitugan
dari kontrol kemampuan yang baru. Asumsi asumsi yang dicurahkan oleh
penulis untuk mendapatkan hasil yang optimal tidak terlepas dari prinsip kerja dan
literatur sebagai pedoman perencanaan.
Dalam proses perencanaan, penulis mengandalkan material penyusun
elemen, dimana material yang dipilih harus memenuhi syarat dan kemampuan
yang baik, umur yang panjang dan harga yang ekonomis.
Sistem transmisi daya prinsipnya adalah menyalurkan daya dengan tujuan
meminimalkan daya yang hilang saat proses transmisi dilakukan, sehingga daya

output dapat digunakan sebesar mungkin untuk menghasilkan akselerasi atau


kerja yang optimal.
Objek Perencanaan Elemen mesin II ini yaitu pada sepeda motor
Kawasaki ninja. Untuk melakukan perencanaan ini dibutuhkan data data
spesifikasi standard dari objek yang akan dibahas.
untuk menghasilkan performance yang maksimal. Sedikit dijelaskan
mengenai Kawasaki Nnja.
1.2.

Tujuan Perencanaan
Adapun dalam perencanaan tugas kali ini memiliki tujuan adalah sebagai

berikut :

Bagian transmisi penggerak roda belakang keadaan standard dari


sepeda motor Kawasaki Ninja dengan meningkatkan daya dan putaran
pada putaran 9500.

Melakukan pemilihan rantai rol sesuai medan kerjanya yang efektip


dan efisien.

Menilai ukuran utama


Mendapatkan gambar teknis
1.3.

Batasan Perencanaan
Perencanaan terbatas pada elemen elemen yang membangun sistem

penggerak roda belakang untuk sepeda motor Kawasaki Ninja. Batasan batasan
perencanaan adalah meliputi pemilihan rantai rol. Pada laporan tugas perencanaan
ini disertakan juga metode standarisasi, yaitu Unifikasi atau penggunaan Sistem
Internasional (SI) secara konsekuen, sehingga angka angka dalam perhitungan
tidak perlu lagi dikonversikan.
1.4.

Sistematika Laporan Perencanaan


Memasuki bagian hal cara penyajian dari laporan tugas perencanaan yang

dilakukan memiliki bentuk sebagai berikut :

BAB I

PENDAHULUAN
Berisikan

mengenai

latar

belakang

perencanaan,

tujuan

perencanaan, batasan perencanaan dan sistematika laporan


perencanaan.
BAB II

TEORI TEORI PENDUKUNG


Klasifikasi elemen transmisi daya, transmisi sabuk V, transmisi
sabuk gilir (timing belt), dan transmisi rantai. Teori dasar
perencanaan transmisi rantai rol sebagai penggerak roda belakang
sepeda motor.

BAB III

PERENCANAAN SISTEM PENGGERAK RODA BELAKANG


SEPEDA MOTOR KAWASAKI NINJA
Pada bab ini berisi data kendaraan yang dibutuhkan dalam flow
chart perhitungan, perhitungan perencanaan poros, spline hub,
rantai rol, perencanaan Sproket dan pemilihan bantalan.

BAB IV

KESIMPULAN & SARAN


Bab ini berisi kesimpulan perhitungan berupa dimensi dan analisa
gaya dan tegangan. Bagian saran memberikan masukan keamanan
dan masukan perawatan.

BAB II
TEORI TEORI PENDUKUNG
Jarak yang jauh antara dua buah poros sering tidak memungkinkan
transmisi langsung dengan roda gigi. Dalam hal lain jika terdapat jarak yang
memisahkan kedua poros, maka cara transmisi putaran atau daya yang lain dapat
diterapkan, dimana sebuah rantai dibelitkan sekeliling puli atau sproket (roda gigi)
pada poros. Sehingga dengan jarak yang memisahkan kedua puli atau poros, maka
daya atau putaran dapat ditransmisikan sesuai yang diinginkan.
2.1 Cara Kerja Sistem Transmisi Penggerak Roda Belakang Sepeda Motor
Roda belakang dari sepeda motor akan bergerak sesuai dengan putaran
yang ditransmisikan oleh rantai rol. Daya rencana yang akan ditransmisikan ke
roda belakang. Sebelum daya dan putaran tersebut ditransmisikan ke roda
belakang, maka melalui kopling akan ditransmisikan ke roda gigi lurus
(perseneling). Direncanakan posisi perseneling pada posisi empat (percepatan
posisi empat berada pada putaran tertinggi). Pada posisi tersebut, putaran n1 poros
transmisi akan hampir sama dengan putaran poros sprocket kecil. Putaran n1
sprocket kecil akan ditransmisikan ke roda belakang (sprocket besar) melalui
rantai penggerak (rantai rol), dimana putaran akan mengalami reduksi sebesar n2
akibat dari transmisi rantai rol ke roda belakang, sehingga sepeda motor bergerak
dengan putaran n2.
2.2 Transmisi Rantai
Rantai transmisi daya yang tersusun dari mata rantai dengan bentuk
pengait rol rol dan pengait gigi yang dirangkai dan terpasang pada sproket,
dimana perbandingan putarannya 6 : 1 dengan jarak hingga 4 meter.
Transmisi rantai bekerja dimana rantai mengait pada sproket dan

meneruskan daya tanpa terjadi slip sehingga menjamin perbandingan putaran


yang tetap. Rantai transmisi daya biasa digunakan jika jarak poros lebih besar dari
jarak transmisi roda gigi tetapi lebih pendek dari jarak transmisi sabuk.
Rantai sebagai transmisi daya dan putaran mempunyai keuntungan
keuntungan seperti di bawah ini :
1.

Mampu mentransmisikan daya dan putaran yang besar.

2.

Transmisi rantai lebih kuat

3.

Tidak memerlukan tegangan awal

4.

Keausan yang kecil pada bantalan

5.

Mudah pemasangan

Di sisi lain transmisi rantai memiliki memiliki beberapa kekurangan


seperti di bawah ini :
1.

Variasi kecepatan yang ditimbulkan saat beroperasi tidak dapat


dihandari akibat lintasan busur pada sproket yang mengait pada mata
rantai.

2.

Suara dan getaran karena tumbukan dan dasar kaki sproket.

3.

Perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang diakibatkan


oleh gesekan dengan sproket.

Rantai dalam sistem transmisi mesin dapat dibagi atas dua jenis, yaitu :
1. Rantai gigi
Bagian bagiannya terdiri dari plat plat berprofil roda gigi
dan pena yang disebut sambungan kunci. Rantai gigi merupakan elemen
penerus daya yang mengait pada sproket tanpaterjadinya slip dan
menjamin putaran roda yang tetap. Rantai gigi tersusun dari plat plat
berprofil seperti roda giginya dan pena berbentuk bulan sabit yang disebut
sambungan kunci.

