Anda di halaman 1dari 13

Otonomi daerah dan Pemilihan Langsung Kepala Daerah

1. Pengertian Otonomi Daerah


Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi derah
adalah hak ,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sedangkan menurut Suparmoko (2002:61) mengartikan otonomi daerah adalah
kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, bahwa pemberian
kewenangan otonomi daerah dan kabupaten / kota didasarkan kepada desentralisasi dalam
wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
a. Kewenangan Otonomi Luas
Yang dimaksud dengan kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan daerah untuk
menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup semua bidang pemerintahan kecuali bidang
politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal agama serta
kewenangan dibidang lainnya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Disamping
itu keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam
penyelenggaraan mulai dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan
evaluasi.
b. Otonomi Nyata
Otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan
pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup dan
berkembang di daerah.
c. Otonomi Yang Bertanggung Jawab
Otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung jawaban
sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam mencapai tujuan
pemberian otonomi berupa peningkatan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan serta pemeliharaan hubungan
yang sehat antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka menjaga Keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 7, 8, 9 tentang Pemerintah Daerah, ada
3 dasar sistem hubungan antara pusat dan daerah yaitu :
1) Desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
2) Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil
pemerintah dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu
3) Tugas perbantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan atau desa atau
sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan
pelaksanaannya kepada yang menugaskan.

2. Daerah Otonom
Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 6 menyebutkan bahwa daerah
otonomi selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat yang mempunyai batas-batas
wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Profesor Oppenhein (dalam Mohammad Jimmi Ibrahim, 1991:50) bahwa
daerah otonom adalah bagian organis daripada negara, maka daerah otonom mempunyai
kehidupan sendiri yang bersifat mandiri dengan kata lain tetap terikat dengan negara
kesatuan. Daerah otonom ini merupakan masyarakat hukum yaitu berhak mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri.
3. Hakekat, Tujuan dan Prinsip Otonomi Daerah
1) Hakekat Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai
dengan kehendak dan kepentingan masyarakat. Berkaiatan dengan hakekat otonomi daerah
tersebut yang berkenaan dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan,
pengelolaan dana publik dan pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan
pelayanan masyarakat maka peranan data keuangan daerah sangat dibututuhkan untuk
mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus
dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data
keuangan daerah yang memberikan gambaran statistik perkembangan anggaran dan realisasi,
baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisa terhadapnya merupakan informasi yang
penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah untuk
meliahat kemampuan/ kemandirian daerah (Yuliati, 2001:22)
2) Tujuan Otonomi Daerah
Menurut Mardiasmo (Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah) adalah: Untuk
meningkatkan pelayanan publik (public service) dam memajukan perekonomian daerah. Pada
dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal,
yaitu:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan
masyarakat.
b. Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.
c. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Selanjutnya tujuan otonomi daerah menurut penjelasan Undang-undang No 32 tahun
2004 pada dasarnya adalah sama yaitu otonomi daerah diarahkan untuk memacu pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan
prakarsa dan peran serta aktif masyarakat secara nyata, dinamis, dan bertanggung jawab
sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, mengurangi beban pemerintah pusat
dan campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang untuk koordinasi tingkat lokal.
3) Prinsip Otonomi Daerah
Menurut penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, prinsip penyelenggaraan
otonomi daerah adalah :

1) penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan aspek demokrasi, keadilan,


pemerataan serta potensi dan keaneka ragaman daerah.
2) Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggung
jawab.
3) pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah dan daerah
kota, sedangkan otonomi provinsi adalah otonomi yang terbatas.
4) Pelaksanaan otonomi harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin
hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.
5) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah kabupaten
dan derah kota tidak lagi wilayah administrasi. Demikian pula di kawasan-kawasan
khusus yang dibina oleh pemerintah.
6) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan
legislatif daerah baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawasan, mempunyai fungsi
anggaran atas penyelenggaraan otonomi daerah.
7) Pelaksanaan dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukan sebagai
wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu
dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah.
8) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan tidak hanya di pemerintah daerah
dan daerah kepada desa yang disertai pembiayaan, sarana dan pra sarana serta sumber
daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung
jawabkan kepada yang menugaskan.
4. Dasar Hukum Otonomi Daerah
Otonomi Daerah berpijak pada dasar Perundang-undangan yang kuat, yakni :
1. Undang Undang Dasar.
Sebagaimana telah disebut di atas Undang-undang Dasar 1945 merupakan landasan
yang kuat untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Pasal 18 UUD menyebutkan adanya
pembagian pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. Pemberlakuan sistem otonomi
daerah merupakan amanat yang diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Amandemen Kedua tahun 2000 untuk dilaksanakan
berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk mengatur pemerintahan daerah.
UUD 1945 pasca-amandemen itu mencantumkan permasalahan pemerintahan daerah dalam
Bab VI, yaitu Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B. Sistem otonomi daerah sendiri tertulis
secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undang-undang.
Pasal 18 ayat (2) menyebutkan,
Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Selanjutnya, pada ayat
(5) tertulis, Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Dan
ayat (6) pasal yang sama menyatakan, Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan
daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
2. Ketetapan MPR-RI
Tap MPR-RI No. XV/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Otonomi Daerah :
Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang berkeadilan, serta
perimbangan kekuangan Pusat dan Daerah dalam rangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

