Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN

PLASMOLISIS

KELOMPOK: 2
Disusun Oleh:
1. Gahar Ajeng Prawesti (13304241064)
2. Aditya Rizka Puspita (13304241066)
3. Uhti Intan Rahma K. (13304241068)
4. Nurhayatun Nikmah (13304244007)
5. Arif M Al Farouq

(13304244033)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya plasmalemma atau membran plasma dari
dinding sel karena dehidrasi (sel kehilangan air). Peristiwa ini terjadi bila jaringan
ditempatkan pada larutan yang hipertonis atau memiliki potensial osmotik lebih tinggi.
Dalam keadaan tersebut, air sel akan terdorong keluar sel menembus membran.
Rhoeo discolor atau perahu Adam Hawa adalah tanaman hias dengan daun
berwarna hijau di bagian atas dan ungu di bagian bawahnya. Rhoeo discolor biasa
ditanam orang sebagai tanaman hias, tumbuh subur di tanah yang lembab. Tumbuhan
Rhoeo discolor termasuk dalam klasifikasi : Spermatophyta, Divisi: Angiospermae, Sub
divisi : Monocotyledoneae, Kelas : Bromeliales, Suku : Bromeliaceae dan Marga :
Rhoeo. (Padmaningrum, 2011)
Pada praktikum ini menggunakan sel tumbuhan Rhoeo discolor dengan
memanfaatkan zat warna yang dikandung dalam sel tumbuhan tersebut. Daun Rhoeo
discolor disayat pada bagian bawah daun setipis mungkin sehingga saat pengamatan di
bawah microscop terlihat sel berwarna ungu. Peristiwa plasmolisis diketahui jika sayatan
tersebut bila diberi larutan sukrosa perlahan lahan warnanya akan memudar.
Pada praktikum ini akan diketahui tentang fakta gejala plasmolisis, faktor penyebab
plasmolisis dan hubungan antara plasmolisis dengan status potensial osmotik cairan
selnya dengan larutan di lingkungannya.
B. TUJUAN
1. Menemukan fakta tentang gejala plasmolisis
2. Menunjukkan faktor penyebab plasmolisis
3. Mendeskripsikan peristiwa plasmolisis
4. Menunjukkan hubungan antara plasmolisis dengan status potensial osmotik antara
cairan selnya dengan larutan di lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Plasmolisis merupakan peristiwa lepasnya plasmalemma atau membran plasma dari
dinding sel karena sel kehilangan air atau dehidrasi ketika sel ditempatkan di larutan dengan
konsentrasi tinggi atau hipertonis terhadap sel atau memiliki potensial osmotik yang lebih
tinggi. Pada saat sel ditempatkan di larutan yang hipertonis, maka air akan keluar dari
vakuola, sehingga membran sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari dinding sel
(Tjitrosomo, .
Plasmolisis adalah pemisahan sitoplasma sel tumbuhan dari dinding sel yang terjadi
karena hilangnya air. Hal ini tidak biasa terjadi di alam, kecuali dalam beberapa keadaan.
Plasmolisis diinduksi di laboratorium dengan cara merendam sel tanaman pada larutan garam
pekat atau larutan gula, hal itu yang menyebabkan hilangnya air oleh osomosis
(5e.plantphys.net).
Plasmolisis merupakan proses yang secara nyata menunjukkan bahwa pada sel, sebagai
unit terkecil kehidupan, terjadi sirkulasi keluar masuk suatu zat. Adanya sirkulasi ini
menjelaskan bahwa sel dinamis denga lingkungannya. Jika memerlukan materi dari luar
maka sel harus mengambil materi itu dengan segala cara, misalnya dengnan mengatur
tekanan agar terjadi perbedan tekanan sehinggga materi dari luar bias masuk. (Buana dkk,
2011:5)
Plasmolisis merupakan dampak dari peritiwa osmosis. Jika sel tumbuhan dileteakkan
pada larutan hipertonik. Sel tumbuhan akan kehilangan air dan tekanan turgor, yang
menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan kondisi sel seperti ini disebut layu.
Kehilangan air lebih banyak lagi menyebabkan terjadinya plasmolisis, dimana tekanan harus
berkurang sampai di suatu titik dimana sitoplasma mengerut dan menjauhi dinding sel,
sehingga dapat terjadi cytorhysis contohnya dinding sel. (Buana dkk, 2011:5)
Hubungan potensial omotik dengan plasmsolisis
Karena pada titik keseimbangan, nilai mutlak potensial osmotic (yang negtif) setara
dengan tekanan nyata (yang positif) di osmometer sempurna, maka potensial osmotik
larutan dapat diukur secara langsung. Pengukuran menggunakan pengamatan pada
plasmolisis insipien digunakan untuk memperoleh tekanan nol dalam jaringan tanpa
mengubah lagi sifat osmotik lainnya bila tidak diperlukan (yang mungkin bisa terlalu
3

