Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PENDERITA TUBERCULOSIS PARU

OLEH
N SRI WERDI PUTRI
NIM.1002105088

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

A. KONSEP DASAR PENYAKIT TUBERCULOSIS PARU


1. Definisi
Tuberculosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk
batang (basil) yang bernama Mycobacterium Tuberculosis(Price, 2005: 852).Tuberkulosis
Paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru
(Smeltzer, 2001: 584). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya termasuk
meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe (Bruner & Suddarth, 2002).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh
manusia melalui udara (pernapasan) ke dalam paru-paru, kemudian menyebar dari paru-paru
ke organ tubuh yang lain melalui peredaran darah, yaitu: kelenjar limfe, saluran pernapasan
atau penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2002).
Jadi dari pengertian di atas dapat disimpulkan, Tuberculosis merupakan penyakit infeksi
bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan
pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis
merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya
yang bertekanan parsial tinggi.
2. Epidemiologi / Insiden Kasus
TB Paru merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia dengan angka mortalitas dan
morbiditas yang terus meningkat.Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kemiskinan,
malnutrisi, tempat kumuh, perumahan dibawah standar, dan perawatan kesehatan yang tidak
adekuat.Mikobakterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Pada tahun
1993 WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TBC, karena pada sebagian besar
negara di dunia penyakit TBC tidak terkendali.Ini disebabkan banyaknya penderita yang
tidak berhasil disembuhkan terutama penderita menular (BTA positif). Pada tahun 1995
diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TBC dengan kematian 3 juta
orang (WHO, Treatment of Tuberculosis, Guidelines for National Programmes,1997). Di
Negara-negara berkembang kematian TBC merupakan 25 % dari seluruh kematian, yang
sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC ada di negara berkembang, 75%

adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia,
diperkirakan akan memicu peningkatan jumlah penderita TBC.
Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TB dan sekitar
140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TB.Indonesia adalah Negara ketiga
terbesar dengan masalah TB di dunia. Sebagian besar penderita TB adalah mereka dengan
usia produktif (15-55 tahun). TB adalah pembunuh nomor satu di antara penyakit menular.
TB adalah penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan
akut pada seluruh kalangan usia. Indonesia telah berhasil mencapai Angka keberhasilan
pengobatan sesuai dengan target global yaitu 85 persen dan tetap dipertahankan dalam empat
tahun terakhir. Indonesia telah memberikan kemajuan yang cepat dalam penemuan kasus baru
TB menular, yaitu sebesar 52% pada tahun 2004 (lihat map-1), dan target global pada tahun
2005 adalah sebesar 70%.Penemuan kasus baru TB menular saat ini adalah sebesar 52% yang
berarti hanya kurang 8% dari target 60% yang telah ditetapkan didalam rencana strategis
Penanggulangan TB selama 5 tahun.
Tabel 1 TB statistik untuk "beban tinggi" negara, 2008
Negara

Semua kasus

Per 100.000 populasi

India`

1.983.000

168

Cina

1.301.000

97

Indonesia

430.000

189

Nigeria

458.000

303

Afrika Selatan

477.000

960

3. Penyebab / Faktor Predisposisi


Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium Tuberkulosis. Kuman Mycobacterium
Tuberkulosis adalah kuman berbentuk batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan
lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet (Smeltzer, 2001: 5584). Kuman
TBC menyebar melalui udara (batuk, tertawa dan bersin) dan melepaskan droplet. Sinar
matahari langsung dapat mematikan kuman, akan tetapi kuman dapat hidup beberapa jam
dalam suhu kamar (Dep Kes RI 2002). Penyebab dari Tubercullosis disebabkan oleh
melemahnya daya tahan tubuh atau imun penderita sehingga mudah terserang atau terinfeksi
bakteri.
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk
batang (basil) yang bernama Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar struktur

organisme ini terdiri atas asam lemak (lipid) yang membuat mikobakterium lebih tahan
terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup
pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari
es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman
dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah
aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
tuberkulosis.
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di
paru/berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Kuman ini merupakan
organisme patogen maupun saprofit. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 m,
ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah. Penyakit tuberculosis ini biasanya
menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges,
ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan.
Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan
respon imun.Mycobacterium Tuberculosis biasanya ditularkan melalui inhalasi, percikan
ludah (droplet), orang ke orang, dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. Kuman juga
dapat masuk ke tubuh melalui saluran cerna, melalui ingesti susu tercemar yang
dipasteurisasi, atau kadang-kadang melalui lesi kulit..
Macam-macam jenis Micobacterium tubercolusae complex adalah:
a.

M. tuberculosae

b.

Varian Asian

c.

Varian African I

d.

Varian African II

e.

M. Bovis

Kelompok kuman Mycobacteria Other Than TB (MOTT, atypical adalah:


a. M. kansasi
b. M. avium
c. M. intra cellular
d. M. scrofulaceum
e. M.malmacerse
f. M. xenopi (Amin, 2007:988)

4. Patofisiologi Penyakit
Tuberculosis tergolong airbone disease dimana penularan terjadi karena kuman dibatukkan
atau dibersinkan keluar menjadi droflet nuklei dalam udara oleh individu yang terinfeksi dalam
fase aktif. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droflet nuclei. Partikel infeksi
ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 2 jam. Di bawah sinar matahari langsung basil
tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan
sampai berhari hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat
akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks
paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh limfe, basil
berpindah kebagian paru paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain.
Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke alveoli,
tempat berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik melalui sistem
limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paruparu lainnya (lobus atas). Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil
dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli,
menyebabkan bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah
pemajanan.Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang
masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif.
Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut
tuberkel Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju.
Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman,
tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena
gangguan atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi
dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah,
melepaskan bahan seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara,
mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh,
membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan
terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.Kecuali proses
tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke hilum paru-paru
dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai
oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang

diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif
(Brunner dan Suddarth, 2002).
5. Klasifikasi Penyakit
a. Klasifikasi I (berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi) (Depkes, 2003)
1)

Tuberculosis paru
Merupakan bentuk yang paling sering dijumpai yaitu sekitar 80% dari semua
penderita. Tuberculosis yang menyerang parenkim paru ini merupakan satu-satunya
bentuk tuberculosis yang paling mudah menular.

2)

Tuberculosis ekstra paru


Merupakan bentuk Tubeculosis yang menyerang organ lain selain paru, seperti pleura,
kelenjar limfe, persendian tulang belakang, saluran kencing, susunan saraf pusat, dan
perut. Pada dasarnya penyakit Tuberculosis ini tidak pandang bulu karena kuman ini
menyerang semua organ tubuh.

b. Klasifikasi II ( Menurut American Thoracic Society, 2000)


Class 0

Tidak ada jangkitan atau terinfeksi, riwayat terpapar, reaksi test tuberculin (PPD)

Class 1
Class 2
Class 3

tidak bermakna.
Terpapar TBC, tidak ada bukti infeksi, reaksi kulit tak bermakna
Ada infeksi TBC, reaksi kulit bermakna, pemeriksaan bakteri (-), tidak ada bukti.
Sedang sakit, BTA (+), test mantoux bermakna, Rontgent Thorax (+). Lokasi

Class 4

tempat : Paru-paru, Pleura, Limfatik, tulang/sendi, meninges, peritoneum.