3. Undang-Undang
Undang-undang N0.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah pada prinsipnya
mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas
Desentralisasi. Hal-hal yang mendasar dalam UU No.22/1999 adalah mendorong untuk
pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran
masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Namun, karena dianggap tidak sesuai
lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi
daerah, maka aturan baru pun dibentuk untuk menggantikannya. Pada 15 Oktober 2004,
Presiden Megawati Soekarnoputri mengesahkan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
Dari ketiga dasar perundang-undangan tersebut di atas tidak diragukan lagi bahwa
pelaksanaan Otonomi Daerah memiliki dasar hukum yang kuat. Tinggal permasalahannya
adalah bagaimana dengan dasar hukum yang kuat tersebut pelaksanaan Otonomi Daerah bisa
dijalankan secara optimal.
5. Akuntansi Sektor Publik dan Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah sebagai amanat UUD 1945 secara konstitusional maupun
legal diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.Sesuai dengan yang
tertulis pada Undang-Undang, maka daerah otonom diberikan keleluasaan untuk mengelola
sendiri pemerintahannya demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Berkaitan dengan hal ini, akuntansi sektor publik sangat erat kaitannya dengan otonomi
daerah. Keleluasaan kewenangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
berdampak pada pengelolaan sektor publik yang dikelola dan dipertanggungjawabkan secara
langsung oleh daerah otonom. Undang-undang (UU) No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah merupakan payung hukum Pemerintah daerah yang antara lain adalah mengenai polapola aplikasi pertanggung jawaban keuangan daerah, dan tentunya sangat terkait dengan
reformasi regulasi keuangan negara, yang terdiri dari UU No. 17 tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15
tahun 2004 tentang Pemeriksaan Keuangan Negara. Reformasi regulasi keuangan negara
menjelaskan bahwa keuangan daerah termasuk keuangan negara, yaitu : Semua hak dan
kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai
dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak
dan kewajiban daerah tersebut yang antara lain, hak daerah memungut pajak dan restribusi,
mengelola penerimaan dan mengeluarkan belanja daerah.
Pemerintah pusat wajib mengetahui semua penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah
(sektor publik) dan juga sebagai pertanggungjawaban yang utama adalah kepada masyarakat
sebagai pemilik dana, maka sektor publik dituntut dengan akuntabilitas laporan keuangannya
kepada pihak terkait untuk melaporkan laporan keuangannya kepada masyarakat secara jelas
dan mudah. Secara singkat antara otonomi daerah dan akuntansi sektor publik memiliki
kesamaan yaitu sama-sama bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Akuntabilitas Sektor Publik

