Anda di halaman 1dari 30

SKENARIO

PERAWATAN PERIODONTAL FASE I


Seorang ibu muda berusia 28 tahun sangat khawatir karena gusinya sering
berdarah saat menggosok gigi sejak 1 bulan yang lalu. Oleh karena itu, dia datang
ke Klinik Periodonsia RSGM UNEJ. Pada pemeriksaan intra oral terlihat plak dan
kalkulus subgingiva pada anterior rahang bawah yang berdesakan. Pasien
didiagnosis menderita gingivitis kronis dengan etiologi utama plak. Keberadaan
kalkulus dan gigi malposisi dinyatakan sebagai factor predisposisi/etiologi
sekunder. Dokter menjelaskan rencana perawatan pada pasien tersebut adalah
DHE, scaling dan root planing sebagai perawatan periodontal fase I (etiotropik)
serta kontrol periodik (fase pemeliharaan).

STEP 1
IDENTIFIKASI KATA SULIT
1. Perawatan periodontal fase I (etiotropik)
Fase inisial (non-bedah), merupakan proses menghilangkan etiologi tanpa
pembedahan.
2. Scaling
Bagian dari fase etiotropik, menghilangkan plak dan kalkulus di
permukaan gigi, baik supra mauupun subgingiva.
3. Fase pemeliharaan
Fase yang selalu mengikuti fase-fase perawatan periodontal. Merupakan
program kunjungan periodic untuk mencegah kekambuhan penyakit
periodontal dan mempertahankan kesehatan jaringan periodontal setelah
perwatan.
4. Root planing
Suatu proses menghilangkan deposit atau sisa-sisa kalkulus pada akar dan
sementum serta menghaluskan permukaan akar gigi dan mencegah infeksi
sekunder. Ada bagian permukaan akar (jaringan nekrotik) yang ikut diangkat
saat dilakukan root planing.
5. DHE
1

Usaha mengubah sikap, pengetahuan, dan tindakan kesehatan gigi untuk


mendapatkan keadaan rongga mulut yang sehat. Bersifat persuasif dan sugesti.
Contoh : pengajaran dan mendemonstrasikan cara merawat gigi.

STEP 2
PERMASALAHAN
1. Apa hubungan gigi yang berdesakan dengan gingivitis?
2. Apakah perlu merawat gigi yang malposisi?
3. Apa indikasi dan pertimbangan dokter gigi sebelum melakukan perawatan
4.
5.
6.
7.

periodontal fase I?
Apa saja macam-macam perawatan periodontal fase I?
Mengapa setelah perawatan fase I harus dilakukan fase pemeliharaan?
Apa saja yang dilakukan dokter gigi dalam kontrol periodik?
Bagaimana prognosa kasus pada skenario?

STEP 3
ANALISIS MASALAH
1. Gigi berdesakan adalah keadaan gigi dengan posisi yang tidak beraturan
sehingga ada beberapa keadaan yang menyebabkan makanan mudah menyelip
dan sulit dibersihkan sehingga mudah terbentuk plak dan kalkulus pada darah
gigi yang bersangkutan. Dalam kalkulus terdapat bakteri, pada kalkulus
subgingiva misalnya, bakteri dalam sulkus menghasilkan endotoksin.
Endotoksin dari bakteri dapat merusak epitel dan jaringan kolagen sehingga
merangsang respon vaskuler yang menyebabkan gingival bengkak dan merah,
akhirnya dapat dideteksi sebagai inflamasi (gingivitis. Oral hygiene yang
buruk dari pasien juga mempertinggi pembentukan plak dan kalkulus.
2. Dalam perawatan periodontal fase I perlu merawat gigi yang malposisi sesuai
dengan keparahan malposisi (keadaan berdesakan) dalam rongga mulut pasien
karena perawatan fase I merupakan perawatan untuk menghilangkan etiologi.
3. Pertimbangan dokter gigi sebelum melakukan perawatan periodontal fase I :
2

- Harus mengetahui posisi dan luas area yang terdapat kalkulus


- Adanya abses pada pasien (menentukan kebutuhan medikasi)
- Adanya penyakit sistemik (jantung, asma)
- Keadaan inflamasi (periodontitis, agresif periodontitis) antimikroba
- Harus merawat penyakit dengan tuntas
- Fase I merupakan perawatan awal pada gingivitis
4. Kontrol Plak
Scaling dan root planing, bisa kurang dari 1 kali kunjungan
Terapi antimikroba (local/sistemik)
Re-evaluasi jaringan (setelah 9 bulan)
Edukasi pasien pasca-scaling dan root planning
- DHE penyuluhan
- Control diet jaga pola makan, terutama pada pasien rampan karies
- Terapi oklusal penyelarasan oklusal yg tidak rata
- Memperbaiki restorasi (kasar, over kontur, over hanging) atau protesa
- Pembersihan karies penumpatan
- Perawatan orthodontic
5. Fase pemeliharaan harus ada setelah fase I karena untuk mencegah
kekambuhan penyakit, control inflamasi setelah perawatan, dan merupakan
indicator kelanjutan fase.
6. Tindakan dalam control periodic :
Pengecekan sulkus/poket (probing depth)
Pengecekan sisa kalkulus atau adanya pembentukan kalkulus baru
Pengecekan adanya karies
Pengecekan adanya progresivitas atau penyembuhan penyakit
Pengecekan re-attachment ligament periodontal dan junctional epithelium
7. Prognosa dari kasus di scenario baik
- Pasien sadar tentang kesehatan gigi dan mulutnya
- Pasien kooperatif
- Pasien tidak memiliki kelainan sistemik
- Diagnose pasien adalah gingivitis reversible
STEP 4
MAPPING
Plak dan Kalkulus

