edisi

maret - april 2015

PMMC

News

www.pmmc.or.id

media komunikasi penjual & pembeli farmasi

TAJUK UTAMA

PMMC Gelar Baksos
di PAlabuhanRatu

Dalam rangka menyambut
Hari Nelayan ke 55,
PMMC rutin mengadakan
pengobatan gratis dan
penyuluhan Bahaya
Penyalahgunaan Narkoba
kepada para puluhan
pelajar.
Akhir Maret 2015 lalu, sejumlah
perusahaan farmasi yang berkantor di
Jakarta dan sekitarnya melakukan bakti
sosial di Pelabuhan Ratu, Sukabumi,
Jawa Barat. Mereka adalah perusahaan
yang tergabung dalam organiasasi
Gabungan Perusahan (GP) Farmasi
Indonesia dan Pharma Materials
Management Club (PMMC).
Berbagai kegiatan, seperti pengobatan
gratis bagi masyarakat dan penyuluhan
bahaya narkoba kepada para pelajar
digelar di sini. Acara berlangsung dari

pagi hingga menjelang sore, bertempat
di Pelabuhan Ratu.
“Kegiatan bakti sosial menjadi salah
satu agenda rutin dalam program CSR
kami selama bertahun-tahun,” ujar Ketua
Umum PMMC, Kendrariadi Suhanda.
Selain bakti sosial, PMMC bersam
GP Farmasi Indonesia juga memiliki
beragam kegiatan CSR lainnya. Dalam

sepuluh tahun terakhir, perusahaan ini
memberikan sumbangan ke sekolahsekolah dan panti asuhan, bantuan
obat-obatan ke puskesmas di berbagai
daerah, korban bencana alam, hingga
pemberian bantuan sembako kepada
masyarakat yang kurang mampu.
Kendrariadi memahami, keberadaan
industri farmasi, kerap kali mendapat
bersambung halaman 3

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

1

maret - april 2015

edisi

edisi

maret - april 2015

lanjutan halaman 1

sorotan, karena dapat mengakibatkan
dampak lingkungan. Terutama terhadap
sumber air, kondisi tanah, sekitar pabrik.
Namun, menurutnya, dampak buruk ini
bisa dicegah dengan pengelolaan limbah
dan tata kelola industri yang memadahi.
Karenanya, setiap industri farmasi
harus berperan membantu dan
membenahi lingkungan sekitar. Setiap
industri farmasi harus peka terhadap
lingkungannya.
“Buat kami, melakukan tanggung
jawab sosial itu secara rutin itu sebuah
kewajiban,” ujar dia.
Dalam menjalankan bisnisnya, industri
farmasi tidak boleh hanya mencari
keuntungan semata. Namun, para pelaku
bisnis sektor ini juga harus peduli dengan
lingkungan di mana mereka berada.

“Industri
farmasi perlu juga
memerhatikan
nasib masyarakat.
Karena itu, CSR
yang dilakukan
harus benarbenar menyentuh
pada kebutuhan
masyarakat,”
tambahnya.
Deputi Bidang Pengawasan Produk
Terapetik dan Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif BPOM RI, Bahdar Johan,
menyambut baik kegiatan bakti sosial
yang diselenggarakan oleh GP Farmasi
Indonesia dan PMMC.
Menurut Bahdar, kegiatan kepedulian
sosial macam ini harus terus digalakkan

oleh industri farmasi. Masyarakat,
sebagai konsumen produk farmasi
juga harus menjadi perhatian kegiatan
kepedulian sebagai tanggung jawab
perusahaan farmasi.
“Kegiatan macam ini sangat baik dan
harus kita dukung, agar ke depan bias
lebih ditingkatkan,” ujarnya. (*)

PT. MERINDO MAKMUR
Perkantoran Kencana Niaga

Jl. Taman Aries Blok D1 - 2K & L, Kembangan Jakarta 11620 Indonesia
T +62 21 5858581 (hunting), 58906030, F +62 21 585 8570

