Anda di halaman 1dari 14

Cekungan-Cekungan

Sedimen di Indonesia
Oleh :

Aditya Rasdi M (270110120049)


Kelas E

Fakultas Teknik Geologi


Universitas Padjadjaran
2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum Indonesia berada pada pertemuan 3 lempeng aktif di
dunia yaiut lempeng Eurasia, India-Australia dan Pasifik. Akibat pertemuan
3 lempeng ini aktivitas tektonik di Indonesia sangat banyak terjadi
sehingga menyebabkan banyaknya cekungan-cekungan sedimen di
sepanjang kepulauan Indonesia. Indonesia yang juga berada pada iklim
tropis juga mengalami proses sedimentasi yang tinggi, hal ini disebabkan
karena energi pelapukan yang besar di sebabkan oleh suhu iklim tropis.
Kerangka fisiografi kepulauan Indonesia dipengaruhi oleh adanya dua
daerah paparan (tanah/daratan) dengan inti kerak yang. Kedua paparan
tersebut adalah paparan Sunda yang menempati bagian barat kawasan
Indonesia dan yang lainnya adalah paparan Sahul-Arafura yang
menempati bagian timur Indonesia (Katili, 1973). Daerah yang terapit
kedua paparan itu berupa busur kepulauan (gugusan kepulauan) yang
rumit geologinya serta cekungan laut dalam yang membentang diantara
kedua daerah paparan tersebut (Van Bemmelen, 1949).

B. Rumusan Masalah
Bagaimana karakteristik, proses terbentuknya dan hubungannya
dengan aktivitas tektonik cekungan-cekungan sedimen yang ada di
Indonesia.
C. Tujuan
Dapat menjelaskan karakteristik, proses terbentuknya dan aktivitas
tektonik yang mengontrol terbentuknya cekungan sedimen di Indonesia.

BAB II
ISI

Cekungan sedimen adalah sebuah tempat di kerak Bumi yang relatif


lebih cekung dibandingkan tempat sekitarnya dimana sungai-sungai
mengalir/bermuara, danau atau laut berlokasi, tempat sedimen-sedimen
diendapkan. Setelah mengalami proses geologi selama jutaan tahun,
maka cekungan sedimen itu bisa berisi batuan sedimen yang
ketebalannya bisa beragam dari beberapa ratus meter sampai beberapa
puluh ribu meter.

Pemetaan terbaru cekungan sedimen di Indonesia oleh para ahli di


Badan Geologi pada tahun 2010 telah dapat memetakan keberadaan 128
cekungan sedimen Indonesia dari berbagai umur batuan, dari sekitar 500
5 juta tahun umur batuan sedimen pengisi cekungan. Dari 128 cekungan
sedimen, saat ini Indonesia memroduksi minyak, gas dan batubaranya
dari 18 cekungan.

