Anda di halaman 1dari 4

Golongan antibiotik

Golongan antibiotik Menurut Stephens (2011), walaupun terdapat hampir 100


antibiotik namun mayoritasnya terdiri dari beberapa golongan. Golongan-golongan tersebut
adalah :
1. Golongan Beta-Laktam
a. Golongan penisilin
Penisilin merupakan antara antibiotik yang paling efektif dan paling
kurang toksik. Penisilin mengganggu reaksi transpeptidasi sintesis dinding sel
bakteri. Golongan penisilin dapat terbagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
Zat-zat dengan spektrum sempit terdiri dari peniciline G dan peniciline-V
dan fenetisilin. Aktif terhadap kuman Grampositif dan diuraikan oleh
penisilinase
Zat-zat tahan-laktamase terdiri dari metisilin, kloksasilin dan
flukloksasilin. Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan streptokok.
Zat-zat dengan spektrum-luas terdiri dari ampicilindan amoxicillin,
bakampisilin, pivampisilin, CO Amoksiklav (amoksisilin-asam klauvanat)
Zat-zat anti-Pseudomonas terdiri dari tikarsilin, piperasilin, piperasilin +
tazobaktam, tikarsilin + asam klavulanat
b. Golongan sefalosporin
Golongan ini hampir sama dengan penisilin oleh karena mempunyai cincin
beta laktam. Secara umum aktif terhadap kuman gram positif dan gram negatif, tetapi
spektrum anti kuman dari masing-masing antibiotik sangat beragam, terbagi menjadi
3 kelompok, yakni:
Generasi pertama bertindak sebagai subtitut penisilin G. Termasuk di sini
misalnya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, sefradin. Generasi pertama
kurang aktif terhadap kuman gram negatif.
Generasi kedua agak kurang aktif terhadap kuman gram positif tetapi
lebih aktif terhadap kuman gram negatif, termasuk di sini misalnya
sefamandol dan sefaklor.
Generasi ketiga lebih aktif lagi terhadap kuman gram negatif, termasuk
Enterobacteriaceae dan kadang-kadang peudomonas. Termasuk di sini
adalah sefoksitin (termasuk suatu antibiotik sefamisin), sefotaksim dan
moksalatam.
Generasi keempat adalah terdiri dari cefepime. Cefepime mempunyai
spektrum antibakteri yang luas yaitu aktif terhadap streptococci dan
staphylococci (Harvey, Champe, 2009).
c. Golongan beta-laktam lain
Aztreonam
Bekerja khusus terhadap kuman Gram-negatif aerob termasuk
Pseudomonas, H. Influenzae dan gonocci yang resisten terhadap
penisilinase. Berkhasiat bakterisid dengan cara penghambatan sintesa
dinding sel.
Iminepem

2.

3.

4.

5.

6.

Khasiat bakterisidnya berdasarkan perintangan sintesa dinding sel kuman


sama dengan zat-zat penisilin dan sefalosporin. Sprektrum-kerjanya luas
meliputi banyak kuman Gram-positif dan negatif.
Meropenem
Serupa dengan imipenem tapi lebih tahan terhadap enzim di ginjal yang
dapat mengaktivasi meropenem sehingga dapat diberikan tanpa silastatin
Golongan tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakteriostatik
yang menghambat sintesis protein. Golongan ini aktif terhadap banyak bakteri gram
positif dan gram negatif. Tetrasiklin merupakan obat pilihan bagi infeksi Mycoplasma
pneumonia, chlamydiae dan rickettsiae. Tetrasiklin diabsorpsi di usus halus dan
berikatan dengan serum protein. Tetrasiklin didistribusi ke jaringan dan cairan tubuh
yang kemudian diekskresi melalui urin dan empedu (Katzung, 2007).
Golongan aminoglikosida
Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis-jenis fungi Streptomyces dan
Micromonospora. Semua senyawa dan turunan semi-sintesisnya mengandung dua
atau tiga gula-amino di dalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis.
Spektrum kerjanya luas dan meliputi terutama banyak bacilli gram-negatif. Obat ini
juga aktif terhadap gonococci dan sejumlah kuman gram-positif. Aktifitasnya adalah
bakterisid, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri
pada ribosom di dalam sel. Aminoglikosida termasuk streptomisin, neomisin,
kanamisin, amikasin, paranomisin dan gentamisin. (Katzung, 2007).
Golongan makrolida
Golongan makrolida hampir sama dengan penisilin-G dalam hal spektrum
antikuman, sehingga merupakan alternatif untuk pasien-pasien yang alergi penisilin.
Bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Antara obat dalam golongan ini
adalah eritromisin. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif (Katzung, 2007).
Polipeptida
Kelompok ini terdiri dari polimiksin B, polimiksin E(kolistin), basitrasin dan
gramisidin. Khasiat bakterisidnya berdasarkan aktivitas permukaan dan
kemampuannya untuk melekatkan diri pada membran sel bakteri, sehingga
permeabilitas sel meningkat dan akhirnya meletus. Antibiotik ini sangat toksik bagi
ginjal, polimiksin juga toksik bagi organ pendengaran.
Golongan sulfonamida dan trimetropim
Sulfonamida menghambat bakteri gram positif dan gram negatif. Trimetropim
menghambat asam dihidrofolik reduktase bakteri. Kombinasi sulfamektoksazol dan
trimetoprim untuk infeksi saluran kencing, salmonelosis dan prostatitis (Katzung,
2007). Berdasarkan kecepatan absorpsi dan eksresinya, sulfonamid dibagi dalam 4
golongan besar yaitu :
Sulfonamid dengan absorpsi dan eksresi cepat antara lain sulfadiazin dan
sulfisoksazol.
Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit oleh saluran cerna antara
lainsulfatizol dan sulfasalazin.
Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pemberian topikal antara lain
sulfasetamid mafenid dan Ag sulfadiazin.