2

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

3

edisi

"WE CARE
WE SHARE"

BERBAGI
KASIH SAYANG

BAKSOS HARI
NELAYAN KE-55
PALABUHANRATUSUKABUMI

KEGEMBIRAAN AWAL TAHUN DENGAN
SILATURAHMI BERBAGI KASIH SAYANG
& KEBERSAMAAN PMMC/GP FARMASI
INDONESIA BERSAMA PANTI ASUHAN SOS
DESA TARUNA & ORANG TUA JOMPO

Untuk yang kedua kalinya di tahun
2015, PMMC dan GP Farmasi Indonesia
didukung oleh beberapa perusahaan
Farmasi mengadakan Bakti sosial yang
kali ini berupa pengobatan gratis dalam
rangka memperingati Hari Nelayan ke-55
di Palabuhanratu-Sukabumi.
Dengan mengusung tema : “We Care,
We Share” acara bakti sosial ini menjadi
salah satu program kepedulian sosial
untuk berbagi dengan keluarga-keluarga
nelayan di Palabuhanratu-Sukabumi.
Sulitnya untuk mencapai Puskesmas
setempat membuat antusiasme warga
untuk acara pengobatan gratis sangat
terlihat dengan membanjirnya tempat
kegiatan oleh kurang lebih 250 orang

4

I PMMCNEWS

pasien dari keluarga nelayan di beberapa
kampung sekitar PalabuhanratuSukabumi. Salah seorang pasien
mengungkapkan bahwa mereka harus
mengeluarkan Rp. 20.000, untuk ongkos
pulang pergi ke Puskesmas terdekat
dan hal itu sangat memberatkan bagi
keluarga para nelayan yang penghasilan
nya dirasa tidak seberapa, sehingga
mereka sangat menyambut dengan
gembira kegiatan yang digagas oleh
PMMC & GP Farmasi Indonesia di
tanggal 28 maret 2015 kemarin tersebut.
Pada kegiatan Bakti Sosial ini PMMC
& GP Farmasi mendapatkan dukungan
penuh dari perusahaan-perusahaan
Farmasi di Indonesia dan telah berhasil
memberikan kontribusi berupa antara
lain : 1500 paket sembako bagi orang
jompo dan anak yatim, pelayanan
pengobatan gratis serta sumbangan
berupa obat-obatan dengan nilai hampir
mencapai Rp. 300.000.000,-. Selain itu

acara ini juga mendapatkan dukungan
dari otoritas kesehatan di Indonesia
dengan hadir nya Drs. T. Bahdar Johan
Hamid, Apt., M.Pharm selaku Deputi I
Bidang Pengawasan Produk Terapetik
dan NAPZA BPOM RI mewakili Kepala
Badan POM Ir. Roy A. Sparingga, M.App.
sc., Ph.D yang berhalangan hadir.
Acara yang berlangsung dari pukul
08.00 pagi sampai dengan pukul 13.00
siang tersebut diakhiri dengan ucapan
Terimakasih yang tidak henti-hentinya
mengalir dari setiap warga nelayan yang
hari itu hadir dan mendapat pengobatan
gratis. Mereka sangat berharap kegiatan
semacam ini tidak akan berhenti hanya
hari itu saja namun juga di kesempatan
yang akan datang. (rd)

Pharma Materials Management Club

Mengawali tahun 2015, PMMC & GP
Farmasi mengadakan hajatan Bakti Sosial
silaturahmi awal tahun dengan anakanak Panti Asuhan SOS Desa Taruna dan
kumpulan orangtua jompo di daerah
Cibubur. Acara tahunan yang rutin
dilakukan oleh PMMC kali ini bernuansa
cinta karena dilakukan di bulan Februari
yang orang banyak claim sebagai bulan
Valentine atau hari kasih sayang.
Acara silaturahmi dan kebersamaan
memperingati hari kasih sayang yang
diadakan di tanggal 13 Februari 2015
ini didukung oleh banyak pihak serta