banyak). Pada metode ini, sampel jaringan dimasukkan ke dalam suatu seri larutan bertingkat
yang potensial osmotiknya diketahui (Salisbury, 1995 : 62).
Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak
air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika
potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan
lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila
kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volume sel akan menurun
demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding
sel. Membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel. Sel epidermis daun Rhoeo
discolor yang dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
Para ahli fisiologi tumbuhan menganggap bahwa plasmolisis insipien terjadi pada
jaringan yang separuh jumlah selnya baru saja mulai mengalami plasmolisis (protoplas baru
mulai terlepas dari dinding sel), berarti tekanan-dalamnya sama dengan nol. Jika anggapan itu
benar, maka potensial osmotic lautan penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial
osmotic di dalam seel, sesudah kesetimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury, 1995 : 6263).

BAB III
METODE
A. ALAT DAN BAHAN
1 Daun Rhoeo discolor
2 Mikroskop
3 Larutan sukrosa dengan konsentrasi : 0,14 M; 0,16M; 0,18M; 0,20M; 0,22M;
4
5
6
7
8
9
10
11

0,24M; 0,26M
Larutan NaCl
Aquades
Gilet (Silet)
Gelas Objek
Gelas penutup
Pipet
Kamera
Jarum

B. CARA KERJA
1 Pengamatan daun Rhoeo discolor dengan menggunakan air
a Menyiapkan daun Rhoeo discolor, kemudian menyayatnya secara membujur
b Menetesi air 3 tetes dari pipet pada glas objek
c Meletakan sayatan daun yang telah disayat tadi ke dalam gelas objek yang telah

ditetesi air.
d Menutup gelas objek tersebut dengan cover gelas
e Mengemati di mikroskop
f Photo hasil pengamatan tersebut sebagai perbandingan
Pengamatan daun Rhoeo discolor dengan menggunakan sukrosa
a Setelah preparat yang telah diamati pada pengamatan daun Rhoeo discolor dengan
menggunakan air tadi, kemudian metetesi preparat dengan larutan sukrosa
b Mengamati perubahan yang terjadi.
c Mencatat waktu serta jumlah sel terplasmolisis
d Memfoto hasil pengamatan tersebut sebagai perbandingan.
Pengamatan daun Rhoeo discolor dengan menggunakan sukrosa
a Setelah preparat yang telah diamati pada pengamatan daun Rhoeo discolor dengan
b
c
d

menggunakan air tadi, kemudian metetesi preparat dengan larutan NaCl


Mengamati perubahan yang terjadi.
Mencatat waktu serta jumlah sel terplasmolisis.
memfoto hasil pengamatan tersebut sebagai perbandingan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN
No/

Perlakuan

Kel
1.

sukrosa
0,14 M

2.

3.

4.

6.

7.

0,16 M

0,18 M

0,20 M

0,22 M

0,24 M

0,26 M

Waktu
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 ke empat
5 pertama
5 ke dua
5 ke tiga
5 keempat

Keadaan sel dalam satu bidang pandang


Terplasmolisis (%) Tak Terplasmolisis (%)
7,6
10,3
15,4
17,9
19,7
37,6
55,55
55,55
41,4
58,6
72,4
79,3
30,3
51
63,6
75,7
2,8
14,3
25,7
25,7
0
2,86
5
5
14,4
20,5
21,7
22,9

92,4
89,7
84,6
82,1
80,2
62,3
44,5
44,5
58,6
41,4
27,6
20,7
66,7
49
36,4
24,3
97,2
85,7
74,3
74,3
100
97,14
95
95
85,6
79,5
78,3
77,1

