Anda di halaman 1dari 20

Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, yaitu bakteri

dan jamur, yang berkhasiat mematikan (bakterisid) atau menghambat pertumbuhan (bakteriostatik)
mikroorganisme lain serta toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Antibiotik dapat digolongkan dalam dua
aspek, yaitu berdasarkan struktur kimia dan spektrum kerjanya
Berdasarkan struktur kimia:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Golongan Penisilin Amoksisilin, Ampisilin


Golongan - lactam
Golongan Sefalosporin Sefileksin
Golongan Tetrasiklin Tetrasiklin, Tetrasiklin HCl, Klortetrasiklin HCl, Oksitetrasiklin HCl
Golongan Linkosamid Klindamisin
Golongan Kuinolon Siprofloksasin
Golongan Makrolida Eritromisin
Golongan Kloramfenikol Kloramfenikol, Kloramfenikol palmitat, Kloramfenikol sodium suksinat,

Tiamfenikol
8. Golongan Aminoglikosid Neomisin
Sedangkan, berdasarkan spektrumnya:
1. Spektrum luas efektif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Contoh : tetrasiklin,
kloramfenikol.
2. Spektrum sempit efektif terhadap bakteri gram positif atau gram negatif saja. Contoh : streptomisin
(Gram negatif).
Apabila antibiotik berada dalam suatu sediaan lakukan pemisahan melalui ekstraksi. Beberapa metode
ekstraksi antara lain :
1.

Ekstraksi padat-cair berdasarkan kelarutan zat dalam pelarut.


Prinsip: melarutkan zat uji dalam sampel padat (pengojokan kemudian disaring, sentrifugasi, atau
dekantasi) dengan pelarut yang dapat melarutkan zat dengan baik.

2. Ekstraksi cair-cair bergantung pada Kd dan rasio distribusi (D) zat uji dalam pelarut organik/air.
Beberapa jenis analisis pendahuluan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi antibiotik, antara lain :
1. Warna
a. Tidak berwarna Contoh : Penisilin, Eritromisin, Kloromisetin.
b. Larutan coklat merah Contoh : Rifampisin
2. Rasa rasa sangat pahit kloramfenikol
3. Bau bau khas Penisilin
4. Higroskopis Streptomisin, Kanamisin, dan Rifampisin
5. Kelarutan:
a. mudah larut dalam air : bentuk garam sulfat, kloridanya
b. tidak larut air : garam palmitat / stearat
Selanjutnya dapat dilakukan uji kualitatif:
1. Reaksi Warna
a. Zat uji direaksikan dengan 2 mL H2SO4 pekat kemudian dikocok, maka akan terbentuk:
Warna kuning: Streptomisin, Eritromisin, Oksitetrasiklin, Klortetrasiklin, Kloramfenikol
Warna jingga: Tetrasiklin
3

Warna kuning coklat: Penisilin


b. Zat uji direaksikan dengan Difenilamin 1% akan menghasilkan senyawa berwarna biru, yaitu
Kloramfenikol.
c. Zat uji direaksikan dengan H2SO4 pekat lalu ditambahkan resorcin, maka akan terbentuk:
Warna kuning hijau: Penisilin
Warna merah: Streptomisin
d. Zat uji direaksikan dengan 2 mL NaOH 40% dan dipanaskan kemudian dikocok dengan piridin,
maka akan terbentuk dua lapisan yaitu lapisan piridin berwarna merah dan lapisan air berwarna
kuning. Contohnya adalah Tetrasiklin, Oksitetrasiklin, dan Klortetrasiklin.
e. Zat uji direaksikan dengan FeCl3, maka akan terbentuk warna coklat muda pada Tetrasiklin,
Oksitetrasiklin, dan Klortetrasiklin.
f. Zat uji direaksikan dengan HCl lalu ditambahkan NaOH sampai netral, kemudian ditambahkan
FeCl3, maka akan terbentuk warna ungu, yaitu Streptomisin.
g. Zat uji direaksikan dengan HNO3 pekat, maka akan terbentuk:
Warna kuning coklat: Tetrasiklin
Warna kuning muda: Penisilin
Warna jingga: Tetrasiklin, Oksitetrasiklin, dan Klortetrasiklin
h. Zat uji direaksikan dengan H2SO4 dan NaNO2, maka akan menghasilkan larutan berwarna
jingga, yaitu Tetrasiklin, Oksitetrasiklin, dan Klortetrasiklin.
i. Zat uji direaksikan dengan vanilin dan H2SO4, maka akan terbentuk:
Warna ungu hijau: Tetrasiklin dan Klortetrasiklin
Warna merah hijau: Oksitetrasiklin
j. Zat uji direaksikan dengan 5 tetes tembaga nitrat kemudian dipanaskan, maka akan terbentuk:
Warna hijau kuning: Penisilin
Warna kuning muda: Streptomisin
Warna abu-abu coklat: Kloramfenikol dan Eritromisin
k. Zat uji direaksikan dengan Na nitroprussid, ferisianida, dan NaOH maka akan membentuk
larutan berwarna merah jingga, yaitu Streptomisin.
l. Zat uji diasamkan dengan HCl dan ditambahkan serbuk zink, kemudian dipanaskan selama 5
menit. Setelah itu, ditambahkan 2 tetes NaNO2 10% dan dikocok dengan

-naftol basa, maka

akan membentuk larutan berwarna merah, contohnya adalah Kloramfenikol.