Gingivitis Kronis

Rencana Perawatan
Dental
Healthdan
Indikasi
Education
Fase
Pemeliharaan
Kontra(DHE)
Indikasi

Perawatan Periodontal
Skaling
Evaluasi
Fase I

Pengertian
Tindakan/Teknik
RootDasar
Planing
danPemikiran
Alat

STEP 5
LEARNING OBJECTIVES
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian perawatan
periodontal fase I.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan dasar pemikiran
perawatan periodontal fase I.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan alat dan teknik perawatan
periodontal fase I.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan fase pemeliharaan
perawatan periodontal fase I.

STEP 7
PEMBAHASAN
1. Pengertian Perawatan Periodontal Fase 1
Perawatan periodontal fase I merupakan tahap pertama dari
serangkaian perawatan periodontal yang diarahkan pada penyingkiran
iritan lokal yang dapat menyebabkan inflamasi gingival serta Pemberian
instruksi dan pemberian motivasi pasien untuk melakukan kontrol plak.
Perawatan periodontal fase I disebut juga fase perawatan etiotropik
karena sasaran dari perawatan ini adalah penyingkiran faktor etiologi
penyakit periodontal.Perawatan periodontal fase I merupakan aspek kritis
perawatan periodontal karena keberhasilan jangka panjang tergantung
secara predominan pada pemeliharaan hasil yang dicapai dengan
perawatan ini.
Secara spesifik, tujuan dilakukannya perawatan periodontal fase I
adalah kontrol plak yang efektif dengan menghilangkan kekasaran dan
ketidakteraturan kontur permukaan gigi sehingga membantu dalam kontrol
plak yang efektif.
Perawatan

periodontal

fase

diberikan

pada

perawatan

pendahuluan pasien dengan adanya poket periodontal yang selanjutnya

akan menjadi pertimbangan dilakukannya tindakan pembedahan. Selain


itu, perawatan ini dilakukan pada pasien gingivitis kronis dan periodontitis
ringan yang tidak memerlukan bedah periodontal.
Perawatan periodontal fase I meliputi kontrol plak, kontrol karies,
serta scaling dan root planning dengan menghilangkan deposit plak,
kalkulus supragingiva dan subgingiva.
2. Dasar Pemikiran Perawatan Periodontal Fase 1
a. DHE (Dental Health Education)
Fokus Perawatan Fase I

Reduksi
Eliminasi
Kontrol

Etiologi Utama:

PLAK

Edukasi Penyakit
Edukasi Periodontal
Kesgilut Motivasi
Kontrol Plak yang Efektif

1. G

2. Permukaan Resto

Gambar. 1 Mind Map Dasar Pemikiran Perawatan Periodontal Fase 1

Kontrol plak merupakan kunci suksesnya suatu perawatan


periodontal karena dengan adanya perbaikan Oral Hygiene dari
pasien, proses rekondisi dari jaringan penyangga gigi akan
berlangsung cepat serta proses inflamasi akan berkurang bahkan
berhenti setelah 3-4 minggu setelah perawatan fase I dilakukan. Pada
perawatan periodontal fase 1 perlu adanya kondisi-kondisi yang harus
dipertimbangkan, yaitu:

Kesehatan umum pasien


Jumlah gigi yang terdapat kalkulus
Banyaknya kalkulus supragingival dan subgingival
Probing pocket depth dan attachment loss
Keterlibatan furkasi
Lengkung gigi
Margin dari restorasi
Adanya pertumbuhan anomaly
Penghalang secaya fisik dari penderita untuk membersihkan rongga

mulut
Tingkat kekooperatifan pasien
DHE merupakan salah satu cara untuk membuat pasien lebih peka

terhadap kesehatan rongga mulutnya terlebih kesehatan jaringan


periodontalnya. DHE bertujuan untuk membuat pasien menjadi lebih
memiliki kesadaran diri tentang kesehatan rongga mulutnya sehingga
sikap tanggung jawabnya dalam mengikuti instruksi operator akan
meningkat. DHE meliputi pemberian:
Motivasi
Operator hendaknya memberi motivasi dan konseling pada pasien
sejak kunjungan pertama. Dengan adanya konseling terebut
operator bisa mengetahui keluhan pasien dan bisa juga mengetahui
etiologi yang berkontribusi (seperti merokok). Sehingga operator
bisa memberi saran dan memberikan motivasi sesuai dengan pasien
tersebut. Pemberian motivasi adalah kegiatan yang paling penting
dan sulit. Dengan pemberian motivasi, diharapkan penderita dapat :