Pharma Materials Management Club

dihadiri oleh petinggi-petinggi GP
Farmasi Indonesia, PMMC serta direkturdirektur dari sejumlah perusahaan
Farmasi di Indonesia. Pada acara yang
bernuansa pink/merah muda ini PMMC
memberikan donasi berupa uang tunai,
150 paket untuk anak-anak panti asuhan,
paket untuk orang tua jompo serta
donasi obat-obatan.
Kegembiraan terpancar di raut wajah
setiap orang yang hadir, anak-anak panti
asuhan tidak hanya terhibur dengan
kehadiran seorang pendongeng di sore
itu namun mereka juga berbagi kasih

maret - april 2015

edisi

maret - april 2015

sayang dengan memberikan atraksi
berupa tarian daerah Giring-Giring dari
Kalimantan serta paduan suara yang
sangat merdu dengan melantunkan lagu
“Laskar Pelangi” dan “Semua Karena
Cinta”, yang tentunya menghibur semua
tamu undangan.
Acara ditutup dengan makan bersama
yang dilayani oleh pedagang kaki lima
yang diundang untuk hadir di food
stall tempat acara berlangsung. Semua
tamu undangan sama rata sama rasa
menikmati hidangan rakyat seperti :
bakso, es doger, soto mi dan siomay
sembari bercengkrama menghangatkan
suasana kasih sayang dan kebersamaan
yang tidak memandang kasta dan
jabatan. (rd)

PMMCNEWS I

5

edisi

ACTAVIS

maret - april 2015

edisi

maret - april 2015

PEDULI MEMBANGUN
GENERASI MUDA INDONESIA
BEBAS NARKOBA
Jumlah pengguna narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA)
di kalangan remaja cenderung
meningkat. Bahaya kehilangan
generasi produktif terbayang di
depan mata. Badan Narkotika
Nasional (BNN) menyatakan, Jawa
Barat mendominasi jumlah pengguna
narkoba terbanyak di Indonesia
sepanjang tahun 2014. Jumlahnya
sekitar 700.000 jiwa (http://www.
beritasatu.com/kesehatan/226075bnn-jawa-barat-pengguna-narkobaterbanyak.html). Hal inilah yang
membuat PT. Actavis Indonesia
tergugah untuk mengambil bagian
dalam memberikan kesadaran
tentang betapa bahaya nya narkoba
dan miras oplosan di kalangan anak
muda, terutama kaum muda di
daerah Jawa Barat.
Bersamaan dengan perayaan hari Nelayan
ke-55 tahun di Palabuhanratu-Sukabumi pada
tanggal 28 Maret 2015, PT. Actavis Indonesia
bekerjasama dengan PMMC & GP Farmasi
Indonesia menggagas seminar sosialisasi
bahaya narkoba & miras oplosan yang bertajuk:
“Membangun Generasi Muda Yang Tangguh,
Berjiwa, Berfikir & Berinovasi Tanpa Narkoba”.
Bertempat di Gedung Nelayan PPNP, seminar
ini dihadiri oleh sekitar 200 orang peserta yang
berasal dari pengurus OSIS sekolah menengah
pertama di Sukabumi, Mahasiswa serta Karang
Taruna setempat.
6