Secara umum cekungan di Indonesia dapat dibagi menjadi 2 bagian,


yaitu cekungan yang berada di Paparan Sunda dan Paparan Sahul.
Cekungan pada Paparan Sunda meliputi :
a. Cekungan Sumatra Utara
Pola geologi dan tatanan stratigrafi regional cekungan Sumatra
Utara secara umum telah banyak diketahui berkat hasil aktivitas
eksplorasi minyak dan gas alam serta pemetaan bersistem pulau Sumatra
dalam skala 1:250.000. Keith (1981) dalam google.co.id/cekungansumatera, membuat pembagian stratigrafi Tersier Cekungan Sumatra
Utara menjadi tiga kelompok, yaitu:
o Kelompok I sebagai fase tektonik, pengangkatan dan pengerosian,
berumur Eosen hingga Oligosen Awal.
o Kelompok II merupakan fase genang laut yang dimulai dengan
pembentukan formasi-formasi dari tua ke muda yaitu Formasi Butar,
Rampong, Bruksah, Bampo, Peutu dan Formasi Baong.
o Kelompok III adalah perioda regresif dengan pembentukan kelompok
Lhoksukon.
Jika dilihat dari proses sedimentasi di cekungan sumatera utara.
Kecepatan sedimentasi dan penurunan dasar sedimen ataupun cekungan
pada awal pembentukan cekungan relatif lambat kemudian dilanjutkan
dengan kecepatan sedimentasi lambat tetapi kecepatan penurunan dasar
sedimen ataupun cekungan sangat cepat antara 15.5-12.4 juta tahun lalu.
Penurunan cepat dasar cekungan tersebut merupakan akibat
mulainya rifting di laut Andaman dan pada saat inilah terbentuk serpih
laut dalam Formasi Baong yang kaya material organik dan menjadi salah
satu batuan induk potensial di daerah Aru. Periode antara 12.4-10.2 juta
tahun lalu ditandai dengan kecepatan sedimentasi cukup besar tetapi
penurunan dasar sedimen atau cekungan lebih lambat sebagai awal
pengangkatan Bukit Barisan atau dikenal sebagai tektonik Miosen Tengah.
Batupasir Baong Tengah terbentuk pada periode ini dan merupakan salah
satu batuan waduk (reservoir) daerah Aru.
Pada 9.3-8.3 juta tahun lalu kecepatan sedimentasi sangat besar
tetapi diikuti pula penurunan dasar sedimen atau cekungan yang sangat
besar sehingga penurunan sangat dipengaruhi. oleh pembebanan
sedimen disamping akibat penurunan tektonik.
b. Cekungan Sumatera tengah
Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier
penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi

tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan belakang


busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan
Sumatra tengah adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada
zaman kapur.
Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola
yang hampir sama dengan cekungan Sumatra Selatan, dimana pola
struktur utama yang berkembang berupa struktur Barat laut-Tenggara dan
Utara-Selatan (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo, 1995 dalam
www.google.co.id/cekungan sumatera). Walaupun demikian, struktur
berarah Utara-Selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat
lautTenggara.
Sejarah tektonik cekungan Sumatra tengah secara umum dapat
disimpulkan menjadi beberapa tahap, yaitu :
o Konsolidasi Basement pada zaman Yura, terdiri dari sutur yang
berarah Barat laut-Tenggara
o Basement terkena aktivitas magmatisme dan erosi selama zaman
Yura akhir dan zaman Kapur
o Tektonik ekstensional selama Tersier awal dan Tersier tengah
(Paleogen) menghasilkan sistem graben berarah Utara-Selatan dan
Barat laut-Tenggara
o Akibat aktivitas tektonik terjadi perubahan lingkungan pengendapan
dari lingkungan darat, rawa hingga lingkungan lakustrin, dan ditutup
oleh kondisi lingkungan fluvial-delta pada akhir fase rifting.
Selama deposisi berlangsung di Oligosen akhir sampai awal Miosen
awal yang mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok
Sihapas. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut Pulau Sumatra
menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah
Utara-Selatan
Akhir Miosen akhir volkanisme meningkat dan tektonisme kembali
intensif dengan rejim kompresi mengangkat pegunungan Barisan di arah
Barat daya cekungan. Pegunungan Barisan ini menjadi sumber sedimen
pengisi cekungan selanjutnya (later basin fill). Arah sedimentasi pada
Miosen akhir di Cekungan Sumatra tengah berjalan dari arah selatan
menuju utara dengan kontrol struktur-struktur berarah utara selatan.
c. Cekungan Sumatera Selatan
Geologi Cekungan Sumatera Selatan adalah suatu hasil kegiatan
tektonik yang berkaitan erat dengan penunjaman Lempeng Indi-Australia,
yang bergerak ke arah utara hingga timurlaut terhadap Lempeng Eurasia
yang relatif diam. Zone penunjaman lempeng meliputi daerah sebelah

barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa. Beberapa lempeng kecil
(micro-plate) yang berada di antara zone interaksi tersebut turut bergerak
dan menghasilkan zone konvergensi dalam berbagai bentuk dan arah.
Penunjaman lempeng Indi-Australia tersebut dapat mempengaruhi
keadaan batuan, morfologi, tektonik dan struktur di Sumatera Selatan.
Tumbukan tektonik lempeng di Pulau Sumatera menghasilkan jalur busur
depan, magmatik, dan busur belakang.
Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan
Tersier berarah barat laut - tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan
Bukit Barisan di sebelah barat daya, Paparan Sunda di sebelah timur laut,
Tinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan cekungan
tersebut dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan
Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut yang memisahkan Cekungan
Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatera Tengah.
Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera
Selatan merupakan cekungan busur belakang berumur Tersier yang
terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda (sebagai
bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah
cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat
daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur
oleh Paparan Sunda (Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh
Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian
Lampung.
Menurut Salim et al. (1995) Cekungan Sumatera Selatan terbentuk
selama Awal Tersier (Eosen Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben
berkembang sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut antara
lempeng Samudra India di bawah lempeng Benua Asia. Menurut De
Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), diperkirakan telah terjadi 3 episode
orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah Cekungan
Sumatera Selatan yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir
Tersier Awal dan Orogenesa Plio Plistosen.
d. Cekungan Jawa Timur
Secara geologi Cekungan Jawa Timur terbentuk karena proses
pengangkatan dan ketidakselarasan serta proses-proses lain, seperti
penurunan muka air laut dan pergerakan lempeng tektonik. Tahap awal
pembentukan cekungan tersebut ditandai dengan adanya half graben
yang dipengaruhi oleh struktur yang terbentuk sebelumnya. Tatanan
tektonik yang paling muda dipengaruhi oleh pergerakan Lempeng
Australia dan Sunda. Secara regional perbedaan bentuk struktural sejalan
dengan perubahan waktu.

Aktifitas tektonik utama yang berlangsung pada umur Plio


Pleistosen, menyebabkan terjadinya pengangkatan daerah regional
Cekungan Jawa Timur dan menghasilkan bentuk morfologi seperti
sekarang ini. Struktur geologi daerah Cekungan Jawa Timur umumnya
berupa sesar naik, sesar turun, sesar geser, dan pelipatan yang mengarah
Barat-Timur akibat pengaruh gaya kompresi dari arah Utara-Selatan.
Tatanan geologi Pulau Jawa secara umum dibagi berdasarkan posisi
tektoniknya. Secara struktural Blok Tuban dikontrol oleh half graben yang
berumur PreTersier. Peta Top struktur daerah telitian dapat dilihat pada
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur
geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa
memiliki pola-pola yang teratur.
Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah
penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah
pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara
umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut Barat
Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara Selatan (N-S) atau
pola Sunda dan arah Timur Barat (E-W). Perubahan jalur penunjaman
berumur kapur yang berarah Timur Laut - Barat Daya (NE-SW) menjadi
relatif Timur - Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah
menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit
disamping
mengundang
pertanyaan
bagaimanakah
mekanisme
perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur
struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
Kelompok cekungan Jawa Utara bagian barat mempunyai bentuk
geometri memanjang relatif utara-selatan dengan batas cekungan berupa
sesar-sesar dengan arah utara selatan dan timur-barat. Sedangkan
cekungan yang terdapat di kelompok cekungan Jawa Utara Bagian Timur
umumnya mempunyai geometri memanjang timur-barat dengan peran
struktur yang berarah timur-barat lebih dominan.
e. Cekungan Kalimantan Timur
Kalimantan merupakan daerah yang memiliki tektonik yang
kompleks. Adanya interaksi konvergen atau kolisi antara 3 lempeng
utama, yakni lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Asia
yang membentuk daerah timur Kalimantan (Hamilton, 1979).Evolusi
tektonik dari Asia Tenggara dan sebagian Kalimantan yang aktif menjadi
bahan perbincangan antara ahli-ahli ilmu kebumian. Pada jaman Kapur
Bawah, bagian dari continental passive margin di daerah Barat daya
Kalimantan, yang terbentuk sebagai bagian dari lempeng Asia Tenggara
yang dikenal sebagai Paparan Sunda.