Gambar 2.1. Rantai gigi [6].

Bila kita menginginkan transmisi dengan kecepatan tinggi


yaitu lebih dari 1000m/menit, tidak berisik, dan dapat mentransmisikan
daya yang besar, maka rantai gigi dapat digunakan. Namun karena
pembuatannya yang sulit karena memerlukan ketelitian dan bahan atau
material logam yang bervariasi menyebabkan harga rantai gigi mahal.
Ciri yang paling menonjol dari penggunaan rantai gigi adalah
dengan cepat bergerak setelah mengait secara meluncur dengan sproket
yang berprofil involut (evolven), mata rantai berputar sebagai satu benda
dengan sproket. Hal ini yang membedakan dengan rantai rol, dimana bus
mata rantai mengait sproket pada dasar kaki gigi. Dengan cara kerja di
atas, tumbukan pada rantai gigi jauh lebih kecil dari rantai rol.
Karena hal hal di atas, maka dapat menyebabkan bunyi akan
sangat berkurang dan tidak akan bertambah keras walaupun kecepatan
bertambah tinggi. Begitu mudahnya pemasangan rantai gigi, toleransi pada
saat pemasangan tidak memerlukan ketelitian yang tinggi seperti pada roda
gigi.
2. Rantai rol
Terdiri atas pena, bus, rol dan plat mata rantai. Selanjutnya
dalam pembahasan di atas telah dijelaskan mengenai transmisi rantai gigi,
kemudian untuk transmisi yang menggunakan rantai rol akan dibahas pada
sub bab selanjutnya.
2.3 Rantai Rol
Rantai rol merupakan elemen mesin yang berfungsi sebagai transmisi daya
atau putaran dari mesin penggerak. dengan keunggulan dan kekurangan rantai rol
pada umumnya sama dengan penggunaan rantai gigi. Rantai rol biasanya
dipergunakan dimana jarak poros lebih besar daripada transmisi roda gigi tetapi

lebih pendek dari transmisi sabuk. Rantai rol terdiri dari pena, bus, rol, dan plat
mata rantai (Gambar 2.2).

Gambar 2.2. Rantai rol [6].

Rantai rol yang bekerja mengait dengan dua roda gigi yang terpasang
antara dua poros dengan jarak tertentu. Rantai mengait pada sproket dan
meneruskan daya tanpa terjadi slip sehingga akan menjamin putaran yang tetap.
2.3.1 Material atau Bahan yang Digunakan
Bahan pembuatan pena, bus dan rol dipergunakan baja karbon atau
baja khrom dengan pengerasan pada kulit. Sedangkan untuk bahan sproket
biasanya dipakai besi cor kelabu (FC 25), baja karbon rol kontruksi umum
(SS 41), baja karbon kontruksi mesin (S 35 C) dan baja cor (SC 46), bisa
juga dipakai baja dengan paduan, namun harganya lebih mahal. Bahan
untuk sproket diusahakan pengerasan pada bagian gigi sproket dengan
cara pencelupan dingin, terutama untuk sproket dengan jumlah gigi
kurang dari 24.
Kemudian untuk bahan poros yang digunakan pada tranmisi rantai
rol biasanya menggunakan batang baja kkarbon yang difinis dingin (SC
D), baja karbon untuk kontruksi mesin (SC), baja karbon tempa (SF),

maupun baja dengan paduan, seperti baja nikel krom (SNC), baja nikel
krom molibden (SNCM), baja krom (SCr) dan baja krom molibden
(SCM).
2.3.2

Pemilihan Rantai Rol


Dengan kemajuan teknologi akhir-akhir ini, kekuatan rantai

semakin meningkat. Rantai dengan rangkaian tunggal adalah yang paling


banyak digunakan. Rangkaian banyak, seperti dua atau lebih rangkaian
digunakan untuk transmisi beban berat.
Tata cara pemilihan rantai rol dapat dilihat menurut diagram pada
Gambar 2.3. Daya yang akan ditransmisikan (kW), putaran poros
penggerak dan yang digerakkan (rpm) dan jarak sumbu poros kira-kira
(mm), diberikan lebih dahulu. Daya yang akan ditransmisikan perlu
dikoreksi menurut mesin yang akan digerakkan dan penggerak mulanya,
dengan faktor koreksi.
Tabel 2.1 Faktor koreksi untuk daya yang akan
ditransmisikan rantai rol (c ) [6].
Jumlah

Faktor

rangkaian
2

1,7

2,5

3,3

3,9

4,6

Gambar 2.3. Diagram pemilihan rantai rol [6].

Momen lentur selalu akan terjadi pada poros. Karena itu harus
diperiksa kekuatan lentur poros bila diameternya telah diberikan. Dengan
menggunakan putaran dari poros yang berputaran tinggi dan daya yang
telah dikoreksi, maka dapat dicari nomor rantai dan jumlah gigi sproket
kecil yang sesuai. Jumlah gigi ini sebaiknya merupakan bilangan ganjil
dan lebih dari 15. Sedangkan jumlah gigi minimum yang diizinkan adalah
13. Jumlah untuk gigi sproket besar juga dibatasi, maksimum 114 gigi
sproket. Perbandingan putaran dapat diizinkan sampai 10/1. Sudut kontak
antara rantai dan sproket kecil harus lebih besar dari 120o. Transmisi rantai

akan lebih halus dan kurang bunyinya jika dipakai rantai dengan jarak bagi
kecil dan jumlah gigi sproket yang banyak.
Rangkaian banyak dipakai bila rangkaian tunggal tidak mempunyai
kapasitas cukup. Perlu diperhatikan bahwa kapasitas rangkaian banyak
tidak sama dengan kelipatan kapasitas satu rangkaian. Dipandang dari segi
pembagian beban diantara rangkaian, pembebanan pada masing-masing
rangkaian akan semakin efektip bila jumlah rangkaian semakin kecil atau
lebih efektivitas yang besar bila memakai satu rangkaian.
Pada saat melakukan pemilihan sering kali nomor rantai tergantung
pada pemeriksaan diameter naf sproket sehingga pemeriksaan diameter naf
sproket yang cukup besar, nomor rantai maupun jumlah rangkaian dapat
berubah sesuai dengan ruangan yang tersedia.
Diameter lingkaran jarak bagi dp dan Dp (mm), diameter luar dk
dan Dk (mm) untuk kedua sproket dapat dihitung dengan rumus berikut :
Diameter lingkaran jarak bagi sproket kecil [6],
dp

p
180 0
sin
z1

mm

Dan diameter lingkaran jarak bagi sproket besar Dp [6],


Dp

p
180 0
sin
z2

mm

Diameter luar sproket kecil [6],


dk

180 0
p

z
1

= 0,6 cot

mm

Dan untuk diameter luar sproket besar [6],


Dk

180 0
p

z
2

= 0,6 cot

mm

Jika jarak bagi rantai telah diketahui dan jumlah gigi sproket diketahui,
maka diameter naf maksimum dapat dihitung [6].