Menerima : memahami kondisi yang dialami, mengerti konsep

patogenesis, perawatan, dan pencegahannya


Meningkatkan kesadaran : mau melakukan sendiri kontrol plak

sehari-hari berdasarkan petunjuk yang telah diberikan


Perubahan sikap ; menyesuaikan kepercayaan, kenyataan, dan
nilai-nilai untuk melengkapi kebiasaan baru dalam kebersihan
mulut
Edukasi Kontrol Plak
Kontrol plak bisa dilakukan oleh pasien secara mandiri yaitu

dengan mekanis dan kimiawi. Kontrol plak mekanis menggunakan


sikat gigi dan dental floss. Pasien diberikan pengarahan dan
instruksi-instruksi tentang kontrol plak ini, seperti dalam pemilihan
sikat gigi bahan yang baik merupakan bahan nylon karena bahan
ini halus sehingga bisa menjangkau bagian interdental serta
penggantian sikat gigi 3 bulan sekali. Penggunaan dental floss juga
harus

diberitahukan,

mendemonstrasikannya

lebih
sehingga

baik
pasien

apabila

operator

bisa

langsung

mempraktekannya di rumah secara mandiri. Secara kimiawi kontrol


plak dilakukan dengan obat kumur.
Edukasi penyakit periodontal
Memberi informasi terkait dengan jaringan periodontal juga
merupakan hal yang penting, karena pasien hendaknya mengetahui
apa itu penyakit periodontal, manifestasi dalam rongga mulut, efek
penyakit periodontal serta upaya yang harus dilakukan untuk
menjaga kesehatan jaringan periodontal. Dengan diberikan
pengetahuan tersebut diharapkan pasien menjadi sadar diri dan
dapat secara mandiri menjaga kesehatan rongga mulut.
b. Scaling dan Root Planing
Scalling merupakan proses menghilangkan plak dan kalkulus
dari subgingiva maupun supragingiva, sedangkan root planing adalah
proses menghilangkan residu kalkulus dan sementum dari akar untuk
7

menghasilkan permukaan akar gigi yang halus dan bersih. Keduanya


memiliki tujuan untuk mengembalikan kesehatan gingiva secara
menyeluruh

dengan

menghilangkan

seluruh

elemen

yang

menyebabkan inflamasi gingiva (plak, kalkulus dan endotoksin).


Scalling dan root planning merupakan dua hal yang tidak
terpisahkan, dengan melakukan

scalling sudah cukup untuk

menghilangkan plak dan kalkulus yang terbentuk di permukaan


enamel, namun apabila plak dan kalkulus pada akar gigi harus
dilakukan root planing. Alasannya karena deposit kalkulus pada akar
gigi biasanya seringkali diikuti dengan kelainan sementum. Ketika
dentin terekspos, plak menyerang tubuli dentin sehingga scalling saja
tidak cukup untuk membersihkan akar. Permukaan akar yang sudah
terkontaminasi endotoksin secara superficial harus dibersihkan dengan
hati-hati untuk menghindari kehilangan jaringan dentin dan sementum
secara luas. Instumentasi ini terbukti dapat mengurangi mikrobiota
yang disertai dengan berkurangnya atau hilangnya peradangan klinis.
Sebelum dilakukan scaling, dokter gigi akan melakukan
anamnesis pemeriksaan gigi. Dokter gigi akan memeriksa keadaan
pasien secara ekstra dan intra oral. Secara ekstra oral akan dilakukan
anamnesis atau wawancara dan dilihat apakah ada pembengkakan
kelenjar limfe di bagian kepala dan leher sebagai tanda adanya
penyebaran infeksi, lalu pemeriksaan intra oral untuk melihat keadaan
dalam mulut pasien.
Setelah dilakukan analisis secara cermat, jumlah kunjungan
yang diperlukan harus diperkirakan. Pasien dengan jumlah kalkulus
yang sedikit dengan keadaan jaringan di sekitar gigi relative sehat
dapat dirawat dalam satu kali kunjungan. Dokter gigi harus
memperkirakan jumlah kunjungan yang diperlukan berdasarkan
jumlah gigi dalam mulut pasien, tingkat keparahan inflamasi, jumlah
dan lokasi kalkulus, kedalaman dan aktivitas poket, adanya invasi
furkasi, dan kebutuhan untuk anastesi lokal.

Indikasi

Kalkulus supragingiva dan atau subgingiva

Kalkulus yang terdapat pada sementum

Adanya poket periodontal

Kontraindikasi
a

Terdapat abses

Pasien yang memiliki penyakit sistemik yang parah atau tidak


terkontrol seperti asma, kelainan kardiovaskuler, pulmonal
kronis, dll.

Terdapat lesi yang lebar atau berpotensi untuk terjadi infeksi jika
dilakukan scalling and root planning.