Ket.
Jumlah
sel awal
39
Jumlah
sel awal
162
Jumlah
sel awal
29
Jumlah
sel awal
33
Jumlah
sel awal
35
Jumlah
sel awal
140
Jumlah
sel awal
83

B. PEMBAHASAN
Percobaan dengan topik Potensial Osmotik dan Plasmolisis ini bertujuan untuk
menemukan fakta tentang gejala plasmolisis, menunjukkan faktor penyebab plasmolisis,
mendeskripsikan peristiwa plasmolisis, dan menunjukkan hubungan antara plasmolisis
6

dengan status potensial osmotik antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya.
Percobaan plasmolisis ini menggunakan preparat dari epidermis permukaan bawah daun
Rhoeo discolor atau Jadam, Md. Daun ini digunakan karena bagian bawah daunnya
mengandung sel yang penuh dengan warna ungu (anthosianin), sehingga dapat dengan
mudah diamati perubahan warna selnya di bawah mikroskop. Larutan yang digunakan
dalam percobaan kali ini adalah larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,14 M, 0,16 M, 0,18
M, 0,20 M, 0,22 M, 0,24 M dan 0,26 M. Perbedaan konsentrasi yang digunakan ini
dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi larutan sukrosa yang
digunakan dengan jumlah sel yang terplasmolisis.
Pada percobaan ini dilakukan pertama-tama dengan menyiapkan larutan sukrosa
dengan berbagai konsentrasi yang telah disebutkan di atas. Setelah itu membuat sayatan
epidermis bawah daun Rhoeo discolor (Jadam, Md), kemudian meletakkan sayatan pada
gelas benda lalu ditetesi air dan menutup dengan gelas penutupnya. Selanjutnya,
mengamati preparat tersebut di bawah mikroskop. Setelah itu menghitung jumlah sel
yang penuh dengan warna ungu (anthosianin) yang terdapat dalam bidang pengamatan.
Kemudian menetesi preparat tersebut dengan larutan sukrosa ke tepi gelas penutupnya
dan mengamati serta mencatat terjadinya perubahan sel-sel beranthosian tadi terus
menerus selama 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit. Langkah terakhir
menghitung sel-sel yang mengalami pemudaran warna anthosianin ungu menjadi
transparan.
Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa pada
pengamatan sayatan epidermis permukaan bawah daun Rhoeo discolor.
Perlakuan sukrosa 0,14 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,14 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna ungu
(antosianin) sebanyak 39. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,14 M. Pada 5
menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 7,6%. Pada 5 menit
kedua sel yang terplasmolisis sebesar 10,3%. Pada 5 menit ketiga sel yang terplasmolisis
sebesar 15,4%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis sebesar 17,9%.
Perlakuan sukrosa 0,16 M
7

Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,16 M sayatan epidermis permukaan bawah daun
Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna ungu
(antosianin) sebanyak 162. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,16 M. Pada
5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 19,7%. Pada 5
menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 37,6%. Pada 5 menit ketiga sel yang
terplasmolisis sebesar 55,55%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis
sebesar 55,55%.
Perlakuan sukrosa 0,18 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,18 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna
ungu(antosianin) sebanyak 29. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,18 M.
Pada 5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 41,4%. Pada
5 menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 58,6%. Pada 5 menit ketiga sel yang
terplasmolisis sebesar 72,4%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis
sebesar 79,3%.
Perlakuan sukrosa 0,20 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,20 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna
ungu(antosianin) sebanyak 33. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,20 M.
Pada 5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 30,3%. Pada
5 menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 51%. Pada 5 menit ketiga sel yang
terplasmolisis sebesar 63,6%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis
sebesar 75,7%.
Perlakuan sukrosa 0,22 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,22 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna
ungu(antosianin) sebanyak 35. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,22 M.
Pada 5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 2,8%. Pada 5
menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 14,3%. Pada 5 menit ketiga sel yang