Akuntabilitas publik mengandung makna bahwa hasil dari suatu entitas kedalam bentuk
fungsinya, program dan kegiatan, maupun kebijakan suatu lembaga publik harus dapat
dijelaskan dan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat (public disclosure), dan
masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dimaksud tanpa hambatan.
Merujuk kepada PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai
substansi usaha-usaha untuk meningkatkan akuntabilitas daerah dan transparansi melalui
pembangunan sistem akuntansi keuangan daerah. Selain itu, PP tersebut juga merupakan
peraturan pelaksana dari undang-undang yang komprehensif dan terpadu (omnibus
regulation) dari paket reformasi regulasi keuangan negara khusunya mengenai penerapannya
di pemerintahan daerah yang mencakup tentang perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan,
penatausahaan keuangan daerah, dan pertanggung jawaban keuangan daerah. Oleh karena itu
khusus mengenai akuntansi di pemerintahan daerah merupakan bagian dari pengertian
akuntansi pemerintahan, yaitu: sub cabang ilmu pengetahuan akuntansi.
Berdasarkan dengan peraturan yang ada maka sektor publik termasuk daerah wajib
memberikan informasi terkait keuangan daerah kepada masyarakat seluas-luasnya. Bahkan
masyarakat diberikan hak untuk ikut campur dalam pelaksanaan keuangan publik dan daerah
dan diberikan hak untuk mengeluarkan pendapat terkait dengan pelaksanaan keuangan sektor
publik. Dapat dikatakan bahwa sektor publik belum akuntabel jika masyarakat sulit untuk
mengakses laporan keuangan sektor publik atau masyarakat sulit untuk memverifikasi
laporan keuangan yang telah diterbitkan.
Peran DPR/D Berkaitan dengan Akuntansi Sektor Publik
Negara Indonesia menganut sistem demokrasi, dimana wakil rakyat dipilih secara
langsung oleh rakyat. Para wakil rakyat mewakilii daerah masing-masing dan mewakili
kepentingan rakyat dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. Berkaitan dengan sektor
publik, karena dana yang digunakan adalah milik rakyat, maka sektor publik harus
memberikan pertanggungjawabannya kepada rakyat. Maka dengan adanya sistem demokrasi,
fungsi rakyat akan diwakili oleh para wakilnya di pemerintahan.
Idealnya, para wakil rakyat harus mengomunikasikannya kepada rakyat secara
langsung. Meskipun laporan keuangan sektor publik sudah ditampilkan di media massa,
tetapi tidak serta merta tugas wakil rakyat hilang begitu saja, karena wakil rakyat harus
memahamkan kepada masyarakat secara mudah dan gampang ditengah masyarakat yang
mayoritas memiliki pengetahuan tentang akuntansi yang rendah. Hal ini memang sebuah
keharusan, karena mereka adalah wakil rakyat. Segala laporan dan keputusan harus
disampaikan kepada rakyat.
Dengan adanya otonomi daerah sebenarnya ruang lingkup sektor publik menjadi lebih
sempit. Wewenang pengelolaan keuangan negara diberikan sepenuhnya kepada daerah
otonom. Maka pertanggungjawaban keuangan daerah hanya diberikan kepada masing-masing
daerah otonom. Dengan adanya hal ini pemerintah daerah akan menyampaikan laporan
pertanggungjawaban keuangan daerahnya kepada DPRD tingkat II dan akan diputuskan
kebijakan terkait dengan laporan yang telah disajikan.
Bias Fungsi

Meskipun otonomi daerah telah memberikan kemudahan bagi sektor publik untuk
mengelola keuangannya, tetapi kemudahan yang diberikan tidak ada artinya ketika dalam
pelaksanaannya tidak sesuai dengan tujuan. Alih-alih masyarakat dapat ikut campur dalam
membuat keputusan mengenai akuntansi sektor publik, hanya sekedar mencari informasi
laporan keuangannya saja sulit. Jika ditelusuri lebih lanjut sebenarnya organisasi sektor
publik berkewajiban untuk melakukan transparasi informasi keuangan. Salah satu alat untuk
memfasilitasi terciptanya transparansi dan akuntabilitas publik adalah melalui penyajian
laporan keuangan pemerintahan daerah adalah melalui penyajian laporan keuangan
pererintahan daerah yang komprehensif. Dalam era otonomi daerah dan desentralisasi,
pemerintah daerah diharapkan dapat menyajikan laporan keuangan yang terdiri atas laporan
surplus/defisit.
Secara garis besar, tujuan umum penyajian laporan keuangan oleh pemerintah daerah
adalah:
1.

Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi,


sosial, dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accountability) dan
pengelolaan (stewardship).

2.

Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja


manajerial dan organisasional.

Secara khusus, tujuan penyajian laporan keuangan oleh pemerintah daerah adalah:
1. Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi aliran kas,
saldo neraca, dan kebutuhan sumber daya finansial jangka pendek unit pemerintah.
2. Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi kondisi
ekonomi suatu unit pemerintahan dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya.
3. Memberikan informasi keuangan untuk memonitor kinerja, kesesuaiannya dengan
peraturan perundang-undangan, kontrak yang telah disepakati, dan ketentuan lain
yang disyaratkan.
4. Memberikan informasi untuk perencanaan dan penganggaran, serta untuk
memprediksi pengaruh pemilikan dan pembelanjaan sumber daya ekonomi terhadap
pencapaian tujuan operasional.
5. Memberikan informasi untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional :
1. untuk menentukan biaya program, fungsi, dan aktivitas sehingga memudahkan
analisis dan melakukan perbandingan dengan kriteria yang telah ditetapkan,
membandingkan dengan kinerja periode-periode sebelumnya, dan dengan
kinerja unit pemerintah lain.
2. untuk mengevaluasi tingkat ekonomi dan efisiensi operasi, program, aktivitas,
dan fungsi tertentu di unit pemerintah.
3. untuk mengevaluasi hasil suatu program, aktivitas, dan fungsi serta efektivitas
terhadap pencapaian tujuan dan target.