2. Identifikasi Gugusan
a. Gugus Aromatis
Reaksi Marquis
Larutan zat + 1 ml formaldehid + H2SO4 (p) terbentuk cincin berwarna kuning-jingga-merah.
b. Gugus OH
Reaksi Diazo
Reagen: Diazo A = asam sulfanilat + HCl + NaOH, Diazo B = NaNO2 dalam air
Larutan zat + Diazo A:B (4:1) + NaOH panaskan merah frambors. Untuk membedakan
dengan fenol, bila di tambahkan amil alkohol warna merah akan tertarik.
c. Gugus Keton
Reaksi Legalrothera
Larutan zat + larutan Na-Nitroprussid + 1 gr NH4Cl atau (NH4)2SO4 + 2 ml NaOH ungu/biru
dan lama-lama warna hilang.
d. Gugus Karboksilat
4

Zat + KI + KIO3 + amilum warna biru


e. Membedakan amin primer, sekunder, dan tersier
Reaksi Rumini
5 ml Larutan zat uji + 2 ml larutan aseton 1% + beberapa tetes Na nitroprusid 5%. Warna ungu
muncul dan lama-kelamaan berubah menjadi merah amin primer
Warna biru muncul amin sekunder
f. Gugus Eter
Reaksi Weber
Reagen : 1% fluoroglusin dalam H2O/Hg + H2SO4
Zat + pereaksi + H2SO4 merah
g. Gugus Halogen
Pereaksi Beilstein
Kawat Cu dicelupkan ke HNO 3, kemudian dipijar sampai warna hijaunya hilang. Celupkan
kawat Cu ke dalam zat, kemudian dipijar kembali dan amati warna. Reaksi ini positif bila warna
pijarnya hijau.
3. Identifikasi Umum Golongan
a. Reaksi Vitalli Morin
5 mg zat uji + 0,5 ml HNO3(p), kemudian diuapkan di WB sampai kering dan dinginkan
berwarna kuning, dilarutkan dalam 5 ml aseton + 1 ml NaOH 0,1 N KOH-etanol warna
jingga coklat. Reaksi ini untuk identifikasi gugus N Heterosiklik, khususnya pada cincin laktam golongan Penisilin dan Sefalosporin.
b. Reaksi Benedict
Zat uji + 0,5 ml pereaksi Benedict, kemudian dipanaskan selama 3 menit merah bata. Reaksi
ini untuk identifikasi senyawa dengan 4 gugus OH pada cincin non aromatis, yaitu golongan
Tetrasiklin.
c. Rekasi Fehling
Zat uji direaksikan dengan pereaksi fehling A-fehling B (1:1) kemudian dipanaskan, maka akan
terbentuk larutan berwarna merah bata, yaitu golongan Tetrasiklin dan Aminoglikosida.
d. Reaksi Mollisch
2 ml larutan zat uji + pereaksi mollisch (5 tetes -naftol 3% dalam spiritus) + 2 ml H 2SO4
cincin ungu. Reaksi Identifikasi senyawa gula, yaitu pada golongan Aminoglikosida.
e. Reaksi Mayer
Pereaksi: 1 gr raksa klorida (HgCl2) + 4 gr KI.
Zat + pereaksi Mayer + HCl 2N kuning / lar. Kuning
Reaksi ini untuk identifikasi gugus N heterosiklik, yaitu pada golongan Linkosamid dan
Fluorokuinolon.
f. Reaksi Wassicky
Zat uji direaksikan dengan p-DAB dan H2SO4 pekat, maka akan terbentuk warna kuning muda
untuk Kloramfenikol dan Penisilin.
Tabel Analisis Sediaan Antibiotik
A. Golongan Penisilin
a.
Penisilin bau spesifik
b. Reaksi Warna:
5

Zat + H2SO4(p) + DFA 1% + Resorcin kuning hijau


Zat +5 tetes Cu(NH3) Nitras, panaskan hijau kuning
c.

Reaksi Iodazida
2 ml lar 0,003 N Iodium (3 ml 0,1 N I2 + 100 ml air) + beberapa tetes lar kanji + 100 mg Na azida
padat biru + 50 mg zat kocok warna hilang atau larutan menjadi jernih gelembung nitrogen
dari penisilin.

1) AMOKSISILIN
- Isolasi: Sejumlah isi kapsul yang mengandung setara
dengan 0,5 g amoksisilin, ditambah dengan 5 ml air.

Spektrofotometri UV
Zat dilarutkan di dalam asam encer dan diperiksa

Kemudian didapat filtrat dan residu. Residu yang

pada panjang gelombang 230 nm (A 11=225a), 272

didapat cuci dengan etanol 96% hingga didapat filtrat

nm (A11=26a); dalam basa encer dan diperiksa pada

dan residu. Lalu residunya dicuci dengan eter. Maka

panjang gelombang 247 nm (A11=286a), 291 nm

didapat filtrat dan residu. Residu yang didapatkan

(A11=62a).

dikeringkan pada tekanan tidak lebih dari 0,7 kPa


selama 1 jam. Residu ini yang akan digunakan untuk
identifikasi dengan TLC.
TLC
- Larutan standard: 4 mg/ml pada USP amoxicillin RS
dalam 0.1 N asam hidroklorat.
- Larutan sampel: ekuivalen dengan 4 mg/mL dari
amoksisilin serbuk kapsul dalam 0,1 N asam
Hidroklorat.
- Adsorbent: 0,25 mm lapisan kromatografi silika Gel
- Volume aplikasi: 5 mikroliter
- Sistem larutan pengembang: metanol, chloroform,

High

pyridine, air (9:8:1:3)


- Reagen penyemprot: 3 mg/mL dari ninhydrin dalam

(HPLC)
Pada metode ini dapat digunakan dua sistem.