Pada jaman Tersier, terjadi peristiwa interaksi konvergen yang


menghasilkan beberapa formasi akresi, pada daerah Kalimantan.Selama
jaman Eosen, daerah Sulawesi berada di bagian timur kontinen dataran
Sunda. Pada pertengahan Eosen, terjadi interaksi konvergen ataupun
kolisi antara lempeng utama, yaitu lempeng India dan lempeng Asia yang
mempengaruhi makin terbukanya busur belakang samudra, Laut Sulawesi
dan Selat Malaka.
Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan yang dihasilkan
oleh perkembangan regangan cekungan yang besar pada daerah
Kalimantan.Pada Pra-Tersier, Pulau Kalimantan ini merupakan salah satu
pusat pengendapan, yang kemudian pada awal tersier terpisah menjadi 6
cekungan sebagai berikut :1 Cekungan Barito, yang terletak di Kalimantan
Selatan, 2.Cekungan Kutai, yang terletak di Kalimantan Timur,3. Cekungan
Tarakan, yang terletak di timur laut Kalimantan,4 Cekungan Sabah, yang
terletak di utara Kalimantan,5.Cekungan Sarawak, yang terletak di barat
laut Kalimantan,6. Cekungan Melawai dan Ketungau, yang terletak di
Kalimantan Tengah
Kerangka tektonik di Kalimantan Timur dipengaruhi oleh
perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara
Lempeng Samudera Philipina, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng
Eurasian yang terjadi sejak Jaman Kapur sehingga menghasilkan
kumpulan cekungan samudera dan blok mikro kontinen yang dibatasi oleh
adanya zona subduksi, pergerakan menjauh antar lempeng, dan sesarsesar mayor.
Cekungan Kutai terbentuk karena proses pemekaran pada Kala
Eosen Tengah yang diikuti oleh fase pelenturan dasar cekungan yang
berakhir pada Oligosen Akhir. Peningkatan tekanan karena tumbukan
lempeng mengakibatkan pengangkatan dasar cekungan ke arah Barat
Laut yang menghasilkan siklus regresif utama sedimentasi klastik di
Cekungan Kutai, dan tidak terganggu sejak Oligosen Akhir hingga
sekarang.
Pada Kala Miosen Tengah pengangkatan dasar cekungan dimulai
dari bagian barat Cekungan Kutai yang bergerak secara progresif ke arah
Timur sepanjang waktu dan bertindak sebagai pusat pengendapan. Selain
itu juga terjadi susut laut yang berlangsung terus menerus sampai Miosen
Akhir. Bahan yang terendapkan berasal dari bagian Selatan, Barat dan
Utara cekungan menyusun Formasi Warukin, Formasi Pulubalang dan
Formasi Balikpapan.
Cekungan pada Paparan Sahul meliputi :

a. Cekungan di Perisai Sahul


Cekungan di Perisai Sahul (di atas Kerak Benua Australia). Stratigrafi
Cekungan ini ditandai adanya Ketidakselarasan antara Cekungan Pre-Rift
(Paleozoikum), Syn-Rift (Jura Awal), Passive margin (Jura Akhir-Kapur Akhir)
dan Continent-arc Collision related
Fore-land Basins dan Strike-Slip
related Basins
b. Bagian utama Irian Jaya
Merupakan Pinggiran Benua Australia yang sejak Trias bergerak ke
utara dan ini sebenarnya merupakan Passive margin, dengan lempeng
Samudra di depannya membentuk subduksi terhadap lempeng Pasific.
Pada saat jalur subduksi yang terus menerus mengkomsumsi Lempeng
Samudra Australia bertumbukan dengan kerak benua Australia pada Awal
Tersier. mengakibatkan Lempeng Samudra Pasific tertekukkan ke atas dan
menghasilkan Obduksi, sedang lapisan-lapisan Paleozoic-Mesozoic serta
lapisan Tersier terlipat kuat membentuk sesar naik dan sungkup ke arah
selatan yang sering disebut dengan Papua Foldthrust Belt, Sementara
Foreland-basins terbentuk didepan Paparan Australia, Hinterland basin
dibelakang Pegunungan lipatan tersebut. Lapisan sedimen yang terlipat
ketat karena pertumbukan Collision ini disebut Suture.
I.

Suture related basins

o Cekungan Akimeugah (Foreland basins). Di selatan Irian Jaya


o Cekungan Mamberano (Foredeep basin). Di utara Irian Jaya
o Cekungan di Paparan Australia Utara (Timor Gap), merupakan
cekungan Rift basin dan Passive margin pada Pra-Tersier
o Kepada Burung Irian Jaya
II.