3. Alat dan Teknik Perawatan Periodontal Fase 1


a DHE
Instrumen DHE yaitu :

Sikat Gigi

Pasta Gigi

Dental Floss

Phantom Gigi

Disclosing Agent

TEKNIK DHE
1

Pemilihan Sikat Gigi


Sikat gigi memiliki banyak variasi baik dalam hal ukuran kecil
maupun besar, desain yang panjang atau bulat, dan bulu sikat yang halus
dan kasar. Sikat gigi berusaha dimodifikasi untuk dapat membersihkan sisa
10

makanan yang menempel pada permukaan gigi untuk mencegah terjadinya


karies maupun penyakit gingiva ataupun periodontal. Penggunaan sikat
gigi yang salah dapat menyebabkan kelainan pada gingiva seperti resesi
pada gingiva atau disebut sebagai penurunan gusi. Bulu sikat halus
direkomendasikan untuk dapat menghilangkan dan membersihkan sisa
makanan pada daerah interproksimal gigi yang tidak dapat dijangkau oleh
sikat gigi yang memiliki ujung bulu sikat yang kasar. Hal ini disebabkan
karena diameter ujung bulu sikat yang lebih kecil yaitu sekitar 0,2 mm
dibandingkan dengan bulu sikat medium 0,3 mm dan bulu sikat yang kasar
0,4 mm. Selain itu, bulu sikat yang halus dan mencegah terjadinya trauma
atau ulserasi pada gigi disebabkan karena permukaan ujung bulu sikat
lebih halus. Penggunaan bulu sikat halus juga bisa menyebabkan resesi
gingiva jika teknik menyikat giginya salah yaitu menyikat horizontal dan
penggunaan pasta gigi yang mengadung bahan abrasif ekstrem juga dapat
menyebabkan abrasif pada cervical gigi yang dapat meningkatkan
sensitifitas dari gigi.
Bulu sikat yang bukan alami terbuat dari bahan nilon yang dapat
menghilangkan bakteri plak atau sisa makanan yang menempel pada
permukaan gigi. Saat ini yang banyak di pasaran adalah sikat gigi yang
terbuat dari bahan nilon karena bahan nilon memiliki sifat halus dan licin
sehingga tidak memudahkan bakteri dan sisa makanan melekat pada sikat
gigi.
Saat ini tersedia juga sikat gigi elektrik yang dengan pergerakannya
berupa gerakan sirkular atau rotari dan getaran bolak balik yang memiliki
kemampuan membersihkan permukaan gigi dan menghilangkan plak.
Sikat gigi elektrik dapat digunakan oleh orang dewasa maupun anak-anak,
anak dengan kelainan fisik dan mental, orang dewasa tua yang sedang
dirawat di rumah sakit yang membutuhkan kondisi rongga mulut tetap
bersih dan sehat, dan pada pasien dengan penggunaan alat ortodontik
cekat.
2

Pemilihan pasta Gigi

11

Dalam DHE dokter gigi juga harus mengajarkan pasien dalam hal
memilih pasta gigi yang baik.Pasta gigi digunakan untukn membersihkan
dan memoles permukaan gigi agar bersih dan tidak mudah dilekati oleh
bakteri. Pasta gigi umumnya tersedia dalam bentuk pasta tetapi ternyata
ada juga yang tersedia dalam bentuk powder atau bubuk.Pasta gigi
mengandung bahan abrasif seperti silikon oksida, aluminium oksida,
granular polifinil klorida, air, humectant, sabun atau detergent, perasa,
bahan pemanis, dan bahan terapetik seperti fluorid, pyprphospate,dan
mengandung juga bahan pewarna. Pasta gigi mengandung 20%-40%
bahan abrasif berupa garam inorganik yang tidak larut. Pasta gigi dalam
bentuk powder atau bubuk ternyata lebih bersifat abrasif 90%
dibandingkan dalam bentuk pasta. Pasta gigi yang direkomendasikan
adalah pasta gigi yang mengandung bahan abrasif yang lebih sedikit dan
direkomendasikan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
3

Metode Menyikat Gigi


Dalam menyikat gigi ada banyak metode seperti metode roll,
vibratory, circular, vertical, dan horizontal. Kebanyakan yang digunakan
adalah teknik bass yaitu menempatkan ujung sikat gigi yang halus secara
paralel pada permukaan oklusal gigi dengan sikat gigi menutupi 3-4 gigi
dimulai dari gigi yang terletak paling distal dari rahang. Lalu bulu sikat
diletakkan pada margin gingiva membentuk sudut 45o terhadap sumbu
panjang gigi. Kemudian sikat gigi digerakkan dengan memberikan tekanan
dan getaran pendek sehingga bulu sikat akan masuk ke dalam area sulkus
gingiva sehingga dapat membersihkan sulkus dari deposit dan sisa
makanan yang terselip.

Penggunaan Dental Floss


Menggunakan sikat gigi saja ternyata tidak cukup untuk
menghilangkan plak atau sisa makanan pada bagian interproksimal gigi
sehingga digunakanlah dental floss atau benang gigi untuk dapat
membersihkan sisa makanan dan plak yang terdapat pada daerah
interproksimal gigi yang tidak dapat dijangkau oleh penggunaan sikat gigi

12

saja. Dental Floss ini terbuat dari filament nilon, atau monofilamen plastik
dan ada yang wax dan unwax. Teknik penggunaan dental floss yaitu dental
floss dimasukkan ke kontak proksimal gigi tetapi hati-hati jangan sampai
mengenai atau melukai jaringan gusi kemudian dilakukan gerakan naik
turun secara berulang sebanyak 2-3 kali lalu pindah ke interproksimal gigi
sebelahnya untuk membersihkan proksimal gigi.
Edukasikan kepada pasien bahwa dengan melakukan flossing
menggunakan dental floss juga dapat meningkatkan kesehatan gigi dan
mulutnya. Apabila akan menggunakan dental floss, instruksikan kepada
pasien untuk memilih unwaxed dental floss daripada waxed dental floss.
Karena waxed dental floss akan dapat meninggalkan lapisan lilin atau wax
sehingga dapat menghambat penyerapan fluor dari pasta gigi ataupun
pemberian fluor secara topikal.