alcohol
- Analisis sampel: Siapkan larutan sampel, larutan

Sistem pertama yaitu sistem HY yang menghasilkan

standar, dan kembangkan kromatogram. Pada saat

Gambar 2. Spektrum Serapan Amoksisilin


Performance

Liquid

Chromatography

indeks retensi (RI) 226. Sistem kedua yaitu sistem


HAA yang menghasilkan waktu retensi 3,1 menit.

pelarut depan telah bergerak sekitar dari panjang - Tipe: Kromatografi cair
lempeng, pindahkan lempeng dari chamber, tandai - Detektor: UV 230 nm

- Kolom: 4 mm x 25 cm; berisi bahan pengisi L1


- Volume injeksi: 10 l
selama 10 menit. Buatlah titik pada lempeng sambil - Laju alir: lebih kurang 1,5 ml/menit.
disemprot halus dengan reagen penyemprot dan - Faktor kapasitas (k): 1,1 - 2,8
- Efisiensi kolom: NLT 1700 lempeng teoritis
keringkan pada suhu 110C selama 15 menit.
- Kriteria penerimaan: nilai Rf untuk titik larutan - Faktor ikutan: NMT dari 2,5
- Simpangan baku relatif: NMT2,0%.
pelarut depan, dan keringkan dalam udara hangat

sampel harus sesuai dengan larutan standar.

Spektrofotometri Infra Merah (IR)


Zat didispersikan dalam kalium bromida P. Puncakpuncak spektrum yang utama terlihat pada bilangan
6

gelombang 1775, 1684, 1613, 1583, 1248, 1313


cm1.

Gambar 3. HPLC Kromatogram Amoksisilin

Gambar 1. Spektrum IR Amoksisilin


2) AMPISILIN
TLC

Spektrofotometri UV
Sampel dilarutkan di dalam asam encer dan diperiksa

a. Ampisilin Kapsul
- Larutan standar: 5 mg/ml USP Ampisilin RS serapannya pada panjang gelombang

257 nm

dalam campuran aseton dan 0,1 N asam (A11=9.2a), 262 nm, dan 268 nm.
hidroklorat (4:1)
- Larutan Sampel: 5 mg/ml ampisilin, dari serbuk
tablet dalam campuran aseton dan 0,1 N asam
hidroklorat (4:1)
- Adsorbent: 0,25 mm kromatografi lapisan yang
terbuat dari campuran silika gel.
- Volume aplikasi: 2 mikroliter
Gambar 6. Spektrum Serapan Ampisilin
- Sistem pelarut pengembang: aseton, toluen, asam High Performance Liquid Chromatography
asetat glasial, dan air (26:4:1:4)
(HPLC)
- Reagen penyemprot: 3 mg/ml ninhidrin dalam Pada metode ini dapat digunakan dua sistem. Sistem
alkohol
pertama yaitu sistem HY yang menghasilkan indeks
- Analisis sampel: Siapkan larutan sampel, larutan
retensi (RI) 226. Sistem kedua yaitu sistem HAA
standar, dan kembangkan kromatogram. Pada
yang menghasilkan waktu retensi 3,8 menit.
saat pelarut depan telah bergerak sekitar dari
- Fase Gerak: Asetonitril, air, kalium fosfat
panjang lempeng, pindahkan lempeng dari
monobasa 1M, asam asetat 1N (80:909:10:1)
Pengencer: Air, kalium fosfat monobasa 1M,
chamber, tandai pelarut depan, dan keringkan
dalam udara hangat selama 10 menit. Buatlah
titik pada lempeng sambil disemprot halus
dengan reagen penyemprot dan keringkan pada
suhu 90C selama 15 menit.
- Kriteria penerimaan: nilai Rf titik larutan sampel
harus sesuai dengan larutan standar.
b. Ampisilin Tablet

asam asetat 1N (989:10:1)


Tipe: Kromatografi cair (LC)
Detektor: UV 254 nm
Kolom: 4 mm x 30 cm;berisi bahan pengisi L1

dengan ukuran partikel 5-10 m


Pre-kolom: 4 mm x 5 cm; 5-10m L1
Laju alir: 2 ml/menit
Volume injeksi: 2l
7

- Identifikasi: Serbukkan satu atau lebih tablet


ampisilin, buat larutan yang mengandung 5 mg

Tailing factor: NMT 1,4


Faktor kapasitas (k): NMT 2,5
Standar deviasi relatif: NMT 2,0%

per ml dalam campuran pelarut aseton P-asam


klorida 0,1 N (4:1); lakukan uji identifikasi
seperti tertera pada Kapsul Ampisilin.
Spektrofotometri Infra Merah (IR)
Zat didispersikan dalam kalium bromida P. Puncakpuncak spektrum yang utama terlihat pada bilangan
gelombang 1775, 1693, 1526, 1308, 1497, 1583
cm1 .
Gambar 7. HPLC Kromatogram Amoksisilin
dan Ampisilin

Gambar 5. Spektrum IR Ampisilin

Perbedaan Amoksisilin dan Ampisilin


Perbedaan

Amoksisilin

Ampisilin

Rumus Bangun

Reaksi Diazo
Waktu Retensi
Fluoresensi

(+) positif
3,1 menit
(-) Gelap

3) ASAM KLAVULANAT
Spektrofotometri UV

(-) negative
3,8 menit
(+) Terang
-

Larutan uji: Encerkan secara kuantitatif


sejumlah volume Amoksisilin dan Kalium
Klavulanat untuk Suspensi Oral yang diukur
saksama, yang dikonstitusi seperti tertera pada
etiket, dengan air hingga kadar amoksisilin
lebih kurang 0,5 mg per ml. Aduk dengan
pengaduk mekanik selama 10 menit dan

Gambar 9. Spektrum Serapan Amoksisilin dan

saring. Gunakan filtrat sebagai Larutan uji

Asam Klavulanat
8

High

Performance

Liquid

Chromatography

(HPLC)
Definisi: Amoksisilin dan Kalium Klavulanat
untuk Suspensi Oral mengandung amoksisilin,

dalam

tertera pada etiket, dan mengandung asam


klavulanat, C8H9NO5, setara dengan tidak
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 125,0%
dari

jumlah

yang

tertera

pada

etiket.

dan bahan pensuspensi.


