Anda di halaman 1dari 12

Tugas Dasar Keselamatan Kerja

Disusun oleh:
Nama

:Lasna Khadijah Naibaho

Nim

: 121000009

Kelas

:A

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013

NAMA-NAMA KELOMPOK 1

Ketua

: Yanta Sinisura S. Keloko

120600104

Sekretaris

: Defri Komala Sari

120600010

Anggota

:
T. Azra Sahira

(120600001)

Deli Masri

(120600002)

Alfia Rizwika

(120600003)

Indah Anggaraini

(120600004)

Intan Saulina Mardia

(120600005)

Sri Ratna Permata Sari

(120600006)

Arfita Sipahutar

(120600007)

Nazlia Aufa Hafart

(120600008)

Nita Budiarti

(120600009)

Ovie Endang Saputri

(120600041)

Nining Suryani Saragih

(120600042)

Ismi Syahara

(120600043)

Shinta Agustina

(120600044)

Ivan Aldini

(120600045)

Agnes F R P Mendrofa

(120600101)

Olda Priskilla Naomi

(120600102)

Santy Monica Gowasa

(120600103)

Aini Ramadhani

(120600105)

Kelvin

(120600106)

Ulfa rahmawati

(120600107)

Buahna Lumban Gaol

(120600108)

Nur Hardiyanti

(120600109)

Dormina B L H

(120600110)

Gwee Shi Hao

(120600201)

Navashangkari

(120600211)
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tidak dapat kita hindari, bahwa sekarang disekitar kita telah banyak orang yang
mempunyai gaya hidup tidak sehat. Karena adanya gaya hidup yang tidak sehat ini maka
akan menyebabkan timbulnya tubuh yang tidak sehat pula. Berbagai penyakit dapat timbul
dan akan mengganggu sistem metabolisme tubuh. Metabolisme mencakup semua proses
fisika dan kimia yang keseluruhannya akan mempertahankan serta memelihara tubuh
sehingga baik badaniah maupun dalam fungsifungsinya memperlihatkan kesehatan yang
wajar. Obesitas adalah salah satu kondisi yang disebabkan oleh ketidaksehatan hidup dan
pola makan sehari-hari yang kemudian akan berhubungan dengan sindroma metabolik.1

I.2 Deskripsi Topik


Ny.S, perempuan umur 40 tahun, datang dengan keluhan mudah lelahwaktu
melaksanakan pekerjaan sehari-hari dan sering sakit kepala. Ny.S juga mengakui bahwa dia
setiap hari makan siangnya berupa makanan siap saji dan pekerjaan sehari-hari sering duduk
di depan komputer mengingat pekerjaannya sebagai kasir. Dari hasil pemeriksaan Ny. S
ditemukan BB = 75 Kg, TB = 155 cm, Lingkar pinggang = 100 cm.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Patogenesis Timbul Rasa Lelah
Peningkatan LDL dapat bmeningkatkan transpor kolestrol dari hati ke jaringan dan
juga ke dinding dinding arteri .Hal ini lah yang menyebabkan timbulnya trombus di dinding
pembuluh darah / arteriosklerosis. akibatnya.,venous return menurun , preload dan afterload
jantung meningkat, ditambah lagi usia tidak lagi muda, dinding arteri semakin tidak elastik
maka kerja jantung akan semakin berat.
Akibatnya pasokan darah yang mengandung nutrisi dan O2 ke otot akan berkurang. Hal ini
menyebabkan rasa lelah. Bila ditinjau dari keluhan pusingnya, hal ini disebabkan oleh asupan
O2 dan glukosa ke otak yang mengalami penurunan akibat penyumbatan pembuluh darah
sebagai akibat dari tingginya kadar kolesterol darah
II.2 Fungsi dan Mekanisme Regulasi Sekresi Hormon Insulin dan Glukagon
Hormon insulin dihasilkan oleh sel sel langerhans pada pankreas. Harmon insulin
berfungsi untuk meningkatkan glikogenesis dan menghambat glikogenolisis. Terjadinya
peristiwa glikogenesis berarti terjadi pengurangan glukosa yang diambil untuk sintesis
glikogen, yang juga berarti menurunkan kadar glukosa dalam darah. Yang menghambat
sekresi insulin adalah hormon epinefrin dan hormon nor epinefrin. Sedangkan yang
mendorong sekresi insulin yaitu asam amino, asam lemak bebas, benda keton, glukagon,
sekretin, sulfonil, urea, tulbotamid dan gliburit. Maka bila kadar insulin dalam tubuh berlebih
akan terjadi hipoglikemia (kekurangan gula darah). Sedangkan apabila kadar glukosa
berlebih (dalam keadaan hiperglikemia) insulin diproduksi.