(A)

(B)

Gambar 1. (A) Waxed Dental Floss ; (B) Unwaxed Dental Floss


Berikan pengetahuan kepada pasien bahwa ada 2 jenis dental floss
yang dapat digunakan, yaitu ada yang berbentuk gulungan benang dan ada
yang sudah bertangkai atau memiliki pegangan. Dental floss bertangkai
lebih

dianjurkan,

karena

lebih

memudahkan

pasien

untuk

menggunakannya dan tidak perlu bingung untuk menggulung-gulung


benang, memegangnya juga lebih mudah dan nyaman.
b Scaling dan Root Planing

13

Instrument scaling dan root planning yaitu :

Sickle
Sickle

merupakan

scaler

kasar

yang

digunakan

untuk

menghilangkan kalkulus supragingiva. Permukaan sickle adalah datar


dengan dua cutting edge yang menyatu membentuk ujung yang runcing.
Bentuk blade dari sickle yaitu triangular shape dimana jika dipotong
melintang akan terlihat bentukan segitiga dengan sisi pemotong di kedua
sisi. Karena banyak memiliki permukaan yang tajam, sickle hanya
digunakan untuk penyingkiran kalkulus supragingiva. Jika digunakan pada
kalkulus subgingiva dapat mengiritasi jaringan.

Gb. Sickle

Kuret
Kuret merupakan scaler halus untuk scaling dan root planing.
Permukaannya yang lebih halus dibandingkan dengan sickle dan tidak
banyak memiliki permukaan yang tajam sehingga scaler dapat
diadaptasikan dan dimasukkan ke dalam poket dengan trauma jaringan
yang sangat minimal. Oleh karena itu, kuret banyak digunakan untuk
penyingkiran kalkulus subgingiva dan root planing.
Kuret dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Kuret Universal dan
Kuret Gracey. Perbedaan kuret universal dengan kuret gracey yaitu :
a Kuret universal dapat digunakan pada semua daerah dan sisi atau
permukaan, sedangkan kuret gracey hanya pada daerah dan sisi
tertentu.

14

Sisi pemotong pada kuret universal ganda, sedangkan kuret gracey

tunggal.
Permukaan mata pisau kuret universal tegak lurus terhadap leher alat,
sedangkan mata pisau kuret gracey membentuk sudut 60 terhadap
leher alat.

Gb. Kuret Universal

Gb. Kuret Gracey

15

Hoe scaler
Mata hoe scaler membengkok membentuk sudut 99-100
terhadap leher alat. Alat ini didesain untuk setiap permukaan gigi, artinya
pada setiap permukaan gigi digunakan satu jenis hoe scaler.

Gambar : hoe sclaer


Chisel scaler
Chisel scaler didesain khusus untuk permukaan proksimal gigi
anterior yang terlalu rapat ruang interproksimalnya. Lehernya bisa lurus
atau membengkok, dengan sisi pemotong membentuk sudut 45.

Scaler ultrasonic
Digunakan untuk membuang plak, scalling, mabuang stain, dan
kuretase. Ada 2 tipe gerakan pada scaler ultrasonic ini, yaitu (1)
magnetostrictive,

pergerakannya

ellips

dan

(2)

piezoelectric,

pergerakannya linear.

Gambar : ultrasonic scaler


Sonic dan Ultrasonic Instrumentasi

16

Komponen

penting

dari

perawatan

periodontal

adalah

membersihkan biofilm dan kalkulus yang terdapat di subgingival. Metode


sederhana untuk perawatan permukaan akar menggunakan hand
instruments seperti kuret. Namun dengan teknik yang sederhana
memerlukan keterampilan operator yang lebih, memakan waktu yang
lama, dan menimbulkan ketidaknyamanan baik untuk operator dan pasien,
sehingga saat ini dikembangkan power-driven scalers (skaler yang
digerakkan oleh mesin). Power driven scaler terdiri dari unltrasonic dan
sonic scaler. Dengan power driven scaler meningkatkan kenyamanan
pasien dan mengefisiensikan tenaga yang dikeluarkan oleh operator.
Sonic Scalers, Magnetostrictive, dan Piezoelectric Ultrasonic Scalers
Sistem

pergerakkan

scaler

dibagi

menjadi

sonic

scalers,

magnetostrictive, piezoelectric ultrasonic scaler. Pengoperasian sonic


scaler oleh kompres udara yang berasal dari dental chair. Memiliki
frekuensi 6000Hz samapi 9000 Hz dengan amplitudo sampai dengan
1000m hampir disetiap pergerakannya sehingga tidak memiliki
ketergantungan terhadap angulasi permukaan akar untuk kestabilan
pergerakan

scaler

ini.

Jadi

menggunakan

sonic

scaler

lebih

menguntungkan daripada ultrasonic scaler.