Fase gerak: campuran dapar natrium fosfat pH

4,4 dan metanol P (95:5)


Larutan baku: Timbang saksama sejumlah

jam

setelah

suspensi

diencerkan.
Tipe: Kromatograf cair (LC)
Detektor: UV 220 nm
Kolom: 4 mm x 30 cm; berisi bahan pengisi

L1 dengan ukuran partikel 3-10 m


Laju alir: lebih kurang 2 ml per menit.
Resolusi(R): NLT dari 3,5 antara puncak

amoksisilin dan asam klavulanat


Efisiensi kolom: NLT 550 lempeng teoritis

untuk masing-masing puncak analit


Tailing factor: NMT 1,5 untuk masing-masing

puncak analit
Simpangan baku relatif: NMT 2,0%.

Mengandung satu atau lebih dapar, pewarna,


penambah rasa, pengawet, penstabil, pemanis

C16H19N3O5S, setara dengan tidak kurang dari


90,0% dan tidak lebih dari 120,0% dari yang

waktu

Amoksisilin BPFI dan Litium Klavulanat BPFI


larutkan dalam air hingga diperoleh kadar
berturut-turut lebih kurang 0,5 dan 0,2 mg per
ml.

B.

Gambar10. HPLC Kromatogram Asam Klavulanat


dan Amoksisilin

GOLONGAN TETRASIKLIN
1) TETRASIKLIN
Rumini (+)
Cuprifil (+)

Marquis (+)

Diazo (+) Fenol

Legalrothera (+)

Kromatografi Lapis Tipis


Sistem TA-Rf 05
- Pelat: Silika Gel G, tebal 250 m, direndam atau

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


- Sistem HX-RI 314; Sistem HY-RI 265; Sistem
HAA-Waktu retensi 9,9 menit. (Clarke's Analysis of

disemprot dengan 0,1M KOH dalam metanol, dan

Drugs and Poisons, 2005)


dikeringkan.
- System HX
- Fase Gerak: Metanol:Larutan ammoniak kuat
Kolom: Lichrospher 60 RP-Select B (125 4.0 mm
(100:1,5)
9

Sistem TB-Rf 00
- Pelat: Silika Gel G, tebal 250 m, direndam atau
disemprot dengan 0,1M KOH dalam metanol, dan
dikeringkan.
Fase Gerak: Sikloheksan - Toluen - Dietilamin
(75:15:10)
Sistem TAE-Rf 88
- Pelat: Silika Gel G, tebal 250 m.
- Fase Gerak: Metanol
Dilihat di bawah sinar ultraviolet, memberikan
fluoresensi orange; Diasamkan dengan larutan
kalsium permanganat, memberikan hasil positif.
(Clarke's Analysis of Drugs and Poisons, 2005)
Kromatografi Gas
Berdasarkan TIAFT Book (de Zeeuw 2002):
- Kolom: 3% SE-30 atau OV-1 pada 80 hingga 100
mesh Chromosorb G HP (Dicuci dengan asam

i.d., 5 m) dengan pre-column Lichrospher 60 RPSelect B (4 4.0 mm i.d., 5 m).


Fase Gerak: (A:B) triethylammonium phosphate
buffer (25 mM, pH 3.0) - acetonitrile.
Elusi: (A:B) (100:0) to (30:70) selama 30 menit,
tahan 10 menit, kembali ke kondisi semula dalam 3
menit dengan equilibrasi selama 10 menit sebelum
injeksi selanjutnya.
Laju alir : 1 mL/menit
Detektor: UV diode-array
- Sistem HY
Kolom: C18 Symmetry (250 x 4.6 mm i.d., 5 m)
Suhu Kolom: 40C
Fase Gerak : Terdiri dari 2 campuran larutan, yaitu
0.5 mL Asam Sulfat 2.5M dalam air 500 mL dan 0,5
mL Asam Sulfat 2.5M dalam asetonitril 500 mL
Detektor: UV diode-array

dan dimethyldichlorosilane treated), 2m x 2 mm - Sistem HAA


i.d.glass column; Sangat penting bahwa support-

Kolom: C8 Symmetry (250 4.6 mm i.d., 5 m)

nya dimatikan.

dengan Symmetry C18 pre-column (20 mm).

- Temperatur kolom: Normalnya antara 100o dan

Suhu Kolom: 30C

300o; Untuk kondisi isotermal, panduan untuk

Fase Gerak : (A:B) yaitu Buffer Fosfat (pH 3.8) :

temperaturnya kira-kira adalah menggunakan

Asetonitril

RI:10.

Laju alir

: 1 mL/menit untuk 6.5 menit,

- Gas pembawa: Nitrogen 45 ml/menit.

kemudian meningkat secara linier pada 1.5 mL

- Kolom kapiler: 10 hingga 15m x 0,32 atau 0,53

untuk 6,5 hingga 25 menit dan diamkan selama 3

mm, 100%-dimethyl-PSX (X-1)dengan tebal film

menit (setimbangkan kembali dengan membuat laju

1,5 hingga 3 m.

alir pada 1.5 mL/menit)

- Gas pembawa: Helium.