4. untuk mengevaluasi tingkat pemerataan (equity).

Pemilihan Langsung Kepala Daerah


Kesadaran akan pentingnya demokrasi sekarang ini sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari
peran serta rakyat Indonesia dalam melaksanakan Pemilihan Umum baik yang dilaksanakan
oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ini terlihat dari jumlah pemilih yang tidak
menggunakan hak pilihnya yang sedikit. Pemilihan umum ini langsung dilaksanakan secara
langsung pertama kali untuk memilih presiden dan wakil presiden serta anggota MPR, DPR,
DPD, DPRD di tahun 2004. Walaupun masih terdapat masalah yang timbul ketika waktu
pelaksanaan. Tetapi masih dapat dikatakan sukses.
Setelah suksesnya Pemilu tahun 2004, mulai bulan Juni 2005 lalu di 226 daerah meliputi 11
propinsi serta 215 kabupaten dan kota, diadakan pilkada untuk memilih para pemimpin
daerahnya. Sehingga warga dapat menentukan peminpin daerahnya menurut hati nuraninya
sendiri. Tidak seperti tahun tahun yang dahulu yang menggunakan perwakilan dari partai.
Namun dalam pelaksanaan pilkada ini muncul penyimpangan penyimpangan. Mulai dari
masalah administrasi bakal calon sampai dengan yang berhubungan dengan pemilih
Semenjak lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945. Otonomi Daerah telah
menjiwai ketatanegaraan Indonesia (Pasal 18 Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945). Realitasnya beberapa undang-undang tentang Pemerintahan Daerah
berotonomi telah diterbitkan. Yang mana penerbitan peraturan tersebut memperhatikan dan
berorientasi kepada perkembangan sosial politik yang terjadi di wilayah dan daerah-daerah di
Indonesia.
Adapun aturan mengenai pemerintah daerah tersebut dalam kurun waktu lima puluh tahun,
terdiri dari:
1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945, tentang Komite Nasional Daerah
2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, Undang-Undang Pokok tentang Pemerintahan
Daerah
3. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1957, tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah
4. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965, tantang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah
5. Tap MPRS No. XXI Tahun 1966, tentang pemberian otonomi seluas luasnya Kepada
Daerah, (tetapi tidak pernah ditindak lanjuti oleh rezim Orde Baru)
6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah
7. Tap MPR No. XV Tahun 1998
8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah
9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, tentang Perimbangan Keuangan antara
pemerintahan Pusat dan Daerah.
Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia

Di Indonesia, saat ini pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung


oleh penduduk daerah administratif setempat yang memenuhi syarat. Pemilihan kepala
daerah dilakukan satu paket bersama dengan wakil kepala daerah. Kepala daerah dan wakil
kepala daerah yang dimaksud mencakup:

Gubernur dan wakil gubernur untuk provinsi

Bupati dan wakil bupati untuk kabupaten

Wali kota dan wakil wali kota untuk kota

Pada awalnya pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Ketika diundangkannya UU No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini, Pilkada belum ditetapkan dilakukan dengan
pemilihan umum (pemilu). Hingga Pilkada pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni
2005.
Hingga Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum
(UU No. 22 tahun 2007) diundangkan pada tahun 2007 berlaku. Pilkada diberlakukan yang
kemudian disebut pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah. Setelah UU No.
22 tahun 2007 diundangkan, Pilkada pertama yang diselenggarakan berdasarakan undangundang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007.
Namun dalam penyelenggaraannya terdapat spesialisasi dalam Pilkada. Khusus di Nanggroe
Aceh Darussalam, Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) dengan
diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Aceh (Panwaslih Aceh).
Penyelenggaraan Pilkada dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota. Pilkada diselenggarakan dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan
Umum (Panwaslu) Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota. Keanggotaan dari Panwaslu
terdiri atas unsur kepolisian, kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh masyarakat
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 57 ayat (3) UU No. 32 tahun 2004. Keanggotaan
tersebut diusulkan oleh panitia pengawas kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD sesuai
Pasal 57 ayat (5) UU No. 32 tahun 2004
Peserta Pilkada adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik. Hal ini sesuai dengan Pasal 56 ayat (2) UU No. 32 tahun 2004. Namun
ketentuan ini diubah dengan UU No. 12 tahun 2008 yang menyatakan bahwa peserta Pilkada
juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.
Undang-undang ini menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan
beberapa pasal menyangkut peserta Pilkada dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
Sedangkan spesialisasi kembali terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam, peserta Pilkada juga
dapat diusulkan oleh partai politik lokal.
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk
pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di
tangan banyak orang (rakyat). Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan
yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan
demokrasi adalah sebagai berikut.