Sedang sakit, ada riwayat mendapat pengobatan, Rontgent Thorax (+), test mantoux

Class 5

bermakna.
Dicurigai TBC, sedang dalam pengobatan

c. Klasifikasi III
1) Tuberculosis Primer
Tuberculosis primer adalah bentuk penyakit yang terjadi pada orang yang belum pernah
terpajan (orang yang belum pernah mengalami TB) atau peradangan terjadi sebelum
tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Dampak utama
dari tuberculosis primer adalah :

Penyakit ini memicu timbulnya hipersensitivitas dan resistensi.

Fokus jaringan parut mungkin mengandung basil hidup selama


bertahun-tahun bahkan seumur hidup.

Penyakit ini (meskipun jarang) dapat menjadi tuberculosis


primer progresif. Hal ini terjadi ada orang yang mengalami gangguan akibat suatu
penyakit (terutama penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, seperti AIDS
dan biasanya terjadi pada pada anak yan mengalami malnutrisi atau usia lanjut).

2) Tuberculosis Sekunder (Tuberculosis Post Primer)


Merupakan penyakit yang terjadi pada seseorang yang telah terpajan penyakit
tuberculosis atau peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang di mana
di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium tersebut.
Penyakit ini mungkin terjadi segera setelah tuberculosis primer, tetapi umumnya
muncul karena reaktivasi lesi primer dorman beberapa dekade setelah infeksi awal,
terutama jika sistem pertahanan penjamu (seseorang yang pernah terkena TB
sebelumnya) melemah.
d. Klasifikasi IV
Klasifikasi TB Paru berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat
pengobatan sebelumnya dibagi sebagai berikut:
1) TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
a) Dengan atau tanpa gejala klinik
b) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong
biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali.
c) Gambaran radiologik seuai dengan TB paru.
2) TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
a) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif
b) BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.
3) Bekas TB Paru dengan kriteria:
a. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negative
b. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
c. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto
yang tidak berubah.
d. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
e. Klasifikasi V
Berdasarkan tipe penderita. Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya.

Ada beberapa tipe penderita :


1) Kasus baru : penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang dari satu bulan.
2) Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat dengan hasil pemeriksaan
BTA positif.
3) Pindahan (transfer in) yaitu penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu
kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan
tersebut harus membawa surat rujukan/pindah.
4) Kasus berobat setelah lalai (default/drop out) adalah penderita yang sudah berobat
paling kurang 1 bulan atau lebih dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang
kembali berobat.
Cara Penularan
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin,
penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet
yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan (Adi,
2009).Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhirup oleh orang lain. Jika kuman
tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang menghirupnya, maka kuman mulai
membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah infeksi dari satu orang keorang lain.
Cara penularan ada dua yaitu :
a.
b.

Langsung
Percikan ludah/cairan hidung berpindah sewaktu berbicara berhadapan/bersin.
Tidak langsung
Bila klien meludah disembarang tempat kemudian kering dan kuman diterbangkan
oleh angin bersama debu yang dihirup oleh orang sehat.

Individu yang beresiko tinggi untuk tertular tuberculosis adalah :

Mereka yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB aktif

Individu imunosupresif ( Termasuk lansia, pasien dengan kanker, mereka yang dalam
terapi kortikosteroid atau mereka yang terinfeksi dengan HIV

Pengguna obat-obatan IV dan alkoholik

Setiap individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat (tunawisma,tahanan, etnik


dan ras minoritas terutama anak-anak dibawah usia 15 tahun atau dewasa muda antara
yang berusia 15-44 tahun)

Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya (misalnya
diabetes, gagal ginjal kronis, silikosis, penyimpangan gizi, bypass gasterektomi
yeyunoileal)

Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi ( Asia tenggara, Afrika, Amerika
latin, karibia )

Setiap individu yang tinggal di institusi ( misalnya fasilitas perawatan jangka panjang,
institusi psikiatrik, penjara )

Individu yang tinggal didaerah perumahan substandart kumuh

Petugas kesehatan

6. Gejala Klinis
Penyakit tuberculosis sering dijuluki the great imitator yaitu suatu penyakit yang
mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum
seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga
diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.
Menurut Jhon Crofton (2002) gejala klinis yang timbul pada pasien Tuberculosis
berdasarkan adanya keluhan penderita adalah :

Batuk lebih dari 3 minggu


Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru.
Mengingat Tuberculosis Paru adalah penyakit menahun, keluhan ini dirasakan dengan
kecenderungan progresif walau agak lambat. Batuk pada Tuberculosis paru dapat kering
pada permulaan penyakit, karena sekret masih sedikit, tapi kemudian menjadi produktif.

Dahak (sputum)
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah
menjadi mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila

sudah terjadi pengejuan.


Batuk darah
Batuk darah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah
besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada
pembuluh darah paru dan bronchus sehingga pecahnya pembuluh darah.

Sesak napas
Sesak napas berkaitan dengan penyakit yang luas di dalam paru. Merupakan proses lanjut

akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.


Nyeri dada
Rasa nyeri dada pada waktu mengambil napas dimana terjadi gesekan pada dinding

pleura dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret,

peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.


Demam dan menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses

infeksi.
Penurunan berat badan
Penurunan berat badan merupakan manisfestasi toksemia yang timbul belakangan dan

lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.


Malaise
Ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala,

nyeri otot, keringat malam.


Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
Berkeringat banyak terutama malam hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit Tuberculosis paru.
Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.

Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik.
a.

Gejala Respiratorik
1)

Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur
darah bila sudah ada kerusakan jaringan.

2)

Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.
Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah
tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.

3)

Sesak napas

Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal
yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
4)

Nyeri dada
Nyeri dada pada Tuberculosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini
timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.

b.

Gejala Sistemik
1)

Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari
mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya.

2)

Gejala sistemik lain


Gejala sistemik lain ialah berkeringat pada malam hari, sakit kepala, anoreksia,
penurunan berat badan, keletihan, dan malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual
dalam beberapa minggu-bulan.

c.

Gejala Haemoptoe
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciriciri sebagai berikut :
(1) Batuk darah

Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan

Darah berbuih bercampur udara

Darah segar berwarna merah muda

Darah bersifat alkalis

Anemia kadang-kadang terjadi

Benzidin test negatif

(2) Muntah darah

Darah dimuntahkan dengan rasa mual

Darah bercampur sisa makanan

Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung

Darah bersifat asam

Anemia seriang terjadi

Benzidin test positif

(3) Epistaksis

Darah menetes dari hidung

Batuk pelan kadang keluar

Darah berwarna merah segar

Darah bersifat alkalis

Anemia jarang terjadi

7. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Konjungtiva mata pucat karena anemia, malaise, badan kurus/ berat badan menurun.
Bila mengenai pleura, paru yang sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. RR
meningkat (>24 x/menit). Adanya dyspnea, sianosis, distensi abdomen, batuk dan
barrel chest.
b. Perkusi
Terdengar suara redup terutama pada apeks paru, bila terdapat kavitas yang cukup
besar, perkusi memberikan suara hipersonar dan timpani. Bila mengenai pleura,
perkusi memberikan suara pekak.
c. Auskultasi
Terdengar suara napas bronchial. Akan didapatkan suara napas tambahan berupa
rhonci basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrasi ini diliputi oleh penebalan
pleura, suara napas menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup
besar, auskultasi memberikan suara amforik. Bila mengenai pleura, auskultasi
memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali.
d. Palpasi
Badan teraba hangat (demam), denyut nadi meningkat (>100x/menit), turgor kulit
menurun, fremitus raba meningkat disisi yang sakit.
(Amin, 2007 : 990-991)
8. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Kultur Sputum :Positif untukMycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit.
Pemeriksaan dapat memperkirakan jumlah basil tahan asam ( AFB) yang terdapat
pada sediaan. Sediaan yang positif memberikan petunjuk awal untuk menekankan
diagnosa, tetapi suatu sediaan yang negative tidak menyingkirkan kemungkinan
adanya infeksi penyakit. Pemeriksaan biakan harus dilakukan pada semua biakan.
Mikrobakteri akan tumbuh lambat dan membutuhkan suatu sediaan kompleks.
Koloni matur akan berwarna krem atau kekuningan, seperti kulit dan bentuknya

