Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Pencernaan adalah suatu proses metabolisme dimana makhluk hidup memproses
suatu zat dalam mengubah baik secara kimia atau mekanik sesuatu zat menjadi nutrisi.
Apabila dalam suatu proses dalam system pencernaan maka akan menimbulkan berbagai
penyakit seperti Hernia salah satunya.
Hernia terlihat sebagai suatu tonjolan yang hilang timbul lateral terhadap tuberkulum
pabikum , tonjolan bisa timbul apabila pasien menangis , mengejan atau dan biasanya
akan hilang dengan spontan apabila dalam keadaan istarahat atau dalam posisi terlentang.
Insiden hernia pada populasi umum adalah 1% , bayi premature 5% sedangkan pengidap
hernia mayoritas adalah laki-laki yaitu sekitar 85% kasus. Setengah dari kasus hernia
ingunialis selama masa kanak-kanak terjadi pada bayi dibawah 6 bulan. Hernia pada sisi
kanan lebih sering dibandingkan pada sisi kiri perbandingannnya 2 : 1 .25% pasien
mengalamai hernia bilateral insiden tertinggi pada masa bayi ( 50% ) selebihnya pada
masa kanak-kanak kurang dari 5 tahun.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari hernia?
2. Apa etiologi hernia ?
3. Bagaimana manifestasi kliniknya ?
4. Klasifikasi hernia ?
5. Bagaimana patofisiologi dan pathway hernia ?
6. Bagaimana penatalaksanaan pada hernia ?
7. Bagaimana komplikasi hernia ?
8. Bagaimana cara pencegahan hernia?

C. Tujuan
1. Supaya mahasiswa memahami definisi hernia
2. Supaya mahasiswa memahami etiologi hernia
3. Agar mahasiswa memahami manifestasi klinik hernia
4. Agar mahasiswa memahami patologi dan pathway hernia
5. Agar mahasiswa memahami penatalaksanaan pada hernia
6. Agar mahasiswa mengetahui apa saja komplikasi hernia
7. Agar mahasiswa memahami cara pencegahan hernia

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi
Hernia berasal dari bahasa latin yaitu herniae,ikat artinya adalah penonjolan isi pada
suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga . Kemudian dinding
rongga yang lemah tersebut akan membentuk suatu kantong dengan pintu yang berbentuk
cincin.Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari
usus ( Giri Made Kusala , 2009 ).
Hernia adalah prostusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen , isi perut menonjol
pada bagian lemah atau defek dari lapisan muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri
atas kantong , cincin dan isi hernia (Syamsuhidayat,2004).
Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen
seperti peritoneum ,lemak , usus dan kandung kemih memasuki defek tersebut sehingga
membentuk sebuah kantong yang berisi materi abnormal ( Tambayong ,2000)
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hernia merupakan
penonjolan isi bagian defek abdomen yang mengakibatkan terbentuknya kantong yang berisi
cairan abnormal .

2.2. Etiologi
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya hernia menurut Giri Made Kusala , 2009 adalah :
a) Umur
Penyakit ini dapat diderita oleh semua kalangan dari yang tua sampai yang munda baik
yang pria maupun wanita. Pada anak hernia bisa menyerang karen akibat dari kurang
sempurnanya prosesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnnya testis. Pada orang
dewasa atau usia lanjut penyakit ini timbul disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga

usus atau suatu penyakit yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam rongga
abdomen.
b) Jenis Kelamin
Hernia yang sering dialami oleh laki-laki adalah jenis hernia inguinal yaitu penonjolan
yang berada diselakangan. Disebabkan karena perkembangan alat reproduksi atau karena
pekerjaan seperti buruh pabrik atau buruh angkat. Pekerjaan ini membutuhkan kekuatan otot
yang akan mengakibatkan peningkatan tekanan dalam ronggga perut yang akan meyebabkan
hernia.
c) Penyakit Penyerta
Contoh penyakit penyerta yang dapat menjadi terjadinya hernia adalah pembesaran
prostat,penyakit colon , batuk kronis, sembelit atau konstipasi kronis. Pada kondisi penyakit
diatas akan mengakibatkan tekanan berlebih pada rongga perut sehingga dapat menyebabkan
keluarnya usus melalui rongga yang lemah.
d) Keturunan
Apabila salah satu keluarga terdekat ada yang menderita penyakit hernia maka secara
otomatis akan menurun ke anaknya atau yang lainya.
e) Obesitas
Berat badan yang berlebih menyebakan tekanan berlebih pada tubuh, termasuk bagian
perut. Hal ini juga akan mengakibatkan terjadinya penonjolan maka akan menjadi hernia.
f) Kehamilan
Pada masa kehamilan dapat melemahkan otot disekitar perut sekaligus memberi tekanan
lebih pada perut.
g) Pekerjaan
Contoh pekerjaannya adalah buruh angkat barang , pekerjaan ini apabila dilakukan secara
terus-menerus akan mengakibatkan peningkatan otot-otot abdomen . Peningkatan tekanan
otot abdomen yang terus-menerus akan dapat menjadi pencetus terjadinya hernia.
h) Kelahiran Prematur

Bayi yang lahir premature akan sangat beresiko terkena hernia dibandingkan bayi yang
lahir normal. Hal ini disebakan karena penutupan kanalis ingunalis belum sempurna ,
sehingga memungkinkan menjadi jalan bagi keluarnya organ atau usus melewati kanalis
ingunalis tersebut.

2.3. Klasifikasi
Banyak sekali penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam, sifat dan
proses terjadinya. Berikut ini penjelasannya :
Macam-macam hernia :
1) Macam-macam hernia ini di dasarkan menurut letaknya,seperti :
a. Inguinalis. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi :
1.) Indirek / lateralis: Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda
spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria dari pada wanita.
Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan
sering turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir
atau mengatakanadanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa
mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau
mengangkat benda berate tau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.
2.) Direk / medialis: Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak
melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada
lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena
defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus
inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien
berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum,
maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus
spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Padapasien terlihat adanya massa
bundar pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena
besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi
ireponibilis.

b. Femoralis : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita
dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan
secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih
masuk kedalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarseratadan strangulasi dengan
tipe hernia ini.
c. Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena
peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita
multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh
secara tidak adekuat karena masalah pasca operasi seperti infeksi,nutrisi tidak adekuat,
distensi ekstrem atau kegemukan.
d. Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah.
2) Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :
a. Hernia bawaan atau kongenital
Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek):Kanalis inguinalis adalah kanal
yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal
tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga
terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalisperitonei.
Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesusini telah mengalami obliterasi sehingga isi
rongga peruttidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak
menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebihsering
terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan
normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus
(karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada
orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris
resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat,
kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.
b. Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat): yakni hernia yang timbul karena
berbagai faktor pemicu.
3) Menurut sifatnya, hernia dapat disebut :

1. Hernia reponibel/reducible, yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika
berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada
keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2. Hernia ireponibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam
rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong
hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus =perlekatan karena fibrosis). Tidak
ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus.
3. Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio =terperangkap, carcer = penjara), yaitu
bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong
terperangkap, tidak dapat kembali ke dalamr rongga perut disertai akibatnya yang berupa
gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih di maksudkan
untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi
disebut sebagai hernia strangulata.
Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena
tidak mendapatdarah akibat pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan
keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera.