Magnetostrictive ultrasonic scalers memilitki amplitudo 13 hingga
72 m dan frekuensinya 20.000 Hz hingga 45.000 Hz. Pizoelectric scalers
juga memiliki frekuensi pergerakan 20.000 hingga 45.000 Hz dan
amplitude sampai dengan 72 m. Dengan frekuensi dan amplitodo sebesar
itu magnetostrictive dan piezoelectric scaler memiliki ketergantungan
angulasi terhadap permukaan akar untuk kestabilannya.

Teknik Scaling Supragingival

17

Penskeleran supragingival dapt dilakukan dengan skeler ultrasonic


ataupun manual. Penskeleran dilakukan dengan gerakan menarik (pull
motion) menggunakan sickle. Pada daerah interproksimal dilakukan
dengan gerakan mendorong (push motion) menggunakan chisel. Pada
gerakan menarik mata pisau alat ditempatkan menyentuh tepi apical atau
lateral dari kalkulus dan dengan sapuan kuat kea rah koronal sebagian atau
keseluruhan dilepaskan sari perlekatannya. Pada gerakan mendorong jari
tangan mengaktifkan alat. Mata pisau alat menyentuh tepi lateral kalkulus,
dengan gerakan mendorong dari jari tangan kalkulus dilepaskan dari
perlekatannya.
Teknik Scaling Subginggival dan Root Planing
Kalkulus pada sub gingival lebih keras dan lengket dibandingkan
dengan kalkulus supragingival. Penskeleran dilakukan dengan kekuatan
yang lebih besar dan kontrol alat yang lebih baik. Kondisi inflamasi
gingival harus diredakan terlebih dahulu sehingga dicapai kondisi ginggiva
yang lebih kenyal dan tidak mudah terkoyak pada waktu instumentasi.
Perluasan kalkulus harus diperkirakan dengan melakukan

pengecekan

menggunakan eksplorer. Penskeleran dilakukan dengan gerakan menarik


(pull motion) menggunakan kuret dan hoe.
Root planning dilakukan secara bersamaan dengan dilakukan
scaling sub ginggiva tekhnik dan alat yang digunakan sama. Pada root
planning dilakukan pengambilan

jaringan sementum yang nekrosis

sehingga didapatkan permukaan akar yang halus dan bersih. Ada beberapa
kondisi yang perlu diperhatikan untuk melakukan tekhnik scaling secara
efektif :

Pekerjaan ini harus dilakukan secara sistematik, pada seluruh gigi


secara berurutan.

18

Alat harus tepat dan cocok, alat dengan ukuran besar biasa
digunakan untuk kalkulus supraginggival dan alat dengan ukuran

kecil biasa digunakan untuk kalkulus subgingival.


Setiap gerakan alat harus efektif dan akurat, penggunaan yang tidak

tepat dapat menimbulkan luka gores atau kerusakan permukaan gigi


Jari-jari harus bertumpu dengan kuat pada gigi agar penggunaan alat

dapat terkontrol
Harus benar-benar bersih dan halus

Keamanan dan Penggunaan Pergerakan Scaler


Di awal perawatan periodontal membutuhkan instrument yang
memiliki kecepatan tinggi untuk efisiensi waktu saat mengurangi kalkulus
dengan pengurangan substansi akar yang minimal. Meskipun demikian
keamanan dari penggunaan scaler ini tergantung pada waktu instrumentasi,
kekuatan lateral, angulasi scaler, dan pengaturan kecepatan pemakaian
instrument. Untuk penggunaan sonic scaler menggunakan low power,
sedangkan untuk magnetostrictive dan piezoelectric scaler menggunakan
medium power.
Ultrasonik scaling dapat menghilangkan kalkulus dan mengurangi
jumlah bakteri berbahaya di bawah garis gusi. Alat ini penting dalam
pencegahan dan perawatan dari penyakit periodontal. Scaling dengan alat
ultrasonic sekarang sudah banyak dilakukan di Indonesia. Pengaruh dan
pemakaian alat ultrasonic serta pemolesan permukaan dengan mesin
kecepatan tinggi (jet) mengakibatkan jaringan gigi turut terambil sehingga
bakteri dapat masuk ke dalam tubulus yang terbuka. Jadi penggunaannya
harus dengan tekanan ringan dan mengenai sedikit mungkin daerah. Pada
ujung alat ultrasonic terdapat semprotan air yang bertujuan untuk
menghilangkan panas yang umumnya terjadi akibat vibrasi ultrasonic.
Selain itu juga berfungsi sebagai pembersih permukaan gigi.
Posisi pasien dan operator pada penggunaan alat sonic dan
ultrasonic sama saja dengan posisi pada penggunaan hand instrument.
Pada instrumentasi untuk rahang atas, pasien tidur terlentang dengan posisi

19

dagu agak diangkat. Sedangkan pada mandibula, posisi senderan dari


dental chair kira-kira 45 derajat dari lantai. Namun, jangan dilupakan
bahwa penggunaan kaca mulut tetaplah penting.
Sebelum setiap prosedur scaling, seorang dokter gigi harus
mengevaluasi terlebih dahulu bagian yang akan dilakukan perawatan.
Evaluasi tersebut termasuk melakukan probing kedalaman poket, anatomi
dari permukaan akar, dan morfologinya. Terkadang gambaran radiografi
juga dibutuhkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Pada saat
melakukan scaling, diperhatikan juga kecepatan dari agen pendingin.
Kecepatan agen pendingin paling tidak 14 ml/min sampai 23 ml/min
dianjurkan untuk mencegah adanya kerusakan termal pada poket
periodontal.
Setting dari kecepatan sonic dan ultrasonic scaler mempengaruhi
amplitude dari osiliasi tip. Namun, pada pemakaian instrument
berkecepatan tinggi akan meningkatkan aerosol dan pembentukkan splatter
yang akan mengakibatkan berkurangnya agen pendingin yang masuk ke
dalam poket periodontal.