terplasmolisis sebesar 25,7%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis
sebesar 25,7%.
Perlakuan sukrosa 0,24 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,24 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna
ungu(antosianin) sebanyak 140. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,24 M.
Pada 5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 0%. Pada 5
menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 2,8%. Pada 5 menit ketiga sel yang
terplasmolisis sebesar 5%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis sebesar
5%.
Perlakuan sukrosa 0,26 M
Sebelum diberi perlakuan sukrosa 0,26 M sayatan epidermis permukaan bawah
daun Rhoeo discolor diamati di bawah mikroskop dan teramati sel yang berwarna
ungu(antosianin) sebanyak 71. Kemudian setelah itu diberi perlakuan sukrosa 0,26 M.
Pada 5 menit pertama didapatkan hasil yaitu sel yang terplasmolisis sebesar 14,4%. Pada
5 menit kedua sel yang terplasmolisis sebesar 20,5%. Pada 5 menit ketiga sel yang
terplasmolisis sebesar 21,7%. Terakhir pada 5 menit keempat sel yang terplasmolisis
sebesar 22,9%.
Setelah melakukan percobaan dapat diketahui gejala yang terjadi pada peristiwa
plasmolisis. Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya plasmalemma atau membran plasma
dari dinding sel karena dehidrasi (sel kehilangan air). Setelah preparat dari sel epidermis
bawah daun Rhoeo discolor yang memiliki warna ungu (antosianin) ditetesi dengan
larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi terjadi perubahan pada sel tersebut yang
semula semua berwarna ungu berubah menjadi transparan. Peristiwa tersebut adalah
peristiwa plasmolisis. Sehingga gejala yang terjadi pada peristiwa plasmolisis adalah
perubahan yang terjadi pada sel yang berwarna ungu berubah menjadi transparan.
Pada percobaan ini dapat diketahui bahwa salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya plasmolisis adalah konsentrasi larutan. Berdasarkan percobaan yang dilakukan
ternyata dengan semakin besarnya konsentrasi larutan (0,14 M,, 0,16 M 0,18 M, 0,20 M,

0,22 M, 0,24 M, 0,26 M). Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam
larutan gula, maka arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air
larutan dengan nilainya didalam sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak
dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya,
artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada
kemungkinan bahwa volume sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat
mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan
terlepas dari dinding sel. Sel epidermis daun Rhoeo discolor yang dimasukan ke dalam
larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka
semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
Apabila dibandingkan menurut literatur ternyata hasil percobaan yang dilakukan
justru berbeda dengan literatur. Karena pada tabulasi data pada konsentrasi tertinggi
yaitu 0,26M sel yang terplasmolisis hanya 22,9% pada 5 menit keempat padahal pada
konsentrasi yang dibawahnya misalnya pada konsentrasi 0,18M sel yang terplasmolisis
sebesar 79,3% pada 5 menit keempat. Hal ini disebabkan karena perbedaan jumlah
tetesan larutan sukrosa yang diteteskan pada sel epidermis Rhoeo discolor dan ada
sebagian larutan sukrosa yang diteteskan tidak mengenai sel epidermis tersebut. Sel
epidermis yang diamati sangat kecil dan dan celah antara gelas penutup dan sel
epidermis sangatlah sempit, sehingga larutan sukrosa sulit mengenai sel epidermis.
Selain itu, kemungkinan terjadi kesalahan penghitungan jumlah sel yang terplasmolisis
karena sel-sel epidermis dari Rhoeo discolor sangat banyak dan letaknya saling
berdekatan satu sama lain.
Plasmolisis merupakan peristiwa lepasnya plasmalemma atau membrane plasma dari
dinding sel karena sel kehilangan air atau dehidrasi ketika sel ditempatkan di larutan
dengan konsentrasi tinggi atau hipertonis terhadap sel atau memiliki potensial osmotik
yang lebih tinggi. Pada saat sel ditempatkan di larutan yang hipertonis, maka air akan
keluar dari vakuola, sehingga membran sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari
dinding sel. Pada percobaan kali ini digunakan epidermis bawah daun Rhoeo discolor
yang memiliki pigmen warna ungu (antosianin), hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah proses pengamatan. Selain itu, juga digunakan larutan sukrosa berbagai
konsentrasi yang berperan sebagai larutan hipertonis terhadap sel.