Hormon glukagon diproduksi oleh sel-sel langerhans pangkreas. Hormon glukagon


memiliki fungsi yang sebaliknya dengan insulin yaitu menaikkan glukosa dalam darah
dengan meningkatkan glikogenolisis dengan cara menstimulir glikogen fosforilase dan
menekan glikogen sintase yang menyebabkan terlepasnya glikogen dalam hati. Maka bila
kelebihan glukagon tubuh akan mengalami hiperglikemia. Sedangkan apabila tubuh
mengalami hipoglikemia glukagon diproduksi. Dalam keadaan stress ada hormon lain yang
juga membantu menaikkan kadar glukosa dalam darah, yaitu hormon epinefrin (adrenalin)
yang merangsang pembebasan glukosa dari glikogen. Hormon ini membantu tubuh kita untuk
berkelahi dan berlari dalam keadaan darurat.2
II.3 Patogenesis Insulin Resistensi dan Hubungannya Dengan Sindrom Metabolik
Resistensi insulin adalah kondisi di mana sensitivitas insulin menurun. Sensitivitas
insulin adalah kemampuan dari hormon insulin menurunkan kadar glukosa darah dengan
menekan produksi glukosa hepatik dan menstimulasi pemanfaatan glukosa di dalam otot
skelet dan jaringan adiposa.
Sindrom resistensi insulin yang dihubungkan dengan obesitas dan DMT2
menyebabkan berbagai abnormalitas metabolisma tubuh, seperti dislipidemia, hipertensi,
arterosklerosis dan pembentukan pro-koagulan. Berbagai abnormalitas tersebut merupakan
faktor-faktor risiko penyebab penyakit jantung koroner. Dislipidemia adalah kelainan
metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam
plasma. Dislipidemia mengacu pada kondisi di mana terjadi abnormalitas profil lipid dalam
plasma.2
Beberapa kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL, trigliserida (TG), serta penurunan kolesterol HDL. Berbagai perubahan profil
lipid tersebut saling terkait satu dengan lain sehingga tidak dapat dibicarakan sendiri-sendiri.
Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko utama aterosklerosis dan penyakit
jantung koroner. Dislipidemia adalah salah satu komponen dalam trias sindrom metabolik
selain diabetes dan hipertensi.
Gejalanya yaitu biasanya kadar lemak yang tinggi tidak menimbulkan gejala. Kadangkadang, jika kadarnya sangat tinggi, endapan lemak akan membentuk suatu penumpukan

lemak yang disebut xantoma di dalam tendon dan didalam kulit. Kadar trigliserida yang
sangat tinggi bisa menyebabkan pembesaran hati dan lmpa dan gejala-gejala dari pankreatitis
(misalnya nyeri perut yang hebat).4
Ii.4 Sindroma Metabolik Sebagai Komplikasi Obesitas
Obesitas (kegemukan) adalah salah satu penyebab resistensi insulin. Simpanan
adiposa yang tinggi pada orang gemuk mengaktifkan paling tidak salah satu enzim, yaitu
lipoprotein lipase yang meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas dalam darah.
Konsentrasi tinggi asam lemak bebas menstimulasi pelepasan sitokin seperti TNF-a (tumor
necrosis factor-alpha) yang memicu resistensi insulin
Ii.5 Kriteria Diagnostik Sondroma Metabolik Secara Klinis dan Laboratorium
Sindroma metabolik merupakan kumpulan dari faktor risiko metabolik yang berhubungan
dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes mellitus (DM) tipe 2. Faktor
risiko tersebut antara lain terdiri dari dislipidemia atherogenik, peningkatan tekanan darah,
peningkatan kadar glukosa plasma, keadaan protrombotik dan proinflamasi. Hal ini
menyebabkan sindroma menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang utama pada saat
ini. Kumpulan gejala yang muncul pada sindroma metabolik antara lain resistensi insulin,
tekanan darah tinggi (hipertensi), gangguan kolesterol dan peningkatan resiko pembekuan
darah (clotting). Pasien yang mengalami gejala gejala ini umumnya gemuk.
Menurut buku panduan dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel
(ATP III) tahun 2001, terdapat tiga ciri utama kriteria sindroma metabolik, yaitu :

Lingkar perut pada laki laki lebih dari 102 cm dan lebih dari 88 cm pada perempuan.