10

dB maks = cot

180
1 0,76
z1

mm

untuk diameter naf maksimum sproket besar [6],

DB maks = cot

180
1 0,76
z2

mm

Diameter bos atau naf dB dan DB (mm), adalah penting untuk lubang
poros, maka dapat dikecilkan dengan persamaan dibawah ini [6] :
5
ds
3

10 d B

5
ds
3

10 DB

mm

maks

atau
mm

maks

Jarak sumbu poros kedua sproket pada dasarnya dapat dibuat


sedekat mungkin, tapi jarak yang ideal adalah 30 sampai 50 kali jarak bagi
rantai. Untuk beban yang berfluktuasi, jarak tersebut harus dikurangi
sampai lebih kecil daripada 20 kali jarak bagi rantai. Maka, panjang rantai
yang diperlukan dalam jumlah mata rantai dihitung dengan rumus [6] :
Lp =

z z / 6,28 2
z1 z 2
2Cp 2 1
2
Cp

Dengan Cp jarak sumbu poros dalam jumlah mata rantai. Demikian untuk
panjang rantai dalam millimeter [6] :
L = Lp . p
Jika jumlah mata rantai dan jumlah gigi sproket telah diketahui, maka
jarak sumbu poros dapat dicari dengan persamaan berikut [6] :

Cp =

z1 z 2
2

z z2

L 1
2

2
z 2 z1 2
9,86

Cp dalam jumlah mata rantai. Dalam satuan panjang (mm) :


C

= Cp . p

mm

Kecepatan rantai v (m/detik) dapat dihitung [6] :


vspr

p z1 n1
60 1000

m / det ik

11

dimana :
p

= jarak bagi rantai

z1

= jumlah gigi sproket kecil, dalam hal reduksi putaran.

n1

= putaran sproket kecil, dalam hal putaran reduksi putaran (rpm).

Beban yang bekerja pada rangkaian rantai F (kg) dapat dihitung [6] :
F spr

102 Pd
v spr

Harga F tidak boleh melebihi melebihi beban maksimum yang


diijinkan Fu (kg).

2.4 Rantai Gigi (Sproket)


Sproket atau roda gigi yang digunakan pada transmisi rantai rol adalah
jenis roda gigi lurus. Roda gigi lurus merupakan roda gigi dengan alur gigi yang
sejajar poros. Roda gigi yang digunakan harus bisa menjaga kestabilan kecepatan
rantai dengan suara sehalus mungkin saat bertumbukan.
Sproket kecil perbandingan putarannya bisa mencapai 4 : 1. Baik sproket
besar maupun sproket kecil dari putaran rendah tetapi bebannya dan sproket
sproket tersebut harus bekerja dalam lingkungan yang abrasiv.
2.4.1

Dimensi roda gigi / sproket


Dimensi sproket yang direncanakan telah dihitung menurut

persamaan dalam merencanakan transmisi rantai rol di atas. Dari


perhitungan tersebut didapat dimensi sproket seperti : diameter lingkaran
jarak bagi sproket kecil dp dan sproket besar Dp (mm), diameter luar
sproket kecil dk dan sproket besar Dk (mm), diameter naf maksimum
lingkaran dalam sproket kecil dB maks dan sproket besar DB maks (mm).
Perencanaan yang dilakukan merupakan perencanaan ulang mengenai sistem
penggerak roda belakang sepeda motor Kawasaki Ninja selanjutnya akan
dilakukan perhitungan untuk mencari dimensi dan analisa kekuatan kontruksi

12

sistem penggerak roda belakang yang selanjutnya akan dibandingkan dengan


kontruksi standar.
BAB III
LANGKAH PERENCANAAN
3.1

Pengolahan Data Perencanaan


Langkah langkah pengumpulan data perencanaan digunakan diagram alir

Langkah kesatu

: data diambil dari spesifikasi kendaraan standar.

Langkah kedua

: data dari spesifikasi kendaraan standar untuk data


tambahan dilakukan pengukuran terhadap objek.

Langkah ketiga

: selanjutnya data data dikumpulkan sebagai data yang


dibutuhkan dalam perencanaan dan data referensi sebagai
data pertimbangan dalam perhitungan.

Langkah keempat

data

perencanaan

akhir

yang

digunakan

dalam

perhitungan.

DATA DATA SPESIFIKASI


KENDARAAN STANDAR

DATA DATA DIUKUR DARI OBJEK PERENCANAAN

DATA - DATA PERENCANAAN


YANG DIBUTUHKAN

MODIFIKASI DATA KENDARAAN STANDAR

REFERENSI
PERENCANAAN

DATA PERENCANAAN AKHIR (SPESIFIKASI KONTRUKSI YANG AKAN DIRENCANAKAN)

Gambar 3.1. Diagram pengolahan data perencanaan.

13

3.2

Diagram Alir Perencanaan

MULAI
1. Data data Perencanaan :
- Daya output P (kW); (Brosur spec. kendaraan)
- Putaran standar n (kW); (Brosur spec. kendaraan)
- Daya rencana Pd (kW)
- Putaran rencana n1 (rpm)
- Efisiensi kopling k
- Perbandingan transmisi i (Red. Spec. kendaraan)

2. Pengolahan data perencanaan


- Putaran ditransmisikan poros depan n1 (rpm)
- Putaran rencana n1 (rpm)
- Putaran diterima roda belakang n2 (rpm)
- Jumlah gigi sprocket depan z1 & belakang z2.

3. Perencanaan Poros

4. Pemilihan sementara nomor rantai


5. Penentuan nomor rantai sebenarnya

6. Perencanaan Spline hub

7. Perencanaan Sproket depan & belakang

8. Perencanaan bantalan ujung kerah, bantalan bola radial naf gear & bantalan bola radial roda
21. - Nomor rantai, dimensi rantai & Jumlah mata rantai
- Dimensi poros depan & belakang
- Dimensi spline hub
- Dimensi sprocket
- Dimensi bearing

14

SELESAI

3.3

Sistem Transmisi Putaran pada Sepeda Motor

Gambar 3.4. Sket transmisi putaran.

Penjelasan Sket Transmisi Putaran :


1. Daya output Pd = 16 hp (11,92 kW) dan putaran maksimum no = 9.500 rpm
yang dikeluarkan mesin.
2. Daya dan putaran maksimum tersebut akan ditransmisikan melalui kopling
ke transmisi roda gigi lurus (perseneling). Putaran yang ditransmisikan
kopling akan mengalami penurunan sebesar asumsi 5 % dari putaran
mesin. Penurunan putaran ini yang ditransmisikan terjadi akibat kerja
kopling (Pelepasan dan penyambungan poros kopling/kopling tidak tetap;
Diasumsikan kopling = 95 %) saat perseneling dilakukan pergantian ke
putaran tertinggi (pemindahan percepatan posisi empat), sehingga putaran
berubah menjadi n1.