1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik
langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
Indonesia pertama kali dalam melaksanakan Pemilu pada akhir tahun 1955 yang diikuti oleh
banyak partai ataupun perseorangan. Dan pada tahun 2004 telah dilaksanakan pemilu yang
secara langsung untuk memilih wakil wakil rakyat serta presiden dan wakilnya. Dan mulai
bulan Juni 2005 telah dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah atau sering disebut pilkada
langsung. Pilkada ini merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat. Beberapa kelebihan
dalam penyelenggaraan pilkada langsung antara lain sebagai berikut :
1. Pilkada langsung merupakan jawaban atas tuntutan aspirasi rakyat karena pemilihan
presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, bahkan kepala desa selama ini telah dilakukan
secara langsung.
2. Pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Seperti telah
diamanatkan Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, Gubernur, Bupati dan Wali Kota, masing-masing
sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.
Hal ini telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan,
Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
3. Pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat .Ia menjadi
media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat membentuk
kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar
sesuai nuraninya.
4. Pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Keberhasilan otonomi
daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Semakin baik pemimpin lokal
yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005, maka komitmen pemimpin lokal dalam
mewujudkan tujuan otonomi daerah, antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat agar dapat
diwujudkan.
5. Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan
nasional. Disadari atau tidak, stock kepemimpinan nasional amat terbatas. Dari jumlah
penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta, jumlah pemimpin nasional yang kita miliki
hanya beberapa. Mereka sebagian besar para pemimpin partai politik besar yang memenangi
Pemilu 2004. Karena itu, harapan akan lahirnya pemimpin nasional justru dari pilkada
langsung ini.
Pelaksanaan dan Penyelewengan Pilkada
Pilkada ini ditujukan untuk memilih Kepala daerah di 226 wilayah yang tersebar dalam 11
provinsi dan 215 di kabupaten dan kota. Rakyat memilih kepala daerah masing masing secara
langsung dan sesuai hati nurani masing masing. Dengan begini diharapkan kepala daerah
yang terpilih merupakan pilihan rakyat daerah tersebut. Dalam pelaksanaannya pilkada
dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah masing masing.Tugas yang dilaksanakan

KPUD ini sangat berat yaitu mengatur pelaksanaan pilkada ini agar dapat terlaksana dengan
demokratis. Mulai dari seleksi bakal calon, persiapan kertas suara, hingga pelaksanaan
pilkada ini.
Dalam pelaksanaannya selalu saja ada masalah yang timbul. Sering kali ditemukan
pemakaian ijasah palsu oleh bakal calon. Hal ini sangat memprihatinkan sekali . Seandainya
calon tersebut dapat lolos bagai mana nantinya daerah tersebut karena telah dipimpin oleh
orang yang bermental korup. Karena mulai dari awal saja sudah menggunakan cara yang
tidak benar. Dan juga biaya untuk menjadi calon yang tidak sedikit, jika tidak ikhlas ingin
memimpin maka tindakan yang pertama adalah mencari cara bagaimana supaya uangnya
dapat segera kemali atau balik modal. Ini sangat berbahaya sekali.
Dalam pelaksanaan pilkada ini pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Seringkali bagi
pihak yang kalah tidak dapat menerima kekalahannya dengan lapang dada. Sehingga dia akan
mengerahkan massanya untuk mendatangi KPUD setempat. Kasus kasus yang masih hangat
yaitu pembakaran kantor KPUD salah satu provinsi di pulau sumatra. Hal ini membuktikan
sangat rendahnya kesadaran politik masyarakat. Sehingga dari KPUD sebelum melaksanakan
pemilihan umum, sering kali melakukan Ikrar siap menang dan siap kalah. Namun tetap saja
timbul masalah masalah tersebut.
Selain masalah dari para bakal calon, terdapat juga permasalahan yang timbul dari KPUD
setempat. Misalnya saja di Jakarta, para anggota KPUD terbukti melakukan korupsi dana
Pemilu tersebut. Dana yang seharusnya untuk pelakasanaan pemilu ternyata dikorupsi.
Tindakan ini sangat memprihatinkan. Dari sini dapat kita lihat yaitu rendahnya mental para
penjabat. Dengan mudah mereka memanfaatkan jabatannya untuk kesenangan dirinya
sendiri. Dan mungkin juga ketika proses penyeleksian bakal calon juga kejadian seperti ini.
Misalnya agar bisa lolos seleksi maka harus membayar puluhan juta.
Dalam pelaksanaan pilkada di lapangan banyak sekali ditemukan penyelewengan
penyelewengan. Kecurangan ini dilakukan oleh para bakal calon seperti :
1. Money politic
Sepertinya money politik ini selalu saja menyertai dalam setiap pelaksanaan pilkada.Dengan
memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah, maka dengan
mudah mereka dapat diperalat dengan mudah Tapi memang dengan uang dapat membeli
segalanya. Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka dengan mudah orang
itu dapat diperalat dan diatur dengan mudah hanya karena uang.
Jadi sangat rasional sekali jika untuk menjadi calon kepala daerah harus mempunyai uang
yang banyak. Karena untuk biaya ini, biaya itu.
2. Intimidasi
Intimidasi ini juga sangat bahaya. Sebagai contoh yaitu pegawai pemerintah melakukan
intimidasi terhadap warga agar mencoblos salah satu calon. Hal ini sangat menyeleweng dari
aturan pelaksanaan pemilu.
3. Pendahuluan start kampanye