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Seminar dipandu oleh dr. Fredrik Hendrik selaku
pembicara bersama AKP Teddy S Kasat Narkoba
Polres Sukabumi serta Managing Director PT.
Actavis Indonesia, dr. Parulian Simandjuntak
yang membuka acara didampingi oleh Drs.
Kendrariadi Suhanda, MBA selaku Ketua Umum
PMMC & Wakil Sekjen GP Farmasi Indonesia.
Dan keseluruhan acara disaksikan juga oleh Drs.
T. Bahdar Johan Hamid, Apt., M.Pharm, Deputi I
Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA
BPOM RI.
Selama kurun waktu 2 jam lebih dari pukul
10:00 pagi sampai dengan pukul 13.00 siang, para
peserta dibekali dengan berbagai pengetahuan
dan informasi yang benar dan tepat tentang
NAPZA termasuk tentang kaitan NAPZA dan
berbagai resiko yang mengintai dari penyakit
kelamin, HIV Aids sampai kematian. Selain itu
peserta seminar juga diberikan bekal pengetahuan
sanksi-sanksi hukum terkait pelanggaran terhadap
UU narkotika yang disampaikan secara khusus
oleh AKP Teddy S, Kasat Narkoba Polres Sukabumi.
Acara berlangsung dengan menarik karena
hampir sebagian besar peserta yang hadir
memiliki minat yang tinggi terhadap pengetahuan
seputar NAPZA dan bahaya nya. Sesi Tanya jawab
dengan peserta seminar pun berlangsung dengan
meriah dan menarik hingga usai acara pada saat
jam makan siang. (rd)

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

7

edisi

LIPUTAN KHUSUS

Actavis Indonesia

maret - april 2015

edisi

maret - april 2015

Gelar CSR
di PAlabuhanRatu

Dalam sepuluh tahun terakhir,
PT Actavis Indonesia rutin mengadakan
pengobatan gratis dan memberikan sumbangan
kepada masyarakat kurang mampu.
Tak hanya di Jakarta, tetapi juga di beberapa
daerah.
Parulian Simandjuntak , Managing Director Actavis Indonesia

Setiap perusahaan memiliki tanggung
jawab sosial. Tak terkecuali dengan
industri farmasi. Tanggung jawab sosial
mereka lazimnya dikemas melalui program
Corporate Social Responsibility (CSR).
Akhir pekan lalu, sejumlah perusahaan
farmasi yang berkantor di Jakarta
melakukan bakti sosial di Palabuhanratu,
Sukabumi, Jawa Barat. Berbagai kegiatan,
seperti pengobatan gratis bagi masyarakat
dan penyuluhan bahaya narkoba kepada
para pelajar digelar di sini.
Salah satu yang andil dalam kegiatan ini
adalah PT Actavis Indonesia. Perusahaan
farmasi asing yang berkantor pusat di
Amerika Serikat ini, dikenal cukup aktif
dalam kegiatan sosial.
“Kegiatan bakti sosial menjadi salah satu
agenda rutin dalam program CSR kami
selama bertahun-tahun,” ujar Parulian
Simandjuntak , Managing Director Actavis
Indonesia, kepada varia.id, di Jakarta, 1
April 2015 .
Selain bakti sosial, kata Parulian, Actavis
Indonesia juga memiliki beragam kegiatan
CSR lainnya. Tahun dalam sepuluha tahun
terakhir, perusahaan ini memberikan
sumbangan ke sekolah-sekolah dan
panti asuhan, bantuan obat-obatan ke
puskesmas di berbagai daerah, korban
8

I PMMCNEWS

bencana alam, hingga pemberian beasiswa
bagi anak karyawan Actavis.
Perusahaan farmasi yang berlokasi di
Cibubur, Jakarta Timur, ini juga menjalin
kerjasama dengan Yayasan Penyelamatan
Orangutan Borneo, di Kalimantan sejak
tahun 2010- 2013. Di yayasan ini, Actavis
Indonesia menjadi “orang tua asuh”
seekor orangutan.
“Orangutan ini kami beri nama Acta,”
ujar Parulian.
Parulian memahami, keberadaan
industri farmasi, kerap kali mendapat
sorotan, karena dapat mengakibatkan
dampak lingkungan. Terutama terhadap
sumber air, kondisi tanah, sekitar pabrik.
Namun, menurutnya, dampak buruk ini
bisa dicegah dengan pengelolaan limbah
dan tata kelola industri yang memadahi.
Karenanya, setiap industri farmasi harus
berperan membantu dan membenahi
lingkungan sekitar. Setiap industri farmasi
harus peka terhadap lingkungannya.
“Buat kami, melakukan tanggung
jawab sosial itu secara rutin itu sebuah
kewajiban,” ujar dia.
Ketua PMMC Kendrariadi Suhanda
berpendapat, dalam menjalankan
bisnisnya, industri farmasi tidak boleh
hanya mencari keuntungan semata. Para