15

3. Putaran n1 setelah melalui kopling akan ditransmisikan ke poros transmisi


roda gigi lurus untuk ditransmisikan ke sprocket kecil yang berada satu
poros dengan poros transmisi roda gigi.

4. Kemudian sprocket kecil akan mentransmisikan putaran ke roda belakang


(sprocket besar) melalui rantai penggerak (rantai rol). Dimana putaran
akan mengalami reduksi sebesar n2. Dengan posisi poros sejajar, maka
putaran yang ditransmisikan rantai akan sama. Jika perbandingan reduksi i
= 2,6 diperoleh n2 = n3 = 3.497 rpm.

16

BAB IV
PERENCANAAN SISTEM PENGGERAK RODA BELAKANG
SEPEDA MOTOR KAWASAKI NINJA
Pada bagian ini akan dibahas mengenai perhitungan kontruksi sistem
penggerak roda belakang sepeda motor kawasaki ninja. Adapun yang akan
dihitung yaitu mengenai dimensi dan analisa kekuatan pada elemen kontruksi
seperti poros depan dan belakang, sproket depan dan belakang, spline hub, rantai
rol, bantalan roda, bantalan naf dan bushing. Untuk baut dan seal hanya dilakukan
pemilihan saja, tidak dilakukan analisa kekuatannya.
4.1

Data data Perencanaan


Diketahui data-data spesifikasi sepeda motor kawasaki ninja standard yang

dibutuhkan adalah sebagai berikut :


- Daya motor maksimum standard 20,5 hp pada putaran 10500 rpm
- Daya motor maksimum yang direncanakan P = 16 hp
- Putaran poros maksimum yang direncanakan no = 9500 rpm
- Perbandingan reduksi i = 2,6
- Jarak sumbu roda depan dan belakang l = 1245 mm
- Jarak sumbu poros antar sproket diukur C = 520 mm
4.2

Pengolahan Data Perencanaan


4.2.1. Daya Rencana yang akan Ditransmisikan (Pd)
Jika daya yang akan ditransmisikan sebesar [6] :
P = 16 hp x 0,745
= 11,92 kW 12 kW
Jika kita ambil untuk daya maksimum c = 1,2, maka daya rencana
yang akan ditransmisikan [6] :
Pd = 1,2 x 12

kW

17

= 14,4 kW
4.2.2. Putaran yang Ditransmisikan ke Roda Belakang (n2)
Jika diketahui perbandingan transmisi roda gigi dari spesifikasi
kendaraan saat putaran maksimum dan daya maksimum adalah [6] :
Tabel 4.1 Perbandingan transmisi sepeda motor kawasaki ninja
Transmisi
percepatan

Perbandingan
roda gigi (z1/z2)

Perbandingan
reduksi (ig)

Putaran : n g

VI
V
IV
III
II
I

23/22
23/17
24/22
24/17
30/16
34/12

1,045
1,353
1,045
1,353
1,875
2,833

(rpm)
ng 1 = 9.570
ng 2 = 7.073,2
ng 3 = 1,056,6
ng 3 = 1,178,6
Ng = 3,772,36
Ng = 1,331,6

no
ig

Maka perencanaan akan mengacu pada saat percepatan transmisi


pertama dengan putaran tertinggi yang akan diterima sproket kecil, ng 1 =
9.570 rpm.
Putaran yang akan ditransmisikan oleh kopling akan berkurang
karena pengaruh gesekan saat proses penyambungan dan pelepasan yang
terjadi saat mentransmisikan putaran dari mesin. Diasumsikan putaran
yang hilang 5 % akibat kerja kopling ( kopling= 95 %), maka :
n 1 = kopling . ng 1
= 0,95 . 9570
= 9091,5 rpm
Dengan perbandingan reduksi sproket kecil dan besar i = 2,6, maka
putaran yang akan ditransmisikan ke roda belakang [6] :
n2

9091,5
= 3497 rpm
2,6

4.2.3. Jumlah Gigi Sproket


Sproket kecil akan berputar sesuai putaran yang ditransmisikan
oleh poros transmisi. Dengan putaran yang ditransmisikan maka jumlah

18

gigi dapat dipilih untuk sproket kecil menurut table z1 = 13. Maka jumlah
gigi sproket besar z2 adalah [6] :
n1 z1 n2 z 2

Maka,

z2

9091,5 13
33,8
3497

Diambil jumlah gigi z2 = 35.


4.2.4. Momen Puntir Rencana (T)
Momen puntir yang terjadi akibat putaran yang bekerja pada
poros dapat dicari dengan persamaan [6] :
T 9,74 10 5

Pd
n

Nm

1. Momen puntir yang akan diterima poros depan (T1)


T1 9,74 105

14,4
9091,5

= 1.542,7 kgmm
= 15.427 Nmm
2. Momen puntir yang akan diterima poros belakang (T2)
T2 9,74 10 5

14,4
3497

= 4.010,7 kgmm
= 40.107 Nmm
4.3

Poros
Perencanaan poros depan (penggerak) adalah jenis poros beralur dan poros

belakang (digerakkan) merupakan jenis gandar.


4.3.1. Poros sproket kecil
Poros sproket beralur dengan pengencangan spline hub

[6]

Diketahui data data untuk merencanakan poros :


- Momen puntir yang diterima poros depan T1 = 15427 Nmm
- Bahan poros sproket depan direncanakan baja yang difinis dingin
(S35C-D). Baja ditemper pada kulit luarnya agar tahan keausan
dan kelelahan puntir akibat putaran.
19

- Kekuatan tariknya b = 600 N/mm2. Kekerasannya 144 216 HB.