Sehingga, akan lebih baik apabila dalam

pengaturan kecepatannya pada kecepatan rendah atau medium. Hal ini


dilakukan untuk menghindari pembuangan jaringan akar yang seharusnya
tidak terbuang.
Untuk

mencapai stabilisasi instrument yang maksimum, maka

harus diperhatikan dalam hal cara memegang alat dan tumpuan jari kita.
Stabilisasi maksimum dapat dicapai dengan menggunakan teknik modified
pen grasp. Dengan panggunaan hand instrument, finger rest pada intraoral
sangat dianjurkan untuk setiap segmen pada rahang atas dan rahang
bawah. Palm rest pada bagian ekstraoral harus dilakukan pada
instrumentasi pada gigi posterior di rahang atas dan punggung tangan pada
area maksila bagian kanan atau dengan telapak tangan pada area kiri.
Pada pendekatan sistemik dalam membersihkan permukaan akar
dengan tip scaler yang tipis. Tip diletakkan secara parallel pada sumbu

20

panjang gigi. Namun, insersi secara oblique juga direkomendasikan untuk


membersihkan permukaan interdental kontralateral.

Gambar. Posisi tip dalam membersihkan permukaan akar


Berikut gambar penggunaan alat scaling dan root planning :

21

Superficial scaller (Sikle)

Gambar. Superficial scaller (sikle).A. gambarmenunjukkan cutting edge


padascaller.B. scallerpadaposisi (mengikutikonturgigi).C. gambar menunjukkan
bagaimana seharusnya scaller mengangkat kalkulus, yakni dengan sudut sedikit
kurangdari 90.D. scaller pada posisi gigi geligi.

Deep scaller

22

Gambar. Deep scaller digunakan untuk mengangkat calculus subgingiva.

Chisel

Gambar. Chisel, instrument harus mengikuti kontur gigi, dimana chisel ini
digunakan untuk mengangkat kalkulus di daerah proksimal gigi.

23

Gambar. Chisel saat digunakan pada rongga mulut pasien

Hoe

Gambar. Hoe scaller ini digunakanuntuk root planning dan menghaluskan


permukaan akar. Dalam penggunaannya, sebelum dilakukan aktivasi alat harus
menempel pada gigi pada 2 titik (Gambar B) : 1. Blade (ujungpemotong). 2.
Shank (lengan), ini sebagai stabilisasi dan mencegah alat melukai permukaan
gigi.

24

Kuret

Gambar. Kuret ini digunakan dalam root planning dan juga dapat digunakan
untuk mengangkat jaringan nekrotik/poket periodontal.

Pemolesan
Instrumen Pembersih dan Pemoles yaitu :

25

RUBBER CUP
- Beberapa selongsong karet dengan atau tanpa bentukan
- Digunakan pada handpiece dengan sudut propilaksis khusus
- Untuk menghilangkan plak, stain dan menghaluskan akar yg
terbuka selain itu juga utk massage / memijat ginggiva
- Penggunaan dengan tekanan ringan dan intermitten
- Pasta pembersih : untuk mengurangi panas

BRISTLE BRUSH
- Digunakan pada mahkota saja oleh karena bulu sikatnya keras.
- Digunakan dengan handpiece dan pasta.

PORTE POLISHER
- Untuk menghaluskan permukaan gigi setelah instrumentasi
- Merupakan hand instrumen dengan ujung dari kayu.
- Digunakan dengan gerakan memulas yang keras.
- Digunakan jika sistem polishing dengan mesin tidak ada.

DENTAL TAPE
- Untuk daerah proksimal
- Cara : - Pita dimasukkan ke daerah interproksimal dengan arah
sesuai sumbu gigi.
- Diaktivasi dengan gerakan labial lingual.
- Dibersihkan dgn air hangat.