pelaku bisnis sektor ini juga harus peduli
dengan lingkungan di mana mereka
berada.
“Industri farmasi perlu juga
memerhatikan nasib masyarakat. Karena
itu, CSR yang dilakukan harus benar-benar
menyentuh pada kebutuhan masyarakat,”
ujarnya kepada varia.id, di Sukabumi, akhir
pekan lalu.
10 besar di dunia
PT Actavis Indonesia memiliki sejarah
yang cukup berbeda dibanding dengan
perusahana farmasi lainnya. Perusahan
ini berdiri pada tanggal 8 November 1969,
dengan nama PT Dumex Indonesia. PT
Dumex Indonesia yang merupakan salah
satu perusahaan multinasional pertama
yang beroperasi penuh di Indonesia.
PT Dumex Indonesia menjadi pemain
utama di pasar antibiotika Indonesia
dengan produknya seperti Durol, Dumin,
Amcillin dan lainnya. Tahun 1983 PT
Dumex Indonesia diakuisisi oleh Alpharma,
sehingga nama perusahaan baru
disesuaikan menjadi PT Dumex-Alpharma
Indonesia.
Tahun 2001, perusahaan ini kembali
berubah nama menjadi PT Alpharma,
yang mengkonsentrasikan diri pada bisnis

Pharma Materials Management Club

Ethical dan OTC (Over The Counter).
Dengan diakuisisinya Divisi Internasional
Alpharma oleh Actavis, pada bulan Maret
2006 PT Alpharma berubah menjadi PT
Actavis Indonesia.
Tepat pada 31 October 2012, Watson
Pharmaceutical Inc. di Parsippany, New
Jersey, Amerika Serikat resmi mengakuisisi
Actavis global. Adapun nama Actavis plc
(NYSE: ACT) resmi di gunakan pada 24
Januari 2013.
Parulian mengklaim, Actavis Indonesia
merupakan salah satu perusahaan farmasi
asing besar di Indonesia. Dibandingkan
dengan farmasi lokal, penguasaan pasar
produk Actavis Indonesia memang lebih
kecil.
Namun, dari jumlah industri farmasi
asing di Indonesa yang mencapai 20
perusahaan, Actavis Indonesia termasuk
dalam 15 besar. “Sementara di kancah
internasional, Actavis global termasuk 10
besar,” tandasnya. (www.varia.id)

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

9

edisi

maret - april 2015

"WE CARE WE SHARE"

"WE CARE WE SHARE"

Palabuhanratu, 27 - 29 Maret 2015

10

I PMMCNEWS

Palabuhanratu, 27 - 29 Maret 2015

Pharma Materials Management Club

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

11

edisi

maret - april 2015

edisi

maret - april 2015

"berbagi kasihsayang"

"berbagi kasihsayang"