seperti kembang kol. Jumlah sekecil 10 bakteri/ml media konsentrasi yang telah
diolah dapat dideteksi oleh media biakan ini (Price,2005:857).
Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) :
Positif untuk basil asam-cepat.
Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih
besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi
masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit
aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif
tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
Tes mantoux adalah dengan menyuntikan tuberculin (PPD) sebanyak 0,1 ml
mengandung 5 unit (TU) tuberculin secara intrakutan pada sepertiga atas
permukaan volar atau dorsal lengan bawah setelah kulit dibesihkan dengan
lalkohol. Untuk memperoleh reaksi kulit yang maksimal diperlukan waktu antara
48 sampai 72 jam sesudah penyuntikan dan reaksi harus dibaca dalam peiode
tersebut. Interpretasi tes kulit menunjukan adanya beberapa tipe reaksi:
1)

Indurasi 5 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :


a) Orang dengan HIV positif.
b) Baru saja kontak dengan orang yang menderita TB.
c) Orang dengan perubahan fibrotic pada radigrafi dada yang sesuai dengan
gambaran TB lama yang sudah sembuh.
d) Pasien yang menjalani tranplanstasi organ dan pasien yang mengalami
penekanan imunitas ( menerima setara dengan 15 mg/hari prednisone
selama 1 bulan).

2)

Indurasi 10 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :


a) Baru tiba ( 5 tahun ) dari Negara yang berprevalensi tinggi.
b) Pemakai obat-obat yang disuntikkan.
c) Penduduk dan pekerja yang berkumpul pada lingkungan yang berisiko
tinggi. Penjara, rumah-rumah perawatan, panti jompo, fasilitas yang
disiapkan untuk pasien dengan AIDS, dan penampungan untuk tuna wisma.
d) Pengawai laboratorium mikrobakteriologi.
e) Orang dengan keadaan klinis pada daerah mereka yang berisioko tinggi.
f)

Anak di bawa usia 4 tahun atau anak-anak dan remaja yang terpajan
orang dewasa kelompok risiko tinggi.

3)

Indurasi 15 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :

a) Orang dengan factor risiko TB.


b) Target program-program tes kulit seharusnya hanya dilakukan di anatara
kelompok risiko tinggi (Price,2005:855).
Uji tuberculin : Menggunakan standar tuberkulin 1:10.000/5 TU PPD-S intrakutan yang
dibaca 48-72 jam dengan indurasi > 5 mm. Uji tuberkulin negatif belum dapat
menyingkirkan TB. False negatif pada pemeriksaan uji tuberkulin sering ditemukan
pada pasien HIV dan kejadiannya meningkat sebanding dengan peningkatan
imunosupresi.
Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung, urine dan CSF, biopsi
kulit) : positif untuk Mycobacterium tuberculosis
Pemeriksaan Darah :
a) Hb dapat ditemukan menurun. Anemia bila penyakit berjalan menahun
b) LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali
normal pada tahap penyembuhan.
c) GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.
Biopsi jarum pada jaringan paru (Needle Biopsi of Lung Tissue): Positif untuk
granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh
hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB
paru kronis luas.
Kadar Ig: Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
Reaksi rantai polimerase: Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel
perifer monoseluler.
b. Radiologi
Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru oleh simpanan kalsium lesi yang
sembuh primer atau efusi cairan. Perubahan mengindikasikan TB yang lebih berat
dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi
yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus
atau kerusakan paru karena TB.
Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan pleura,
efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir
paru atau pleura).
c. Pemeriksaan fungsi paru

Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu:
kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi
parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.
9. Diagnosis / Kriteria Diagnosis
a.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik

b.

Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis)

c.

Foto thorax PA dan lateral. Gambaran foto thoraks yang menunjang diagnosis TB,
yaitu :
Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah
Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
Adanya kavitas, tunggal atau ganda
Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru
Adanya kalsifikasi
Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
Bayangan milier

d.

Pemeriksaan sputum BTA


Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini
tidak sensitive karena hanya 30-70% pasien TB yang dapat didiagnosis berdasarkan
pemeriksaan ini.

e.

Tes PAP (Perksidase Anti Peroksidase)


Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase
staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB

f.

Tes Mantoux/Tuberkulin

g.

Tehnik Polymerase Chain Reaction

h.

Bection Dickinson Diagnostic Instrument System

i. Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak
oleh M. tuberculosis
j.

Enzyme Linked Immunosorbent Assay


Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Pelaksanaannya
rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.

k.

MYCODOT

Deteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu


alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila
terdapat antibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah.
(Mansjoer, 1999 : 472-473)
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada
pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila
sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu
diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS
diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita
TB BTA positif.Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya
biakan. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya
biakan. Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya
kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun
gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS :

Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.

Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.

Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif
rontgen positif.

Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

10. Therapy / Tindakan Penanganan


a.

Pengobatan TBC
Tujuan pemberian obat pada penderita tuberculosis adalah: menyembuhkan,
mencegah kematian,dan kekambuhan, menurunkan tingkat penularan (Depkes RI. 2002).
Sejak ditemukannya obat-obat anti TB dan dimulainya dengan monotherapi, kemudian
mulai timbul masalah resistensi terhadap obat-obat tersebut, maka pengobatan secara
paduan beberapa obat ternyata dapat mencapai tingkat kesembuhan yang tinggi dan
memperkecil jumlah kekambuhan.
Paduan obat jangka pendek 6 9 bulan yang selama ini dipakai di Indonesia dan
dianjurkan juga oleh WHO adalah 2 RHZ/4RH dan variasi lain adalah 2 RHE/4RH, 2
RHS/4RH, 2 RHZ/4R3H3/ 2RHS/4R2H2, dan lain-lain. Untuk TB paru yang berat
(milier) dan TB Ekstra Paru, therapi tahap lanjutan diperpanjang jadi 7 bulan yakni
2RHZ/7RH. Departemen Kesehatan RI selama ini menjalankan program pemberantasan

TB Paru dengan panduan 1RHE/5R2H2. Bila pasien alergi/hipersensitif terhadap


Rifampisin, maka paduan obat jangka panjang 1218 bulan dipakai kembali yakni SHZ,
SHE, SHT, dan lain-lain.
1) Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman
dalam beberapa hari pertama pengobatan.Sangat efektif terhadap kuman dalam
keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang.Dosis harian 5
mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh
isoniasid.Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian
maupun intermiten 3 kali seminggu.

Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana
asam.Dosis harian 25 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg berat badan.
Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan
intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama.
Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik).Dosis harian 15 mg/kg
berat badan, sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30
mg/kg berat badan.
2) Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah
terjadinya kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
Tahap Lanjutan

Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih
lama.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persistem (dormant)
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
3) Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan
Etambutol(E). Obat-obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE),
kemudian teruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin
(R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan
untuk :
a) Penderita baru TBC paru BTA positif
b) Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
c) Penderita TBC ekstra paru berat.
Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid
(H), Rifampisn, Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan
dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol
(E) yang diberikan 3 kali dalam seminggu.