2.4. Manifestasi Klinik


Pada umumnya keluhan orang dewasa berupa benjolan di inguinalis yang timbul pada
waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat dan menghilang pada waktu istirahat
berbaring. Pada inspeksi perhatikan keadaan asimetris pada kedua inguinalis, skrotum, atau
labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga
adanya benjolan atau keadaan asimetris dapat dilihat. Palpasi dilakukan dalam keadaan ada
benjolan hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat
direposisi. Setelah benjolan dapat direposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin hernia dapat
diraba berupa anulus inguinalis yang melebar (Jong,2004).
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu-satunya adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu
berdiri, batuk bersin, atau mengejan dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang
dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri

viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam
kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi
karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat
pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio
ingunalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Kantong hernia yang kosong
kadang dapat diraba pada vunikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang
memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan
sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi
organ,tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus,omentum (seperti karet),atau
ovarium.
Dengan jari telunjuk atau kelingking pada anak, dapat dicoba mendorong isi hernia
dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi
hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih
berada dalam anuluseksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jari menyentuh
hernia,berarti hernia inguinalis lateralis, disebut hernia inguinalis lateralis karena menonjol
dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut juga indirek karena keluar melalui
dua pintu dan saluran yaitu,anulus dan kanalis inguinalis.
Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk lonjong,
sedangkan hernia medialis berbentuk tonjolan bulat. Dan kalau sisi jari yang menyentuhnya,
berarti hernia inguinalis medialis. Dan jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai
skrotum, disebut hernia skrotalis. Hernia inguinalis lateralis yang mencapai labium mayus
disebut hernia labialis. Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi, atau
jika tidak
dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan yang jelas di sebelah cranial dan adanya
hubungan ke cranial melalui anulus eksternus. Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel atau
elefantiasis skrotum. Testis yang teraba dapat dipakai sebagai pegangan untuk
membedakannya.(Jong, 2004).

2.5. Patofisiologi dan Pathway


1. Patofisiologi
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah
faktor kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu
kehamilan yang dapat menyebabkan masuknya isi rongga perut melalui kanalis inguinalis,
faktor yang kedua adalah faktor yang didapat seperti hamil,batuk kronis, pekerjaan
mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi rongga perut melalui kanal ingunalis,
jika cukup panjang maka akan menonjol keluar dari anulus ingunalis eksternus.
Apabila hernia ini berlanjut tonjolan akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis
berisi tali sperma pada laki-laki,sehingga menyebakan hernia. Hernia ada yang dapat kembali
secara spontan maupun manual juga ada yang tidak dapat kembali secara spontan ataupun
manual akibat terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga
isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.
Keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga
aktivitas akan terganggu. Jika terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan
mencekik sehingga terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala ileus yaitu
gejala obstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan
menyebabkan kurangnya suplai oksigenyang bisa menyebabkan Iskemik. Isi hernia ini akan
menjadi nekrosis.Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang akhirnya
dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas jika terjadi hubungan dengan rongga perut.
Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltik usus yang bisa menyebabkan
konstipasi. Pada keadaan strangulate akan timbul gejala ileus yaitu perut kembung,
muntah dan obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul letih berat dan kontineu, daerah
benjolan menjadi merah (Syamsuhidajat 2004).

2. Pathway

2.6. Penatalaksanaan Medis Hernia


a. Secara konservatif (non operatif)
1. Reposisi hernia Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan
tangan.
2. Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya
pemakaian korset.
b. Secara operatif
1. Hernioplasty Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty
sering dilakukan pada anak-anak
2. Hernioraphy Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan kantong
diikat, dan dilakukan basiny plasty atau tehnik yang lain untuk memperkuat dinding
belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa.
3. Herniotomy Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada
klien dengan hernia yang sudah nekrosis.

2.7. Pencegahan Hernia


Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun
langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan
abdomen:
a) Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan, konsultasikan
dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai.
b) Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran dan gandum
baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah
konstipasi.
c) Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda
berat. Jika harus mengangkat benda

berat, biasakan untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu
pada pinggang.
d) Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit serius
seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik
yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.