Kadar triglycerida darah lebih dari 150 mg/dl.

HDL kolesterol lebih rendah dari 40 mg/dl pada laki laki dan 50 mg/dl pada
perempuan.

Tekanan darah diatas 130/85 mmHg.

Gula darah puasa lebih dari 110 mg/dl.

Terdapat sedikit perbedaan kriteria menurut World Health Organization (WHO) yakni :

Kadar insulin yang tinggi, peningkatan kadar gula darah puasa atau peningkatan kadar
gula darah 2 jam setelah makan dengan diikuti oleh sekurang kurangnya 2 kriteria
tambahan di bawah ini :

Kegemukan pada daerah perut dengan rasio antara pinggang dan pinggul lebih dari
0,9, body mass index (BMI) sekurang kurangnya 30 kg/m2 atau lingkar pinggang
lebih dari 37 inchi.

Pada pemeriksaan kolesterol ditemukan kadar triglycerida sekurang kurangnya 150


mg/dl atau HDL kolesterol kurang dari 35 mg/dl.

Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.

Pemeriksaan laboratorium, meliputi :


-

Kadar glukosa plasma dan profil lipid puasa.

Pemeriksaan klem euglikemik atau HOMA (homeostasis model assessment) untuk

menilai resistensi insulin secara akurat biasanya hanya dilakukan dalam penelitian dan tidak
praktis diterapkan dalam penilaian klinis.
-

Highly sensitive C-reactive protein

Kadar asam urat dan tes faal hati dapat menilai adanya NASH.

USG abdomen diperlukan untuk mendiagnosis adanya fatty liver karena kelainan ini

dapat dijumpai walaupun tanpa adanya gangguan faal hati.


II.6 Patogenesis Sindrom Metabolik-5
Dari beberapa pendapat ahli menyebutkan bahwa faktor genetik dan lingkunganlah yang
memegang peranan penting terjadinya sindroma metabolik. Riwayat keluarga dengan
diabetes tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung akan meningkatkan kemungkinan seseorang
menderita sindroma metabolik. Fator lingkungan yang berperan antara lain kurangnya
berolah raga, gaya hidup yang buruk, dan peningkatan berat badan yang terlampau cepat.

Sindroma metabolik terjadi pada 5% orang dengan berat badan normal, 22% pada orang
dengan kelebihan berat badan dan 60% pada orang yang gemuk. Orang dewasa yang berat
badannya meningkat lebih dari 5 kg per tahun akan meningkatkan pula resiko terjadinya
sindroma metabolik sekitar 45%.
Jadi, melihat gambaran diatas, kegemukan merupakan faktor resiko yang sangat penting
terjadinya sindroma metabolik disamping hal hal berikut :

Perempuan yang telah memasuki menopause.

Merokok.

Mengkonsumsi terlalu banyak karbohidrat.

Kurang berolah raga.

Mengkonsumsi minuman beralkohol.5

II.7 Komplikasi Dari Sindroma Metabolik


1. Penyakit kardiovaskular terutama jantung
2. Diabetes
3. Timbunan lemak pada hati (fatty liver) yang pada akhirnya akan menyebabkan
terjadinya sirosis
4. Terjadinya kebocoran protein pada urine yang berpotensi terjadinya kerusakan ginjal.
II.8 Penatalaksanaan Farmakologi dan Non Farmakologi Pada Sindroma Metabolik
Terhadap pasien2 yang mempunyai faktor risiko dan tidak dapat ditatalaksana hanya dengan
perubahan gaya hidup, intervensi farmakologik diperlukan untuk mengontrol tekanan darah
dan dislipidemia. Penggunaan aspirin dan statin dapat menurunkan kadar C-reactive protein
dan memperbaiki profil lipid sehingga diharapkan dapat menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular. Intervensi farmakologik yang agresif terhadap faktor2 risiko telah terbukti
dapat mencegah penyulit kardiovaskular pada penderita DM tipe 2.

Farmakologis
Sulfonilurea

Menurunkan sekresi glukagon.

Menutup potassium channel.

Dapat menyebabkan hipoglikemia.