Perlu

diperhatikan

bahwa

suntikan

streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat.Obat ini diberikan untuk
penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai.
Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan
setiap hari selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari
Isoniasid (H), Rifampisin (R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu
(4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
a) Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan
b) Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis),
pleuritis aksudativa unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang
belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan
kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2,
hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan Isoniasid
(H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

4) Evaluasi Pengobatan

Kemajuan pengobatan dapat terlihat dari perbaikan klinis ( hilangnya keluhan,


nafsu makan meningkat, berat badan naik dan lain-lain ), berkurangnya kelainan
radiologis paru dan konversi sputum menjadi negatif.

Kontrol terhadap sputum BTA langsung dilakukan pada akhir bulan ke-2, 4, dan 6.
Pada yang memakai paduan obat 8 bulan sputum BTA diperiksa pada akhir bulan
ke-2, 5, dan 8. Biakan BTA dilakukan pada permulaan, akhir bulan ke-2 dan akhir
pengobatan. Pemeriksaan resistensi dilakukan pada pasien baru yang BTA-nya
masih positif setelah tahap intensif dan pada awal terapi pasien yang mendapat
pengobatan ulang ( retreatment ).

Kontrol terhadap pemeriksaan radiologis dada, kurang begitu berperan dalam


evaluasi pengobatan. Bila fasilitas memungkinkan foto dapat dibuat pada akhir
pengobatan sebagai dokumentasi untuk perbandingan bila nanti timbul kasus
kambuh.

Untuk mengetahui efek samping obat ( yang terbanyak hepatitis ), perlu


pemeriksaan darah terhadap enzim hati, bilirubin, kreatinin/ureum, darah perifer.
Asam urat darah perlu diperiksa bagi yang memakai obat Z. bila terdapat hepatitis
karena obat ( kebanyakan karena R dan H ), maka obat yang hepatotoksis diganti
dengan yang non-hepatotoksis. Pemberian steroid dapat dipertimbangkan. R atau
H kemudian dapat diberikan kembali secara desensitisasi. Tes mata untuk warna
perlu bagi yang memakai E, sedangkan tes audiometri perlu bagi yang memakai S.

Resistensi obat sudah harus diwaspadai yakni bila dalam 1 2 bulan pengobatan
tahap intensif tidak terlihat perbaikan. Di Amerika Serikat prevalensi pasien yang
resisten terhadap obat anti TB makin meningkat dan sudah mencapai 9 %. Di
negara yang sedang berkembang seperti di Afrika, diperkirakan lebih tinggi lagi.
BTA yang sudah resisten terhadap obat anti TB saat ini sudah dapat dideteksi
dengan cara PCR-SSCP (Single Stranded Confirmation Polymorphism) dalam
waktu satu hari. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi 99% BTA yang resisten
terhadap R, 70% terhadap H, dan 60% terhadap S.

b.

Tipe Penderita TB
Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, ada beberapa tipe penderita yaitu :

Kasus Baru
Adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
Kambuh (Relaps)
Adalah penderita tuberculosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat denga
hasil pemeriksaan dahak BTA (+).
Pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan
kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahhhan tersebut harus
membawa surat rujukan/pindah (Form TB.09).
Setelah Lalai (Pengobatan setelah default/drop out)
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan
atau lebih, kemudian dating kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA (+).

c.

Perawatan TBC
Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah :
1) Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat
2)
3)
4)
5)

yaitu keluarga.
Mengetahui adanya gejala samping obat dan merujuk bila diperlukan.
Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita
Istirahat teratur minimal 8 jam per hari
Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima dan
enam

6) Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik


(Depkes RI, 2002)
d.

Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.


1) Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut (dengan menggunakan
masker) sewaktu batuk dan membuang dahak di tempat yang disediakan dan
tertutup, tidak disembarangan tempat.
2) Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan kekebalan tubuh
terhadap bayi harus diberikan vaksinasi BCG.
3) Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB
yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.
4) Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, perlu

perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry, tempat tidur,
pakaian), ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
5) Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat.
Obat-obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun
dan teratur, waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya kebal
terhadap obat-obat, dengan pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.
11. Pencegahan
Terdapat vaksin terhadap TB adalah BCG, diberikan dengan suntikan di bawah kulit.
Namun vaksin ini tampaknya hanya efektif pada anak yang baru lahir, untuk mencegah
penyakit TB yang berat, termasuk meningitis TB, pada usia kanak-kanak. BCG tidak
mempunyai dampak dalam mengurangi jumlah kasus TB pada orang dewasa. Saat ini belum
ada vaksin terhadap TB yang efektif untuk orang dewasa.BCG dapat menyebabkan
pembacaan palsu-positif pada tes tuberkulin kulit. Jika diberikan kepada orang dewasa yang
HIV positif atau anak-anak dengan sistem kekebalan sangat lemah, BCG kadang-kadang
dapat menyebabkan penyakit BCG diseminata, yang sering fatal.
12. Komplikasi
Penyakit tuberculosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan menimbulkan komplikasi lanjut.
1) Komplikasi dini

: Pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis.

2) Komplikasi lanjut

: Kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal

napas dewasa (ARDS), sering terjad pada TB milier dan kavitas TB. (Amin,
2000:993) .
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
a) Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
b) Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial.
c) Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat
pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
13. Prognosis
TB adalah IO yang pada urutan kedua dalam daftar frekuensi IO di Indonesia, dan adalah
penyebab kematian kebanyakan Odha. Namun TB dapat disembuhkan dan dicegah.

Perkembangan dari infeksi TBC dengan penyakit TBC terjadi ketika bakteri TB mengatasi
pertahanan sistem kekebalan tubuh dan mulai berkembang biak. Pada TB primer 1-5% dari
kasus-penyakit ini terjadi segera setelah infeksi. Namun, dalam sebagian besar kasus, infeksi
laten terjadi yang tidak memiliki gejala yang jelas. Ini basil TBC yang tidak aktif dapat
menghasilkan dalam 2-23% dari kasus-kasus laten, sering bertahun-tahun setelah infeksi.
Risiko meningkat reaktivasi dengan imunosupresi, seperti yang disebabkan oleh infeksi HIV.
Pada pasien koinfeksi M. TB dan HIV, risiko reaktivasi meningkat sampai 10% per tahun.
Pasien dengan TB ini disebarluaskan memiliki tingkat kematian mendekati 100% jika tidak
diobati. Namun, Jika diobati, tingkat kematian berkurang hingga hampir 10%.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian ( Data Subjektif dan Objektif)
Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan laboratorium untuk memperoleh
informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana
asuhan keperawatan pasien.
a. Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti demam, anoreksia, penurunan berat badan, berkeringat
malam, keletihan, batuk dan pembentukan sputum, fungsi pernapasan, nyeri dada,
bunyi napas, kesiapan emosional, tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran
kualitatif atau GCS, dan respon verbal pasien
b. Tanda-tanda Vital
Meliputi pemeriksaan tekanan darah (sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda,
kaji tekanan nadi, dan kondisi patologis), pulse rate, respiratory rate, dan suhu.
c. Riwayat keperawatan : riwayat kontak dengan penderita
Pola Pengkajian Gordon
1. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pengkajian meliputi kebiasaan klien terhadap pemeliharaan kesehatan baik sebelum
atau sesudah sakit, gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penanganan yang
dilakukan, kepatuhan terhadap pengobatan. Misalnya : kebiasaan merokok, minum
obat, alkohol, riwayat minum obat-obatan.
2. Nutrisi / Metabolik
Klien mengalami penurunan nafsu makan, kesulitan menelan, mual/muntah, nafsu
makan buruk/anoreksia dan ketidakmampuan untuk makan karena penurunan nafsu
makan. Gejala : adanya anoreksia (kehilangan nafsu makan), adanya penurunan berat
badan, pantangan terhadap makanan, alergi terhadap makanan. Tanda : turgor kulit