Strike-slip related basin

1. Cekungan Salawati
Cekungan ini berhubungan dengan Sesar Geser Sorong,yang
membentuk asimetri, ada dugaan bahwa Cekungan Salawati ini
merupakan bahagian terpotong dari Cekungan Banggai. Cekungan
Selawati yang terletak di bagian barat kepala burung Irian Jaya atau di
daerah Dobberai (Vogelkop) Peninsula, terbentuk pada kala Miosen Atas
atau sekitar 10 juta tahun lalu. Akibat adanya oblique subduction antara
Lempeng Australia dengan Lempeng Pasific. Sebelum itu daerah ini
merupakan suatu paparan karbonat yang diberi nama Paparan Ayamaru
yang merupakan bagian dari kerak benua Australia.
2. Cekungan Bintuni

Pada Cekungan ini terbukti batuan Pra- Tersier menghasilkan Gas,


bukan merupakan bessement, Gas ditemukan pada batuan umur Jura.
Stratigrafi Pra-Tersier. Cekungan ini diduga terbentuk karena sesar geser
yang menghasilkan Transpressional struktur sesar sungkup dari Jakur
Lengguru pada penampang berbentuk asimetri.
Cekungan-cekungan yang terbentuk karena pengaruh Sesar Geser
Sorong (Sorong Fault Zone), berbentuk Half Graben, Cekungan Banggai
merupakan belahan dari cekungan Salawati yang telah ditransport
beberapa ribu Km, ke arah Barat pada zaman Tersier. Urutan Pre-Rift, SynRift dan Passive-margin, serta terakhir Drift dapat dikenali pada kedua
cekungan ini. Transpressional pada akhir Tersier telah menghasilkan
ribuan meter sedimen klastik yang berpotensi untuk minyak dan Gasbumi

III.

Busur Banda

1. Cekungan Seram
Cekungan di atas ini berada pada Fragmen Kerak Benua Australia,
hal ini nampak pada urutan stratigrafinya, telah mengalami Rifting
Transtension dan transpression yang menghasilkan lipatan dan sesar
sungkup dalam jalur kompleks sesar geser mengiri (Left lateral strike slip
zone). Antara Sesar Sorong di utara dan Sesae Tarera-Aiduna di selatan,
pada akhir Pliosen. Aktifitas tektonik terakhir membentuk Young elongate
perched thrust foreland basins Wahai Basin dan Bula Basin berumur
Pliosen-Pleistosen yang menutupi urutan lapisan-lapisan Mesozoikum.
2. Cekungan Tanimbar
Daerah percekungan ini meliputi kepulauan Kai dan Tanimbar di
bagian timur Busur Banda, Cekungan ini hasil interaksi tektonik
tumbukan dari busur-busur Banda dan tektonik regangan (extensional
tectonics) dari palung Aru dan terletak pada Pinggiran Pasif Benua
Australia-Paparan Arafuru. Urutan Cekungan Pre-Rift di zaman
Paleozoikum, Syn-Rift zaman Jura dan Passive Margin di zaman Kapur
serta Drift pada zaman Tersier dapat dikenali di sini. Aktifitas tektonik
disini yang terakhir menghasilkan cekungan yang melandai ke arah timur
dan dibatasi oleh jalur sesar sungkup lipatan Dalam cekungan ini potensi
untuk minyak dan gasbumi sangat kecil. (foldthrust belt) di sebelah barat.
3. Cekungan Timur
Percekungan Timor merupakan kelanjutan dari Busur Banda,
memperlihatkan kesesuaian dengan Cekungan Tanimbar, namun lebih

kompleks karena disini kerak benua Australia dengan ujung passive


marginnya bertumbukan secara frontal dengan jalur subduksi Busur
Banda. Urutan Stratigrafi Australia juga dapat dikenali disini dan nampak
dalam sesar sungkup yang sangat kompleks. Kecil sekali diketemukan
minyak dan gasbumi disini.
4. Cekungan Nusa Tenggara
Sulit untuk dapat mengatakan adanya cekungan sedimen di daerah
ini, kecuali pada laut dalam di belakang maupun dimuka kepulauan mulai
dari Bali sampai Sumba. Busur kepulauan ini merupakan jalur
Magmatisme dengan kecil kemungkinan didapatkannya minyak dan
gasbumi.