2.7. Komplikasi Hernia

Akibat yang dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :


1. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantung hernia sehingga isi
kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia ingunalis
lateralis ireponibins pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus, isi hernia
yang menyebabkan ireponibilis adalah omentum, karena melekat pada dinding hernia.
2. Terjadi tekanan terhadap cincin hernia, akibat makin benyaknya usus yang masuk
cincin hernia relatif semakin sempit dan menimbulkan gangguan isi perut, ini dsebut
hernia inguinalis lateralis inkarserata.
3. Bila hernia dibiarkan maka akan timbul edema dan terjadi penekanan pembuluh
darah sehingga terjadi nekrosis keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis
stranggulasi, terjadi karena usus berputar (melintar) pada keadaan inkarserasi dan
stranggulasi maka timbul gejala illeusmuntah, kembung dan obstipasi pada
stranggulasi nyeri hebat daerah tonjolan menjadi lebih merah dan penderita sangat
gelisah.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 2000) adalah meliputi :
a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit
vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis, faktor-faktor stress multiple misalnya:
financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang,
stimulasi simpatis.
c. Makanan / cairan
Gejala: insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis),
malnutrisi (termasuk obesitas), membrane
mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d. Aktivitas atau istirahat
Tanda : mengangkat beban berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama,membutuhkan
papan matras untuk tidur, penurunan rentang gerak, tidak mampu melakukan aktivitas
seperti biasa, atrofi otot, gangguan dalam berjalan.

e. Neurosensori
Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan

reflek tendon dalam, nyeri tekan atau nyeri abdomen.


f. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
g. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan.
Tanda:munculnya proses infeksi yang melelahkan, demam.
h. Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti ditusuk-tusuk, fleksi pada kaki, keterbatasan mobilisasi.
3.2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan iritasi,tekanan,dan sensitifitas pada area rectal.


b. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka.
d. Gangguan eliminasi urin

3.3. Intervensi

1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi bedah


NOC
Tujuan :

Perubahan dalam rasa nyaman

Penurunan tingkat nyeri

Kriteria Hasil :

Pasien tidak mengeluh nyeri

Pasien merasa nyaman

Skala nyeri 2 ( 0 4 )

NIC

Dorong klien agar mau mengungkapkan apa yang dirasakan

Kaji skala nyeri

Berikan tehnik relaksasi dan distraksi

Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi rasa nyeri.

2.

Anxietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.

NOC
Tujuan :

Anxiety control

Coping

Impulse control

Kriteria Hasil :

Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.

Mengidentifikasi,mengungkapkan dan mengungkapkan tehnik untuk mengontrol


cemas.

Vital sign dalam batas normal

NIC

Gunakan pendekatan yang menenangkan

Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien

Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

3.

Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka

NOC
Tujuan :

Immune Status

Knowledge : Infection control

Risk control

Kriteria Hasil :

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

Jumlah leukosit dalam batas normal

Menunjukkan perilaku hidup sehat

NIC

Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain

Pertahankan teknik isolasi

Batasi pengunjung bila perlu

4.

Gangguan Eliminasi Urin

NOC
Tujuan :

Urinary elimination

Urinary Continuence

Kriteria Hasil :

Kandung kemih kosong secara penuh

Tidak ada residu urine>100-200cc

Intake cairan dalam rentang normal

NIC

Monitor intake dan output

Monitor penggunaan obat antikolinergik

Monitor derajat distensi bladder

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan
isi hernia. Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital dan
hernia dapatan atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya diafragma,
inguinal, umbilikal, femoral. Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila
isi hernia dapat keluar masukUsus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika
berbaring atau didorong masuk kez perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi
usus. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, hernia
disebut hernia ireponibel. Etiologinya adalah keturunan , usia, pekerjaan , kehamilan dll.

Daftar Pustaka

Sjamsuhidayat R,Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2.Jakarta:EGC,2004.


Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Alih Bahasa : Lukmanto P, Maulany R.F,
Tambajong J. Jakarta : EGC, 1995.
Anonim. Inguinal hernia. http://en.wikipedia.org
Brunner dan Suddart. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
Guyton, Arthur C., John E. Hall. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Iskandar, H. Yul. 2009. Saluran Cerna. Jakarta: Gramedia
Barbara C. Lag, 1996, Keperawatan Medikal Bedah Bagian I dan 3, Yayasan TAPK
Pengajaraan, Bandung