Jakarta, 13 Februari 2015

12

I PMMCNEWS

Jakarta, 13 Februari 2015

Pharma Materials Management Club

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

13

edisi

maret - april 2015

edisi

maret - april 2015

Bukti CPhI SEA 2015
adalah platform
terpercaya
Menurut ibu Maria
Lioe"CPhI SEA
memfasilitasi pertemuan
pelaku industri farmasi
global dengan pengusaha
farmasi lokal sehingga
tercapai langkah bisnis
selanjutnya,".
Convention on Pharmaceutical
Ingredients South East Asia (CPhI SEA)
2015 di Indonesia untuk keempat kalinya
akan digelar oleh United Business
Media (UBM) Asia. CPhI SEA 2015 akan
diselenggarakan pada 8-10 April 2015 di
Jakarta International Expo, Kemayoran,
Jakarta Pusat.
Ibu Maria Lioe sebagai Event
Director PT UBM Pameraga Indonesia
mengatakan, pameran CPhI SEA 2015
ini diselenggarakan pertama kali pada
2012 lalu dan didukung oleh GP Farmasi
Indonesia dan PMMC.
Beliau mengungkapkan alasan
Indonesia dipilih menjadi tuan rumah
CPhI SEA 2015 karena negara ini memiliki
tingkat perekonomian terbesar di Asia
Tenggara dengan populasinya yang lebih
dari 250 juta jiwa dan peringkat ke 4
dunia jumlah penduduknya.
Perkembangan ekonomi yang kuat dan
stabil dengan prediksi rata-rata sekitar
5,5 persen setiap tahunnya hingga tahun
2018 mendatang juga menjadi faktor
dipilihnya Indonesia.
"Indonesia juga menjadi pasar yang
potensial karena lebih dari 90 persen
bahan baku obat masih diimpor.

14

I PMMCNEWS

Terakhir, negara ini memiliki program
kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) Kesehatan," katanya saat
konferensi pers CPhI 2015, di Jakarta,
Kamis (26/3).
Pameran CPhI SEA yang keempat ini
diklaim Maria menjadi bukti CPhI SEA
2015 adalah platform terpercaya untuk
badan pemerintah, asosiasi perdagangan,
dan lembaga regulator mendapatkan
perkembangan terbaru mengenai pasar
bahan baku farmasi, menyosialisasikan
kebijakan baru, dan program mendatang
untuk industri.

Di CPhI 2015 ini, tercatat lebih dari 260
peserta dari 25 negara seperti Bahrain,
Brasil, Kolombia, Lithuania, hingga
Yordania akan menampilkan produk
bahan baku farmasi unggulan, mesin,
perlengkapan, dan produk kemasan.
Penyelenggaraan CPhI SEA tahun ini,
UBM mengaku tidak menarget transaksi.
Terpenting tujuan CPhI 2015 untuk
memfasilitasi pertemuan pelaku usaha
farmasi dunia dengan pengusaha Tanah
Air dapat diwujudkan.
Bapak Kendrariadi Suhanda
menyambut baik pameran CPhI 2015 ini.
Sebab, para pengusaha farmasi Indonesia
bisa bekerja sama menggandeng
perusahaan obat asing untuk berinvestasi.
Jelas bapak Kendrariadi S, bahan baku
obat yang diimpor perusahaan farmasi
Indonesia sangat besar yaitu di kisaran
85-90 persen, mayoritas dari India dan
Cina, sisanya impor dari Benua Eropa.
Beliau menambahkan, negara ini
harus memiliki teknologi kimia dasar
yang kuat jika tidak ingin bergantung
pada impor bahan baku dan dibutuhkan
komitmen pemerintah untuk mendukung
perusahaan farmasi nasional. (tph/dbs)