Sulfonamid dengan masa kerja panjang antara lain sulfadoksin.


7. Golongan kuinolon dan flurokuinolon
Flurokuinolon merupakan golongan antibiotik yang terbaru. Antibiotik yang
termasuk dalam golongan ini adalah ciprofloksasin (emedicineheath, 2011). Kuinolon
Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan kuinolon lama yang dipasarkan
sekitar tahun 1960. Walaupun obat ini mempunyai daya antibakteri yang baik
terhadap kuman gram negatif, tetapi eliminasinya melalui urin berlangsung terlalu
cepat sehingga sulit dicapai kadar pengobatan dalam darah. Oleh karena itu,
penggunaan obat kuinolon lama ini terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja.
Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan kuinolon baru dengan atom Fluor
pada cincin kuinolon (karena itu dinamakan juga Fluorokuinolon). Perubahan struktur
ini secara dramatis meningkatkan daya bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri,
memperbaiki penyerapannya di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.
Penatalaksanaan
1. Infeksi saluran kemih bawah
Prinsip manajemen ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak, antibiotika
yang adekuat, dan kalau perlu terapi asimtomatik untuk alkalinisasi urin:
Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48jam dengan
antibiotika tunggal; seperti ampisilin 3 gram, trimetoprim 200mg
Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisi (lekositoria) diperlukan terapi
konvensional selama 5-10 hari
Pemeriksaan mikroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukan bila semua
gejala hilang dan tanpa lekositoria.
Reinfeksi berulang (frequent re-infection)
Disertai faktor predisposisi.
Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi faktor resiko.
Tanpa faktor predisposisi
- Asupan cairan banyak
- Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran tunggal
(misal trimetroprim 200mg)
- Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan. Sindroma uretra akut
(SUA). Pasien dengan SUA dengan hitungan kuman 103 -105
2. Infeksi saluran kemih atas
Infeksi saluran kemih atas memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi
klamidia memberikan hasi l yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi disebabkan MO
anaerobic diperlukan antimikroba yang serasi, misal golongan kuinolon. (Sukandar,
E., 2004)
Pielonefritis akut
Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memlihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
Indikasi rawat inap pielonefritis akut adalah seperti berikut:
Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap
antibiotika oral.

Pasien sakit berat atau debilitasi.


Terapi antibiotika oral selama rawat jalan mengalami kegagalan.
Diperlukan invesstigasi lanjutan.
Faktor predisposisi untuk ISK tipe berkomplikasi.
Komorbiditas seperti kehamilan, diabetes mellitus, usia lanjut.

The Infection Disease of America menganjurkan satu dari tiga alternatif terapi
antibiotik IV sebagai terapi awal selama 48-72jam sebelum diketahui MO sebagai
penyebabnya yaitu fluorokuinolon, amiglikosida dengan atau tanpa ampisilin dan
sefalosporin dengan spectrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida.
Antibiotika merupakan terapi utama pada ISK. Hasil uji kultur dan tes
sensitivitas sangat membantu dalam pemilihan antibiotika yang tepat. Efektivitas
terapi antibiotika pada ISK dapat dilihat dari penurunan angka lekosit urin disamping
hasil pembiakan bakteri dari urin setelah terapi dan perbaikan status klinis pasien.
Idealnya antibiotika yang dipilih untuk pengobatan ISK harus memiliki sifat-sifat
sebagai berikut : dapat diabsorpsi dengan baik, ditoleransi oleh pasien, dapat
mencapai kadar yang tinggi dalam urin, serta memiliki spektrum terbatas untuk
mikroba yang diketahui atau dicurigai. Pemilihan antibiotika harus disesuaikan
dengan pola resistensi lokal, disamping juga memperhatikan riwayat antibiotika yang
digunakan pasien (Coyle and Prince, 2005).