Detektor: UV diode-array

- Temperatur programme: 4 menit pada 135o, Spektrum IR (Infra Red)


13o/menit hingga 200o, 6o/menit hingga 312o, 6 Puncak-puncak spektrum yang utama nampak pada
menit terakhir ditahan.

bilangan gelombang 1612, 1580, 1660, 1226, 1248,

1530 cm1.(Clarke's Analysis of Drugs and Poisons,


Spektrum UV
Dalam asam encer, spektrum puncak tampak pada 2005)
270 nm (A11=417a), dan 356 nm. (Clarke's Analysis
of Drugs and Poisons, 2005)
10

Gambar 11. Spektrum UV Tetrasiklin


Gambar 12. Spektrum Infra Red Tetrasiklin
2) TETRASIKLIN HCL
Legalrothera
(+)
Marquis
(+)

Cuprifil
(+)

.HCL
Diazo (+)
Fenol

Beilstein (+)

Rumini
(+)

Spektrofotometri UV

- Larutan Uji : Larutkan 5 mg bahan ke dalam 10 ml

Menurut USP 32:

metanol.
- Lempeng

: TLC octadecylsilyl silica gel


- Panjang Gelombang Analisis: 380 nm
- Larutan Sampel : 20 g/mL
F254plate R.
- Medium
: 0,25 N NaOH
- Fase Gerak: Campur 20 bagian Asetonitril, 20
- Standar
: USP Tetracycline Hydrochloride RS
bagian Metanol, dan 60 bagian dari suatu larutan
Sperktrofotometri Infra Red
63 g/L Asam Oksalat yang sebelumnya diatur
Menurut FI IV:
Spektrum serapan inframerah zat yang telah
memiliki pH 2 dengan larutan Ammonia kuat.
Penggunaan: 1 l.
didispersikan dalam KBr P menunjukkan maksimum
- Lama Pengembangan/Elusi: Lebih dari lempeng
hanya pada panjang gelombang yang sama seperti
- Pengeringan: di udara (angin-anginkan)
Tetrasiklin Hidroklorida BPFI.
- Deteksi: Periksa di bawah sinar UV 254 nm
Kromatografi Lapis Tipis
- System suitability: Kromatogram yang diperoleh
Menurut BP 2007:
dari Larutan Standar (b) memperlihatkan 3 spot
- Larutan Standar:
yang jelas.
(a)Larutkan 5 mg Tetracycline Hydrochloride CRS
- Hasil: Spot di kromatogram, yang diperoleh dari
dalam 10 ml metanol.
Larutan Uji memiliki posisi dan ukuran yang mirip
(b)Larutkan 5 mg Tetracycline Hydrochloride CRS,
dengan spot yang diperoleh dari Larutan Standar (a
5 mg Demeclocycline Hydrochloride, dan 5 mg
Oxytetracycline Hydrochloride dalam 10 ml
metanol.

11

Perbedaan Tetrasiklin dan Tetrasiklin HCl


Pada Kelarutannya
Tetrasiklin

: Larut 1 bagian dalam 2500 bagian air.

Tetrasiklin HCl

: Larut dalam 10 bagian air. Larutan dalam air jika dibiarkan menjadi keruh karena

pengendapan tetrasiklin
Uji Reaksi Klorida
Tetrasiklin menunjukkan hasil negatif
Tetrasiklin HCl meunjukkan hasil positif
3) OKSITETRASIKLIN HCL

Uji Reaksi Warna


1. 1 ml larutan 0,5% b/v + 2 tetes campuran
Larutan FeCl3-Etanol (95%) (1:9) coklat tua
2. 1 mg zat + 2 ml H2SO4 P merah cerah, jika
+1 ml air coklat tua keemasan.
3. 2 mg dalam 5 ml larutan Natrium Karbonat P
1,0% b/v + 2 ml Larutan Asam
Diazobenzensulfonat P merah jingga intensif
Gambar 14. Spektrum IR Oksitetrasiklin HCL
yang mantap.
4. Menunjukkan reaksi Klorida yang positif.
KCKT
Spektrum Ultraviolet
1. System HX - RI 299
Dalam HCl 0,1 N puncak maks pada 268 nm dan Kolom : Lichrospher 60 RP-Select B

353 nm.
Larutan 0,001% b/v dalam HCl 0,01 N pada 268
nm adalah 0,37 sampai 0,40; dan pada 353 nm

adalah 0,27 sampai 0,29.


Suasana Asam268 nm (A11=400a), 352 nm;
Suasana Basa246, 269 nm.

(125 4.0 mm i.d., 5 m) dengan pre-column


Lichrospher 60 RP-Select B (4 4.0 mm i.d.,
5 m).
Fase Gerak : (A:B) triethylammonium phosphate
buffer (25 mM, pH 3.0):acetonitrile.
Elusi : (A:B) (100:0) to (30:70) selama 30 menit,
tahan 10 menit, kembali ke kondisi semula dalam 3
menit dengan equilibrasi selama 10 menit sebelum

Gambar 13. Spektrum UV oksitetrasiklin HCL

injeksi selanjutnya.
Laju alir : 1 mL/menit.
Detektor : UV diode-array.
2. System HY - RI 260
Kolom : C18 Symmetry (250 x 4.6 mm i.d., 5 m)
Suhu Kolom : 40C.
12