buruk, kering / bersisik, massa otot berkurang / lemak subkutan berkurang, IMT =
(kekurangan BB tingkat berat), klien tampak kurus.
3. Eliminasi
Pada pasien dengan TBC kemungkinan mengalami gangguan pada system eliminasi
jika bakteri tersebut sudah menyebar sampai ke system gastrointestinal. Berapa kali
miksi dalam sehari, karakteristik urin, adakah masalah dalam proses miksi,
penggunaan alat bantu untuk miksi, gambaran pola BAB, karakteritik, penggunaan
alat bantu, dan bau
4. Aktivitas dan Latihan
Pada klien dengan TBC kemungkinan ditemukan gangguan aktivitas dan latihan
karena klien mengalami keletihan, kelelahan, malaise, ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur,
perlu tidur dalam posisi duduk tinggi. Gejala: adanya kelelahan dan kelemahan,
kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari, menggigil dan atau
berkeringat. Tanda

: takikardia, takipnea / dispnea saat beraktivitas, kelelahan otot

5. Persepsi, Sensori, Kognitif


Klien mengalami gangguan berupa rasa nyeri di daerah dada dan perasaan takut.
Gejala : adanya faktor stres dalam waktu yang lama, adanya perasaan berduka. Tanda
: ansietas, takut, perasaan bersalah (menyalahkan diri sendiri), keputusasaan,
kesedihan, ekpresi kurang dalam penerimaan terhadap penyakit, ekspresi kurang
kedamaian, rasa bersalah
6. Tidur dan Istirahat
Klien mengalami gangguan pada pola tidurnya karena sulit untuk tidur karena nyeri
dan sesak napas.
7. Konsep Diri
Klien mengalami gangguan pada harga diri , karena kondisi yang terkena TBC.
Gejala : adanya perasaan rendah diri karena mengidap penyakit menular, adanya
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran, tidak berpartisipasi dalam
kegiatan agama, perubahan pola ibadah, merasa diabaikan dan diasingkan, menolak
interaksi dengan orang lain, merasa dipisahkan dari lingkungan sosial. Perubahan
interaksi dalam keluarga, seperti: perubahan tugas dalam keluarga, perubahan
dukungan emosional, perubahan pola komunikasi dalam keluarga, perubahan
keakraban, perubahan partisipasi dalam menyelesaikan masalah.
8. Peran dan Hubungan

Klien mengalami gangguan pada peran dan hubungan, hubungan yang ketergantungan
dengan keluarga, kurang sistem pendukung, penyakit lama atau ketidakmampuan
membaik.
9. Seksual dan Reproduksi
Pada klien dengan TBC kemungkinan ditemukan penurunan libido.
10. Koping Stres dan Adaptasi
Klien kemungkinan mengalami gangguan pada pola koping stress dan adaptasi,
ansietas, ketakutan, peka rangsang.
11. Nilai dan Kepercayaan
Pada klien dengan penyakit TBC kemungkinan klien mengalami gangguan dalam
melakukan aktivitas beribadah diluar rumah (tempat-tempat ibadah).
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
a.
Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan mukus
dalam jumlah berlebihan, sekresi dalam bronki, infeksi ditandai dengan suara napas
tambahan, perubahan frekuensi napas, perubahan irama napas, dispnea, sputum dalam
jumlah berlebih, dan batuk yang tidak efektif.
b.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pembuahan membran
alveolar-kapiler ditandai dengan pH darah arteri abnormal, dispnea, napas cuping
c.

hidung, gelisah, somnolen, dan takikardia.


Ketidakefektifan pola napas

berhubungan

dengan

keletihan,

hiperventilasi ditandai dengan perubahan kedalaman pernapasan, dispnea, pernapasan


d.

cuping hidung, pernapasan bibir, penggunaan otot aksesorius untuk bernapas.


Hipertermi berhubungan dengan penyakit, peningkatan

laju

metabolisme ditandai dengan peningkatan suhu diatas kisaran normal, kulit teraba
e.

hangat, kulit kemerahan.


Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan
perubahan tekanan darah, perubahan frekuensi pernapasan, perilaku distraksi,
mengekspresikan perilaku (mis. Gelisah, menangis, waspada), melaporkan nyeri
secara verbal.

f.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan faktor biologis ditandai dengan berat badan 20% atau lebih dibawah berat
badan ideal, diare, bising usus hiperaktif, penurunan berat badan dengan asupan
makanan adekuat, kurang minat ada makanan, membran mukosa pucat, cepat kenyang
setelah makan.

g.

Intolerasi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan respons

tekanan darah abnormal, ketidaknyamanan setelah beraktivitas, dispnea setelah


beraktivitas, menyatakan merasa letih, menyatakan merasa lelah.
h.
Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan
kerumitan regiment terapeutik ditandai dengan kegagalan untuk melakukan tindakan
untuk mengurangi faktor resiko, ketidaktepatan aktivitas keluarga untuk memenuhi
tujuan kesehatan, dan kurang perhatian pada penyakit.

3. Rencana Asuhan Keperawatan


No.
1.

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan
jalan napas berhubungan
dengan
mukus
dalam
jumlah berlebihan, sekresi
dalam
bronki,
infeksi
ditandai dengan suara napas
tambahan,
perubahan
frekuensi napas, perubahan
irama
napas,
dispnea,
sputum
dalam
jumlah
berlebih, dan batuk yang
tidak efektif.

Tujuan Dan Kriteria Hasil


Setelah diberikan asuhan keperawatan
selamax 24 jam diharapkan
bersihan jalan napas klien efektif,
dengan kriteria hasil:
NOC Label : Respiratory status :
airway patency
Frekuensi pernapasan dalam batas
normal (16-20x/mnt) (skala 5)
Irama pernapasn normal (skala 5)
Kedalaman pernapasan normal
(skala 5)
Klien mampu mengeluarkan
sputum secara efektif (skala 5)
Tidak ada akumulasi sputum
(skala 5)

Rencana Keperawatan
Intervensi
NIC Label : Respiratory monitoring
1. Pantau rate, irama, kedalaman, dan usaha
respirasi
2. Perhatikan gerakan dada, amati simetris,
penggunaan otot aksesori, retraksi otot
supraclavicular dan interkostal
3. Pantau suara napas tambahan
4. Monitor pola napas : bradypnea, tachypnea,
hyperventilasi,
NIC Label : Airway Management
5. Ajarkan pada klien batuk efektif
6. Berikan posisi nyaman trandelenburg
7. Anjurkan klien meningkatkan intake cairan
hangat
8. Kolaborasi pemberian obat bromhexin 3 x 5
ml (PO)
9. Kolaborasi
pemberian
obat
asam
traneksamat 500 mg (PO)

Rasional

1. Mengetahui tingkat gangguan yang


terjadi dan membantu dalam
menetukan intervensi yang akan
diberikan

2. Menunjukkan

keparahan
dari
gangguan respirasi yang terjadi dan
menetukan intervensi yang akan
diberikan.

3. Suara

napas tambahan dapat


menjadi
indikator
gangguan
kepatenan jalan napas yang
tentunya
akan
berpengaruh
terhadap kecukupan pertukaran
udara

4. Mengetahui permasalahan jalan


napas yang dialami dan keefektifan
pola napas klien untuk memenuhi
kebutuhan oksigen tubuh.