Maka tegangan tarik ijin S35C-D [6] :
a

b
S f1 S f 2

600
62

= 50 N/mm2
Sf 1 : faktor keamanan untuk kelelahan puntir = 6.
Sf 1 : faktor keamanan untuk pembebanan dan konsentrasi
tegangan = 2.
- Tegangan lentur S35C-D, a = 300 N/mm2 (270 400 N/mm2).
Maka tegangan lentur ijin a = 25 N/mm2.
Selanjutnya dapat dicari perhitungan parameter poros lainnya [6] .
1. Diameter poros (ds 1)
5,1 K t C b T
ds

1/ 3

mm

Dimana :
Kt = 1,5 3,0. Untuk harga Kt = 1,5.
Cb = 1,2 2,3. Untuk harga Cb = 1,2.
5,1 1,5 1,2 15427

50

1/ 3

ds 1 =

= 14,224 mm 15 mm
2. Panjang alur (lalur)
l alur = (0,75 1,5).ds
= (1,25) . 15 = 18,75 mm
3. Lebar alur ( b)
Perlu diperhatikan untuk lebar alur pada umumnya 25 35 %
dari diameter poros. Jika diambil 35 % dari diameter poros,
maka :
b

= 35 % ( ds)

20

= 0,35 x 15
= 5,25 mm
4. Tinggi alur (h)
h

=
=

( d1 d s 1 )

mm

4
(25 15)
2,5
4

mm

4.3.2. Poros sproket besar


Poros belakang yang direncanakan adalah jenis gandar. Selanjutnya
data yang dibutuhkan dalam perencanaan poros belakang :
- Bahan poros baja karbon (S55C-D) dengan pengerasan kulit
melaui pendinginan air.
- Tegangan tariknya, b = 1000 N/mm2 (810 - 1010 N/mm2). Maka
tegangan tarik ijin S55C-D [6] :
a

b
Sf1 Sf 2

1000
62

= 83,334 N/mm2
Dengan harga Sf 1 = 6 & Sf 1 = 2.
- Tegangan lentur a = 60 kg/mm2 (600 N/mm2). Maka tegangan
lentur ijinnya a = 50 N/mm2.
- Momen puntir yang diterima poros belakang T2 = 40107 Nmm.
selanjutnya dapat dicari diameter poros ds 2 sebagai berikut [6] :
ds

5,1 1,5 1,2 40107

83,334

= 16,5 mm 17 mm

4.3.3. Pemeriksaan Kekuatan Poros

21

1/ 3

Analisa kekuatan poros yang akan direncanakan akibat dari putaran


yang bekerja [6].
1. Pemeriksaan kekuatan poros beralur sproket depan
a. Tegangan lentur yang terjadi pada poros (p 1)
p 1 =
=

5,1 T1
ds

N / mm 2

5,1 15427
= 23,3 N/mm2
3
15

b. Gaya tangensial pada permukaan poros (Ft prs 1 )


Ft prs 1=

T1
(0,5 d s 1 )

15.427
(0,5 15)

= 2057 N
c. Tegangan yang terjadi pada permukaan sisi alur (pa)
pa

=
=

Ft

prs 1
2

( d s / 4)

N / mm 2

2057
= 11,6 N/mm2
( 15 2 / 4)

a S35C-D = 50 N/mm2 p 1
= 23 N/mm2 & pa = 11,6 N/mm2.
Aman & baik digunakan
d. Momen puntir yang diijinkan pada poros (Tijin 1)
Tijin 1=
=

d s13 a
16

Nmm

153 50
= 33117 Nmm
16

Tijin 1 = 33117 Nmm T1 = 15427 Nmm


Poros baik untuk putaran yang direncanakan
e. Momen lentur yang terjadi pada poros (Mt 1)
Mt 1 =

a d s1
32

22

N .mm

50 15 3
= 16558,6 Nmm
32

f. Momen lentur yang diijinkan pada alur (Mt ijin 1)


Mt ijin 1 = 0,75 . pa . i . lalur . h . rm

Nmm

rm : diameter rata rata.


rm

(d1 d s 1 )
4

(25 15)
10 mm
4

Maka, momen lentur ijin maksimum :


= 0,75 11,6 6 18,75 2,5 10
= 24468,75 Nmm
Mt ijin 1 = 24468,75 Nmm Mt 1= 16558,6 Nmm
Poros baik dan aman
2. Pemeriksaan kekuatan poros sproket belakang
Diketahui berat total kendaraan + oli & bahan bakar +
pengendara + penumpang + lain lain = (W + 80 + 80 + 30)
kg.

Dimana,

W m g 109

kg 10

beban
m/ s

1090

statis

N , sehingga beban

statis total Ws = 299 kg = 2990 N.


Gaya gaya reaksi akibat pembebanan pada kendaraan
dapat dianalisa dengan kesetimbangan jumlah momen seperti
di bawah ini [3] :
M A 0;
M A P1 l1 W 0,5 l P2 l 2 P3 l RB l 0...(1)

M B 0;
M B R A l P1 (l l1 ) (W 0,5 l ) P2 (l l 2 ) P3 l 0...(2)

Dari persamaan diatas dapat dihitung gaya reaksi yang


bekerja pada poros roda kendaraan adalah [3] :
a. Gaya reaksi pada roda belakang (RB)

23

P1 l1 W 0,5 l P2 l 2 P3 l
l

RB =

[300 422 1090 (0,5 1245) 800 722 800 1245]


1245

= 1910,6 N
b. Gaya reaksi pada roda depan (RA)
P1 (l l1 ) W 0,5 l ( P2 (l l 2 ) P3 (l l )
l

RA =

[300 (823) 1.090 (0,5 1245) 800 (523) 800 (0)]


1245

= 1080 N
c. Momen puntir yang diijinkan poros belakang (Tijin 2) [6]

d s1 a
16
3

Tijin 2 =
=

Nmm

17 3 83,334
80349
16

Nmm

Tijin 2 = 80349 N.mm T2 = 40107 N.mm


Memenuhi syarat & aman
d. Tegangan lentur yang terjadi pada poros(p 2) [6]
p 2 =
=

5,1 T2
ds

N / mm 2

5,1 40.107

17 3

41,6

N / mm 2

a S55C = 83,334 N/mm2 41,6 N/mm2


Baik & memenuhi syarat
e. Momen lentur yang terjadi pada poros belakang (Mt 2) [6]
Mt 2 =

d s23 a
32

17 3 50
32

Nmm

= 24104,5 Nmm

24

f. Panjang poros minimum ( j) [6]


Diketahui jarak antar tumpuan/lengan ayun/swing arm
diukur g = 180 mm dan beban statis total Ws = 2990 N.
( j g ) Ws
4

Mt 2 =

N .mm

Maka,
4 Mt
Ws

j =

mm

4 24104,5
180
2990

= 218,7 mm
220 mm
Maka lebar tiap tumpuan poros/lengan ayun/swing arm kiri
dan kanan x =

220 180
= 20 mm.
2

g. Momen lentur maksimum (Mt ijin 2) [6]


Mt ijin 2 =
=

RB j
4

Nmm

1910,6 220
4

= 105083 Nmm
Mt ijin 2 = 105083 Nmm Mt 2 = 24104,5 Nmm
Baik dan aman digunakan

4.4

Pemilihan Sementara Nomor Rantai


Menurut Gambar 2.5 diagram pemilihan rantai rol berdasarkan jumlah

putaran pada sproket kecil terhadap daya yang ditransmisikan dengan satu
rangkaian, dipilih untuk sementara nomor rantai # 40 :

25

4.4.1. Diameter Jarak Bagi dan Diameter Naf [6]


1. Diameter jarak bagi sproket
a. Diameter jarak bagi sproket depan (dp)
p

dp

mm

= sin 180
z
1
12,7
= sin 180

13

53 mm

b. Diameter jarak bagi sproket belakang (Dp)


p

Dp

= sin 180
z

2
12,7
= sin 180

35

141,7

mm

2. Diameter naf maksimum sproket


a. Diameter naf maksimum sproket kecil (dB maks.)

dB maks = cot

180
1 0,76
z1

= 12,7 cot

mm

180

1 0,76
13

= 38 mm
b. Diameter naf maksimum sproket besar (DB maks)

180

1 0,76
DB maks = p cot

z2

180
12,7 cot
1 0,76
35

= 127,6 mm 128 mm.