Spektrum IR

Fase Gerak : 0.5 mL Asam Sulfat 2.5M dalam air

Puncak pada bilangan gelombang 1616, 1584, 1665,

500 mL dan 0,5 mL Asam Sulfat 2.5M dalam

1235, 1180, 1138 cm1

asetonitril 500 mL
Detektor : UV diode-array

4) KLORTETRASIKLIN HCl
Spektrum UV

Spektrum IR

10 ml larutan 0,001% b/v dalam H2SO4 1N dalam

Puncak utama pada 1622, 1580, 1666, 1311, 1041,

tabung imersikan dalam air mendidih 8 menit

1227 cm1. Dapat muncul polimorfisme.

dinginkan, ganti air yang hilang karena penguapan;

KCKT

Serapan pada 274 nm = 0,74 - 0,76. (FI III)

System HYRI 280 and 282

Suasana asam266 nm (A11=386a), 359 nm;

Sistem HY (Clarke's):

Suasana basa253, 284, 346 nm. (Clarke's)

Kolom : C18 Symmetry (250 x 4.6 mm i.d., 5 m)


Suhu Kolom : 40C.
Fase Gerak : 0.5 mL Asam Sulfat 2.5M dalam air
500 mL dan 0,5 mL Asam Sulfat 2.5M dalam
asetonitril 500 mL
Detektor : UV diode-array

Gambar15. Spektrum UV klortetrasiklin

4.

Golongan Linkosamid KLINDAMISIN

13

KLT
Sistem TARf 72;

Sistem TBRf 00;

Sistem TERf 28;

Sistem TAERf 81

KCKT
Sistem HXRI 354;
Sistem HYRI 291;
Sistem HAAretention time, 12.0 min.

Spektrofotometri UV
Tidak ada absorpsi yang signifikan pada 230-360 nm.

Gambar 16. Spektrum UV Klindamisin


Spektrofotometri IR

Rotasi Jenis
Larutkan 1 gram Klindamisin dalam aquadest dan
encerkan hingga 25,0 ml dengan pelarut yang sama
(aquadest). Akan didapatkan hasil +130o sampai
+150o, diukur dengan perbandingan zat anhidrat.
Gambar 17. Spektrum Inframerah klindamisin
Terdapat puncak pada bilangan gelombang A. 1690
cm-1(C=O), B. 1513 cm-1 (N-H), C. 1250 cm-1 (C-N),
D. 1080 cm-1 (C-O eter), E. 640 cm-1 (C-Cl)
5.

Golongan Makrolida Azitromisin

14

(+)
Heinsberg

(+)
Legalrothera

(+) Diazo,
Cuprifil

2 ml larutan azitromisin + 2 ml H2SO4

lalu Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


Detektor: UV 210 nm
dikocok sehingga warna menjadi kuning.
Kolom : 4,6 mm x 15 cm yang berisi bahan pengisi
- 2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO 3)2 ammoniakal,
L1 dengan ukuran partikel 5 mikrometer.
lalu dibiarkan 5 menit, kemudian dipanaskan,
Fase Gerak : campuran asetonitril P-Larutan dapar
dan warna menjadi abu-abu coklat.
fosfat (6:4)
Spektrum IR
Laju alir : lebih kurang 0,9 ml per menit.
Baku pembanding yang digunakan ialah Suhu Kolom: 30o
Waktu Retensi: lebih kurang 1 menit.
azitromisin BPFI; biarkan hingga suhu
kamar sebelum ampul dibuka. Higroskopik.
Setelah dibuka, timbang segera dan buang
sisa. Kecuali dinyatakan lain, tidak boleh
dikeringkan sebelum digunakan.

Gambar19 . Kromatogram HPLC Azitromisin

Gambar18 . Spektrum IR Azitromisin


Keterangan:

6.

1721 cm1

: Karbonil (Ester)

1188 cm1

: Eter

1052 cm1

: C-OH

GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA
1) Streptomisin Sulfat

15

Isolasi Streptomisin Sulfat


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Timbang saksama sejumlah zat uji kemudian
Kolom: Supelcosil ABZ alkylamide column (250
larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar yang
mm 4.6 mm, 5 m)
diinginkan. Jika dikemas dalam dosis tunggal,
Suhu Kolom: 45o
konstitusi zat uji dalam air untuk injeksi yang diukur
Detektor : UV 205 nm
saksama hingga volume yang tertera pada etiket.
Fase Gerak: Larutan Na Sulfat, disodium-1Identifikasi
1. Reaksi Spesifik
octanesulfat, asetonitril, dapar fosfat dalam air.
Pereaksi Fe: Larutkan 5 g FeCl3 dalam 50 ml HCl Laju Alir: 1,0 ml/min
0,1 N. Pipet 2,5 ml lalu masukkan ke dalam labu Injeksi : 20 l
tentukur 100 ml. Encerkan dengan HCl 0,01 N
sampai tanda.
Larutkan zat uji ke dalam air hingga mengandung 1
mg per ml. Ke dalam 5 ml larutan ini tambahkan 2
ml NaOH 1N dan panaskan dalam tangas air selama
10 menit. Dinginkan dalam air es selama 3 menit,
tambahkan 2 ml HCl 1,2 N, campur dan tambahkan
5 ml pereaksi Fe violet.
- Larutkan 0,1 g zat ke dalam 2 ml air. Tambahkan 1

Gambar 20. Kromatogram Hasil KCKT Streptomisin


Sulfat

ml larutan -naftol dan 2 ml campuran larutan


NaClO dengan air (1:1) merah.
- Larutkan 10 mg zat ke dalam 5 ml air dan
tambahkan 1 ml HCl 1M. Panaskan di waterbath
selama 2 menit. Tambahkan 2 ml larutan -naftol
dalam NaOH 1M. Panaskan di water bath selama 1
menit kuning.
2) Dihidrostreptomisin Sulfat