Tindakan ini paling sering terjadi. Padahal sudah sangat jelas aturan-aturan yang berlaku
dalam pemilu tersebut. Berbagai cara dilakukan seperti pemasangan baliho, spanduk,
selebaran. Sering juga untuk bakal calon yang merupakan kepala daerah saat itu melakukan
kunjungan ke berbagai daerah. Kunjungan ini intensitasnya sangat tinggi ketika mendekati
pemilu. Ini sangat berlawanan yaitu ketika sedang memimpin dulu. Selain itu media TV lokal
sering digunakan sebagi media kampanye. Bakal calon menyampaikan visi misinya dalam
acara tersebut padahal jadwal pelaksanaan kampanye belum dimulai.
4. Kampanye negatif
Kampanye negatif ini dapat timbul karena kurangnya sosialisasi bakal calon kepada
masyarakat. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat masih kurang terhadap pentingnya
informasi. Jadi mereka hanya manut dengan orang yang di sekitar mereka yang menjadi
panutannya. Kampanye negatif ini dapat mengarah pada munculnya fitnah yang dapat
merusak integritas daerah tersebut.
Solusi
Dalam melaksanakan sesuatu pasti ada kendala yang harus dihadapi. Tetapi kita dapat
meminimalkan kendala-kendala itu. Untuk itulah diperlukan peran dan serta masyarakat
karena ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. Untuk menaggulangi permasalah
yang timbul dalam pilkada bisa ditempuh dengan cara sebagai berikut :
1. Seluruh pihak yang ada baik dari daerah sampai pusat, bersama sama menjaga
ketertiban dan kelancaran pelaksanaan pilkada ini. Tokoh tokoh masyarakat yang
merupakan panutan dapat menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya. Dengan ini
maka dapat menghindari munculnya konflik.
2. Semua warga saling menghargai pendapat. Dalam berdemokrasi wajar jika muncul
perbedaan pendapat satu sama lain namun hal ini diharapkan tidak menimbulkan
konflik. Dengan kesadaran menghargai pendapat orang lain, maka pelaksanaan
pilkada dapat berjalan dengan lancar.
3. Meningkatkan sosialisasi kepada warga. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan
masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat. Sehingga menghindari
kemungkinan fitnah terhadap calon yang lain.
4. Memilih dengan hati nurani. Dalam memilih calon kita harus memilih dengan hati
nurani sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain. Sehingga prinsip prinsip dari pemilu
dapat terlaksana dengan baik.

Sumber:
Dodi(2012). Pengertian Otonomi Daerah.
http://referensiakuntansi.blogspot.com/2012/07/pengertian-otonomi-daerah_12.html
Dodi(2012). Otonomi Daerah. http://referensiakuntansi.blogspot.com/2012/11/otonomidaerah.html
Monica(2012). Pemilihan Umum Kepala Daerah
http://monicabeatricehtbt.wordpress.com/2012/11/25/pemilihan-umum-kepala-daerah-2/
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_kepala_daerah_di_Indonesia