4.4.2. Pemeriksaan Diameter Poros dan Diameter Naf [6]

26

Diameter naf harus diperiksa untuk menghindari momen lentur


yang berlebihan dan naf tidak eksentris, sehingga harus direncanakan
diameter poros yang tidak terlalu besar.
1. Diameter poros dan diameter naf depan
Untuk poros sproket kecil, ds1 = 15 mm dengan diameter naf
maksimum sproket kecil dB maks = 38 mm sebaiknya diperkecil
menjadi :
5
ds
3

10 d B

15 10 38
3

35

38

maks

mm

Baik dan aman

Diameter sproket kecil, ds 1 = 15 mm.


Diameter naf sproket kecil, dB maks= 35 mm Diameter bantalan luar

2. Diameter naf dan diameter poros belakang/besar


Diameter naf sproket besar, DB

maks

= 128 mm terlalu besar

untuk poros bersangkutan, ds 2 = 17 mm. Sehingga diameter naf


harus disesuaikan menjadi :
5
ds
3

10 DB

maks

17 10 128
3

= 42 128

mm

mm

Baik

dan aman

Diameter sproket besar, ds 1 = 17 mm.


Diameter naf sproket besar, DB maks= 42 mm Diameter bantalan luar

4.4.3. Kecepatan Rantai (v)

27

Kecepatan rantai penggerak yang terjadi d engan putaran n2 = 3.497

rpm dapat diperoleh [6] :


v

=(

p z1 n2
60 1000

m / det ik

12,7 13 3497 9,6


60 1000

m / det ik

4.4.4. Daerah Kecepatan Rantai (vizin)


Daerah kecepatan dalam perencanaan rantai rol jangan melebihi
dari kecepatan yang diizinkan, karena dapat menyebabkan suara yang
berisik, terjadi slip dan membahayakan keselamatan.
Daerah kecepatan yang diizinkan [6],
vizin
= ( 4 10 ) m/s.
Karena itu untuk kecepatan rantai rol yang terjadi,
4 m/s

v = 9,6 m/s

Kecepatan

memenuhi

syarat

10 m/s
sehingga

rantai

rol

yang

direncanakan baik dan aman.


4.4.5.

Ukuran Rantai Rol yang Direncanakan (Lp)


Diketahui panjang antar sumbu poros sproket depan dan

belakang diukur C = 520 mm, maka jarak dalam jumlah satuan mata
rantai Cp [6] :
C
520

40,945
p
12,7

mata

rantai

Diperoleh panjang rantai dalam jumlah mata rantai :


z1 z 2

z 2 z1 / 6,28 2
2Cp
Lp =
2
Cp

35 13 / 6,28 2
13 35
2 (40,945)
2
40,945

= 106 mata rantai


Panjang rantai dalam satuan SI L (mm) : L = 106 . 12,7 = 1346,2 mm
4.4.6.

Beban Tarik Rantai Rata rata (FB rol)


Merupakan beban yang akan ditarik oleh rantai rol [6].

28

FB rol =

102 Pd
v

102 14,4
5
9,6

= 153 kg
= 1530 N
Batas kekuatan tarik rantai nomor # 40 :
Batas beban tarik ijin rata rata Beban tarik rencana
FB = 19500 N FB rol = 1530 N
4.4.7.

Faktor Keamanan (Srol)


Faktor keamanan diperoleh dari perbandingan antara batas

kekuatan tarik rata-rata FB dari pemilihan nomor rantai sementara


terhadap pembebanan yang akan diterima pada rantai rol rencana FB rol.
Dimana

Sfrol

untuk satu rangkaian [6]. Dimana

harga FB = 1.950 kg (19.500 N). Maka,


Srol =

FB
FB

rol

19500
1530

= 12,7
4.4.8.

Pembebanan Maksimum Ijin


Beban maksimum yang diizinkan menurut nomor rantai # 40, FU

= 300 kg (3000 N). Sehingga pembebanan maksimum yang akan


diterima oleh rantai rol FU

maks

tidak boleh melebihi beban maksimum

yang diizinkan. Diketahui FU rol = Ws = 2990 N. Maka [6],


FU maks = 2990 N FU = 3000 N
Baik dan aman digunakan

4.5

Penentuan Nomor Rantai Sebenarnya

29

Material rantai dipilih baja nikel krom (SNC 21), perlakuan panas dengan
pendinginan minyak, kekerasannya 235 341 HB.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka rantai rol dipilih
nomor # 40 sebagai rantai yang akan dipakai. Maka persyaratan menurut rantai rol
nomor # 40 adalah sebagai berikut :
4.5.1.

Nomor rantai # 40

Gambar 4.4 Dimensi nomor rantai rol # 40 [6].

4.5.2.

Kecepatan rantai [6]


vizin = ( 4 10 )

m/s.

10 m/s v = 9,6 m/s > 4 m/s


Aman dan baik digunakan
4.5.3.

Batas kekuatan tarik rantai rol rata rata [6]

Batas beban tarik ijin rata rata rantai Beban tarik rencana
FB = 19500 N FB rol = 1530 N
4.5.4.

Faktor keamanan rantai rol [6]


Srol

>

12,7
>
6
Tidak berisik, aman dan baik digunakan.
4.5.5.

Pembebanan maksimum [6]

30

Fu

>

Fu rol

3000 N
>
2990 N
Aman dan baik digunakan

Gambar 4.5 Rantai rol rencana [6].

4.6

Perencanaan Sproket
Sproket yang direncanakan adalah sproket depan/kecil sebagai penggerak

dan sproket belakang/besar yang digerakan.