16

Reaksi Spesifik

Spektrofotometri Inframerah

4 mg zat dimasukkan dalam 2 ml air, tambahkan 0,5


ml HCl 0,1 N, panaskan dalam tangas air selama 20
menit. Angkat tabung dari tangas, tambahkan 1,0 ml
larutan -naftol dalam NaOH 1 N (1 dalam 200).
Panaskan lagi selama 10 menit, dinginkan sebentar
dalam tangas es dan tambahkan air hingga 25 ml
merah.
Kromatografi Lapis Tipis

Gambar21. Spektrum Serapan Inframerah

- Larutan uji: 10 mg serbuk dilarutkan dalam 10 ml

Dihidrostreptomisin Sulfat

pelarut
- Larutan baku: Larutkan dihydrostreptomycin sulfate
dalam 5 ml air
- Fase diam: silica gel
- Fase gerak: 70 g/L larutan potassium dihydrogen

Kromatografi Cair

phosphate
- Volume totolan: 10 l
- Jarak elusi: 2/3 pelat
- Deteksi: semprot menggunakan 2 g/L larutan 1,3dihydroxynaphthalene dalam ethanol 96 % dan 460
g/L larutan asam sulfat; kemudian dipanaskan pada
150 selama 5-10 menit
- Hasil: Larutan uji mempunyai spot dengan posisi ,
warna dan ukuran yang sesuai dengan larutan baku.

Gambar22. Kromatogram
Dihidrostreptomisin Sulfat

Perbedaan Streptomisin dan Dihidrosreptomisin

200 mg zat + metanol 2 ml + 0.1 ml H 2SO4. Panaskan sebentar. Streptomisin akan mengendap pada suhu
kamar. Filtrat + asam pikrat Kristal dengan titik leleh 283oC

Reaksi Benedict : Lar zat + NaOH + FeCl3


Violet tua Streptomisin

Ungu muda Dihidrostreptomisin


3) KANAMISIN SULFAT
17

Reaksi Spesifik

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

Larutkan lebih kurang 10 mg zat dalam 1 ml air, + 1


ml lar ninhidrin P (1 dalam 500) dalam n-butanol
dan 0.5 ml piridina. Panaskan di atas WB selama 5
menit dan + 10 ml air, terjadi warna lembayung
(ungu) tua.

System Agilent 1200 Series SL, binary pump


Fase gerak: 95% 0.2 mol/L TFA water, 5%

methanol
Lajur alir 0.8 mL/menit
Volume injeksi: 20 L
Kolom ZORBAX StableBond SB-C18, 4.6 mm
150 mm, m, Agilent p/n 866953-902

Kromatografi Lapis Tipis


Syarat hasil: harga RF bercak utama Larutan uji
sesuai dengan harga RF bercak utama Larutan baku
dan jika terdapat bercak lain selain bercak utama
pada Larutan uji tidak lebih intensif dari bercak
utama Enceran larutan baku
Spektrum Inframerah

Gambar 24. Analisis Kanamisin sulfat pada Agilent


ZORBAX StableBond C18, 4.6 mm 150 mm, 3.5
m, column.

Gambar 23. Spektrum Inframerah Kanamisin Sulfat


4) Neomisin Sulfat

Reaksi Spesifik
Larutkan lebih kurang 10 mg dalam 1 ml air + 5
ml H2SO4 15 N dan panaskan pada suhu 100 oC

Fase gerak: 170 mM TFA dalam air


Gradient: isocratic
Lajur alir: 0.7 ml/min
Suhu: 30 C
18

Volume: 50 l
Detection: ELSD, 50 C, 4 bar nitrogen
Senyawa: Neomycin sulphate B, Neomycin

xilena + 10 ml p-bromoanilina. Kocok terjadi

sulphate C
Kromatogram:

warna merah muda terang setelah dibiarkan.

acidic sample solution

selama 100 menit, biarkan dingin, + 10 ml


xilena, kocok selama 10 menit. Biarkan memisah
dan enaptuangkan lapisan xilena, pada lapisan

Lar 5 mg zat dalam 1 ml air + 1 ml lar ninhidrin

(ointment)

0.2% b/v dalam butanol + 0.5 ml piridina,

1 Imp. 1

panaskan

akan

2 Imp. 2

menghasikan warna ungu. Biarkan selama 10

3 Imp. 3

menit, terpisah menjadi 2 lapisan, lapisan bawah

4 Neomycin sulphate C

berwarna merah kekuningan.

5 Neomycin sulphate B

di

WB

selama

menit

Kromatografi Lapis Tipis


- Totolkan secara terpisah masing-masing 1 l
larutan yang mengandung (1) zat uji 20 mg per
ml dan (2) Neomisin Sulfat BPFI 20 mg per ml
pada

lempeng

masukkan

kromatografi

lempeng

ke

silika

dalam

gel,
bejana

Gambar25. Analisis Neomisin Sulfat

kromatografi berisi fase gerak campuran air-

menggunakan KCKT
amonium hidroksida P-aseton P (71,5:8,5:20) Spektrum Inframerah
yang dibuat segar dan biarkan merambat sampai
lebih kurang tiga per empat tinggi lempeng.
- Angkat lempeng, biarkan kering di udara dan
panaskan pada suhu 105 selama 1 jam.
Semprot lempeng dengan larutan ninhidrin P
dalam butanol P (1 dalam 100), panaskan pada
suhu 105O selama 5 menit.
- Amati kromatogram: harga Rf

bercak merah

utama yang diperoleh dari Larutan uji sesuai

Gambar 26. Spektrum Inframerah Neomisin Sulfat.

dengan yang diperoleh dari Larutan baku.