5. Batuk efektif dapat membantu


mengeluarkan sputum

6. Posisi nyaman

trandelenburg
membantu klien mempermudah
mengeluarkan sputum

7. Intake

cairan adekuat dapat


membantu mengencerkan sputum

8. Bromhexin
mengencerkan sputum

membantu

9. Asam

traneksamat membantu
menghentikan perdarahan yang
terjadi pada area paru sehingga
cairan yang berupa darah pada
saluran napas menjadi berkurang.

2.

Gangguan pertukaran gas Setelah diberikan asuhan keperawatan


berhubungan
dengan selama ... X 24 jam, klien tidak
pembuahan
membran mengalami gangguan pertukaran gas
alveolar-kapiler
ditandai dengan kriteria hasil:
dengan pH darah arteri NOC Label : Respiratory Status: Gas
abnormal, dispnea, napas Exchange
cuping hidung, gelisah, PaO2 klien dalam rentang normal
(80-100 mmHg) (skala 5)
somnolen, dan takikardia.
PaCO2 klien dalam rentang normal
(35-45) (skala 5)
pH arteri klien dalam rentang
normal (7.35-7.45) (skala 5)
Saturasi Oksigen klien dalam
rentang normal (95% ke atas)
(skala 5)
NOC Label : Respiratory status:
ventilation
RR klien dalam rentang normal
(skala 5)
Ritme pernapasan klien teratur
(skala 5)
Kedalaman inspirasi (skala 5)

NIC Labe l: Acid-Based Management:


Respiratory Acidosis
1. Monitor nilai ABG untuk mengetahui
penurunan pH
2. Monitor inidikasi dari asidosis respiratory
(seperti Barrel Chest dan penggunaan otor
bantu pernapasan)
3. Monitor nilai dari perfusi oksigen ke
jaringan (seperti PaO2, SaO2, Hb, dan
cardiac output)
4. Monitor tanda dari gangguan pernapasan
(seperti penurunan PaO2 dan elevasi nilai
PaCO2)
5. Posisikan pasien untuk ventilasi-perfusi
yang optimal (posisikan paru dibawah,
pronasi, Semi-Fowler)
6. Pertahankan kebersihan jalan napas
7. Monitor respiratory ritme
8. Berikan diet rendah karbohidrat dan tinggi
lemak untuk menurunkan produksi CO2
jika di indikasikan
9. Dorong pasien agar meningktkan periode
istirahatnya
10. Monitor stutus neurologi pasien

1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

9.
10.

11.
12.

NIC Label : Airway Management

13.

Penurunan pH darah merupakan


tanda dari asidosis respiratory
Mengetahui lebih awal adanya
asidosis respiratory
Mencegah jaringan kekurangan O2
dengan waktu yang lama
Mengetahui adanya gangguan
pernapasan
Memperbaiki proses ventilasiperfusi klien yang terganggu untuk
mengurangi
adanya
asisdosis
respiratory
Meningkatkan proses ventilasi
Mengetahui adanya gangguan
pernapasan pada klien
Mengurangi kadar CO2 dalam
tubuh akibat dari metabolism
karbohidrat
Memperbaiki kondisi umum pasien
Asidosis
respiratory
akan
berpengaruh
terhadap
status
neurologi pasien
Untuk mengetahui sesak napas
klien (membaik atau memburuk)
Untuk mengurang frekuensi sesak
napas klien
Untuk
mencegah
terjadinya

11. Monitor respirasi dan status oksigennasi


klien
12. Atur posisi klien untuk mengurangi sesak
napas
13. Berikan terapi oksigenasi berupa udara yang
telah dilembabkan atau oksigen
14. Berikan terapi oksigen menggunakan Ultra
sonic nebulizer
15. Auskultasi suara napas klien
NIC Label : Respiratory Monitoring
16. Monitor frekuensi , ritme, kedalaman,dan
usaha dari pernapasan napas
17. Catat onset dan karakteristik dari batuk
klien
18. Monitor sesak napas klien dan keadan
terburuk yang terjadi pada klien
3.

Ketidakefektifan pola napas


berhubungan
dengan
keletihan,
hiperventilasi
ditandai dengan perubahan
kedalaman
pernapasan,
dispnea, pernapasan cuping
hidung, pernapasan bibir,
penggunaan otot aksesorius
untuk bernapas.

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama . x 24 jam diharapkan pola
napas klien efektif, dengan kriteria
hasil:
NOC Label : Respiratory Status:
Ventilation
Kedalaman pernapasan klien
normal (skala 5)
Tidak tampak penggunaan otot
bantu pernapasan (skala 5)
Tidak tampak retraksi dinding
dada (skala 5)

NOC Label : Vital Sign


RR klien normal (16-20x /menit)

NIC Label : Respiratory monitoring


1. Pantau rate, irama, kedalaman, dan usaha
respirasi
2. Perhatikan gerakan dada, amati simetris,
penggunaan otot aksesori, retraksi otot
supraclavicular dan interkostal
3. Monitor pola napas : bradypnea,
tachypnea, hyperventilasi.
NIC Label : Ventilation facilitation
4. Berikan posisi nyaman semifowler untuk
mengurangi dipsnea
5. Berikan dan pertahankan masukan oksigen
2-3 liter per menit canule pada klien

hipoksia pada klien


14. Untuk menabah suplai oksigen
klien menjadi adekuat
15. Untuk
mengetahui
terjadinya
penyempitan bronkus pada klien
16. Mengetahui tanda dan gejala sesak
napas yang dialami klien
17. Untuk mengetahui jenis batuk yang
dialami klien
18. Untuk mengetahui terapi oksigen
yang tepat diberikan pada klien

1.

2.

3.

4.

Mengetahui tingkat gangguan yang


terjadi dan membantu dalam
menetukan intervensi yang akan
diberikan
Menunjukkan
keparahan
dari
gangguan respirasi yang terjadi dan
menetukan intervensi yang akan
diberikan.
Mengetahui permasalahan jalan
napas yang dialami dan keefektifan
pola napas klien untuk memenuhi
kebutuhan oksigen tubuh.

Posisi nyaman semi fowler atau

(skala 5)
5.

4.

Hipertermi
berhubungan
dengan
penyakit,
peningkatan
laju
metabolisme
ditandai
dengan peningkatan suhu
diatas kisaran normal, kulit
teraba
hangat,
kulit
kemerahan.

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama ... x 24 jam diharapkan suhu
tubuh klien turun dengan kriteria hasil:
NOC Label : Thermoregulasi
Denyut
nadi
teraba
kuat
(120x/menit) (skala 5)
Tidak
ada
peningkatan
temperature kulit (skala 5)
Tidak ada perubahan warna kulit
(kemerahan) (skala 5)
NOC Label : Vital Signs
Vital signs klien dalam rentang
normal : suhu klien 36,5-37,5o C)
(skala 5)
NOC Label : Hydrasi
Turgor kulit elastic (skala 5)
Membrane mukosa lembab
(skala 5)
Intake cairan adekuat (skala 5)
Perfusi jaringan >95% (skala 5)

5.