4.6.1

Perhitungan Dimensi Sproket


Pada bagian ini akan di rencanakan dimensi sproket atau roda gigi

yang akan dihubungkan oleh rantai rol, yaitu sproket kecil (depan) dan
sproket besar (belakang). Pada perencanaan sproket ini akan menghitung
dimensi menurut data dan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada
halaman sebelumnya.
Diketahui data data hasil perhitungan sebagai berikut :

Putaran input yang diterima sproket kecil n1 = 9091,5 rpm


Putaran yang akan diterima sproket besar n 2 = 3497 rpm
Jumlah gigi sproket kecil (depan) z1 = 13
Jumlah gigi sproket besar (belakang) z2 = 35
31

Diameter sproket kecil ds 1 = 15 mm


Diameter sproket besar ds 2 = 17 mm
Diameter jarak bagi sproket kecil dp = 53 mm.
Diameter jarak bagi sproket besar Dp = 141,7 mm
Diameter naf maksimum sproket kecil dB maks = 35 mm
Diameter naf maksimum sproket besar DB maks = 40 mm
Bahan kedua sproket adalah baja untuk kontruksi mesin (S30C)
Kekuatan lentur S30C a = 290 N/mm2 (290 340 N/mm2) dan
kekerasan = 179 255 HB (JIS G 4501).
Selanjutnya dimensi lain yang belum ditentukan adalah [6] :
1. Modul (m)
Modul gigi kedua sproket sama.
m

jarak

bagi
z

53
13

= 4
2. Diameter lingkaran kepala (dg)
a.

Sproket kecil (dg 1)


dk 1 = ( z1 2) m

mm

= (13 2) 4
= 60 mm
b. Sproket besar (dg 2)
dk 2 = (35 2) 4
= 148 mm
3. Diameter lingkaran dasar (df)
a.

Sproket kecil (df 1)


df 1 = z1 m cos
= 13 4 cos 20 0
32

mm

= 21,5 mm
b. Sproket besar (df 2)
df 1 = 35 4 cos 20 0
= 57,5 mm
4. Tinggi kepala gigi (hk )
hk =

k m

mm

= 1,0 . 4
= 4 mm
dengan k faktor tinggi kepala yang besarnya = 0,8 1,2.
5. Tinggi kaki (hf )
hf = k m c k

mm

dimana, ck adalah kelonggaran puncak = 0,25 x m = 1.


hf = 1,2 4 1
= 4,8 mm
6. Jarak bagi lingkar ( t )
t =.m

mm

= 3,14 . 4
= 12,56 mm
7. Tebal gigi jarak bagi (ht)
ht =

m
2

4
2

mm

= 6,28 mm
8. Lebar gigi jarak bagi (h)
h = 0,55 . t
= 0,55 . 12,56
= 6,9
7 mm
9. Tebal gigi dalam (b)
Biasanya b 10 mm dengan = 20 0.

33

Gambar 4.7 Dimensi sproket depan yang direncanakan.

34

Gambar 4.8 Dimensi sproket belakang yang direncanakan.

4.6.2

Analisa Gaya dan Tegangan Sproket


Pada analisa gaya roda gigi lurus ada tiga gaya yang terjadi saat

kontak dengan rantai rol, yaitu gaya tangensial (Ft), gaya radial (Fr) dan
gaya normal (Fn).
Pada saat putaran diterima oleh poros sproket kecil n1 = 9091,5
rpm, maka rantai rol akan mendistribusikan putaran yang menghubungkan
sproket kecil dan sproket besar, dimana mekanisme kerja dari rantai rol ini
akan mereduksi putaran menjadi n2 = 3497 rpm.

35

Gambar 4.9. Gaya gaya yang bekerja pada roda gigi [6].

1. Analisa gaya sproket kecil/depan [6]


a. Kecepatan keliling lingkaran jarak bagi (vspr 1)
vspr 1

=
=

d p1 n

m / det ik

60 1000

53 9091,5

60 1000

25,2

m / det ik

dengan :
dp

: diameter jarak bagi (mm).

n = n 2 : putaran sproket 3497 rpm.


b. Gaya tangensial (Ft spr 1)
Ft spr 1 =
=

102 Pd

v spr1
102 14,4
25,2

= 583 N
Pd adalah daya yang akan ditransmisikan.

c.

Gaya normal (Fn spr 1)


Fn spr 1 =

Ft

spr1

cos

36

583
cos 20 0

= 1430 N
dengan : sudut tekanan kerja = 200 [6].
d. Gaya radial (Fr spr 1)
Fr spr 1 = Ft spr 1 . tan
= 583 . tan 200 = 1304 N
e.

Tegangan lentur yang terjadi pada sproket (spr)

spr 1 =
=

Ft H

N / mm 2

b h2 / 6

583 9,6
10 7 2 / 6

= 68,5 N/mm2
Dengan,
H : tinggi gigi = 9,6 mm; b : lebar gigi = 10 mm;
m : modul = 4; h : tebal gigi jarak bagi = 7 mm.

a S30C = 290 N/mm2 spr 1 = 68,5 N/mm2


Aman dan baik digunakan
Dengan cara yang sama, maka analisa tegangan untuk sproket
besar seperti tabel dibawah ini :
Tabel 4.2 Tabel analisa gaya sproket kecil (variabel 1) dan besar (variabel 2).

B AB V
KESIMPULAN DAN SARAN

37

Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran dari perencanaan kontruksi sistem
penggerak roda belakang sepeda motor Kawasaki ninja. berikut ini data data
yang digunakan dalam perencanaan :

Daya maksimum rencana yang akan ditransmisikan, Pd = 16 hp (12


kW)

5.1.

Putaran poros maksimum direncanakan no = 9500 rpm

Perbandingan reduksi i = 2,6

Jarak sumbu roda depan dan belakang l = 1245 mm

Jarak sumbu poros antar sproket diukur C = 520 mm

Kesimpulan
Kesimpulan ini berisi dimensi dan analisa kekuatan dari kontruksi yang

direncanakan yang meliputi poros depan dan belakang, spline hub, sproket depan
dan belakang, bantalan dan rantai penggerak.
5.1.1. Poros
Poros yang direncanakan adalah poros beralur untuk di sproket
depan dan poros jenis gandar untuk di sproket belakang.
1). Poros sproket depan (poros penggerak)
Tabel 5.1. Dimensi poros beralur sproket depan.
poros

poros tingkat

ds1 (mm)

pertama
d1 (mm)
25

15
a.

Panjang alur
la (mm)
18,75

Alur poros
Tinggi alur
h (mm)
2,5

Lebar alur
b (mm)
5,25

Bahan poros sproket kecil direncanakan batang baja yang


difinis dingin (S35C-D)

b.

Kekuatan tarik S35C-D b = 600 N/mm2. Kekerasannya 144


216 HB

c.

Tegangan lentur S35C-D a = 300 N/mm2 (270 400 N/mm2)

d.

Tegangan lentur poros sproket kecil

Tegangan lentur ijin Tegangan lentur terjadi Tegangan permukaan alur


a S35C-D = 25 N/mm2 poros 1 = 23,3 N/mm2 pa = 11,6 N/mm2

38

e.

Momen puntir yang akan diterima poros sproket kecil

f.