10

Sebelum diteteskan larutan sukrosa, sel-sel yang bewarna ungu terlihat lebih banyak
dan jelas dibandingkan kloroplas yang berwarna hijau transparan. Hal ini terjadi karena
pada saat normal, pigmen antosianin berada pada vakuola tumbuhan yang cukup besar,
sedangkan kloroplas cenderung tersebar mengambang pada sitoplasma. Setelah
diteteskan larutan sukrosa dan didiamkan selama lebih kurang dua menit, terjadilah
keadaan yang bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya. Sel-sel berwarna ungu
terlihat lebih sedikit dan kloroplas lebih jelas terlihat. Hal ini terjadi karena pada saat sel
ditempatkan pada larutan yang hipertonis terhadapnya, maka air keluar dari vakuola
sehingga membran sitoplasma akan mengkerut begitu pula sitoplasma, dan secara
otomatis juga menciutkan ukuran vakuola. Sehingga pigmen antosianin di dalam vakuola
tidak terlalu jelas terlihat. Saat sitoplasma mengkerut, kloroplas yang tersebar di dalam
sitoplasma akan merapat sehingga bisa terlihat lebih jelas.

11

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa jika pada sel
epidermis daun Rhoeo discolor diteteskan larutan sukrosa yang memiliki konsentrasi
lebih tinggi atau hipertonis terhadap sel atau memiliki potensial osmotik yang lebih
tinggi, maka akan terjadi plasmolisis, yaitu merupakan peristiwa lepasnya plasmalemma
atau membrane plasma dari dinding sel karena sel kehilangan air atau dehidrasi.
Semakin tinggi konsentrasi larutan, tak banyak yang berbeda dari kenaikan jumlah
sel yang terplasmolisis tidak sebanding dengan jumlah konsentrasi sukrosa yang
diberikan. Hal itu terjadi karena banyak faktor diantaranya karena perbedaan jumlah
tetesan larutan sukrosa yang diteteskan pada sel epidermis Rhoeo discolor dan
dikarenakan sel epidermis yang diamati sangat kecil dan dan celah antara gelas penutup
dan sel epidermis sangatlah sempit, sehingga larutan sukrosa sulit mengenai sel
epidermis. Selain itu, kemungkinan terjadi kesalahan penghitungan jumlah sel yang
terplasmolisis karena sel-sel epidermis dari Rhoeo discolor sangat banyak dan letaknya
saling berdekatan satu sama lain.

B. SARAN
Dalam praktikum yang telah kami lakukan, kami sadar pastinya masih banyak cela
dan kekurangan. Agar praktikan dapat memperoleh hasil percobaan yang lebih baik lagi,
ada beberapa saran yang kami anjurkan antara lain:
1. Memastikan keakuratan dalam melakukan penghitungan jumlah sel epidermis yang
mengandung zat warna ungu (anthosianin).
2. Mengusahakan agar larutan sukrosa diteteskan tepat dekat dengan objek pengamatan
(dalam hal ini sel epidermis daun Rhoeo discolor) sehingga larutan sukrosa akan tepat
diserap oleh sel dan mudah teramati terjadinya plasmolisis.
3.

12

DAFTAR PUSTAKA
Buana, Eqi, dkk. 2011. Struktur dan Inti Sel Rhoeo Discolor saat Normal dan Plasmolisis.
Bogor : Regina
Salisbury Frank B & Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung. Penerbit
ITB
Tjitrosomo, Siti Sutami. 1987. Botani Umum 2. Bandung: Angkasa
Web:
Padmaningrum,R.T.2011.staff.uny.ac.id/..../Karakter_Ekstrak_Rhoeodiscolor
_Regina_Tutik_P.pdf. (diakses tanggal 27 september 2014 pukul
15:19 WIB)
http://www.5e.plantphys.net/chapter3 (diakses pada 23 September 19:09 WIB)

13

LAMPIRAN
Foto-foto
1. Larutan sukrosa 0,14 M
Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

2. Larutan sukrosa 0,16 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

14

5 menit keempat:

3. Larutan sukrosa 0,18 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

15

4. Larutan sukrosa 0,20 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

5. Larutan sukrosa 0,22 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:

16

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

6. Larutan sukrosa 0,24 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit kedua:

5 menit pertama:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

7. Larutan sukrosa 0,26 M


Sebelum ditetesi sukrosa:

5 menit pertama:
17

5 menit kedua:

5 menit ketiga:

5 menit keempat:

18