Teknik Pemolesan
Pemolesan dilakukan setelah dilakukannya scaling dan root
planning. Pemolesan dilakukan pada permukaan yang kasar setelah
dilakukannya scaling dengan menggunakan rubber cup dan pasta abrasi.
Rubber cup dipasangkan pada mikromotor dan digerakkan dengan cara
rotasi dan diaplikasikan secara intermiten pada permukaan gigi agar tidak

26

terbentuk panas yang terlalu tinggi. Pada bagian interproksimal gigi


dilakukan dengan menggunakan strip poles linen atau dental tape.

d Fase Pemeliharaan pada Perawatan Periodontal Fase 1


Fase pemeliharaan ataupun kontrol periodik merupakan komponen
yang penting dalam suksesnya suatu perawatan periodontal. Karena
perawatan periodontal baik non-bedah maupun bedah akan sia-sia apabila
tidak dilanjutkan dengan penilaian pasien dan perawatan yang tepat.
Keseluruhan tujuan dari fase pemeliharaan adalah untuk menjaga
kesehatan dan mencegah adanya kekambuhan penyakit, serta untuk
memantau pasien dan memberikan perawatan yang diperlukan untuk
mengendalikan ataupun mencegah timbulnya penyakit periodontal. Fase
pemeliharaan dilakukan pada akhir fase ataupun pada masa transisi dari
fase 1 ke fase lainnya, yaitu :

Setelah selesainya perawatan periodontal fase 1 apabila perawatan

bedah tidak diindikasikan.


Setelah selesainya perawatan periodontal fase 1 apabila perawatan
bedah diindikasikan tetapi harus tertunda karena adanya faktor plak

yang tinggi ataupun kontraindikasi medis.


Pada masa transisi antara fase 1 dan fase 2 apabila perawatan
bedah diindikasikan, serta pada akhir fase 2 apabila tidak
diindikasikan ke fase selanjutnya.
Dalam fase pemeliharaan perawatan periodontal tipe 1 dapat

dilakukan beberapa tindakan yaitu:


a. Reevaluasi terhadap kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan
mencatat skor plak, ada atau tidaknya inflamasi gingiva,
kedalaman poket serta mobilitas atau pergerakan dari gigi.
b. Dapat melakukan radiografi untuk mengetahui perkembangan dari
jaringan periodontal dan tulang alveolar setiap 3 atau 4 tahun
sekali.

27

c. Dilakukan scaling dan polishing setiap 6 bulan sekali tergantung


dari keefektifan pasien dalam melakukan kontrol plak.
d. Mengaplikasikan tablet fluoride untuk mencegah terjadinya karies.
e. Melakukan kontrol plak dengan tujuan meminimalkan inflamasi
gingiva dan mencegah kekambuhan pada penyakit periodontal.
Kontrol plak dapat dilakukan secara mekanik dan khemis. Pada
kontrol plak secara mekanik, pasien diinstruksikan untuk
membersihkan rongga mulutnya setiap hari. Sedangkan secara
khemis, pasirn dapat menggunakan obat kumur chlorhexidine
digliconate dan minyak esensial untuk membantu kontrol plak
selama terapi fase 1.
Interval kontrol periodik juga disesuaikan pada kebutuhan dan
keadaan klinis rongga mulut pasien. Berikut ini adalah interval control
sesuai dengan berbagai kebutuhan pasien.

Klasifikasi
Merlin
Tahun pertama

Karakteristik
a

Pasien tahun pertama terapi dan


tidak

Interval Kontrol

ada

masalah

dalam

penyembuhan.
Pasien tahun pertama terapi yang
memiliki

kasus

sulit

3 bulan
1 2 bulan

seperti

keterlibatan furkasi, buruknya oral


hygiene,
Kelas A

pasien

yang

tingkat

kooperatifnya dipertanyakan.
Hasil perawatan yang bagus setelah

6 bulan 1 tahun

ditinjau selama satu tahun atau lebih,


dengan

keadaan

pasien

yang

menunjukkan kalkulus yang minimal,


tidak terdapat poket dan tidak ada gigi

28

yang tidak didukung oleh tulang alveolar


Kelas B

kurang dari 50 %
Secara umum pasien menunjukkan hasil

3 4 bulan

yang baik dalam satu tahun pertama

(tergantung benyaknya

namun pasien menunjukkan beberapa

negative factor yang

faktor:

ditemukan)

Oral hygiene yang tidak konsisten

dan cenderung ke buruk.


Bentukan kalkulus.
Penyakit sistemik yang
menjadi

Kelas C

factor

dapat

predisposisi

penyakit periodontal.
Ditemukannya poket.
Masalah oklusal.
Sedang
menjalani

ortodonsik.
Recurrent karies.
Beberapa gigi yang didukung

terapi

kurang dari 50 % tulang alveolar.


Merokok
Positive test genetik
Secara umum pasien menunjukkan hasil

1 3 bulan

yang buruk dalam satu tahun pertama dan

(tergantung keadaan

atau pasien menunjukkan beberapa factor

pasien)

negatif:

Oral hygiene yang tidak konsisten

dan cenderung ke buruk.


Bentukan kalkulus.
Penyakit sistemik yang
menjadi

factor

dapat

predisposisi

penyakit periodontal.
Ditemukannya poket.
Masalah oklusal.
Sedang
menjalani

terapi

ortodonsik.
29

Recurrent karies.
Beberapa gigi yang didukung

kurang dari 50 % tulang alveolar.


Merokok
Positive test genetik

DAFTAR PUSTAKA
Carranza, Fermin A et all. 2002. Carranzas Clinical Periodontology. Nineth
Edition. St Louis: Elsevier .
Chesnutt, Ivor G.,dkk. 2007. Churchills Pocketbooks: Clinical Dentistry 3th
Edition. Amerika Serikat : Elsevier.
Manson,J.D., Eley,B.M. 1993. Buku Ajar Periodonti. Jakarta: Hipokrates.

30