Momen puntir ijin Momen puntir yang terjadi


Tt ijin = 33117 Nmm T1 = 15427 Nmm
Momen lentur poros sproket kecil
Momen lentur ijin Momen lentur yang terjadi
Mt ijin 1 = 24468,75 N.mm Mt 1 = 16558,6 N.mm

2). Poros sproket besar/belakang


Tabel 5.2. Dimensi poros belakang.
poros
ds2 (mm)
17

Panjang poros
minimum j (mm)
220

Lebar tiap lengan


ayun g (mm)
20

a.

Bahan poros baja karbon (S55C-D) yang difinis dingin

b.

Kekuatan tarik S55C-D b = 1000 N/mm2 (810 - 1010


N/mm2)

c.

Tegangan lentur S55C-D a = 600 N/mm2. Maka tegangan


lentur ijinnya a = 50 N/mm2

d.

Tegangan lentur pada poros


Tegangan lentur ijin Tegangan lentur yang terjadi.
b S55C = 83,334 N/mm2 p 2 = 41,6 N/mm2

e.

Momen puntir poros belakang


Momen puntir ijin Momen puntir yang terjadi
Tijin 2 = 80349 Nmm T2 = 40107 Nmm

f.

Momen lentur sproket besar


Momen lentur ijin Momen lentur yang terjadi
Mt ijin 2= 105083 N.mm Mt 2 = 24104,5 Nmm

5.1.2. Spline hub

39

Spline hub atau key berfungsi sebagai pengunci sproket pada poros
depan.
Tabel 5.3. Dimensi spline hub.
dalam
ds 1 (mm)
15

luar
d1 (mm)
35

Tinggi alur
h (mm)
2,5

Lebar alur
b (mm)
5,25

Panjang
alur l (mm)
18,75

Jumlah
alur n (mm)
6

1). Bahan spilne hub baja karbon kontruksi mesin (S45C)


2). Tegangan tarik S45C-D b = 60 kg/mm2 = 600 N/mm2 dan
kekerasannya 179 255 HB
3). Tegangan geser spline hub
Tegangan geser izin Tegangan geser pada permukaan
b S = 50 N/mm2 k 1= 11,5 N/mm2
5.1.3. Sproket
Sproket yang direncanakan adalah sproket depan (penggerak) dan
belakang (pengikut). Dari perhitungan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1).

Putaran input yang diterima sproket kecil nspr 1 = 9091,5 rpm

2).

Putaran yang diterima sproket besar nspr 2 = 3497 rpm

3).

Jumlah gigi sproket kecil/depan z1 = 13

4).

Jumlah gigi sproket besar/belakang z2 = 35

5).

Bahan kedua sproket adalah baja untuk kontruksi mesin (S30C)


Kekuatan lentur S30C a = 290 N/mm2dan kekerasan = 179
255 HB

6).

Analisa gaya dan tegangan yang terjadi pada kedua sproket


mengalami sedikit perbedaan, hal ini disebabkan transmisi pada
rantai sering terjadi variasi kecepatan. Perbedaan dapat dilihat
pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Analisa gaya sproket kecil (variabel 1) dan besar (variabel 2).

40

Tabel 5.5 Dimensi Sproket besar.


jarak
bagi dp
(mm)
141,7

lingkaran
dasar df
(mm)
57,5

Tinggi
kepala
gigi hk 1
(mm)
4,8

Tinggi
kaki hf
(mm)
4,8

Jarak
bagi
lingkar
t (mm)
12,56

Tebal gigi
dasar kaki
h (mm)
7

Lebar
gigi
dalam
b (mm)
10

5.1.4. Rantai rol


Material rantai dipilih baja nikel krom (SNC 21), perlakuan panas
dengan pendinginan minyak, kekerasannya 235 341 HB.
Nomor rantai rol adalah # 40 dengan rangkaian tunggal.
Dimensinya dapat dilihat pada Tabel 5.7.
1). Daerah Kecepatan rantai
Kecepatan rantai ijin ( 4 10 ) m/detik kecepatan rantai terjadi
vizin = 10 v = 9,6 m/detik
2). Beban rencana rantai (FU)
Beban ijin maksimuum rantai No. # 40 Beban maksimum diterima
FU = 3000 N FU rol = 2.990 N
3). Batas kekuatan tarik rantai nomor # 40 (FB)
Batas beban tarik ijin rata rata rantai Beban tarik rencana
FB = 19500 N FB rol = 1530 N

4). Faktor keamanan rantai rol (Srol)


Semakin besar Srol 6 semakin baik digunakan.
Faktor keamanan rantai rencana 6
Srol = 12,7 6

41

5). Pelumasan yang digunakan adalah pelumasan dengan cara tetes


minyak dengan SAE 20 atau SAE 30 yang dianjurkan.
6).
Tabel 5.6 Dimensi sistem reduksi penggerak roda belakang yang direncanakan.
naf sprocket
kecil
dB maks (mm)
35

naf sprocket
besar
dB maks mm)
40

Panjang rantai
L (mata rantai)
106

Panjang
rantai
LP (mm)
1346,2

Jarak sumbu
poros terukur
Cp (mm)
520

Gambar 5.1 Dimensi nomor rantai # 40 [6].

5.2.

Saran
a. Rantai rol dan bearing yang digunakan harus sering mendapat
pelumasan berkala.
b. Pengecekan ukuran penyetelan rantai. Rantai rol jangan terlalu jatuh
menggantung (kendor) karena saat beroperasi akan terasa berat dan
saat start perlu waktu untuk menarik beban. Demikian juga untuk
penyetelan rantai rol terlalu kencang (tegang) dapat mengakibatkan

42

sering terjadi spin dan kemungkinan terpelanting karena gerakan motor


bisa liar, serta dapat menyebabkan umur transmisi skunder pendek
karena gesekan yang terlalu besar antar komponen akibat ketegangan
penyetelan.
c. biasakan menggunakan suku cadang asli dan hindari pemakaian suku
cadang palsu.
d. Kenyamanan dan keselamatan nyawa lebih berharga daripada selisih
harga suku cadang asli dan palsu (relatif harga tidak terlalu jauh).
e. Hindari kondisi yang dapat menyebabkan kemungkinan berkurangnya
umur komponen (beban berlebihan, kerusakan jalan, kondisi basah,
dll.)
f. Hindari berbagai variasi gerakan saat berkendara yang dapat
menimbulkan tumbukan secara tiba - tiba dan membahayakan nyawa.

D AFTAR PU S TAK A

1. Khurmi R.S Gupta, J.K. Machine Design, Third Edition. Eurasia Publishing
Home Ltd, Ram Nagar, New Delhi, 1982.

43

2. Nieman G, Priambodo Bambang. Elemen Mesin, Jilid I, Edisi Kedua.


Erlangga, Jakarta, 1992.
3. Sularso, Suga Kiyokatsu. Pemilihan dan Perencanaan Elemen Mesin, Cetakan
Ketujuh. Pradnya Paramitha, Jakarta, 1991.

44