Nyeri akut berhubungan


dengan agen cedera biologis

Setelah diberikan asuhan keperawatan


selama . x24 jam diharapkan level

NIC Label : Temperature Regulation


1. Monitor suhu tubuh minimal setiap dua
jam, sesuai kebutuhan
2. Monitor terhadap kehilangan cairan yang
tidak disadari
3. Monitor warna kulit dan suhu
4. Monitor nadi dan respirasi, sesuai
kebutuhan
5. Monitor tanda-tanda penurunan kesadaran
6. Berikan
basuhan
dengan
spon
menggunakan air hangat, sesuai kebutuhan
7. Dukung peningkatan intake cairan peroral,
sesuai kebutuhan
8. Berikan kompres hangat
9. Monitor temperature dengan seksama
untuk mencegah efek terapi yang
menyebabkan hipotermia
NIC Label : Regulasi Suhu
10. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi yang
adekuat
11. Ajarkan menggunakan kompres air hangat
untuk menurunkan suhu tubuh.
Kolaboratif
12. Berikan antipiretik, misalnya ASA
(aspirin), asetaminofen (Tylenol).
NIC LABEL : Pain Management
1. Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi

setengah duduk membantu klien


mengurangi sesak napas
Pemberian oksigen sesuai indikasi
diperlukan untuk mempertahankan
masukan o2 saat klien mengalami
perubahan status respirasi

1.

Mengetahui perkembangan suhu


tubuh klien
2. Mengethaui
apakah
klien
mengalami dehidrasi atau tidak
3. Melihat adanya kemerahan dan
suhunya
4. Mengetahui perkembangan TTV
klien
5. Melihat tingkat kesadaran klien
6. Membantu menurunkan suhu
tubuh
7. Agar intake cairan terpenuhi
8. Membantu menurunkan suhu
tubuh klien
9. Mengetahui perkembangan suhu
klien
10. Agar klien tidak dehidrasi
11. Membantu menurunkan
tubuh
12. Untuk menurunkan demam

1.

Berguna

dalam

suhu

pengawasan

ditandai dengan perubahan


tekanan darah, perubahan
frekuensi
pernapasan,
perilaku
distraksi,
mengekspresikan perilaku
(mis. Gelisah, menangis,
waspada), melaporkan nyeri
secara verbal.

ketidaknyamanan pasien berkurang


dengan kriteria hasil :
NOC Label : Discomfort Level
Pasien tidak meringis (skala 5)
Pasien tidak tampak ketakutan
(skala 5)
Pasien tidak tampak cemas
(skala 5)
Pasien dapat beristirahat dengan
cukup (skala 5)
NOC Label : Pain control
Pasien dapat menyebutkan faktor
yang menyebabkan nyerinya
timbul (skala 5)
Pasien
dapat
melaporkan
perubahan pada tanda-tanda nyeri
kepada
petugas
kesehatan
/perawat (skala 5)
Pasien
dapat
melaporkan
bagaimana
cara
mengontrol
nyerinya (skala 5)
Pasien menggunakan cara nonanalgesics untuk mengurangi
nyerinya (skala 5)
Pasein
menggunakan
obat
analgesics sesuai rekomendasi
(skala 5)

6.

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang
dari
kebutuhan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan


selama .. x 24 jam, diharapkan

2.

3.
4.

5.

6.

7.

nyeri. Gunakan skala nyeri dengan pasien


dari 0 (tidak ada nyeri) 10 (nyeri paling
buruk).
Gunakan komunikasi terapeutik untuk
mengetahui
nyeri dan respon pasien
terhadap nyerinya
Kaji dengan pasien faktor-faktor yang
dapat meningkatkan/mengurangi nyerinya
Kaji efek dari pengalaman nyeri terhadap
kualitas tidur, nafsu makan, aktivitas dan
suasana hati
Kontrol lingkungan sekitar pasien yang
dapat memberikan respon tidak nyaman,
misalnya
temperature
ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
Ajarkan
tekhnik
nonfarmakologis,
(misalnya guided imageri, distraksi,
relaksasi, terapi musik, massage), sebelum,
setelah, dan jika mungkin selama nyeri
berlangsung, sebelum nyeri meningkat, dan
selama nyeri berkurang
Ajarkan
tentang
penggunaan
farmakologikal dalam mengurangi nyeri

NIC Label : Nutrition management


1. Ajarkan pasien bagaimana membuat

2.
3.

4.
5.
6.

7.

keefektifan obat,dan membedakan


karakteristik nyeri. Perubahan pada
karakteristik nyeri menunjukan
terjadinya abses atau peritonitis
Berguna untuk mengetahui nyeri
dan respon nyeri pasien
Untuk mengetahui aktivitas apa
yang dapat meningkatkan dan
mengurangi nyeri pasien sehingga
perawat
dapat
menegakan
implementasi dengan benar
Untuk mengetahui masalah lain
yang ditimbulkan dari nyeri
Untuk
meminimalisir
respon
ketidaknyamanan pasien
Berguna untuk mengurangi nyeri
dan meminimalisir penggunaan
terapi farmakologik
Mencegah terjadinya dosis yang
berlebihan

1. Untuk merencanakan asupan nutrisi

tubuh berhubungan dengan


faktor biologis ditandai
dengan berat badan 20%
atau lebih dibawah berat
badan ideal, diare, bising
usus hiperaktif, penurunan
berat badan dengan asupan
makanan adekuat, kurang
minat
ada
makanan,
membran mukosa pucat,
cepat
kenyang
setelah
makan.

7.

kebutuhan nutrisi klien seimbang


dengan kriteria hasil :
NOC Label : Weigh Body Mass
Berat badan tidak di bawah rentang
normal sesuat tinggi badan, IMT
18-22 (skala 5)
Tidak
terdapat
penurunan
persentase lemak tubuh (skala 5)
Tidak terdapat penurunan ratio
lingkar pinggang (skala 5)
Tidak terdapat penurunan ratio
lingkar leher (skala 5)

NOC Label : Nausea and vomiting


severity
Frekuensi mual berkurang (skala 5)
Intensitas mual berkurang (skala 5)
Intolerasi
aktivitas
Setelah
dilakukan
tindakan
berhubungan
dengan
keperawatan selama x24 jam,
kelemahan
umum,
diharapkan klien toleran terhadap
ketidakseimbangan antara
aktivitas dengan kriteria hasil :
NOC
Label : Activity intolerance
suplai
dan
kebutuhan

TTV dalam rentang normal (TD:


oksigen ditandai dengan
110-120/70-90 mmHgRR: 16respons
tekanan
darah
20x/ menit HR: 60-100x/menit
abnormal, ketidaknyamanan
Suhu: 36,50-37,50 C) (skala 5)
setelah beraktivitas, dispnea
Kebutuhan ADL klien terpenuhi
setelah
beraktivitas,
(skala 5)
menyatakan merasa letih,
menyatakan merasa lelah.
NOC Label : Fatigue level
Klien
tidak
mengalami
kelemahan (skala 5)

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

catatan makanan harian.


Monitor adanya penurunan BB
Monitor lingkungan selama makan
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor intake nuntrisi
Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
Anjurkan banyak minum
Anjurkan keluarga untuk menyediakan
makanan hangat untuk klien untuk
mengurangi mual

NIC Label : Activity therapy


1. Bantu klien untuk memilih akvitas yang
sesuai dengan kemampuan klien
2. Anjurkan klien untuk berfokus pada
aktivitas yang mampu dilakukan daripada
yang tidak mampu dilakukan oleh klien
3. Fasilitasi aktivitas klien yang terbatas
karena waktu, energy atau pergerakan
NIC Label : Energy management
4. Kaji keterbatasan fisik klien
5. Monitor intake nutrisi yang adekuat
dengan diet yang telah ditentukan
diet DMB1 1900 kalori
6. Batasi
stimulus
lingkungan
mengganggu seperti keributan
memfasilitasi relaksasi

yang harus terpenuhi per hari


2. Memonitor
pengaruh
penyakit
terhadap penurunan berat badan
3. Lingkungan
yang
bersih
berpengaruh terhadap nafsu makan
klien
4. Memantau
adanya
tanda-tanda
dehidrasi
5. Memonitor adanya mual dan muntah
pada klien
6. Mengetahui intake nutrisi klien
7. Nutrisi penting untuk pemulihan dan
memperbaiki keadaan umum klien
8. Memperbaiki status hidrasi klien
9. Meningkatkan nafsu makan klien
sehingga status nutrisi menjadi lebih
baik

1.