Pharma Materials Management Club

edisi

maret - april 2015

SEJARAH Panti Asuhan

SOS KINDERDORF

Hermann Gmeiner ( 1919 – 1986 ) mendapat
panggilan hati untuk berbuat sesuatu bagi
perbaikan nasib anak-anak terlantar. Sebagai
mahasiswa di Innsburck, Austria, ia menyaksikan
betapa kejamnya warisan Perang Dunia II, yang
telah menyebabkan ribuan anak menjadi terlantar
dan berkeliaran di dalam kota-kota yang telah
hancur akibat perang.
Keadaan tersebut telah menggerakkan
hatinya, sehingga pada musim panas tahun
1949 ia meninggalkan bangku kuliahnya untuk
melaksanakan cita-citanya. Segera mencari
sumbangan-sumbangan uang yang disatukan
dengan uang simpanannya sendiri sebesar
600 Shilling Austria (US $ 30) dan pada bulan
November 1949 ia mendirikan Yayasan SOS
Kinderdorf.
Dasar pemikirannya untuk mendirikan SOSKinderdorf adalah sangat sederhana, yaitu bahwa
anak-anak terlantar itu telah kehilangan orangtua
yang sangat mencintai mereka. Oleh karenanya
mereka perlu dicarikan orang tua baru.
Pada umumnya, yang mampu mencintai anakanak kecil secara penuh adalah wanita. Ia merasa
perlu untuk mencari wanita-wanita yang bersedia
mencintai mereka dan sanggup menerima
mereka bagaikan anak sendiri. Pada kenyataannya
banyak sekali janda maupun wanita yang tidak
bersuami yang ingin hidup mandiri. Kalau saja
diantara wanita-wanita tersebut ada yang merasa
terpanggil dan ingin menyayangi anak-anak
terlantar dan bersedia hidup bersama mereka, ia
yakin bahwa dengan demikian akan dapat tumbuh
suatu keluarga yang bahagia.
Pada tahun 1950 telah terkumpul sejumlah
ibu pengasuh dan uang untuk membangun 5
buah rumah diatas tanah sumbangan pemerintah
Kotamadya Imst, suatu kota kecil kira-kira 35 mil di
sebelah barat kota Innsburck. Pada pertengahan
dasawarsa tahun 50-an SOS Kinderdorf telah
berkembang ke Perancis, Jerman Barat, Italia dan
Spanyol.
Pada dasawarsa selanjutnya telah berkembang
terus ke Negara-negara berkembang, seperti Asia,
Afrika, Amerika Latin dan beberapa Negara Arab
lain. Konsep SOS Kinderdorf cepat berkembang
karena didasari oleh gagasan keluarga sebagai
unit terkecil dari masyarakat yang sifatnya
universal. Disamping itu, setiap SOS Kinderdorf
selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat,
kebudayaan dan agama setempat.
Pada saat ini terdapat 54.000 anak yang
ditampung di dalam 423 SOS Kinderdorf dan
Rumah Remaja yang tersebar di 132 negara di
dunia. Selain itu, masih ada lebih dari 1000 proyek
tambahan yang didirikan oleh SOS Kinderdorf yang
berupa Sekolah, Balai Pendidikan Ketrampilan,
Bengkel, Pusat Sosial dan Kesehatan Masyarakat,

Pharma Materials Management Club

Taman Kanak-kanak, Pusat Pengembangan
Remaja serta Program Bantuan Bencana dan
Pengungsi. Meskipun demikian hal ini belum
memenuhi harapan Hermann Gmeiner, karena
cita-citanya adalah agar setiap Negara di dunia ini
dapat memiliki sekurang-kurangnya sebuah SOS
Kinderdorf.
Diakuinya bahwa untuk membiayai kegiatankegiatan SOS Kinderdorf akan dibutuhkan
uang yang tidak sedikit. Namun ia yakin bahwa
dengan banyaknya pendukung atas gagasan SOS
Kinderdorf, maka hal tersebut dapat dipecahkan.
PENDIDIKAN DI SEKOLAH
Berdasarkan pada prinsip pembauran sebagai
terapi, maka pada dasarnya SOS Desa Taruna tidak
menyelenggarakan sekolahnya sendiri, kecuali
Taman Kanak-kanak, yang juga terbuka bagi
masyarakat umum. Anak asuh diberi kesempatan
untuk menuntut ilmu sesuai dengan bakat dan
kemampuannya masing-masing. Jika dipandang
perlu, di dalam SOS Desa Taruna dapat disediakan
sarana-sarana untuk berlatih berbagai bidang
ketrampilan.
Sudah banyak sarjana dan sarjana muda yang
dihasilkan oleh SOS Desa Taruna, dan para lulusan
SLA yang tidak memungkinkan melanjutkan
ke Perguruan Tinggi pun dibekali ketrampilan
tambahan untuk memulai kehidupan yang
mandiri.
BIAYA
Biaya yang dipergunakan berasal dari
sumbangan-sumbangan, baik yang berasal dari
dalam negeri maupun luar negeri, yang disalurkan
melalui SOS Kinderdorf International. Setiap Desa
SOS diharapkan lambat laun dapat mandiri, artinya
tidak perlu menggantungkan dirinya pada bantuan
luar negeri. Dalam pelaksanaan pengasuhan ini,
kami berkomitmen untuk menggunakan seluruh
dana dan sumber daya secara bijaksana, didasari
oleh rasa saling menghargai dan bertanggung
jawab, sejak awal didirikan SOS Desa Taruna selalu
diaudit oleh akuntan publik.
MANFAAT LAIN DENGAN ADANYA SOS DESA
TARUNA
Manfaat adanya SOS Desa Taruna di suatu
tempat dapat dirasakan dan digunakan untuk
kepentingan masyarakat yang lebih luas,
khususnya bagi lembaga-lembaga sosial dan
organisasi-organisasi wanita, diantaranya dapat
dipergunakan sebagai :
a. Panutan bagi masyarakat sekelilingnya dalam
melaksanakan hidup yang sehat, teratur, dan
bersih, sekaligus hangat dan akrab dalam satu
keluarga
b. Turut membantu mengembangkan

