Anda di halaman 1dari 3

Penatalaksanaan Mukositis Oral akibat Radiasi Head and Neck

Mukositis adalah efek samping akut dari terapi radiasi, didefinsikan sebagai suatu proses
reaktif yang menyerupai peradangan pada membrane mukosa orofaring dan timbul sewaktu
terapi radiasi kanker pada daerah kepala dan leher dilaksanakan. Mukositis adalah efek samping
yang tidak dapat dihindarkan namun hanya bersifat sementara. Mukositis biasa timbul pada akhir
minggu pertama terapi dengan dosis terapi sekitar 1000 rad. Timbulnya mukositis merupakan
interaksi dari beberapa faktor yaitu, kerusakan lokal pada rongga mulut, keadaan lingkungan
rongga mulut, daya tahan tubuh pasien, kondisi umum pasien yang lemah, dosis, waktu, dan
jumlah radiasi total yang diterima pasien. Mukositis ini biasanya hilang setelah terapi radiasi
dihentikan.
Radiasi sangat berpengaruh terhadap jaringan yang memiliki siklus hidup sel dan laju
pergantian sel yang cepat, sehingga mukosa mulut menjadi salah satu bagian yang sangat
responsive terhadap radiasi. Manifestasi mukositis dimulai dengan berkurangnya jumlah sel
sampai tingkat yang kritis. Kerusakan mukosa ini terjadi akibat tidak diperbaharuinya sel-sel dari
lapisan epitel basal. Bila radiasi yang diberikan kepada pasien setara dengan kemampuan
mukosa oral untuk regenerasi, maka hanya didapati mukositis yang ringan.
Timbulnya mukositis diawali dengan gambaran mukosa yang keputih-putihan, yang
merupakan ciri adanya hiperkeratinisasi tingkat tinggi. Keadaan ini diikuti atau bersamaan
dengan eritema yang timbul karena adanya dilatasi pembuluh darah dan peningkatan
vaskularisasi. Pada mukositis yang lebih parah, tampak setelah tiga minggu terapi radiasi akan
timbul pseudomembran (pembentukan plak mukosa), dan ulserasi. Tingkat ini sering disebut fase
ulseratif bakterial.

Perawatan mukositis:
a. Perawatan sebelum terapi radiasi

1. Persiapan kesehatan mulut pasien sebelum menjalani terapi radiasi, seperti


mengevaluasi secara menyeluruh gigi dan periodonsium terutama daerah karies dan
lesi periapikal. Penambalan, perawatan saluran akar, skaling dan kuretase dilakukan
pada tahap ini. Keadaan periodosium haruslah dalam kondisi yang baik, juga seluruh
bagian mulut haruslah dalam kondisi yang baik karena kemampuan memperbaiki diri
yang berkurang akibat radiasi dan OH yang buruk menyebabkan infeksi
mikroorganisme sehingga memperparah mukositis.
2. Menyingkirkan seluruh sumber trauma yang dapat mengiritasi jaringan lunak seperti
ujung gigi yang tajam, tambalan yang overhanging, gigi palsu yang tidak stabil,
piranti ortodonti.
3. Pencabutan gigi yang diperkirakan akan menimbulkan masalah, maka tindakan ini
sebaiknya dilakukan 14 hari sebelum terapi radiasi berjalan.
4. Menghindari penggunaan tembakau dan alkohol karena bahan ini dapat mengiritasi
mukosa mulut

b. Perawatan Selama Terapi Radiasi Dilakukan


1. Berkumur dengan air hangat yang dicampur dengan baking soda atau garam setiap
dua jam untuk membasahi jaringan mulut dan mengurangi penumpukan debris. Jika
mulut terasa sakit, berkumur dengan satu sendok the Benadryl elixir sebelum makan.
Jika mulut terasa kering, berkumur dengan air dingin setiap sepuluh menit, saliva
pengganti juga dapat digunakan untuk menjaga kelembaban mukosa mulut. Jika
terdapat infeksi oleh jamur, maka dapat digunakan obat kumur yang mengandung anti
jamur.
2. Perawatan gigi dan gusi, menyikat gigi hati-hati agar tidak melukai gingiva dan
dengan cara yang benar, menggunakan bulu sikat yang sangat lembut dan pasta gigi
yang mengandung florida.
3. Nutrisi yang lengkap dan bergizi sangat penting untuk kesehatan mulut dan kesehatan
umum pasien selama menjalani terapi radiasi kanker. Jika mukositis sudah timbul
dapat mengonsumsi makanan yang lembek, dan hindari cokelat yang lengket atau
keripik dan makanan keras lainnya yang dapat menyebabkan trauma

4. Evaluasi keadaan rongga mulut harus selalu dilakukan oleh dokter gigi dan jadwal
pertemuan harus teratur sesuai kondisi mulut yang ada
5. Perawatan pendukung
-

PTA (Polymyxin E. Tombramycin dan Amphotericin B), obat ini telah


terbukti mengurangi tingkat keparahan mukositis yang timbul pada pasien
terapi radiasi kanker pada daerah kepala dan leher. Obat ini digunakan dua
hari sebelum terapi radiasi berjalan dan berlanjut selama terapi radiasi berjalan

Benzydamine hydrochloride adalah obat nonsteroid dengan anastesi,


antiinflamasi, dan antimikroba yang dapat mengurangi tingkat keparahan
mukositis

Obat kumur dengan povidone-iodine juga aman dan dapat mengurangi


keparahan mukositis

Nystatin dan Clotrimazol digunakan untuk merawat infeksi sekunder


mukositis yang disebabkan oleh Kandida. Kandidiasis biasa dirawat dengan
nystatin topikal

Antibiotik untuk perawatan infeksi sekunder yang disebabkan bakteri di


dalam rongga mulut

c. Perawatan setelah terapi radiasi


Perawatan mukositis setelah terapi radiasi kanker selesai dilakukan tidak begitu
berbeda dengan perawatan selama terapi radiasi dilakukan. Mukositis biasanya sembuh
dengan sendirinya bersamaan dengan kembalinya kemampuan memperbaiki diri dari
tubuh dan juga kembalinya kondisi normal rongga mulut. Beberapa mukositis mungkin
baru akan hilang setelah dua sampai empat minggu terapi radiasi dihentikan. Bila infeksi
sekunder masih ada, maka pengobatan dilakukan khusus untuk merawat infeksi sekunder
yang timbul.

Anda mungkin juga menyukai