2.

3.
4.

sesuai
yaitu

5.

yang
untuk

6.

menghindarkan klien dari aktivitas


yang dapat memperburuk keadaan
klien
melakukan pemulihan aktivitas
klien sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki
mencegah klien dari cedera lebih
lanjut
mengkaji adanya keterbatasan fisik
pada klien
nutrisi yang adekuat memberikan
energy
yang
cukup
untuk
melakukan pemulihan aktivitas
periode relaksasi diperlukan klien
untuk
melakukan
pemulihan
tenaga setelah beraktivitas

8.

7.
8.

membantu memenuhi ADL klien


keluarga merupakan orang terdekat
klien yang dapat menjamin
keamanan dan keselamatan klien

NOC Label : Self care status

Klien mampu makan, toileting,


berpakaian, menjaga kerbersihan
diri secara mandiri (skala 5)

NIC Label : Self care Assistance-ADL


7. Bantu kebutuhan klien dalam perawatan
diri
8. Anjurkan pada keluarga untuk membantu
ADL klien

Ketidakefektifan
Setelah diberikan asuhan keperawatan
manajemen
regimen selama ....x 30 menit diharapkan
terapeutik
berhubungan pasien, dan keluarga memahami tata
dengan kerumitan regiment laksana pengobatan penyakit TBC
terapeutik ditandai dengan dengan kriteria hasil :
kegagalan untuk melakukan NOC Label : Health beliefs :
tindakan untuk mengurangi perceived resources
faktor resiko, ketidaktepatan Mendapatkan dukungan psikologis
aktivitas keluarga untuk
dari keluarga dan lainnya (skala 5)
memenuhi tujuan kesehatan, Akses pengobatan baik (skala 5)
dan kurang perhatian pada
NOC Label : Knowledge : Infection
penyakit.
Management
Memahami dengan baik faktor
penularan infeksi (skala 5)
Memahami dengan baik praktik
yang mengurangi transmisi
(skala 5)
Memahami dengan baik tanda dan
gejala infeksi (skala 5)
Memahami dengan baik adanya
resistensi obat (skala 5)

NIC Label :
Family Involvement Promotion
1. Tentukan bagaimana hubungan keluarga
dan pasien
2. Identifikasi kemampuan keluarga dalam
merawat pasien
3. Identifikasi ekspetasi atau harapan keluarga
terhadap pasien
4. Ajarkan keluarga dan pasien untuk mau
bekerja sama dengan tenaga kesehatan
untuk menerapkan asuhan keperawatan
5. Fasilitasi mengenai informasi medis terkait
kondisi pasien kepada keluarga
6. Tentukan ketergantungan pasien terhadap
keluarga
7. Beritahu keluarga mengenai informasi yang
dapat meningkatkan kesehatan pasien
8. Ajarkan keluarga untuk tetap menjaga
hubungan kekeluargaan
9. Diskusi
dengan
keluarga
mengenai
perawatan di rumah

NIC Label :
Family Involvement Promotion
1. Hubungan
yang
baik
dapat
menunjang kepatuhan pasien untuk
menaati terapi
2. Jika perawatan keluarga tidak baik,
maka perawat dapat mengevaluasi
dan memperbaiki
3. Harapan
keluarga
dapat
mempengaruhi keinginan sembuh
dari pasien
4. Kerjasama yang baik menyebabkan
askep berjalan optimal
5. Informasi yang tepat dan relevan
dapat mengurangi keraguan dan
kecemasan keluarga dan pasien
6. Ketergantungan berarti keluarga
harus mengetahui pula semua hal
tentang perawatan pasien
7. Menciptakan
hubungan
saling
percaya dengan keluarga
8. Menciptakan suasana kekeluargaan

NOC Label : Knowledge : treatment


regimen
Memahami dengan baik rasional
dari pengobatan (skala 5)

NIC Label : Teaching : Precribed Medication


10. Informasikan mengenai nama generic dan
merek dari obat
11. Instruksikan ,mengenai tujuan dan cara
kerja dari obat

9. Perawatan di rumah menentukan


apakah pasien kembali ke RS atau
tidak
10. Agar tidak terjadi kesalahan minum

Keterangan:
1: Severe deviation from normal
2: Substansial deviation from normal
3: Moderate deviation from normal
4: Mild deviation from normal
5: No deviation from normal

Memahami dengan baik teknik


monitoring sendiri (skala 5)
Memahami dengan baik manfaat
dari manajemen penyakit (skala 5)

12. Instriksukan dosis, rute pemberian, dan


durasi obat
13. Review pengetahuan pasien dan keluarga
tentang obat
14. Evaluasi kemampuan pasien dalam
adminster obat
15. Informasikan konsekuensi yang mungkin
muncul bila pasien tidak mengonsumsi
obat secara teratur
16. Informasikan interaksi makan dengan
reaksi obat
17. Sediakan informasi kepada pasien dan
keluarga mengenai efek samping obat
18. Buat tulisan, written information mengenai
aksi, tujuan, efek samping dari pengobatan.
19. Ajarkan pasien untuk membuat semacam
dokumentasi dari regimen pengobatan.

obat
11. Agar
pasien
dan
keluarga
mengetahui pentingnya obat tersebut
12. Agar tidak terjadi kesalahan minum
obat
13. Mengkaji apakah pasien sudah
pernah obat tersebut atau belum
14. Membantu pasien apabila pasien
tidak dapat melakukan
15. Mengurangi
kecemasan
akibat
mengonsumsi obat yang banyak
16. Agar pasien dapat mengikuti minum
obat sebelum atau setelah makan
17. Mengurangi kecemasan dan agar
tetap mematuhi resep obat
18. Agar pasien dan keluarga tidak lupa
dan dapat membaca kembali
sewaktu-waktu
19. Sebagai monitoring pasien untuk
minum obat

DAFTAR PUSTAKA
Cyber

Nurse.
2009.
Tuberkulosis.
Available
at
:http://www.indofamilyhealth.com/index2.php?
option=com_content&do_pdf=1&id=323. (akses :10Agustus 2013).

Dochterman, Joanne McCloskey & Bulecheck, Gloria N. 2004. Nursing Intervention


Classification.USA : Mosby.
Doenges, Marilynn E. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta: EGC
Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC
Evan

Hamsafir (2000), Tuberkolosis diagnosa, penatalaksanaan dan prognosis,


http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-padatuberkulosis-paru-tb-paru.html. (akses : 10Agustus 2013)

Guyton dan Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Moorhead, Sue, dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification. USA : Mosby
NANDA. 2012. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
PPTI Pusat. 2008. Sekilas Tentang Penyakit TBC.Available at :
http://www.dinkes-sleman.go.id/files/news47b3b12895520.pdf..(akses
10Agustus 2013).

akses

Smeltzer, Suzanne C, dkk. 2002. Keperawatan Medikal - Bedah Brunner & Suddarth, Edisi
8, Volume 3. Jakarta : EGC.
Suddart,& Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Sylvia A, dkk. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Penyakit Volume II. Jakarta: EGC