masyarakat sekeliling melalui proyek sosial
masyarakat seperti Posyandu, Puskesmas,
sekolah, Taman Kanak-kanak, Pusat Pelatihan
Ketrampilan dan sebagainya.
c. Tempat kuliah kerja dan riset untuk
bidang-bidang yang menyangkut masalah
sosial, psikologi, kesehatan anak-anak dan
sebagainya.
d. Tempat praktek para calon pekerja sosial,
khususnya menangani masalah anak-anak
terlantar.
PARTISIPASI
Setiap orang dapat berpartisipasi dengan SOS
Desa Taruna di dalam usaha-usahanya mengatasi
masalah-masalah anak-anak kurang beruntung,
yaitu dengan menjadi “ SAHABAT SOS DESA
TARUNA “. Partisipasi semacam itu sifatnya
sukarela dalam bentuk maupun bidang yang
beraneka ragam seperti :
a. Sumbangan sukarela secara berkala maupun
incidental, baik berupa dana maupun barang.
b. Menjadi orang tua asuh yang secara berkala
membantu seorang anak asuh atau lebih, yang
disebut SPONSOR.
c. Mengadakan kunjungan secara periodik atau
menghibur anak-anak SOS Desa Taruna dan
mengadakan kegiatan lainnya sebagai rasa ikut
memiliki SOS Desa Taruna.
d. Membantu anak remaja SOS untuk
mendapatkan pendidikan keahlian dan
ketrampilan, serta membantu menyalurkan
mereka ke tempat-tempat kerja yang sesuai
dengan keahlian dan ketrampilannya.
Dengan ini SOS Desa Taruna menghimbau
kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk
bersama-sama menjadikan dunia tempat kita
tinggal ini menjadi lebih indah, lebih adil dan
damai terutama bagi anak-anak, yaitu dengan
memberikan perhatian kepada anak manusia yang
kurang beruntung, agar mereka mendapatkan
kembali harapan-harapan bagi hari depannya.
Setiap lima tahun kami merancang program 5
tahunan. Program lima tahunan ( 2003 - 2008 )
SOS Desa Taruna Jakarta adalah :
1. Pengasuhan Anak berjangka panjang dan
berbasis keluarga memang yang terbaik dan
diakui oleh Pemerintah dan masyarakat
2. Memperkuat keluarga-keluarga “ Strengthening
the Families Prevention of Child Abandonment “
dengan mendirikan Social Center.
3. Menyelenggarakan Penelitian tentang Pola
Pengasuhan tersebut diatas.
4. SOS Desa Taruna Jakarta diharuskan
menggalang dana untuk memenuhi target 30 %
biaya operasional.

PMMCNEWS I

15

edisi

maret - april 2015

16

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club