BAB III

KESIMPULAN

Terdapat hubungan antara cekungan minyak bumi yang


berkembang di berbagai tempat dengan elemen-elemen tektonik yang
ada.
Cekungan-cekungan
besar
di
wilayah
Asia
Tenggara
mempresentasikan kondisi setiap elemen tektonik yang ada, yaitu
cekungan busur muka (forearc basin), cekungan busur belakang (back-arc
basin), cekungan intra kraton (intracratonic basin), dan tepi kontinen
(continent margin basin), dan zona tumbukan (collision zone basin).
Forarc-Basin adalah depresi dasar laut yang terletak antara zona
subduksi dan terkait dengan busur vulkanik. Sedimentasi yang terbentuk
merupakan endapan material kerak samudra yang terendapkan di tepitepi pulau disampingnya.
Back-arc basin yang diduga bentuk dari hasil dari proses rollback
disebut. Istilah ini menggambarkan gerakan mundur dari zona subduksi
terhadap gerakan lempeng yang sedang menumbuk. Sebagai zona
subduksi dan parit yang ditarik ke belakang, lempeng override ditarik,
penipisan kerak yang terbentuk dalam cekungan pada belakang busur.
Sedimentasi sangat asimetris, dengan sebagian besar sedimen dipasok
dari busur magmatik aktif yang regresi sejalan dengan rollback parit.
Secara rinci perkembangan sistem cekungan dan perangkap minyak
bumi yang terbentuk sangat dipergaruhi oleh tatanan geologi local.
Sebagai contoh structural pull apart basin menentukan perkembangan
sistem cekungan Sumatera Utara (Davies, 1984). Perulangan gaya
kompresif dan ekstensional dari proses peregangan berarah untaraselatan mempengaruhi pola pembentukan antiklinorium dan cekungan
Palembang yang berarah N300oE (Pulunggono, 1986). Demikian pula pola
sebaran cekungan Laut Jawa sebelah selatan sangat dipengaruhi oleh pola
struktur berarah timur-barat (Brandasen & Mattew, 1992), sedang pola
cekungan di Laut Jawa bagian barat-laut berarah timur laut-baratdaya,
sedang pola cekungan di timur-laut berarah barat-laut-tenggara.
Cekungan Kutai dan Tarakan merupakan cekungan intra kraton di
Indonesia. Pembentukan cekungan terjadi selama Neogen ketika terjadi
proses penurunan cekungan dan sedimentasi yang bersifat trangesif, dan
dilanjutkan bersifat regresif di Miosen tengah (Barber, 1985). Pola-pola ini
menjadikan pembentukan delta berjalan efektif sebagai pembentuk
perangkap minyak bumi maupun batu bara.
Zona tumbukan (collision zone), merupakan tempat endapanendapan kontinen bertumbuk dengan kompleks subduksi, merupakan

tempat prospektif minyak bumi. Cekungan Bula, Seram, Bituni dan


Salawati di sekitar Kepala Burung Papua, cekungan lengan timur Sulawesi,
serta Buton, merupakan cekungan masuk dalam kategori akibat proses
tumbukan.

Daftar Pustaka

Boggs JR, Sam. 2006. Principles of Sedimentology and Stratigraphy 4th


edition. New Jersey : Pearson Prentice Hall
Anonim. 2010. Artikel PEMBENTUKAN REGIONAL INDONESIA TERHADAP
PEMBENTUKAN LOKASI CEKUNGAN (BASIN) DI INDONESIA pada
https://poetrafic.wordpress.com/2010/10/26/pembentukan-regionalindonesia-terhadap-pembentukan-lokasi-cekungan-basin-diindonesia/
Anonim.
Artikel
Pendahuluan
tektonika
pada
jurnalgeologi.blogspot.com/2010/01/geo-pendahuluan-tektonika.html
Jusri.

2013. Artikel CEKUNGAN INDONESIA TIMUR pada


jusri.blogspot.com/2013/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html

The Journal Geology of Indonesian pada


http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/cekungan-geologi-paparansunda.html

jus-