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
- Kolom: ProntoSil 120-5 C18 AQ, 250 x 4.0 mm

7.

ID Order No. 25WF184PSJ


- Fase: ProntoSil 120-5 C18 AQ
KLORAMFENIKOL
1) KLORAMFENIKOL

19

Spektrum IR

Gambar 27. Spektrum IR Kloramfenikol


Spektrum serapan inframerah zat yang
didispersikan dalam KBr menunjukan
bilangan gelombang sebagai berikut:
600 800 cm-1 Cl
800 850 Subsitusi para
3100 3500 cm-1

1550 1640 cm-1


1640 1810 cm-1 C=O (Keton)
1000 1260 m-1 C-OH (Alkohol)
- 1500 1650 cm-1 NO2 (Nitro
Identifikasi dengan KCKT
Mode
: LC
Detektor
: UV 280 nm
Kolom
: 4,6 mm x 10 cm
Laju alir
: 1 mL/menit
Volume injeksi
: 10l
Efisiensi kolom
: NLT 1800 plat
Faktor ikutan
:2
Standar deviasi relatif
:1%

2) KLORAMFENIKOL PALMITAT

Reaksi Warna
Identifikasi dengan KCKT
Larutkan 0,2 g zat dalam 2 ml piridin, tambahkan 2
- Fase gerak : metanol asam asetat glasial dan
ml dari 100 g/l larutan potassium hydroxide, dan
air (127:1:27)
panaskan dalam water bath warna merah
- Mode
: LC
Spektrum UV
- Detektor
: UV 280 nm
Dalam air 278 nm (A11=298a). Kloramfenikol
Palmitat Alkohol 271 nm (A11=178a).

Kolom

: 3,9 mm X 30 cm

Laju alir

: 2 mL/menit

Volume injeksi : 10L

Efisiensi kolom : NLT 2400 plat

Kriteria penerimaan

: 90-120%

Spektrum IR
20

Gambar 28. Spektrum UV Kloramfenikol Palmitat

Gambar 29. Spektrum IR Kloramfenikol


Palmitat

3) Kloramfenikol Sodium Suksinat

Reaksi Warna
Spektrum UV
- Larutkan 10 mg zat dalam 1 ml etanol + 3 ml Deteksi menggunakan Spektrofotometer UV dengan

dari 10 g/l larutan calcium chloride R dan 50 panjang gelombang 254 nm.
Identifikasi dengan KCKT
mg serbuk Zn panaskan water-bath selama 10
Fase gerak
: metanol dan 0,05 M
menit. Saring larutan dan dinginkan.
monobasic ammonium phosphate dengan 10%
Tambahkan 0.1 ml benzoyl chloride R dan
asam phosphoric hingga ph 2,50,1 (2:3)
kocok selama 1 menit, + 0.5 ml larutan ferric
Mode : LC
Detektor
: UV 275 nm
chloride dan 2 ml chloroform R dan kocok.
Kolom : 4,6 mm X 10 cm
Laju alir: 1 mL/menit
lapisan atas berwarna merah violet dan ungu.
Volume injeksi : 10 L
Larutkan 50 mg dalam 1 ml piridin, tambahkan
Efisiensi kolom : NLT 1750 plat teoritis
0.5 ml larutan sodium hydroxide dan 1,5 air.
Faktor ikutan : NMT 1,2
Standar deviasi relatif: NMT 2 %
Panaskan dalam water bath selama 3 menit
warna merah. Tambahkan 2 ml asam nitrat dan
dinginkan dengan air mengalir. Tambahkan 1 ml
0.1 M silver nitrate Terbentuk presipitat

putih.
KLT
Dengan menggunakan silika gel GF254 plate R.
Fase gerak: dilute acetic acid R, metanol R,
kloroform R (1:14:85 v/v/v).
21

4) Tiamfenikol
Reaksi Warna
Spektrum IR
Zat ditambah H2O2 30 % dan 1 tetes FeCl30,5N,
Lakukan identifikasi dengan Spektrofotometri UV
lalu tambahkan HNO3 dan larutan BaCl2 0,5N akan
pada panjang gelombang 254 nm.
menghasilkan endapan BaSO4 bewarna putih
KLT
Menggunakan fase diam silika gel GF 254. Fase
8.

gerak: methanol R, ethyl acetate R (3:97 v/v).


Golongan Sefalosporin
Sefiksin

ISOLASI
1. Tablet siprofloxacin digerus hingga halus.
2. Timbang tablet yang telah digerus, setelah itu larutkan kedalam metanol.
3. Kocok larutan tersebut dan kemudian disaring.
4. Uapkan di waterbath hingga kering.
5. Serbuk siap diidentifikasi.
Kromatografi Lapis Tipis
Plate: silika gel with (2.5 10 cm)
Fase Gerak: ethylacetat-acetone-methanol-water (5:2.5:2.5:1.5).
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Sistem HAA
-

Kolom : C8 Symmetry (250 4.6 mm i.d., 5 m) dengan Symmetry C18 pre-column (20 mm).
Suhu Kolom
: 30C
Fase Gerak
: (A:B) = Buffer Fosfat (pH 3.8) : Asetonitril
Laju alir : 1 mL/menit untuk 6.5 menit, kemudian meningkat secara linier pada 1.5 mL untuk 6,5
hingga 25 menit dan diamkan selama 3 menit (setimbangkan kembali dengan membuat laju alir

pada1,5 mL/menit)
Detektor : UV diode-array
Waktu Retensi : 4,8 menit

22