Biguanid

Gol. biguanid yang sering digunakan metformin

Menurunkan glukoneogenesis

Memperlambat absorbsi glukosa dari GI tract

Stimulasi langsung glikolisis di jaringan

Menurunkan plasma glucagon

Meningkatkan pemakaian glukosa di usus

Glitazone

Agonis PPAR

Merangsang ekspresi beberapa protein yang dapat memperbaiki sensitivitas insulin


dan memperbaiki glikemia.

Mempengaruhi pelepasan mediator resistensi insulin .

Inhibitor -glukooksidase

termasuk dlm acarbose (Precose,Glucobay) & miglitol(Glyset) memiliki cara kerja


mengurangi kadar glukosa dgn menginterfensi penyerapan sari pati dlm usus.

Acarbose cenderung menurunkan kadar insulin stlh makan

Alpha glucosidase inhibitor ini tdk seefektif obat lain bila diguna sbg terapi
tunggal.Bila dikombinasi dgn metformin,insulin atau sulfonylurea,bisa meningkatkan
efektivitasnya.

Efek samping:produksi gas dlm perut & diare.Mungkin mempengaruhi penyerapan


zat besi.

Penatalaksanaan Non Farmakologi :


1. Latihan fisik
Dengan meningkatkan aktivitas fisik terbukti dapat menurunkan kadar lipid dan resistensi
insulin didalam otot rangka.
1. Diet
Sasaran utama dari diet terhadap sindrom metabolik adalah dapat menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular dan diabetes mellitus.
1. Edukasi
Dengan pengetahuan yang memadai tentang bahaya dan penatalaksanaan sindrom metabolik,
maka akan membantu menurunkan risiko penyulit dari sindrom metabolik.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan dan Saran

Sindrom Metabolik atau Sindrom X merupakan kumpulan dari faktor2 risiko untuk
terjadinya penyakit kardiovaskular yang ditemukan pada seorang individu. Faktor-faktor
risiko tersebut meliputi dislipidemi, hipertensi, gangguan toleransi glukosa dan obesitas
abdominal/sentral. The National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel III
(NCEP-ATP III) mendapatkan bahwa sindrom metabolik merupakan indikasi untuk dilakukan
intervensi terhadap gaya hidup yang ketat, meliputi diet, latihan fisik dan intervensi
farmakologik. Penurunan berat badan secara bermakna dapat memperbaiki semua aspek dari
sindrom metabolik. Demikian pula peningkatan aktifitas fisik dan pengurangan asupan kalori
akan memperbaiki abnormalitas sindrom metabolik. Perubahan diet spesifik ditujukan
terhadap aspek2 tertentu dari sindrom metabolik seperti :
Mengurangi asupan lemak jenuh untuk menurunkan resistensi insulin
Mengurangi asupan garam untuk menurunkan tekanan darah
Mengurangi asupan karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi untuk menurunkan kadar
glukosa darah dan trigliserida
Diet yang banyak mengandung buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, lemak tak
jenuh dan produk2 susu rendah lemak bermanfaat pada sebagian besar pasien dengan
sindrom metabolik. Dokter keluarga efektif dalam membantu pasien merubah gaya hidupnya
melalui pendekatan individual untuk menilai adanya faktor2 risiko spesifik, intervensi
terhadap faktor2 risiko tersebut serta membantu pasien dalam mengidentifikasi hambatan2
yang dialami dalam upaya merubah perilaku.

DAFTAR PUSTAKA
1. Purwanto A. Proses Metabolisme.
<http://dietingsecrets.multiply.com/journal/item/26&gt . (21 Mei 2013)

2. Fitriadi Y. Regulasi Insulin dan Glukagon. <http://yozafitriadi.blogspot.com/2011/01/regulasi-insulin-dan-glukagon-dalam.html >. (21 Mei


2013)
3. Febrianty C. Rahasia Dalam Sebatang Coklat.
<http://cindyfebrianti.blogspot.com/2011/03/rahasia-dalam-sebatang-coklat.html&gt;.
(21 Mei 2013)
4. Anonimous. Sindrom Resistensi Insulin. <http://www.gizi.net/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid1010037414,63012,&gt;. (21 Mei 2013)
5. Anonimous. Mari Mengenal Sindroma Metabolik.
<http://www.blogdokter.net/2009/07/04/mari-mengenal-sindroma-metabolik/>. (21
Mei 2013).